Warisan Leluhur yang Telah Berubah Jadi Berhala

Oleh  : Muhammad Yusuf Thahiry — Imam / Panglima Tertinggi Angkatan Perang  NII

Banyak muslimin warga Negara Republik Indonesia yang merasa tidak masalah dengan Pancasila, bahkan dengan bangga mengatakan bahwa itu adalah warisan para ulama, hasil ‘ijtihad maksimal’ mereka dalam meletakkan ‘gagasan tauhid’ untuk negara multi etnis dan multi agama di Nusantara.

Inilah keberhasilan upaya propaganda pihak anti Islam, muslimin awam di Nusantara terpedaya, mereka tidak tahu Pancasila versi mana yang dalam penggodokannya melibatkan para cendikiawan muslim itu? Tepat seperti dikatakan DR Muhammad Roem; “tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Panca Sila, Dasar negara kita (RI –pen), sudah mengalami lima kali perubahan, artinya sudah beralih dari rumus ke satu ke rumus yang lain, hingga lima kali.”[1]

Pancasila yang dirumuskan para ulama itu bukanlah Pancasila yang kini dijadikan dasar negara RI, tapi Pancasila yang dirumuskan dalam Piagam Jakarta, yang setelah kata “Ketuhanan” dilanjutkan dengan kalimat “Dengan Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk pemeluknya”

Sedangkan Pancasila yang disyahkan menjadi dasar negara RI, sehari setelah proklamasi (18 Agustus 1945) adalah Pancasila versi baru yang atas desakan kaum salib di Nusantara bagian Timur,[2] diajukan lewat Dr Muhammad Hatta pada akhirnya kewajiban menjalankan syari’at Islam itu dihapuskan. Sejarah membuktikan bahwa kelahiran RI diawali dengan penghapusan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi para pemeluknya.

Penghapusan 7 kata ini jelas memiliki dampak sangat besar, sebab berbeda dengan Piagam Jakarta yang bila itu yang dijadikan dasar  negara, memiliki konsekwensi logis bahwa negara berkewajiban untuk memberlakukan syari’at Islam bagi segenap pemeluknya. Maka Pancasila yang telah dicukur tadi, tidak memberikan konsekwensi apapun selain pengakuan moral negara akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Dikatakan “jalan” karena Pancasila Piagam Jakarta dimana beberapa tokoh Muslimin jaman itu ikut membidani kelahirannya, Pancasila ketika itu bukanlah target final, tetapi maksimal usaha atau katakanlah usaha terakhir yang bisa dilakukan dalam keadaan “kalah bicara” menghadapi retorika Soekarno ketika itu. Mereka mungkin masih terpengaruh dengan janji Bung Karno yang mengatakan bahwa upaya pembelaan Islam, keselamatan agama bisa diperbaiki nanti di kemudian hari lewat parlemen.[3]

Bila Pancasila versi Piagam Jakarta 22 Juni 1945 merupakan maksimal ijtihad para ulama di Nusantara (waktu itu belum ada RI) untuk mengasaskan pendirian negara bagi mereka. Tetapi Pancasila yang ternyata jadi dasar negara RI, sekali lagi, bukanlah Pancasila yang dirumuskan ulama-cendikiawan muslim Nusantara tadi. Justru RI lahir di atas Pancasila yang menghapus kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi para pemeluknya. Dan penghapusan ini sama sekali tidak dibicarakan dengan wakil-wakil Islam yang menandatangani Piagam Jakarta. Artinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 itu RI tegak di atas Dasar Negara yang menghapus kewajiban melaksanakan syari’at Islam.[4]

Walaupun memang pada awalnya Pancasila dirumuskan oleh ulama, namun apa artinya Pancasila, bila telah dilepaskan dari kewajiban menjalankan syari’at Islam. Jangankan Pancasila yang muhdats (baru), bid’ah (tidak ada sebelumnya). Al Quran saja, bila telah dilepaskan dari kewajiban menjalankan syari’at Islam yang terkandung di dalamnya, tidak lagi menjadi sesuatu yang mengundang berkah, malah mengundang ‘adzab. Coba perhatikan, Quran saja bisa mengundang siksa, bila telah dilepaskan dari kewajiban menjalankan Hukum Hukum yang ada di dalamnya. Silahkan simak ayat di bawah ini :

