Furqan di Indonesia, Sebagai Renungan

Oleh : Muhammad Yusuf Thahiry —  Imam NKA NII

Teringat akan sejarah perjuangan Rasulullah Saw pada permulaan beliau di utus sebagai Rasul. Hal itu dimulai dengan silaturahim dari seorang keseorang. Menyampaikan risalah Allah melalui cara sedemikian itu beliau tidak terlebih dahulu meminta izin kepada pihak Abu Jahal dan sebangsanya. Dengan demikian, maka segala kalimat mengenai ajaran yang diterima oleh umat dikala itu sama sekali tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur dari kekuatan luar Islam. Artinya, bukan hasil sensor pemerintah musyrik.

Memang, sudah kita sadari, bahwasanya yang telah dilakukan oleh sebagian yang telah mengaku sebagai umat Islam pada abad sekarang ini pada umumnya telah banyak hal yang berbeda dengan yang dilakukan oleh umat pada masa Nabi Saw. Mereka yang menjadi mu’minin pada masa hayatnya beliau SAW didahului dengan pengertian tentang ajaran Islam, baru kemudiannya masuk Islam. Sebaliknya, dewasa ini banyak yang mengaku sebagai orang Islam sedangkan mereka itu banyak yang belum memiliki pengertian mengenai ajarannya.

Meskipun demikian, tidak berarti kita menutup mata bila dewasa ini telah banyak perguruan tinggi yang beridentitas Islam. Atau juga banyak yang berpredikat sarjana beridentitas muslim. Namun, toh dalam pada hal itu kita tidak dapat memejamkan mata pula dari kenyataan, bahwasanya dari sekian banyak yang telah disampaikan oleh sebagian mereka itu diantaranya ada pula yang tidak lepas dari penelitian serta saringan dari pihak pemerintah non-Islam. Sehingga banyak pemuka yang bungkam untuk tidak mengemukakan aqidah Islam yang sebenarnya, khawatir dikuntit intel-intel pemerintah yang menjegal berlakunya hukum- hukum Islam secara sempurna.

Akibat keterpaksaan atau mungkin kehati-hatian, maka secara sengaja atau tidak, timbullah pengkaburan terhadap pengertian dari beberapa ayat Al-Qur’an serta Hadist  agar tidak merugikan sang penguasa. Boleh mengemukakan tentang Islam, asal yang dianggap tidak bakal mengacak-acak Ideologi mereka. Nyata, proses seperti itu menyebabkan kesukaran bagi sebagian mu’min untuk memperoleh pemahaman aqidah perjuangan yang sebenarnya.

Mudah dipahami, bahwa yang menjadi kesulitan menjalankan undang-undang Islam pada masa kini adalah karena terhalang oleh kekuasaan kafirin. Maka, bukanlah keanehan bila dalam keadaan itu selalu ada yang mengemukakan dalil Al-Qur’an dengan tidak memperhatikan penempatan ayat-ayatnya, mana yang periode Makkah dan mana yang Madinah. Bahkan lebih dari itu penyalahgunaan dalil Al-Qur’an dan Hadist guna kepentingan tertentu.Sehingga dalil-dalil itu supaya mengikuti zaman.

Kejadian diatas itu mungkin saja karena terpisahkan oleh lamanya zaman atau disebabkan berhasilnya kekuatan politik dari pihak luar Islam yang telah berusaha mempersempit serta menyelewengkan nilai-nilai Islam dari yang sesungguhnya. Atau juga disebabkan adanya kelemahan dari sebagian umat Islam itu sendiri. Yang jelas, umat Islam pada umumnya telah lama hidup di bawah kekuatan pihak yang anti hukum Islam secara keseluruhan. Sehingga dengan perang dinginnya musuh itu sempat mengobrak-abrik, memporakporandakan sel-sel konsepsi perjuangan Islam agar terlepas dari rangkuman umatnya.

Dikarenakan kekalahan semacam itu cukup lama mencekam umat Islam, sebutkan saja kita di Indonesia ini, maka tidak ayal lagi bila diantaranya didapat yang berkecil hati (pesimis). Beranggapan bahwa hukum Al-Qur’an itu tidak akan dapat dilaksanakan seluruhnya, dengan dalih, perobahan zaman sehingga tidak ada jalan selain menerima kenyataan. Disamping itu mungkin bahwa adanya anggapan sedemikian itu, karena belum memiliki pengertian mengenai cara perjuangan menurut ketentuan syariat yang sebenarnya. Melainkan, terpedaya oleh metode yang dibuat pihak luar, yang senantiasa membingungkan,  tiada arah yang pasti. Yang dilihatnya hanyalah organ-organ yang dimiliki musuh.

