Peradaban Indonesia Dalam Naungan Berhala Pancasila dan Majapahit Raya

Sebagai tulisan lanjutan yang ke III  dari MANIFESTO POLITIK NKA NII

Oleh : Mujadid Abu Qital — KSU APNII

Periodesasi peradaban Indonesia ditandai oleh tumbuh dan berkembang serta melemahnya keyakinan (ideologi) yang dikendalikan oleh kekuasaan atas masyarakat, dengan paksa dan atau dengan sukarela. Konteks Indonesia, sejarah peradabannya dimulai dengan adanya keyakinan yang bersifat animism dan dynamism yang dikendalikan oleh kekuasaan Kepala-kepala Suku. Seiring meredupnya keyakinan ini, Hinduisme dan Budhisme menjelma menggantikan peradaban animism dan dynamism yang dikendalikan oleh kekuasaan kerajaan yang berideologi paganism (Hindu dan atau Budha).

Kemudian, seiring berkembangnya Islam di Nusantara melalui proses dakwah para utusan dari Jazirah Arab, Islam menjelma sebagai ideologi perubahan untuk peradaban Indonesia dan menghiasi serta mengganti peradaban sebagian kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu dan atau Budha.

Dalam periode berkembangnya peradaban Islam, mencapai puncaknya pada abad ketiga belas. Dan peradaban kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha pada masa yang sama, ada juga yang sedang berada dalam masa puncak (mapan), diantaranya kerajaan Minangkabau, Sriwijaya, Pajajaran, Majapahit, dan sebagainya. Artinya di masa memudarnya perkembangan peradaban yang terbangun oleh keyakinan animism dan dynamism, peradaban kerajaan-kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Nusantara mengalami perkembangan kemajuan dalam waktu yang hampir sama, misalnya kerajaan Majapahit di Jawa mengalami puncak kejayaannya pada abad ke-13 di masa Hayam Wuruk dengan Gajah Mada sebagai patihnya.

Sementara itu kerajaan Islam Samudera Pasai, Sumatera di abad ke-12 sedang berkembang, perbedaannya dibedakan oleh periode awal pertumbuhannya. Sesuai dengan teori Arabia, bahwa Islam masuk ke Nusantara sejak Abad ke-7 M.[1] Sedangkan Hindu dan atau Budha telah berkembang di Nusantara sejak abad ke-1 M, yang ditandai oleh adanya kerajaan Kutai di Kalimantan dan kerajaan Sunda di pulau Jawa, sebagai kerajaan yang tertua di Nusantara.

Kemudian, di abad ke-15, seiring gerakan renaissance Eropa yang bermisi Three-G, bergerak dengan spirit Perang Salib, imperialis Belanda masuk di Nusantara dengan agenda Imperialiasi dan kolonialisaasi serta pembumikan peradaban Eropa.

Sehubungan kebangkitan Eropa dalam pemikiran ekonomi-politik, khususnya setelah revolusi Inggris dan Revolusi Francis, adalah Belanda menjadi pintu masuk untuk berkembangnya ideologi yang dibangun oleh spirit pemikiran manusia semata (filsafat) yang berangkat dari hawa-nafsu, yaitu kapitalisme dan sosialisme.

Dan telah disinyalir, bahwa kapitalisme dan sosialisme ini merupakan produk pemikiran Yahudi untuk semakin menghancurkan prinsip Tauhid yang ada dalam agama samawi yang terdahulu dan untuk menghancurkan Islam yang datang kemudian.[2]   Manusia Indonesia dalam sejarah peradabannya “kecuali setelahnya masuknya komunisme” adalah tergolong manusia yang religious (ber-ilah). Bahkan manusia Indonesia sebelum mengenal agama, tergolong manusia yang telah meyakini sesuatu yang dianggap lebih tinggi sebagai sesuatu yang dapat mempengaruhi hidup dan kehidupannya (mendatangkan manfaat dan mudharat), yaitu keyakinan animism dan dynamism.

Dan dalam perkembangan peradabannya, Indonesia terbangun oleh spirit agama. Akan tetapi sejak dibumikannya peradaban Eropa, yaitu sejak diimplementasikannya kebijakan politik Ethis dalam bidang pendidikan khususnya, Eropanisasi atas Indonesia dimulai. Dan sehubungan perkembangan Eropa yang telah dikuasai oleh kapitalisme dan sosialisme, maka pembumian peradaban Eropa di Indonesia dibangun dengan ideologi kapitalisme dan kemudian sosialisme pun ikut serta didalamnya untuk semakin menghancurkan Indonesia sebagai masyarakat yang beridentitas religius.

Dalam perkembangan lebih lanjut di masa Hindia Belanda berkuasa, khususnya sejak awal abad ke-20 M, pertarungan ideologi cukup nampak dengan jelas, terutama kapitalisme, sosialisme, dan islamisme.

Adapun paganism (Hindu dan Budha) relative tidak nampak dalam proses pergumulan, akan tetapi melalui aristocrat Jawa (Majapahit) yang telah terdidik oleh system pendidikan Eropa, dengan gerakan “Boedi Oetomo”-nya telah menempatkan ideologi paganism sebagai fondasi lahirnya nasionalisme Indonesia.

Ketika Fasis Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, kemudian dibentuk badan persiapan bernama Dokuritu Zyunbi Tyosakai, dan panitia persiapan kemerdekaan Indonesia. Badan dan panitia ini bekerja untuk mempersiapkan apa dan bagaimana Indonesia Merdeka. Sehubungan pergumulan ideologi antara nasionalisme, sosialisme, dan islamisme masih terus berlangsung, dan para pengusungnya tetap bertahan, dapat dikatakan menemukan jalan buntu dalam menetapkan ideologi sebagai fondasi Indonesia merdeka.

