Sebagai Ummat Islam Bangsa Indonesia Seharusnya Komitmen Kepada Kepemimpinan Negara Islam Indonesia

Oleh : Muhammad Yusuf Thahiry — Imam / Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia

A. Berbai’at

Setiap yang menjadi mujahid (pejuang) Negara Islam Indonesia dan setiap orang yang mengakui sebagai Ummat Islam Bangsa Indonesia seharusnya terlebih dahulu harus berbaiat di hadapan aparat NII yang berhak. Sebelumnya penulis kemukakan beberapa alasannya terlebih dulu kita perhatikan ayat Qur’an surat 7 Al-A’Raaf ayat 172 sebagaimana di bawah ini:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah, ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu ?’’ Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”.(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. (Q.S.7:172).

Ayat di atas itu berkaitan dengan :

  1. Hadits Nabi :

كل مولود يولد على فطرة فأبواه يهودا نه , وينصرا نه, و يمجسانه كما تنتج البهمة بهيمة جمعاع

هل تحسون فيها من جدعاء

Setiap bayi  dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau Nasrani atau seorang Majusi. Perihalnya sama dengan ternak yang sehat tentu melahirkan anak yang sehat dan utuh, apakah kalian melihat padanya suatu yang cacat tubuhnya ?”

Dari petikan hadits di atas itu diambil arti bahwa setiap manusia asalnya suci – bersih dari dosa. Sehingga kalimat “بلى شهد نا betul (Engkau Rabb Kami), kami menjadi saksi”,  menunjukkan bahwa fitrah manusia itu mengakui adanya Rabb, yakni berkehendak dalam Kebenaran Ilahi. Namun, sesudah dewasa (baligh / mukallaf ) banyak yang berpaling dari hukum Allah, akibat perbuatan dari orang yang merawaatnya atau yang mengarahkannya.

Hadits tersebut menyebutkan kedua orang tuanya karena secara umum anak diurus / dipelihara oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi secara  khusus disebabkan sesuatu hal  misalnya kedua orang tuanya meninggal dunia atau lainnya, bisa jadi tidak dipelihara oleh kedua orang tuanya melainkan oleh saudaranya, orang lain atau sebuah yayasan tertentu, bahkan ada yang  diurus lembaga pemerintah. Berbagai bentuk pengurusan tersebut juga menentukan  way of life (arah kehidupan) si anak bahkan intensitasnya bisa melebihi  kedua orang tuanya.   Oleh sebab itu  pengertian  fa abawaahu (kedua orang  tuanya) tidak mutlak hanya berarti orang tua dalam arti harfiah semata, melainkan juga pemeliharanya atau pengarahnya.

Jika ditelusuri dengan seksama bisa disimpulkan bahwa  pengurusan anak,  baik itu  kedua orang tuanya maupun yayasan-yayasan atau lembaga serupa dengannya, tidak lepas dari sistem pemerintahan negara yang mereka tempati. Lebih tepat lagi bahwa fa abawaahu  secara luas bisa meliputi sistem pemerintahan atau kekuasaan negara. Hal itu berdasarkan kenyataan:

  1. Anak yang sejak lahir atau dari bayi sudah menjadi yatim piatu dan diurus orang lain, ada yang menjadi anak jalanan, berdikari, mencari  makan sendiri. Dalam kondisi yatim piatu  jelas yang mengarahkan hidupnya bukan kedua  orang tuanya. Bagaimanapun dalam keadaan itu yang menjadi penanggungjawab adalah pemegang kekuasaan negara karena sistem yang berlaku dalam negara akan mempengaruhi arah hidup si anak  di kemudian hari, baik melalui sistem pendidikan maupun pergaulan lingkungan
  2. Dalam pemerintahan Nabi SAW di Madinah atau pemerintahan Khulafaur Rasyidiin yang menjalankan hukum Islam, tidak ada seorangpun anak sahabat Nabi  yang sudah baligh kemudian di baiat seperti  anaknya ‘Ali bin Abi Thalib supaya  dirinya ada furqon (garis pemisah antara yang hak dari yang bathil), sedangkan sewaktu masih di Makkah (sebelum hijrah) anak-anak para shahabat diwajibkan untuk di baiat atau bersyahadah. Hal itu menunjukkan bahwa sistem kekuasaan pemerintah negara menentukan cara hidup (way of life) seseorang anak.
  3. Banyak anak yang sejak kecil diarahkan orang tuanya dengan dimasukkan ke lembaga pendidikan khusus dien supaya taat sepenuhnya kepada ajaran Islam tetapi disebabkan hukum yang berlaku di masyarakat dan negaranya itu berlawanan dengan hukum Allah, sesudah dewasa terbawa arus melakukan kemaksiatan dan kedzaliman yang dilegalisir oleh negara, bahkan mendukung pelaksanaan hukum Jahiliyah yang di berlakukan negara. Hal demikian terjadi karena berada dalam sistem negara yang tidak menjalan hukum Islam secara sempurna,  Padahal kedua orang tuanya sudah dengan segala daya mengarahkan anaknya ke jalan yang hak.
  4. Bukan saja anak-anak yang baru dewasa,  sebagian orang yang  berpredikat kyai, ustadz atau ulama yang senantiasa menjadi muballigh pun yang sebelumnya seolah-olah memegang teguh ajaran Islam, bila sudah dekat dengan para pejabat pemerintahan Thaghut,  perilakunya berubah. Seperti misalnya:
  1. Menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kenegaraan menjadi sumbang.
  2. Cara berpakaian isterinya setengah-setengah sehingga auratnya terbuka.
  3. Tidak bisa menghindar dari berjabatan tangan dengan wanita selain muhrim, apalagi dengan para isteri pejabat tinggi atau para artis.
  4. Bila diundang pertemuan oleh tokoh atau pejabat yang anti berlakunya hukum Islam secara kaaffah maka manggut-manggut dan memberi angin bagi kekuatan lawan untuk menyerang para pejuang syariah.  Bahkan lebih dari itu supaya memperoleh penghargaan dari Thaghut, berkoar-koar mengajak para pengikutnya supaya mendukung program Thaghut. Tidak sadar jika hal itu merupakan hal yang sesat dan menyesatkan, alias Dhaalun wa Mudhillun.

