Rukun Pelaksanaan Syahadatain

 

Rukun adalah urutan atau rangkaian tindakan yang wajib dilakukan pada pelaksanaan suatu syariat, Rukun shalat adalah urutan tindakan pada pelaksanaan shalat, begitu juga rukun wudhu, rukun haji dan sebagainya. Rukun dapat diartikan juga, sesuatu yang harus ada pada suatu kegiatan, misalnya rukun nikah. Rukun nikah berbeda dengan rukun shalat, syariat shalat dapat dilakukan oleh individu sedangkan syariat nikah dilakukan oleh dua pihak melalui suatu peristiwa transaksi.

Rukun Iman dan rukun Islam berbeda pula, rukun iman adalah rangkaian keimanan seseorang. Seseorang dikatakan mukmin apabila beriman kepada urutan yang ada dalam rukun iman, Tidak dikatakan mukmin apabila beriman kepada Allah tapi kufur kepada MalaikatNya, tidak dikatakan mukmin  apabila beriman kepada Allah namun menolak RasulNya dan seterusnya.

Rukun Islam adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang muslim, setiap rukun dalam rukun Islam dirumuskan lagi rukun rukunnya, misalnya rukun shalat, rukun puasa, rukun zakat, rukun hajji. Pengertian rukun disini adalah urusan teknis pelaksanaannya. Rukun rukun tersebut dirumuskan oleh para ulama dalam kitab kitab fiqih dengan merujuk kepada Al Qur’an dan Al Hadits.

Semua rukun dalam rukun Islam dibahas oleh Ulama Fiqih, kecuali rukun Islam yang pertama yaitu SYAHADATAIN, Tidak satupun kitab fiqih yang membahas dan merumuskannya. Padahal Syahadatain adalah rukun Islam, bahkan yang pertama.

Rukun Syahadatain, lebih cendrung kepada pengertian sesuatu hal yang harus ada pada waktu kegiatan pelaksanaan syahadatain. Sebagaimana pengertian Syahadatain bermakna perjanjian atau transaksi karena melibatkan dua pihak yaitu pihak yang menyaksikan yang lazim disebut Syahid , pihak yang disaksikan, yaitu seseorang yang akan melaksanakan syariat syahadatain disebut Masyhud. Maka dapat dipahami bahwa :

  1. SYAHID, adalah yang menyaksikan dalam pelaksanaan syahadatain, sehingga syahid adalah rukun yang sangat penting, karena syahdatain adalah peristiwa terikatnya seorang hamba Allah dengan Rabnya, peristiwa ini dapat juga disebut “perjanjian luhur” atau “pernyataan agung” karena kalimat yang diucapkan adalah kalimat yang diucapkan atau dinyatakan oleh Allah, malaikat, dan ulul ilmi, sebagai mana firman Allah dalam Al Quran suarah Ali Imran ayat 18 “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Illah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Illah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (3:18) ….

Syahadatain adalah syariat Islam yang dilaksanakan secara perorangan, namun sangat berhubungan dengan kehidupan berjamaah. Pelaksanaan syariat syahadatain dilaksanakan secara perorangan (individu), karena dihadapan Allah manusia harus dapat mempertanggung jawabkan amalnya masing masing, sebagaimana dinyatakan dalam al qur’an  Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”. ( 6 : 164 )  dan Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” ( 17 : 15 ), serta  “Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu).” ( 35 : 18 ) dan  “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu.” ( 39 : 7 )

Tidaklah syah pelaksanaan syahadatain secara bersama-sama atau berjamaah. Dan yang berhak menjadi syahid dalam pelaksanaan syahadatain adalah Allah SWT sebagai Maliki al Nas. Sebagaimana dinyatakan dalam surah al An ‘am ayat 19  Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)“.( 6 : 19 )

Allah sebagai Malik (raja/penguasa), mempunyai aparatur. Aparatur Allah terdiri dari dua unsur yaitu unsur malaikat dan unsur manusia. Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” ( 22 : 75 ).