Bagi kaum radikal yang kukuh dengan ideologi yang diyakininya (Islam minded dan Komunis minded). Sikap mereka total tidak ada keinginan untuk membangun Indonesia merdeka dengan ideologi yang bersifat campuran, mereka lebih cenderung mati bersama ideologinya. Akan tetapi kaum nasionalis berbeda sikap, mereka cenderung mencari jalan kompromi dengan cara memadukan ketiga ideologi tersebut dengan jalan membangun kembali spirit Majapahit.

Berangkat dari referensi ketatanegaraan kerajaan Majapahit yang termaktub dalam Kitab Negara Kertagama, karya Mpu Prapanca tahun 1365, istilah Pancasila dinukil. Dan untuk menegasakan darimana nasionalisme Indonesia berpijak, kemudian dinukil dari Kitab Sutasoma, karya Mpu Tantular. Dalam kitab tersebut terdapat deskripsi, “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua _walaupun berbeda namun satu jua”.[3] Dan kemudian dikukuhkan menjadi Bhinneka Tunggal Ika dalam berhala Pancasila sebagai kalimatin khabitsah.[4]

Baik gagasan Muhammad Yamin, Soekarno ataupun Soepomo dan lain-lainnya terkait fondasi Indonesia merdeka adalah berangkat dari spirit kebangkitan Majapahit Baru. Dengan demikian, secara esensi maupun substansi Indonesia merdeka yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia hakikatnya adalah Majapahit Raya dan Pancasila sebagai ideologi persatuan telah ditempatkan sebagai Berhala dengan isme syiriknya, yaitu Bhineka Tunggal Ika, lawan dari kalimatun thayyibah.[5]

Sebagaimana telah dimaklum, bahwa kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang berideologi Paganism atau penyembah berhala (Hindu dan Budha). Oleh karena itu dulu Majapahit Raya, sekarang Indonesia Raya, keduanya sama-sama penyembah berhala. Revolusi dalam arti menghancurkan sebuah system peradaban lama dan menggantinya dengan sebuah system peradaban baru, maka dalam konteks revolusi Indonesia hasilnya hanya kembali kepada peradaban masa lalu dan tidak ada perubahan prinsipil dalam tata peradaban Indonesia.

Wujud Indonesia di masa kini, hanyalah sebuah peradaban yang bernama Majapahit Raya dan bernaung kepada Berhala Pancasila. Oleh karena realitas ideologi sebagai sesuatu yang bermakna berhala, maka bagi Ummat Islam dan umumnya kaum muslimin Indoensia dengan tegas dan pasti seharusnya menolak ideologi ini. Apabila ada yang mengakui, meyakini, dan mengibadati Berhala Pancasila, maka itu adalah perbuatan syirik, dan dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT, kecuali yang bertaubat.

A. Eropanisasi Indonesia dan Kejahiliyahan Indonesia

Realitas peradaban Indonesia pasca peradaban Islam di Nusantara umumnya , telah kembali pada suatu keadaan dimana kualitas peradabannya setara dengan kualitas peradaban jahiliyah klasik bangsa Quraisy di negeri Hijaz,[6] dan peradaban jahiliyah modern bangsa Eropa yang dibumikan oleh imperialis Belanda sejak kebijakan politik ethis _khususnya di bidang pendidikan_ diimplementasikan sebagai titik tolak eropanisasi Indonesia.[7]

Sekalipun setiap kejahiliyah memiliki tanda-tanda tersendiri, yaitu suatu tanda yang menunjukan peradaban dimana kejahiliyah itu hidup, akan tetapi semua jenis kejahiliyahan mempunyai kesamaan pokok yang menentukan kekhususan sebagai ciri kejahiliyahan peradaban suatu bangsa.

Pertama, Semua kejahiliyahan menolak prinsip tauhid dan atau dimulai dengan tidak percaya kepada Allah SWT secara benar. Itulah persamaan yang pokok, baik yang ada pada zaman jahiliyah klasik maupun yang ada pada zaman jahiliyah modern.[8]   Kemudian, dari bentuk kejahiliyahan yang pokok inilah, lahir berbagai bentuk kekejahiliyahan lainnya sejalan berkembangnya ilmu pengetahuan;

Kedua, setiap kejahiliyah ditandai dengan penolakan terhadap pemberlakuan hukum menurut yang ditentukan Allah SWT.[9]    Artinya peradaban tersebut lebih suka dengan hukum yang menurut “hawa nafsunya”, bukan mengacu kepada wahyu; dan

Ketiga, adanya berbagai macam ath-thaguut di muka bumi yang membujuk manusia agar tidak ta’at dan tidak beribadah kepada Allah SWT, serta menolak syari’at Ilahi;

Keempat, tumbuh dan berkembangnya sikap menjauhkan diri dari agama Allah.

Secara umum, dalam konteks berkembangnya kejahiliyahan modern, penolakan terhadap prinsip tauhid dan penolakan terhadap pemberlakuan syariat Allah, diikuti dengan lahirnyanya berbagai ideologi sebagai keyakinan baru, dalam hal ini, sebut saja capitalism dan socialism. Kedua ideologi ini pada awalnya merupakan pemikiran ekonomi-politik, akan tetapi dalam perkembangannya telah menjelma menjadi berbagai faham yang berlawanan dengan prinsip tauhid dan para pengusungnya rela berkorban dan berani mati untuk itu.

Sejalan dengan pengejawantahan politik ethis, khususnya dalam bidang pendidikan yang terkait langsung dengan pembentukan sumber daya manusia untuk memastikan peradaban Eropa terbumikan di Indonesia, kapitalisme dan sosialisme langsung maupun tidak langsung telah menjadi bagian dari kajian pendidikan di Eropa.

