Menyongsong Datangnya AYYAMILLAH (Hari Kemenangan Yang Dijanjikan Allah)

Tulisan ini merupakan sambungan ke V  dari MANIFESTO POLITIK NII No 11 tahun  1437 H/2016  M

Oleh : Mujadid Abu Qital

 

Sebuah spirit menegaskan, bahwa sunatullah yang telah terjadi pada masa lalu tidak akan didapati perubahannya dalam perkembangan peradaban suatu kaum dari masa ke masa. Dengan spirit ini, sebagaimana telah dimaklum dalam sejarah, bahwa pada masa lalu telah berlangsung suatu peradaban yang dinamakan peradaban jahiliyah. Kemudian, datang peradaban Islam sebagai penggantinya. Sebagai sunnatullah yang tidak dapat dihindari, kemudian datang masa kehancuran peradaban Islam pada abad ke-14, seiring bangkitnya peradaban jahiliyah modern di Eropa.

Sebagaimana telah dimaklum dalam sejarah, bahwa kebangkitan Eropa itu berangkat dengan gerakan renaissance yang bermisi Three-G dan ditopang oleh spirit perang Salib. Kebangkitan Eropa ini kemudian diiringi dengan kebangkitan dalam bidang pemikiran, sehingga lahir pemikiran ekonomi-politik kapitalisme dan sosialisme. Dengan kedua ideology ini, Eropa (Barat dan Timur) membangun peradaban modern menurut para pemikir dan pendukungnya.

Sementara itu, menurut padangan Islam, hal itu merupakan peradaban Jahiliayh modern, mengingat fondasi pemikirannya berangkat dari hawa nafsu semata.  Realitasnya, kapitalisme dan sosialisme dalam perkembangan lebih lanjutnya, yang melingkupi bidang-bidang kehidupan lainnya mengenyampingkan dan atau menolak agama sama sekali. Hingga kini di abad ke-21, peradaban jahiliyah modern masih menguasai peradaban Dunia. Mengingat kembali fluktuasi bangkit dan hancurnya suatu peradaban adalah bersifat sunnatullah, maka jika diprediksi dari titik tolak kebangitan peradaban Islam abad ke-7 dan kemudian kemundurannya pada abad ke-14, maka peradaban jahiliyah modern (Eropa) di abad ke-21 merupakan puncaknya, dan sekaligus sebagai titik awal kehancurannya. Oleh karena demikian, seiring kehancuran peradaban jahiliyah modern, kebangkitan peradaban Islam telah menemukan momentumnya untuk kembali bangkit di abad ke-21 ini.

Hikmah berulangnya suatu peradaban merupakan pelajaran dan petunjuk bagi suatu kaum sehingga adanya penyikapan atas realitas peradaban yang berlangsung. Nash-Nya menegaskan

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” ( QS Ali Imran : 137 )

Peradaban yang tengah berlangsung dalam konteks Indonesia adalah sebuah peradaban yang dibangun oleh spirit peradaban jahiliyah modern. Sebagaimana telah dimaklum dalam sejarah, bahwa pembumian peradaban Eropa sebagai peradaban Jahiliyah modern yang telah dibumikan sejak imperialis dan kolonialis Belanda berlangsung, khususnya sejak pengejawantahahan politik ethis. Oleh karena itu memerlukan penyikapan yang tegas dan pasti oleh Ummat Islam sebagai pejuang untuk tegaknya kembali peradaban Islam. Ketegasan sikap tersebut diperlukan, sehubungan realitas peradaban jahiliyah di Indonesia telah merajalela.

Dan kejahatan yang disebabkan oleh kejahiliyahan tersebut telah menjadi persoalan fundamental bagi bangsa Indonesia umumnya, dan khususnya bagi Ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia. Pembumian kejahiliyahan di Indonesia telah berlangsung secara sistematis dan bahkan dibarengi dengan upaya “paksa”. Masyarakat Indonesia dibina dan dibangun oleh pemerintah thaghut menjadi masyarakat yang anti tauhid. Oleh karena pembinaan dan pembangunan tersebut, masyarakat Indonesia menjadi kaum musyrikin.

