Successor State dan Masa Depan Indonesia

TULISAN INI MERUPAKAN TULISAN KE IV  DARI MANIFESTO POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA NO 11 TAHUN 2016 yang disampaikan dalam Tazkirah Proklamasi NII yang 69 tanggal 12 Syawal 1437 H

Oleh  : MUJADID ABU QITAL  —  KSU APNII

 

Dalam manifesto politik Negara Islam Indonesia yang disampaikan oleh Idharul Huda, Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, dalam bab kedelapan, menyatakan; bahwa di dalam satu daerah bernama Nusantara Indonesia terdapat dua Negara dan dua kekuasaan yaitu Negara Islam Indonesia dan Republik Indonesia Serikat. Keadaan yang luar biasa ini dilatarbelakangi oleh realitas politik yang berkembang di dalam waktu yang hamper bersamaan.

Setelah perjanjian Renville tahun 1948 ditanda-tangani oleh Belanda bersama Republik Indonesia, wilayah kekuasan Republik Indonesia hanya tinggal Jogyakarta dengan 7 Kresidenannya. Oleh karena itu dinamakan RI-Jogya. Kemudian pasca penandatanganan statement Roem-Royen pada pertengahan tahun 1949 oleh Belanda bersama RI-Jogya, maka tamatlah riawayat Negara yang bernama Republik Indonesia. Kemudian setelah itu, de facto dan de jure daerah Nusantara Indonesia kembali berada dalam kekuasaan imperialis Belanda.

Dan kemudian di dalam suatu daerah yang kosong dari kekuasaan imperialis Belanda, di Jawa Barat; Negara Islam Indonesia diproklamirkan pada 7 Agustus 1949. Kemudian, situasi politik yang terjadi pada masa itu kita gambarkan sebagaimana yang telah tertuang dalam manifesto politik yang lalu; Dengan cara nakal, serong dan curang, terutama untuk mengelabui mata rakyat Indonesia dan juga mata internasional, yang hingga kini belum pernah melepaskan pengawasannya atas Indonesia _langsung atau tidak langsung_ maka bangkai yang telah mati pada pertengahan tahun 1949 itu, sengaja tidak segera dikubur. Upacara penguburan resmi yang dimaksudkan, kemudian dilakukan satu tahun lebih setelah matinya, yakni pada tanggal 17 Agustus 1950. Kesempatan ini dipergunakan untuk “memaksa” RIS (Republik Indonesia Serikat), natijah Konferensi Meja Bundar mewarisi “nama” bangkai yang mati itu, sehingga menjadilah “Republik Indonesia” kedua. … hari kelahiran Republik Indonesia Serikat, jatuh bersamaan dengan turunnya “daulat hadiah” pada tanggal 27 Desember 1949.

Atas realitas sejarah yang ajaib tersebut, bagi orang-orang yang memahami informasi dari nash, sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh, untuk menjawab pertanyaan mengapa. Keadaan yang ajaib tersebut merupakan sunatullah, dan sebagai pelajaran bagi Ummat Islam, bahwa keadaan yang terjadi dalam konteks Indonesia tersebut, merupakan bukti (ayat kauniyah) dari nash yang menegaskan:

“dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” ( QS al Taubah : 107 – 108 )

Dari data sejarah dan kemudian dikorelasikan dengan informasi dari nash, maka kenyataan dua Negara dalam satu daerah yang bernama Nusantara Indonesia adalah realitas adanya Negara yang haq dan Negara yang bathil sebagaimana Allah SWT telah menegaskan dalam nash tersebut di atas. Untuk itu, bagi ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia dapat memahami, kemudian menyikapinya; bahwa beribadah di dalam Negara Republik Indonesia itu dilarang oleh Allah SWT dan perintah-Nya adalah berada di dalam Negara Islam Indonesia.

