Negara Islam Menurut Pemikiran H.O.S. Cokroaminoto

HOS Cokroaminoto adalah The Founding Father Bangsa Indonesia sesungguhnya. Tidak hanya fenomenal di dalam negeri, Cokroaminoto juga dikenal di beberapa negara luar Indonesia. Karya tulisnya banyak mempengaruhi dan dibaca oleh beberapa tokoh Internasional semacam Hitler dari Jerman, dan bebrapa tokoh dari Eropa lainnya. Di Indonesia memimpin Organisasi terbesar saat itu (Syarikat Islam/PSII/PSIT/PSI) dan dijuluki oleh lawan politiknya Pemerintahan Belanda sebagai The King Without Crown atau Raja tak Bermahkota, akibat besarnya pengaruh terhadap perpolitikan di Indonesia dengan jumlah anggota 3 juta orang di seluruh Indonesia, jumlah yang besar untuk masa itu, ketika Indonesia masih terjajah oleh Belanda.

Cokroaminoto dikenal sebagai guru bangsa, karena setidaknya 3 tokoh nasional dengan ideologi berbeda pernah menjadi murid politiknya, Soekarno, Kartosuwirjo, dan Sema’un. Dan banyak tokoh politik saat itu yang juga menjadi partner politik dalam membawa Indonesia kepada pintu kemerdekaan. Seperti H Agus Salim, KH Hasyim Asy’ari, KH Akhmad Dahlan, Tan Malaka, dan sangat banyak yang lainnya yang pada akhirnya menjadi tokoh-tokoh bangsa.

Akan tetapi pemikiran Cokroaminoto belumlah terkuak secara rinci dan lebar, bagaimana sebenarnya visi politik kedepan yang sedang Beliau rangkai untuk bangsa Indonesia. Seperti apakah sebenarnya Konsep Negara yang Beliau coba bangun ketika Kemerdekaan bangsa benar-benar diraihnya. Setidaknya visi itu tercermin didalam beberapa tulisan Beliau baik berupa buku atau kebijakan partai , seperti Islam dan Sosialisme, Moeslim Nationale Onderwijs, Tafsir Program Asas dan tandhim Syarikat Islam, dan Reglement Umum Bagi Ummat Islam. Dari sini kita bisa menguak tabir yang sebenarnya, harapan ataupun target politik Cokroaminoto melalui mesin politiknya untuk terjadinya Kemerdekaan Sejati bagi Umat islam Bangsa Indonesia.

Tulisan ini hanya semacam ikhtisar. Hanya mengambil intisari dari pemikiran Cokroaminoto. Tulisan-tulisan Cokroaminoto dalam setiap kata dan kalimatnya begitu penting bagi Rakyat Indonesia untuk dijadikan pelajaran. Kita akan melihatnya, bahwa negara yang diharapkan Cokroaminoto belumlah terwujud, dan bagi Cokroaminoto Negara yang diharapkan mewujud bukanlah hanya sebagai harapannya untuk Rakyat Indonesia, lebih jauh lagi bahwa Rakyat Indonesia seharusnya atau wajib mendaulatkan Negara yang Merdeka berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Karena hal ini menjadi satu palaksanaan atas realisasi Aturan Allah (Al Qur’an) sebagai pegangan mutlak bagi Kaum Muslimin.
Demokratis dan Sosialis

“Dimana asas-asas Islam itu adalah asas-asasnya yang menuju demokratis dan sosialis (sosialis sejati yang berdasarkan Islam), dan asas-asas itu juga menuju maksud akan mencapai cita-cita kemerdekaan negeri tumpah darah…..” (Moeslim Nationale Onderwijs-HOS Cokroaminoto)

Kata Demokrasi dan Sosial menjadi kata yang paling populer di dunia politik dimanapun di Dunia yang sedang mengalami perubahan mendasar sejak munculnya Revolusi-Revolusi di Eropa dan Amerika. Dimana mereka mulai menolak konsep negara Monarki Absolut yang mendasari konsep politik di seluruh dunia selama ribuan tahun, diawali  Piagam Magna Carta di Inggris yang membatasi kekuasaan Raja dan memberi wilayah kebijakan kepada perwakilan rakyat, yang kemudian memberikan peluang masuknya pemahaman konsep negara ideal masa Yunani kuno (Demokrasi dan Republica) yang sebenarnya ditemukan kembali oleh Dunia Islam saat menguasai Spanyol, yang akhirnya menjadi bacaan rahasia selama ratusan tahun di eropa, muncul kembali secara populer saat Revolusi Amerika yang memberikan efek kepada Revolusi Perancis, munculnya kaum borjuis kapitalis yang kemudian memunculkan antitesis dari konsep kapitalisme  yaitu  teori-teori sosialisme baik dari Adam Smith ataupun Karl Marx yang paling dikenal.

