Statemen KT APNII tentang Deklarasi Daulah Islamiyah / Khilafah al Bagdadi

بسم الله الرحمن الرحيم

STATEMENT

KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA

(NEGARA ISLAM INDONESIA DALAM MASA PERANG)

Nomer: 01 Tahun 1435 H

TENTANG

PANDANGAN DAN SIKAP POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA

DALAM KAITANNYA DENGAN

DEKLARASI DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH  YANG TERMAKTUB DALAM STATEMENT

Asy Syaikh Al Mujahid Abu Muhammad Al ‘Adnaniy Asy Syamiy

Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyyah -Hafidlahullah-

  1. Mukaddimah

Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin wa bihi nastha’iin ‘alaa umuuriddunya waddien, Shalawat dan salam kita hantarkan bagi Rasulullah SAW, bagi keluarganya dan bagi para sahabatnya. Demikian pula bagi para shalihin, shadiqin, dan para syahiddin; amma ba’du: Allah SWT berfirman;

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. ( QS Ali Imran 3 : 140 )

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إسْرائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولا
ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar” (4). Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana (5). kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (6). jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai (7)”. (QS Al Isra 17 : 4 – 7)

Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan yang luas kepada Ummat Islam Bangsa Indonesia dan juga bagi ummat Islam dunia pada umumnya untuk meraih kehidupan yang mulia atau mati sebagai syuhada, peluang dan kesempatan yang mulia itu seiring dengan perputaran dan peralihan kekuasaan al-hak dan al-bathil baik dalam skala lokal maupun dunia sebagaimana nash tersebut di atas.

Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat ke-7 surat al-Israa tersebut dalam tafsirnya mengutip apa yang ditegaskan oleh Abu Qatadah; mengatakan bahwa di masa sebelum Rasulullah Muhammad diutus sedang berlangsung suatu kerusakan yang kedua kalinya yang dilakukan oleh Bani Israil di Baitul Maqdis, maka untuk menghukum kejahatan Bani Israil yang kedua tersebut Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyuramkan muka-muka mereka, dan di masa Khulafaur rasyidin jizyah telah diambil dari mereka, sedang mereka dalam keadaan terhina. Dalam al-bidayah wa nihayah, Ibnu Katsir mencatat bahwa penaklukan negeri Syam telah dimulai sejak Khalifah Abu Bakar Ash-Sidiq kemudian berlanjut hingga di masa Khalifah Umar bin Khaththab yang berhasil menaklukkan Baitul Maqdis.

Khabar Allah yang termuat dalam surat Ali Imran dan Al-Israa tersebut di atas telah terwujud di masa Rasulullah dan para sahabat. Untuk masa sekarang, tentunya ayat tersebut tetap merupakan khabar yang informative, artinya ayat tersebut yang memuat tentang khabar peralihan antara hak dan bathil masih tetap berlaku. Keberlakuan ayat tersebut dikuatkan oleh nash, bahwa sunatullah yang telah terjadi pada masa lalu, tidak akan didapati perubahannya pada masa kini. Artinya sejarah itu pasti berulang. Dengan demikian, setelah kejahatan Bani Israil ditumpas oleh Rasulullah dan para sahabatnya, kemudian setelah kejayaan Islam berlalu, dalam realitanya yang dapat kita saksikan sekarang, Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) kembali merajalela melakukan kerusakan atas negeri Baitul Maqdis (Palestina) khususnya dan dunia pada umumnya. Maka sesuai dengan janji Allah, kerusakan yang diperbuat oleh mereka akan dibalas oleh Allah dengan mendatangkan hamba-hamba Allah yang akan kembali menyuramkan muka-muka mereka  dan menghinakannya. Hamba-hamba Allah yang akan menghinakan Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) adalah khalifah yang tegak di atas minhaj nubuwah. Rasulullah menegaskan;

 … يَا ابْنَ حَوَالَةَ إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ أَرْضَ الْمُقَدَّسَةِ فَقَدْ دَنَتْ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَابِلُ وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْ النَّاسِ مِنْ يَدِي هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ. قَالَ أَبُو دَاوُد عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَوَالَةَ حِمْصِيٌّ

“… Wahai anak Hawalah, apabila engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi yang disucikan (Baitul Maqdis) maka sungguh telah dekat bencana gempa dan berbagai kesedihan serta perkara-perkara besar. Pada saat itu Hari Kiamat lebih dekat kepada orang-orang daripada tanganku ini dari kepalaku.” Abu Daud berkata; Abdullah bin Hawalah adalah orang Himsh. (HR. Abu Daud)

Hadits tersebut di atas pada dzahirnya adalah mengkhabarkan bahwa kekhilafahan yang turun di Baitul Maqdis tersebut adalah khilafah ‘alaa minhajin nubuwah periode pertama, dan mengingat sunatullah pasti berulang maka kekhilafahan ‘alaa minhajin nubuwah periode kedua setelah khilafah rasyidah, dapat dipastikan turun di Baitul Maqdis pula, dimana Imam Mahdi tampil sebagai Khalifah akhir zaman. Dan nash yang menegaskan;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An-Nuur 24 : 55)

Dalam tafsir Jalalain, penafsiran kamastakhlafal ladzina min qablihim dinisbahkan kepada Bani Israil yang diberikan kesempatan sebagai pengganti dari orang-orang yang lalim dan angkara murka. Kemudian pada perkembangan lebih lanjut bani Israil tersebut berbuat kerusakan. Dan pada penafsiran selanjutnya, Jalalain menegaskan bahwa Allah akan meneguhkan kekuasaan Islam di Baitul Maqdis yakni dengan diutusnya Rasulullah SAW. Dalam al-bidayah wa nihaya, Ibnu Katsir menuliskan, bahwa ketika Muadz bin Jabal bersama dengan para panglima lainnya yang diutus oleh Abu Bakar Ash-Shidiq untuk menaklukkan negeri Syam, Muadz bin Jabal dengan maksud memberikan spirit dan motivasi kepada pasukannya, ia membacakan ayat tersebut di atas.

