Selalu Optimis Membela Negara Islam Indonesia

Oleh : Muhammad Yusuf Thahiry  —  Imam  NKA NII

 

Sudah sekian lama perjuangan Negara Islam Indonesia mengalami banyak rintangan serta berbagai cobaan yang dialami para mujahidnya. Karena itu  wajar bila ada sebagian orang luar  NII yang merasa pesimis akan adanya kemenangan defakto bagi NII. Namun, bagi kita tetap merasa optimis. Sesuatu yang menjadi dasar bagi kita optimis, ialah karena yakin bahwa perjuangan NII merupakan satu perjuangan yang benar sesuai Al-­Qur’an dan Sunnah Nabi. Dengan kita berada di dalamnya berarti sudah bisa menjalankan tugas dari Allah, sehingga tidak punya beban di akhirat saat diminta pertanggungjawaban oleh-Nya tentang kewajiban menjalankan hukum-­hukum Allah secara total.

Jadi, memperjuangkan NII ini “bukanlah karena” akan memperoleh kemenangan secara fisik (futuh) yang dengan pasti akan dialami dalam kehidupan kita sekarang, melainkan karena keyakinan bahwa hal itu perintah dari Allah (sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnahy). Sebab, apabila tugas sudah dikerjakan, maka hasilnya diserahkan kepada Allah dan kita peroleh pahala dari-Nya.

Jelasnya, yang disebut optimis dalam hal ini ialah bebas dari beban dosa, dan adanya pahala yang abadi. Perhatikan apa yang terjadi pada ummat Nabi Nuh, mereka diperintahkan oleh Allah membuat kapal di daratan yang sangat jauh dari lautan. Jika tujuannya hanya supaya bisa menaiki kapal dan berlayar, mungkin di antara yang paling tua usianya berfikir bagaimana kalau keburu mati, atau kapan dan dari mana datangnya air. Kenyataannya pengikut Nabi Nuh tidak demikian. Melainkan, yakin bahwa setiap menjalankan perintah  Allah pasti ada jalannya. Cepat atau lambat itu bukan soal. Sebab, jika untuk kemenangan fisik atau berlayarnya kapal belum juga tercapai, sedangkan jasad keburu mati dalam menjalankan perintah Allah, maka itu juga sebagai jalan yakni mati dalam menjalankan perintah Allah. Itulah yang disebut Optimis (punya harapan), yakni “aman” di hadapan Allah ( Q.S.6 Al-An’aam:82).

Sama halnya dengan ummat pada zaman Nabi Muhammad SAW sewaktu jumlah mereka masih sedikit (beberapa orang) tentu menurut perhitungan, jumlah beberapa orang itu tidak akan bisa menguasai Makkah dan Madinah dalam tempo beberapa tahun. Sebab, selama tiga tahun berjuang baru menghasilkan tiga puluh lima orang, sedangkan usia Nabi sudah empat puluh tiga tahun. Maka, hitung saja 20 tahun dibagi 3 tahun = kira-kira 7, kemudian kali (x) 35 = 245 orang. Sedangkan pada waktu itu jumlah ummat Islam baru 35 orang, sementara  penduduk Jazirah Arab sudah dua belas juta orang. Jika selama 20 tahun tentu bukan dua belas juta lagi. Dengan itu tidak dimengerti jika dalam tempo 23 – 3 = 20 tahun akan bisa menguasai Makkah Dan Madinah.

Akan tetapi, karena tujuan pokok bagi ummat Nabi itu mengabdi kepada perintah-perintah Allah, yang memiliki semua kekuasaan, maka soal akan bisa menguasai atau tidaknya terhadap Makkah dan Madinah itu soal kedua. Sebab, seandainya tidak sempat menguasai Makkah dan Madinah pun, maka tetap mereka memiliki pahala yang besar dari Allah sehingga optimis. Suatu yang menjadi nilai di hadapan Allah bukanlah menangnya, melainkan suksesnya menghadapi ujian. Perhatikan dua ayat ini:

 “Maha suci Allah yang ditangan-Nya segala Kerajaannya, dan Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu. ”. (Qs.67:1).

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. ”. (Qs.67:2).

Ayat yang pertama (QS.67:1) menerangkan bahwa yang memiliki segala kekuasaan adalah Allah. Bila dihubungkan dengan kapan akan menangnya Negara Islam Indonesia secara dhahir / defacto sehingga hukum Islam bisa dijalankan dengan sempurna,  itu urusan Allah yang memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu. Jadi soal kapan menangnya, atau akan dialami  dirinya atau tidak bukanlah persoalan.