Makna larangan beribadah di dalam Negara Republik Indonesia tersebut merupakan perintah untuk meninggalkannya, dan hal itu tidak dapat ditawar-tawar. Jika masih ada yang tawar-menawar, maka jawablah apa yang menjadi pertanya Allah SWT sebagaimana dalam nash lebih lanjut:

Maka Apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.”( QS al Taubah : 109 )

Sebagai penegasan untuk mengokohkan sikap bagi orang-orang yang mengimani adanya Negara Islam Indonesia, sehingga dapat berhijrah dengan rela. Sesuai dengan informasi dari nash tersebut di atas, bahwa sesungguhnya eksistensi Republik Indonesia di masa kini bagaikan bangunan yang berada di tepi jurang yang hampir runtuh. Dalam istilah ilmu politik, Republik Indonesia itu sudah tergolong kepada status Negara yang disebut sebagai failed state (Negara gagal) yang sedang menuju collapsed state (negara runtuh). Kegagalan dan keruntuhan itu disebabkan oleh karena Republik Indonesia telah bersatus sebagai weak state. Realitasnya sebagaimana informasi dari nash, menegaskan:

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” ( QS Al Ankabut : 41 )

Fakta yang tidak dapat diingkari bahwa Republik Indonesia yang selama ini berjalan dari sejak penguasa yang pertama hingga penguasa yang sekarang ada, dalam membangun negaranya hanyalah mengandalkan utang luar negeri. Dan utang luar negeri tersebut, bagaikan jaring laba-laba, nampak bagus tapi sangat rapuh. Jika satu jaring terputus _misalnya dari world bank atau IMF_, maka Negara Republik Indonesia akan mengalami goncangan yang sangat serius.

Dengan demikian, walaupun mereka menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi itu membaik, sesungguhnya pernyataan itu merupakan pengingkaran terhadap fakta yang tidak dapat disembunyikan. Yang pasti Republik Indonesia sebagai Negara Paganism (penyembah berhala) atau dalam bahasa nash tersebut di atas sebagai Negara yang berlindung kepada thagut wolrd bank, IMF, dan sebagainya adalah Negara yang sangat lemah. Tinjauan kelemahan ini, baru dari satu sisi yaitu secara ekonomi.

Walaupun demikian, cukuplah kiranya untuk memberikan gambaran yang jelas berkenaan dengan hampir runtuhnya atau keadaan lemahnya Republik Indonesia. Mengingat barometer kemajuan Negara Republik Indonesia itu sama dengan Negara-negara kapitalis, yaitu materialism semata. Artinya, jika secara ekonomi lemah dan gagal maka dapat dipastikan Negara itu runtuh dan akan kehilangan legitimasi dari rakyat.

Sejauh prediksi atau perhitungan para ahli politik yang mengamati tentang keberadan yang real Negara Republik Indonesia di masa akhir, khususnya pasca reformasi hingga kini, insya Allah tidak akan lama lagi akan menjadi Negara yang tergolong collapsed state. Dan apabila ditinjau dari informasi nash sebagaimana tersebut di atas, bahwa Republik Indonesia itu Nampak seperti bangunan yang berada di tepi jurang. Artinya, hanya tinggal menunggu bencana alam berupa “angin taupan” yang menerjang atau gempa bumi. Atau dengan bahasa politik, tinggal menunggu saat terjadinya revolusi Islam yang bergolak dari gerakan rakyat untuk kebangkitan kembali peradaban Islam. oleh karena itu, sebuahsuccessor state (Negara pengganti) penting untuk dipersiapkan.

Dalam hal ini, bagi ummat Islam Bangsa Indonesia tidak perlu membuat Negara baru, cukuplah dengan Negara Islam Indonesia, kekurangan dan kelemahannya hanya tinggal disempurnakan. Mengapa Negara Islam Indonesia?, sebagaimana informasi nash dan realitasnya, bahwa Negara Islam Indonesia tergolong sebagai sebuah Negara yang dibangun atas dasar taqwa dari sejak awalnya. Dan kemudian, secara umum penting untuk dipahami oleh setiap ummat Islam dan kaum muslimin Indonesia pada umumnya, bahwa bumi Indonesia itu telah diwariskan kepada hamba-hamba yang shaleh, atau dalam istilah lain yang berkualitas baik sesuai standar Allah SWT. Nash-Nya menegaskan:

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” ( QS al Anbiya’ : 105 )

Dengan penegasan nash ini, semoga ummat Islam Bangsa Indonesia dapat membangun diri, sehingga berkualitas shaalihuun, sehingga bumi Indonesia dalam kekuasaan Negara Islam Indonesia dapat diwarisi dan dibangun menjadi strong state (Negara maju dan kuat), sehingga dapat memenuhi syarat untuk tampil sebagai nuqthatul intilaq khilafah fil ardh, Insya Allah.

