Penilaian dan Sikap Terhadap Missi Para Nabi

Oleh : Muhammad Yusuf Thahiry — Imam / Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia

Para nabi datang bukan sekedar untuk memperkenalkan kepada manusia bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah, tetapi mengajak manusia untuk menerima kedaulatan Ilahi atas mereka, Menerima Allah sebagai Rabbun-Nas (Pencipta, Pemelihara, Pengatur dan Penata hidup manusia), Malikun-Nas (Raja dan Pemilik kerajaan yang semua manusia harus tunduk dibawah  titah-Nya, serta setia pada perintah kerajaan-Nya dan menolak setiap kekuasaan yang memberontak pada kerajaan-Nya), serta Ilahin-Nas (Pusat kecintaan dan setia, sentral pengabdian dan pengagungan).

 “Katakanlah : Aku berlindung kepada Allah Rabb manusia, Penguasa Manusia, Illahnya Manusia (Qs.114:1-3)

Para Rasul  mengajak manusia untuk menyadari bahwa manusia bukan menetap di tanah yang kosong tanpa pemilik dan tanpa aturan, tetapi mereka tinggal di wilayah kerajaan Allah. Disadari atau tidak mereka adalah penduduk Kerajaan Allah (dalam kekuasaan Allah), mereka tinggal dalam daerah wewenang kekuasaan hukum Allah, sehingga minimal mereka wajib thaat kepada aturan pemilik tanah ini, maksimal menjadi aparat yang menjamin berlangsung tertib hukum Allah di wilayah kerajaan Allah ini.

Katakanlah (wahai Nabi): Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian semua. Yakni Allah yang memiliki kuasa langit dan bumi, tidak ada Ilah (tempat menghambakan diri) kecuali Dia. Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kalian kepada Allah (Penguasa langit dan bumi itu) dan (berimanlah kepada Rasul-Nya (sebagai utusan/duta resmi Kerajaan Allah) yakni seorang Nabi yang Ummiy (Muhammad) yang diapun amat meyakini Allah dan kalimat-kalimatnya (kitab kitabnya, undang undang Kerajaan Allah tersebut). Dan ikutilah dia (Rasul sang duta resmi Kerajaan Ilahi tadi) agar engkau mendapat petunjuk.” (Qs.7:158)

Barang siapa yang telah mendengar seruan Rasul sebagai Duta Kerajaan Allah dalam ayat tersebut tetapi tetap mengikuti pimpinan kaum pembangkang yang memberontak terhadap kerajaan Allah (Thaghut), maka terlepaslah ia dari jalan hidayah dan jatuh terjerembab ke dalam jurang kesesatan.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus setiap Rasul pada tiap tiap ummat (untuk menyerukan), Mengabdilah kepada Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu. Maka diantara ummat itu ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan adapula diantaranya orang orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang orang yang mendustakan” (Qs.16:36)

Mengapa Duta Kerajaan Allah itu mengingatkan manusia untuk “mengabdi kepada Allah seraya menjauhi Thaghut?” Karena Thaghut itulah yang merupakan Duta Iblis yang sejak semula selalu mendorong manusia agar membangkang terhadap aturan Kerajaan Allah. Mereka itulah yang mencoba memalingkan manusia dari Kedaulatan Allah, dan memaksa manusia untuk thaat kepada hukum yang mereka buat.

Sadar atau tidak mereka telah memposisikan diri sebagai Rival  bagi Allah, telah menyatakan pembangkangan terhadap Kuasa Ilahi atas Bumi dan langit di dunia, mereka telah mengumumkan perlawanan bahkan perang terhadap Allah. Mereka telah melampaui batas kapasitas dirinya sebagai hamba, secara khas Quran menyebut mereka sebagai Thaghut atau orang-orang yang melampaui batas. Dari sebab itulah Nabi-nabi diturunkan untuk mengingatkan manusia untuk menjauhi dan meninggalkan para pemberontak Kerajaan Allah tadi, bahkan berdiri satu barisan untuk menggagalkan setiap upaya jahat mereka.

Manusia yang menyambut seruan ini, mereka bersegera menjadi abdi-abdi  Ilahi dan tidak bersetia kepada Thaghut, maka merekalah orang-orang yang mendapat hidayah.

“…Wahai hamba-hambaKu bertaqwalah kepadaku, dan (yaitu) orang orang yang menjauhi Thaghut, yakni tidak mengabdi kepadanya, dan kembali kepada Allah. Bagi mereka ada berita gembira. Yaitu orang orang yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti yang terbaik daripadanya. Itulah orang orang yang mendapat hidayah dari Allah, dan mereka itulah Ulul Albab.” (Qs.39:16-18)

Sedangkan mereka yang tetap menyerahkan loyalitas kepada Thaghut, mengakui sesama manusia sebagai pihak yang boleh merumuskan aturan bagi kehidupan, menobatkan mereka sebagai pemimpin tertinggi yang punya otoritas untuk memerintah di kawasan dimana mereka tinggal, menyandarkan harap dan takut kepada mereka. Maka mereka itulah orang orang yang sesat.  Perhatikanayat di bawah ini :

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang sebelum kamu ? Mereka akan berhukum kepada thogut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thogut itu. Dan syaitan bertujuan menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (Qs. 4:60)

Tidak dapat ditawar tawar lagi, bahwa melepaskan kesetiaan dari kuasa Thaghut adalah syarat syahnya iman kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya :

Tidak ada paksaan dalam Dien, sungguh telah jelas jalan yang yang lurus dari jalan yang salah. Barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs.2 : 256)

Makna ayat tersebut, tidak syah keimanan seseorang kepada Allah, sebelum dia ingkar kepada Thaghut. Bahkan di tempat lain Allah melaknat orang yang telah menerima catatan wahyu (Al Kitab) tetapi tetap beriman kepada Jibti dan Thaghut, malah dengan beraninya dia mengatakan bahwa mereka itulah yang lebih benar jalannya dari pada orang-orang yang beriman :

Tidakkah kamu memperhatikan orang orang yang diberikan sebagian dari Al Kitab ? Mereka percaya kepada Jibti dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang orang kafir, bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang orang yang beriman. Mereka itulah yang dilaknat Allah. Barangsiapa yang dilakanatAllah. Niscaya kamu sekali kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (Qs.4:51-52)

Jibti adalah kepercayaan, ideology keyakinan yang berdiri di atas landasan bathil, sedangkan Thaghut adalah wujud struktural yang melaksanakan ideology bathil tersebut. Dalam Negara Republik Indonesia, Pancasila adalah Jibti, sedangkan struktur pemerintahan yang menjadikan Pancasila sebagai dasar hukum tertinggi, yang karena mempertahankannya mereka menyatakan perang terhadap Negara Islam Indonesia, maka itulah Thaghut yang nyata, yang menjadi racun aqidah bagi ummat beriman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s