Aparatur dari unsur Malaikat ditugaskan Allah untuk melaksanakan aturan Allah di Alam Jagat Raya termasuk di planet bumi. Aparatur Allah dari unsur manusia ditugaskan untuk melaksanakan aturan Allah di muka bumi. Aparatur tersebut di sebut Nabi dan Rasul (missionaries). Salah satu fungsi rasul yang harus diwujudkan adalah fungsi syahid. Fungsi ini oleh Allah didelegasikan kepada NabiNya, sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya  Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru(penda’wah) kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” ( 33 : 45-47) dan  “Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” ( 48 : 8-9 ).

Syahidan mempunyai pengertian saksi atas umatnya bagi yang membenarkan dan mempercayainya, serta yang mendustakan dan menolaknya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa syahidan sebagai saksi atas manusia, merujuk kepada firman Allah dalam QS Al Hajj 22 : 78  Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Pada masa Nabi Muhammad SAW yang menjadi “syahid” dalam pelaksanaan syahadatain adalah Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Namun dalam pelaksanaannya dapat didelegasikan kepada para sahabatnya yang ditugaskan oleh Rasulllah. Seperti tugas yang dberikan kepada Muadz bin Jabal pernah mendapat tugas sebagai delegasi untuk mejadi da’I sekaligus “syahid” di negeri Yaman, atau juga kepada Mus’ab bin Umair di negri Yasrib.

Setelah Rasulullah wafat, fungsi kerasulan dilanjutkan oleh penggantinya yaitu khulafau al Rasyidin. Fungsi syahid dalam pelaksanaan syahadatain tidak harus pimpinan, namun dapat dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk. Setelah masa kekhalifahan Islam terputus, fungsi syahid ini tetap dilanjutkan oleh pembawa risalah, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al Qur’an “Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” ( 6 : 124 ). Selama Al Qur’an masih ada maka risalah harus tetap jalan sampai kapanpun “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ( 15 : 9 ). Allah menjamin tentang keberlangsungan risalah ini, sebagaimana firman Allah “Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami berkata “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.” ( 28 : 75 ) dan  “Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf….(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” ( 16 : 84 dan 89 ). Dan “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” ( 4 : 41 )

Siapa yang menjadi syahid pada saat ini…???, untuk mengetahui siapa yang menjadi saksi dalam pelaksanaan syahadatain, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebagai syarat syah sebagai seorang saksi (syahid) :

  1. Muslim, syahid adalah mukmin sebagaimana dinyatakan Allah dalam Al Qur’an “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. ( 2 : 136 ), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” ( 49 : 15 ) dan  “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” ( 8 : 74 )  yang mana mereka telah melaksanakan syariat syahadatain, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al Qur’an  “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( 3 : 18 ), “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” ( 9 : 111 ),
  2. Petugas dari Institusi Kerasulan, menjadi “saksi” adalah salah satu fungsi “kerasulan”. Fungsi syahid tidak dapat dipisahkan dari fungsi fungsi lainnya, yaitu: Da’ian, Mubasyiran, dan Nadziran. “Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” ( 33 : 45 – 46 ). Fungsi kerasulan itu hanya bisa diemban oleh suatu institusi yang bertujuan melanjutkan missi para rasul, yaitu menegakkan syariat islam.

Petugas atau utusan dalam bahasa arab adalah rasul, jamaknya rusul . rusul dapat disebut juga mursalin dalam bahasa Inggeris disebut missionaries. Fungsi kerasulan tidaklah dapat dilakukan secara individual namun harus diemban oleh suatu institusi, lembaga, atau jamaah. Yang mempunyai tugas mengemban risalah kerasulan yaitu tegaknya “syariat islam” di muka bumi. Institusi inilah yang memberikan mandat kepada seseorang untuk melaksanakan fungsi “syahid”. Tanpa adanya penugasan dari Institusi kerasulan seseorang tidaklah syah menjadi syahid.

  1. Laki laki, Allah tidak mengutus seorang rasul kecuali seorang laki laki, sebagaimana di tegaskan dalam Al Qur’an “Kami tidak mengutus (seorang rasul) sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?” ( 12 : 109 ) dan  “Dan Kami tidak mengutus (seorang rasul) sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (16 : 43) serta  “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” ( 21 : 7 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s