Oleh karena demikian, baik mahasiswa Indonesia yang belajar di Nederland maupun yang di Hindia Belanda, langsung maupun tidak langsung telah tampil sebagai agen perubahan untuk proyek eropanisasi Indonesia yang mengusung kapitalisme dan sosialisme. Contoh masyarakat yang sukses dieropakan adalah Amerika dan Australia.

Dalam konteks pembumian peradaban Eropa di Indonesia, mungkin tidak seperti yang terjadi di Amerika dan Australia. sekalipun masyarakat Eropa tidak mendominasi Indonesia, bahkan termasuk imperialisnya telah terusir sejak revolusi nasional dan revolusi Islam berlangsung, kecuali sebagian kecil warga keturunan yang tertinggal. Sekalipun demikian, bukan berarti eropanisasi Indonesia tidak membumi. Realitas yang ada, sebagai ekses dari system pendidikan Eropa yang diberlakukan sejak politis ethis bidang pendidikan diejawantahkan, kualitas manusia Indonesia telah terbentuk sebagai manusia yang siap untuk mewujudkan masyarakat Indonesia merdeka sesuai peradaban Eropa dengan pengejawantahan ideologi yang dihasilkan dari kebangkitan Eropa, yaitu kapitalisme dan atau sosialisme.

Sesungguhnya kapitalisme dan sosialisme secara proses merupakan sejarah “peradaban” Eropa yang secara keseluruhan merupakan sejarah kejahiliyahan yang terbentuk oleh sejarah Yunani dan Romawi.[10] Dengan alur sejarah yang demikian, pada suatu titik sejarah tertentu di masa lampau akan berjumpa dengan titik peradaban yang menjadi lawannya. Sebagaimana telah dimaklum, di masa lampau Yunani dan Romawi merupakan pusat peradaban yang berlawanan disaat peradaban Islam muncul di muka bumi, dan perseteruanpun terjadi.[11]

Kemerdekaan sebagai buah dari gerakan revolusi sesungguhnya merupakan titik tolak pembentukan peradaban baru. Sebagaimana pengertian revolusi yang bermakna menghancurkan suatu system peradaban, kemudian membangun suatu system peradaban baru. Memperhatikan kepada jalannya proses menuju kebangkitan Indonesia dan puncaknya berproses  dalam peralihan kemerdekaan Indonesia. Masyarakat Indonesia pada masa itu telah terpilah kedalam tiga aliran ideologi, yaitu sosialisme-komunis, nasionalisme-Indonesia, dan islamisme. Dua dari tiga ideologi tersebut berangkat dari pemikiran manusia semata, bukan ideologi yang dibangun dari spirit wahyu, melainkan dibangun oleh hawa nafsu.

Dalam konteks Islam, cukup jelas prinsipnya, sebagaimana nash menegaskan:

Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[12]

Persoalan ideologi dalam koteks membangun peradaban suatu bangsa adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, dimana ideologi merupakan fondasi peradaban. Dengan demikian ideologi dalam arti sebagai akidah politik, maka konsekwensi dari pengejawantahannya apabila suatu bangsa menggunakan sesuatu ideology dalam membangun masyarakatnya maka peradaban yang akan terbentuk adalah peradaban yang sesuai dengan ideology tersebut. Sebagai contoh, sudah sering kita mendengar, bahwa Pancasila sebagai ideology merupakan keyakinan (akidah) dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Oleh karena itu, sehubungan Negara Kesatuan Republik Indonesia telah komitmen menjadikan ideologi Pancasila dalam menata bangsa, Negara, dan masyarakat, maka mereka sudah bertekad bahwa peradaban Indonesia itu harus sesuai dengan ideology Pancasila. Sebagaimana telah dimaklum, bahwa Pancasila tergali dari spirit ideology yang berkembang di masa kerajaan Majapahit, maka peradaban yang ingin diwujudkan oleh para founding father Republik Indonesia dan para penguasa Republik Indonesia selanjutnya serta para pendukungnya adalah peradaban yang sesuai dengan peradaban Majapahit yang terbangun oleh ideology paganism, yaitu penyembah berhala. Dan pancasila mutlak merupakan produk akal (hawa nafsu) oleh karena itu berlawanan dengan ideology Islam yang terbangun dari spirit wahyu.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa pasca imperialis Belanda meninggalkan Indonesia, secara kasat mata mungkin pembumian peradaban Eropa di Indonesia tidak berhasil atau dalam paparan yang sering digunakan oleh para ahli sejarah, bahwa Belanda telah terusir dan Indonesia sudah merdeka. Tidak merajalelanya (hilir-mudik) bangsa Eropa di Indonesia pasca kemerdekaan, bukan sebuah standar yang esensial untuk mengukur ketidak berhasilan imperialis dalam membumikan peradaban Eropa di Indonesia.

Akan tetapi sebagai pijakan yang paling radikal (mengakar) dalam mengukur kadar keberhasilan eropanisasi Indonesia adalah sejauh mana ideology eropa membumi di dalam jiwa manusia Indonesia. Dalam hal ini, kapitalisme dan sosialisme sebagai ideologi Eropa yang lahir di masa renaissance Eropa telah tertanam dan mengakar dalam jiwa manusia Indonesia. Realitasnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia dari sejak perintisannya telah dibangun dengan menggunakan spirit kapitalisme dan sosialisme yang kemudian berkembang dengan berbagai bentuk ideology dan system peradaban yang digunakan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan demikian, apa yang menjadi titik pangkal yang mendasar sebagai fondasi peradaban suatu bangsa adalah ideology. Sebagaimana telah dimaklum, bahwa sejak imperialis Eropa memasuki wilayah Islam di Nusantara, hingga kemudian sejak awal abad keduapuluh, Indonesia telah dirancang sebagai negeri yang harus berperadaban Eropa. Oleh karena telah membuminya ideology yang berasal dari Eropa, maka peradaban Jahiliyah Indonesia, secara esensi maupun substansi terbentuk oleh kejahiliyahan modern. Oleh karena itu, bentuk-bentuk kejahiliyahan modern yang berkembang di Idonesia, tidak berbeda dengan kejahiliyah yang terjadi di Eropa, karena pangkalnya dari Eropa. Sebagai contoh bentuk kejahiliyahan yang paling mendasar adalah kejahiliyah dalam bidang pemikiran atau filsafat.