A. Gambaran Umum Negara Masa Depan

Gambaran umum tentang peradaban Indonesia dalam naungan Islam sebagai masa depan Indonesia merupakan realitas terbalik dari peradaban yang terbangun oleh ideology yang bersumber dari hawa nafsu, yaitu nasionalisme, demokrasi, dan pancasilaisme yang berakar dari kapitalisme Adam Smith dan atau sosialisme Karl Max yang merupakan fondasi peradaban Eropa (Barat dan Timur) atau peradaban suatu bangsa yang dieropakan. Sebagaimana telah dimaklum,berdasarkan teori Negara sebagaimana popular dalam ilmu politik, bahwa Negara-negara yang dibangun dengan spirit Eropa, fondasinya berangkat dari materialism dan demikian pula tujuan yang ingin dicapainya, yaitu semata-mata untuk materi. Oleh karena itu, sejarah Negara berasal dari sebuah city (kota) dalam peradaban Eropa, dimana dalam Kota tersebut telah tumbuh suatu perekonomian dan kemudian muncul kekuasaan atas kota tersebut.

Dengan demikian, Negara dalam teorinya berangkat dari “pasar untuk pasar”, dalam bahasa Islam disebut dari “dunia untuk dunia”. Oleh karena itu, Negara-negara yang demikian disebut sebagai darul kuffar, karena sedikitpun tidak dibangun oleh spirit tauhidullah, walaupun didalamnya ada kaum muslimin, seperti di Republik Indonesia. Oleh karena demikian, penting untuk ditegaskan kepada kaum muslimin Indonesia, Bahwa Republic Indonesia yang sering dijuluki sebagai Negara muslim, sesungguhnya secara esensi maupun substansi itu bukan barmakna darul Islam (Negara islam). Maka pengertian istilah “Negara muslim” adalah hanya berkaitan dengan persoalan penduduknya banyak yang muslim.

Kemudian, gambaran umum tentang darul Islam, sebagai gambaran terbalik dari darul kuffar, cukup kita ketengahkan eksistensi Madinah sebagaimana terukir dalam sejarah yang telah dibangun oleh Muhammad Rasulullah SAW bersama dengan para sahabatnya dari kaum muhajirin dan anshar. Istilah “madinah” dalam bahasa Arab disebut “Kota”. Dalam kajian secara bahasa (ilmu sharaf), istilah “madinah” merupakan isim makan dari kata “ad-dien”, maka “madinah” artinya tempat tegaknya “ad-dien”. Selanjutnya karena sifat dan bentuknya, serta realitasnya di Madinah berjalan suatu system ketata-negaraan yang berangkat dari mabda, minhaj dan untuk ghayatunal Islam, maka Madinah adalah darul Islam.

Dengan demikian, cukup jelas bahwa Negara Islam itu adalah sebuah Negara yang dibangun berdasarkan prinsip, system, dan bertujuan untuk tegaknya Islam. maka hanya di dalam Negara Islam, arkanuddien (iman, islam, dan ihsan) dapat dimanifestasikan. Dan secara proses, dalam arti sebagai titik tolak dan sekaligus sebagai ciri khusus yang membedakan dengan teori Negara secara konvensional (untuk membedakan secara Islam), dalam perspektif sejarah, bahwa Madinah dibangun ditandai atau diawali dengan pembangunan “masjid” bukan dimulai dengan membangun “pasar” atau lainnya.