Memang, dibalik kelemahan seperti diatas itu masih didapat yang giat menelaah lembaran sejarah kehebatan perjuangan umat pada masa Nabi dan Khalifah sesudahnya. Juga, tidak sedikit yang suka mengungkapkan rentetan ayat jihad, menyadari adanya kewajiban berkorban dalam menegakkan kalimat Allah. Namun, sayang diantara semuanya itu didapat yang seakan-akan belum mengarah pada sasaran yang semestinya. Misalnya sebagai berikut :

  1. Bahwasanya berhijrah serta berperang mempertahankan yang haq itu adalah wajib, tetapi belum paham bagaimana caranya berhijrah yang harus dilakukan dewasa ini. Dan bilakah waktunya berperang. Pun mana dan siapa yang harus diperangi.
  2. Adanya kewajiban mempunyai “Furqon”. Yaitu pemisahan yang hak dari yang bathil, tetapi tidak bertanya pada diri (introspeksi) sudahkah diri memisahkannya (?)
  3. Memahami kewajiban ta’at terhadap ulil amri, namun belum paham tentang ulil amri yang bagaimanakah semestinya dita’ati.
  4. Keharusan berwaspada terhadap musuh Islam. Namun, belum paham yang bagaimanakah sebenarnya musuh itu. Bagaimana ciri-cirinya dan apa pula yang menjadi pemisahnya. Yang lambat laun dengan tidak disadari lagi, musuh itu telah dianggap sebagai kawan. Sedang yang seharusnya dijadikan kawan, malah dijadikan lawan. Kekeliruan itu telah dimanfaatkan pihak musuh. Yang akhirnya mengakibatkan kekalahan fisik bagi kita.

Seiring dengan uraian diatas itu, maka bila ada di antara para pembaca, masih ada yang mengeluh, selalu mengungkit-ungkit kekalahan fisik pada masa lalu untuk itu alangkah baiknya bertanya pada diri sendiri. Apakah pada masa-masa itu diri berada dipihak umat yang dianggap kalah, atau pada waktu itu anda hanya sebagai penonton  ? atau juga telah ikut menghantamnya, karena diri belum dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil hingga terlibat dalam kebathilan ? dengan pertanyaan-pertanyaan sedemikian itu, tentu akan tahu siapa sebenarnya diri pada masa itu. Dan siapa yang sesungguhnya telah bersalah ? siapa pula yang pada hakekatnya mengalami kekalahan menurut tinjauan aqidah Islam ?

“Perang Uhud” yang dipimpin Nabi, telah mengalami kekalahan fisik. Dicatat oleh sejarah karena ketidak disiplinan beberapa puluh prajurit. Faktor lain, karena adanya serbuan pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid. Akan tetapi, setelah Khalid  menyadari mengenai mana yang hak dan mana yang bathil, maka yang dilakukan olehnya itu bukanlah mengeluh atau terus mencela terhadap muslimin yang pernah terjun di medan Uhud. Melainkan, Khalid bin Walid itu menebus tingkah lakunya yang lampau itu dengan berusaha keras memperkuat barisan Islam. Juga, bertekad ingin mati dibunuh oleh musuh. Dengan berkali-kali memimpin perang.

Kembali pada point-point diatas tadi dapat disimpulkan tidak sedikit yang merasa seolah-olah masih gelap dalam mencari jalur perjuangan yang seharusnya dilakukan. Hal sedemikian itu adalah yang pernah diketahui langsung oleh kami selama melakukan silaturahim sebelum menyusun tulisan ini. Karena itu, apa yang didapat pada bahasan ini mudah-mudahan dapat dijadikan jawaban alakadarnya bagi yang merasa belum memperoleh jalan keluar menuju berlakunya “Hukum Islam” secara totalitas.

Perlu diingat bahwa di Indonesia ini apapun keadaannya, maka telah dicatat, mayoritas beragama Islam. Dengan itu nyata bila sejarah perjuangan Islam di Indonesia ini telah berbeda dengan yang telah terjadi di negeri yang mayoritasnya bukan Islam. Secara de jure di Indonesia telah terjadi Furqan. Maka, harus dipertahankan agar tegak secara de facto kembali. Sebab itu kita merasa dituntut untuk menyumbangkan daya upaya sesuai dengan kemampuan diri bagi kelanjutan tegaknya Kebenaran Illahi yang pernah dipermaklumkan oleh pejuang-pejuang Islam terdahulu di Indonesia ini. Rasulullah saw diutus untuk semesta alam ( Rahmatan Lil’alamiin), namun negeri Arab pulalah yang didahulukan. Sehingga pada waktu itu kedaulatan Islam berdiri didalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s