Bermula dari titik tolak bentuk kejahiliyah ini, kemudian akan membentuk kejahilyahan dalam bidang lainnya, diantara bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, moral, dan sebagainya dengan segala aplikasinya dalam kehidupan masyarakat.[13]

B. Kiblat Pendidikan Indonesia

Renaissance Eropa berangkat dengan motifasi Three-G yang didukung oleh spirit Perang Salib, menaklukan wilayah-wilayah baru di Dunia Timur Dekat dan Timur Jauh. Pasca penaklukan, mereka memaksakan kehendaknya untuk menjadikan wilayah-wilayah baru tersebut sebagai tempat baru untuk membangun peradaban Eropa. Diantaranya adalah Amerika dan Australia yang merupakan wilayah yang benar-benar sukses dari proyeksi Eropanisasi. Kesuksesan ini tentunya dibarengi dengan pemberangusan penduduk lokal sebagai korbannya, terutama mereka yang memberikan perlawanan secara radikal.

Di Amerika selama proses Eropanisasi telah memakan jutaan jiwa suku Indian dan kaum yang berkulit hitam yang berasal dari Afrika. Demikian pula halnya di Australia, adalah jutaan suku Aborigin telah menjadi korban. Terkait proses Eropanisasi di Asia dan Afrika, dalam konteks pertumbuhan penduduk lokal “mungkin” tidak punah, akan tetapi secara mental, masyarakat Asia dan Afrika, terutama mereka yang telah rela dengan kapitalisme dan atau sosialisme pada prinsipnya sudah terkontaminasi oleh ideologi kebangkitan Eropa.[14]  Pemberangusan penduduk lokal yang bersifat tidak langsung atau sebagai bentuk pemberangusan secara halus terhadap mereka yang tidak memberikan perlawanan secara radikal adalah melalui pendidikan. Dengan dalil membangun peradaban modern, system pendidikan lokal dihancurkan dan kemudian di arahkan kepada system pendidikan yang menopang terbentuknya peradaban Eropa yang distigmakan sebagai peradaban modern.

Dalam konteks Indonesia, sebagaimana telah dimaklum dalam sejarah, bahwa imperialisasi dan kolonialisasi yang berlangsung sejak abad 15 M, kemudian di awal abad ke-20 proyeksi Eropanisasi mulai dijalankan. Bertitik tolak dari lahirnya kebijakan politik ethis, dimana kebijakan ini meliputi bidang ketenaga-kerjaan, bidang kesehatan, bidang pertanian, dan bidang pendidikan,[15]   imperialis Belanda memulai program eropanisasi di Indonesia. Sekalipun kebijakan politik ethis terbagi dalam beberapa bidang, akan tetapi yang paling mendapat perhatian adalah berkenaan dengan pengejawantahan kebijakan politik ethis bidang pendidikan. Hal mana dianggap penting, karena manusia merupakan subyek peradaban. Jika subjek peradabannya terbentuk sesuai dengan system peradaban yang hendak dibangun, maka sekalipun manusianya bukan “kulit putih”, peradaban eropa akan dibumikan oleh mereka yang telah terdidik melalui system pendidikan Eropa.

Jika diteliti secara mendalam, sehubungan Indonesia sebelum kedatangan imperialis adalah tergolong bangsa yang telah berperadaban. Setidaknya, jika ditinjau dari perkembangan ideologi (agama dan keyakinan) sebagai fondasi peradaban, telah berlangsung tiga peradaban di Nusantara. Pertama, peradaban yang terbangun oleh spirit animism dan dynamism; kedua, peradaban yang terbangun oleh spirit Paganism; dan ketiga, peradaban yang terbangun oleh spirit Islam.

Dengan demikian, sangat mustahil bila subjek peradaban Indonesia dikatakan sebagai yang berperadaban primitive atau tidak terdidik oleh pendidikan yang berlangsung di dalam peradaban tersebut. Pastinya, sebelum imperialis masuk di Nusantara, manusia Indonesia telah terdidik oleh suatu system pendidikan yang berlaku dalam kerajaan-kerajaan di Nusantara. Masyarakat yang berada dalam kerajaan Islam, sudah pasti diantara masyarakat di dalam kerajaan tersebut ada yang disebut sebagai orang terpelajar karena telah mendapat pendidikan menurut system Islam.

System pendidikan Eropa yang dijalankan sejak awal abad ke-20, langsung maupun tidak langsung bertujuan membentuk manusia Indonesia untuk berprinsip dan berpola hidup sesuai tata peradaban Eropa. Baik dalam konteks pribadi, keluarga maupun dalam bermasyarakat dan bernegara. Atau lebih tepatnya, dengan kebijakan politik Ethis-nya, Belanda bermaksud menghancurkan dengan sehancur-hancurnya peradaban Islam yang telah lama berlangsung di Indonesia.

