Pandangan dan Sikap Banyak kalangan Terhadap Negara Islam

 

Beberapa waktu yang lalu ada pembicaraan luas tentang hukum merokok. Majlis Tarjih Muhammadiyyah memfatwakan bahwa merokok itu haram. Para petani tembakau protes dengan fatwa ini, sebab dianggap berpotensi menutup mata pencaharian mereka.Selain fatwa merokok, kita juga pernah mendengar banyak fatwa, misalnya tentang aborsi, donor organ tubuh, KB, nikah sirri, mengucapkan “selamat natal”, golput, kepiting, tape, film, sulap, dan lain-lain.

Dalam perkara-perkara itu, kita kerap bertanya, “Apa hukum masalah ini dan itu? Bagaimana boleh atau tidak boleh? Halal atau haram?” Dan sebagainya. Dalam urusan muamalah, ibadah, makanan-minuman, profesi, kesehatan, dll. Kita sangat sering menanyakan hukum suatu perkara.

Sebagai seorang Muslim, pernahkah kita terpikir untuk bertanya tentang hukum Negara Islam? Bagaimana hukumnya, wajibkah, sunnahkah, mubahkah, atau haram?  Perkara Negara Islam tentu lebih penting dari masalah tape, alat kontrasepsi, kloning, film, dan sejenisnya. Ini adalah masalah mendasar dan sangat fundamental. Masalah  Negara Islam adalah urusan besar  yang menyangkut banyak perkara. Nah, mengapa kita tidak pernah mempertanyakan perkara tersebut?

Jujur saja, kalau seorang Muslim ditanya, hatta itu seorang anggota majlis ulama, apa hukumnya menegakkan konsep Negara Islam?  Banyak yang tak akan mampu menjawab.  Bila ada jawaban, paling penuh keragu-raguan. Padahal kata Nabi Saw, “Al halalu baiyinun walharamu baiyinun,” yang halal itu jelas, yang haram juga jelas.Tetapi dalam urusan hukum Negara Islam, seolah semuanya tampak kabur, rumit, penuh perselisihan.

BERBAGAI PANDANGAN KELIRU

Di tengah masyarakat Indonesia, banyak sekali pendapat-pendapat keliru tentang Negara Islam.Pendapat itu beredar dari yang paling lunak sampai yang paling ekstrim. Di antara pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

[o] Negara Islam adalah konsep yang melanggar hukum, subversif, ide teroris, sehingga ia harus dimusnahkah, ditumpas, disikat habis sampai keakar-akarnya. (Pandangan ini dianut oleh Densus 88, BNPT dan makhluk sejenis. Mereka bersikap seperti musyrikin Makkah yang memerangi Nabi Muhammad Saw, dalam rangka menghancurkan  Islam sampai keakar-akarnya).

[o] Negara Islam adalah ide yang serupa dengan komunisme, maka ia harus dilarang secara mutlak, karena mengancam  NKRI. Negara Islam sama seperti ancaman  PKI. (Pandangan ini dianut oleh umumnya perwira dan anggota TNI /  POLRI, baik  yang  masih aktif atau sudah pensiun. Mereka seperti tidak pernah membaca sejarah, bahwa sebelum ada NKRI, di Indonesia ini sudah berdiri banyak Kerajaan Islam. Bahkan yang memperjuangkan Kemerdekaan RI banyak dari kalangan lascar santri, seperti Hizbullah dan Sabilillah. Bahkan Jendral Soedirman adalah seorang perwira santri. Hanya karena otak  TNI / POLRI sudah disandera pemikiran anti Islam yang dibawa oleh Nasution, Urip Sumoharjo, Gatot Subroto, Soeharto, Ali Moertopo, LB Moerdani, dkk. Maka mereka selalu sinis kepada ide Negara Islam. Terhadap negara  Hindu  seperti Majapahit atau Negara Budha seperti Sriwijaya, ataupun ada usaha sekarang untuk mendirikan Negara Kristen Republik Indonesia (NKRI) mereka tidak menolak. Tetapi terhadap Negara Islam, sangat anti.Aneh sekali.

[o] Negara Islam akan menghancurkan NKRI, sebab Indonesia Timur akan menuntut merdeka dari Indonesia. (Pandangan ini dianut oleh kebanyakan orang Indonesia. Pelopornya ialah Soekarno dan Hatta. Dalam kenyataan, meskipun dulu ada gerakan DI/TII, Indonesia tidak pernah bubar. Lagi pula, meskipun saat ini tidak ada Negara Islam, tetap saja muncul gerakan separatisme di Aceh, Maluku, Papua, dan mungkin daerah-daerah lain. Separatisme itu muncul kebanyakan karena daerah-daerah merasakan kebijakan politik Jakarta yang tidak-adil, khususnya dalam soal ekonomi. Dalam kondisi seperti saat ini banyak orang percaya, bahwa NKRI akan bubar juga, meskipun tanpa faktor Negara Islam. Justru seharusnya diajukan pertanyaan terbalik: Bagaimana  NKRI bisa bertahan tanpa peranan Sistem Islam? Toh, sudah terbukti selama 71 tahun system sekuler gagal?).