Berdasarkan penjelasan di atas, diketahui bahwa sistem hukum yang berlaku dalam negara mempengaruhi arah kehidupan anak atau seseorang. Artinya tidak cukup hanya mengandalkan adanya pengarahan dari kedua orang tuanya saja.

  1. Hadits Qudsy yang berbunyi:

إنى خلقت عبدى حفاء فجاءتهم الشيا طين, فاجتالتهم عن دينهم , وحرمت عليهم ما أحللت لهم . (فى صحيح مسلم عن عياض بن حمار ).

Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus lagi berserah diri (kepada Allah). Lalu para syaithan memperbodoh mereka. syaithan-syaithan mengharamkan bagi mereka sesuatu yang Aku halalkan bagi mereka. Dan menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.” _ (Shahih Muslim dari Iyadh ibn Himar Al-mujsyi’i).

Dari hadits Qudsy di atas dimengerti bahwa dijamin tidak berdosanya manusia itu hanya sebelum dirinya dikuasai syaithan, yakni semasa dirinya belum baligh atau belum menjadi Mukallaf. Apabila sudah mukallaf tetapi  tidak menjalankan perintah Allah maka dia sudah berdosa.

Mungkin saja hal itu terjadi diantaranya akibat pengaruh keberadaannya dibawah cengkraman sistem pemerintahan syaithan dari jenis manusia.  Oleh karena itu orang  yang mengaku beriman tetapi tidak bisa menjalankan perintah-perintah Allah karena terkekang atau terpengaruh oleh sistem kekuasaan syaithan, maka diseru supaya masuk ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan).Sebagaimana disebutkan:“Wahai orang-orang yang beriman!  Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”(Q.S.2:208).

Dari ayat tersebut diambil makna bahwa orang-orang yang tidak menyukai Islam secara kaffah atau merintangi perjuangan menuju itu, berarti mereka telah mengikuti langkah-langkah syaithan.

Sebagai rujukan berislam secara sempurna ialah apa yang dipraktekkan Nabi yakni berpemerintahan yang memberlakukan hukum Allah sehingga bisa melaksanakan semua perintah Allah dan tidak terlibat dalam praktek berlakunya hukum yang bertentangan dengan-Nya. Untuk itu  harus didahului dengan berbaiat (berjanji setia) akan taat serta membela pemimpin yang sesuai dengan praktek Nabi SAW.

Dari kedua hadits tadi di atas diambil makna bahwa kesucian anak Adam hanya sebelum baligh. Kemudian dirinya tidak terlepas dari intaian syaithan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa di dunia ini hanya ada dua jalan yakni jalan Allah dan jalan syaithan. Ada yang tidak tergoda  oleh syaithan dan ada yang tersesatkan.

Maka adanya persaksian yang dikemukakan  di dalam kandungan ayat tersebut  bukan merupakan jaminan selamat dari godaan syaithan. Jadi, ayat yang menyebutkan  بلى شهد نا “Betul (Engkau Rabb kami),   kami menjadi saksi”(Q.S.7:172)  itu hanya berita bahwa keaslian manusia mengakui adanya Rabb. Semua yang kemudian dalam perjalanan hidupnya menjadi dhalim, fasik dan kafir pun asal mulanya adalah suci. Hanya  disebabkan oleh nafsu atau karena polusi pemikiran lingkungan termasuk hasutan-hasutan syaithan dari jenis jin atau  jenis manusia saja sehingga mereka berubah. Perhatikan lagi ayat selanjutnya (Q.S.7:173) di bawah ini yang menjelaskan ayat sebelumnya (Q.S.7:172) itu.

أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ

Atau supaya kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?” – (Q.S.7:173).