Secara umum, mungkin kebijakan politik ethis ini dipandang baik. Akan tetapi, dalam perspektif Islam, hal ini merupakan titik tolak penghancuran manusia Indonesia yang berwatak Islam secara sistematis. Dalam pelaksanaan kebijakan politik ethis bidang pendidikan, masyarakat Indonesia “dipaksa” untuk mengikuti pendidikan yang bersistemkan pendidikan Eropa. Untuk memaknai istilah pemaksaan, Belanda dan antek-anteknya mempropagandakan, bahwa pendidikan Eropa merupakan pendidikan modern. Dan makna modern adalah pencarian nilai-nilai yang mengarah pada kemajuan dan pengetahuan, hal itu sudah melekat bahwa modernisme yang diartikan sebagai cara berpikir dan cara bertindak dengan peradaban Barat (Eropa).[16]

Dengan demikian sistem pendidikan Islam yang telah berhasil membentuk watak manusia Indonesia dalam peradaban di masa sebelum kedatangan imperalis Belanda termarginalkan dan terpaksa menerima label sebagai system pendidikan tradisional klasik yang usang. Kemudian generasi muda Indonesia sama sekali tidak tertarik untuk belajar Islam.

Dengan demikian, langsung maupun tidak langsung system pendidikan Eropa telah menjadi kiblat pendidikan yang baru dan dianggap modern. Hingga zaman Republik Indonesia, system pendidikan dengan spirit penghancuran peradaban Islam itu terus berlangsung. Walaupun di zaman Republik Indonesia ada upaya dari para tokoh Muslim untuk memasukkan pendidikan Islam (agama) dalam kurikum pendidikan nasional (ala Eropa) di sekaolah-sekolah negeri. Juga sebagai bentuk usaha kaum muslimin untuk membangun system pendidikan Islam, yaitu adanya sekolah yang bernama “madarasah” dari tingkat ibtidaiyah sampai tinggi ‘aliyi. Atau ada juga yang secara khusus mengemas pendidikan Islam dengan label ‘Pesantren Modern”. Akan tetapi kenyataannya kualitas manusia yang dihasilkan dari proses pendidikan tersebut tidak lebih baik kualitasnya dari manusia yang terdidik melalui pendidikan Islam yang katanya primitive (tradisional).

Secara general, realitas keberhasilan politik ethis dalam bidang pendidikan, dalam konteks masa kini adalah nampak pada kehancuran system pendidikan Islam yang tidak diminati sama sekali oleh generasi muda Indonesia. Kalaupun ada, karena system kurikulum dan tujuan dari pencapaian kurikulum tidak sesuai dengan tujuan hakiki pendidikan Islam, maka kualitas yang dihasilkan hanya sebatas terkuasaianya islamology (hanya kulit tanpa isi).

Realitas perlawanan terhadap pembumian system pendidikan Eropa yang berdampak langsung atau tidak langsung dalam pembentukan peradaban Eropa di Indonesia, dilakukan oleh beberapa pelajar di Sumatera dan di Jawa pada waktu yang bersamaan dengan pengejawantahan politik ethis bidang pendidikan. Perlawanan yang dimaksud diwakili oleh beberapa pelajar yang menuntut ilmu ke jazirah Arab.[17]     Diantaranya Syeikh Muhammad Taher Jamaluddin (1900), Syeikh Muhammad Jamil Jambek (1903), Haji Abdul Karim Amrullah (1906), dan Haji Abdullah Akhmad (1899). Di Mekkah, mereka belajar kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, yang juga seorang yang telah lebih dahulu memperdalam Islam dan telah bermukim di Mekkah yang telah berkelas sebagai Imam Besar bermazhab syafi’i.[18]

Dalam perkembangan lebih lanjut, Syeikh Akhmad Khatib Al-Minangkabawi telah berhasil mencetak dua pelajar dari Jawa, yang secara langsung ataupun tidak langsung dalam pengejawantahan disiplin ilmunya, telah mewakili dalam memberikan perlawanan terhadap proyek pembumian peradaban Eropa. Kedua tokoh tersebut adalah pendiri Nahdlatul Ulama dan pendiri Muhammadiyah. Perlawanan terhadap system pendidikan Eropa, selain diimplementasikan secara perseorangan dengan cara belajar langsung ke pusat peradaban Islam, dalam skala local system, pendidikan Islam terus berjalan. Sekalipun system pendidikan Islam sebagai media pencetakan pelaku peradaban Islam itu cukup terancam.

Alhamdulillah, dari beberapa pesantren sebagai system pendidikan Islam yang berada di beberapa daerah di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan dari kepulauan lainnya, hingga pertengahan abad ke-20 masih bisa melahirkan pejuang-pejuang Islam yang tangguh. Akan tetapi, system pendidikan Eropa yang dibumikan di Indonesia lebih mendominasi dalam mencetak generasi muda Indonesia. Oleh karena demikian, walaupun perkembangannya bersifat evolutif, dalam realitasnya kualitas manusia Indonesia telah terbentuk oleh system pendidikan Eropa. Dan hingga kini, pendidikan yang berjalan di Indonesia masih berkiblat ke Eropa. Dan pendidikan Islam sekalipun menggeliat, akan tetapi belum mampu melahirkan agen-agen perubahan untuk berjayanya peradaban Islam di Indonesia.

C. Berhala Pancasila dan Paganisme Indonesia

Paganism menurut New Advent Ecyclopedia, dalam arti luas termasuk semua agama yang diluar agama yang berasal dari Allah; dalam arti sempit adalah semua agama kecuali agama samawi. Istilah ini sama dengan politheisme (kepercayaan tentang banyak tuhan).[19]    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, paganism adalah sebuah faham pada masa sebelum masuknya agama Islam dan Kristen.[20]   Paganism merupakan sebuah kepercayaan atau praktik spiritual penyembahan terhadap berhala yang pengikutnya disebut kaum pagan.[21]   Dalam konteks berkembangnya peradaban di Nusantara, pasca peradaban Animism dan dynamism, kemudian eksis sebuah peradaban pengganti yaitu peradaban yang terbentuk oleh spirit Hindu dan Budha.

