Mungkinkah Kita Kembali dalam Sistem Islam

oleh : Muhammad Yusuf Thahiry — Imam NKA NII

Sejak Nabi Adam dan Hawa diturunkan, maka terbentang dua jalan: pertama, Jalan menuju kepada Keridhoan Allah, dan kedua, Jalan mengikuti kehendak Thogut/Syaitan. Dengan itu tidak ada yang ditengah-tengah. Hal demikian terus berlangsung sampai akhir zaman.

Perhatikan ayat – ayat berikut ini:

“Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri didalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. ”“Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.“Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh. ”. (QS. 7:13-15).

Meskipun Iblis itu sudah terang-terangan mengeluarkan pernyataannya bahwa perjuangannya bertujuan agar semua manusia akhirnya keluar dari jalan Allah dan berpijak pada jalan Thaghut, juga  oleh ayat disebutkan “Qoliilammaa tasykuruun”, sedikit yang bersukur (QS. 3:78), namun disebabkan godaan itu datangnya dari kiri-kanan, depan dan belakang yakni dalam segala aspek kehidupan (QS.7:16-17), maka tidak heran jika sebagian besar manusia terlena serta  tidak sadar telah dininabobokkan  Iblis sehingga kepemimpinan yang sesuai dengan selera Iblis-pun dijadikan ikutan !!!

Supaya tidak semua manusia terjerumus kepada kepemimpinan yang sesuai kehendak syaithan, diutuslah para nabi/rasul  untuk menandinginya, sehingga tidak semua manusia terpedaya oleh Iblis. Jadi, yang menegakkan Al-Hak pun tetap berjalan walau dalam skala kecil atau masih dalam tekanan pemerintahan Iblis atau Thagut alias syaithan dari jenis manusia ( perhatikan QS.6:112 ).

Sebuah Analisis

Apabila kita perhatikan secara mendalam proses sejarah yang terjadi pada masa lampau yang membawa akibat sampai sekarang ini, maka diketahui bahwa I’tikad sebagian besar para pengaku Islam,  setuju bilamana di Indonesia ini berlaku hukum Islam yang berkaitan dengan kenegaraan secara kaffah. Namun tampaknya kaum muslimin  posisinya terkotak- kotak sehingga  kebingungan untuk menilai mana yang sebenarnya harus diikuti.

Pada dasarnya di muka bumi ini hanya ada dua jalan (QS.90:10),  jika tidak ada pada yang haq berarti pada jalan yang sesat (dhalaalah). Namun, di sini kita menilainya dari sudut I’tikad atau niat yang ada pada hati masing-masing  di mana sudah sekian lama muslimin Indonesia terkotak-kotak dan belum ada kesatuan visi untuk satu langkah. Sebab itu  analisis ini   berdasarkan kondisi sementara Negara Islam Indonesia  sebelum de facto kembali dan belum dikenal oleh seluruh mukmin Indonesia. Oleh karena itu untuk sementara posisi ummat Islam Indonesia dikategorikan kedalam enam bagian :

Posisi  Pertama

KONDISI ISLAM YG DIKABURKAN. Kondisi demikian mengakibatkan mereka pasif. Mereka  memiliki hati yang bersih,  ikhlas,  taat beribadah sehingga siap menjalankan perintah-perintah Allah semaksimal kemampuan sesuai dengan ilmu yang mereka ketahui. Mereka setuju bila seluruh hukum Islam itu berlaku,  hanya tidak tahu bagaimana caranya. Sebab   yang mereka  tahu dan menjadi rujukan hanyalah kenyataan yang ada sehingga merasa cukup dengan kegiatan biasa.

Umumnya mereka  mengukur keikhlasan orang lain dengan  dirinya sendiri sehingga percaya bahwa  tokoh atau penguasa yang mengaku Islam dianggapnya tidak memusuhi Islam. Apa saja yang diucapkan oleh idola yang berpredikat tokoh Islam  itu yang dijadikan pegangan. Mereka tidak tahu ukuran mana kawan dan mana lawan apalagi musuh Islam. Tahunya cuma taat pada penguasa mereka sebab penguasa mereka juga dianggap sudah Islam. Dengan demikian mereka mudah dikaburkan dari pengertian Islam yang sebenarnya oleh para elit  atau para ulama yang menjadi alat pemerintah sehingga pasif tidak mencari pergerakan Islam yg benar benar berjuang untuk islam dan merasa cukup dengan keadaan ada. Kepasifan mereka hanya karena dikaburkan,  risalah yang hak  belum sampai sehingga masih dalam kegelapan. Tentu, bagi yang posisinya seperti itu bisa berubah sesuai dengan kemampuan memahami risalah yang sampai kepada mereka.

