Fitnah dan Isu yang Dilemparkan pada Negara Islam Indonesia

Oleh : Muhammad Yusuf Thahiry — Imam NKA NII

Timbul isyu dikalangan muslimin bahwa diantara mereka yang mengaku sebagai pejuang NII yang menyepelekan urusan syari’ah, seperti melalaikan shalat, bahkan ada yang tidak mewajibkan shalat sama sekali dengan alasan bahwa sekarang masih di kurun Makkah. Begitu juga dengan menutup aurat (berbusana muslimah), sebagian mereka melarang isterinya menutup aurat karena dianggapnya belum wajib.  Dengan isyu tersebut kami memberikan penjelasan bahwa Negara Islam Indonesia diproklamirkan sebagai wadah pelaksanaan hukum Islam, tempat dimana Islam dijadikan dasar segala sesuatu bagi negara dimana Al Quran dan hadits  shahih dijadikan hukum tertinggi.  Hal ini jelas termuat dalam Qanun Asasi Negara Islam Indonesia. Jadi apabila ada orang yang mengaku sebagai warga NII tetapi meremehkan syari’at apalagi sampai menganggap shalat tidak wajib maka orang tersebut bukan saja keluar dari pangkuan Negara Islam Indonesia namun bahkan telah keluar dari Islam sama sekali.

Dengan ini kami menegaskan kepada pembaca dimanapun berada bahwa kami  pihak Negara Islam Indonesia berlepas diri dari pengakuan palsu mereka yang busuk hati, kotor lidah dan bengkok prilaku yang lisannya mengaku warga NII tetapi amal dan perbuatannya bertentangan dengan hukum- hukum dasar dan Undang Undang NII itu sendiri. Ketahuilah dalam Tuntunan IV pasal 24 (Kitab Undang Undang Hukum Pidana Negara Islam Indonesia), tentang tarikush’shalat (Orang yang meninggalkan shalat) tertera sebagai berikut :

  1. Siapa yang meninggalkan shalat dengan beri’tiqad tidak mewajibkan salat, dijatuhi hukuman sebagaimana yang termaktub dalam pasal 23 ayat 1,2, dan 3. (diperlakukan sebagai orang yang murtad dari Al Islam)
  2. Siapa yang sengaja meninggalkan shalat dengan beri’tikad bahwa shalat itu tidak wajib, maka Imam wajib memerintahkan shalat.
  3. Jika ia tidak mau menurut, ia dijatuhi hukuman berat (hukuman mati).
  4. Orang yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur, tidak ada hukumannya, hanya diwajibkan membayar shalatnya (sholat segera setelah dia ingat -pen).
  5. Orang ‘abid (budak belian—tawanan perang dari fron Darul Kuffar – pen.) hukumannya setengah hukuman orang merdeka.

Kalimat-kalimat dalam pasal di atas dengan jelas menerangkan bahwa  seorang muslim yang meninggalkan shalat, tidak boleh dibiarkan terus berkoar mengaku berjuang atas nama NII, bahkan keberadaan dirinya  berada dalam posisi wajib bertaubat dengan segera shalat sebelum habis waktunya. Dan apabila NII dalam keadaan de facto, hukum bisa berjalan dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurnanya dalam negara merdeka, tentu orang begini bukan dibiarkan dan diakui perjuangannya, bahkan bila tetap tidak mau bertaubat mereka harus dihukum mati !!!

Alasan mereka bahwa shalat baru diwajibkan di Madinah adalah bohong dan tertolak di hadapan  sejarah. Rasulullah dan para sahabat sudah melaksanakan shalat sejak kurun Makkah walaupun dilakukan dengan cara sembunyi – sembunyi.  NII tidak menganut sistem periodisasi mengenai ibadah mahdhah Makkah – Madinah yang kemudian berdampak pada pengkotak kotakan hukum Islam.  Di dalam Negara Islam Indonesia semua hukum Islam wajib dilaksanakan dan kami berjuang bukan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (karena sudah berdiri/di proklamasikan sejak tahun 1949 ), tetapi kami berjuang dengan keras agar seluruh hukum Islam dijalankan dan bisa berjalan dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurnanya. Barang siapa yang tidak berkeyakinan demikian maka dia tertolak sebagai Warga Negara Berjuang Negara Islam Indonesia.

