Hal yang Membatalkan Syahadatain

 

Sering kita mempelajari mengenai penyebab akan batalnya wudhu, sholat , puasa , haji dan lain lainnya, tapi jarang sekali kita membahas mengenai sebab sebab batalnya keimanan dan syahadatain , terkait dengan itu, kami kembali menulis ulang mengenai apa dan kenapa syahadatain tersebut menjadi batal dan terjerumus kepada bahaya syirik,

Tulisan dibawah ini ditulis oleh Ulama Syiria, Almarhum Said Hawwa secara berseri, yang dikutip dari buku fenomenalnya Al Islam, semoga peringatan beliau yang berdasarkan nash nash ayat ayat Al Quran dapat membuat kita semua tersadarkan akan bahaya batalnya keimanan, semoga Allah menjaga kita semua untuk tetap memegang teguh cahaya keimanan di akhir zaman ini,..Aamiin.

Hal Hal Yang Membatalkan Syahadatain :

  1. Bertawaqal dan Bergantung kepada yang selain Allah

 Berdasarkan firman Allah :

“ … dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar benar orang yang beriman.” (Al Maidah :23)

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dibeberapa banyak tempat dan pada peperangan Hunain, tatkala kamu sombong dengan banyaknya jumlah kamu, tetapi tidak berfaedah bagi kamu sedikitpun, dan jadi sempit bagi kamu bumi yang luas itu, kemudian kamu berpaling sambil mundur.”(AtTaubah :25)

Dalil ini berpedoman pada pengertian Laa ilaha illa Allah yang maknanya antara lain tidak akan melakukan permohonan untuk ketenangan dan kekuatan selain kepada Allah SWT.

Tawakal bukan berarti meninggalkan kerja. Bahkan Allah SWT menyuruh kita bekerja, tetapi kita dilarang menggantungkan hidup kita pada pekerjaan itu.

Allah telah menyuruh mempersiapkan perlengkapan perang, tetapi Allah juga menyuruh kita untuk menggantungkan segala kehidupan kita hanya kepada Nya. Allah menyuruh kita bekerja dan berusaha, tetapi Ia menyuruh kita beriman bahwa Dia lah yang memberi rezeki. Dia menyuruh berobat, tetapi dengan syarat kita berkeyakinan bahwa yang menyembuhkannya hanyalah Allah SWT.

Ringkasnya, barangsiapa yang bekerja, berusaha dan berihtiar dengan tidak bertawakal dan bergantung kepada Allah, ia telah merusak syarat tadi. Sebaliknya orang yang bertawakal dan bergantung kepada Allah, tetapi tanpa daya usaha, juga ia telah merusak salah satu syarat tadi.

Disini dapat diandaikan suatu perbedaan antara orang kafir dan orang mukmin. Orang kafir, ia membanting tulang dan mengerahkan segala tenaga dan berusaha, orang mukmin juga membanting tulang dan mengerahkan segala tenaga serta berusaha, tetapi orang orang kafir, ia tidak menggantungkan harapannya kepada Allah SWT, bahkan ia menggantungkan kepada usahanya. Sebaliknya seorang muslim disamping usahanya tersebut ia menggantungkan segala harapannya kepada Allah SWT.

Bergantung dengan sebab dan melupakan bahwa yang mengizinkan sebab itu berproses adalah Allah termasuk maksiat. Bergantung kepada sebab dan disertai keyakinan bahwa sebab sebab itu tidak ada hubungannya dengan Allah adalah syirik yang dapat menghancurkan syahadatain. Dalam Al Quran banyak disebutkan tentang masalah ini yang antara lain seperti dalam firmannya :

“Maka bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka; bukan engkau yang melempar, tetapi Allah lah yang melempar…(Al Anfal 17)

“…dan kemenangan itu tidak ada melainkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Imran 126)

“ Sesungguhnya Allah lah Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuasaan, Yang Sangat Teguh (Adz Dzariat 58)