Dengan melalui system sosial-politik yang berkembang di kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, ideology paganism telah menjadi identitas dalam tata sosial kemasyarakatan yang berkembang. Secara sejarah, perkembangan paganism di Nusantara (Indonesia), titik tolak perkembangannya terlacak sejak abad ke-1 Masehi melalui kerajaan Mulawarman, di Pulau Kalimantan dan kerajaan Purnawarman, di Pulau Jawa. Kerajaan-kerajaan yang terbentuk oleh system peradaban paganism ini, walaupun dalam prosesnya ada yang punah, akan tetapi hingga masuknya Islam di abad ke-7, kerajaan-kerajaan Paganism ini terus berkembang dan hingga abad ke-13, kerajaan Paganism yang terwakili oleh Kerajaan Majapahit masih cukup eksis dan masih berambisi untuk menguasai nusantara raya. Akan tetapi, seiring berkembangnya peradaban Islam dI Indonesia yang mencapai puncak peradabannya pada abad ke-13, peradaban paganism mulai runtuh dalam arti kekuasaan dan digantikan oleh kekuasaan Islam yang berkembang di pulau Jawa.

Pada tahun 1293 Kerajaan Majapahit berdiri dan mencapai zaman keemasannya di bawah kekuasaan Raja Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada. Kejayaan Majapahit dilukiskan oleh Mpu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama (1365) yang di dalamnya terdapat istilah Pancasila. Juga dilukiskan oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma, yang di dalamnya ditemukan seloka persatuan nasional, yakni Bhinneka Tunggal Ika, yang bunyi lengkapnya Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua, yang artinya, walaupun berbeda namun satu jua. Kemudian oleh kaum nasionalis di masa pergerakan untuk Indonesia merdeka dipahami dan dirujuk sebagai titik tolak nasionalisme Indonesia dan demokrasi Indonesia.

Dan kemudian, sehubungan telah berkembangnya keagaaman (Budha, Hindu dan Islam) dalam peradaban Majapahit, kemudian spirit yang termaktub dalam Sutasoma dan Negarakertagama terkait persoalan keyakinan yang beragam, kemudian menginspirasi para tokoh nasionalis untuk melahirkan ideology persatuan (ideology syirik), yaitu Pancasila. Dan nasionalisme Indonesia terbangun oleh spirit “cita-cita” Patih Gadjah Mada yang ingin mempersatukan seluruh Nusantara Raya, dengan Sumpah Palapa-nya; “Saya tidak akan makan buah Palapa (kelapa) jikalau belum seluruh nusantara bertakluk di bawah kekuasaan Negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik belum dikalahkan”.

Dengan demikian ideology Pancasila dan nasionalisme Indonesia dibangun dari sebuah peradaban, yaitu peradaban Majapahit sebagaimana terukir dalam Pararaton yang ditulis pada tahun 1613 M dan Nagarakrtagama ditulis dalam tahun 1365.[22]

D. Republik Indonesia: Negara Lemah Menuju Negara Gagal

Menurut para ahli, klasifikasi nation state (negara bangsa) terbagi kedalam empat kategori yaitu; 1) Strong state (Negara kuat); 2) Weak state (Negara lemah); 3) Failed state (Negara gagal) ; dan 4) Collapsed state (Negara runtuh). Selanjutnya, Indonesia dalam analisis para peneliti termasuk dalam kategori weak state dan keberadaanya sedang menuju failed state. Kemudian dapat dipastikan, bahwa Negara yang demikian adalah termasuk kandidat potensial untuk menjadi Negara runtuh, semoga Allah SWT mengabulkannya.[23]

Lebih mendalam para peneliti menegaskan, bahwa Indonesia memiliki indicator yang kuat sebagai Negara gagal. Indicator-nya meliputi persoalan kondisi sosial, ekonomi, politik, dan militer (pertahanan). Sindrom Negara yang sedang menuju Negara gagal diantaranya; pertama, Nampak dalam persoalan pertahanan Negara yang terancam pihak asing; kedua, keamanan rakyat tidak terjaga dari ancaman kriminalitas; ketiga, korupsi merajalela; empat, legitimasi Negara terus menipis dan pemerintah tidak berdaya dalam menghadapi masalah Dalam Negeri; diantaranya persoalan disintegrasi bangsa yang sedang berproses menuju etno nasionalisme; dan kelima, rawan terhadap tekanan “kepentingan” luar negeri.[24]

Walaupun ada yang berpendapat bahwa Indonesia belum merupakan Negara gagal, tetapi Negara lemah (Weakstate). Akan tetapi atas realitas yang berkembang tidak dapat disangkal, karena hampir semua indikasi Negara gagal terpenuhi bagi Republik Indonesia.  Realitas kegagalan Republik Indonesia dalam membangun ekonomi, yang secara ideal menurut ideology pembentuknya adalah ekonomi pancasila sebagai fondasi peradaban Indonesia. Akan tetapi dalam realitasnya, sekalipun telah ada hasil pemikiran para akademisi tentang ekonomi pancasila, tetapi realitas perekonomian yang berjalan tetap mengacu kepada system ekonomi kapitalisme.

Seiring dengan realitas kegagalan dalam membangun ekonomi Indonesia dengan system ekonomi pancasila dan atau dengan system ekonomi kapitalistik, kini muncul Jargon “ekonomi kerakyatan”, yang dianggap sebagai solusi untuk memulihkan persekonomian Indonesia.