Kewajiban shalat sudah diperintah langsung oleh Allah, dan jelas ayatnya. Tidak perlu nunggu perintah pemimpin. Begitu pula ibadah mahdah lainnya sudah jelas nashnya dan wajib dikerjakan semaksimal kemampuan. Perhatikan petikan ayat (QS.64:16):

”Maka bertakwalah kamu kepada Allah sepenuh kemampuan…”.

Petikan ayat di atas menjelaskan bahwa ukuran dalam mengerjakan perintah-perintah  Allah  ialah dengan semaksimalnya usaha dalam mengerjakannya. Contohnya  mengenai shalat, jika tidak bisa dengan berdiri. boleh dengan duduk, jika tidak bisa dengan duduk, boleh dengan berbaring, bila dengan berbaring kemudian tidak bisa membaca Al-Fatihah, boleh cukup dengan takbir, jika tidak bisa mengucapkan takbir, boleh mengucapkannya di hati saja. Tegasnya, kewajiban menjalankan shalat tidak hapus selama mata masih terbuka  dan tidak gila (hilang ingatan) atau tidak pikun. Oleh karena itu diperjalanan diutamakan Qashar dan juga tidak ada air bisa bertayamum sesuai dengan kondisinya.      Syari’at Islam sudah menentukan kewajiban shalat sekalipun di dalam kendaraan, caranya pun disesuaikan dengan bentuk, sifat dan kondisi kendaraan. Dengan demikian kewajiban shalat bukan ditentukan oleh periode Makkah atau Madinah melainkan ditentukan oleh baligh dan sadarnya ingatan dan caranya dilakukan dengan sepenuh kemampuan. Jadi seandainya sekalipun anda sedang dirantai sambil dibaringkan oleh musuh, anda tetap diwajibkan shalat, gerakan dan apa yang dibaca menurut kemampuan.  Jika tidak demikian untuk apa Allah dan Rasulnya menentukan tata-cara melakukan shalat dalam segala kondisinya! Demikianlah makna ayat : “ Dan bertaqwalah kamu kepada Allah dengan  sepenuh ( sehabis-habisnya daya) kemampuan;…”  (QS.64:16).

Dalam Islam menjalankan perintah Allah ada yang tidak bisa dikerjakan secara sendirian melainkan harus bersama-sama misalnya  hukum pidana Had, Qishos dan Rajam atau yang berkaitan dengan kenegaraan lainnya. Untuk menjalankannya harus memiliki syarat adanya pemimpin dan adanya power (kekuatan) sehingga wilayah dikuasai secara de  facto.Artinya sekalipun  ada pemimpin tetapi jika belum ada kekuatan  untuk menjalankan hukum-hukum tersebut karena wilayahnya dirampas musuh maka kita dimaafkan Allah. Sedangkan untuk melakukan shalat  atau menutup aurat bagi wanita yang  sudah mukallaf  tidak mesti menunggu perintah Imam sebab ibadah demikian bisa dikerjakan sendirian tidak perlu  hakim atau pengawal dan tidak ada yang bisa menghalangi shalat, juga tidak ada yang bisa memaksa  membuka jilbab sekalipun di negeri Yahudi Israel Yahudi. Isteri-isteri para Thagut di Indonesia juga banyak yang memakai jilbab dan seandainya dilarang apakah anda mau diam saja?