Dengan demikian ada perbedaan yang mencolok dan prinsipil, terkait bagaimana titik tolak terbangunnya sebuah Negara Islam dengan Negara kafir. Keduanya, kontras perbedaannya, bagaikan putih dan hitam. Inilah realitas prinsip antara yang hak dan yang bathil. Dalam bahasa yang lain, Negara Islam itu terbangun oleh spirit wahyu (ukhrawi), sedangkan Negara kafir terbangun oleh spirit hawa nafsu (duniawi). Secara nash, gambaran umum Negara masa depan terlukis dalam tiga ayat di bawah ini:

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” ( QS al Nur : 24 : 35 – 37 )

Dari nash tersebut di atas ada tiga keywords sebagai faktor untuk memberikan gambaran tentang anasir pembentuk sebuah Negara Islam, yaitu cahaya, masjid, dan manusia (rijal). Dalam penafsiran secara politik, yang dimaksud ketiga keywords itu adalah rububiyah, mulkiyah, dan uluhiyah, dan inilah yang dimaksudkan anasiruddien.

Sebagai penegasan, bahwa penafsiran ini juga merupakan penafsiran kalimat thayyibah sebagaimana termaktub dalam nash, yang memberikan penjelasan bahwa kalimat thayyibah tersebut terdiri dari tiga anasir, yaitu ushul (akar), furu’ (batang), dan ukul (buah).  Inilah gambaran Negara masa depan yang sering diterminologikan dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Karena menyangkut persoalan prinsip, peradaban Islam itu tidak akan pernah terwujud dalam bingkai Darul Kuffar pada umumnya atau dalam Negara Republik Indonesia khususnya, semoga kaum muslimin memahami, maklumi, dan menyikapinya dengan iman yang baik.

Negara Islam Indonesia yang dirancang sebagai successor state dari kekuasaan imperialis Belanda setelah revolusi Islam. Atau dalam pemikiran HOS Cokroaminoto sebagai negara masa depan, oleh SM. Kartosoewirjo tersimpul dalam pengertian “Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia”. Selanjutnya tentang apa dan bagaimana “Negara Kurnia Allah”,Imam Asy-Syahid SM. Kartosoewirjo menegaskan dalam manifestonya; bahwa Negara Kurnia Allah itu terbentuk oleh dua syarat, yaitu: pertama, adanya Negara yang berdaulat penuh, seratus persen kedalam dan keluar, de facto dan de jure; dan kedua, adanya peraturan Allah, yaitu syari’at Islam yang berlaku. Lebih lanjut beliau menegasakan, bahwa kedua anasir (syarat) tersebut harus bersatu atau dipersatukan, hingga tiap anasir di dalam negara itu baik yang bersifat fa’il (subjek) maupun maf’ul (objek) dan fi’il (subjek); urusan ketata-negaraan, kemiliteran, hingga sampai pada tiap-tiap jisim dan jirim melakukan baktinya kepada Allah Azza wa Jalla.

Kemudian, cara untuk sampai kepada wujudnya Negara Kurnia Allah adalah dengan perang (jihad) atau revolusi. Oleh karena agama yang hendak dipersatukan dengan masyarakat Indonesia adalah Islam, maka revolusi itu dinamakan dengan Revolusi Islam. Maka untuk mewujudkan Negara Kurnia Allah sebagai negara masa depan di Indonesia, perlu dan wajib bergeloranya revolusi Islam, inilah jalan satu-satunya menuju tegaknya Negara Islam Indonesia yang berstatus sebagai Negara Kurnia Allah. Dalam bahasa Islam secara umum, Negara Kurnia Allah itu pengertiannya mengandung makna baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri barakah dan penuh ampunan). Yaitu sebuah negara yang memiliki kemampuan yang mapan dan menjamin secara sempurna dalam urusan masyarakat, baik dalam persoalan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan sebagainya. Juga negara menjamin selamatnya masyarakat dari ancaman neraka di yaumum akhir, karena Negara Kurnia Allah adalah sebuah negara yang diberikan kewenangan untuk menegakkan syariat islam, sehingga tiap masyarakat yang dihukumi dengan hukum Islam ia terselamatkan dari ancaman neraka di akhirat. Hal demikian, telah menjadi harapan umum ummat Islam dalam setiap do’a-nya, rabbanaa aatina fiddunya hasanah wa fil akhiraati hasanah waqinaa adzaabannar. Dari kalimat do’a tersebut, mengandung harapan selamat di dunia dan sejahtera di akhirat.

