Belajar dari Masa Lalu

Oleh : Muhammad Yusuf Thahiry — Imam NKA NII

Berawal dari banyaknya komentar pada kami dan sebagian besar para “komentator” ini memberikan komentar yang positif terhadap NII walaupun keberadaan mereka banyak  di berbagai “gerakan jihad”. Agar lebih paham, kami memulainya dari “Perjalanan Masa Lalu NII” dimana NII baru diproklamirkan dan sedang gencar-gencarnya dihancurkan oleh RI sebagai Negara Boneka dan Sekutu Salibis (Pada masa itu Belanda dan sekutunya).

  1. Sekilas Masa Lalu

Sekalipun Imam awal NII S.M. Kartosoewirjo demikian telaten membina aparat dan tentaranya untuk berakhlaq Islam. Namun akibat dari situasi revolusi yang sungguh mendesak maka dalam situasi demikian, pada waktu itu Negara Islam Indonesia ditegakkan dengan beberapa keterbatasan, terutama mengenai kualitas para pejuangnya. Diantaranya kurang lebih ada lima tipe gerilyawan NII yang berjuang ditengah-tengah berkecamuknya peperangan.

Pertama, yaitu kader yang khusus sudah dipersiapkan untuk menempati posisi dan fungsi-fungsi vital dalam strukturNegara Islam Indonesia. Jauh sebelum revolusi proklamasi dikumandangkan Imam S.M. Kartosoewirjo telah menggembleng mereka dalam Institut Suffah di Malangbong. Mereka bukan hanya berani dan siap syahid untuk tugas suci ini,tetapi betul-betul berangkat dari semurni-murninya jiwa tauhid, setinggi-tinggilmu dan sepandai-pandai siasat. Siap memimpin perang, siap pula mengelola negara di saat kemenangan telah dicapai. Mampu memelihara diri dan menjadicontoh teladan bagi Mujahidin NII lainnya baik dimasa damai maupun dimasa perang. Dan merekalah yang selalu berada di front terdepan memimpin perjuangan, membangun kesadaran rakyat dalam melawan kebathilan, pada perjalanan jihad NII kader pilihan ini banyak yang memperoleh syahidnya lebih dahulu. Akibat kekurangan kader yang mengerti persisi langkah strategi perjuangan NII, akhirnya perjalanan jihad NII bisa bergeser kearah yang lain tergantung siapa yang ikut bergabung kepadanya. Imam memang terus memimpin hingga tahun 1962, tetapi pengelolaan jumlah besar dengan sedikit orang kader negarawan, membuat jalannya negara tidak lagi seperti direncanakan semula.

Kedua, pejuang yang bergabung karena kesadarannya didorong oleh ilmu yang telah dimilikinya, walaupun tidak dikader secara khusus di Institut Suffah. Sehingga rasa setianya pada NII sebatas pandangan dirinya saja, belum tentu sejalan dengan misi dan visi NII sebagaimana dicanangkan sebelum proklamasi. Dengan kesadaran ilmu yang dimilikinya, ia bersegera mendukung dan membela Negara Islam, dengan kesadarannya ia tinggalkan “Darul Kufur” Republik Indonesia, namun karena kesadaran sebatas muncul dari dirinya, apalagi disaat berkecamuknya perang, proses penyamaan visi pemikiran mujahidin NII agak sulit dilakukan.

Hal ini disebabkan tuntutan keadaan untuk mendahulukan pertahanan, berjuang menahan gempuran pasukan TNI yang terus menerus memberondong daerah-daerah basis. Waktu untuk duduk bersama, merundingkan jalannya negara, pada tingkat komandemen wilayah ke bawah relative agak sulit dilakukan. Akhirnya pasukan-pasukan TII perlahan-lahan bermetamorphosis memiliki kekhasan masing-masing tergantung latar belakang pemikiran para pejuang sebelum menggabungkan diri dengan NII.

