MANIFESTO POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA

Tulisan ini adalah merupakan MANIFESTO POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA NO 11 TAHUN 2016, Yg disampaikan pada Acara Tazkirah Proklamasi NII ke 69 tanggal 12 Syawal 1437 H bertepatan dengan tanggal 17 Juli 2016 di Banten.

Oleh:   Mujadid Abu Qital, KSU APNII

BAHAGIAN PENDAHULUAN

 

Alhamdulillah, Ummat Islam Bangsa Indonesia di masa kini, masih diberikan kesempatan untuk menunaikan wajib suci yang bernilai tinggi, yaitu jihad fi sabilillah bagi tegaknya Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia sebagai nuqthatul intilaq (titik tolak) tegaknya khilafah fil ardh bi minhajil khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah. Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa ‘alii muhammad wa ashaabihi ajma’iin.

Ummat Islam Bangsa Indonesia yang berani mengambil kesempatan melakukan ibadah yang bernilai tinggi itu, semoga istiqamah dan hanya ridla Allah SWT yang diharap. Itulah sunnah para anbiya, shadiqien, syuhada, dan shalihin, ringkasnya itulah shirathal mustaqiem. Semoga kita tergolong kepada hamba yang terbimbing di dalam melakukan wajib suci itu, didalam menghadapi mereka yang berjalan di atas shiratal maghdubun, dan yang berjalan di atas shiratadl-dlaaluun. Ketahuilah, mereka yang berjalan di atas shiratal maghdubun adalah Yahudi, yaitu kaum Nabi Musa yang ingkar kepada Allah SWT dan kepada nabinya. Dan yang berjalan di atas shiratadl-dlaaluun adalah Nasrani, yaitu Kaum yang memposisikan nabinya kepada derajat ilahiyah. Mereka adalah bukan umat Nabi Musa AS dan juga bukan ummat Nabi Isa AS.

Dalam bahasa hukum (Islam), mereka adalah kafirin wal musyrikin. Jika dipahami secara mendalam terkait mereka yang berjalan di atas shirathal mustaqiem, shirathal maghduubun, dan shiratadl dlaaluun dan dikorelasikan serta dimaknai dengan Ideologi sebagai akidah politiknya, maka akan sampai pada kesimpulan bahwa ideologi yang berkembang di dunia sejak dahulu hingga sekarang adalah Islamisme, Sosialisme, dan Kapitalisme.

Dalam konteks Indonesia, ideologi yang berakar dari sosialisme dan kapitalisme adalah Komunisme dan Pancasilaisme. Sebagaimana telah dimaklum, bahwa komunisme berakar dari pemikiran ekonomi-politik Heinrich Karl Marx yang berpijak dari materialism histories. Pemikiran yang menyeluruh tentang hal ini menghasilkan teori ekonomi, teori politik, teori sosial, bahkan sampai pada pemaknaan asal muasal manusia, kehidupan, dan alam semesta serta persoalan ketuhanan. Dengan materialism histories-nya, Heinrich Karl Marx sampai kepada pernyataan, “religion is opium for the people (agama adalah candu bagi rakyat)”, sebagaimana termaktub dalam Manifesto Partai Komunis Internasional. Berkenaan atheisme dalam ideologi Komunis secara tegas di negara Rusia dalam konstitusinya, menyatakan “… and freedom of anti religious propaganda is recongnized for all citizen _dan kebebasan propaganda anti agama diakui untuk semua warga negara”. Hal itu merupakan sikap dan keyakinan yang mendalam dari pemikiran pencentusnya, sebagaimana termaktub dalam manifestonya;

“Tak dapat disangkal lagi, demikian orang akan berkata, pikiran-pikiran bersendikan agama, moral, filsafat, hukum, dsb. telah berubah dalam perjalanan perkembangan sejarah. Tetapi agama, moral, filsafat, ilmu politik, dan hukum, senantiasa tetap bertahan dan mengatasi pergantian ini. Kecuali itu, ada kebenaran-kebenaran abadi, semacam Kemerdekaan, Keadilan, dsb., yang lazim berlaku untuk segala keadaan masyarakat. Tetapi Komunisme menghapuskan kebenaran-kebenaran abadi, ia menghapuskan semua agama, dan semua moral, dan bukannya menyusun semuanya itu atas dasar yang baru; karenanya ia bertindak bertentangan dengan segala pengalaman sejarah yang lampau.”