Pemikiran ekonomi kerakyatan sesungguhnya merupakan pemikiran ekonomi yang berakar dari pemikiran ekonomi-politik sosialis, yang sudah lama dikembangkan di kalangan akademisi di Indonesia. Diistilahkan dengan “ekonomi kerakyatan” hanya untuk menghaluskan atau untuk mensamarkan filsafat ekonominya yang menjadi spirit pemikiran ekonomi tersebut. Sesungguhnya “ekonomi kerakyatan” adalah sebuah pemikiran ekonomi yang bersifat anti kapitalisme.

Berkenaan dengan jargon “ekonomi kerakyatan” ini, mulai populer dan diejawantahkan di masa Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden Republik Indonesia. Dengan pemikiran “ekonomi kerakyatan”, semula Megawati Soekarno Putri merasa optimis, bahwa perekonomian Indonesia akan terdongkrak sesuai pesan sponsor pemikirnya di kalangan akademisi. Akan tetapi dalam kenyataannya, Megawati Soekarno Putri, malah mendapat penghargaan sebagai penjual asset Negara, sehubungan dengan program privatisasi BUMN-nya.

Kenyataan ini merupakan realitas kegagalan yang telak dalam pengejawantahan pemikiran “ekonomi kerakyatan” di tangan Menko Ekuin, Kwik Kian Gie, seorang kapitalis beretnik China di masa Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden kelima RepubIik Indonesia. Di masa kini, mungkinkah jargon “ekonomi kerakyatan” dapat diejawantahkan di bawah Menko Ekuin Rizal Ramli?  Silahkan disimak, apa dan bagaimana fondasi pembangunan ekonomi Indonesia di tangan seorang Rizal Ramli dalam rentang waktu beberapa tahun ini. Apakah seorang Rizal Ramli sejalan dengan Presiden Joko Widodo yang pemikiran ekonominya lebih cenderung dengan ekonomis-sosialis?  Ataukah Rizal Ramli akan mengikuti mindset ekonomi Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai seorang kapitalis tulen, atau kemungkinan tercampak dari lingkaran rezim.

Terkait persoalan pengejawantahan sebuah sistem ekonomi dalam sebuah Negara, bermasalahkah bagi rakyat, apabila di dalam Negara tersebut sistem ekonomi kapitalis atau sistem ekonomi sosialis yang daplikasi? Secara sosiologi, dalam konteks masyarakat Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, pengejawantahan ekonomi kapitalis atau ekonomi sosialis merupakan masalah yang sangat fundamental dan wajib untuk ditentang.

Kedua sistem ekonomi tersebut merupakan wujud nyata dari sistem ekonomi ribawi. Dalam konteks kesejahteraan rakyat atau keadilan sosial sebagai tujuan ekonomi dari pengejawantahan ekonomi kapitalis atau ekonomi sosialis, kenyataannya kedua sistem ekonomi ini tidak pernah sampai pada tujuannya, dan rakyat tetap dalam keadaan tidak mampu memenuhi kebutuhan minimalnya.

Realitasnya, semua akan kembali pada pengertian “ilmu ekonomi” yang dibangun oleh filsafat yang kebenarannya bersifat nisbi, bukan sebagai ilmu yang didasari oleh kebenaran yang bersifat absolute. Sebagaimana telah dimaklum, bahwa teori ekonomi kapitalis ataupun sosialis, orientasinya semata-mata materialism. Dalam hal ini, kedua system ekonomi tersebut dalam membentuk kondisi sosial masyarakat, mungkin telah “sukses”.

Realitasnya masyarakat Indonesia bahkan sampai di tingkatan masyarakat yang berada di pedalaman (Desa) telah tumbuh sebagai masyarakat materialist. Bahkan realitas yang paling mengerikan di tengah kaum muslimin Indonesia kini, eksistensi Tuhan telah ditimbang secara materialism. Mungkin untuk membangun atau setidaknya sebagai upaya dari kondisi Negara yang lemah, Prabowo Subiyanto, petinggi Partai Gerindra, yang notabene seorang nasionalis tulen, kepincut juga oleh pemikiran “ekonomi kerakyatan”, dan dicanangkan untuk diberlakukan jika dirinya menjadi presiden.

Republik Indonesia sebagai sebuah Negara yang Lemah dan sedang menuju Negara Gagal, dan sangat memungkinkan juga untuk menjadi Negara Runtuh. Titik kelemahannya bukan hanya dalam persoalan ekonomi, yang tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Akan tetapi dalam persoalan penegakan hukum, juga cukup jelas memberikan penjelasan bahwa Republik Indonesia yang masih mengadopsi system hukum kolonial dalam keadaan gagal. Rasa adil bagi semua warga Negara tidak dapat dinikmati.

Realitas kegagalan dalam bidang hukum, sebagaimana para pemerhati, pengamat, dan peneliti HAM menyatakan, bahwa hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum “golok”, tajam kebawah tumpul ke atas. Bahkan yang lebih ironis, banyak dari warga Negara yang tidak bersalah tetapi divonis bersalah.

Selain dalam persoalan ekonomi dan hukum, kegagalan Republik Indonesia juga terdapat dalam persoalan-persoalan lain, atau lengkapnya secara menyeluruh apa yang terangkum dalam makna ipoleksosbudhankamnas, realitasnya hanyalah kegagalan yeng mengidentifikasi Republik Indonesia sebagai sebuah Negara Lemah.

