Agama dan Ilmu Pengetahuan Manusia

oleh : Imam Asy Syahid Sekarmaji Marijan Kartosuwirjo

 

Agama dalam makna Ad-Din adalah suatu Peraturan yang diturunkan Allah SWT kepada para Anbiya dan Rasul-Nya, sebagai sarana untuk keselamatan dan kebahagiaan segenap perikemanusiaan pada zamannya.

Peraturan itu mengandung tuntunan dan petunjuk, pelajaran dan pendidikan, ilmu dan ‘amal, contoh tauladan dan ibarat atas segala sesuatu lainnya dalam tiap-tiap segi lapangan dan tingkatan, mulai dari hal yang sekecil-kecilnya hingga hal yang sebesar-besarnya, mulai dari keperluan seseorang (pribadi) hingga kepentingan seluruh ummat dan semesta alam, alam ghaib maupun alam dlahir (syahadah), mengenai dunia fana hingga dunia abadi, bagi keselamatan dunia kecil (mikrokosmos) dan kesejahteraan dunia besar (makrokosmos).

Walhasil dengan serba singkat bolehlah dikatakan, bahwa apa yang dinamakan Agama adalah Peraturan-peraturan Allah atau Undang-Undang Karunia Allah, yang diturunkan bagi kepentingan dan keperluan hambaNya semasa hidupnya, undang-undang suci itu mengandung segala faktor-faktor hidup dalam semua segi, lapangan dan tingkatan, meliputi segenap kepentingan dan keperluan manusia selama hidupnya di dunia menjelang menempuh kehidupan di alam baqa, dimana tiap-tiap makhluq apa dan manapun juga pastiakan menghadap kehadirat-Nya kelak, untuk membuat perhitungan untung dan rugi, laba atau celaka, berdasarkan  neraca dan ukuran ‘amal yang telah diperbuatnya masing-masing dikala hidup di dunia secara dlahir dan bathin.

Untuk itu semua, manusia adalah makhluq Allah yang dianugerahi-Nya akal dan pengetahuan, faham dan pengertian, ialah merupakan alat-alat yang bisa dipergunakannya untuk melakukan atau meninggalkan segala sesuatu, selama hayat dikandung badan, selama ruh bersemayam dalam tubuh jasmani.

Dengan syarat-syarat ini dan beberapa faktor lain, maka hidup dan kehidupan manusia di dunia bergerak maju selangkah demi selangkah, meninggalkan zaman lampau menghampiri masa depan.

Dengan cepat atau lambat, tak kan berhenti dari abad ke abad, sejak mula manusia ditugaskan Allah di alam fana ini, maka proses serupa itu berjalan terus menuju ke arah kemajuan, kecerdasan, ketinggian, keluhuran dan kesempurnaan, melalui berbagai tingkat dan berbagai lapangan, maka salah satu bagian dari kemajuan dan kecerdasan otak yang bisa dicapai oleh manusia, mendekati alam sempurna, adalah yang dinamakan ‘ilmu atau pengetahuan (wetenschap), ialah suatu kumpulan pengalaman, penjelajahan pemikiran dan pendapat dalam kecerdasan akal manusia sepanjang masa.

‘Ilmu diuji dan disempurnakan dengan praktik,  dengan bukti, dengan kenyataan, dengan ‘amal usaha, sesuai dengan tingkatan ‘ilmu tersebut. Kemudian timbullah daripadanya sekumpulan natijah(kesimpulan) dalam bentuk dan sifat-sifat tertentu, bisa diraba dan dirasakan, dicoba dan diuji, diperiksa dan diteliti.

Kumpulan dan himpunan hasil-hasil kemajuan dan kecerdasan ini dinamakan orang dengan “tekhnik”.

Oleh karena kedua bentuk kecerdasan manusia ini selalu bergandengan dan isi mengisi seakan-akan tidak berpisah satu dengan yang lainnya, maka dua istilah dan dua faham itu lambat laun bergabunglah menjadi satu istilah dengan satu faham “Pengetahuan dan Tekhnik”, atau seringkali juga dibalik sebutannya “Tekhnik dan Pengetahuan”.

Tingkatan kecerdasan ‘ilmu dan tekhnik dewasa ini sudahlah mencapai tingkatan yang amat tinggi sekali.Seakan-akan ‘ilmu dan tekhnik membuat dan meningkatkan manusia menjadi makhluq yang maha kuasa, yang kekuasaannya meliputi dan menggenggam seluruh dunia, di darat dan di laut maupun di udara.

