Syahadatain Syarat Utama Tegaknya Islam

 

Syahadatain diakui oleh hampir semua kaum muslimin, dianya merupakan rukun Islam yang sangat pokok, karena merupakan pintu gerbang pelaksanaan syariat islam selanjutnya. Para Ulama Fiqih  dalam merumuskan syarat sah pelaksanaan syariat islam, misalnya; syarat sah shalat, shaum, haji dan seterusnya, bahwa muslim (islam) adalah syarat sah pertama. Pelaksanaan syariat tersebut tidak sah kalau belum menjadi muslim.

Muslim adalah orang yang telah melaksanakan syariat syahadatain, namun ada sebahagian kaum muslim yang berpendapat bahwa yang wajib melaksanakan syariat syahadatain adalah orang yang lahir dari kalangan keluarga atau lingkungan kaum non muslim apabila mau memasuki agama Islam. Sedangkan bagi orang yang lahir di dalam keluarga kaum muslim tidak wajib melaksanakannya.

Polemik tentang pelaksanaan syariat syahadatain di masyarakat muslim telah lama terjadi. Hal ini karena syariat ini tidak dibahas dalam kitab kitab fiqih. Para ulama fiqih apabila membahas syariat islam (rukun islam) dalam kitabnya tidak membahas syahadatain sebagai bahasan pertama (bab awal), namun langsung membahas masalah shalat,shaum, zakat dan seterusnya, lengkap dengan syarat sah, syarat wajib dan rukunnya.

Sedangkan rukun islam yang pertama, mereka tidak membahasnya. Mereka menganggap syahadatain masalah keimanan, sehingga syariat ini hanya dibahas dalam kitab kitab Tauhid. Padahal syahadatain merupakan rukun islam bukan rukun Iman.

Sebenarnya mereka mengetahui bahwa syahadatain adalah rukun islam bahkan rukun atau syariat yang sangat pokok dan urgen. Rukun Islam yang kedua sampai ke lima baru sah dilaksanaan apabila telah melaksanakan syariat yang pertama ini.

Allah menyebutkan dalam Al Quran bahwa amal baik yang tidak didasarkan oleh syahadatain bagaikan debu yang beterbangan, sebagai mana firmanNya :

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. ( 25 : 23 )

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ? ,  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya,   Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat,    Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.” (18 : 103 – 106 )

 “Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”.  ( 6 : 88 )

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan”.  ( 7 : 147 )

Syahadatain merupakan pembeda antara muslim dan kafir, sebagaimana firman Allah SWT :

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,  dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” ( 37 : 35 – 36 )

Mengapa syariat syahadatain teknis pelaksanaannya tidak dibahas oleh para ulama Fiqih, dalam kitab kitabnya ???, Apakah Syahadatan tidak perlu dikelompokkan ke dalam rukun islam…???, apakah hal ini merupakan kelalaian para ulama fikih…??? Sejak kapan kelalaian ini terjadi…????.

Akibat dari kelalaian para ulama fiqih ini, kaum muslimin tidak lagi memahami pelaksanaan syahadatain yang benar, sesuai dengan yang di contohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya. Apabila kaum muslim tidak melaksanakan rukun islam yang pertama, karena para ulama tidak menjelaskan baik secara langsung maupun secara tertulis dalam kitab kitabnya, maka para ulama tersebut harus bertanggung jawab akan hal ini.

Para Ulama Fiqih tersebut dianggap telah menyembunyikan al-haq karena mereka tidak menyampaikannya kepada kaum muslimin. Sebagaimana para ulama kaum yahudi dan nasrani yang menolak dan menyembunyikan tentang pernyataan keislaman Nabi Ibrahim a.s, dan menganggab Nabi Ibrahim as beragama yahudi dan nasrani , sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam al Quran :

“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan” ( 2 : 140 )

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam,  Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam,   Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Satu  dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” ( 2 : 131 – 133 )

Begitu juga nabi Musa dan nabi Isa adalah beragama Islam, sedangkan orang orang yahudi dan nasrani berusaha menutup nutupinya, sebagaimana firman Allah dalam al Quran :

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. ( 2 : 136 )

Apakah ulama fiqih yang menyembunyikan pelaksanaan syariat syahadatain yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sama dengan ulama Yahudi dan Nasrani yang menyembunyikan “syahadah”  ke islaman Nabi Ibrahim…???