Yang menjadi esensi dari nash yang termaktub dalam surat Ali Imran ayat 140 dan surat Al-Israa ayat 4 hingga ayat 7 tersebut, adalah dari masa ke masa sesuai dengan qadla dan qadarnya Allah SWT, bahwa pertarungan yang hak dan yang bathil dalam realitanya merupakan pertarungan Islam sebagai penegak ideologi tauhid melawan Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) sebagai penegak ideologi syirik dan yang berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam konteks Indonesia pun demikian yang terjadi, yakni pertarungan ideologi tauhid melawan ideologi syirik (Pancasila). Semoga Allah SWT memberikan tolong dan kurnianya atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, hingga fitnah (syirik) yang telah tersistem lenyap di bumi Indonesia, Amin.

  1. Eksistensi dan Haluan Politik Luar Negeri Negara Islam Indonesia

Dengan basmalah, Imam Asy-Syahid S.M. Kartosoewirjo atas nama ummat Islam Bangsa Indonesia, yang diangkat melalui konferensi (syuro) 362 ulama pada 12-14 Februari 1948 di Cisayong, Indonesia; kemudian memproklamirkan berdirinya Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia di Jawa Barat pada 12 Syawal 1368 H atau bertepatan dengan 7 Agustus 1949 M; dan dalam proklamasinya menegaskan, bahwa hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam, yang bersumber dari al-qur’an dan al-hadits shahih sebagai hukum tertinggi.

Pasca proklamasi, eksistensi Negara Islam Indonesia dikuatkan dengan berintegrasinya Ummat Islam Bangsa Indonesia di wilayah Indonesia Timur yang diwakili oleh Abdul Kahhar Mudzakkar di Sulawesi. Kemudian dikokohkan pula oleh berintegrasinya Ummat Islam Bangsa Indonesia di wilayah Aceh, Sumatera di bawah Komando Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Dan Ummat Islam bangsa Indonesia yang berada di wilayah Indonesia Tengah; yaitu di Kalimantan di wakili oleh Ibnu Hajar, juga di Jawa Tengah dibawah komando Amir Al-Fattah melengkapi eksistensi Negara Islam Indonesia.

Seiring dengan semakin kuatnya eksistensi Negara Islam Indonesia dalam masa 5 tahun sejak diproklamasikan; Kolonial Belanda yang pada masa itu kembali bercokol di Indonesia tidak bisa menerima dan tidak mau mengakui eksistensi Negara Islam Indonesia. Kemudian pemerintah kafir Kolonial Belanda memperalat para pejuang negara Republik Indonesia (RI) yang berideologi pancasila (syirik), telah kehilangan eksistensinya sejak perjanjian Renvile tahun 1948; Maka melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada tahun 1950 dilahirkan kembali dalam bentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan satu tujuan menghancurkan eksistensi Negara Islam Indonesia dan melanggengkan misi penghancuran Islam secara total, sebagai kelanjutan misi perang Salib.

Walau khilafah Islamiyah _khilafah ‘ala minhaj nubuwah_ yang pertama hanya dalam masa 30 tahun sebagaimana diisyaratkan dalam hadits, namun kekuasaan Islam dalam masa selanjutnya, telah menguasai dua pertiga dunia. Seiring dengan masa kejayaan Islam; kerajaan-kerajaan Eropa dengan spirit perang Salib (Yahudi dan Nasrani), bangkit dari keterpurukan dan mengumandangakan Renaisance dengan target three G-nya (Gold, Glory, and Gospel). Keberhasilan kerajaan-kerajaan Salib dengan misi penghancuran Islam secara total di dunia, puncaknya ditandai dengan lenyapnya kekuasaan Islam yang terakhir _Khilafah Turki Utsmani_ di Jazirah Arab tahun 1924 miladiyah dan lahirnya United Nations _Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)_ pada tahun 1945 sebagai badan dunia yang mengorganisir Negara-negara sekuler pasca perang dunia berakhir dan sebagai representasi keberhasilan kafirin wal musyrikin dalam menguasai dunia.

Dalam masa perang dunia kedua, wilayah-wilayah Islam _negeri kaum muslimin_ di seluruh dunia termasuk Indonesia, mutlak berada dalam genggaman kolonialisasi Eropa dan Amerika. Realitas kolonialisasi ini telah membentuk sebuah realita dimana negeri-negeri kaum muslimin yang berada dalam satu kekuasaan kolonial menjadi sebuah wilayah negara kebangsaan yang terjajah. Para Ulama yang berada di masing-masing negeri kaum muslimin yang terjajah, menyikapinya dengan menghukumi kondisi yang dihadapi sebagai kewajiban yang bersifat fardlu ‘ain bagi ummat Islam untuk melawan penjajahan di masing-masing negerinya. Dengan demikian, membantu ummat Islam di negeri kaum muslimin yang lainnya dalam melaksanakan wajib suci _jihad fisabilillah_ merupakan fardlu kifayah.

Ummat Islam Bangsa Indonesia dengan kesadarannya yang dibangun di atas spirit fardlu ‘ain untuk membebaskan negerinya,  kemudian melaksanakan wajib sucinya di Indonesia hingga kemudian melahirkan Negara Islam Indonesia. Dalam konteks kelahiran Negara Islam Indonesia pada tahun 1949 (1368 H), setelah 25 tahun runtuhnya khilafah Turki Utsmani; oleh pihak musuh dianggap sebagai representasi kebangkitan kembali kekuasaan Islam di muka bumi. Oleh karena demikian, tidak ada satupun negara di dunia termasuk dalam hal ini negeri kaum muslimin di Jazirah Arab yang memberikan pengakuan atas eksistensi Negara Islam Indonesia, sedangkan surat-surat pemberitahuan atas lahirnya Negara Islam Indonesia telah disampaikan. Termasuk dalam hal ini ummat Islam di dunia baik secara perseorangan maupun jama’ah, relatif tidak ada yang memberikan respon atas kelahiran Negara Islam Indonesia. Tidak adanya respon, pengakuan dan bantuan dari Ummat Islam di dunia, cukup dimaklumi oleh Negara Islam Indonesia saat itu, karena kondisi yang tengah dihadapi di masing-masing negeri kaum muslimin, sama-sama  sedang berusaha menjalankan kewajiban fardlu ‘ain di negerinya masing-masing.