Namun,bila suatu waktu risalah kebenaran  sudah sampai kepada mereka  dan masih juga tidak merubah sikap  maka kegelapan itu akan menjadi kesesatan bagi diri mereka. Dan bisa jadi sebagaimana orang-orang yang keadaannya menganiaya diri sendiri ( QS.4 An Nisa:97).

Posisi  Kedua

ISLAM IDEAL, yang mengakibatkan mau diajak kompromi. Mereka ini tidak tinggal diam  melainkan berusaha mencari wadah perjuangan dan memilih  yang ideal sesuai kehendak  pemikirannya,  bila perlu membentuk sesuatu yang baru. Disebabkan karena yang menjadi dasar adalah ideal,  maka wadahnya  masih dalam sistem Pemerintah Republik Indonesia. Mereka  yang masuk ke wadah-wadah yang mengatasnamakan Islam dan dilegalisir oleh pemerintah RI itu bermacam-macam tujuan dan motivasinya namun  secara keseluruhan menggunakan pola ideal.

Perjuangan dengan “pola ideal” merupakan turunan dari cara yang dilakukan oleh yang tidak setuju dengan keputusan kongres Partai Syarikat Islam Indonesia tahun 1934. Mereka bekerja sama dengan partai-partai selain Islam mengharap kemerdekaan  tanpa sebuah  Negara Islam di Indonesia, namun katanya setelah itu secara pelan-pelan menuju negara diganti oleh Islam.

Pada awal diprolamirkannya NII,  7 Agustus 1949,  mereka yang berpola ideal itu memihak kepada RIS (Republik Indonesia Serikat) dari pada NII ,  sebab RIS  didukung oleh Belanda dan negara-negara Barat untuk menandingi NII,  sehingga RIS  memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dari pada NII. Golongan yang berpola ideal selalu memihak  yang dianggap lebih kuat. Perhatikan Ayat:

“(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS.4:139).

Pola pikir ideal  merupakan golongan yang berjuang sesuai dengan cara yang dianggap “cocok” bagi  dirinya. Dalam perjuangannya berpikir mana yang enak dan  tidak ada risiko ancaman fisik dari musuh  bahkan dengan cara itu kalau bisa memperoleh imbalan gaji atau tunjangan lainnya dari pemerintah yang menjegal perjuangan tegaknya Daulah Islam. Perjuangan dengan pola ideal itu berbentuk kompromi sehingga terjadi interaksi antara mereka dengan aparatur pemerintah Republik  Indonesia.

Jelasnya perjuangan dengan “pola ideal” itu ialah berjuang,  tapi menurut cara yang  dianggap enak atau kesukaannya. Firman Allah:

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh,  pastilah mereka mengikutimu,  tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah:”Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersamamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri  ; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.”(Q.S.9:42).

Secara umum orang yang memasuki posisi kedua ini ialah karena  mencari enaknya tetapi secara khusus banyak juga yang memasuki posisi kedua ini  didasari ijtihad yang diperolehnya dan belum mengetahui atau belum memahami cara perjuangan yang sesungguhnya menurut Islam. Niat dan I’tikadnya ikhlas untuk membela Islam sesuai dengan wawasan yang diperoleh dan belum mengetahui yang lain, hal itu  suatu  yang dapat dimaklumi. Tentu apabila suatu waktu datang wawasan keilmuan mengenai pemisahan antara haq dan bathil,  maka dengan keikhlasannya itu akan segera menentukan sikap. Tetapi jika  tetap  begitu  tidak komitmen kepada yang hak maka persoalannya bukan lagi keihlasan,  melainkan bisa terbawa kepada “Kamaa kafaruu fatakuunuuna sawaa-an.”(Q.S.4:89).

Posisi Ketiga

ISLAM POLA KEPUASAN,  yang mengakibatkan Emosi Temporer. Golongan yang berada dalam posisi ini sebagian berkeinginan menegakkan hukum Islam secara keseluruhan di bumi Nusantara Indonesia ini. Mereka tidak mau seperti yang berdiam diri menyerah kepada keadaan dengan mengandalkan tokoh-tokoh yang  yesmen kepada pemerintah RI.  Juga  tidak mau seperti orang orang yang kegiatannya terikat resmi tercatat dalam birokras pemerintah RI. Sebab itu umumnya mereka tidak percaya terhadap orang yang dianggap selalu kompromi dengan pemerintah RI.

