Khilafah Bukanlah hanya Sekedar Nama

Taushiah  : Muhammad Yusuf Thahiry    — Imam NKA NII ke 3

 

Bismillahirrahmanirrahim

Tatkala Negara Islam Indonesia diproklamirkan tanggal 7 Agustus 1949 ketika itu belum ada negara Islam di dunia selain dari NII. Namun para elit NII sudah memprediksikan bahwa di kemudian hari sesudah NII akan banyak ummat Islam yang memperjuangkan berdirinya negara Islam di masing-masing negerinya. Hal demikian disebabkan sama-sama menyadari adanya kewajiban menjalankan hukum Allah s.w.t. secara sempurna (Q.S.5:208). Sama-sama menyadari tidak mau dicap oleh Al-Qur’an sebagai orang-orang kafir ( Q.S.5: 44), dhalim (Q.S.5:45), fasiq (Q.S.5:47). Atau sama-sama tidak mau menjadi orang-orang yang bertahkim kepada Thagut (Q.S.4:60 ). Sama-sama ingin dibeli oleh Allah (Q.S.9:111) sehingga berperang melawan pemerintah Thagut sampai berdirinya negara Islam menjalankan hukum Allah secara sempurna. Ayat Al-Qur’an menerangkan bahwa yang berperang di jalan Allah sehingga terbunuh atau menang (Q.S.4:74) maka akan diberikan kepadanya pahala yang sangat besar. Ayat itu tidak hanya dipraktekkan oleh mujahidin di Indonesia saja melainkan oleh seluruh ummat Islam di negeri manapun yang mengharapkan ganjaran (pahala) dan keselamatan di akhirat kelak.

Dari prediksi demikian di atas maka para peserta Konferensi ulama Indonesia di Cisayong ( 1948 ) memutuskan di antaranya apabila Negara Islam Indonesia sudah kokoh kedalam dan keluar, sudah bisa melaksanakan syari’at Islam seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya, sedang ke luar sejajar dengan negara-negara lain maka membantu perjuangan muslimin di negeri-negeri lain sehingga dapat dengan cepat melaksanakan wajib sucinya.

Namun, apabila kenyataannya perjuangan negara Islam di negeri-negeri lain itu ada yang lebih cepat merdeka sehingga bisa menerapkan syari’at Islam secara sempurna maka pihak Negara Islam Indonesia menyambut dengan gembira serta mengakuinya sebagai negara dan bukanlah sebagai khilafah, sebab khilafah itu harus sudah bertanggung jawab kepada seluruh ummat Islam di seluruh dunia, dalam arti harus bisa mengirimkan tentara Islam membebaskan muslimin dari cengkaraman pemerintah/ penguasa Thagut dalam versi apapun.

Artinya, bahwa Khilafah bagi NII bukanlah sekedar nama, apalagi bila untuk wilayahnya sendiri saja belum bisa menguasai sepenuhnya.

Begitu juga bagi NII, jika kemudian hari de fakto menguasai sepenuhnya wilayah Indonesia sehingga bisa menerapkan hukum syariat Islam seluas-luasnya dan sesempurna sempurnanya maka NII tidak akan menyatakan khilafah (kekuasaan sedunia) sebelum bersama-sama negara-negara Islam di luar Indonesia membentuk Dewan Imamah Dunia serta bermusyawarah mengangkat Khalifah guna menyatukan kekuatan militer Islam yang mendunia dan sanggup mengirimkan pasukan membantu perjuangan ummat Islam di negeri yang masih dikuasai Thagut. Khalifah adalah penguasa dunia sebagaimana arti “Khalifah” yaitu Imam yang tidak ada lagi diatasnya Imam. ( Al-Munjid, kamus) berarti harus sudah bertanggung jawab dengan riil dibuktikan dengan prakteknya.

Perhatikan hadits Nabi s.a.w. yang bunyinya:

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan al Tirmidzi, beliau menghasankannya).

Hadist di atas itu memerintahkan kita melaksanakan hukum hukum Allah secara kaffah di negeri yang kita tempati. Artinya, sebagai bangsa Indonesia berkewajiban (fardu ‘ain) berjuang melawan pemerintah Thagut yang terdekat yaitu di Indonesia terlebih dulu sesuai dengan kemampuan. Hal itu sejalan dengan petikan ayat:

“Bertakwalah pada Allah semampu kalian…” (QS. At Taghobun: 16).

Berjihad menegakkan hukum-hukum Allah secara totalitas merupakan bukti ketaqwaan kepada-Nya. Sungguh tidak rasional bila kita yang berdomisili di Indonesia menyatakan berjihad dalam Khilafah (kekuasaan Islam sedunia) sementara untuk mengalahkan Thagut di Indonesia saja belum mampu alias masih dalam penguasaan kafirin, dhalimin dan fasikin, padahal kita telah memperoleh legalitas dari Al-Qur’an bertaqwa kepada Allah menurut kemampuan. Begitu juga legalitas dari hadits Nabi s.a.w. bertaqwa kepada Allah dimana saja kita berada. Merujuk kepada sejarah Nabi s.a.w. sebelum menguasai Makkah maka Nabi beserta para sahabatnya terlebih dulu menegakkan kekuasaan di Madinah. Tujuan akhir ialah Khilafah (untuk sedunia) namun diawali dari yang terdekat.

Oleh karena itu kewajiban mujahidin NII yaitu terlebih dulu membebaskan diri kita dalam arti muslimin Indonesia dari cengkraman pemerintah RI Thagut versi Pancasila, sehingga hukum Islam bisa diterapkan dengan seluas-luasnya di Indonesia hal demikian merupakan fardu ‘ain. Apabila sudah tercapai kemudian seizin Imam dalam memperhatikan kondisi pemerintahannya maka NII mempersilakan sebagian mujahidinnya berangkat membantu perjuangan mujahidin Islam di luar Indonesia.
Bilamana beberapa negara sudah berhasil mengalahkan Thagut di masing-masing negerinya maka NII menjalin kerjasama dan bermusyawarah mengangkat Khalifah Dunia.

Hal itu sesuai dengan ayat (Q.S.94:7) yang bunyinya: “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras ( untuk urusan lain.)” Negara Islam Indonesia dalam proklamasinya menyatakan HUKUM YANG BERLAKU ATAS NEGARA ISLAM INDONESIA ITU IALAH HUKUM ISLAM. Dengan demikian NII merupakan wadah ulil amri yang sudah bara’ah (melepaskan diri) dari sistem Thagut. Sehingga bagi yang sudah berbai’at (komitmen) kepada kepemimpinan NII Proklamasi 7 Agustus 1949 berarti posisinya sudah tidak terkait dengan pelaksanaan hukum- hukum jahiliyah (Q.S.5:50) peninggalan kolonial Belanda yang diberlakukan dalam RI—Pancasila.

Jadi, bila ada orang yang melepaskan bai’at pertamanya dalam arti melepaskan diri dari NII maka bukan saja meninggalkan fardu ‘ain bahkan lebih dari itu kembali kepada posisi sebelumnya. Hanya ada dua jalan, jika tidak berada di jalan haq berarti di jalan yang bathil. Perhatikan ayat: “ Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Q.90:10).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s