Oleh karena keyakinan dan sikapnya, maka kaum Komunis merupakan kaum atheis dan dapat dihukumi sebagai kafir mutlak dalam konteks Islam. Kualitas permusuhan Ummat Islam terhadap kaum Komunis adalah sama nilainya dengan memusuhi Yahudi. Permusuhan ini, bukan hanya karena adanya isyarat nash, bahwa Yahudi tidak akan pernah senang terhadap Islam, realitasnya; setelah Yahudi menghancurkan prinsip tauhid kaum Nasrani (Umat Nabi Isa AS) di masa lampau, kemudian dengan segala cara merekapun menghancurkan Islam, salah satunya dengan senjata materialism. Secara esensial, juga untuk menghancurkan sendi tauhid dalam Islam.

Dan Kapitalisme, adanya sejak ditemukan sistem perniagaan oleh swasta, di Eropa dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Adam Smith adalah peletak dasar ekonomi-politik _kapitalisme_ sejak penerbitan hasil karyanya; An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, 9 Maret 1776. Dengan prinsip ekonominya yang terkenal “meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya”. Kapitalisme dengan demokrasi sebagai sistem politiknya, pada awalnya lahir untuk melawan kaum Gerejawan yang menggunakan dalil Tuhan untuk menjarah rakyat. Pada tataran relitas lebih lanjut, setelah tumbangnya kaum Aristokrat, kapitalisme justru bergerak lebih kejam. Kapitalisme yang mencerca sistem politik teokrasi (Kristen), yang menggunakan dalil Tuhan untuk menekan rakyat, kini kapitalisme berkuasa dengan sistem demokrasi, menggunakan dalil rakyat untuk menghabisi rakyat.

Dalam konteks sosial-politik, kapitalisme sama sekali tidak memberikan peluang bagi Tuhan untuk mengatur kehidupan. Sekularisme yang tumbuh di dalam sistem politik demokrasi telah dijadikan jembatan untuk melanggengkan kapitalisme. Sekularisme dengan pengertian fashluddin anil hayah adalah keyakinan yang dibangun atas dasar memisahkan agama dari kehidupan (politik). Konsepnya, dalam konteks sekularisme masih mau mengakui bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan, berasal dari Tuhan dan akan dikembalikan pada Tuhan. Akan tetapi, kapitalisme dengan sendirinya menyatakan bahwa Tuhan tidak punya pengaruh dalam kehidupan sosial. Tuhan bagi mereka hanyalah pelipur lara semata yang hanya menjadi objek untuk memenuhi ghorizah at-tadayun(naluri bertuhan) saja. Sosialis-komunis dengan nyata telah meniadakan agama (Tuhan) dalam praktek sosial-politik maupun dalam sosial-ekonomi serta lainnya. Dan Kapitalisme dengan demokrasi sebagai sistem sosial-politiknya telah menafikan agama dalam politik. Mereka berkeyakinan bahwa manusia mampu mengatur dirinya secara mandiri dan menetapkan kesenangan dengan nilai yang telah disepakati. Pada esensinya, walaupun sosialisme-komunisme merupakan anti thesis dari kapitalisme, keduanya hanyalah para penyembah materi, dengan sistem sosial-politik yang dibawanya masing-masing. Dan Islamisme dalam konteks ekonomi, terkait prinsip kepemilikan, segala hak milik adalah milik Allah SWT semata. Kepemilikan yang ada pada negara maupun pada masyarakat secara individu dan atau secara kolektif hanya bersifat simbolik (amanah). Dan hal ini merupakan anti thesis dari thesis ekonomi-politik Komunisme, dimana kepemilikan merupakan hak kolektif; dan ekonomi-politik Kapitalisme, dimana kepemilikan merupakan hak private.

Sejatinya, Dunia berada dalam naungan Islam, sesuai isyarat nash, bahwa bumi itu dianugerahkan kepada hamba Allah yang Shalih, dan itu adalah sebuah kebenaran. Akan tetapi, realitasnya di masa kini, Dunia berada dalam genggaman dua kekuatan anti Islam. Demokrasi sebagai sistem politik dengan kapitalisme sebagai sistem ekonominya, hingga kini masih bertengger sebagai penguasa Dunia. Dan di beberapa Negara, di kuasai oleh kaum proletar dengan Komunisme sebagai sistem ekonomi dan politiknya, diantaranya Rusia, China, Korea Utara, dsb.