كَمَاأَنْزَلْنَاعَلَىالْمُقْتَسِمِينَ (٩٠)الَّذِينَجَعَلُواالْقُرْآنَعِضِينَ (٩١)فَوَرَبِّكَلَنَسْأَلَنَّهُمْأَجْمَعِينَ (٩٢)

“Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), kami telah menurunkan (‘adzab) kepada Muqtasimin (orang orang yang membagi bagi kitab Allah), yaitu orang yang telah menjadikan Al Quran terbagi bagi (sebagian diimani sebagian tidak). Maka Demi Robb mu, Kami akan menanyai mereka semuanya” (Qs.15: 90 – 92)

…أَفَتُؤْمِنُونَبِبَعْضِالْكِتَابِوَتَكْفُرُونَبِبَعْضٍفَمَاجَزَاءُمَنْيَفْعَلُذَلِكَمِنْكُمْإِلاخِزْيٌفِيالْحَيَاةِالدُّنْيَاوَيَوْمَالْقِيَامَةِيُرَدُّونَإِلَىأَشَدِّالْعَذَا…

….Apakah kamu beriman pada sebagian isi Al Kitab dan kafir kepada sebagiannyalagi ? Maka tidak adapahala bagi orang yang berbuat seperti itu di antara kalian, kecuali kehinaan di dunia dan di qiyamat kelak akan diseret menuju adzab yang keras…” (Qs.2:85)

Ringkas sejarah Pancasila ini dipaparkan, kiranya membuka mata kita semua bahwa Pancasila itu pernah lahir dalam berbagai bentuk dan interpretasi.Ada Pancasila yang disusun Panitia Sembilan, yang tegas memberi Draft pembukaan awal yang jelas bagi terpenuhinya wajib suci muslimin. Ada Pancasila versi pembukaan UUD 45, yang menghapus harapan para pejuang Islam Nusantara ketika itu, sebab pada kelahirannya yang ke dua ini telah menghapus 7 kata. Ada Pancasila versi Orde lama yang bisa diperas peras menjadi Trisila dan Ekasila (Gotong Royong).Ada Pancasila versi Orde Baru, yang memiliki daya cengkram sedemikian menyeluruh dan segenap aspek hidup masyarakat yang tinggal di wilayah (berwali kepada) Republik Indonesia.Sehingga daripadanya lahir “Gerakan Hidup Ber-Pancasila”, “P4” dan lain sebagainya.

Nyata bahwa Pancasila semakin hari ini semakin meningkat daya resapnya, bukan sekedar Ideologi Negara RI, tetapi menjadi “way of life” pandangan hidup warga Republik Indonesia.Tidak heran bila Muslimin warga RI giat-giatnya mencarikan ayat-ayat suci Al Quran untuk mengangkat nilai-nilai Pancasila hingga serasa ibadah dengan mengamalkannya

 

Referensi  :

[1]Kata Pengantar DR Muhammad Roem untuk buku Piagam Jakarta 22 Juni 1945, karya H. Endang Saefudin Anshary MA. Lihat pula lampiran lima buku tersebut “Lima Rumusan Resmi Pancasila dalam sejarah Indonesia” hal 166

[2]Menurut buku yang diterbitkan Cornell University (1984), tokoh tersebut adalah DR Sam Ratulangi, lihat “Dosa Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru yang Tidak Boleh Terulang Lagi di Era Reformasi”. K.H. Firdaus AN, Pustaska Al Kautsar, 1999 hal 73.

[3]Lihat BJ Boland, “The struggle of Islam in Modern Indonesia 1982”, KITLV, Leiden. Edisi Indonesia : “Pergumulan Islam di Indonesia”, Grafiti Pers, Jakarta, 1985 halaman 23 – 25

 

[4]Pantaskah Negara yang berdiri dengan menghapus kewajiban melaksanakan syari’at Islam tadi menjadi tempat muslimin bernaung dan membangun ? Saya tidak tanya fikiran anda, dari fikiran mungkin bisa keluar seribu alasan, tapi saya tanya iman anda, nurani anda yang paling dalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s