Kepemimpinan dalam Islam akan Wujud dengan Dilaksanakannya Syariat Syahadatain

 

Syahadatain adalah syariat yang berhubungan dengan kepemimpinan dalam Islam, Syariat ini menjadi dasar, pondasi dalam bangunan Islam. Hal ini berarti bahwa bangunan Islam tidak akan berdiri apabila syariat ini tidak ditegakkan terlebih dahulu.

Ibarat sebuah bangunan rumah, apabila pondasi belum dibangun, maka bangunan rumah tidak akan dapat berdiri. Bagunan rumah tergantung pada pondasinya. Setelah pondasi dibangun dengan kokoh, maka rumah dapat dibangun dan manfaatnya dapat dirasakan oleh penghuninya.

Begitu juga dengan bangunan Islam akan berdiri tegak apabila pondasinya telah dibangun terlebih dahulu. Islam baru bisa menjadi Rahmatan lil ‘Alamin apabila bangunan (syariat) Islam telah tegak. Syariat Islam pernah tegak dengan sempurna, yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW dan para Khalifah Rasyidin, serta para khalifah pelanjutnya sehingga Islam Berjaya hampir keseluruh penjuru dunia.

Dalam mewujudkan syariat ini Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya terlebih dahulu membangun pondasi, yaitu membangun aqidah ummat. Aqidah artinya “ikatan” mengikat umat dengan ikatan keyakinan, bahwa tidak ada Ilah (tuhan) selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya yang kemudian dikenal dengan syahadatain. Syahadatain adalah syariat Islam yang berfungsi sebagai ikatan (aqidah) kepemimpinan.

IKATAN KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM DIMULAI DENGAN :

(pertama)— Penolakan Loyalitas dari kepemimpinan masyarakat musyrikin Mekkah, sebagaimana di jelaskan oleh Allah SWT dalam al Quran :

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat (kepemimpinan yang kuat) yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”  ( 2 : 256 )

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”  ( 3 : 28 )

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” ( 4 : 144 )

(kedua)— Penerimaan Kepemimpinan Rasulullah SAW dan para pemimpin yang melanjutkan risalah Rasulullah SAW, sebagai mana ditegaskan oleh Allah SWT dalam al Quran :

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,   Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. ( 3 : 31 -32 )

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”  ( 5 ; 55 )

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw. beliau bersabda: Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku. (Shahih Muslim No.3417)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. beliau bersabda: Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai atau pun tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat. (Shahih Muslim No.3423)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra. ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang tidak menyukai sesuatu pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya siapa yang memisahkan diri dari jemaah walau sejengkal lalu ia mati, maka kematiannya adalah kematian jahiliah. (Shahih Muslim No.3438)

Dengan adanya ikatan kepemimpinan ini, maka akan terjadi pemisahan antara masyarakat muslim yang loyal terhadap kepemimpinan yang dijalankan berdasarkan system Islam, dan masyarakat musyrik yang loyal terhadap kepemimpinan thaghut / setan ( yang dijalankan tidak menurut system islam). Setelah ummat terikat dengan suatu ikatan syahadatain, maka Nabi Muhammad dapat membangun tatanan masyarakat islam dengan pelaksanaan syariat Islam.

Konsekwensinya ummat harus mentaati dan mengikuti rasul dalam semua aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, hukum dan sebagainya.

Orang orang yang beriman kepada Allah SWT, harus diwujudkan dengan cinta kepadaNya. Cinta kepada Allah inipun harus diwujudkan dengan mengikuti dan mentaati “utusanNya”. Barang siapa yang tidak mengikuti dan mentaati “utusanNya” maka dikatagorikan oleh Allah sebagai orang orang kafir. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al Quran :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” ( 4 : 59 )

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang,  Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”  ( 4 : 64-65 )

“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. ( 4 : 80 )

Bagi orang orang yang telah memiliki kepemimpinan, baik pemimpin formal maupun pemimpin non formal, agaknya sangat sulit melepaskan kecintaan dan loyalitas mereka kepada pemimpin tersebut. Walaupun mereka sadar bahwa pemimpin mereka tidak sesuai dengan syariat islam, sehingga apabila ada datang seorang “pembawa risalah” yang mengajak untuk melaksanakan perintah Allah maka mereka akan menolaknya. Apabila syariat Islam dilakukan secara individu, mereka tidak keberatan. Tetapi apabila pelaksanaan syariat islam secara terpimpin, mereka menolaknya. Mereka beranggapan bahwa agama adalah urusan pribadi (individu).