Dengan rela atau terpaksa, dengan sadar atau tanpa sadar masyarakat Indonesia umumnya telah menjadi penyembah berhala Pancasila. Secara general dan jika dibahasakan dengan bahasa syar’i, kondisi masyarakat Indonesia telah berada dalam suatu keadaan yang disebut sebagai kaum yang sedang berada dalam kondisi dhulumat (kegelapan). Oleh karena demikian keadaan masyarakat Indonesia, maka bagi Ummat Islam mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan mereka dari keadaan tersebut, sehingga masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang berada dalam naungan nuurallah (cahaya Allah).

Kewajiban ummat Islam mengeluarkan masyarakat Indonesia dari kegelapan (peradaban jahiliyah) kepada cahaya (peradaban islam), merupakan sebuah kewajiban syar’i dimana kewajiban itu telah dicontohkan oleh para Anbiya dan para utusan Allah. Nash-Nya menegaskan;

“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya: “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Setiap orang yang sabar dan banyak bersyukur.” ( QS  Ibrahim : 5 )

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa tugas Rasulullah Muhammad SAW adalah sama dengan tugas Musa A.S. yaitu mengeluarkan manusia dari peradaban jahiliyah kepada peradaban Islam. Karena itu, konsekwensi dan resikonya sama sebagaimana yang diterima oleh Musa A.S; inilah sunnatullah.

Demikian halnya dengan Ummat Islam Bangsa Indonesia di bawah komando Imam Negara Islam Indonesia, adalah mempunyai kewajiban yang tidak berbeda dengan para anbiya dan para utusan Allah, yaitu membebaskan masyarakat Indonesia dari peradaban jahiliyah dan menggantinya dengan peradaban Islam. Proses pembebasan masyarakat Indonesia dari peradaban jahiliyah merupakan sebuah amal shaleh, dan itulah amal yang tertinggi di dalam Islam, yaitu jihad fisabilillah.

Sebuah hadits qudsi menerangkan;

Nabi Musa AS saat ditanya oleh Allah SWT tentang amal shaleh yang langsung kepada-Nya “Wahai Musa mana amal shalehmu yang langsung kepada-Ku? Musa menjawab, amal shaleh yang langsung kepada-Mu ya Allah bertanda aku telah shalat dan puasa, tetapi Allah berfirman kepada Musa, bukan itu yang Aku maksud dengan amal shaleh yang langsung kepada-Ku wahai Musa. Akhirnya Musa bertanya kepada Allah; “Apa yang engkau maksud dengan amal shaleh itu?” Allah menjawab “Amal shaleh yang aku maksud disini adalah engkau harus mendatangi wilayah fir’aun di Mesir. Engkau hancurkan wilayah tersebut berikut seperangkat sistemnya karena sesungguhnya fir’aun telah melampaui batas.

Adalah suatu kemustahilan membebaskan masyarakat dari kekuasaan peradaban Jahiliyah tanpa menghancurkan kekuasaannya. Oleh karena itu, mengambil spirit dari hadits qudsi tersebut, melakukan gerakan revolusi Islam merupakan cara yang tepat untuk menghancurkan peradaban jahiliyah secara total dan menggantinya dengan peradaban Islam.

Penyikapan atas realitas kondisi tersebut dengan gerakan yang bersifat revolusioner merupakan sunnah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW atas keadaan peradaban Jahiliyah di masanya. Dan gerakan revolusionernya Rasulullah SAW tersebut juga merupakan peneladanan dari para Rasaul sebelumnya. Sebagaimana nash tersebut di atas, bahwa Muhammad Rasululllah SAW telah diperintahkan untuk mengambil pelajaran di dalam menyikap realitas peradaban jahiliyah di masa Nabi Musa A.S yang dilakukan oleh Bani Israil di bawah komando Fir’aun.

Dan tentunya, menjadi pelajaran dan petunjuk pula bagi Ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia dalam perjuangan untuk menghancuran peradaban jahiliyah di Indonesia di bawah komando Imam/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia.