Sebagai gambaran umum bagaimana sebuah masyarakat dalam naungan Negara Islam bisa selamat di dunia dan sejahtera di akhirat, kita ambil contoh dalam persoalan ekonomi. Contoh ini sebagai penekanan, khususnya bagi masyarakat yang selama ini telah termakan oleh materialisme. Oleh karena demikian, mereka bersikap apriori terhadap Negara Islam, karena dalam benak mereka tertanam pemahaman yang sempit bahwa Negara Islam Indonesia itu hanya berurusan dengan urusan akhirat saja dan mengabaikan urusan dunia.

Ketika Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia de facto dan de jure, maka salah satu pilar yang harus ditegakkan adalah pengejawantahan sistem ekonomi Islam, yaitu sebuah sistem ekonomi yang berprinsip kepada tauhid. Dengan pengejawantahan ini, maka system ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis total ditinggalkan dan tidak boleh sedikitpun bercampur dengan sistem ekonomi tauhid. Sebagaimana telah dimaklum, bahwa kapitalisme adalah sebuah system ekonomi, dimana prinsip kepemilikannya bersifat private dan negara dikendalikan oleh corporate (pemilik modal). Dan sosialisme adalah sebuah system ekonomi, dimana prinsip kepemilikan bersifat collective yang dikendalikan negara. Kedua system ekonomi ini telah nyata gagal dalam membangun masyarakat sejahtera di dunia dan tidak menjamin keselamatan dari ancaman neraka. Dalam konteks Islam, kapitalisme dan sosialime sesungguhnya merupakan system ekonomi yang bersifat ribawi. Oleh karena itu, bagi setiap mukmin mempunyai kewajiban meninggalkan system ekonomi tersebut. Dan tentunya di dalam Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia tidak akan pernah menjadi referensi apalagi diberlakukan.

Satu-satunya system ekonomi yang dapat menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di dunia dan di akhirat hanya system ekonomi Islam yang prinsip ekonominya mengacu kepada prinsip tauhid. Dimana prinsip kepemilikan dalam system ekonomi Islam adalah: pertama, kepemilikan itu milik Allah SWT; kedua, segala harta adalah harta Allah SWT, dan ketiga, penguasaan harta yang ada pada manusia baik secara private maupun collective bersifat amanah (simbolik).

Oleh karena kepemilikan itu satu-satunya milik Allah SWT, maka satupun makhluk tidak berhak mengklaim atas sesuatu yang dikuasainya sebagai miliknya. Sesuatu yang dikuasai oleh manusia harus digunakan sesuatu aturan pemiliknya, yaitu Allah SWT. Jika sesorang yang menguasai sesuatu, kemudian tidak digunakan untuk kemaslahatan masyarakat banyak, maka disitulah fungsi Negara Islam Indonesia hadir untuk melakukan regulasi, sehingga sesuatu yang dikuasai oleh seseorang dapat dikendalikan sesuai dengan kehendak-Nya.

Demikian pula berkenaan dengan segala harta yang dikuasai oleh seseoraang secara private atau collective tidak dapat diklaim sebagai hartanya. Oleh karena prinsip ini, maka seluruh lapisan masyarakat berhak atas harta yang dikuasai oleh seseorang secara private maupun collective tersebut. Dimana seseorang yang menguasai harta secara private maupun collective mempunyai kewajiban untuk mendistribusikan hartanya, baik untuk keperluan produktif maupun konsumtif. Dan bila seseorang secara private maupun collective yang menguasai harta, tetapi tidak mendistribusikannya atau menimbunnya maka Negara Islam Indonesia akan hadir untuk menjalankan fungsinya, yaitu untuk memberikan pembatasan dalam penguasaan harta oleh segelintir orang. Oleh karena harta itu harta Allah, maka penggunaannya harus digunakan sesuai aturan-Nya, yaitu untuk kemaslahatan masyarakat secara umum. Dan berkenaan dengan penguasaan harta yang dikuasai oleh seseorang adalah bersifat amanah, maka secara hukum seseorang tersebut akan terkena hukum apabila ia berkhianat atas harta yang dikuasainya. Oleh karena demikian, menjadi sebuah kewajiban syar’i bagi seseorang yang mengusai harta tersebut untuk mendistribusikan kepada masyarakat lain yang membutuhkannya. Dengan demikian, kemakmuran yang merata di tengah masyarakat dalam Naungan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia akan terwujud. Nash menegasakan:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS al Baqarah : 29 )