Negara Islam Indonesia sekalipun dalam kesadarannya sebagai jama’ah minal muslimin, namun Negara Islam Indonesia merasa memiliki kewajiban untuk turut serta dalam melahirkan kembali jama’atul muslimin yang berbentuk khilafah fil ardh atau imamah al-uzhma, karena hal itu merupakan kewajiban syar’i. Oleh karena demikian, tahapan-tahapan perjuangan untuk sampai kepada terwujudnya khilafah fil ardh, dengan memperhatikan kondisi (waqi) yang berkembang memerlukan strategi untuk mewujudkannya. Karena itu, strategi yang dirancang oleh Negara Islam Indonesia, adalah Negara Islam Indonesia harus sampai terlebih dahulu kepada wujudnya sebagai Negara Kurnia Allah yang memiliki kedaulatan wilayah, kekuasaan (tamkin) de facto dan kekuatan (syaukah) yang cukup. Hal tersebut menjadi sebuah strategi selain karena factor penghalang yang menghadang, juga karena uswah yang telah dipraktekan oleh Rasulullah SAW, dimana khilafah fil ardh bertitik tolak dari Yastrib yang dideklarasikan sebagai Madinah _Negara Islam_ yang memiliki wilayah kedaulatan, memiliki tamkin, dan memiliki syaukah. Oleh karena itu kami mendukung kaum muslimin yang sedang berjuang menegakkan kekuasaan Islam dimasing-masing negerinya.

Memperhatikan kondisi dunia yang berkembang, dimana dunia yang sedang berada dalam genggaman kafirin wal musyrikin, yang wujudnya dalam skala wilayah negara kebangsaan adanya Negara-negara sekuler yang senantiasa menjadi penghalang bagi tegaknya Islam, juga menjelmanya badan dunia _United Nations_ yang dikendalikan oleh Negara-negara yang memiliki hak veto, dimana Negara-negara yang memiliki hak veto tersebut tidak akan pernah berpihak kepada Islam sedikitpun, karena mereka adalah musuh Islam. Dan Negara-negara anggota dari United Nations sudah pasti akan berpihak kepada kebijakan badan dunia itu sendiri. Oleh karena demikian, dalam rancangan strateginya, apabila Negara Islam Indonesia telah sampai pada wujudnya sebagai Negara yang memiliki kedaulatan penuh, walau tidak mendapat pengakuan dari dunia Internasional, namun mampu mempertahankan diri dari serangan pihak musuh; sesuai dengan amanat para Ulama dalam konferensi Cisayong tahun 1948, Negara Islam Indonesia diwajibkan _telah jatuh dalam kewajiban fardlu ‘ain_ untuk membantu ummat Islam di Negara lain dalam melaksanakan wajib sucinya, sehingga ummat Islam di Negara lain yang dibantu tersebut mampu membebaskan negerinya dan lahir sebagai Negara Islam.

Pada tahapan strategi selanjutnya, apabila di negeri-negeri kaum muslimin telah tegak  Negara-negara Islam; kemudian bersama-sama dengan Negara-negara Islam seluruhnya di dunia membentuk Dewan Imamah Dunia dan memilih seorang Khalifah sebagai Amirul Mukminin sekaligus sebagai pemimpin politik tertinggi dalam dunia Islam.  Dengan demikian, pandangan politik Negara Islam Indonesia dalam hubungannya dengan dunia Islam demi terwujudnya khilafah fil ardh adalah dimulai dengan proses pembebasan negeri-negeri kaum muslimin dari penjajahan kafirin wal musyrikin sehingga di tiap-tiap negeri kaum muslimin yang secara kondisi berada dalam bingkai negara kebangsaan yang terjajah, dapat memerdekakan dirinya sebagai Negara Islam. Dan pada esensinya, eksistensi Dewan Imamah Dunia yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang terpilih merupakan institusi yang representative untuk memberikan perlawanan terhadap badan dunia kafirin wal musyrikin yaitu United Nations. Dengan demikian, pada akhirnya di dunia akan tampak dengan jelas mana institusi yang hak dan mana institusi yang bathil.

Jika memperhatikan kepada konteks wujudnya khilafah ‘alaa minhajin nubuwah pada periode awal adalah tidak dapat disangkal bahwa khilafah merupakan kepemimpinan yang bersifat tunggal, dimana Khalifah adalah seorang Amirul Mukminin (pemimpin spiritual), juga merupakan pemimpin politik, dan pemimpin politik di bawah khalifah adalah Amir Wilayah (Gubernur). Dan khilafah ‘alaa minhajin nubuwah pada periode kedua, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits, seharusnya eksistensinya sama dengan khilafah ‘alaa minhajin nubuwah pada periode awal. Dengan demikian, eksistensi khilafah itu merupakan imarah tunggal dan tidak ada imarah Islam yang sejajar dengan khilafah, Inilah hukum asal khilafah. Maka jika ummat Islam di dunia pada masa sekarang bisa mewujudkan imarah tunggal, itu adalah yang terbaik, akan tetapi memperhatikan kepada penghalang-penghalangnya; yaitu ummat Islam cukup sulit untuk bersatu dalam satu imarah tunggal, maka mewujudkan multi imarah adalah solusi dalam menegakkan kekuasaan Islam.

Eksistensi Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan setelah 25 tahun khilafah Turki Utsmani dilenyapkan kafirin wal musyrikin Eropa, Amerika dan antek-anteknya; kelahiran Negara Islam Indonesia direpresentasikan oleh pihak musuh sebagai bentuk kelahiran kembali kekuasaan Islam di muka bumi. Oleh karena demikian, sikap musuh dengan berbagai upaya yang sungguh-sungguh, baik dengan menggunakan tangannya secara langsung ataupun dengan menggunakan tangan antek-anteknya yang berada di Indonesia, dalam hal ini para pejuang negara Republik Indonesia dan bala tentaranya.

Selain karena cukup mapannya bala tentara musuh dengan ketersediaan personil dan logistik dalam memerangi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, juga karena di dalam barisan mujahidin Angkatan Perang Negara Islam Indonesia para prajuritnya termasuk sebagian para panglima mengalami degradasi mental karena berbagai faktor, oleh karena demikian setelah selama 13 tahun Negara Islam Indonesia dari sejak diproklamasikannya bertahan, kemudian menemui kekalahan tempur secara mutlak, sejak tertawannya Imam/Panglima Tertinggi APNII; Asy-Syahid S.M. Kartosoewirjo pada 4 Juni 1962.