Maksud ayat di atas yaitu jangan sampai orang-orang musyrik kelak di akhirat beralasan bahwa apa yang dilakukan (dalam kemusyrikan) itu akibat dari orang tua mereka sejak dahulu sehingga merasa tidak patut disiksa sebab tidak tahu- menahu bahwa perbuatan mereka merupakan perbuatan salah.  Tegasnya ayat ini menjelaskan bahwa di dalam Islam tidak ada dosa warisan atau kesalahan seseorang tidak  lepas dari tanggungjawab pribadinya dan  tidak  dikaitkan dengan orang-orang sebelumnya. Tiap-tiap pribadi asalnya suci tidak terkena dosa dari turunan manapun.

Pada uraian sebelumnya  dikemukakan bahwa di dunia ini ada permusuhan antara barisan yang dipimpin oleh para nabi dengan barisan syaithan (Q.S.6:112). Dengan demikian terjadi tarik menarik untuk saling mempengaruhi  sehingga terjadi adu kekuatan sampai perang terbuka. Dikarenakan golongan yang berada  di jalan syaithan selamanya tidak berdiam diri, bersatu padu antara mereka maka  pihak yang berada di jalan Allah pun harus demikian, tidak tinggal diam untuk menggalang kekuatan.

Penggalangan kekuatan yang pertama dalam Islam ialah berbai’at atau ikrar setia di hadapan Rasul / pemimpin untuk taat dan patuh, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat Nabi   Tercatat dalam sejarah Rasulullah , dan diabadikan dalam Al-Qur’an  mengenai  bai’at:

  1. Bai’at Aqabah I.dari Yasrib  12 orang datang ke Makkah pada musim  haji, pada tahun 621 M. Berikrar untuk tidak menyekutukan Rabb, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan tidak memfitnah…. [1] Dua belas orang itu menemui Rasulullah di Aqabah, Mina. Mereka berbaiat kepada beliau seperti bai’at kaum wanita (yakni tidak berbai’at untuk perang dan berjihad).  [2]
  2. Bai’ah Aqabah II. Pada musim haji tahun ketiga belas dari kenabian 9 Juni 622 m. tujuh puluh lebih dari penduduk Yastrib datang untuk menunaikan manasik. [3] Kemudian “Setelah sampai di Makkah, terjadilah kontak rahasia antara mereka dan Nabi sehingga terjadilah kesepakatan antara kedua pihak untuk berkumpul pada pertengahan hari-hari tasyriq, di lembah yang berada di pinggir Aqabah; pertemuan itu dilakukan secara rahasia, ditengah-tengah kegelapan malam. [4]  Isi baiat pada waktu itu telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir secara rinci. Jabir berkata ‘Wahai Rasulullah, apakah yang perlu kami nyatakan kepada Anda dalam pembai’atan ini ?’ beliau menjawab:Pertama, Berjanji untuk taat dan setia kepadaku baik dalam sibuk maupun senggang. Kedua, Berjanji untuk tetap berinfaq baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Ketiga, Berjanji untuk tetap melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. berjanji untuk tetap teguh membela kebenaran karena Allah, tanpa rasa takut dicela oleh orang yang mencela. Keempat, berjanji untuk tetap membantuku dan membelaku apabila aku telah berada di tengah-tengah kalian, sebagaimana kalian membela diri kalian sendiri dan anak istri kalian. Dengan demikian, kalian akan memperoleh surga.”[5]
  3. Bai’atur Ridhwan. Pada tahun keenam Hijrah atau 628 M. bersama 1500 orang berangkat menuju Makkah dengan maksud melakukan haji, tetapi berhenti di Hudaibiyah, menanti berita mengenai reaksi orang-orang kafir Quraisy Makkah. Setelah terbetik berita bahwa utusan, Utsman bin Affan dibunuh oleh orang-orang kafir Makkah, maka untuk membela kehormatan nama Utsman bin Affan Rasulullah mengadakan bai’at dengan kaum Muslimin  untuk perang.  “Peristiwa baiat yang tesebut itulah, yang di dalam kitab-kitab tarikh dan kitab-kitab hadis disebutkan dengan Bai’atur- Ridhwan (perjanjian yang diridhai Allah) dan dikenal pula dengan Bai’at Tahta Asy-Syajarah (perjanjian di bawah sebatang pohon)[6]Untuk mengetahui kata-kata yang diucapkan dalam Bai’atur Ridhwan, kita lihat kutipan tarikh di bawah ini:

“Menurut riwayat, bahwa orang yang pertama sekali datang memberikan bai’ahnya kepada Nabi  SAW ialah seorang sahabat yang bernama Sinan bin Abu al-Asadia, saudara tua dari sahabat bin Mihshana. Kata Sinan ketika berbaiat kepada Nabi SAW: “ya Rasulullah, saya berbaiat kepada engkau atas apa yang ada pada diri engkau.”Nabi SAW bertanya: “Apa yang ada pada diri saya ? Sinan menjawab: “Saya akan memukul – musuh – dengan pedang saya di hadapan engkau, sehingga engkau diberi kemenangan oleh Allah atau saya mati di bunuh.  Sesudah Sinan berbaiat sedemikian rupa, maka berganti-gantilah segenap kaum muslimin sebanyak 1.400 atau 1500 orang itu berbaiat sebagaimana yang dibaiatkan oleh Sinan.”[7]

Dengan demikian bahwa bai’at berarti jual beli atau berjanji. Di bawah ini merupakan uraiannya:

  1. Jual Beli

Perhatikan ayat yang berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual yang kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”_(Q.S.9:111).