Nash menegaskan; “… dan ingatkanlah mereka kepada ayyamillah…”. Yang dimaksud ayyamillah tersebut adalah suatu realitas kesuksesan gerakan revolusionernya nabi Musa AS dan ummatnya di dalam menghancurkan peradaban jahiliyah di bawah kekuasaan Fir’aun dan para pembantunya. Kemenangan Nabi Musa AS dan ummatnya atas Fir’aun terjadi pada tanggal 10 Muharam, hingga kemudian tanggal kemenangan ini dinamakan sebagai hari As-Syuraa dan hari As-syuraa ini disebut sebagai Ayyamillah, sebagaimana Ibnu Abbas dan Ibnu Umar meriwayatkan;

Hari ‘As-syuraa’ termasuk salah satu Ayyamillah (hari-hari Allah), dikarenakan pada hari itu Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan Musa ‘alaihissalam dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya ‘As-syuraa’ adalah salah satu Ayyamillah (hari-hari Allah), maka barangsiapa yang mau silakan berpuasa dan barangsiapa yang mau meninggalkannya.  Realitas penyikapan kemenangan Musa AS atas fir’aun, sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, ummat Islam ada yang melakukannya dengan shaum, dan demikian pula kaum Nabi Musa AS yang masih menghormati kemenangan tersebut, mereka pun bershaum. Dan ketika Rasulullah SAW menemukan kaum Nabi Musa di Madinah melakukan shaum di hari Asy-syuraa, Rasulullah SAW menegaskan bahwa Rasulullah SAW dan ummat islam lebih berhak untuk mensyukuri ayyamillah.

Hadits menerangankan:
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam tiba di Madinah, lalu beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuura. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa padanya?” Mereka (kaum Yahudi) menjawab: ”Ini adalah hari agung dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur sehingga kamipun berpuasa.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Kami (kaum Muslimin) lebih berhak atas Musa daripada kalian (kaum Yahudi). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-pun berpuasa dan menyuruh (kaum muslimin) berpuasa.

Berkenaan dengan bagaimana persoalan shaum pada hari asy-syuraa sebagai wujud syukur, itu adalah dalam ranah fikih Islam. Insya Allah para fuqaha dapat memberikan kepastian hukumnya. Oleh karena itu, persoalan shaum dalam kesempatan ini tidak kita bicarakan. Selanjutnya persoalan yang terpenting dari perintah mengingat ayyamillah di masa Nabi Musa AS yang telah menjadi petunjuk bagi Ummat Islam dalam menghadapi keganasan peradaban jahiliyah, adalah berkenaan dengan apa dan bagaimana ayyamillah itu bisa terwujud.

Apabila kita simak dari keseluruhan kisah tentang Nabi Musa melawan Fir’aun pada masa menjelang hari kemenangan tersebut tiba adalah terletak pada mukjizat Allah SWT yang dianugerahkan kepada Nabi Musa AS, salah satunya berupa “Tongkat” yang memiliki kemampuan memakan ular tukang sihir Fir’aun dan juga mempunyai kemampuan membelah lautan, sebagaimana cukup mashur dalam sejarah dan juga ditegaskan dalam Nash.

Dilatar-belakangi oleh perintah untuk menyelamatkan suatu masyarakat dari peradaban jahiliyah kepada peradaban Islam, spirit Ayyamillah dalam penafsiran secara politik, mengandung suatu makna, yaitu adanya tongkat komando atau perintah, dimana perintah tersebut memiliki kekuatan ideologis dalam perang diplomasi dengan Fir’aun yang mengerahkan tukang sihirnya “ideolog”.

Dan tongkat komando dari Musa dalam arti politik, memiliki kekuatan untuk menggerakan massa di saat bergeloranya people power, sehingga kekuasaan Fir’aun tenggelam dalam peristiwa revolusi itu. Ibnu Katsir menjelaskan, “ingatkanlah mereka kepada pertolongan-pertolongan Allah dan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka, yaitu Allah telah membebaskan mereka dari cengkraman Fir’aun …”. Dan khususan kepada Ummat Islam dan kaum muslimin Allah SWT telah menjanjikan kemenangan dalam waktu yang dekat, nash-Nya; “Nasrum minallah wa fathun qariib”.

A. Momentum Ayyamillah

Berdasarkan informasi wahyu (al-qur’an) bahwa akar kejahatan itu berangkat dari Iblis laknatullah, kemudian bersemayam dalam jiwa Bani Israil (Yahudi) atau kaum nabi Musa yang membangkang kepada Allah dan kepada nabinya.  Allah SWT memberikan informasi kepada Ummat Islam sebagaiaman termaktub dalam nash;

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. ( QS Al Isra’ : 4 )

Kausalitas kehidupan sudah menjadi sunatullah, dimana setiap kerusakan akan dibarengi dengan kebaikan. Dalam konteks ini, kerusakan yang dibuat oleh Yahudi telah diberikan tenggang waktu oleh Allah SWT, dengan tujuan memberikan kesadaran sehingga Yahudi mau bertaubat, itulah sifat rahman-Nya Allah kepada setiap makhluk. Kejahatan Yahudi yang pertama telah berlangsung sebelum kebangkitan Islam.