Pasca kekalahan tempur, para pendahulu kami dengan kekuatan personil yang tersisa yang masih memiliki integritas terhadap perjuangan, tetap berusaha dengan melakukan koordinasi dan konsolidasi untuk melanjutkan estafeta perjuangan bagi tegaknya Negara Islam di Indonesia. Hingga kemudian, risalah perjuangan Negara Islam Indonesia dalam rentang waktu kurang lebih 52 tahun secara estafeta sampai pada kami, dan kini estafeta perjuangan dan estafeta kepemimpinannya berada pada pundak kami.

Dalam hal ini, semoga Allah SWT meneguhkan kemauan kami dalam menegakkan dienul Islam, dan semoga pula Allah SWT memberikan kemampuan dan keberanian untuk kembali melaksanakan kewajiban yang bersifat fardlu ‘ain bagi kami di Indonesia, yaitu jihad fisabilillah.

 2. Pandangan dan Sikap Politik Negara Islam Indonesia

Sehubungan pada 1 Ramadlan 1435 H adanya kejadian luar biasa, dimana ISIS _Islamic State in Irak and Syam_ mendeklarasikan Khilafah Islamiyah yang dimaklummatkan dalam  statement  Asy Syaikh Al Mujahid Abu Muhammad Al ‘Adnaniy Asy Syamiy; Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyyah, Hafidlahullah; Dimana kami mendapatkan informasinya dengan cara tidak langsung, yaitu melalui internet. Kemudian beberapa saat setelah itu di internet berkembang ragam penyikapan dan pandangan, termasuk dalam hal ini para pejuang kami yang berada dalam barisan Angkatan Perang Negara Islam Indonesia secara perseorangan; maka untuk menciptakan maslahat dan menghindari mafsadat dalam barisan kami khususnya, kami merasa tertuntut untuk menyampaikan pandangan dan sikap politik kami secara resmi atas deklarasi Khilafah Islamiyah di Irak dan Syam.

Dalam hal ini, kami akan sampaikan terlebih dahulu pandangan kami terkait persoalan khilafah Islamiyah di akhir zaman. Hal ini penting kami sampaikan, karena para pendahulu kami di tahun 1948 telah memberikan hasil ijtihadnya terkait bagaimana mewujudkan khilafah fil ardh dan korelasinya dengan Negara Islam Indonesia sebagai jama’ah minal muslimin yang terabadikan dalam konferensi (syuro) Cisayong, Jawa Barat – Indonesia.

Isyarat nash dan hadits terkait wajib tegaknya khilafah fil ardh sebagaimana telah dimaklum dan dimafhum cukup jelas dan tidak dapat diingkari oleh setiap mukmin, dan para Ulama tidak berselisih dalam hal ini. Khilafah fil ardh merupakan imamah al-‘uzhma atau disebut juga dengan istilah Jam’atul muslimin; kekuasaannya meliputi seluruh permukaan bumi dan disanalah jama’ah minal muslimin _ummat Islam sedunia_ bernaung seluruhnya. Dan Khalifah sebagai pemimpin tertinggi ummat Islam, baik dengan statusnya sebagai Amirul Mukminin (pemimpin spiritual) maupun sebagai pemimpin politik tertinggi dan pemerintahan Khilafah fil ardh, kebijakan-kebijakan Khalifah bersifat umum dan mengikat bagi ummat Islam se-dunia, baik dalam persoalan aqidah, ibadah maupun muamalah demi tercapainya tujuan syar’i.

Kemudian, lahirnya khilafah fil ardh dari sudut pandang proses, Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan isyarat, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Ath Thiyalisi telah menceritakan kepadaku Dawud bin Ibrahim Al Wasithi telah menceritakan kepadaku Habib bin Salim dari An Nu’man bin Basyir ia berkata, “Kami pernah duduk-duduk di dalam Masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian Basyir menahan pembacaan haditsnya. Kemudian datanglah Abu Tsa’labah Al Khusyani dan berkata, “Wahai Basyir bin Sa’d, apakah kamu hafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan Umara` (para pemimpin)?” kemudian Hudzaifah berkata, “Aku hafal Khutbah beliau.” Maka Abu Tsa’labah pun duduk, kemudian Hudzaifah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya.  Kemudian berlangsung kekhalifahan menurut sistim kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya   Kemudian berlangsung kerajaan (kekuasaan) yang bengis selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya  Kemudian berlangsung kerajaan (kekuasaan) yang menindas (diktator) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya  Kemudian akan berelangsung kembali kekhalifahan menurut sistim kenabian.  Kemudian beliau berhenti”.   Habib berkata; “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjadi khalifah dimana Yazid bin an-Nu’man bin Basyir mendampinginya, aku menulis hadits ini untuknya dan aku mengisahkan hadits ini kepadanya dan aku katakan; “Aku berharap dia, maksudnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjadi amirul mu’minin setelah kekuasaan kerajaan yang bengis dan pemerintahan diktator”   Lalu suratku itu diberikan kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, maka dia senang dan mengaguminya”. (H.R. Ahmad).

Sesuai dengan hadits tersebut di atas, bahwa khilafah islamiyah lahir setelah masa nubuwah berakhir, yaitu dimulai sejak wafatnya Rasulullah SAW. Dan khilafah islamiyah tersebut dinamakan khilafah ‘alaa minhajin nubuwah, yaitu sistem kepemimpinan Islam yang bermanhaj nubuwah. Sebagaimana telah dimaklum dalam sejarah, bahwa khilafah ‘alaa minhajin nubuwah yang pertama ini adalah sejak kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq, kekhalifahan Umar bin Khaththab, kekhalifahan Utsman bin Affan, kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, kemudian berakhir di masa kekhalifahan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Inilah kurun waktu pertama khilafah ‘alaa minhajin nubuwah. dan hadits Rasulullah SAW yang lainnya menegaskan, bahwa khilafah yang pertama itu eksis dalam masa 30 tahun. Beberapa hadits menerangkan;