Pada ayat di atas disebutkan bahwa orang-orang mukmin menjual harta dan jiwa mereka kepada Allah dengan berperang pada jalan Allah, kemudian Allah membelinya dengan surga. Maka, arti bai’at pada ayat di atas ialah jual beli. Dan memang sebelum berperang pun sudah didahului dengan berbai’at, seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang mukmin ketika pada Bai’ah Aqabah yang pertama atau juga yang kedua. Jadi, berperang pada jalan Allah itu sebagai realisasi dari bai’at.

  2. Berjanji

Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” – (Q.S.48 Al Fat-h:10)

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sungguh Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Q.S.48 :18).

Bai’at yang disebutkan dalam kedua ayat tersebut secara bahasa mengandung arti berjanji setia, sehingga pada waktu berperang tidak menyerah kepada musuh sampai ada ketentuan Yuqtal au Yaghlib (terbunuh atau menang). Dengan demikian secara istilah bisa disebut menjual diri kepada Allah.

Bai’at dalam kedua ayat tersebut bukanlah bai’at masuk Islam, bukan juga bai’at hijrah dari kepemimpinan yang bathil kepada yang haq, melainkan yaitu bai’at tekad untuk berperang dengan kesetiaan penuh kepada pimpinan. Sebab, sebelumnya mereka sudah ikrar (bai’at) masuk Islam, yakni sudah hijrah dari kepemimpinan yang bukan Islam kepada kepemimpinan yang haq, dan berhasil mendirikan pemerintahan  yang menjalankan hukum-hukum Allah. Dengan demikian diketahui bahwa bai’ah itu bisa terjadi lebih satu kali, tergantung kepentingan situasi dan kondisi.

Meskipun bai’at itu bisa berarti menjual diri (Q.S.9:111) dan bisa juga berarti berjanji setia (Q.S.48:10,18), namun secara keseluruhan tujuannya adalah sama yakni menjual kepada Allah. Sebab, jika sudah berjanji setia untuk berperang menggempur kekuatan pemerintahan Thagut dengan tekad yuqtal au yaghlib (terbunuh atau menang, QS.4:74). maka hal itu menjual diri kepada Allah.

Sewaktu kota Makkah berhasil ditaklukkan, Nabi mengambil bai’at dari kaum wanita untuk melaksanakan tugas berikut; tidak menyekutukan Allah, tidak mengkhianati amanah, tidak memperturutkan hati untuk berbuat jelek, tidak membunuh anak sendiri, tidak menisbahkan kepada suaminya anak-anak yang sesungguhnya milik orang lain, dan tidak menentang Nabi dalam hal apapun.” [8]                   

Di antara yang berbaiat pada waktu itu salah satunya adalah Hindun, istri Abu Sufyan bin Harb.[9]. Dengan demikian bai’at mereka sama  halnya dengan yang terjadi pada Bai’at Aqabah yang pertama atau Bai’at Aqabah kedua. Dengan bai’at itu sebagai bukti dhahir untuk dijadikan pegangan, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang sudah berpihak kepada Nabi SAW beserta mukmin lainnya. Dan dengan bai’at itu bagi mereka merupakan pernyataan dalam diri adanya  garis pemisah dari yang bathil. Sebab, sebelum berbai’ah, secara dhahir posisi mereka masih dalam dhulumaat (kegelapan), tidak terkait dengan kepemimpinaan yang hak, walau  sewaktu mereka dilahirkan dalam keadaan suci. Kalimat- kalimat  yang diucapkan dalam bai’at adalah disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang dihadapi, dan keperluannya. Buktinya, yang diucapkan dalam Bai’at Aqabah adalah berbeda dengan yang diucapkan dalam Bai’at- Ridhwan.

Wajib Bai’at Bagi Mujahidin NII

Untuk menjadi mujahidin NII harus berbai’at dihadapan pemimpinatau aparat NII. Dasar- dasarnya:

  1. Negara Islam Indonesia yang di proklamsikan pada tanggal 12 Syawal 1368 H, bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1949 satu-satunya wadah penegak hukum Islam secara total (kaffah / sempurna) di Indonesia yang dalam proklamasinya menyatakan hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu ialah hukum Islam. Dengan itu bagi yang berbai’at kepada Negara Islam, berarti  sudah bara’ah (lepas) dari keterlibatannya dengan hukum-hukum kafir. Dan berarti juga telah siap mejual diri kepada Allah dengan berperang menumpas  kekuatan Thaghut dalam versi apapun dan dari manapun yang mengancam eksitensi Negara Islam Indonesia.
  2. Merujuk kepada petikan ayat yang bunyinya:
وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

…dan supaya Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)  kamu…” (Q.S. 2:143 ).

