Harapan pada Ummat Islam Bangsa Indonesia “Matahari Kemenangan Bersinar dari Nusantara”

Oleh : Syaikh Ayman al-Zawahiri (Semoga Allah menjaga beliau)

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang Bismillah, alhamdulillah dan shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya.

Wahai saudara kaum muslimin di mana pun Anda berada, saya ucapkan; Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du.

Saudaraku umat Islam di Timur Asia, jumlah kalian sangat banyak, bahkan kalian merupakan kaum muslimin terbanyak. Kalian adalah pintu gerbang negeri-negeri Islam di Timur. Maka kewajiban kalian amat besar dalam menjaga akidah Islam dan kehormatan kaum muslimin. Kalian sedang berperang melawan koalisi Salibis yang menyerang Islam dan kaum muslimin.

Sebagaimana kalian berada dalam peperangan akidah dan politik melawan para sekularis, musuh-musuh agama, para penyembah berhala yang bernama nasionalisme.
Wajib bagi kalian berjihad untuk melawan agresi Salibis terhadap kaum muslimin di Filipina, dan juga membantu saudara-saudara kalian kaum muslimin dari kejahatan Salibis di kepulauan Maluku dan di tempat-tempat lain di seluruh penjuru Indonesia. Dan juga, wajib bagi kalian membantu dan mendukung saudara-saudara kalian di Selatan Thailand.
Wajib bagi kalian untuk berangkat jihad untuk membantu saudara-saudara kalian di berbagai medan jihad demi memberikan pukulan telak kepada Salibis yang mengagresi negeri-negeri kaum muslimin. Banyak saudara-saudara kalian yang telah mendahului kalian dalam hal itu.

Di samping perang jihad bersenjata, perang kalian juga perang dengan menggunakan bayan (penjelasan), dakwah dan tau’iyah (penyadaran) untuk memperingatkan umat Islam akan bahaya sistem sekuler yang membuang pemberlakuan hukum syariat dan mengikuti sistem demokrasi dan negara yang berdasarkan nasionalisme yang memecah belah kaum muslimin hingga lebih dari 50 bagian.

Saudaraku kaum muslimin di Nusantara.

Hendaklah kalian berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan akidah tauhid kepada umat. Dan juga menjelaskan kepada umat bahwa Pancasila bertentangan dengan akidah Islam, karena Pancasila memerintahkan untuk beriman kepada lima sila sebagai dasar negara. Ketuhanan yang Maha Esa, nasionalisme, kemanusiaan, demokrasi dan keadilan sosial. Akidah tersebut dipaksakan kepada kalian oleh pemerintah yang memusuhi Islam dengan menggunakan kekuatan besi.

Sudah saya jelaskan wahai saudaraku yang mulia, bahwa Pancasila adalah akidah yang bertentangan dengan akidah Islam. Teruslah kalian meniti jalan kalian yang diberkahi ini. Semoga Allah membantu kalian hingga kalian mempersembahkan bagi umat Islam di Nusantara akidah tauhid yang murni dan bersih sebagaimana akidah yang diturunkan kepada Rasulullah yang mana akidah ini disebarkan oleh para sahabat Nabi .

Medan perang kalian juga medan perang dengan bayan (penjelasan) untuk membangunkan jiwa persatuan di tengah-tengah kaum muslimin. Dan untuk menjelaskan bahwa kita semua dari Samudera Atlantik hingga Turkistan Timur merupakan umat yang satu, disatukan oleh satu agama dan akidah. Tidak ada perbedaan antara si hitam dan si merah, juga tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dengan ketakwaan.

Kepada para dai yang jujur, hendaklah kalian menjelaskan kepada umat Islam di Asia Timur tentang hakikat negara Islam yang kami serukan. Negara Islam yang kami serukan adalah negara yang berdasarkan ridha, musyawarah dan keadilan, bukan negara yang berlandaskan perampokan, pemaksaan, peledakan dan kekerasan.

Negara yang kami serukan (untuk didirikan) adalah negara yang berdiri berlandaskan ketundukan untuk berhukum kepada syariat, bukan negara yang dilandaskan atas keengganan dari hukum syariat. Negara yang berdiri di atas kesetiaan terhadap janji dan bukan negara yang berdiri di atas pelanggaran janji. Negara yang menjaga kehormatan kaum muslimin dan mujahidin, dan bukan negara yang berdiri di atas vonis kafir terhadap mujahidin, celaan kepada mereka dan tuduhan bahwa mereka (para mujahidin) adalah antek intelijen.