Jejak langkah pasukan yang dipimpin komandan yang berasal dari Suffah, menjadi berbeda dengan karakter pasukan yang dipimpin oleh seorang kiayi dari sebuah pesantren yang menekankan nilai-nilai kesufian misalnya. Namun karena kesadarannya yang tulus tadi, mereka menjadi mujahid-mujahid yang tangguh membela Negara Islam. Di Jawa Tengah di antaranya ialah kiayi Ghafur Ismail. Beliau Syahid ketika mereka yang di Jawa Barat tahun 1962 sudah turun. Kiayi Ghafur tidak mau menyerah, meski bersama sanak keluarganya disergap oleh tentara Republik. Beliau kena tembak. Kemudian sesudah Syahid, maka Istrinya mengambil senjata dari Suaminya langsung menghantam musuh, tetapi kehabisan peluru, lalu Istrinya juga menjadi Syahidah. Kemudian seperti halnya juga di Jawa Barat, kiayi Khoir Affandi dari Manonjaya dirinya bergabung dengan NII hanya karena keilmuan, dan setelah turun gunung kiayi Khoir Affandi tidak merancang taktik gerilya selanjutnya untuk menggalang Negara Karunia Allah NII, tetapi membuka pesantren. Walaupun memang ruh tauhid dan ruh jihadnya demikian kental, cintanya pun pada NII tidak diragukan, namun beliau bukanlah seorang negarawan yang terus membela eksistensi Negara Islam Berjuang sebagaimana layaknya sebuah negara dipertahankan.

Ketiga, gerilyawan dan rakyat berjuang yang bergabung ketika revolusi (perang fisik) dimulai. Dalam suasana seperti ini, disaat kebutuhan akan tenaga tempur begitu mendesak, demikian juga keperluan atas rakyat yang mendukung,maka proses recruitment menjadi kurang memperhatikan unsur kualitas lagi. Saat itu siapa yang siap membantu gerilyawan, siapa yang mendukung mujahidin NII,maka dia bisa ikut berjuang bersama. Tidak lagi melihat sejauh mana kedalaman ilmunya, sedalam apa kesadarannya dan apakah mereka mengetahui tentang visi negara Islam atau tidak, karena keperluan akan tenaga demikian mendesak maka diterimalah mereka sebagai pasukan TII dan warga berjuang NII. Masalah yang timbul kemudian adalah, kesulitan memelihara kebersihan citra perjuangan NII itu sendiri, sebab akhlak ketika bertempur, baik kesabaran dan ketabahannya,atau akhlak disaat mereka berinteraksi dengan masyarakat tidaklah sama. Berbeda dengan  kader pertama yang benar-benar terdidik dengan nilai-nilai perjuangan Nabi.  Gerilyawan yang bergabung ditengah jalan ini terkadang melangkah atas dasar kemauannya sendiri dan mengabaikan akhlak tentara Islam. Dalam hal ini NII terpaksa harus memikul tanggung jawab kelompok, walaupun itu dilakukan bukan oleh kadernya, maka semua tindakan tidak disiplin mereka berakibat buruk pada citra Negara Islam.

Keempat, gerilyawan dari yang membelot dari TNI kepada TII, ketika pasukan tentara Republik kembali dari Yogyakarta menuju Jawa Barat, mereka dicegat oleh kawan-kawannya yang tidak ikut mundur ke Yogya, kepada mereka dikatakan bahwa sekarang di Jawa Barat telah diproklamasikan Negara Islam, sebagai wadah tegaknya hukum-hukum Allah secara sempurna. Mendengar itu, berbekal dorongan  hati nuraninya yang tulus maka langsung bergabung dengan TII. Misalnya Kadar Solihat seorang perwira TNI yang kemudian bergabung dengan NII, dan menjadi perwira Tentara Islam Indonesia.

Kelima, yaitu pejuang yang lahir dan tumbuh dari daerah yang berhasil dikuasai TII, meskipun mereka bukan dari daerah santri atau kiayi. Mereka pun tidak pernah menjalani masa pengkaderan, bahkan surat Al Fatihah saja banyak yang sama sekali tidak tahu artinya. Namun,karena daerahnya bisa dikuasai TII dan kemudian menjadi basis, maka lama kelamaan mengetahui tujuan Darul Islam. Bahkan tertarik dengan akhlak TII yang demikian wara, membuat mereka pun tertempa menjadi kader mujahid pula, bahkan tidak bisa dianggap sepele. Sebab  kenyataannya pada tahun 1962 bulan Juni saja dari salah satu daerah di Brebes, masih banyak laki-laki maupun perempuan ada  yang masih berangkat ke hutan bergerilya padahal sebelumnya itu sudah banyak pamflet dari pihak musuh yang isinya bahwa Darul Islam di Jawa Barat sudah cease fire. Dari itu para mujahid NII tidak semuanya menyerah kepada musuh. Itu adalah  Sunnattullah. Firman Allah :