Dari petikan ayat di atas dipahami bahwa sebagai mujahid, posisi dirinya  harus real (jelas). Artinya, harus diketahui oleh pemimpinnya, berarti harus ada persaksian kepada dirinya, harus jelas sejak kapan dirinya menjadi mujahid NII. Untuk diketahui oleh pemimpinnya, maka harus terlebih dulu berbai’at dihadapan pemimpin. Sebagaimana halnya yang terjadi dalam Bai’at Aqabah yang pertama atau Aqabah kedua pada zaman Nabi SAW. Atas dasar itu, maka bagi yang menjadi mujahid (pejuang) NII dewasa ini pun harus terlebih dulu bai’at sehingga diketahui kekuatan riil dari personal Tentara Islam Indonesia oleh aparat / pemimpin (Ulil Amri) Negara Islam Indonesia.

c. Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT.)  Negara Islam Indonesia No. 6 tahun 1953, menetapkan tentang isi baiat yang harus di ikrarkan setiap orang yang berkeinginan menjadi mujahid Negara Islam Indonesia ( Angkatan Perang Negara Islam Indonesia).

B. Sudah Ada Pengangkatan Imam

Meskipun hari ini sebagian besar wilayah  Negara Islam Indonesia, proklamsi 7 Agustus 1949 sedang dan pernah dirampas sehingga dikuasai musuh, namun nilai proklamasi NII serta estafeta kepemimpinannya tetap utuh. Buktinya:

  1. Tatkala Imam disergap dalam keadaan sakit, diperintahkan  pindah dari pembaringannya ke tandu yang mendadak dibuatkan, maka Imam tidak  mengikuti perintah tersebut. Terhadap perintah itu,  Imam menjawab: “Jika saya bergeser dari tempat ini,  berarti saya menyerah. Tidak ada kamusnya dalam perjuangan Islam menyerah. Lalu pihak musuh yang merintahkannya itu berkata: “Kalau begitu kami akan memaksa Imam untuk dipindahkan ke tandu.” Kemudian Imam menjawab: “Itu adalah hak anda, sekarang ini saya  sebagai  tawanan tidak berdaya sebab itu  mau diapakan saya, terserah anda!” (Keterangan dari Sersan Mayor Edy salah seorang prajurit TNI yang ikut menyergap Imam. Hal itu dikemukakan saat wawancara dengan Kiayi Saeful Malik). Kemudian Imam dipindahkan dari pembaringannya lalu diboyong  Dengan sikap Imam sedemikian itu,  maka  bukanlah menyerah,  melainkan tertangkap musuh. Dan sejak tertangkap,  4 Juni 1962 itulah “berhalangan menunaikan tugasnya”. Dan nilai estapeta kepemimpinnya  beralih kepada yang sesuai dengan MKT No.11 tahun 1959
  2. Sebelum Imam NII tertangkap, Komandemen Tertinggi sudah mengeluarkan undang-undang tahun 1959 yang isinya antara lain yang tercantum dalam MKT No.11 Tahun 1959 yaitu:

“K.P.S.I. dipimpin langsung oleh Imam _ Plm. T. A.P.N.I.I. Jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya,  maka ditunjuk dan diangkatnya seorang Panglima Perang, selaku  penggantinya, dengan purbawisesa penuh. “ 

“Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diantara Anggauta-Anggauta K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggauta-Anggauta K.T.”

Dengan undang-undang itu meskipun Imam tertangkap,  namun estafetanya tetap belangsung. Jadi, begitu Imam berhalangan menunaikan tugasnya, tertangkap, diboyong musuh, maka kepemimpinannya beralih kepada yang memiliki jabatan yang tercantum dalam undang-undang (MKT No 11 tahun 1959) di atas itu.

  1. Washiat Imam tahun 1959, di hadapan para Panglima / prajurit antara lain: “Jika Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan Panglima, dan yang tertinggal hanya prajurit petit saja, maka prajurit petit harus sanggup tampil jadi Imam”.

Wasyiat Imam itu mengandung arti, jika hubungan terputus dengan Imam atau dengan yang tercantum dalam undang-undang (MKT. No.ll Tahun 1959) mengenai estafeta Imam,  maka sekalipun yang ada itu cuma prajurit petit, dia berhak menjadi Imam.

Kepemimpinan NII tetap berlangsung,  beralih kepada  yang lain sesuai dengan dasar hukum yang sudah  ditetapkan.

Adapun soal mengadakan Daulah Islam,  perhatikan apa yang diuraikan oleh Said Hawwa dalam Kitab Al-Islam (jilid 2 halaman 400). Disebutkan bahwa tempat hidup ummat Islam itu ialah seluruh bumi Allah. Disebabkan bahwa bumi itu milik Kerajaan Allah (Q.3:189), dengan demikian ummat muslimin itu sebagai Ahli (Hamba) Allah (Q.S.24:55, S.21:105).