Wahai Ummat Islam, sadarlah dan ketahuilah! Bahwa demokrasi itu dibangun dan diperjuangkan oleh kaum musyrikin untuk menghancurkan Islam sebagai ideologi maupun sebagai agama, demikian pula dengan Sosialis-Komunis. Keduanya, langsung maupun tidak langsung telah bertekad dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghancurkan Islam. Para pengusung kapitalisme dan demokratisme, tidak terkecuali sosialisme-komunisme; mereka tidak pernah berhenti mempropagandakan anti Islam dengan berbagai macam cara untuk satu tujuan, yaitu Islamphobia effect.

Samuel P. Huntington dalam buku The Clash of Civilization (1996), menyatakan, “Bagi Barat, yang menjadi musuh utama bukanlah fundamentalisme Islam, tapi Islam itu sendiri”. Selain itu, Samuel P. Huntington dalam bukunya yang lain, berjudul Who Are We? (2004), juga mengatakan, “Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS”. Dan Willi Claes, mantan Sekjen NATO dalam sebuah forum mengatakan, “Muslim fundamentalis setidak-tidaknya sama bahayanya dengan Komunisme pada masa lalu. Harap jangan menganggap enteng risiko ini…. Itu adalah ancaman yang serius karena memunculkan terorisme, fanatisme agama, serta eksploitasi terhadap keadilan sosial dan ekonomi”.

Wahai kaum kapitalis, kalian telah menjungkir-balikan fakta, benarkah kapitalisme telah menciptakan keadilan sosial dan keadilan ekonomi ???.  Realitasnya, hampir di seluruh Negara yang bersistemkan demokrasi dan kapitalisme, keadilan sosial dan keadilan ekonomi itu tidak pernah ada, yang ada hanyalah keadilan bagi para elite penguasa, korporasi dan antek-anteknya. Dan untuk rakyat, hanyalah kesengsaraan yang tidak berujung.

Kesungguhan kaum sosialis-komunis dalam memusuhi Islam, tidak kalah sengitnya dengan kaum kapitalis. Propagandis Komunis telah menguasai institusi pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di UIN (Universitas Islam Negeri). Sebagai contoh, di UIN Sunan Ampel, Surabaya dalam sebuah acara OSPEK, dengan terang-terangan mengangkat tema “Tuhan Membusuk”. Ini adalah sebuah realita, bahwa penganut Nietszche (1844-1900), filosof Jerman yang atheis sedang membumikan fahamnya di kalangan Kampus. Dimana Nietszche sendiri pernah memplokamirkan “Tuhan telah Mati”. Hegel (1770-1831) pun pernah mengatakan “Tuhan adalah tiran”. Diterimaanya para propagandis yang membawa pemikiran Nietszhe dan Hegel telah membuahkan hasil, dimana para intelektual Kampus telah menjadi anti agama. Keberanian dan kesungguhan mereka dalam memusuhi Islam, jika dianalogikan; mereka telah cukup berani menumpahkan najis di dalam Masjid. Namun, ironisnya, para penghuni Masjid tidak cukup berani untuk melawan.

Insya Allah, Ummat Islam Bangsa Indonesia yang berjiwa revolusioner akan melanjutkan revolusi Islam yang tertunda di masa Imam Asy-Syahid SM.Kartosoewirjo. Suratul fatihah yang telah ditafsirkan secara aplikatif oleh para Ulama yang berkonferensi di Cisayong pada 12-14 Pebruari 1948 sebagai ummul qanun Negara Islam Indonesia, wujudnya Proklamasi Negara Islam Indonesia, 12 Syawal 1368 H / 7 Agustus 1949 M, merupakan kurnia atas Ummat Islam Bangsa Indonesia. Oleh karena demikian, melanjutkan revolusi Islam di Indonesia merupakan wujud syukur atas nikmat yang telah diterima.