Kemudian, Allah SWT mengutus Muhammad Rasulullah SAW untuk membalas kejahatannya. Kemudian Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya pada tahun 624 M (abad ke-7) membangun Negara Madinah sebagai titik tolak kebangkitan peradaban Islam dan sekaligus sebagai hukuman atas kejahatan Yahudi. Nash-Nya menerangkan;

“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana”.( QS al Isra’ : 5 )

Sesuai dengan janji Allah SWT, bahwa kemenangan Islam dan sekaligus sebagai penghancuran total terhadap kejahatan kaum Yahudi, peradaban Islam telah menguasai dua per tiga dunia hingga abad ke-14. Dan sesuai dengan sejarah, bahwa abad ke-14 (1324 M) merupakan puncak kejayaan peradaban Islam. Seiring peradaban Islam mencapai puncaknyaa, peradaban jahiliyah mulai bangkit yang digerakan oleh Yahudi, dan itu merupakan sunatullah, nash-Nya menerangakan;

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”.(QS al Isra : 6 )

Sebagaimana telah populer di dalam sejarah, bahwa Yahudi di dalam melancarkan kembali kejahatannya, yaitu mengahancurkan peradaban Islam di abad ke-14 dimulai dari Eropa. Sebagaimana telah menjadi identitas, bahwa setiap gerakan iblis pasti dimulai atau dibangun dengan spirit materialism, sebagaimana Iblis menggoda Adam dan Hawa.

Dengan gagasan kapitalisme dan sosialisme, Yahudi memberangus peradabaan Islam. Sudah menjadi sunatullah, Yahudi memang diberikan kesempatan untuk bangkit kembali dan menguasai Dunia, hingga kemudian kejayaan Yahudi ini telah merajalela di Dunia pada abad ke-21, nash menerangakan;

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” ( QS al Isra’ : 7 )

Mengambil pelajaran dari nash tersebut di atas dan jika dikorelasikan dengan momen penting dalam sejarah peralihan peradaban jahiliyah kepada peradaban Islam adalah memunculkan waktu yang cukup memberikan informasi bagi Ummat Islam, berkenaan dengan kapan momentum Ayyamilah tiba. Memperhatikan kepada fluktuasi kebangkitan dan kemerosotan peradaban Islam dari sejak berdirinya Negara Madinah pada tahun 624 atau abad ke-7, maka tujuh abad kemudian bertemu dengan satu titik kulminasi pada abad ke-14. Jika diperhitungaan fluktuasinya selama 700 tahun, maka kemerosotan peradaban Islam mulai sejak tahun 1324, yaitu abad ke-14. Dan kemudian, momentum ayyamilah yag terakhir adalah jatuh pada abad ke-21 atau kurang lebihnya jatuh pada tahun 2024. Sesuai dengan informasi hadits yang mashur bahwa di dalam setiap seratus tahun akan dibangkitkan seorang mujadid (pembaharu) untuk kebangkitan peradaban Islam, riwayat Hadits menerangkan;

Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi ummat ini orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun.( HR Abu Daud )

Kehadiran seorang atau beberapa mujadid (pembaharu) titik tolaknya berangkat dari sejak hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Sesuai dengan konteks hadits tersebut, bahwa hadirnya pembaharu, tentu berkaitan dengan peradaban yang diperbaharuinya. Adapun kualitas dari pembaharuan yang dihasilkan oleh setiapa pembaharu bersifat relative.