Bukan pula negara yang dibangun atas dasar penghalalan darah kaum muslimin. Negara yang mengambil petunjuk dari Al-Quran yang Allah turunkan di ayat, “Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka” (QS. Asy-Syura: 38). Bukan memutuskan perkara dengan kebid’ahan .

Negara yang kami serukan adalah negara yang menjadikan Sunnah Rasulullah sebagai petunjuk. Rasulullah pernah bersabda, “Orang yang pertama kali mengganti sunnahku adalah seseorang dari bani Umayyah” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dan beliau berkata, “sepertinya yang dimaksudkan oleh hadits di atas adalah perubahan sistem khilafah menjadi sesuatu yang diwariskan kepada keturunan”).

Rasulullah bersabda, “Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa dan tetap mendengar dan taat walaupun terhadap seorang hamba habasyah. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup sesudahku akan melihat perbedaan yang sangat banyak. Peganglah oleh kalian sunnahku dan Sunnah khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk. Berpeganglah teguh kepadanya dan gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham”.

Negara yang kami serukan adalah negara yang menjadikan Sunnah khulafaur Rasyisdin sebagai petunjuk. Umar bin Khaththab berkata, “Sesungguhnya tidak ada khilafah kecuali didasari atas permusyawarahan”. (hadits ini sanadnya shahih dan menyambung dengan para perawi yang tsiqah). Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abdurrahman bin Auf berkata kepada Ali bin Abi Thalib , “Amma ba’du, wahai Ali, saya telah melihat perkara manusia (rakyat Madinah). Saya tidak mendapati di antara mereka yang tidak setuju dengan Utsman, maka janganlah kamu mencari-cari jalan bagi dirimu (untuk menjadi khalifah)”. Kemudian Ali berkata, “Saya membaiatmu di atas sunnah yang Allah dan rasulNya tetapkan dan sunnah yang ditetapkan oleh dua khalifah setelah rasul”. Kemudian Abdurrahman membaiat Utsman dan diikuti oleh umat saat itu, baik dari kalangan muhajirin, Ansar, para komandan pasukan dan kaum muslimin.

Seperti itulah negara khilafah ala minhajin nubuwwah, yang tidak mengikuti cara-cara Hajjaj bin Yusuf dan Abu Muslim Al-Khurasani (untuk mendapatkan kekuasaan). Negara (yang kami serukan) tidak mengikuti kesesatan yang didapat dengan kemenangan, perampasan melalui peledakan, pengeboman dan kekerasan.

Medan perang kalian juga medan perang politik untuk mengumpulkan umat Islam dan mengorganisir mereka agar berjalan menuju perubahan yang diinginkan untuk membela negeri-negeri kaum muslimin dan melawan para durjana. Sebarkanlah dakwah tauhid, persatuan Islam dan dakwah untuk mendirikan negara Islam yang mengumpulkan kaum Muslimin di bawah khalifah yang satu dengan penuh keridhaan dan berdasarkan musyawarah. Untuk mengumpulkan dan mengorganisir umat, kalian harus melakukan kerja tanpa henti di tengah-tengah umat.

Misi itu menuntut kalian untuk senantiasa bekerja (dakwah) di tengah kaum muslimin, baik di kota maupun di desa-desa untuk menyebarkan akidah tauhid dan memperingatkan mereka akan bahaya kristenisasi. Kalian juga dituntut untuk bekerja (dakwah) di tengah-tengah para pemuda dan penuntut ilmu guna menyadarkan mereka akan kewajiban terhadap umat dan untuk melawan seruan-seruan ateisme, sekularisme dan sosialisme.
Kalian juga dituntut untuk berdakwah di tengah-tengah para karyawan, pedagang dan para pelajar, guna menjelaskan kepada mereka akan rusaknya sistem demokrasi sekuler dan nasionalis. Dan menjelaskan kepada mereka bagaimana sistem-sistem tersebut menyeret kaum muslimin kepada perpecahan dan kerusakan.