Negara Islam Indonesia tumbuh di masa perang, di tengah-tengah Revolusi Nasional. Pada akhir kemudiannya, setelah naskah Renville dan Umat Islam Bangsa Indonesia bangun serta bangkit melawan keganasan penjajah dan perbudakan, beralih sifat dan wujudnya menjadi Revolusi Islam, atau Perang Suci. Insya Allah, Perang Suci atau Revolusi Islam itu akan berjalan terus, hingga:

1) Negara Islam Indonesia berdiri dengan sentausa, tegak-teguh kedalam dan keluar, 100% de facto dan de jure, di seluruh Indonesia;

2) lenyapnya segala macam penjajahan dan perbudakan;

3) terusirnya segala musuh Allah, musuh Agama, dan musuh Negara dari Indonesia; dan

4) Hukum-hukum Islam berlaku dengan sempurnanya di seluruh Negara Islam Indonesia.

Selama 4 (empat) syarat tersebut belum terpenuhi, maka Negara Islam Indonesia merupakan Negara Islam di masa perang atau Darul Islam fi Waqtil Harb. Karena itu, maka segala hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah hukum Islam di masa perang. Dan Sejak mula Ummat Islam berjuang hingga kini, mengandung maksud yang suci, menuju suatu arah yang mulia, ialah mencari dan mendapatkan mardlatillah, yaitu hidup di dalam ikatan dunia baru, yakni Negara Islam Indonesia yang merdeka. Pernyataan kemerdekaan telah dikumandangkan, yakni sejak diproklamasikannya Negara Islam Indonesia, akan tetapi karena syarat-syarat untuk menjalani hidup di dalam ikatan dunia baru belum terpenuhi, maka wajiblah bagi Umat Islam Bangsa Indonesia untuk menunaikan janjinya kepada Allah azza wa jalla, sebagaimana termaktub dalam klausul bai’at, yaitu melanjutkan Revolusi Islam untuk meraih fatah dan falah yang tertunda di masa sabiqunal awwalun.

Pergerakan Islam di Indonesia dari sejak awal abad keduapuluh, kemudian sampai pada masa Revolusi Islam, tepatnya sejak diproklamasikannya Negara Islam Indonesia hingga kini, merupakan mata rantai perjuangan Islam secara global. Realitas mata rantai ini, sebagaimana telah dinyatakan oleh HOS Cokroaminoto (Pemimpin Sarekat Islam) dan KH. Mas Mansyur (Pemimpin Sarekat Muhammadiyah) di dalam Muktamarul ‘Alamil Islami far’ul Hindish Syarqiyah_Kongres Dunia Islam Hindia Timur_ pada tahun 1925.  HOS Cokroaminoto menyatakan; “jika pemimpin Arab Saudi, Saudara Abdul ‘Azis Ibnu Sa’ud tidak bersedia menjadi pengganti Khalifah Turki Utsmani, insya Allah kami Ummat Islam di Indonesia akan mempelopori kebangkitan kembali khilafah fil ardh”.  Pernyataan itu, kemudian menjadi tekad bagi Ummat Islam Bangsa Indonesia, hingga kemudian dibuktikan dengan diproklamasikannya Negara Islam Indonesia pada tahun 1949, sebagai titik tolaknya.

Sekalipun Negara Islam Indonesia di masa awal kebangkitannya hanya diakui oleh Mesir pada masa itu, dan kemudian Mesir pun menarik kembali pengakuannya karena tekanan kolonialis Eropa, maka dalam hal ini, cukuplah Allah saja yang mengakuinya. Tidak adanya pengakuan Negara Islam Indonesia oleh dunia internasional adalah sebuah kewajaran, mengingat dunia sedang dikuasai oleh musuh-musuh Islam. Dan mereka cukup mengetahui bahwa Negara Islam Indonesia adalah cikal-bakal tegaknya kembali khilafah fil ardh.

Sebagaimana analisa seorang ilmuwan Amerika Serikat, Prof. Ralston Hayden, menegaskan; bahwa pergerakan Sarekat Islam itu akan berpengaruh besar atas kejadian politik di masa depan, bukan hanya di Indonesia, akan tetapi juga di Dunia Timur.