Kalau dulu orang menganggap dunia bagaikan tikar menghampar luas, yang tidak dikenal ujung pangkal dan tepinya, maka kini manusia dapat terbang mengelilingi dunia hanya di dalam beberapa jam saja. Perjalanan dari satu benua ke benua lainnya dilakukan ibarat burung terbang dari pohon ke pohon dengan hampir-hampir tidak perlu memerah tenaga atau membuang waktu, laksana halilintar yang menyambar-nyambar membelah angkasa.

Kini segala sesuatu dilakukan dengan alat-alat serba modern berdasarkan ‘ilmupengetahuan dan tekhnik yang dicapai hingga sa’at ini.Oleh sebab itu, maka dewasa ini, di abad yang serba canggih ini, ‘ilmu dan tekhnik menjadi pangkal dan dasar manusia berfikir dan berbuat, meliputi dan menguasai dirinya.

Ia tidak dapat lepas dan menghindarkan diri daripadanya, baik dalam hidup dan kehidupan sehari-hari maupun dalam pergaulan hidup sedunia.

Inilah sebabnya, maka pada abad yang serba canggih ini, orang mudah sekali dipermainkan oleh ‘ilmupengetahuan dan tekhnik, yang dibuat dan dialami oleh manusia sendiri.  Tidak ada  bedanya dengan tukang pahat pembuat patung, yang memuji-muji dan menyembah-nyembah patung buatannya sendiri, berbakti kepada benda yang mati, bertuhankan kepada benda alam yang tidak berdaya dan tidak berkuasa, sebagaimana seharusnya ia berbakti kepada pencipta dan pembuatnya sendiri.

Maka persembahan kepada benda dan pentuhanan kepada harta dunia, “andad” namanya, yang lazim disebut “materialisme” (dahriyah), itu adalah salah satu jalan sesat yang lagi dijalani dan digemari orang pada abad ini.

Karena orang silau melihat alam sekelilingnya yang serba modern dan cemerlang ini, lupa kepada Pembuat, Pencipta dan Pengaturnja. Lupa kepada Sumber Pembuat Ilmu Pengetahuan dan Pembuat benda apa dan manapun juga, yang kini (benda tersebut) menjadi berhalanya setiap kaum dahriyin (materialistis).

Tegasnya: lupa kepada Allah, Dialah Pembuat sarjana dan makhluq-makhluq lainnya (yang) serupa itu, (dan) Pembuat ‘ilmu dan tekhnik yang dijadikan sesembahan (kaum) dahriyin dewasa ini. Begitulah selanjutnya.

Inilah Maha faktor dan Maha sebab, yang menimbulkan dan mendlahirkan segenap faktor di dunia.Dan justru inilah yang dilupakan manusia. Karena manusia hanyalah melihat kulit, tidak kenal akan isinya, tahu makhluq  tidak kenal akan khaliqnya, tahu akan alam tapi buta kepada Allah, yang membuat, yang memelihara, dan yang mengaturnya; meraba garam tapi tidak merasakan asinnya.

Setinggi-tinggi bangau terbang, jatuhnya ke kubangan juga, “setinggi-tinggi ‘ilmu dan tekhnik manusia membumbung tinggi menembus membelah angkasa, tetapi apa yang ditemukan, diraba dan dilihatnya diperiksa dan diselidikinya, dipercaya dan diyakininya, hanyalah benda, alam dan adam (kosong=tiada sesuatu) belaka”. Tidak  tahu dan tidak mengenal Allah, alias buta kepada Pembuatnya, Khaliqil ‘alamin.

Bahkan ‘ilmu dan tekhnik yang seharusnya diperalat oleh manusia, tetapi kemudian dijadikan berhala sesembahannya, lebih dapat menyesatkan manusia dari apa yang bisa disangka dan dikira-kira.

Disebabkan pandangannya yang sempit dan pengetahuannya yang berat sebelah serta fahamnya yang dangkal itu, maka manusia mudah menunjukkan sikap megah, congkak dan takabur, menolak dan membuang tiap-tiap sesuatu yang dianggapnya belum dapat masuk akalnya, belum diketemukan perhitungannya, dan mengatasi segala pengetahuan dan pengertiannya.

Sikap pendirian bathin atau filsafat hidup manusia serupa ini makin menjauhkan dia dari rasa keagamaan, rasa susila yang suci, lepas dari tuntunan Ilahi dan ajaran-ajaran para anbiya Allah yang murni.

Dengan sendirinya, mau atau tidak mau, sadar atau tidak sadar, maka golongan manusia atau bangsa yang semacam itu kian hari kian bertambah mendekati jurang keruntuhan dan kejatuhannya, menghampiri tepi jurang neraka dunia dan neraka akhirat nantinya.