“ Dan apabila aku sakit, maka Ia sembuhkan aku” (Asy Syuara 80)

“Tidakkah engkau lihat bahwa Allah telah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi ini hijau segar? Sesungguhnya Allah maha Halus lagi maha Mengetahui (Al Hajj 63)

Kita harus menyakini bahwa Allah menjadikan sebab musabab di dunia ada fungsinya (peranan atau tugasnya) dan harus percaya bahwa Allah lah yang menjadikan semua itu. Allah berfirman,

“ Allah Yang Menciptakan segala sesuatu, dan Ia Pemelihara atas segala sesuatu (Az Zumar 62)

Barangsiapa yang mengingkari sebab sebab dan menganggap tidak ada gunanya adalah Kafir. , sebaliknya yang meyakini bahwa sebab sebab itu memiliki pengaruh sendiri adalah Syirik.

2. Mengingkari Nikmat Allah, baik yang kelihatan atau yang tidak kelihatan, baik yang mudah difikirkan atau yang memerlukan pengkajian secara mendalam

Karena segala nikmat itu datangnya dari Allah SWT, kita telah meyakini bahwa pengertian Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Dia sebagai Murabbi, Pemimpin Yang Maha Tinggi dan Pemberi nikmat. Bahkan kita harus meyakini bahwa suatu bencana yang menimpa kita pada hakekatnya dari Allah, Dia adalah selaku Pemberi nikmat dan Penghalangnya. Sebab dalam urusan memberi dan menahan nikmat bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya hak Allah SWT.

Allah berfirman :

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah). (Ibrahim :34)

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.(Luqman :20)

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa , maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Karun adalah salah seorang anak paman Nabi Musa a.s.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al Qashash 76-78)

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At Taghabun 11)

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya ; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (Al Ankabut 65)

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.

Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.

Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman (Az Zumar 49-52)

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.

Dan apabila Kami memberikan ni’mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdo’a. ( Fushilat 49-51)

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab : “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (An Naml 40)

Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.

Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain)

Biarlah mereka mengingkari ni’mat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). (An Nahl 53-55)

3. Melakukan Sesuatu Untuk Selain Karena Allah.  

Hal ini sangat tidak disukai oleh Allah berdasarkan firmanNya :

“Katakanlah , “ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Al An’am :162)

Berdasarkan ayat tersebut kita tegaskan keyakinan bahwa tidak ada ibadah atau penghambaan yang disembah kecuali Allah SWT. Tidak ada peribadahan yang dipersembahkan, kecuali hanya untuk dan karena Allah SWT.

Pengertian ibadah disini tidak hanya terbatas pada masalah masalah shalat, zakat, puasa dan haji, tetapi mencakup semua pekerjaan yang dilakukan di atas syariat yang ditujukan dan diperuntukkan karena Allah SWT adalah termasuk ibadah. Sebaliknya setiap pekerjaan yang dimaksudkan karena hendak berbakti pada selain Allah yang memang dimurkai Allah adalah syirik. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa contoh pekerjaan yang termasuk dalam kategori syirik dalam masalah ini.

Antara lain berkhidmat untuk menegakkan nasionalisme (Kebangsaan) dan menjadikannya sebagai tujuan utama dalam perjuangan hidup; seperti berperang karena untuk mempertahankan bangsa (nation), berpropaganda agar orang mendukung ide nasionalisme serta cita cita nasionalisme, berjuang dan bekerja demi kebangsaan, dan menanamkan semangat fanatisme kebangsaan yang mendalam. Penumpuan dan konsep hidup semacam itu adalah pandangan atau konsep hidup syirik. Karena Allah SWT telah menyuruh bekerja, berkhidmat , berjihad, dan berperang karena Allah SWT semata. Kaum muslimin dibenarkan berusaha memperbaiki bangsanya atas dasar apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. Maka apabila bangsanya itu kafir, saat itu pula kaum muslimin tidak boleh berkhidmat lagi, bahkan kalau ia berkhidmat pada bangsa kafir dianggap sebagai penghianatan terhadap diri dan Islam.