Para peneliti perkembangan peradaban dunia telah memprediksikan, bahwa peradaban Eropa yang terbangun oleh spirit hawa nafsu “kapitalisme dan sosialisme” Eropa (Barat dan Timur) di abad ke-21 akan digantikan oleh peradaban yang dibangun oleh spirit paganism, yang secara ekonomi akan dipelopori oleh China dan secara politik, mungkin oleh India atau Negara-negara lain yang berideologi Paganism. Indikasi peralihan peradaban ini, setidaknyanya telah nampak bagaimana Republik Rakyat China mampu membangun sebuah koloni di Asia tenggara “Singapore” dan di beberapa Negara Asia Tenggara lainnya tengah berlangsung, termasuk di Indonesia yang sedang berada dalam kekuasaan Joko Widodo yang berhaluan kiri.   Realitas Indonesia di bawah kepemimpinan yang berhaluan kiri, adalah bukti nyata bahwa Indonesia benar-benar dalam keadaan lemah, sehingga mudah dikendalikan asing dan aseng.

bersambung ke   https://ahkamsulthaniyah.com/2016/07/25/successor-state-dan-masa-depan-indonesia/     Successor state dan Masa Depan Indonesia

Referensi  :

[1] Dr. Uka Tjandrasasmita, Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Asia Tenggara: Kedatangan dan Penyebaran Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002) hlm. 9

[2] Lihat: William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005)

[3] http://www.Iki.blogspot.co.id

[4] Q.S. 14: 26

[5] Q.S. 14: 24-25

[6] Lihat: Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, (Jakarta: Bintang-Bulan, 1994).

[7] Lihat: Muhammad Quthb, Jahiliyah Abad Dua Puluh, terj. Muhammad Tohir dan Abu Laila, (Bandung: Mizan, 1985).

[8] Muhammad Quthb, Jahiliyah…, Ibid., hlm. 56

[9] Q.S. 5: 49

[10] Muhammad Quthb, Jahiliyah …,ibid., hlm.31

[11] KH. Meonawar Chalil, Kelengkapan Tarikh…, Loc.Cit.

[12] Q.S. 53: 1-4

[13] Muhammad Quthb, Jahiliyah Abad…, Op.Cit. hlm.76

[14] Sardiman AM, dkk., Sejarah…, Op.Cit

[15] D.N. Aidit, Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia, (Jakarta: Yayasan Pembaruan, 1964), hlm. 29

[16] Sardiman AM, dkk., Sejarah…, Op.Cit., hlm. 152

[17] Sardiman AM, dkk., Sejarah…, Ibid.

[18] Sardiman AM, dkk., Sejarah…, Ibid.

[19] http://www.katolisitas.org

[20] http://www.kbbi.web.id

[21] ww.wikipedia.org

[22] http://www.Iki.blogspot.co.id

[23] Ag. Sutriyanto Hadi, “Mencegah Indonesia Menjadi Negara Gagal”, Majalah Ilmiah Pawiyatan, Vol. XX, 1 Maret 2013.

[24] Kompas, 9 Juni 2005

 

6 respons untuk ‘Peradaban Indonesia Dalam Naungan Berhala Pancasila dan Majapahit Raya

  1. Akhi, koq kosong manifesto ke tiganya, cuman judulnya aza yaitu Peradaban Indonesia Dalam Naungan Berhala Pancasila dan Majapahit Raya

    Suka

  2. Assalamualaikum .
    Sahabat Karib Kawan , Teman dan Saudara2 semua . Semoga mendapat Rahmat ALLAH SWT .

    Setelah membaca tulisan di atas , saya menarik kesimpulan sbb :
    1) Kondisi ummat Islam dari zaman ke zaman
    , dari masa ke masa dan dari periode ke
    periode kondisi ummat Islam yang
    dipengaruhi oleh paham dan tangan negara
    dan penguasa .
    2) Adanya kekecewaan yang dalam terhadap
    perjalanan Islam di bawah pengaruh
    paham penghancuran Islam .

    Pikiran saya :
    1) Hamba ALLAH ini terbagi 3 yaitu
    Mukminun , Munafikun dan Kafirun .
    Sorga yg dijanjikan ALLAH itu hanya utk
    orang Mukminun . Munafikun dan Kafirun
    tempat kembalinya di NERAKA
    JAHANNAM SELAMA LAMANYA .

    2) Tugas kita sebagai ummat Islam di dunia
    adalah :
    a) Taat pada ALLAH dan Muhammad
    Rosulullah .
    b) Inovatif , kreatif , semangat dan serius
    dalam bidang pembangunan keumma
    tan yaitu bidang ekonomi , politik ,
    sosial budaya dengan niat untuk dan
    atas serta guna kepentingan Islam dan
    bangsa .
    c) Saya punya Izin Tinggal di China . Negara
    ini negara gila . Yg keluar dari Masjid itu
    kualitas nya sangat rendah . Jangan kan
    punya pabrik baja , pabrik biskuit nya
    gak ada . Semua kawasan industri , pengi
    sinya adalah orang Chinese . Maka nya
    kata orang Chinese …. itu Masjid bising la.
    Nggak ada yg bisa kita banggakan lagi .

    Ummat Islam ini hanya sedikit sekali yang
    Paham ” Islam bagaimana dan bagaimana
    beragama Islam ” .

    Wallahu’alam .

    Suka

  3. Kalau ini Manipol-USDEK (Manifesto Politik – UUD 1945, Sosialismé Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Bangsa Indonesia

    Manipol-USDEK adalah Penjelasan Pancasila dan Proklamasi 17 Agustus 1945 yg pernah dijadikan GBHN pada masa tahun 1960-an sebelum Tragedi Gestapu/Gerakan 30 September 1965

    http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/speech/?box=detail&id=40&from_box=list_245&hlm=1&search_tag=&search_keyword=&activation_status=&presiden_id=&presiden=

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s