Satu misalnya agaknya bisa memberi gambaran akan nasib manusia di masa yang akan datang. Jika perang dunia ketiga pecah – Insya Allah- peristiwa dahsyat dan hebat itu akan tiba, maka seluruh dunia akan terlibat dalam peperangan. Bom nuklir dan hydrogen, bom cobalt dan lain-lain alat hypermodern, hasil dari pada pengetahuan dan tekhnik ultramodern, akan digunakan. Kini, semuanya itu sudah mendekati kepada kelengkapan dan kesempurnaannya.Masing-masing pihak sekarang telah siap sedia dengan sebanyak-banyak alat pembasmi makhluq dunia semacam itu.

Apa gerangan akibat semuanya itu? Sebagian besar dunia ini akan hancur lebur, peradaban dunia akan musnah binasa, bersama-sama dengan nafsu angkara murka dan nafsu anti Tuhan, yang kini menguasai dlahir dan bathin manusia dahri.

Kalaulah sudah terjadi demikian, maka manusia barulah menanya tercengang, dan sadar; baru tahu akibat kesalahan dan kekeliruannya, dan (baru sadar) akan natijah kesesatan dan kejahilannya. Tapi ….. sudah terlambat sayang.

Dengan satu tamsil ini saja kiranya orang bisa mendapat gambaran, bahwa nasib manusia dahri, penyembah berhala patung modern buatannya sendiri (‘ilmu dan tekhnik), di masa datang akan membunuh diri dengan senjatanya sendiri, menemui ajalnya yang sesat dan durhaka. Na’udzubillahi min dzalik.

Belum juga diriwayatkan tentang pendapat dan pendirian, faham dan pengertian manusia tentang persoalan ma’ani, seperti soal hidup, Ruh, Achirat (Surga dan Neraka), Qadar dan Qadla, Ba’ats (hidup kembali sesudah mati), Qijamah (hari Pembalasan), ‘Arasy, Kursi, Lauh-Mahfudz, dan persoalan lain semacam ini.

Menyelidiki dan mengupas, menjelajah dan memecahkan persoalan ini,  bukanlah barang sesuatu yang mudah. Karena untuk menyelami dan mengenal persoalan ini tidak cukup hanya dengan kecerdasan otak serta ‘ilmu dan tekhnik yang tinggi.Melainkan terutama sekali amat diperlukan kesucian ruhani, ketajaman penglihatan bathin, keadilan timbangan, keluhuran budi dan ketinggian akhlak, serasi dengan ajaran Al-Qur-an, yang ditafsirkan oleh Rasulullah SAW dalam Sunnahnya yang merupakan perintah dan larangan, keutamaan dan kecaman, harapan dan cegahan.

Akhirnya di dalam bahasan ini hendak kami singgung sikap dan pendirian manusia, dalam lingkungan Ummat Islam sendiri, mengenai persoalan yang kami lukiskan dengan ringkas di atas.

Karena pengaruh gelombang besar dari lautan ‘ilmu dan tekhnik modern, maka manusia – juga Muslim- ingin menempatkan dirinya dalam apa yang dinamakan orang golongan “modernis” itu. Ia tidak hanya coba-coba menafsirkan Islam dengan ‘ilmuyang diperolehnya, tetapi acapkali tampak gejala-gejala yang membahayakan. Islam seakan-akan diperkosa dan dipaksakan harus sesuai dengan ‘ilmu pengetahuan dan tekhnik, bukan sebaliknya.

Maksudnya mungkin amat baik sekali. Seperti: memberi keterangan-keterangan modern atas beberapa dalil Al-Qur-an atau Sunnah Rasulullah SAW, misalnya: Yang dikatakan dengan “7 langit dan 7 bumi” di dalam Al-Qur-an ialah “7 planet dan 7 langit dari planet-planet tersebut. Tujuh planet yang dimaksudkan ialah :

(1) Merkurius, (2) Venus, (3) Mars, (4) Jupiter, (5) Saturnus, (6) Uranus, dan (7) Neptunus, sedang dunia (Bumi) kita sendiri berada di antara yang tersebut pada angka (2) dan (3).

Keterangan ini mungkin masih dianggap orang benar sebelum tahun 1929, tahun diketemukannya planet ke 8, yakni Pluto. Tapi sesudah itu hingga kini, teranglah dengan bukti yang nyata bahwa keterangan atau tafsir tersebut salah !. Demikianlah satu perumpamaan, yang menunjukkan satu gejala membahayakan dalam cara manusia berfikir dan memandang sesuatu.