Bekerja semata mata untuk kemajuan Negara juga termaksud dalam kategori syirik, kaum muslimin tidak boleh meletakkan gantungannya kepada negaranya, kecuali tujuan Negara dan orang orang yang memerintahnya semua bertujuan Islam dan karena Allah semata. Apabila kita bekerja untuk kebaikan Negara dan penduduknya yang Islam maka pekerjaan kita itu sesuai dengan perintah Allah, tetapi apabila kita meletakkan kenegaraan sebagai tujuan perjuangan didalam pekerjaan kita dan tidak mau meniatkan kepada Allah, maka pada dasarnya orang yang melakukannya itu sudah termasuk dalam kategori syirik. Allah telah memandang hina terhadap orang orang atau bangsa bangsa yang menggantungkan keyakinannya kepada Negara. Allah berfirman,

Dan jika Kami wajibkan atas mereka,”Bunuhlah diri dirimu atau keluarlah dari kampung kampungmu,”niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka, padahal jika mereka kerjakan apa yang dinasehati kepada mereka, niscaya adalah lebih baik buat mereka dan lebih kuat ketetapan (iman mereka)”. An Nisa : 66

Suatu pekerjaan atau apa saja yang dibuat atas dasar kepentingan meninggikan citra atau syiar Negara, kesatuan Negara, dan berjuang habis habisan untuk kepentingan Negara adalah syirik. Akan tetapi jika dasar pekerjaan dan usaha itu atas dasar neraca keimanan kepada Allah dalam rangka berusaha melaksanakan perintah Allah, dan menjaga kepentingan Negara semata mata hendak mempertahankan pelaksanaan perintah Allah atas dasar tujuan berbakti kepada Allah, ini jelas termasuk dalam kategori ibadah.

Suatu pekerjaan yang dijalankan atas dasar untuk kemanusiaan semata adalah termasuk syirik, karena ia telah memalingkan konsep atau pengertian hidupnya dari Allah , yang semua orang harus menumpukkan segala pekerjaannya hanya untukNYa.

Akan halnya slogan ilmu untuk ilmu, sastra untuk sastra, dan seni untuk seni, adalah juga termasuk perbuatan syirik. Pokoknya setiap slogan atau symbol yang diluar niat untuk menyembah Allah adalah syirik.

4. Memberikan hak untuk memerintah dan melarang secara mutlak, hak menghalalkan dan mengharamkan , hak membuat undang undang, dan hak menentukan hukum kepada selain Allah.

 Perbuatan semacam ini melawan Allah, karena Allah lah yang mempunyai hak menentukan undang undang bagi kehidupan manusia, halal haram, peraturan hidup, kehakiman, dan segala perintah dan larangan. Allah berfirman :

“ Bukankah menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah? Mahatinggi Allah, Pengurus sekalian alam” (Al Araf 54)

“ … Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah; Ia menerangkan kebenaran, dan adalah Ia sebaik baik Pemberi Keputusan.” (Al An’am 57)

“ Mereka menjadikan guru guru mereka dan pendeta pendeta mereka sebagai tuhan tuhan selain daripada Allah, dan (juga) Al Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintah, melainkan supaya menyembah Tuhan yang satu, yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan!” (At Taubah 31)

Termasuk dalam kategori ini adalah sistem demokrasi dalam pemerintahan yang mana segala macam peraturan dan undang undangnya dibuat oleh wakil wakil rakyat di parlemen yang sifatnya sebagai perwakilan rakyat dalam satu Negara atas dasar kemauan dan fikiran mereka semata mata. Apabila keputusan penyusunan undang undang itu terletak ditangan mayoritas (suara terbanyak) anggota parlemen, maka disini berarti bahwa hak membuat undang undang itu berada di tangan manusia (padahal hak membuat undang undang adalah hak Allah semata), disinilah letak kesirikannya.