Rasulullah sudah menyatakan bahwa bumi ini suci dan sebagai masjid (tempat sujud).  Allah juga menyatakan bahwa bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh.  Oleh karena itu sungguh merupakan bisikan syaithan jika berpendapat  shalat belum wajib dengan alasan berada di wilayah yang dikuasai musuh! Apakah  muslimin yang berada di negeri Habsyi (keristen) pada waktu Nabi di Makkah  mereka tidak shalat? Perhatikan sejarah bagaimana wawancara kaum muslimin di Istana Raja Habsyi.  Apakah juga para tawanan muslimin yang dibawa ke wilayah Imperium Romawi tidak melakukan Shalat?  Sedang berperang saja diwajibkan shalat. Begitu pula saat sakit juga diwajibkan shalat walaupun sambil berbaring dengan bacaan semampunya.

Oleh sebab itu kembalilah kepada ayat Qur’an dan Sunnah, jangan sampai terkena bisikan-bisikan yang menyesatkan! Kami mengingatkan hal di atas karena ada banyak berita mengenai orang yang mengaku warga NII, tetapi tidak shalat.

            Syaithan menggoda tidak terpusat pada satu arah sebagaimana disebutkan dalam ayat : ”Kemudian aku akan mengecohkan  mereka dengan mendatanginya dari muka, dari belakang, dari kanan dan kiri. Dan Engkau tidak akan menemui lagi kebanyakan mereka sebagai  golongan orang-orang yang bersyukur.” (QS.7Al-A’raaf:17). Bila syaithan sudah tidak mampu  menggoda seseorang dari  jihadnya juga pengorbanan hartanya, maka syaithan berusaha terus menggoda dari sisi lain misalnya berzina. Apabila dari sisi berzina tidak bisa, menggoda lagi dari segi shalat. Mula-mula orang itu disibukkan dengan pekerjaan, kemudian shalatnya ditunda- tunda, lama-lama timbul dalam pikirannya biarlah sekali-sekali tertinggal, barangkali akan tertebus dengan jihad dan menginfakkan harta. Padahal bila shalat sudah ditinggalkan maka syaithan bergembira sebab sudah berhasil dalam usaha menggodanya.  Ingatlah!!!  bagi syaithan bukan  soal lama atau tidaknya seseorang di neraka tetapi yang  penting targetnya tercapai. Yakni, manusia masuk neraka (Perhatikan QS.35:6). Dalam hal itu tidak disebutkan berapa tahun  lamanya di Neraka!

Akan tetapi karena syaithan itu memang pintar supaya manusia menyepelekan panasnya api neraka, maka mereka membuat lagi argumentasi, “Yaah, menurut keterangan juga, selama masih mengaku Islam,  pada akhirnya akan diampuni Allah, dan  akan dicabut dari neraka?”. Sehingga godaan syaithan itu menghasilkan manusia yang menantang neraka, padahal ketika terkena korek api saja ia sudah kesakitan!  Atau dirinya lupa apabila melakukan pelanggaran kemudian  dipanggil  pihak berwajib–  yang baru saja merupakan manusia — jantungnya sudah berdebar-debar dan keringat dingin keluar, padahal itu belum sampai satu detik dibanding di neraka. Ia dilupakan syaithan bahwa satu hari di neraka  sama dengan seribu tahun lamanya di dunia (QS.22 Al-Hajj:47).

Jika tidak tergoda syaithan tentu ia yakin bahwa dengan meninggalkan shalat berarti akan menghancurkan semua amalannya. Akan tetapi, disebabkan karena yang tergoda oleh setan bukan hanya satu orang melainkan banyak orang, maka begitu berkumpul pada diri masing-masing bertanya, “Kok bisa kompak sudah hampir habis waktunya shalat masih juga tidak ada yang mengingatkan untuk shalat? Apa orang-orang pada lupa? Biarlah aku juga mau pura-pura lupa”.  Begitu bubar, waktu shalat sudah habis,  tiba- tiba ada seorang yang memang sudah lama jadi syaithan dari jenis manusia menyela, “ Wah, semuanya lupa shalat yaa ?” Disebabkan tidak ada yang menjawab dengan sungguh-sungguh,  si syaithan punya kesempatan  memperhebat bisikan-bisikannya dengan ungkapan, “Memang dalam kondisi Makkah ini belum waktunya shalat”. Nah, yang sebelumnya sekedar malas shalat, tetapi setelah melihat kawannya juga sama serta adanya ungkapan kata berpeluang untuk tidak shalat kemudian bukan lagi karena malas melainkan sengaja  meninggalkan shalat. Begitulah syaithan menggoda.