“Di antara orang-orang mu’min ada yang menepati apa yang sudah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada (juga) yang menunggu-nunggu (apa yang Allah janjikan kepadanya) dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. AL AHZAB : 23).

Keenam, ada pula mereka yang sengaja disusupkan musuh ke dalam tubuh TII, dengan memperalat orang-orang yang telah luntur semangat jihadnya dan turun ke kota. Dari mereka yang telah turun ke kota inilah mereka memperoleh jalan masuk ke pusat pemerintahan NII, seperti yang dilakukan oleh Serma Ukon Sukandi.

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (Q.S. Al Baqoroh :204-205).

Yang lebih potensial lagi untuk menghancurkan dukungan rakyat muslim terhadap perjuangan  Islam yang dilakukan para mujahid ini  adalah adanya pasukan liar yang sengaja menggunakan tanda-tanda pengenal TII, kemudian melakukan aksi-aksi brutalnya membunuhi setiap ulama yang mendukung  perjuangan NII, merampok dan membakar rumah-rumah penduduk  yang dicurigai memihak pada Darul Islam dan merusak kehormatan wanita-wanita mereka.  Dengan didukung oleh mass media yang memang dikuasai pemerintah Republik Indonesia, maka bermuncullah kabar-kabar buruk mengenai Darul Islam seperti disebut gerombolan, perampok bahkan DI diidentikkan dengan Duruk Imah (bahasa Sunda yang artinya Bakar Rumah).Guna memecah belah barisan TII atau supaya sebagiannya meninggalkan perjuangan  dilakukan pula kasak kusuk berupa fitnahan seperti halnya menuduh Imam S.M.Kartosoewiryo berbuat musyrik dan sebagainya. Jelasnya, segala yang dianggap bisa menghancurkan perjuangan NII telah dilakukan pihak musuh.

Namun demikian, betapapun  kejinya fitnah yang dilemparkan pihak-pihak yang membenci mereka. NII sebagai wadah Al-Haq di Indonesia maka jelas estapeta kepemimpinannya tetap berlanjut.

FirmanAllah :

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Q.S.Yunus : 103).

  1. Beberapa Motivasi Pihak Lawan yang Kemudian Menjadi TII :
  1. Karena keyakinan bahwa pihak TII (Tentara Islam Indonesia) itulah yang berada pada pihak Al-Haq, maka masuk menjadi TII dengan ikhlas.
  2. Hanya karena merasa pihak TII yang bakal memperoleh dukungan rakyat Jawa Barat. Mereka masuk TII dengan harapan yang bersifat duniawi semata. Dengan demikian manakala TII menjadi pihak yang terdesak, maka mereka desersi dari TII.
  3. Masuk menjadi TII, sebagai infiltrasi untuk menghancurkan NII dari dalam. Hal itu berlanjut hingga tahun 1962. Dengan demikian diantara mereka yang turun menyerah diantaranya para infiltran dari pihak musuh, dan tidak diketahui oleh para mujahidin NII asli.