Secara general, dalam konteks nash ini menegaskan, bahwa segala yang diciptakan Allah di alam semesta penggunaanya bersifat ibahah (boleh), kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Oleh karena manusia diciptakan dari materi, maka secara fitrah manusia itu akan condong kepada materi, yaitu memiliki keinginan yang besar untuk menguasai dunia. Dan Allah SWT mentolelir akan hal itu, akan tetapi, Allah SWT memberikan batasan seberapa besar yang boleh dikuasai dan dinikmatinya. Pembatasan ini, tentunya untuk mencegah mudharat, yaitu perseteruan manusia yang satu dengan manusia yang lain dalam mengusai dunia. Sesungguhnya, segala yang diciptakan Allah SWT di semesta alam (udara, darat-laut, dan apa yang terpendam di dalam perut bumi), semuanya adalah semata-mata sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah SWT.

Pemerintah Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia berkeyakinan dengan ‘ilmal yaqien, ‘ainal yaqien, dan haqqul yaqien, bahwa sistem ekonomi Islam yang berprinsip kepada tauhid, jika telah diaplikasi, seluruh rakyat Indonesia akan menuai kesejahteraan. Bahkan jika pemerintah Negara Islam Indonesia dan seluruh rakyatnya lebih banyak bersyukur (berterima kasih) atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada Allah SWT, maka Allah SWT memberikan garansi untuk memberikan tambahan nikmat yang berlimpah, Allahu akbar !!!.

Oleh karena demikian, wahai rakyat Indonesia seluruhnya, wabil khusus Umat Islam Bangsa Indonesia dan kaum muslimin Indonesia seluruhnya, marilah syukuri nikmat yang telah dianugerahkan kepada bangsa Indonesia, yaitu Negara Islam Indonesia yang telah diproklamirkan pada 7 Agustus 1949. Di masa kini, eksistensi dan perjuangannya memerlukan dukungan yang sebesar-besarnya, dengan harta, jiwa, raga, dan nyawa serta apapun yang ada pada kita. Jika ingin selamat di dunia dan sejahtera di akhirat, Negara Islam Indonesia adalah washilah untuk hal itu.

B. Masa Depan Indonesia

Mengambil pelajaran dari sejarah revolusi di Eropa atau di beberapa Negara yang serupa dengan itu, ketika teokrasi _sistem Negara dan pemerintahan berdasarkan kristenisme__ berkuasa, kemudian masyarakatnya menyimpulkan, bahwa Negara tersebut dengan menggunakan dalil Tuhan hanya untuk menjarah rakyat, sehingga rakyat melarat dan sekarat sebagai akibat dari feodalimse yang berlangsung. Kemudian, pasca evolusi Inggris dan Francis, system politik baru yaitu demokrasi dengan kapitalisme sebagai system ekonominya, sebagai pengganti system teokrasi Kristen dan feodalisme, kenyataanya adalah mereka hanya menggunakan dalil rakyat untuk menjarah hak rakyat. Termasuk dalam hal ini adalah berkenaan dengan pengejawantahan sekularisme yang tidak memberi ruang persoalan agama dalam politik (Negara).