Dalam konteks hubungan dunia internasional di masa kini, sekalipun Negara Islam Indonesia belum memiliki kemampuan maksimal dalam pengejawantahan platform diplomasi internasional sebagaimana telah dimaktubkan dalam amanah konferensi Cisayong tahun 1948, Negara Islam Indonesia cukup menyadari arti penting eksistensi perjuangan ummat Islam di Dunia bagi tegaknya khilafah fil ardh. Negara Islam Indonesia adalah bagian dari perjuangan Islam secara global untuk tegaknya khilafah ‘ala minhajun nubuwah. Oleh karena demikian maka Negara Islam Indonesia, dengan manifesto politik ini, menyatakan; bahwa para pejuang Negara Islam Indonesia adalah bagian dari para pejuang Islam di Dunia, dan para pejuang Islam di Dunia adalah bagian dari kami. Berkenaan dengan bagaimana menegakkan kembali khilafah ‘ala minhaj nubuwah, kami sampaikan kepada para mujahidin di Dunia, bahwa kami mengacu kepada ijtihad pada Ulama kami yang telah merumuskannya pada konferensi Cisayong tahun 1948; para Ulama kami berkesimpulan, bahwa; “Bersama-sama dengan Negara Islam yang lain membentuk Dewan Imamah Dunia (lembaga khilafah), kemudian memilih seorang Khalifah”.

Insya Allah, ijtihad ini tidak bertentangan dengan para mujtahid di masa sekarang, khususnya para mujtahid di bawah bimbingan Syaikh Osamah Bin Laden pada masa lalu atau Syaikh Ayman Al-Jawahiri di masa sekarang. Oleh karena itu, sikap Negara Islam Indonesia pada ketika diproklamirkannya Negara Islam Irak, dan tegaknya Imarah Islamiyah Taliban, juga Negara-negara Islam di bumi Afrika, kami memberikan pengakuan atas eksistensinya, dan menaruh harapan untuk segera terwujudnya Dewan Imamah Dunia untuk memilih seorang Khalifah.

Manifesto ini merupakan penegasan sikap politik dan orientasi perjuangan Negara Islam Indonesia. Juga dimaksudkan sebagai respon atas rilis kedelapan Syaikh Ayman Al-Jawahiri yang berjudul “Matahari Kemenangan Bersinar Dari Nusantara”. Insya Allah, Umat Islam Bangsa Indonesia dalam keadaan siap untuk menyongsong ayyamillah, yaitu hari dimana lahirnya komando umum untuk melanjutkan revolusi Islam yang tertunda di Indonesia. Oleh karena demikian, khusus kepada Umat Islam Bangsa Indonesia, umumnya kaum muslimin Indonesia, songsonglah kedatangan kembali Imam/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia untuk meluluh-lantahkan sarang-sarang kapitalisme dan komunisme di Dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Ketahuilah, wahai rakyat Indonesia seluruhnya, hanya dengan jalan revolusi Islam, Indonesia akan selamat dari segala macam penjajahan dan perbudakan yang selama ini tengah berlangsung dari sejak zaman kolonial Belanda dan fasis Jepang hingga zaman Republik Indonesia yang telah berumur 70 puluh tahun lebih.

Wahai rakyat Indonesia seluruhnya, atau khususnya bagi Ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia, penting untuk diketahui dan dilakukan penyikapan atas keadaan Indonesia di masa kini. Pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014, kaum nasionalis telah dijungkirbalikan oleh kaum sosialis. Dengan demikian, kekuasaan atas Republik Indonesia sejak pemilihan itu berada di tangan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia yang ketujuh. Sejauh pengamatan kami, kini Indonesia sedang berada dalam genggaman kaum Komunis, atau dengan bahasa yang sedikit halus, Indonesia sedang berada dalam kekuasaan kaum yang “berhaluan kiri”. Indikasi Indonesia dalam genggaman kaum yang “berhaluan kiri”, secara politik diantarannya nampak pada gagasan “revolusi mental” yang dicanangkan oleh presiden Joko Widodo, juga nampak dalam program pembrangusan Perda-Perda Islami yang dimotori oleh kader PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Cahyo Kumolo, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. Argumentasi yang dibangun oleh mereka, bahwa Perda Perda Islami itu berlawanan dengan HAM, menghambat investasi, menghambat pembangunan dan sebagainya.

Ketahuilah, sesungguhnya pemberangusan Perda-Perda Islami tersebut didorong oleh spirit komunisme yang atheis, dengan tujuan melenyapkan agama (Islam) yang dianggap sebagai candu di dalam masyarakat. Indikasi lain yang nampak mengandung emosi permusuhan terhadap Islam, terkait pernyataan tendensius Wakil Ketua KPK yang menyatakaan, bahwa kader-kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) semuanya adalah “maling” _koruptor. Satu hal lagi sebagai indikator, yang mengidentifikasi pemerintahan Republik Indonesia di masa kini dalam genggaman kaum yang “berhaluan kiri” adalah berkenaan dengan program ekonominya, mereka berangkat dengan pemikiran “ekonomi kerakyatan”.