Sebagian besar dari para tokoh TII yang menyerah mereka berjanji akan setia kepada pemerintah RI. Hal itu diakui oleh Zaenal Abidin ketika sebagai saksi terhadap Sukana Fahrurozi. “Setelah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, saksi mengatakan pernah ada pertemuan kembali antara bekas anggota DI/TII di Aula Kodam VI  Siliwangi. Pertemuan itu menghasilkan ikrar bersama yang menyatakan a.l. mereka tidak akan kembali ke jalan yang sesat” (PikiranRakyat 19 Maret 1982). Menjelang Tahun 1968 banyak dari generasi muda mujahidin NII, yang mengajak orang tua mereka, atau sebagian dari para tokoh ex TII kembali berjihad menyusun kekuatan. Banyak diantara mereka menerima dengan ikhlas, tapi ada juga yang pada mulanya terpaksa. Zaenal Abidin  mengakui dalam kesaksiannya. “Semula menurut saksi, dirinya tidak menyetujui  terhadap gerakan NII maupun diangkat sebagai sesepuh sebab tahun 1962 saksi telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan berikrar di Kodam VI Siliwangi. Dalam ikrar ini dinyatakan, tidak akan melakukan gerakan illegal secara kekerasan dan telah bertobat dari perbuatan yang sesat. Namun dalam keadaan terdesak dan takut adanya hukum yang berlaku (hukum bunuh) maka saksi mau menerima pengangkatan sebagai sesepuh guna melanjutkan perjuangan mendirikan NII.” (Pikiran Rakyat 1 April 1982)

Sungguh sukar untuk mengetahui mana mujahid asli dan mana yang disusupkan oleh pihak thogut sewaktu masih di medan tempur. Hal itu berlanjut meski TII secara fisik dianggap  lumpuh total. Disebabkan para pelanjut perjuangan NII tidak  mengenal mana mujahid yang asli dan mana yang palsu, maka hal itu tercium pula oleh pihak musuh. Dengan demikian tidak mengherankan bahwa pada tanggal 24 April 1971 para sesepuh ex. DI/TII yang berjumlah 250 (dua ratus lima puluh) orang berkumpul di kediaman DanuMuhammad Hasan, jalan Situ Aksan, Kotamadya Bandung, dengan pernyataan mendukung Golkar, dan dipimpin oleh aparat RI, Kolonel Pitut Soeharto sebagai tangan kanan dari Ali Murtopo, yang tugasnya di BAKIN (Badan Koordinasi Intelejen).Kemudian sekitar tahun 1976, kurang lebih 250 (dua ratus lima puluh) orang tokoh ex. DI/TII dari seluruh pulau Jawa berkumpul telah mengadakan pertemuan di Kantor KOLOGDAM VI SILIWANGI, Kotamadya Bandung,yang diperintahkan langsung dan dipimpin oleh MAY. JENDERAL HIMAWAN SUTANTO (PANGDAM VI SILIWANGI) dengan sarana pihak militer RI. Sedangkan rumah Danu Muhammad Hasan hanyalah sebagai tempat antar dan jemput kendaraan saja,tempat menyimpan pakaian-pakaian untuk ganti bagi yang menghadiri pertemuan. Selanjutnya sekitar tahun 1977 di kediaman Danu Muhammad Hasan berkumpul pula sejumlah 12 (dua belas) orang yang diperintahkan oleh LET. JENDERAL ALIMURTOPO, dengan  melalui kolonel Pitut Suharto. (Mia Rasyid Ibrahim, NOTA PEMBELAAN, di PN. Bandung, 25 Mei 1982).

Bisa saja ada pikiran dalam benak sebagian mujahidin NII bahwa hal seperti di atas itu adalah kesempatan memanfaatkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan sekalipun dari musuh atau bekas musuh, tetapi bisa juga sebaliknya, yakni pihak musuh yang paling bisa memanfaatkan, sehingga banyak langkah mujahidin NII yang tidak sesuai dengan Akhlakul Karimah, berantakan dari perjuangan NII yang sebenarnya, dan hampir tidak sadar jika hal itu akibat kendali musuh.

Sudahmenjadi kenyataan kepala BAKIN pusat, “Ali Murtopo memanfaatkan sementara kekuatan-kekuatan bekas Permesta dan bekas DI TII dengan pelbagai pendekatan termasuk insentif material. Inilah taktik Ali dalam memupuk kekuatan-kekuatan demi kepentingan politiknya.”(Heru Cahyono, Pangkokamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74. Pustaka Sinar Harapan, Cet. Pertama,halaman 92).

