Syarat Wajib dan Syarat Sah Syahadatain

 

Dari beberapa mazhab atau ulama fiqih, dalam merumuskan syarat sah maupun syarat wajib pelaksanaan shalat, shaum, zakat, dan hajji sebahagian besar para ulama menuliskan dalam kitabnya bahwa “muslim / islam” merupakan syarat sah atau syarat wajib terlaksananya rukun islam. Jumhur para ulama mengatakan bahwa seseorang dikatakan muslim apabila telah mengikrarkan syahadatain atau melaksanakan rukun islam yang pertama,

Sampai saat ini kami belum menemukan kitab fiqih yang merumuskan tentang syarat sah, syarat wajib bahkan rukun tentang pelaksanaan syahadatain, padahal ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk diketahui oleh kaum muslim, karena ianya merupakan rukun islam yang pertama dan pelaksanaan syahadatain adalah merupakan syarat sah pelaksanaan syariat islam yang lainnya.

Untuk merumuskan syarat sah dan syarat wajib maupun rukun pelaksanaan syahadatain, kami berusaha semaksimal mungkin merujuk kepada al Quran, Hadist Nabi SAW maupun pendapat para ulama fiqih lainnya yang mendekati pengertian yang dimaksud.

SYARAT WAJIB SYAHADATAIN

  1. MUKMIN, adalah orang yang beriman secara sempurna kepada Allah, hari akhir, MalaikatNya, RasulNya, dan kepada kitab kitabNya. Iman yang sempurna adalah diyakini atau dibenarkan oleh hati kemudian di ikrarkan secara lisan dan dikerjakan dengan amalan. Pengikraran secara lisan adalah dalam bentuk syahadatain. Iman akan terwujud apabila dilanjutkan dengan mengamalkan rukun islam. Iman tanpa amal tidak bermakna apa apa. Iman tanpa melaksanakan syahadatain adalah perbuatan ahli kitab. Pelaksanaan syahadatain tanpa iman adalah perbuatan orang orang munafik. Amal tanpa iman dan pelaksanaan syahdatain adalah perbuatan orang orang Musyrik. Amal dan melaksanakan syahadatain tanpa iman adalah perbuatan orang orang jahiliyah.
  2. MUKALLAF dan MUMAYYIZ ; adalah seorang yang sudah mencapai usia dewasa atau telah memahami dan membedakan yang benar dan yang salah, sehingga terpikul kewajiban untuk melaksanakan syariat atasnya. Firman Allah, ….”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…….” ( 2 : 286 ) , Dari hadits Rasulullah SAW menyebutkan ; “ Diangkat pena dari tiga (golongan manusia) yaitu dari anak kecil hingga baligh (dewasa), orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga sembuh ( HR Abu Dawud dan Ibnu Majah ). Pelaksanaan syariat syahadatain mempunyai konsekwensi menolak semua pengabdian, penyembahan, dan ketaatan hanya kepada Allah semata, dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW sebagai satu satunya yang ditoladani, diikuti, dan dipatuhi. Penolakan dan pengakuan ini hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang sudah mukallaf.
  3. BERAKAL, melakukan syahadatain dalam keadaan sadar, tidak dalam keadaan hilang ingatan atau tidak dalam keadaan mabuk (sukara), tidak berada dalam keadaan tekanan dan depresi atau keterpaksaan. Bagi mereka yang dalam keadaan tidak sadar atau karena terpaksa belum ada kewajiban untuk melaksanakan syahdatain “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” ( 7 : 179 )
  4. BALIGH, orang yang telah tersampaikan (tabligh) missi Islam, atau telah datang kepadanya seorang da’I, nadzir, rusulan minhum yang menyeru untuk melaksanakan Islam. Bagi orang yang belum tersampaikan pemahaman tentang makna dan kewajiban syahadatain belum wajib melaksanakan syariat syahadatain, karena khawatir pelaksanaan syahadatain dianggap sebagai ibadah ritual saja. Sebaliknya apabila telah disampaikan, kemudian tidak melaksanakannya, maka mereka akan dimurka oleh Allah dan mereka akan menjadi penghuni neraka.

SYARAT SAH SYAHADATAIN.