Untuk menyelamatkan umat Islam agar tidak terjerumus ke dalam perangkap syirik dalam penggunaan demokrasi tadi dalam masyarakat Islam, ialah harus menanamkan pemahaman Syura dalam Islam (yang bertujuan untuk menyusun undang undang dalam pengelolaan Negara Islam). Dalam Lembaga Majelis Syura dan cara pemilihan anggota anggotanya boleh saja dilakukan melalui pemilihan umum, dengan syarat kedudukan majelis Syura dan anggotanya selalu konsisten dan melaksanakan hukum Allah.

Mereka diperbolehkan beritjtihad dalam rangka melaksanakan hukum hukum Allah berkenaan dengan apa yang terjadi ketika itu, tapi tetap harus didasarkan pada nash nash yang jelas. Jika nash nash nya kurang jelas, maka diperlukan kajian mendalam untuk menentukannya. Disini dapat dilihat bahwa Al Quran dan As Sunnah tetap berperanan sebagai konstitusi Negara yang berparlemen, atau dengan kata lain, setiap anggota majelis syura, tidak diperkenankan menentukan suatu undang undang yang bertentangan dengan konstitusi yang dibuat Allah. Oleh karena itu sistem parlemen yang berdasarkan ketentuan perundang undangan kepada undang undang Allah dianggap salah satu bentuk yang Islami. Tetapi jika di dalam penafsiran undang undang atau di dalam penyusunannya ternyata bertentangan dengan kehendak Allah, maka tak pelak lagi perbuatan yang demikian merupakan peletakkan undang undang yang asing dan jauh dari Allah yang telah disusupi oleh kepentingan kepentingan kaum kapitalis, kaum sosialis dan kepentingan lainnya yang sengaja menyusup untuk merusak konstitusi tersebut.

Sama halnya dengan mengutamakan kepentingan partai dalam penyusunan undang undang, atau kepentingan pemimpinnya, atau kepentingan seorang pimpinan politik atau agama (maksudnya telah meletakkan undang undang atas dasar kepentingan pemimpin tertentu, bukan karena kepentingan syariat Allah). Adapun menyusun Undang Undang atas dasar hendak melaksanakan hukum Allah, maka ini merupakan kewajiban bagi para ulama mujadid.

Termasuk dalam kategori perbuatan yang merusak syahadatain ialah, seseorang yang tidak menerima tugasnya yang dikenakan oleh Allah ke atas pundaknya untuk melaksanakan hukum hukum Allah di bumi ini, yang mana Rasulullah SAW telah menjelaskan kepadanya, tetapi ia melarikan diri dari tugas ini, Perhatikan firman Allah di bawah ini :

“ Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama); maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau turuti hawa nafsu orang orang yang tidak mengetahui” (Al Jatsiyah 18

 5.  Taat Kepada Selain Allah atas Dasar Kerelaan dan Keyakinan Tanpa Ada Izin dari Nya.  

Sebab, makna Laa ilaha illa Allah yang sama sama telah kita ketahui berarti “Tidak ada yang dipatuhi melainkan hanya Allah. “ Taat yang dibenarkan dan diizinkan oleh Allah adalah taat kepada RasulNya, karena bila seseorang mentaati Rasulullah, ia berarti mentaati Allah. Allah berfirman :

Barangsiapa mentaati Rasul, maka berarti ia mentaati Allah…” (An Nisa :80)

Juga taat pada pemimpin, jika mereka tetap menjalankan Kitabullah dan sunah Rasulullah. Tetapi jika mereka telah keluar dari kerangka Al Quran dan Sunah maka tidak boleh taat kepada mereka, karena mereka sudah tergolong berbuat maksiat, tidak peduli apakah pemimpin atau pemerintahan itu terdiri dari kaum alim ulama, ini didasarkan pada firman Allah SWT :

