Wajibnya Melaksanakan Syahadatain

 

Perbedaaan pokok antara seorang kafir dan muslim tidaklah terletak pada berbedaan nama, nama Ya’qub, Abdullah, Ahmad belum tentu disebut muslim, begitu juga nama Jhoni, Jimmy, atau Andeas disebut seorang kafir. Tidak juga karena seorang muslim dikhitan/sunat sedang orang kafir tidak. Juga bukan rena seorang muslim berjenggot, seorang kafir berkumis. Seorang muslim bersorban dan seorang kafir berdasi.

Islam bukanlah ras atau suku yang keanggotaannya dapat diwarisi  dari orang tua, sebagaimana suku Sunda, Jawa, Minang, Batak dan sebagainya ketika mereka lahir, mereka langsung menyandang nama suku masing masing.

Abul A’la Maududi seorang Ulama Besar Pakistan, dalam bukunya yang berjudul ‘Menjadi Muslim Sejati’ mengatakan;  “ Apakah sebutan  ‘muslim’ itu merupakan ras, bangsa atau kasta ???, apakah orang Islam merupakan komunitas ummat Islam seperti halnya seorang Ariya merupakan anggota ras Ariya ???, seperti halnya seorang Jepang adalah bagian dari bangsa Jepang, karena dilahirkan di Jepang, dan seorang Muslim karena dilahirkan di Negara Islam, atau dalam keluarga Islam…???.  Kita tentu akan menjawab pertanyaan pertanyaan diatas dengan tegas  “TIDAK” , seorang muslim tidak otomatis karena dilahirkan sebagai seorang muslim, seorang muslim tidak dengan sendirinya menjadi muslim karena termasuk ras tertentu. TETAPI DIA SEORANG MUSLIM KARENA IA MENGIKUTI AGAMA ISLAM, JIKA IA MENINGGALKAN ISLAM DIA BUKAN LAGI SEORANG MUSLIM”.

Seseorang tidak dapat dijamin untuk menjadi muslim sekalipun hidup dilingkungan keluarga muslim, atau di Negara islam. Menjadi muslim merupakan hasil dari suatu proses, baik oleh diri yang bersangkutan maupun lingkungannya, terutama lingkungan keluarganya. Sekalipun lingkungannya mendidik dan berusaha menjadikan dia sebagai seorang muslim namun apabila dirinya menolak terhadap islam, tidaklah mungkin dia akan menjadi seorang muslim.

Seseorang disebut muslim apabila dia melaksanakan syariat islam  atau ajaran islam. Sama halnya dengan seseorang dikatakan Yahudi atau Nasrani dia melaksankan ajaran Yahudi atau Nasrani, begitu juga seseorang disebut sebagai Hindu atau Budha dan sebagainya.  Hal ini berlaku juga dalam ber Ideologi. Seseorang disebut komunis apabila dia menganut paham dan melaksanakan ajaran komunisme, seseorang disebut liberalis apabila dia menganut paham dan melaksanakan ajaran liberal, seseorang disebut pancasilais apabila menganut paham dan melaksanakan ajaran pancasila, dan sebagainya.

Tidak ada “islam keturunan” seorang ayah beragama islam, tidaklah menjamin otomatis anaknya akan beragama islam, Islam adalah agama sekaligus ajaran yang diajarkan oleh para Nabiullah kepada ummat manusia, yang bersumber dari kitabullah. Seseorang dikatakan muslim apabila dia mengakui dan melaksankan ajaran (syariat) islam, apabila seseorang melaksanakan  ajaran (syariat) islam pasti jaminannya masuk syurga, sebagaimana disampaikan dalam Al Quran :

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” ( 2 : 62 )

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. ( 2 : 112 )

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami berIslam.” ( 3 : 84 )

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun” ( 4 : 124 )

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga mereka kekal di dalamnya.” ( 11 : 23 )

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( 16 : 97 )

“Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.”  ( 40 : 40 )

Sebaliknya bagi siapa yang menolak  ajaran Islam (kafir) maka nerakalah sebagai tempat kembali mereka, dengan siksaan yang sangat pedih dan mereka kekal didalamnya. Sebagai dijelaskan dalam al Quran :

“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui,  (Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”  ( 2 : 80 -81 )

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” ( 3 : 85 )

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” ( 4 : 115 )

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” ( 7 : 179 )

(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan,    Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.”  ( 16 : 28 – 29 )

Kalau seseorang menjadi muslim karena keturunan atau lingkungannya islam, kemudian dia meninggal dunia dan masuk syurga, maka orang orang yang hidupnya sejak bayi hingga dewasa di lingkungan/ keluarga  non muslim, kemudian meninggal dunia dan masuk neraka, dia akan protes kepada Allah SWT, sebagai berikut ;  “ Ya Rabb, mengapa Engkau menghidupkan saya di lingkungan keluarga non muslim, sehingga saya masuk neraka…??? , sedangkan teman-teman saya Engkau hidupkan di tengah tengah lingkungan muslim/ keluarga muslim, sehingga mereka masuk kedalam syurgaMu …??, Mana Keadilan Engkau Ya Rabb…???.