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ الْعَوَّامِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ عَنْ سَفِينَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافَةُ النُّبُوَّةِ ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْمُلْكَ مَنْ يَشَاءُ أَوْ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun berkata, telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Al ‘Awwam bin Hausyab dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Khilafah kenabian itu selama tiga puluh tahun, kemudian Allah memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (H.R. Abu Daud)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلَافَةَ عُمَرَ وَخِلَافَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلَافَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلَاثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلَافَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ .قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَعَلِيٍّ قَالَا لَمْ يَعْهَدْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخِلَافَةِ شَيْئًا وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ قَدْ رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ وَلَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu ‘man telah menceritakan kepada kami Hasyraj bin Nubatah dari Sa’id bin Jumhan berkata: telah menceritakan kepadaku Safinah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Khilafah di ummatku selama tigapuluh tahun kemudian setelah itu kerajaan.” Setelah itu Safinah berkata kepadaku: Peganglah, khilafah Abu Bakar, khilafah Umar, khilafah ‘Utsman, kemudian Safinah berkata padaku: Peganglah khilafah ‘Ali. Berkata Sa’id: Ternyata kami menemukan (lamanya waktu khilafah) selama tigapuluh tahun. Berkata Sa’id: Lalu aku berkata padanya: Bani ‘Umaiyah mengklaim, khilafah berlaku ditengah-tengah mereka. ia berkata: Bani Zarqa` berdusta, tapi mereka adalah kerajaan, termasuk kerajaan-kerajaan terburuk. Berkata Abu Isa: dalam hal ini ada hadits serupa dari Umar dan ‘Ali keduanya berkata: nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak mewasiatkan apa pun dalam kekhilafahan. Hadits ini hasan dan diriwayatkan bukan hanya oleh seorang perawi dari Sa’id bin Jumhan dan kami hanya mengetahuinya dari Sa’id bin Jumhan”. (HR. Turmudzi).Sebagaimana telah dimaklum di dalam sejarah, bahwa sejak wafatnya (terbunuhnya) khalifah yang ketiga, yaitu khalifah Utsman bin Affan kemudian digantikan oleh khalifah Ali bin Abu Thalib; suhu politik di dalam kekuasaan khilafah Islamiyah memanas hingga berujung dengan terbunuhnya khalifah yang keempat. Pasca wafatnya khalifah Ali bin Abu Thalib, kemudian kekhalifahan berada di tangan Hasan bin Ali bin Abu Thalib dan suhu politik terus memanas, bahkan keberadaan ummat Islam pada masa itu telah berada dalam perpecahan. Kemudian, Khalifah Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib dengan tujuan untuk menciptakan mashlahat dan menghindari mafsadat _persatuan ummat Islam, ia menyerahkan kekuasaannya kepada Muawwiyah bin Abu Sofyan, dengan syarat selanjutnya harus dimusyawarahkan. Sikap Khalifah Al-Hasan ini telah diprediksi oleh Rasulullah SAW, sebagaimana termaktub dalam hadits ini:

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ وَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَثِبُ عَلَى ظَهْرِهِ إِذَا سَجَدَ فَفَعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مَرَّةٍ فَقَالُوا لَهُ وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَفْعَلُ بِهَذَا شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ تَفْعَلُهُ بِأَحَدٍ قَالَ الْمُبَارَكُ فَذَكَرَ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَسَيُصْلِحُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ الْحَسَنُ فَوَاللَّهِ وَاللَّهِ بَعْدَ أَنْ وَلِيَ لَمْ يُهْرَقْ فِي خِلَافَتِهِ مِلْءُ مِحْجَمَةٍ مِنْ دَمٍ

Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Al Mubarak, telah menceritakan kepada kami Al Hasan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakrah, ia berkata; “Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam pernah shalat bersama orang-orang sementara Al Hasan bin Ali radliallahu ‘anhuma melompat ke punggung beliau apabila beliau sujud, ia berbuat seperti itu bukan hanya sekali, orang-orang pun berkata; “Wahai Rasulullah, anda berbuat sesuatu yang belum pernah kami lihat anda melakukannya kepada seorangpun.” Al Mubarak berkata; “Lalu beliau menyebutkan sesuatu seraya bersabda: “Sungguh anakku ini adalah ‘Sayyid’ tuan, yang dengannya Allah Tabaraka Wata’ala akan mendamaikan di antara dua kubu dari kaum muslimin.” Al Hasan berkata; “Demi Allah, dan demi Allah tidak ada penumpahan darah sedikitpun setelah ia menjadi Khilafah.” (H.R. Ahmad)

Pasca kekhalifahan Islam diserahkan kepada Muawwiyah bin Abu Soffyan dari Khalifah Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib, maka sejak itu kekuasaan Islam telah berubah dari system khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah kepada system Mulkan ‘Adhan (kekuasan yang bengis). Peralihan system politik Islam dari khilafah kepada system mulkan ‘adhan selain telah beralihnya kekuasan dari Khalifah Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib, juga ditandai oleh statement Muawwiyah bin Abu Sofyan ketika kekuasaan telah berada di tangannya, ia menegaskan bahwa dirinya adalah Raja yang pertama dalam kekuasaan Islam. Setelah berakhirnya kekuasaan Muawwiyah bin Abu Sofyan dan generasi selanjutnya, kemudian system kekuasaan mulkan adhan berlangsung hingga kemudian beralih kepada system kekuasaan mulkan jabbariyan sebagaimana termaktub dalam hadits tersebut di atas. Setelah berakhirnya kekuasaan mulkan jabbariyan, kemudian akan kembali tampil kekuasaan khilafah ‘alaa minhajin nubuwah, dan inilah kekuasaan islam di akhir zaman yang langgeng.

Dalam hal keberadaan Khilafah ‘alaa minhajin nubuwah di masa periode pertama, yang menjadi identitas khususnya bahwa Khalifah itu lahir melalui Syuro dan eksistensinya dikuatkan dengan pembai’atan atas khalifah yang terpilih. Persyaratan kedaulatan wilayah, tamkin (kekuasaan –pemerintahan) serta syaukah (kekuatan _tentara)  tidak terlepas dari eksistensi khilafah ‘alaa minhaj nubuwah pada periode awal. Dalam konteks permusuhan dengan al-bathil, diketahui dengan tegas baik pada masa nubuwah maupun pada masa khilafah rasyidah, yang menjadi prioritas melenyapkan musyrikin Quraisy dan kafirin wal musyrikin Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) yang telah berbuat kerusakan di muka bumi.

Terkait persoalan syuro, nash dan hadits menerangakan;

 … فَمَنْ بَايَعَ رَجُلًا عَلَى غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَلَا يُتَابَعُ هُوَ وَلَا الَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا.