Karena itu jelas seluruh bumi ini diwariskan kepada manusia yang shalih,  yaitu mesti dipelihara dan diatur serta diambil manfaatnya oleh manusia-manusia yang taat kepada Allah. Dengan demikian bahwa bumi itu asalnya bumi Islam (Darul Islam). Menurut Said Hawa (Al-Islam juz dua halaman 402)

Daarul Islam ada 5 macam :

  1. Daerah Islam yang adil                                                           1- دار العدل
  2. Daerah Islam yang bughot                                                    2- دار البغيي
  3. Daerah Islam yang sudah bid’ah                                         3- دار البدعة
  4. Daerah Islam yang murtad                                                    4- دار الردة
  5. Daerah Islam yang sudah dirampas kafir                         5- دار ا لمسلوبة

Selanjutnya dalam kitab yang sama juz 2 halaman 403- 404:

و اذا فرض أنه لاتوجد دار عدل بأن لايكون خليفة ا لمسلمين ثم لا يحكم بلإسلام وشرائعه و لا يلتزم الناس به, فعندئذ تصبح دا ر لإسلام كلها دار ردة أو بدعة او فسوق, و فى هذه ا لحا لة يجب على ا لممسلمين عامة وعلى أهل الحل والعقد خاصة فريضة إقامة الإما م والجهاد معه حتى ترجع أرض الإسلام كلها فتصبح دار عدل و لايصبح أبدا ولا يجوز أن يبقى المسلمون ساعة وا حدة بلا خليفة إمام , و بلا دار ينفذ فيها حكم الإسلام .

“Apabila sudah tidak ada Daarul Adli (daerah Islam yang adil), karena tidak ada khalifah muslimin, serta tidak berlaku hukum Islam, maka daerah itu jadi Daarul Riddah, bid’ah atau  fasik. Dalam keadaan ini wajib kepada segenap muslimin umumnya dan kepada  Ahlul Halli wal Aqdi khususnya mengangkat Imam, serta berjihad besertanya sehingga bisa mengembalikan bumi Islam yang semua daerahnya menjadi daerah adil. Sebab,  tidak boleh (haram) bagi muslimin sekalipun satu jam jika tanpa khalifah atau Imam, atau tidak punya daerah yang mengarah kepada hukum Islam.”. 

أما في حالة كون دار الإسلام غير دار عدل, فأول واجب على ا لمسلمين أن يوجدوا دا ر العدل, و أن يقيمون خلافتهم ثم يبدأوا عملهم بإ عادة دار الإسلام  كلها إلى حظيرة دار العدل, فيسقطون ا لحكوما ت ا لمرتد والظا لمة و ا لمبتدعة, و يحاربون ا لحكوما ت الكا فرة, و يحررون الارض السليبة .

Bilamana daerah Islam tidak / belum adil maka wajib kepada muslimin mengadakan wilayah yang dikuasai, dengan cara mengangkat khalifah/Imam untuk muslimin. Mulailah usahanya untuk mengembalikan daerah Islam sehingga hadirnya Daarul Adli, dengan menjalankan hukuman terhadap orang-orang yang murtad, dholim dan yang bid’ah dan memerangi hukum kafir dan membebaskan  daerah “maslubah” (terjajah)”.

Kesimpulan dari keterangan di atas:

  1. Apabila muslimin belum punya Imam, maka wajib mengangkat Imam.
  2. Meskipun sudah ada yang melaksanakan pengangkatan Imam, tetapi jika tidak ada pelanjutnya, maka masih tetap dituntut kewajiban mengangkat Imam.
  3. Apabila sudah ada pengangkatan Imam serta masih ada pelanjutnya (estafetanya) maka haram mengangkat lagi Imam.
  4. Apabila sudah terjadi pengangkatan Imam yang pertama, tetapi sesudah itu kita tidak tahu pelanjutnya, maka wajib kembali mengangkat Imam dengan catatan jika kemudian hari kita tahu ada pelanjutnya maka wajib bergabung dengan pelanjutnya dari yang pertama itu.

Jelas,  ummat Islam Bangsa Indonesia sebelum tahun 1949 (dalam bentuk Pemerintah Negara Islam) pun sudah melaksanakan kewajiban mengadakan daulah (Ijaaduddaulah) dengan cara mengangkat Imam. Dengan demikian segenap ummat Islam Bangsa Indonesia wajib bergabung atau berjihad bersama Imam atau pelanjutnya,  tidak boleh mengadakan lagi.  Sebab, kalau membuat lagi berarti tafarruq (berpisah ) dari yang hak. Sedangkan tidak bergabung dengan yang hak,  berarti berada dalam posisi yang bathil.  Apabila sudah ada yang hak,  maka sesudah yang hak adalah yang bathil. Perhatikan hadits  yang bunyinya:

عن عبد الله بن عمرو رضى الله عنهما أن النبى ص م قال: من بايع إماما فأعطاه صفقة يده , وثمرة قلبه , فليطعه ماستطع , فإن جاء اخر ينازعه فاضربوا رقبة الاخر .