[o] Negara Islam tidak dikenal dalam ajaran Islam, sebab dalam Kitabullah dan Sunnah, tidak ada istilah ‘negara’.(Pandangan ini dianut oleh Gus Dur, Amien Rais, dan orang-orang  Liberal, dll. Jadi, kalau dalam Al Qur’an dan Sunnah tidak ada istilah madrasah (sekolah), majlis taklim, qomus (kamus), majalah,  jaamiah (universitas), nahwu-shorof (ilmu bahasa Arab), mustholah hadits (studihadits), dll. Berarti semua itu tidak dibutuhkan oleh Islam? Begitukah?).

[o] Negara Islam tidak relevan dalam kehidupan modern, sebab ia tidak cocok dengan nilai-nilai Barat yang modern, trendy, aktual, membebaskan. Negara Islam hanya cocok di jaman batu, atau jaman “gurun pasir” di masa lalu. ( Pandangan ini dianut oleh mereka yang bangga dengan kehidupan modern yang datang dari barat dan hidup dengan gaya kebarat baratan , dan lupa bahwa kemajuan barat itu karena mereka dapatkan dari belajar kepada dunia Islam)

 [o] Negara Islam itu masih khilafiyah. Ada yang  membolehkan dan ada yang melarang. Kami ikut para ulama saja. Ikut apa? Ya, menerima konsep Negara sekuler yang sekarang didukung oleh para Ulama. Selama pak kyai dan ustadz-ustadz kami setuju Negara sekuler, kami ikut mereka saja. Ini lebih aman dan selamat. (Selamat apa?  Maksudnya, selamat sampai kecemplung ke neraka?).

[o] Negara Islam boleh, tapi sekuler juga boleh. Inihanya soal pilihan saja dalam memilih bentuk system politik yang kita sukai. (Andaikan hanya pilihan, buat apa Nabi sampai harus hijrah dari Makkah yang menganut system jahiliyyah?).

[o] Negara Islam lebih sesuai Syariat Islam, tetapi kita tidak boleh melawan penguasa. Mentaati penguasa lebih utama dari pada memperjuangkan Negara Islam.  Kebanyakan paham ini dianut oleh orang yang mengaku sebagai Kaum “Ahlus Sunnah ???” tidak pernah menentang penguasa, meski pun itu penguasa kafir yang menerapkan system kufur. Bagi para pengaku sebagai “Ahlus Sunnah” ini, mentaati penguasa adalah  KEWAJIBAN TERBESAR dalam agama, melebihi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bersujud di depan telapak kaki penguasa adalah akidah terbesar kaum “AhlusSunnah”. (Tidak ada komentar atas keyakinan seperti ini selain: Na’udzubillah wa na’udzubillah min addhlalah waahliha).

[o]Meyakini Negara Islam adalah pasti, TETAPI (selalu ada tetapi-nya) dalam praktik kenegaraan kita harus pintar bermain politik dan strategi. Kita sama-sama meyakini kebenaran  Negara Islam, tetapi kita perlu mengikuti permainan orang sekuler. Hanya itu pilihan kita. Ikuti dulu cara main mereka. Kita kalahkan mereka dengan cara yang mereka buat sendiri, setelah mereka kalah, baru kita dirikan Negara Islam. (Pandangan ini dianut oleh para politisi Muslim dan para aktivis partai Islam/Muslim. Tetapi orang sekuler tidak kalah pintar, mereka membuat banyak  syarat yang membuat para aktivis Islam itu tidak berkutik. Akhirnya para aktivis Islam itu ikut berserikat dalam menghalalkan riba, prostitusi, pornografi, minuman keras, perjudian, diskotik, night club, dll. Atas kontribusi mereka dalam ikut menghalalkan perkara-perkara haram, mereka mendapat gaji/insentif besar. Setiap rupiah gaji yang diterima dan dikonsumsi, berasal dari perserikatan dalam menyingkirkan hukum Islam dan menghalalkan perkara-perkara haram. Setelah kenyang dengan gaji semacam itu, mereka mulai sinis kepada siapa saja yang menyuarakan ide Negara Islam).

Semua pandangan-pandangan di atas adalah tidak benar, sesat dan menyesatkan, sehingga dapat menjerumuskan manusia ke jurang neraka ( darul bawar ). Bahkan sebagiannya telah menjadi kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, bahwa sebab-sebab rusaknya hati ada dua, yaitu syubhat dan syahwat. Pandangan beliau ini sangat tepat untuk mengungkapkan keadaan orang-orang yang menolak dan menentang keberadaan Negara Islam. Mereka telah dikuasai oleh syubhat dan syahwat, sehingga jiwa/ hati dan fikirannya tersamar dari menilai dan melihat kebenaran.

Wallahu ‘alam bissawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s