Medan perang kalian adalah medan perang sosial. Yaitu dengan memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan, panti-panti sosial, dan memberikan bantuan bencana kepada umat Islam. Guna untuk melawan upaya para misionaris dan ateis. Medan perang kalian adalah dengan memberikan tarbiyah (pembinaan) dan taujih (pengarahan) agar tingkah laku kita bisa naik sesuai dengan level syariat kita, hukum-hukumnya dan adab-adabnya.
Bagaimana kita meminta kepada umat untuk mempercayai kita dalam hal kesungguhan menerapkan syariat, jika ada sekelompok orang yang bergerak mengatas-namakan jihad, namun enggan untuk berhukum kepada syariat?   Mereka menjadikan syariat itu dua bagian. Bagian yang mereka terapkan kepada orang lain, dan bagian lain yang mereka enggan berhukum dengannya terhadap diri mereka sendiri.

Bagaimana mungkin dapat dipercaya untuk menerapkan syariat, pihak yang mereka enggan menerapkan syariat dengan berbagai macam alasan, agar mereka tidak diadili atas tuduhan yang dituduhkan kepada mereka, agar mereka tidak menghadapi bukti-bukti yang dihadirkan lawan sengketa mereka dihadapan mahkamah syariah yang independen?

Bagaimana mungkin kita akan memahamkan umat bahwa kita akan menepati janji kita kepadanya, jika ada di antara kita yang mengakui baiat yang terbukti otentik, dan menyatakan diri bahwa baiat itu sebagai akidahnya, kemudian beberapa bulan setelah itu dia berusaha menutup-nutupinya. Bagaimana kaum muslimin akan percaya bahwa kita membela kehormatan mereka jika ada di antara kita yang bergelimang darah kaum muslimin dan menyulut fitnah yang karenanya ribuan mujahidin menjadi korban.

Bagaimana kita memahamkan umat bahwa kita tidak mengkafirkan umat Islam, jika ada pihak yang mengatas-namakan jihad dan mengaku sebagai pemimpin kaum muslimin, akan tetapi mereka mengkafirkan pihak lain tanpa berdasarkan dalil? Bahkan dia mengkafirkan berdasarkan kedustaan, dan yang lebih parah, kadang mereka mengkafirkan pihak lain karena amalan ketaatan yang dilakukan.

Bagaimana kita akan memahamkan kepada umat bahwa kita berusaha untuk menegakkan syura dan khilafah ala minhajin nubuwwah, jika ada yang mengaku telah menjadi khilafah tanpa syura dan menggunakan bom, peledakan dan kekerasan. Bagaimana kita akan memahamkan umat bahwa kita sedang berusaha menegakkan khilafah ala minhajin nubuwwah, jika ada pihak yang mengaku menjadi khalifah hanya dengan baiat segelintir orang tak dikenal yang merampas hak umat. Kita tidak mengetahui nama dan julukan mereka. Kita juga tidak mengetahui jumlah, sifat dan biografi mereka. Kita juga tidak mengetahui di mana mereka bermusyawarah dan kapan hal itu dilakukan, dan kita juga tidak tahu saat mereka berkumpul, siapa di antara mereka yang setuju dan siapa yang menolak, siapa yang ridha dan siapa yang tidak suka, dan apa yang mereka lakukan terhadap orang yang tidak setuju.

Wahai Umat Islam di Nusantara dan di seluruh negeri umat Islam.

Sesungguhnya risalah yang kami sampaikan kepada kalian cukup jelas dan terang benderang. Kami menginginkan berhukum dengan syariat Islam. Kami tidak ingin lari dari penerapan syariat dan membagi syariat menjadi dua sebagaimana yang dilakukan dinasti Saud. Kami menginginkan syura, kami tidak ingin kesemena-menaan Hajaj bin Yusuf, kami menginginkan khilafah ala minhajin Nubuwwah dan bukan khilafah ala Hajjaj. Kami menginginkan Sunnah nabi Muhammad dan Sunnah khulafaur Rasyidin . Kami tidak menginginkan mulkan adhudh (raja yang zalim).

2 respons untuk ‘Harapan pada Ummat Islam Bangsa Indonesia “Matahari Kemenangan Bersinar dari Nusantara”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s