Ayat yang kedua (QS.67:2) menerangkan bahwa yang menjadi nilai bagi pribadi mukmin ialah kelangsungan dalam mengemban tugas berjihad dijalan Allah, walau terus menerus menghadapi berbagai ujian. Jika hal itu dikaitkan dengan perjuangan menegakkan Negara Islam Indonesia, maka bagi para mujahidnya akan tetap “optimis” meski terus menghadapi berbagai ancaman musuh dengan segala provokasinya. Sebab, hanya dengan itu saja berarti sudah memperoleh kemenangan yang hakiki, yakni memperoleh kehidupan atau kematian dengan ketabahan menghadapi berbagai ujian akibat menegakkan negara yang didasari hukum-hukum Allah.

Memperoleh ujian dalam menegakkan hukum-hukum Allah berarti juga memperoleh “nominasidari Allah untuk berlomba menentukan mana yang lebih tahan menghadapi ujian, sehingga dicatat pula mana yang lebih tinggi nilainya. Bagi yang berjihad menegakkan Daulah Islamiyah pasti menghadapi ujian (Perhatikan QS.2:155, 214).

Sebuah perumpamaan misalkan kita kerja  kuli mencangkul tanah kepunyaan konglomerat yang luasnya ribuan hektar, tentu soal bisa segera selesai atau tidak, bukanlah urusan kita sebagai tukang cangkul, melainkan urusan konglomerat yang punya modal besar. Bisa saja jika konglomerat  mau segera menyelesaikannya maka dengan tiba-tiba mendatangkan ribuan tukang cangkul. Jadi, bila dimisalkan kita tukang cangkul yang sedikit sehingga banyak yang tidak mau menjadi teman bekerja, kita tidak bingung bagaimana kalau tidak bisa menyelesaikan tanah yang luasnya sekian ribu hektar yang memang bukan kuasa kita. Sebab, yang dibutuhkan kita adalah kelangsungan menjadi pekerja dari konglomerat tanah itu sehingga mendapat upah, dan kita bekerja sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Dengan demikian,optimis memiliki jaminan darinya sekalipun kerjanya sedikit asal sesuai dengan peraturan, maka tetap memperoleh upah. Tetapi meskipun kerjanya banyak, namun bila tidak sesuai dengan kehendak konglomerat, maka bukannya diberi upah, melainkan justru mendapatkan cercaan.

Inti persoalan ialah bagaimana kerjanya,  soal kapan beres, bisa atau tidak menyelesaikan tanah yang puluhan ribu hektar, urusan konglomerat yang punya kekuasaan. Sungguh tidak tahu diri kalau tukang cangkul yang keluar dari kerjanya, karena berpikir tidak akan bisa menyelesaikan tanah yang sekian puluh ribu hektar, padahal dia itu “sekedar tukang cangkul”, sedangkan tanah yang ribuan hektar itu bukan miliknya.

Apabila dikaitkan dengan perjuangan men-defacto-kan kembali Negara Islam Indonesia,  yang menjadi optimisnya ialah karena memiliki nilai kelangsungan berjihad walau terus-menerus menghadapi ujian, sehingga sesuai dengan “liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa..” (QS.67:2).

Sehubungan dengan  nilai kelangsungan jihad,kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Khabbab ketika ia datang menemui Rasulullah dan berkata kepada beliau: “Tidakkah Engkau memintakan pertolongan bagi kami ? Tidakkah Engkau mendo’akan kami.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Adalah seorang laki-laki dari orang-orang yang hidup sebelum kalian, dibuatkan lobang galian di bumi. Lalu ia ditanam di dalamnya. Kemudian didatangkan kepadanya sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya sehingga membelah tubuhnya menjadi dua bagian, tetapi itu tidak membuatnya berpaling dari din-nya. (Ada juga) yang tubuhnya disisir dengan sisir dari besi sehingga dagingnya rontok terpisah dari tulangnya, tetapi itu semua tidak membuatnya berpaling dari Din-nya. “         

Dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan bahwa kemenangan adalah tsabat (keteguhan) dalam mempertahankan Din dan tidak menyerah walau bagaimanapun rintangan dan tantangan yang harus dihadapi.                                                                                                                                 

Seorang mukmin yang tidak menyerah, meski kepalanya digergaji sudah  tentu didahului pada dirinya tertanam rasa optimis akan memperoleh hakekat kemenangan atau keberuntungan yang nyata . Firman Allah:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Rabb-ku.” (QS. 6:15 ).

“Barangsiapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan keberuntungan yang nyata.” (QS. 6:16).

Dengan demikian kesimpulannya bahwa yang menjadi dasar bagi kita optimis memperjuangkan Negara Islam Indonesia ialah karena sesuai dengan Al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah, sehingga dengan terus membelanya tanpa menyerah berarti menjalankan tugas dari Allah supaya bebas dari beban di akhirat saat kita diminta pertanggungjawaban mengenai kewajiban menjalankan hukum-hukum Allah secara keseluruhan. Dengan keyakinan demikian, maka optimis akan memperoleh rahmat Allah di akhirat yang merupakan kemenangan sesungguhnya. Soal keberuntungan / kemenangan di dunia hal itu hak Allah, kita sekedar menjalankan tugas semaksimal daya usaha. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s