Dalam penafsiran secara politik, bahwa hijrahnya Rasulullah SAW pada tahun 624 M merupakan titik tolak bangkitnya peradaban Islam dan hancurnya peradaban jahiliyah. Kemudian sesuai dengan sunnatullah, kini di abad ke-21 telah jatuh waktunya, sebagai momentum untuk kebangkita kembali peradaban Islam, kurang lebih _sejauh prediksi_ akan jatuh pada tahun 2024. Sekaligus tahun ini, juga menandai 100 tahun jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Oleh karena demikian prediksinya, maka bagi Ummat Islam Bangsa Indonesia, sebagai bagian dari mata rantai perjuangan Islam seacara global, dan juga sehubungan adanya mata rantai antara Negara Islam Indonesia dengan Khilafah Turki utsmani, kiranya momentum 2024 merupakan jembatan emas sebagai titik tolak kebangkitan peradaban Islam. dan insya Allah, sejauh prediksi yang telah dicermati dengan seksama, pada tahuh 2024 merupakan ayyamillah. Oleh karena momentum ini, maka kita memiliki kewajiban untuk menyongsongnya dengan bukti yang nyata, yaitu terlebih dahulu tegaknya Negara Islam Indonesia.

Dan berkenaan dengan proses perjuangan untuk tegaknya Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dimana sejak tahun 1962 eksistensinya tidak dapat dipertahankan. Kemudian sejak itu Ummat Islam Bangsa Indonesia kembali bangkit untuk menata kembali tulang-tulang yang berserakan dan hingga kini telah memakan waktu yang cukup lama. Sebagai jawaban atas pertanyaan kapan waktunya untuk kembali bangkit, dan sekaligus sebagai penafsiran makna daripada fathan qariib (QS 61 : 13), maka momentum 2024 merupakan jawaban.

B. Essensi Menyongsong Ayyamillah

Berkenaan dengan terminlogi atau pengertian yang dimaksud ayyamillah sudah cukup jelas, termasuk apa yang menjadi latar belakangnya. Singkatnya merupakan hari pertolongan dan kemenangan yang dianugerahkan Allah kepada Ummat Islam, sehingga peradaban jahiliyah hancur dan peradaban Islam bangkit. Akan tetapi, yang menjadi esensi dari riwayat kemenangan Nabi Musa AS atas Fir’aun sehingga menjadi factor penentu kemenangan adalah adanya mu’jizat yang dianugerahkan kepada Nabi Musa AS, yaitu berupa Tongkat yang berkemampuan mematahkan setiap argumentasi para penyihir Fir’aun; dan berkemampuan membelah lautan masyarakat dalam masa revolusi berlangsung sehingga kekuasaan Fir’aun tenggelam, nash menginformasikan;

“….lalu dilemparkannyalah tongkat itu, Maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.( QS 20 : 20 )  “…..dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.”(QS 2 : 50)

Berkenaan dengan tenggelamnya “kekuasaan” Fir’aun, sebagaimana terukir dalam kitab-kitab tafsir, bahwa waktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Fir’aun, mereka harus melalui laut merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga belahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya ditengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. sedang Fir’aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka.

Penafsiran secara politis, bahwa yang dimaksud dengan “tongkat” dalam kisah Nabi Musa AS adalah “komando” atau perintah pemimpin terhadap yang dipimpinnya, untuk melaksanakan gerakan diplomasi dan untuk gerakan revolusi. Inilah dua cara yang secara esensi adalah jihad bimakna dakwah wal qital.

Manifestasi dua cara ini disesuai dengan kondisi dan kualitas perlawanan dari pihak musuh. Akan tetapi dua cara ini memiliki korelasi yang tidak dapat dipisahkan. Artinya, untuk tegaknya peradaban Islam dalam suatu kondisi tertentu dakwah didahulukan, kemudian jika tidak sampai pada targetnya, maka diselesaikan dengan qital.

Insya Allah sudah maklum, bahwa proses dakwah Ummat Islam Bangsa Indonesia, selama ini telah berlangsung secara sirriyah. Dan insya Allah dengan spirit ini, kualitas gerakan dakwah diwujudkan dalam bentuk jahriyatud dakwah dalam masa sebelum jatuhnya momentum ayyamillah 2024. Semoga Allah SWT berkenan menghantarkan gerakan jahriyatud dakwah ini sebagai titik tolak jatuhnya “tongkat komando” untuk revolusi islam di dalam waktu yang dekat.

bersambung ke https://ahkamsulthaniyah.com/2016/07/25/revolusi-sebuah-jalan-ummat-islam-untuk-bangkit/      REVOLUSI SEBUAH JALAN

Satu respons untuk “Menyongsong Datangnya AYYAMILLAH (Hari Kemenangan Yang Dijanjikan Allah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s