Dengan demikian tidak heran bila dikemudian hari banyak tindakan-tindakan janggal/negative yang mengatasnamakan NII. Sehingga mencoreng nama Negara Islam Indonesia. Maka, jelas itu adalah hasil dari usaha pihak lawan guna mencoreng nama NII. Namun, hal itu menunjukkan banyaknya kelemahan dari pihak mujahidin NII yang harus dibenahi. Mungkin saja dari belum adanya klarifikasi dari mereka yang Ikrar Bersama 1 Agustus 1962 kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi serta menyesali perjuangannya dalam NII. Atau juga mungkin karena Imam yang diangkat mereka pada tahun 1973 itu ialah Daud Beureh yang sudah naturalisasi, kembali kepada pemerintah RI atau menyerah, “Tengku Beureh, 9 Mei 1962, akhirnya turun gunung. (Tempo,20 Juni 1987, halaman 21) Sehingga siapapun yang menjadi estapeta darinya adalah illegal, alias dalam ganjalan hukum. Tapi yang jelas lihat petikan ayat yang bunyinya :

“…Allah tidak akan memberi peluang kepada orang-orang yang kafir untuk mencelakakan orang-orang yang beriman”. (Q.S. An Nisa : 141).

Camkanlah,  bagaimanapun keadaannya maka Imam S.M.Kartosoewirjo beserta para mujahid awal lainnya sudah berhasil mendirikan negara dengan seperangkat perundang-undangannya yang menjadi landasan hokum bagi sebuah negara yang sah didalam ketatanegaraan. Adapun kemenangan  secara de fakto belum juga terasa oleh kita (generasi sekarang) maka bukanlah  berarti perjuangan para mujahidin NII tersebut itu gagal.

Perjuangan Negara Islam Indonesia sama sekali tidak gagal,melainkan sudah berhasil yakni keberadaannya  memiliki nilai hukum untuk terus  berlanjut dan bisa diteruskan perjuangannya sesuai dengan peraturannya. S. M.Kartosoewirjo beserta mujahidin NII  lainnya bisa diibaratkan mereka yang telah  membangun sebuah gedung di atas tanah yang sudah memiliki sertifikat resmi, tentu meskipun pembangunannya belum selesai, namun dengan kepemilikan yang sah itu bisa dilanjutkan oleh para ahli warisnya, dan tentu juga bisanya disebut sebagai ahli warisnya jika memiliki legalitas dari para pewaris, yaitu selain mereka tidak pernah mengingkari dari kepemilikannya, juga mempunyai nilai hokum yang menyambung dengan para pendiri bangunan tersebut. Adapun soal  adanya beberapa kekurangan, hal itu kewajiban para ahli waris yang wajib semaksimal usaha dalam menyempurnakannya. Jadi, yang pokok bahwa keberhasilan perjuangan para pendirinya itu ialah sudah memiliki sertifikat sehingga untuk pengembangannya bisa dilanjutkan oleh para ahli warisnya.

Sama halnya dengan NII dalam perjuangannya yang telah menghadapi banyak hambatan disebabkan faktor kekurangan sumber daya para pelanjutnya maka tidak bisa berhenti karenanya. Sebab,bagi para pejuang yang mengharapkan Ridha Allah senantiasa meningkatkan perbaikan serta meninggalkan kekeliruannya pada masa silam. Kesalahan dalam segala hal bisa terjadi kepada para pejuang NII karena keterbatasannya. Sehubungan dengan itu perhatikan ayat yang bunyinya :

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera,maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisa : 17).

Catatan: Sekali lagi apabila ada penyebutan nama tokoh NII yang bisa menyebabkan tersinggung baik dari pribadi tersebut, keluarganya maupun pengikutnya maka kami mohon maaf dan tidak ada maksud  apa-apa, apalagi maksud membuka aib, naudzu billah. Sekali lagi ini adalah pelajaran bagi kita sebagai generasi selanjutnya. Bukankah Allah juga menceritakan misi Rasul-Rasul-Nya ada yang sukses ada yang tidak, ada yang taat dan ada yang membangkang tidak lain sebagai pelajaran buat orang beriman dan tidak menjadikan Dia berkurang keagungan dan kekuasaan-Nya.

Hanya kepada Allah kita berlindung dan memohonkan tolong, semoga hati kita semua ditetapkanNya dalam mempertahankan Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia, dan ditepatkanNya janji-janjiNya kepada hamba hamba yang semata mata kehidupannya hanyalah untuk mencari ridhaNya. Insya Allah, Amin Ya mujibu sailin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s