“Dari Abdullah bin Amr ra., Nabi y. bersabda, ‘Barang siapa membai’at seorang Imam, lalu Imam itu memberikan kepadanya uluran tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sedapat mungkin; dan apabila ada Imam lain yang menyainginya, maka hendaklah mereka membunuh Imam yang terakhir itu.”[10]

C.  Berbeda dalam Versi

            Semua tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia menganut Islam. Sebagian pejabat RI pun mayoritasnya mengaku Islam. Namun demikian pemerintah Republik Indonesia itu dikiaskan seperti halnya pemerintah musyrikin Quraisy Makkah belasan  abad lampau hanya berbeda dalam versi.
Penyebabnya ialah:

1.Mengingkari Janji

Sebelum diproklamirkan Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, umat Islam bangsa Indonesia sudah berkorban dengan jiwa dan raga bahkan harta dalam mengusir penjajah (kafir) Belanda. Perjuangan  demikian ditujukan guna bisa melaksanakan hukum-hukum Islam secara keseluruhan sesuai dengan perintah Allah. Dalam suatu perjanjian dengan pihak nasionalis sekuler, ditandatangani naskah Piagam Jakarta yang isinya antara lain memuat kata-kata dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk – pemeluknya.   Akan tetapi, sehari sesudah proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945), delapan kata tersebut itu  dihapus oleh golongan Nasionalis sekuler, artinya mereka sudah menghianati / merusak perjanjian. Dengan demikian sejak itu diketahui bahwa Pemerintah Republik Indonesia sudah menjegal pelaksanaan hukum Islam secara keseluruhan. Dan sejak itu bisa dikiaskan dengan pemerintahan musyrikin Quraisy Makkah. Berkaitan dengan itu kita simak ayat-ayat berikut:
فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”; ( Q.S.26 Asy- Syu’araa’:216).

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjannmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Q.S.10 Yunus:41)

Dengan dihapusnya delapan kata dalam Piagam Jakarta maka secara hukum sudah batal perjanjian antara umat Islam dengan pihak nasionalis sekuler. Sehingga umat Islam berhak bara’ah atau memproklamirkan berdirinya  negara yang berdasarkan kepada hukum Islam. Akan tetapi, untuk itu tidak mudah, sebab membutuhkan proses waktu,  sebagaimana Rasulullah , meskipun sudah bertahun -tahun dibawah kekuasaan pemerintah Quraisy Makkah, namun untuk memproklamirkan negara / pemerintahan tersendiri harus sesuai dengan kondisi dan situasi.

Begitu juga bagi umat Islam Bangsa Indonesia, untuk bara’ah secara terang-terangan tidak lepas dari melihat situasi dan kondisi di Indonesia. Singkatnya, sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945 kandas, karena Republik Indonesia dijual oleh pihak nasionalis sekuler melalui Perjanjian Renville, maka umat Islam mempersiapkan pemerintahan Islam yang kemudian pada tanggal 12 Syawal 1368 H bertepatan dengan 7 Agustus 1949 melakukan bara’ah, atau proklamasi yang  isinya antara lain yaitu: Menyatakan Berdirinya Negara Islam Indonesia, maka hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia, ialah hukum Islam”.

Dengan adanya proklamasi tersebut, pihak nasionalis sekuler bukannya sadar terhadap perbuatan yang diakibatkan oleh masa lalunya dalam mengkhianati umat Islam, tapi malah bekerja sama dengan Pemerintah Belanda melalui KMB (Konferensi Meja Bundar) di Nederland guna menumpas NII sehingga umat Islam dipaksa bertahkim kepada hukum-hukum kafir. Disebabkan Pemerintah Indonesia itu sama  dengan Pemerintah Belanda yang sama sama memusuhi berlakunya hukum Islam secara keseluruhan, maka Pemerintah Republik Indonesia itu dikiaskan sebagai pemerintah musyrikin Quraisy !

  1. Memerangi Daulah (negara) Islam Berdasarkan Sunnah Nabi pada awal pembentukan pemerintahan Islam di Madinah, Rasulullah mendeklarasikan Piagam Madinah yang merupakan konstitusi negara, yang antara lain didalamnya memuat:

“Bahwa siapa daripada golongan kaum Yahudi yang telah mengikuti kami, maka baginya berhak mendapat pertolongan dan persamaan; ia tidak boleh dianiaya dan tidak boleh menganiaya.”[11]

“Bahwa antara kedua belah fihak – yang tertulis dalam naskah perjanjian ini – wajib bekerja bersama-sama untuk melawan orang yang menyerang kota Yatsrib (Madinah) ini.”[12]

Dari dua point di atas itu saja disimpulkan penentu bahwa musuh atau bukan musuh itu tidak ditentukan  oleh perbedaan agama, melainkan oleh perlawanan terhadap negara yang berdasarkan kepada hukum-hukum Allah. Jadi, sekalipun orang-orang itu mengaku memeluk Islam, tapi jika menyerang negara maka dianggap musuh. Hal itu terjadi pada zaman Nabi SAW (Q.S.4:97). Tidak berbeda dengan sebagian pejabat Pemerintah RI yang mengaku beragama Islam, tapi memerangi Negara Islam Indonesia yang mengemban hukum-hukum Islam. Sebab itu pula bahwa Pemerintah RI itu dikiaskan sebagai Pemerintah musyrikin Quraisy  Makkah beberapa abad lampau.