“… maka barangsiapa yang membaiat seseorang dengan tanpa musyawarah kaum muslimin, janganlah diikuti, begitu juga orang yang di baiatnya, karena dikhawatirkan keduanya terbunuh”. (H.R. Bukhari)

… قَالَ وَإِنَّ النَّاسَ يَأْمُرُونَنِي أَنْ أَسْتَخْلِفَ وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيُضَيِّعَ دِينَهُ وَخِلَافَتَهُ الَّتِي بَعَثَ بِهَا نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ يَعْجَلْ بِي أَمْرٌ فَإِنَّ الشُّورَى فِي هَؤُلَاءِ السِّتَّةِ الَّذِينَ مَاتَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَنْهُمْ رَاضٍ فَمَنْ بَايَعْتُمْ مِنْهُمْ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا…

“… Umar berkata; “Sesungguhnya orang-orang menyuruhku untuk mengangkat seorang pengganti, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan agama dan kekhilafahan-Nya, yang telah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengusungnya, dan jika ajal menjemputku maka urusan ini diserahkan di dalam Syuraa (musyawarah) diantara enam orang yang ketika Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal beliau ridla kepada mereka, maka siapa saja diantara mereka yang kalian bai’at hendaklah kalian dengar dan taati,...” (H.R. Ahmad)

وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ

“… dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; …” (QS Asy Syura 42 : 38)

وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ

“…Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (Ali Imran 3 : 159)

Yusuf Qardhawai menjelaskan, bahwa syura dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, di dalam al-Qur’an termasuk unsur terpenting dalam berjamaah (bermasyarakat). Dan ayat yang menegaskan tentang syuro diantaranya termasuk ayat makiyah, yang menjadi esensi bahwa syuro merupakan hal yang asasi dalam meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat Islam. Maka syura itu juga dimasukkan dalam sifat-sifat orang yang beriman, disertai dengan sifat-sifat lainnya yang asasi, di mana keislaman dan keimanan seseorang tidak sempurna kecuali dengan sifat-sifat itu. Yaitu, istijabah (menyambut) seruan Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan apa yang diberikan Allah kepadanya. Ini disebutkan dalam surat yang membawa nama “As-Syura.” Allah SWT berfirman:

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup didunia; dan apa yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabbnya, mereka bertawakkal, dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (Asy Syura 42 : 36-38)

Kemudian, yang dimaksud dengan firman Allah “Wa Amruhum,” adalah urusan mereka yang bersifat umum, sebagai kepentingan bersama. Itulah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk bermusyawarah. Mengenai pentingnya syura, Asy Syahid Sayyid Quthb juga menegaskan: “Di sini, di ayat-ayat ini menggambarkan kekhasan jama’ah ini _jama’atul muslimin_ yang mana sifat ini telah dilekatkan secara kuat dan menjadi sifat utamanya, padahal ayat-ayat ini sifatnya Makkiyah yang diturunkan sebelum berdirinya Daulah (Khilafah) Islam di Madinah. Sesungguhnya kami menemukan bahwa di antara sifat jama’ah ini adalah : “…dan urusan-urusan mereka itu diputuskan dengan syuro di antara mereka”. Dari ayat yang diwahyukan Allah di atas, maka sesungguhnya penempatan kedudukan syura pada kehidupan kaum muslimin lebih dalam dari sekedar sebagai aturan politik kenegaraan. Syura adalah tabi’at yang sangat mendasar bagi jama’atul muslimin secara keseluruhan di mana semua urusan mereka didasarkan atas syura tersebut, kemudian dari jama’atul muslimin itulah syura diaplikasikan pada Daulah (khilafah) dengan sifat asasnya sebagai sebuah proses alami pada Daulah Islamiyyah”. (Fi Zhilalil Qur’an 6/327)

Dari penjelasan Yusuf Qardhawi dan Sayyid Quthb di atas bisa kita pahami bahwa Syura adalah asas utama ummat ini dan dengan syura pula Khilafah Islamiyyah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah akan ditegakkan. Dan Umar bin Khaththab menegaskan, “tidak rugi orang yang beristikharah dan tidak merugi orang yang bermusyawarah.” Insya Allah, setiap mukmin cukup maklum dan mafhum tentang arti penting sebuah syura dalam segala aspek kehidupan ummat Islam. Dalam Qanun Asasi sebagai dusturiyah Negara Islam Indonesia yang menjadi pedoman kami dalam ber-syiasah, syuro telah ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat penting dan telah dilembagakan, demikian pandangan kami terkait persoalan khilafah.

Adapun sikap politik Negara Islam Indonesia atas realita adanya deklarasi khilafah Islamiyah di Irak dan Syam; maka memperhatikan pada kondisi ummat islam dalam masa 15 abad terakhir ini, ummat Islam telah menyebar ke berbagai penjuru negeri. Dan tiap-tiap ummat Islam yang berada di berbagai negeri tersebut sesuai dengan kondisi yang dihadapinya, mempunyai kewajiban untuk menegakan dienul Islam _kekuasaan Islam, sehingga tujuan syar’i terwujud. Sebagaimana perintah bertaqwa kepada Allah baik yang termaktub dalam nash maupun dalam hadits, “bertaqwalah kamu dimana saja kamu berada”. Oleh karena demikian, maka ummat Islam yang berada di suatu negeri yang tertindas khususnya oleh kafirin wal musyrikin, berjihad merupakan fardlu ‘ain hingga terbebas dari kekuasan thaghut laknatullah.

Sikap politik Negara Islam Indonesia dalam kaitannya dengan hubungan luar negeri dan dunia Islam telah dirancang oleh para Ulama kami yang berkonferensi di Cisayong, Indonesia pada tahun 1948. Dimana hasil konferensinya yang berkaitan dengan hubungan Internasional menegasakan, bahwa: pertama, setelah Negara Islam Indonesia de facto dan de jure di bumi Indonesia, maka Negara Islam Indonesia berkewajiban membantu ummat Islam di Negara lain untuk melaksanakan wajib sucinya, yaitu jihad fi sabilillah hingga ummat Islam di Negara lain itu memerdekakan negerinya sehingga menjadi Negara Islam; kedua, bersama dengan Negara-negara Islam yang lain di dunia membentuk Dewan Imamah Dunia dan memilih seorang Khalifah sebagai Amirul mukminin dan juga sebagai pemimpin politik tertinggi.