Syarat sah merupakan hal hal yang harus dilakukan / dimiliki oleh seorang yang melaksanakan syahadatain, sebagai berikut :

  1. ILMU (PAHAM), orang yang berilmu memahami makna yang terkandung dalam kalimat syahadatain. Orang yang berilmu akan menerima apa yang datang dari Allah SWT dan menolak segala sesuatu yang datangnya bukan dari Allah SWT. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” ( 17 : 36 ), Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” ( 16 : 36 ) , “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( 2 : 256 ).  Kita hanya menjadi muslim jika menerima Islam, secara sadar dan sengaja menerima apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dan melaksanakan ajaran-ajarannya.  Tidaklah mungkin menjadi seorang muslim dan tetap dalam keislamannya tanpa memiliki pengetahuan (ilmu). Perbedaan sesungguhnya antara kafir dan muslim bukanlah pada namanya , pada pakaiannya, tapi terletak pada pengetahuannya. Orang kafir tidak memahami hubungan antara Al Khaliq (Allah) dengan manusia dan hubungan manusia dengan penciptanya. Karena tidak mengetahui tentang kehendak Yang Maha Pencipta, orang kafir tidak mengatahui jalan lurus yang harus diikuti dalam kehidupannya. Jika seorang yang mengaku sebagai muslim juga tidak mengetahui tentang kehendak penciptanya, maka atas dasar apa yang bisa digunakan untuk membedakan seorang muslim dan seorang kafir.
  2. YAQIN ( TIDAK RAGU RAGU ), setelah memahami tentang kalimat tauhid (syahadatain), maka harus meyakini akan kebenaran Islam. Karena syahadatain tidak akan berarti apa apa apabila tidak diyakini kebenarannya, sebagai mana ditegaskan oleh Allah dalam Al Qur’an “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (49 : 15 ) , Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah , tidak ada seorang hamba yang bertemu dengan Allah dengan kalimat ini dan tidak ragu tentang keduanya, kecuali masuk sorga” ( HR. Muslim).

Apabila seseorang melaksanakan syariat syahadatain dalam keadaan ragu ragu, dikhawatirkan nantinya akan menjadi kelompok orang orang yang munafik, yang senantiasa ragu ragu dalam melaksanakan Islam, sebagaimana penegasan dari Allah dalam Al Qur’an ; “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” ( 4 : 143 ).

  1. SHIDDIQ ( MEMBENARKAN ), adalah orang yang apa yang dikatakan dimulutnya sama dengan apa yang dikatakan dihatinya, tidak ada kepura puraan dalam dirinya, tidak seperti orang munafiq. Mereka mengucapkan syahdatain namun hatinya menolak akan kebenaran kalimat syahadah yang di ucapkannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam al Qur’an Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” ( 63 : 1 ), dan  “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman…Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”  ( 2 : 8-9 ),  Rasulullah SAW bersabda ; “Syafaatku teruntuk bagi orang orang yang bersyahadat dengan benar benar ikhlas, hatinya membenarkan lisannya dan lisannya membenarkan hatinya”. ( HR  Hakim ) , dan Rasulullah SAW bersabda ; “Tak Seorangpun bersyahadat dengan jujur dari hatinya, kecuali Allah mengharamkannya disentuh api neraka”  ( HR. Muslim ).

Orang yang melaksanakan syariat syahadatain, berarti pula dia melaksanakan perjanjian atau sumpah setia. Apabila mereka mendustakan atau berpura pura maka tidaklah syah melaksanakan syariat syahadatain, karena ada kemungkinan mereka akan melanggar janjinya, sebagai mana dijelaskan Allah dalam al Qur’an Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat…Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu…Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan…Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah: dan bagimu azab yang besar… Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( 16 : 91 – 95 ) Maka kalau mereka melanggar janjinya maka Allah akan mengazabnya, sebagaimana ditegaskan Allah  Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” ( 48 : 10 ).

  1. IKHLAS ( TIDAK MENYEKUTUKAN ALLAH ), Melaksanakan syahadatain dengan penuh ke ikhlasan ( mengharapkan keridhaan Allah SWT semata ), Allah memerintahkan kepada manusia untuk beribadah kepadanya dengan penuh keihklasan “Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”. ( 39 : 11 – 12 ), Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. ( 39 : 14 ), “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” ( 2 : 207 ), “Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri) mu di setiap salat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya)”. ( 7 : 29 ) , “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. ( 18 : 110 ) “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” ( 98 : 5 ).

Dalam Hadits Rasulullah disebutkan ; Dari Jabbir, katanya, Seorang laki laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah dua perkara yang positif ?”, Jawab beliau ; “barang siapa yang mati yang tidak menyekutukan Allah pasti masuk surga, dan barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah pasti masuk neraka”

Satu respons untuk “Syarat Wajib dan Syarat Sah Syahadatain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s