Mempertahankan Hukum-hukum Thaghut( Jahiliyah )

Sebab- sebab mengaku beragama Islam, namun pendukung-pendukung RI memusuhi hukum-hukum Islam, kemungkinan akibat dari dua keadaan:

  1. Proses sejarah di mana umat Islam Indonesia sudah turun- temurun dibawah kekuasaan  yang menterapkan hukum-hukum bawaan dari orang-orang kafir Barat. Hal demikian membuat generasi-generasi yang mengaku beragama Islam, tapi tidak merasa berdosa bila terus menerus rela hidup di bawah naungan hukum yang bertolak belakang dengan hukum Allah. Si anak mencontoh bapak, si bapak meniru kakek, dan si kakek mengikuti buyut.  Sedangkan mungkin saja buyut- buyut  itu juga pegawai- pegawai yang setia pada kaum konialis Belanda.    Disebabkan dari kecil sampai dewasa bahkan sampai tua, tahunya ajaran Islam itu hanya sebatas shalat, berpuasa Ramadhan, zakat, haji atau peribadahan mahdhoh lainnya yang tidak menyangkut kenegaraan, dan yang didengar dari para da’i-nya juga cuma itu -itu saja, maka jangankan hati mereka tersentak merasa berdosa setuju terhadap hukum-hukum Thaghut, tahu ayatnya juga tidak. Mula-mulanya acuh tak acuh terhadap pelaksanaan hukum-hukum kafir, tetapi setelah kemudian menjadi pejabat Pemerintah RI,  terpaksa memperkuat posisinya  dengan cara ikut menumpas perjuangan Negara Islam Indonesia.   Diakibatkan dari proses sejarah yang membuat mereka tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, namun demikian mungkin saja mudah disadarkan, bila datang bayyinah / penjelasan yang bisa dimengerti oleh mereka.
  2. Sesungguhya semua itu bukan dari proses sejarah, melainkan karena memang sudah menjadi keinginan hawa nafsu mereka bertahkim kepada hukum-hukum Thaghut, syaithan menghendaki mereka sesat (Q.S.4:60), meskipun diantaranya  berpenampilan seolah-olah sebagai muslim, giat menyeru masyarakat supaya taat pada ajaran Islam. Hal demikian tidaklah aneh sebab  ayat juga menyebutkan, “Sangat besar kemarahan  di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Q.61:3). Mereka menjadi para pengemban hukum-hukum yang bertolak-belakang dengan hukum Allah. Dalam poin ini,   bukan terpengaruh oleh proses sejarah atau lingkungan sistem kekuasaan, melainkan karena syaithan sudah menyesatkan mereka, dirasakan oleh mereka bahwa hukum Allah tidak lebih baik daripada produk manusia.   Firman Allah:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” – (Q.S.5 Al-Maidah:50).

Pada zaman Rasulullah SAW berkuasa, hukum Islam berlaku dalam pemerintahan, tetapi saat itu mereka bersembunyi-sembunyi menghindar untuk tidak bertahkim dengan hukum Islam.

Bila di dalam pemerintahan yang sudah defakto menjalankan hukum Islam,  para Thaghut  menolak hukum-hukum Islam dengan cara bersembunyi-sembunyi, maka sebaliknya para pejabat RI yang mempertahankan berlakunya hukum-hukum jahiliyah, secara terang-terangan memerangi Negara Islam Indonesia.

Dengan begitu maka Pemerintah RI itu sama halnya dengan pemerintah Musyrikin Quraisy di Makkah.   Dengan ketiga point yang diuraikan di atas itu, maka bisa dijadikan rujukan bahwa Pemerintah Republik Indonesia itu bisa dikiaskan kepada Pemerintah Musyrikin Makkah empat belas abad yang lampau.

Referansi  :

[1] Haekal, hal. 84 –89.

[2] Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani press, hal. 194.

[3] Ibid, halaman 200.

[4] Ibid.

[5] Ibid, halaman 202—203.

[6] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad y. ”, Jakarta: bulan Bintang, 1993, hal 139.

[7] Ibid, halaman 138-139.

[8] Ja’far Subhani, Ar-Risalah Sejarah Kehidupan Rasulullah y, Jakarta: 1996.hal. 583.

[9] Ibid, halaman 584

[10] Hadits riwayat Abu Daud, disebutkan di dalam Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah.

[11] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad y, Jakarta: PT Bulan Bintang 1933, hal 88.

[12]Ibid, halaman 91-92

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s