Jika bukan Syaithan  yang menggoda,pasti tidak akan mencari-cari alasan untuk meninggalkan shalat. Sebab, jelas hokum dan jelas ayatnya. “Pada masa-masa pertama dari dakwah Nabi. suatu hari Abu Thalib melihat anaknya, Ali, shalat dengan sembunyi-sembunyi di belakang Rasululah.”. Abu Jahal beserta konco-konconya telah berunding untuk melemparkan kotoran sembelihan binatang yang sudah busuk di atas kepala Nabi. “ Maka ketika itu juga datanglah Uqbah bin Abi Mua’ith dengan membawa kotoran binatang yang sudah lama (busuk). Maka ketika Nabi sedang bersujud dalam shalatnya, dengan segera kotoran itu dilemparkan ke atas kepala beliau.”  “Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Nabi dan para sahabatnya apabila hendak melakukan shalat, pergi ke lorong-lorong bukit agar tidak terlihat oleh kaum mereka”.  Jelas Rasululah melakukan shalat sewaktu masih di Makkah.  Adapun shalat yang lima waktu diwajibkannya sesudah Isra’.’ Dan itu juga di Makkah.

Ada kesengajaan dari pihak musuh yang berusaha  merusak nama baik NII. Dalam hal ini kami menyerukan  kepada para mujahid untuk berhati-hati dan merapatkan barisan.  Jangan khawatir,  sebab, Sunnattullah pasti terjadi. Dalam Qur’an ada surat ke-63 khusus membahas orang-orang munafik yakni surat  Al-Munafiquun yang menjelaskan orang munafik selalu ada.

Jelasnya NII tidak menganut prinsip Makkah – Madinah untuk memisah –misahkan mana yang wajib dan mana yang belum wajib. Al- Quran adalah pedoman final untuk menetapkan suatu  yang wajib tetap wajib hingga Hari Kiamat, demikian pula yang haram tidak berubah, tetap haram di zaman apapun. Titik tolak perjuangan NII adalah melakukan Revolusi Islam sehingga  suasana, keadaan dan tempat wilayah Negara Islam Indonesia stabil dan aman untuk terlaksananya hukum Islam secara luas dan sempurna. Jadi sejak dulu pun (sejak 14 abad lalu), seluruh syari’at Islam sudah wajib dilaksanakan, hanya keterbatasan kemampuan manusialah yang menyebabkan  hukum tersebut terlambat dilaksanakan.

Sementara masalah shalat tidak harus menunggu aman dan stabil seperti pelaksanaan hukum Jinayah. Dalam keadaan apapun bahkan ketika sedang terancam sekalipun shalat tetap wajib di laksanakan. Bukankah kita mengenal shalat khauf, shalat jama’-qashar, shalat bagi orang yang sakit. Ini menunjukkan bahwa shalat mutlak mesti dilakukan oleh setiap mukallaf keadaan dan situasi apapun.

Pada jaman Rasulullah, dalam keadaan apapun tetap dilaksanakan. Sehingga tidak logis kalau untuk shalat saja harus menunggu Daulah Islamiyah berjaya dulu. Sekali lagi kami tegaskan bahwa Revolusi Islam yang kita lakukan adalah perjuangan suci melaksanakan seluruh perintah Ilahi. Mengapa itu dilakukan ? Karena kita meyakini kewajiban untuk melaksanakannya!  ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s