Jelasnya, kegiatan mereka itu berdiri di luar organisasi resmi. Mereka tidak memiliki kepemimpinan yang resmi, umumnya merasa belum punya pemimpin. Pertemuan di antara mereka atas dasar kesetiakawanan,  bukan atas dasar tugas dari pimpinan,  karena itu kegiatan mereka pun informal dan insidental  yang umumnya sebatas informasi dan diskusi.          Walaupun kegiatan mereka itu tidak resmi,  juga tidak jelas posisi struktur kepemimpinannya,  tidak ada bawahan dan atasan dan tidak terdaftar dalam agenda birokrasi,  namun mereka itu tetap berada dalam sistem pemerintah RI,  tapi merasa “tidak puas” dengan sikap-sikap  pemerintah RI yang dianggapnya tidak sesuai dengan norma-norma Islam. Misalnya,  dekadensi moral,  kolusi, hak azasi,  korupsi dalam birokrasi, demokrasi yang dianggap tidak murni, dan soal Azas Tunggal pada zaman Suharto.

Mereka mengira bahwa hukum Islam bisa diberlakukan di Indonesia,  tanpa penggantian sistem negara  dan mengira bahwa pemerintah RI juga bisa mematuhi kehendak ummat Islam  bila ummat Islam mengajukan tuntutannya. Oleh sebab itu aktifitas mereka yang menonjol ialah menggerakkan masa untuk mengambil perhatian penguasa RI agar mengabulkan tuntutannya. Karena gerakan massa hanya sekedar protes sewaktu-waktu  dan tidak di bawah komando struktur riil  melainkan hanya didasari spontanitas,  maka kelanjutannya pun hanya merupakan emosi temporer.  Sebab  massa yang bergerak umumnya massa yang dibakar oleh hasutan-hasutan spontanitas. Gerakan massa tidak dipersiapkan dengan struktural militer untuk berperang , melainkan sekedar demontrasi. Dengan demikian sangat mudah bagi tentara Thaghut jika mau memberondong mereka.

Mereka mengadakan gerakan fisik seperti demontransi,  unjuk rasa,  atau lebih dari itu membuat kerusuhan,  semuanya cuma merupakan temporer. Mereka yang merasa berjuang   sebagai Presser Group (kelompok penekan) pemerintah RI namun akhirnya tetap saja  merupakan emosi temporer  karena dalam sistem yang sama. Walaupun terlihatnya keras  namun tindakannya itu hanya sekedar “ngambek”, yang tidak lepas dari sistem pemerintah  RI. Dengan demikian itu nilainya sama dengan dua kelompok sebelum ini yaitu  yang mengambil golongan kafir ( Kafir karena menolak hukum Allah (Q.S.5:44) ) sebagai pemimpin (lihat QS.4 An-Nisa 139).

Emosi temporer ada kalanya berlebihan dengan seolah – olah ingin berperang, tetapi jika disodorkan berperang sebenarnya dibawah komando Daulah Islamiyyah mereka menghindar dengan mencari-cari alasan (perhatikan Q.S.4 An-Nisa:77 ). Apabila yang mereka lakukan itu,  karena masih dalam kegelapan (ketidaktahuan) mengenai jalan perjuangan yang sebenarnya menurut Islam,  artinya belum sampai kepada mereka risalah kebenaran Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan 7 Agustus 1949  maka secara I’tikad dan niat mereka dapat dimaklumi. Akan tetapi  jika mereka sudah mengetahui bayyinah (penjelasan) mengenai Kebenaran NII  namun mereka  masih saja memihak pemerintah RI,  maka keadaan mereka sama halnya kamaa kafaruu fatakuunuuna sawaa-an(QS4:89). Atau bisa menjadi zhaalimii anfusihim (QS.4:97).

Posisi Keempat

ISLAM BARU DINIATKAN SEBAGAI SISTEM yang akibatnya Banyak Pimpinan. Disebut demikian sebab  bahwa sistem bernegaranya baru dalam niat, yakni mereka  mengaku sebagai warga NII (Negara Islam Indonesia),  Proklamasi 7 Agustus 1949 yang  merupakan sistem, namun  melepaskan aturannya. Artinya, tidak didasari undang-undang misalnya mengenai pengangkatan pemimpin tertingginya.  Pengangkatan pemimpin yang tidak berdasarkan undang-undang,  yakni  tidak  sesuai dengan yang tercantum dalam Qanun Asasy dan Maklumat-Maklumat Komandemen Tertinggi yang ditandatangani Imam maka mengakibatkan banyak pemimpin. Disebabkan  tanpa undang-undang berarti siapa pun merasa berhak diangkat dan mengangkat. Sebab itu tidak aneh bila dalam kondisi masih banyak yang tidak tahu aturan atau sengaja tidak mau pakai aturan,  banyak yang masih binggung yang mana pemimpin NII yang sesungguhnya.