Ummat Islam Bangsa Indonesia dalam kesadarannya sebagai jama’ah minal muslimin tetap merasa memiliki hak dan kewajiban untuk mempelopori dan atau untuk terlibat dalam upaya terwujudnya khilafah fil ardh, karena hal itu merupakan wajib syar’i bagi ummat Islam secara umum, baik yang tergolong kepada jama’atul muslimin maupun jama’atu minal muslimin. Yang menjadi dasar haluan politik luar negeri Negara Islam Indonesia sebagaimana yang termaktub di atas adalah berangkat dari suatu tinjauan kondisi yang dihadapi oleh umumnya ummat Islam di tiap-tiap negeri kaum muslimin.

Dan kapan saja kaum muslimin mampu bersatu di bawah seorang pemimpin, maka tidak diperbolehkan bagi mereka untuk memisahkan diri dan membuat keimarahan yang berbeda, karena jika mereka memisahkan diri, maka syariat tidak akan merestuinya. Dalam kondisi seperti ini, maka imam yang sah adalah penguasa yang pertama kali dibai’at, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: “Penuhilah bai’at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat)…”. Sedangkan keimarahan lainnya tidak dianggap, karena kaidah ushul berkata:

المعدوم شرعا كالمعدوم حسا

Yang di anggap tidak ada oleh syariat itu seperti tidak ada pada realita”.

Jika kita menerapkan hal diatas pada kondisi kita sekarang ini, maka kami katakan: Jika kaum muslimin bersatu di bawah seorang penguasa tidak memiliki kemampuan dalam segi penerapan, maka diperbolehkan untuk mengusahakannya dengan cara yang paling efektif untuk mendirikan pemerintahan bagi mereka. Tidak ada masalah (jika misalnya kita) mendirikan Imarah Islamiyah di Somalia, atau di Maroko, atau di Libya, atau di Jazirah Arab, atau di Iraq, atau di Mesir, atau di Indonesia dan atau di negeri muslim lainnya ini hanya boleh dilakukan jika umat Islam tidak mampu bersatu dibawah seorang amir. Namun jika bersatunya kaum muslimin pada hari ini di bawah seorang pemimpin merupakan sesuatu yang mungkin dilakukan, maka tidak diperbolehkan adanya keragaman imarah, bahkan imarah-imarah tersebut wajib untuk tunduk kepada penguasa yang pertama kali menerima bai’at.

Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah amirul mukminin itu? Ia adalah penguasa pertama yang dibai’at oleh jamaah muslimin dengan bai’at syar’iyyah, sama saja baik kita namakan dirinya dengan khalifatul muslimin atau kepala negara, dan sama saja baik ia mengakui dirinya sebagai khalifah atau tidak mengakuinya. Karena hanya dengan pembai’atannya saja, hak tersebut otomatis telah jatuh ke tangannya. Namun kita hanya menganggapnya sebagai pemangku kekhilafahan menurut konsep syariat, dan belum dari segi konsep politik, karena kaidah fiqh mengatakan:

 الموجود شرعا كالموجود حسا

“Yang di anggap ada oleh syariat itu seperti ada pada realita”.

Sesungguhnya tentang keabsahan bai’at kepada para Amir dengan bai’at secara local seperti apa yang terjadi di Indonesia, di Iraq, di Taliban dan atau di tempat lainnya dari negeri-negeri kaum muslimin, itu dibangun di atas keabsahan multi-imarah dengan sebab kaum muslimin tidak mampu bersatu di bawah kepemimpinan satu imarah. Akan tetapi apabila udzur tersebut telah hilang, dan kaum muslimin sudah mampu bersatu, maka hukumnya kembali menjadi seperti semula, yaitu “tidak boleh ada multi-imamah” dan jika kita telah kembali ke hukum asalnya, yaitu bernaung dalam bai’at kepada khalifah.

Memperhatikan pada kondisi umat Islam di berbagai negeri kaum muslimin dengan berbagai persoalannya, maka kami ummat Islam di Indonesia berkeyakinan lebih baik sepanjang penghalang tidak dapat bersatu dalam naungan Khilafah adalah ummat Islam membentuk imarah-imarah di setiap negeri yang dapat di bebaskan dari penjajahan kafirin wal musyrikin. Kemudian, imarah-imarah tersebut yang berada di berbagai negeri itu mewujudkan suatu badan dunia yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Dalam istilah kami, badan politik yang bersifat mendunia itu adalah Dewan Imamah Dunia. Dan hal ini, apabila imarah-imarah di berbagai negeri tersebut telah ada komitmen untuk membangun imarah tunggal yang berbentuk Dewan Imamah Dunia atau istilah syar’i-nya Khilafah, maka ini merupakan wujud kemampuan kaum muslimin untuk bersatu. Dengan demikian, Khilafah fil ardh dapat terwujud di muka bumi dan mendapat pengakuan atas eksistensinya dengan bai’at dari perwakilan dari Negara-negara Islam di seluruh dunia.

3. Seruan Komandemen Tertinggi APNII Kepada Ummat Islam Bangsa Indonesia

Dengan basmalah, kami berharap kepada Ummat Islam Bangsa Indonesia pada umumnya; semoga saudara-saudara telah memiliki kesadaran atas realita yang tengah berlangsung selama ini, dimana Ummat Islam di Indonesia pada hakikinya tengah terbelenggu, terhinakan, dan tertindas dalam segala aspek kehidupan terlebih dalam kewajiban melaksanakan syariat Islam secara kaffah, intinya Umat Islam Bangsa Indonesia sedang terjajah oleh kafirin wal musyrikin Republik Indonesia secara tersistem. Juga, kami berharap, saudara-saudara yang telah memiliki kesadaran atas realita fitnah (syirik) yang semakin merajela di bumi Indonesia, karena syirik telah menjelma sebagai system kehidupan yang mengikat siapa saja yang bernaung dalam kekuasaan thaghut laknatullah, tegasnya dalam kekuasaan NKRI, maka bersegeralah untuk bertaubat dan meninggalkan perwaliannya kepada thaghut dan hanya berwali kepada Allah saja, yang dalam manifestasinya berwali kepada Ulil Amri Negara Islam Indonesia.