Demikian halnya dengan realitas system politik dan ekonomi sosialisme-komunis sebagai pengganti system politik dan ekonomi yang dilawannya, hanya sampai pada terbaliknya posisi kelas sosial dalam masyarakat. Bahkan, ketika system politik dan ekonomi sosialis-komunis berlangsung, hak masyarakat untuk bertuhan (agama) dalam arti keseluruhan makna beribadah, sama sekali tidak mendapat peluang untuk itu. Karena sosialis-komunis, memang sebuah ideology atheism. Dari gambaran tersebut, bahwa pergantian system peradaban lama dengan system peradaban baru pasca revolusi, tidak tercipta adanya keadilan sejati.

Kemudian, dalam konteks Indonesia hal yang semacam itu, tidak berbeda. Kenyataanya, Republik Indonesia dengan system yang digunakannya, sebagai pengganti system imperialis Belanda, yaitu nasionalisme, demokratisme, pancasilaisme dan sebagainya; hasilnya yang nampak setelah 70 tahun (2015) membangun system peradaban baru, Republik Indonesia hanya sampai pada status weak state yang sedang menuju failed state, dan rakyat tetap menjadi korban.

Revolusi Islam dalam arti untuk merubah keadaan, secara terminology tidak berbeda dengan terminology revolusi lainnya, yaitu bersifat “alhadama walbana _menghancurkan dan membangun”. Perbedaaanya adalah dimotivasi oleh prinsip, system, dan tujuan dari proses memulainya hingga kepada kelanjutan dari revolusi itu, yaitu berkenaan dengan restrukturisasi dan rekonstruksinya. Oleh karena itu, penting untuk digambarkan, sekedar untuk memberikan keyakinan kepada orang-orang yang belum menancap keyakinannya. Bahwa rekonstuksi dan restrukturisasi pasca revolusi Islam itu apakah akan senasib dengan revolusi kaum nasionalis atau revolusi kaum sosialis. Dalam konteks rekonstruksi peradaban baru pasca revolusi Islam, secara umum kita mengacu kepada al-mabda, al-minhaj, dan al-ghayat yang bersumber dari al-qur’an dan al-hadits sebagai pedoman secara menyeluruh tentang apa dan bagaimana peradaban Islam dibangun. Dengan prinsip-prinsip yang termaktub dalam nash dan hadits, lukisan sederhananya dalam konteks pembangunan sumber daya insani dan sumber daya alam sebagaimana keterangan nash;

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” ( QS al A’raaf : 97 )

Dengan gambaran tersebut, insya Allah apa yang menjadi harapan dari setiap doa umat Islam (warga Negara) di dalam Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia akan terkabulkan, doanya: “… Ya Rabb Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Jaminan terkabulkannya doa rakyat, sehubungan kebutuhannya dalam urusan dunia dan urusan akhirat, apa yang menjadi kewajiban bagi Allah kepada manusia atau sebaliknya dan apa yang menjadi hak bagi Allah kepada manusia dan sebaliknya, dengan mengacu kepada mutiara al-fatihah, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin_ nasib masyarakat Indonesia dalam nauangan Negara tauhid, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia akan terjamin, insya Allah. Atau keadaan yang terjadi di masa terbangunnya Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia sebagaimana dalam terminology yang sudah dikenal akrab, yaitu “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”. Dengan qadla dan qadar-nya Allah SWT, gambaran ideal Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia itu tidak akan pernah terwujud, kecuali seluruh rakyat Indonesia, khususnya Ummat Islam dan kaum muslimin bertekad dan bertindak melakukan revolusi Islam, sehingga masa depan Indonesia berada dalam bingkai peradaban Islam.

bersambung ke  https://ahkamsulthaniyah.com/2016/07/25/menyongsong-datangnya-ayyamillah-hari-kemenangan-yang-dijanjikan-allah/    MENYONGSONG AYYAMILLAH

4 respons untuk ‘Successor State dan Masa Depan Indonesia

  1. Laillah haa illallah, tiada tuhan selain ALLAH, menyatakan bahwa semua kehidupan manusia alam semesta dasarnya dari Allah, jadi kehidupan setiap umat manusia harus kembali ke sistim Allah secara kafah dan tidak boleh ada campur tangan pola pikir (nafsu) manusia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s