Indikasi pemerintahan Joko Widodo-Juyuf Kalla sebagai pemerintahan yang “berhaluan kiri”, juga nampak dari respon kalangan kaum nasionalis Republik Indonesia atas fenomena munculnya kaum komunis yang mengibarkan bendera “palu arit”. Atas realitas Indonesia di masa kini telah dikuasai kaum yang “berhaluan kiri”, kaum nasionalis Indonesia, mungkin baru tersadar setelah melihat realita yang berkembang, mereka berkoar-koar menyatakan penyesalannya dengan berbagai cara, setelah memberikan legitimasi kekuasaan Indonesia kepada kaum yang berhaluan kiri.

Sebagian rakyat Indonesia yang agak mengerti politik, juga telah banyak yang melakukan penyesalan telah memilih kader sosialis sebagai Presiden. Protes yang paling menonjol atas fenomena komunisme di era pemerintahan Joko Widodo dilakukan oleh Kivlan Zein, seorang purnawirawan Tentara Nasional Indonesia, tetapi masih cukup aktif di dalam tugasnya sebagai Intelijen Negara Republik Indonesia. Aksi Kivlan Zein mungkin berdiri sendiri, akan tetapi berdasarkan pengamatan yang cermat, ia adalah aktor yang dimainkan oleh kaum nasionalis untuk mendongkel kekuasaan kaum yang berhaluan kiri.

Wahai ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia pada umumnya, waspadalah! Kaum nasionalis tengah berusaha keras untuk menjadikan kaum muslimin sebagai alat untuk melawan komunisme di masa kini. Mereka tengah berusaha menggunakan tangan musuhnya untuk melawan musuhnya, mereka cukup yakin bahwa yang bisa menghancurkan komunisme di Indonesia hanyalah kaum muslimin. Bagi Ummat Islam dan kaum muslimin pada umumnya, melenyapkan komunisme di muka bumi hukumnya memang wajib ‘ain, oleh karena demikian marilah kita bergerak untuk menghancurkannya, tetapi terlepas dari kepentingan kaum nasionalis.

Mengapa demikian? Karena akar perjuangan mereka berangkat dari ideologi syirik, yaitu Pancasila dan bukan bertujuan untuk tegaknya Islam. Wahai kaum muslimin Indonesia, ingatlah sejarah perlawanan ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia pada umumnya terhadap kaum komunis di masa Orde Lama dan di masa Orde Baru, yang dimanfaatkan oleh kaum nasionalis, dan kemudian mereka bersikap “habis manis sepah di buang”, itulah realita. Bahkan nasib ummat Islam Bangsa Indonesia yang berusaha keras untuk menegakkan Islam di Indonesia, berakhir di hadapan regu tembak, berakhir dengan vonis seumur hidup, atau yang paling ringan berakhir dengan vonis 5 sampai dengan 15 tahun penjara oleh kaum nasionalis yang berkuasa kala itu. Spirit Islam telah menegaskan, “terjerumus kedalam lubang yang sama adalah bagaikan keledai”, semoga Ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia pada umumnya semakin cerdas!  Marilah kita berbuat demi Allah, bukan demi “Berhala Pancasila”.

Dan satu hal lagi yang penting untuk disikapi oleh Ummat Islam dan atau Kaum Muslimin Indonesia pada umumnya, adalah berkenaan dengan keganasan kafir China yang sedang berkuasa di Jakarta. Dalam hal ini, Negara Islam Indonesia secara ideologi atau politik sesungguhnya tidak ada keterkaitan dengan Provinsi Jakarta sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia; kecuali sebagai musuh. Akan tetapi secara psychology kami memiliki keterikatan dengan warga Jakarta pada umumnya atau khususnya bagi kaum muslimin yang sedang berjuang melawan kejahatan kafirin wal musyrikin di Jakarta. Maka atas kecongkakan dan kejahatan Gubernur Basuki Cahaya Purnama alias Ahok, kami mempunyai kewajiban untuk memberi pembelaan kepada kaum muslimin Jakarta dalam melepaskan Jakarta dari cengkraman kafirin wal musyrikin.