Ada beberapa kemungkinan alasan para ulama Islam tidak membahasnya, diantaranya :

1, Syahadatain dilaksanakan oleh sahabat Rasulullah pada awal awal penyebaran islam, penyebaran dilakukan pada fase Makkiyah melalui dakwah sir ( dakwah tertutup dan rahasia ), sebagaimana pelaksanaan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Nuh pada awal awal pelaksanaan tugas risalahnya, sebagaimana dikhabarkan oleh Allah SWT dalam Al Quran ; “Kemudian sesungguhnya aku (Nabi Nuh) telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,   kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam” ( 71 : 8-9 )

2. Pelaksanaan syahadatain lebih cendrung kepada SUNNAH AF ‘ALIYAH dari pada SUNNAH QAULIYAH. Sunnah Af’aliyah adalah tindakan Rasulullah SAW. Para sahabat hanya mengikutinya saja tanpa berfikir untuk mencatatnya. Sedangkan Sunnah Qauliyah adalah sunnah yang diucapkan oleh Rasulullah SAW kemudian sebahagian sahabat mencatatnya. Sunnah Qauliyah kebanyakan terjadi pada periode Madaniah, suatu periode syariat islam telah berjalan secara sempurna, karena kekuasaan berada di tangan ummat islam. Periode Makkiyah adalah periode syariat islam belum dapat berjalan secara sempurna, karena ummat islam belum memiliki kekuasaan.

Dakwah secara sir pada periode makkiyah inilah kemungkinan teknis pelaksanaan syahadatain tidak banyak dicatat oleh para sahabat. Akibatnya menyulitkan para ulama muta akhirin dalam mengambil sumber rujukan teknis pelaksanaan syahadatain.  Berbeda dengan pembahasan masalah teknis pelaksanaan shalat, shaum, zakat, dan hajji, pada saat Negara Islam telah terwujud, sehingga para sahabat banyak mencatat, sehingga hal ini memudahkan para ulama fiqih mengambil sumber rujukan.

Namun apabila kewajiban pelaksanaan syariat syahadatain telah disampaikan oleh para ulama, maka yang salah adalah orang orang yang menolaknya, karena pada hakekatnya mereka menolak islam, penolakan terhadap islam berarti mereka menolak Risalah Rasulullah SAW.

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya”. ( 6 : 124 )

Rasul artinya adalah utusan, jamaknya adalah “rusul” dalam bhs Inggris disebut missionaries, sebagai para pembawa risalah dan pelanjut risalah Rasulullah Muhammad SAW

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” ( 10 ; 47 )

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. ( 16 : 36 )

Salah satu fungsi rasul adalah sebagai syahid (saksi), yaitu sebagai saksi dalam peksanaan syariat syahadatain , sebagai mana dalam firman Allah ;  “Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,   dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”. ( 33 : 45 – 46 )

Syariat syahadatain dalam sejarah perjalanan Rasulullah SAW telah dilaksanakan, di buktikan dengan hadits Nabi SAW tentang rukun Islam, sebagaimana yang telah diketahui dan disepakati oleh seluruh ulama, dengan adanya hadits ini, tidak ada alasan bagi kaum muslim untuk tidak melaksanakannya, karena dianya adalah rukun islam yang pertama, dan menjadi syarat sah pelaksanaan rukun islam selanjutnya, baik yang berasal dari kalangan keluarga non muslim maupun kalangan yang berasal dari keluarga muslim yang sudah mukallaf, bagi keluarga muslim WAJIB mendidik putra putrinya dengan nilai nilai islam sehingga sampai pada usia mukallaf nanti dia sudah siap berdasarkan pemahaman keilmuan yang menimbulkan keimanannya untuk melaksanakan rukun islam yang pertama ini, yaitu syariat Syahadatain. …………

bersambung ke  WAJIBNYA MELAKSANAKAN  SYAHADATAIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s