Protes itu memang tidak akan pernah terjadi, karena Allah Maha Adil, keMaha Adilan Allah adalah memiliki aturan yang berbunyi ; “BARANG SIAPA YANG BERIMAN DAN BERAMAL SHALEH DIA PASTI MASUK  SYURGA” sekalipun dia hidup dalam lingkungan kafir, barang siapa yang menolak (kufur) kepada Allah dan menolak aturan (ayat ayat) Allah maka dia pasti masuk neraka, walaupun dia dari keturunan muslim dan hidup di lingkungan Islam,   sebagaimana jelas kita lihat dalam Al Quran :

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” ( 2 : 25 )

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” ( 2 : 39 )

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” ( 2 : 85 )

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”  ( 4 : 57 )

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” ( 4 : 122 )

Beragama islam bukan hanya “pengakuan” saja, bukan karena hidup dalam lingkungan keluarga muslim, kemudian mengaku dan merasa sudah menjadi muslim, padahal mereka belum pernah melaksanakan rukun islam, terutama rukun islam yang pertama. Mereka mengira bahwa “Islamnya” yang seperti itu akan membawanya ke syurga, padahal syurga hanya untuk orang yang benar benar berjuang melaksanakan syariat islam, sebagai mana firmaNya :

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” ( 3 : 142 )

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” ( 2 : 214 )

Perintah melaksanakan syariat syahadatain berbeda dengan perintah melaksanakan syariat islam lainnya seperti shalat, zakat, puasa dan hajji. Syahadatain wajib dilaksanakan hanya bagi seseorang yang telah memilih islam sebagai jalan hidupnya. Menjadi Muslim adalah pilihan manusia yang telah mukallaf. Untuk memilihnya manusia diberi kemampuan berfikir, bagi mereka yang tidak menggunakan akal fikirannya untuk memilih jalan yang benar maka nerakalah balasan mereka, bagi mereka yang menggunakan akal fikirannya untuk memilih jalan yang benar yaitu memilih islam sebagai jalan hidupnya maka mereka telah mengikuti jalan yang lurus ( shirathal mustaqim ), “…Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” ( 3 : 101 )

Jadi, sebelum seseorang melaksanakan syariat syahadatain, maka pelaksanaan rukun islam atau syariat islam yang lainnya belumlah sah untuk dilaksanakan. Seperti halnya, seseorang yang mau melaksanakan shalat, tapi belum berwudhu’ maka shalatnya tidaklah sah, walau bagaimanapun baiknya pelaksanaan shalatnya. Hal ini dikarenakan syarat sah shalat adalah bersih dari hadas.  Jadi, apabila salah satu syarat sah tidak dipenuhi maka pelaksanaan syariat tersebut tidak sah. Apalagi syarat sah yang pertama yaitu muslim (beragama islam), maka sia sialah orang yang melaksankan shalat, shaum, zakat, dan lain sebagainya apabila belum menjadi muslim.

Memasuki Islam bukanlah perkara yang gampang, karena Islam adalah Agama yang datang dari Allah, maka untuk memasuki Islam Allah telah mengajarkan kepada RasulNya, bahwa apabila manusia akan mengabdikan dirinya kepada Allah harus mengikuti prosedur, yaitu harus mengikuti perjanjian luhur , …” Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( 3 : 18 ) , Perjanjian atau pernyataan tersebut adalah perjanjian yang dilakukan oleh Allah, Malaikat, dan Ulul ‘ilmi, Perjanjian itu kemudian dijadikan kalimat syahadah.

Pelaksanaan syahadatain sebagai rukun islam yang bertama telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, maka bagi kita yang mau mengikutinya dan ingin selamat dalam kehidupan di dunia dan akhirat sudah seharusnya untuk mengikuti dan mencontohnya.

Bersambung………………………..KEDUDUKAN DAN FUNGSI SYAHADATAIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s