Dalam hal ini, orang harus pandai membatasi dirinya.Jangan terjerumus kepada kesimpulan “Islam harus sesuai dengan ‘ilmu pengetahuan”, yang ingin menyesuaikan Islam dengan pandangan hidup yang mereka miliki.Melainkan seharusnya pandangan hidup itu harus disesuaikan dengan Islam, untuk memperluas pengetahuan Islam, untuk memperdalam faham Islam, serta untuk menyempurnakan ”’amal” dan ”’ilmu Islam”.

Karena Islam, pada dasarnya, mempunyai sifat-sifat yang tetap (constant), sedangkan ‘ilmu manusia senantiasa berubah-ubah, berkurang atau bertambah, menurut kecerdasan otak manusia pada tiap-tiap zaman.

Islam “kalau perlu” boleh bertentangan dengan kehendak, pengertian dan pengetahuan manusia.Tetapi pengetahuan dan pengertian manusia, ‘ilmu dan tekhnik yang benar, tidak boleh dan tidak akan bertentangan dengan ajaran Islam.

Dengan ini, maka kita tetap berpedoman kepada apayang diwajibkan Allah dan Nabi-Nya, dan mengutamakan (mengsunnahkan) apa yang diutamakan (sunnahkan) Allah dan Nabi-Nya,jangan sebaliknya. Atau yang lebih tegas lagi: Wajib tetaplah wajib hukumnya, dan sunnat tetaplah sunnat hukumnya, dan tidak boleh diputar balik seenaknya menurut kehendak dan keinginan manusia.

Wajib harus didahulukan daripada sunnat.Jangan sekali-kali sunnat mendahului wajib. Lebih-lebih lagi jangan melakukan sunnah, tetapi meninggalkan wajib. Islam di atas segala sesuatu.Juga di atas segala ‘ilmu dan tekhnik yang manapun.

Dengan uraian ringkas di atas, bukanlah sekali-kali maksud kami hendak mengecam ‘ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan Agama Islam. Bahkan sebaliknya, kita harus pandai menghimpunkan sebanyak-banyaknya ‘ilmu sampai kepada tingkat yang setinggi-tingginya, bagi menyempurnakan segala ‘amal bakti yang ditugaskan Allah atas kita masing-masing dan penglihatan kita sekalian, untuk memperluas pandangan dan penglihatan kita dalam mempelajari ‘ilmu Islam, untuk memperdalam pengertian dan faham kita dalam mentelaah Islam.

Maksud mengumpulkan sebanyak-banyak ‘ilmu bukanlah sekali-kali untuk menjauhkan diri dari Islam, supaja keluar dari ajaran suci, atau guna mencari jalan sesat, atau untuk menemui jalan dan usaha yang dilaknat Allah, satu kutuk yang menyebabkan kecelakaan dan kerugian dunia dan akhirat!!! Bukan!, sekali lagi, bukan!.

Peringatan dan ajakan ini kami tujukan kepada kawan-kawan seagama, yang masih salah paham dan keliru pendapat, dan yang suka meninggalkan syari’at Nabi, karena pengaruh bathiniyah sesat, yang bisa tumbuh daripadanya.

Golongan angkatan muda, kaum mutaawilah, yang terpengaruh oleh dunia dan keduniaan, acapkali meninggalkan yang wajib dalam agama, baik yang enteng maupun yang berat, yang mudah maupun yang sukar. Terutama jika wajib tersebut tidak serasi dengan nafsunya; nafsu yang beralaskan kepada dalil-dalil pengetahuan atau  “modernisme” yang dibuat-buat dan direka-reka, dengan alasan-alasan yang dianggap dapat melepaskan mereka daripada tugas dan kewajibanyang dibebankan Allah atasnya.

Sebaliknya, dalam lingkungan golongan angkatan tua, kaum muta-akhirah (diantaranya: yang suka menamakan dirinya “kaum muhaqiqin”) pun terdapat pula keganjilan yang serupa itu, dengan alasan-alasan dan keterangan yang kadang-kadang sebaliknya daripada pihak pertama tersebut di atas. Tetapi kedua-dua alasan tersebut semata-mata bersandarkan kepada “keduniaan” belaka. Walhasil, dalam hubungan ini inginlah kami tetap menyatakan seruan dan harapan: Carilah alasan-alasan untuk menguatkan dan menyempurnakan wajib, sepanjang ajaran Islam, dan janganlah mencari-cari dan mereka-reka alasan untuk kufur kepada Allah dan Rasul-Nya, untuk murtad dari Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s