Masalah social-politik dan social budaya menyuruh kepada orang yang beriman  untuk mentaati pemimpin atau ulil amri. Mentaati pemimpin dalam islam adalah wujud nyata dari taat kepada Allah dan rasulNya , sebagaimana dijelaskan Allah dalam al Quran :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” ( 4 : 59 )

Syariat Islam tidak mungkin terlaksana secara sempurna apabila tidak ada yang mengkordinir. Kordinator pelaksanaan syariat islam disebut “ulil amri” atau pemerintah. “Ulil Amri” bahasa lainnya adalah ; pemimpin, imam, amir, wali, naqib.

Untuk mentaati pemimpin tersebut harus ada perjanjian yang mengikat yang disebut dengan “kontrak social” , dalam ajaran islam kontrak social disebut dengan “baiat”. Pelaksanaan syariat syahadatain bermakna juga sebagai baiat atau kontrak social.

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”  ( 48 : 10 )

Baiat adalah pengakuan kepemimpinan dalam Islam, Kepemimpinan dalam Islam sangat erat hubungannya dengan kedudukan Allah SWT sebagai “Maliki al Nas”. Orang yang menolak melaksanakan syariat syahadatain berarti mereka menolak kepemimpinan dalam islam. Menolak kepemimpinan dalam islam berarti menolak “Kemulkiyahan” Allah SWT, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al Quran :

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang……Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. ( 3 : 31-32 )

Ingat, iblis disebut kafir bukan karena menolak Allah sebagai Pencipta (Rabb) atau menolak Allah sebagai yang Disembah (ilah), tapi dia menolak Allah sebagara Raja (Malik). Iblis sebenarnya tidak kebaratan bersujud kepada Allah SWT, karena yang berhak untuk disujuti hanyalah Allah. Iblis menolak sujud kepada Adam, karena Adam adalah makhluk Allah, Adam diciptakan dari tanah sedangkan iblis dari api.

Namun kenapa Iblis dilaknat oleh Allah dan dijanjikan akan menjadi penghuni neraka selamanya ?. Karena Iblis tidak mau sujud kepada Adam sebagai “khalifah fil Ardhi”. Menolak sujud kepada Adam AS pada hakekatnya menolak perintah Allah, Walaupun iblis dikatakan memiliki aqidah “sebersih-bersihnya”, tapi karena iblis menolak perintah Allah bersujud kepada Adam AS, maka dia disebut sebagai pembangkang yang nyata dan disebut kafir, karena menolak kepemimpinan Adam AS sebagai khalifah fil Ardhi.

Fir’aun tidak bersedia mengikuti dan dipimpin oleh Nabi Musa AS, begitu juga Abu Thalib paman Rasulullah SAW, beliau tidak akan membantah apabila harus sujud kepada Allah SWT semata, namun beliau menolak apabila harus mentaati Nabi Muhammad SAW maka beliau disebut kafir, meskipun beliau membela perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Banyak kaum muslim mau melaksanakan syariat Islam, tapi menolak kepemimpinan dalam islam, Mereka tidak menolak melaksanakan syariat islam secara sendiri sendiri, tapi menolak pelaksanaan islam secara berjamaah atau dibawah satu kepemimpinan. Bagaimana akan dikatakan berjamaah (dalam shalat harus ada imam dan makmum) kalau tidak paham posisi diri apakah sebagai makmum atau imam, kalau sebagai makmum lantas siapa imamnya  ??. kalau sebagai imam mana makmumnya.

Khalifah Umar bin Khattab ra. Pernah memberikan arahan berfikir kepada kita tentang pentingnya kebersamaan (berjamaah) dalam Islam, serta pentingnya seorang pemimpin dalam islam, sebagai mana beliau katakana ; “ Tidak ada Islam kecuali berjamaah, tidak ada berjamaah kecuali adanya pemimpin ( Imam ), tidak ada imam kecuali dengan ketaatan, tidak ada ketaatan kecuali dengan adanya baiat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s