“Hai orang orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada RasulNya dan kepada Ulil Amri diantara kamu. Maka sekiranya kamu berbantah bantahan di satu perkara, hendaklah kamu kembalikan dia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu sebaik baik dan sebagus bagus takwil. (An Nisa 59)

Dalam ayat di atas jelas, bahwa taat kepada pemerintah disyaratkan bahwa pemerintah itu hendaknya dari golongan kita (orang orang yang beriman) dan orang yang mau kembali kepada Kitabullah dan sunah Rasulullah ketika terjadi perselisihan pendapat. Dalam sebuah hadis disebutkan ,

“Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal durhaka kepada Allah” (HR Tirmidzi)

“ Sesungguhnya taat itu hanya dalam hal ma’ruf “ (HR Bukhari)

Dalam mencurahkan ketaatan hendaklah semata mata karena Allah. Tidak boleh karena kepentingan diri sendiri, dorongan setan, karena sifat kekafiran, kesesatan, bid’ah, karena fasik, ekstrem, lalai atau karena dorongan keturunan dan propaganda propaganda thaghut. Allah berfirman ,

“Maka sudahkah engkau fikirkan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah biarkan dia…” (Al Jatsiyah 23)

“ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang ada dibumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah, karena mereka tidak menurut melainkan sangkaan belaka, dan mereka itu tidak lain hanyalah berdusta” (Al An’am 116)

“Dan janganlah kamu taat kepada perintah orang orang yang melewati batas, yang membuat rusuh di bumi dan tidak memperbaiki (Asy Syuara 151-152)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (Al Imran 149)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Al Imran 100)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (Yasin 60)

Barangsiapa yang mencurahkan ketaatan dan kesetiaannya kepada golongan seperti yang digambarkan Al Quran tadi, sebagai tuhan yang diagung agungkannya dan dipuja pujanya maka ia menjadi kafir. Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad 25-26)

Sebanyak mereka yang disebut dalam Al Quran itu dianggap sebagai murtad dalam masalah ketaatan ialah, karena mereka menolak (benci) kepada apa yang diturunkan oleh Allah dalam beberapa masalah karena mereka enggan mentaati Rasullullah SAW. Sebab tanda tanda ketaatan kepada Allah adalah ketaatannya kepada Rasulullah, yang mana kita tidak akan mengenal Allah tanpa jalan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah. Arti taat kepada Rasul, termasuk menghidupkan sunahnya. Barangsiapa menentang sunahnya, ia menjadi kafir. Jika seseorang mengakui Sunah Rasul, tetapi ia melanggar perintahnya, maka ia dikatakan fasik.

6  Membenci Islam atau Sebagian dari AjaranNya.  

Allah Berfirman :

“Dan orang orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka, dan Allah menghapus amal amal mereka” Yang demikian itu adalah, karena mereka benci kepada apa apa yang diturunkan Allah, karena itu, Ia menghapuskan amal amal mereka (QS Muhammad 8-9)

Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa “ (HR Thabrani)

Termasuk dalam ketegori ini ialah membenci atau tidak setuju terhadap salah satu hukum Islam, Ibadah, sistem ekonomi, Muamalah, Politik atau perundang undangan Islam , baik undang undang pada saat damai atau di masa perang, atau benci terhadap akhlak, peraturan masyarakat, ilmu Islam dan sebagainya.

Apa saja corak kebencian atau penentangan terhadap yang terkandung dalam Al Quran atau Al Hadits atau menentang konsep atau totalitas sunah yang dibawa Rasulullah SAW, apakah yang berbentuk kata kata, perbuatan, pengakuan atau sifat sifatnya, maka ia dinyatakan keluar dari Islam dan syahadat yang pernah diucapkan menjadi BATAL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s