Semoga kepeloporan Lasykar FPI (Front Pembela Islam) di bawah komando Habib Riziek Shihab dan para Ulama Jakarta lainnya, dalam melawan kecongkakan, keganasan, dan kejahatan Gubernur Kafir mendapat nilai di mata Allah SWT. Dan semoga Allah SWT juga ridla dalam menggerakan junudan lamtaraha dalam menyikapi Jakarta untuk tujuan terbatas atau yang lebih jauh.

Penyikapan atas realitas politik di Jakarta di bawah pemimpin kafir China, langsung maupun tidak langsung adalah mengandung makna permintaan kaum muslimin Jakarta dalam urusan agama. Oleh karena itu, dengan spirit atau sekaligus sebagai prinsip dalam penyikapan ini kita mengambil ibrah atas realitas politik yang dialami kaum muslimin di Mekkah yang tidak mampu berhijrah ke Madinah dan mendapat perlakuan kejam penguasa Hijaz di Mekkah, di masa Rasulullah Muhammad SAW. Nash-Nya menegaskan;
…dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” ( Q.S  8 : 72 )

Dalam konteks yang lebih luas, mengapa realitas politik di Jakarta menjadi wajib bagi Ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia untuk disikapi. Karena Jakarta “Indonesia” telah menjadi target kaum Paganism Dunia, dan ada juga yang menyatakan bahwa Indonesia telah ditarget sebagai koloni imperium China, pasca kesuksesan mereka menjadikan Singapura sebagai negeri yang berperadaban negeri “tirai bambu”. Realitas proses sebagai upaya kolonialisasi ini, sesungguhnya sudah cukup lama berkembang di Indonesia. Dan mereka telah menjadikan momentum gerakan reformasi tahun 1998 sebagai titik tolak untuk bergerak. Tekad ini, kemudian terbukti dengan adanya koordinasi intensif untuk membuat rencana aksi diantara para tokoh keturunan Tionghoa di Jakarta yang berporos ke Republik Rakyat China. Mungkin sedikit agak membingungkan berkenaan dengan hubungan antara China-Jakarta (perantauan) yang kental sebagai kapitalis, dengan China-Peking (Daratan) yang kental sebagai sosialis-komunis. Nampaknya, diantara mereka telah ada satu komitmen bahwa persoalan kedua ideologi ekonomi-politik itu hanya akan digunakan sebagai jembatan untuk menghidupi rakyat China yang telah berjumlah hampir dua milyar dan juga untuk membumikan ideologi Paganism.

Memperhatikan kepada peta politik yang berangkat dari spirit ideologi yang berkembang di Dunia, nampaknya musuh Islam bukan hanya yang berangkat dari titik tolak kapitalisme dan sosialisme dengan berbagai bentuk aplikasi permusuhannya, tetapi kini telah tampil kaum Paganism sebagai musuh ketiga yang menggunakan kapitalisme dan sosialisme sebagai sarananya. Kaum Paganism di Indonesia, secara politik dan ekonomi telah cukup nyata dalam menyatakan permusuhannya kepada ummat dan kaum muslimin. Juga telah begitu nyata permusuhan kaum Paganism Myanmar terhadap ummat dan kaum muslim di Myanmar, bahkan mereka telah melakukan terror yang nyata terhadap Islam dengan membabi-buta.

Atas realitas permusuhan kaum kapitalis, kaum sosialis, dan kaum paganis terhadap Islam baik dalam skala internasional maupun dalam skala nasional Indonesia, jika diidentifikasi dengan menggunakan bahasa syar’i, maka ketiga musuh Islam tersebut hukumnya sudah cukup jelas, tidak perlu diurai. Tetapi yang diperlukan adalah pengejawantahan pertahanan Islam dengan nyata. Semoga realitas ini menjadi momentum “jembatan” bagi terciptanya tsauratul Islam (revolusi Islam), khususnya di Indonesia. Semoga Allah SWT membimbing Ummat Islam Bangsa Indonesia dalam melaksanakan tugasnya. Amin!I

….bersambung ke  https://ahkamsulthaniyah.com/2016/07/25/mata-rantai-perjuangan-umat-islam-bangsa-indonesia/    MATA RANTAI PERJUANGAN UMMAT ISLAM BANGSA INDONESIA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s