Sebenarnya, negara pasti memakai peraturan,  artinya kalau NII tidak pakai peraturannya maka bukan NII dan bukan merupakan system bernegara. Namun secara umum mereka tetap mengaku berada dalam sistem dan tetap mengaku NII  tidak mau kalau tidak disebut NII. Sistemnya baru dalam niat  belum merupakan sistem yang sebenarnya,  karena tidak memakai aturan.

Biasanya jika munculnya pemimpin tidak didasari undang-undang  maka yang ditonjolkan figuritas yang dasar pengangkatannya ditentukan oleh bermacam-macam versi sesuai dengan kehendak masing-masing, seperti  hubungan keluarga,  keakraban, hubungan ekonomi,  jasa pribadi,  nilai prestasi dan sebagainya,  sehingga lain orang; lain pula penilaiannya serta kehendaknya. Terjadi banyak kelompok dan jalur karena rujukannya kehendak, sedangkan kehendak tidak ada batasannya, bisa berubah-ubah,  tergantung masing-masing orangnya. Maka, akan terus saja menunggu musyawarah  walau sudah berkali-kali musyawarah,  sebab musyawarahnya pun tidak didasari undang-undang.

Kalau musyawarah tidak didasari undang-undang NII, maka akibatnya siapa pun bisa bermusyawarah.  Semua bisa mengaku NII sehingga tidak ada perbedaan, mengingat yang dianggap pintar banyak, yang dianggap kaya banyak, yang dianggap tawadhu banyak, yang dianggap jujur banyak, yang dianggap berjasa banyak, yang dianggap menjadi idola masyarakat juga banyak. Semuanya itu akan banyak karena tergantung siapa yang menilainya.

Disebabkan tidak berpedoman kepada undang-undang mengenai harus bagaimana mengangkat dan bagaimana yang harus diangkat, maka pihak yang merasa tidak ikut musyawarah suatu waktu bikin lagi musyawarah,  dengan alasan tidak tahu,  tidak diajak,  dan tidak setuju atau macam-macam alasan. Selain alasan-alasan yang dikemukakan, akan ada yang bertanya:” Apa perbedaan antara mereka dengan dia atau kamu sehingga dia dan kamu tidak berhak diajak bermusyawarah?” Akibat tidak berdasarkan undang-undang melainkan perasaan serta mengabaikan nilai sejarah mengenai pihak yang sudah menyerah kepada musuh atau pihak yang tidak menyerah, maka banyak kelompok  yang masing- masing merasa berhak bermusyawarah sehingga banyak pula yang dianggap sebagai pemimpin.

Ditinjau dari sudut  I’tikad maka secara umum  mengaku sebagai NII. Akan tetapi  karena kemunculannya diawali oleh pengangkatan tanpa peraturan NII  yang mana tidak semua orang tahu akan aturan dan sejarah serta nilai hukum bagi tokoh- tokoh NII yang sudah menyerah kepada Pemerintah RI,  maka orang-orang ini tidak akan bisa menjadi warga NII yang sebenarnya  tanpa kembali kepada Qanun Azasy dan MKT(Maklumat Komandemen Tertinggi ) No.11, tahun 1959 tentang estapeta Imam NII dalam masa perang.

Untuk kembali kepada undang-undang NII akan sulit  jika tidak didasari hati yang  ikhlas karena Allah,  sebab tidak semua yang menemukan yang haq lalu menerimanya,  ada pula yang menolaknya  karena sudah merasa cukup dengan ilmu yang ada pada mereka. Perhatikan ayat  yang bunyinya:

 “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan,  mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan.”_(QS.40 Al-Mu’min:83).

Akan tetapi,  bagi yang hatinya ikhlas karena Allah,  tentu begitu datang Bayyinah,  maka segera menyambutnya,  sebab ingat kepada peringatan dari Allah l yang bunyi-Nya:

Belumkah datang waktunya bagi orang -orang yang beriman,  untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),  dan supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (Qs.57 Al-Hadid:16 ).

Posisi  Kelima

ISLAM MENURUT SISTEM YANG BENAR, menghasilkan PolaTauhid sehingga satu NII satu pimpinan. Disebut sistem karena berpijak pada Proklamasi Negara Islam Indonesia  7 Agustus 1949  yang merupakan sistem.  Posisi dalam  sistem itu bukanlah sekedar pengakuan melainkan dalam praktek yang sesungguhnya, sebab yang dijadikan dasar pengangkatan pemimpin(Imam)-nya merujuk kepada peraturan yang tercantum dalam Undang- Undang NII yaitu Qanun Azasy dan Maklumat-Maklumat Komandemen Tertinggi  diantaranya MKT. No:11 tahun 1959  tentang  estafeta kepemimpinannya.