Dalam hal ini kami mengingatkan dan menyerukan sebagaimana makna suratul ‘Ashr; firman-Nya:

 وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr 103: 1-3)

Bahwa kondisi yang tengah dihadapi oleh rakyat Indonesia termasuk umat Islam di dalamnya tengah berada dalam sebuah keadaan kehidupan yang bersifat jahili (jahat). Bentuk-bentuk kejahiliyahan yang terjadi bukan hanya yang bersifat horizontal dalam hubungan manusia yang satu dengan manusia lainnya, akan tetapi kejahatan yang tengah berlangsung saat ini adalah juga kejahatan yang bersifat vertical, yaitu syirik kepada Allah SWT. Oleh karena demikian, kami sampaikan, bahwa satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT adalah dosa Syirik dan tempat kembalinya kaum musyrikin adalah neraka jahannam, karena itu wahai manusia Indonesia marilah bertaubat dengan taubat nasuha dan kemudian bertaqwa kepada Allah SWT. Dan nash telah menegaskan, “… janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”.

Dalam hal ini, apabila manusia Indonesia tetap tenggelam dalam sistem kehidupan jahiliyah Pancasila (syirik), maka Allah SWT cukup menegaskan, bahwa manusia Indonesia tidak akan pernah meraih keuntungan, baik ketika di dunia maupun di akhirat _innal insaana lafii husrin. Kecuali bagi mereka yang mau menerima tauhid sebagai sistem kehidupan dirinya dan yang mau beramal shalih yaitu jihad fisabilillah bagi tegaknya dienul Islam, dan yang mendakwahkan kebenaran dengan sabar.

Kepada Ummat Islam Bangsa Indonesia yang telah memiliki kesadaran dalam hal yakfur bith-thaghut wa yu’min billah baik secara perseorangan maupun secara jama’ah (harakah), kami serukan kepada saudara-saudara marilah kita berpegang teguh kepada apa yang dimaksud dalam nash di bawah ini:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran 3: 103)

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. (Q.S. Ali Imran 3 : 112)

Alangkah mulianya umat Islam di Indonesia yang telah memiliki kemaun dalam menegakkan Islam secara kaffah, kemudian berada dalam satu ikatan yang kuat dan tidak bercerai berai. Dan hal itu sangat penting untuk segera dilakukan; mengingat realita fitnah Pancasila (syirik) yang semakin merajalela di bumi Indonesia dan perintah Allah untuk membinasakannya telah dinyatakan dalam nash:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al-Baqarah 2 : 193)

Dalam hal ini, semoga Allah SWT mempersatukan hati umat Islam Bangsa Indonesia, dimana dengan persatuan itu kita dimampukan Allah SWT untuk mengalahkan syirik yang telah tersistem.

 4. Penutup

Alhamdulillah, pada ketika Rasulullah SAW diutus sebagai pengemban risalah tauhid dan telah dijanjikan Allah SWT untuk menguasai dunia; keadaan dunia pada masa itu sebagaimana dikabarkan dalam nash, bahwa dua kekuatan besar dunia yaitu Imperium Romawi di Barat dan Imperium Persia di Timur tengah berperang dan saling mengalahkan:

غُلِبَتِ الرُّومُ
فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ
فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang) dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman”(QS Al-Rum 30: 2-4)

Sebagaimana kabar dalam nash tersebut di atas, pada ketika imperium Romawi mendapati kemenangan atas imperium Persia; Orang-orang yang beriman bergembira atas kemenangan imperium Romawi. Kegembiraan orang-orang beriman, bukanlah karena pendukung imperium Romawi. Akan tetapi apabila dilihat dari sudut pandang ideologis, jika dua kekuatan imperium dunia itu eksis, maka Islam akan berhadapan dengan dua kekuatan ideologis, yaitu Majusi, dan Nasrani; karena dua ideologi dunia itu berlawanan dengan ideologi Islam. Oleh karena demikian, secara taktis, imperium Persia yang dikalahkan pada akhirnya menjadi bagian dari kekuatan ummat Islam pada masa selanjutnya.

Realita sunnatullah tidak dapat diingkari, pada masa sekarang seiring dengan akan dibangkitkannya kekusaan Islam yang mendunia adalah juga ditandai dengan adanya realita dua kekuatan besar dunia yang saling beralawanan tengah berseteru, yaitu blok barat, Amerika  dan Negara-negara pengusung demokrasi dengan kapitalismenya; dan blok timur, Rusia atau China dan Negara-negara pengusung ideologi sosialisnya. Bagi umat Islam di masa kini, yang telah dijanjikan Allah SWT untuk berkuasa di bumi, semoga kita mampu membaca ayat-ayat kauniyah yang nyata.

Dan, semoga statement ini memiliki makna kepada semua pihak yang dimaksudkan oleh statemen ini, Semoga Allah SWT berkenan melimpahkan tolong dan kurnianya atas ummat Islam Bangsa Indonesia dari ancaman kemusyrikan dan kekafiran yang telah tersistem. Demikian pula kita berharap kepada Allah SWT, semoga para mujahidin seluruhnya di medan jihad manapun diberikan kemenangan.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Mardlatillah, 12 Syawal    1435 H / 07 Agustus 2014 M

KOMANDEMEN TERTINGGI APNII

Imam/Plm.T. APNII

(Muhammad Yusuf Thahiry)

4 respons untuk ‘Statemen KT APNII tentang Deklarasi Daulah Islamiyah / Khilafah al Bagdadi

    1. Kita sudah punya marhalah sendiri, sesuai dengan hasil keputusan kongres Cisayong bulan Februari 1948, dan kita melihat belum saatnya ada khilafah hari ini, karena masing masing negara islam sedang berjuang memerdekakan negaranya dari sistem jahiliyah yang ada

      Suka

  1. Pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani, maka pendirian Khilafah adalah wajib kifayah yang artinya siapa saja yang lebih dulu mampu menegakkannya dan syarat-syaratnya terpenuhi serta sesuai dengan syariat, maka dia/merekalah yang harus dan wajib diikuti dan ditaati. Nah ternyata realita dan sesuai Nubuwwah juga yang mampu dan berhasil lebih dulu menegakkan Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah tersebut adalah IS (Islamic State) yang basisnya di Irak dan Syam sehingga tidak ada alasan lagi bagi ummat Islam baik secara pribadi maupun kelompok (negara ataupun tandzim) untuk tidak mendukung dan berbai’at kepadanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s