Kedudukan Syahadatain dalam Syariat Islam

 

Seorang Ulama Mujahid Sa’id Hawa, menjelaskan tentang Syahadatain dan fenomena kekufuran dalam kitabnya “ Al Islam “ ; Kita sama sama telah mengetahui bahwa Syahadatain merupakan dasar terpenting untuk tegaknya Totalitas Islam. Islam tidak akan tegak kalau rukun rukunnya tidak tegak. Dan rukun yang empat (shalat, puasa, zakat, haji) tidak akan tegak, jika syahadatain tidak tegak secara sempurna. Bahkan tidak ada Islam sebelum adanya syahadatain karena syahadatain melambangkan jiwa/roh/nyawa totalitas islam, laksana nyawa yang merupakan sebab hidupnya seluruh tubuh manusia. Seluruh tubuh manusia tidak akan bisa berfungsi sebagai seorang manusia yang hidup kalau nyawanya telah tidak ada. Begitu juga syahadatain, merupan ruh/nyawa/jiwa seluruh aspek syariat islam.

Sehingga setiap orang yang belum pernah melaksanakan syariat syahadatain, segala amal kebajikan yang dia lakukan tidak ada nilai/harganya disisi Allah SWT. “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” ( 25 : 23 ).  “Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” ( 18 : 105 ).

Muhammad Sa’id al Qathani, dalam bukunya “ Memurnikan Laa ilaha illa Allah” mengatakan : “Syahadatain itu merupakan pembatas antara daerah “kekufuran”  dan “keimanan”. Kedua kalimat itu pulalah menjadi pintu gerbang masuknya seseorang dari daerah kafir ke dalam daerah islam.

Abul A’la Maududi, seorang Ulama Pakistan dalam bukunya “ Dasar Dasar Islam” mengatakan : “Dengan mengikrarkan kalimat syahadatain seseorang mengalami perubahan yang besar pada dirinya, dari seorang “kafir” ia berubah menjadi seorang “muslim”. Sebelum ia mengikrarkan kalimat itu, ia adalah seorang yang kotor, tetapi setelah dia mengikrarkan syahadatain ia telah menjadi suci, dari seorang yang patut mendapat murka Allah, berubah menjadi orang yang dicintai oleh Allah. Sebelumnya ia dicatat sebagai orang yang pantas masuk neraka, tapi kemudian dengan ikrar syahadatain pintu pintu syurga terbuka lebar baginya.

Syahadatain merupakan syariat Islam yang sangat menentukan pelaksanaan syariat Islam selanjutnya. Syarat sahnya melaksanakan syariat shalat, puasa, zakat dan hajji adalah muslim.  Muslim adalah seseorang yang telah menyatakan diri sebagai muslim, yaitu telah melaksanakan syahadatain dengan berdasarkan pemahaman dan ilmu yang benar sehingga timbul suatu keyakinan (keimanan) tentang al haq, jadi tidak sah seseorang melaksanakan syariat islam apabila belum melaksanakan syahadatain.

Rasulullah SAW menempatkan syariat syahadatain sebagai rukun pertama dalam rukun Islam, sebagai mana sabdanya ; “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu syahadah bahwa kamu bersaksi tidak ada Illah (tuhan) selain Allah dan kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, hajji dan shaum pada bulan Ramadhan” ( HR Bukhari dan Muslim )

Rasulullah menempatkan syahadatain sebagai rukun pertama karena memang syariat ini merupakan pintu gerbang masuknya seseorang kedalam islam, menjadi pembatas atara musyrik atau kafir dengan muslim.

Melakukan shalat, infaq, haji maupun puasa bukan ciri seorang muslim, Karena orang orang munafik (kafir) dan orang orang musyrik melakukannya juga, sebagaimana firman Allah ;

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalathya) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” ( 4 : 142 )

Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan belaka. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” ( 8 : 35 )

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,” ( 8 : 36 )

Bahkan orang yang melakukan shalatpun masih dikatagorikan celaka, bahkan pendusta agama, apabila shalatnya itu penuh dengan kelalaian, riya, dan bakhil. Mereka shalat tapi tidak mempunyai dampak social bagi masyarakatnya,

Orang yang melaksanakan syariat syahadatain pun belum tentu dikatakan muslim, karena para munafikinpun dapat melaksanakannya. Mereka melaksanakan syahadatain hanya untuk menipu ummat islam dan pemimpin ummat islam (berpura pura) , maka syahadat seperti itu tidak sah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam al quran :

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. ,,  Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan…. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti…..Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? “  ( 61 : 1 – 4 )

Pelaksanaan syariat syahadatain dengan cara mengikrarkan kalimah “asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah” dihadapan seorang syahid (saksi) yang bertanggung jawab, dapat memperjelas loyalitas seseorang (sebagai wujud bara-ah dan wala’nya ), mukmin maulanya ( pemimpinnya ) adalah Allah, sedangkan kafir maulanya adalah thaghut, sebagaimana firman Allah SWT ;

Allah adalah wali (pemimpin/pelindung) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, wali (pelindung-pelindung/ pemimpin-pemimpin)nya ialah thagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (2 : 257)

Dengan pelaksanaan syahadatain akan terjadi perubahan besar dalam hubungan antara manusia, bagi mereka yang melaksanakannya bersatu teguh dalam satu persaudaraan Islam / ummatan wahidah, sedangkan mereka yang menolaknya terkumpul dalam berbagai bentuk perpecahan, pertentangan, penindasan / ummatan tafaruk.

Bila seorang ayah melaksanakan syahadatain sedangkan anaknya menolak dan menentangnya, maka terputuslah hubungan antara keduanya, sang ayah bukan lagi ayah bagi anaknya itu begitu pula sebaliknya. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al Quran :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim… Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.( 9 : 23 – 24 )

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” ( 58 : 22 ).

Pelaksanaan syahadatain bagi setiap mukmin diawal pelaksanaan syariat islam serta pemeliharaannya pada setiap melaksanakan shalat sehari semalam tidak kurang dari sembilan kali dibaca berulang ulang oleh setiap muslim, seharusnya menjadi doktrin yang maha dahsyat yang akan mengisi dan menggetarkan kalbu. Ini sebenarnya suatu energy raksasa yang akan menghasilkan maha karya. Energi yang menurut Hukum Kekekalan Energi ( dalam ilmu Fisika ) menyebutkan bahwa ; Energi tidak akan hilang tapi berubah menjadi bentuk energy bentuk lain.

Syahadatain apabila dipahami dan dihayati adalah suatu kalimat yang mengandung energy yang sangat dahsyat dan  akan menghasilkan energy dalam bentuk lain, yaitu :

  1. SEBERSIH BERSIH AQIDAH, dengan mengikhlaskan loyalitas sepenuhnya hanya kepada Allah dan RasulNya. “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. ( 3 : 31-32 ), …”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” ( 33 : 36 )
  2. SETINGGI TINGGINYA ILMU, SELUAS LUASNYA WAWASAN, dengan tidak henti hentinya membaca dan belajar. … “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( 58 : 11)
  3. SEPANDAI PANDAINYA SIASAT, dengan membuktikan “ Al – Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih “ , SEORANG MUSLIM HARUS MENJADI PELAKU SEJARAH, BUKAN MENJADI KORBAN atau PENONTON SEJARAH. .. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” ( 24 : 55 )

Pelaksanaan syahadatain selain berfungsi untuk membebaskan manusia dari semua belenggu perbudakan, penindasan, dan penjajahan, juga befungsi sebagai dorongan seseorang untuk beramal yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia seluruhnya.  INSYA  ALLAH.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s