Disebut pola tauhid karena pola perjuangannya bukan didasari ketidak kepuasan,  bukan pola ideal, serta pengangkatan pemimpinnya / Panglima Tertingginya  bukan karena pandangan ekonomi,  jasa,  turunan, kekerabatan, perasaan, kekeluargaan,  kesenioran dan sebagainya melainkan  didasari oleh nilai hukum perundang-undangan sehingga “bersatu”. Jelasnya, disebut “Pola Tauhid” karena berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta Undang-Undang NII. Rasulullah membentuk negara (pemerintahan Islam di Madinah),  membuat pula undang-undangnya. Dan ummat diwajibkan mentaatinya.

Posisi  Keenam

SISTEM ISLAM BARU RENCANA, Disebut sistem karena ingin membuat sistem dari yang sudah ada. Jadi  mereka juga ingin memisahkan diri dari sistem Pemerintah RI. Disebut  Baru Rencana karena secara hukum tidak memiliki sistem  hanya baru merencanakan. Sedangkan yang namanya baru rencana  berarti belum ada. Dengan demikian bila  keburu mati  maka masih terlibat dalam penerapan hukum-hukum kafir. Mereka yang posisinya yang seperti ini ingin menjalankan hukum-hukum Islam secara kaffah,  tetapi tidak mau dengan nama NII,  melainkan dengan nama lain, dalam arti tidak merujuk kepada NII Proklamasi 7 Agustu 1949.

Sebenarnya bagi ummat Islam di luar Indonesia memang harus merencanakan tegaknya Daulah Islam tidak merujuk kepada NII dalam arti lain kalau bukan wilayah yang sudah ada Daulah Islamiyyah. Di Indonesia ini sudah ada Daulah Islamiyyah  yakni NII  sejak tanggal 7 Agustus 1949 yang estapeta kepemimpinnannya juga terus berlangsung sesuai dengan undang-undangnya. Jadi,  apabila ada lagi yang mengadakan selain itu berarti bhughat yang berarti pemberontak terhadap NII proklamasi 7 Agustus 1949.

Negara Islam Indonesia, yang diproklamasikan tanggal 7 Agustus 1949 sudah jelas sebagai wadah penegak hukum-hukum Allah di Indonesia,  dibuktikan bukan saja oleh undang-undang  melainkan juga praktek di beberapa daerah yang pernah dikuasai secara de facto. Sehingga NII bukan merupakan rencana  melainkan  negara (wadah Ulil Amri) yang sudah jadi dan merupakan bukti kebenaran (Al Haq) yang wajib  ummat Islam Indonesia menjadi warganya. Sebab jika tidak mengikuti kebenaran yang sudah ada  berarti posisinya sedang menolak kebenaran  dan terlibat dalam kebathilan.

Perhatikan petikan hadits yang bunyinya.

“Dan siapa yang berbai’at pada suatu imam, yang telah menyanggupkan taatnya dan setia hatinya, harus ta’at jika dapat. Maka jika datang orang lain akan merebut kekuasaannya penggal leher orang yang merebut itu.” (HR. Muslim).

Bagi yang memiliki I’tikad (niat) hati yang ikhlas ingin menegakkan hukum-hukum Islam sementara posisinya masih belum mengetahui risalah penjelasan kebenaran NII proklamasi 7 Agustus 1949 dapatlah dimaklumi. Akan tetapi bila suatu waktu datang kebenaran NII dengan segala penjelasannya  sedang dirinya masih saja pada posisi itu dan tidak mau beralih kepada NII  maka termasuk golongan orang yang fasik.

Kesimpulannya bahwa sebagian umat Islam masih belum bersatu karena  belum semuanya memahami pola perjuangan Islam yang sebenarnya  berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. sehingga di antara mereka dinina-bobokkan, dipecah belah dan dimanfaatkan kekuatannya oleh musuh guna memukul kekuatan perjuangan Islam Sistem (berpola Tauhid). Meskipun I’tikad mereka benar-benar ingin menegakkan berlakunya hukum Islam secara totalitas namun jika belum memahami konsep Jihad fi Sabilillah yang sesungguhnya maka banyak pengertian ayat-ayat Al-Qur’an yang sengaja dikaburkan  oleh pihak musuh dan ‘dijualbelikan’ oleh para ulama suu’, supaya muslimin tidak bisa kembali melangkah kepada jalur perjuangan yang tepat sesuai dengan ketentuan sunnah Rasulullah.  Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s