Teori-teori baru yang kemudian membentuk ideologi poltik muncul petama kali di Eropa dan Amerika, kemudian memberikan efek luas ke seluruh dunia, hampir semuanya didasari oleh teori-teori materialisme. Kesemuaannya menolak dogma yang biasanya menjadi koridor bagi ilmu apapun itu di masa abad pertengahan, mereka bahkan sebagaian menjadi atheis atau setidaknya mendudukan konsep ketuhanan menjadi lebih kerdil dan parsial. Dimana realita yang ada saat itu baik di kalangan Gereja ataupun Pendidikan Islam yang banyakdipengaruhi faham Islam Mistis dan Toriqot, minim sekali membicarakan perpolitikan atau negara. Mereka tidak mengenal faham Demokrasi yang secara filosofis dasar sangat membahayakan bagi sistem monarki yang berkuasa saat itu. Baik Islam atau Kristen dianggap penghambat bagi laju Revolusi Sosial saat itu, keduanya tidak mendapat tempat baik dari kalangan kapitalis ataupun sosialis, Islam yang muncul saat itu hanyalah berkutat di areal ritual dan individual.

HOS Cokroaminoto mencoba mengangkat Islam dari sudut pandang yang lebih luas, dengan bahasa dan terminologi populer dan difahami saat itu oleh kaum politikus, dan menyodorkan Islam sebagai satu konsep yang konferhensif dan sempurna. Disini Beliau mengkritik konsep sosialisme yang muncul dari kalangan materialisme di bukunya Islam dan Sosialisme, “…makin lama makin tambah kerasnya bersandar kepada barang-barang benda (stoffelije dingen) belaka”. Konsep sosialisme yang akhirnya difahami oleh berbagai kalangan memunculkan banyak teori-teori yang berbeda menjadi faham yang berbeda-beda pula, Beliau menyatakannya “Dengan hal yang demikian itu maka ketetapan arti kata sosialisme menjadi bertambah-tambah banyaknya seperti banyak bilangannya pasir ditepi laut”

Islam menurut HOS Cokroaminoto mempunyai konsep Sosialistis yang Sempurna, berbeda dengan apa yang disodorkan oleh berbagai teori di kalangan sosialis di barat ataupun timur, Muhammad SAW membawa konsep sosialisme didalam pergaulan hidup Islam, bahkan dinilai lebih luas cakupannya, Beliau membuat dua hal cakupan diantaranya

  1. Staats Socialisme, baik bekerja dengan kekuatan satu pusat (gesentraliseerd); maupun bekerja dengan kekuatan gemeente-gemeente (gedesentraliseerd)
  2. Industrie-socialisme

HOS Cokroaminoto memandang bahwa Muhammad SAW ketika memimpin Negara di Madinah maka negeri langsung diatur secara sosialistis. Konsep Staat Sosialisme adalah bagaimana Negara diatur berdasarkan prinsip-prinsip sosialistis yang sudah dicontohkan oleh Muhammad SAW di Madinah. Dimana tanah dan kandungan yang ada didalamnya menjadi milik negara dan diatur oleh negara untuk kepentingan rakyat banyak. Berbeda dengan prinsip sosialisme yang banyak dilaksanakan dewasa ini di berbagai negara yang cenderung Demokratis Sosialisme, dimana pengaturan sosialistis dilaksanakan berdasarkan demokrasi atas perwakilan-perwakilan rakyat yang mengatur setiap peraturan dan kebijakan politik, didalam Islam hak rakyat itu diatur oleh Allah SWT berdasarkan ketetapan Allah dan RosulNya. Hal ini yang menurut Cokroaminoto menjadikan konsep sosialisme Islam mendapat tempat paling tinggi. Beliau menyatakan “Wet-wet Muslim bukan bikinan orang, bukan bikinannya suatu badan yang hanya mewakili orang-orang yang berkuasa saja. Segenap peri kemanusiaan (menscheld), sebagai satu persatuan adalah mempunyai satu hak bersama, tiada seorang masing-masing dengan endirinya maupun segolongan-segolongan mereka itu, baik yang memilih maupun yang terpilih, boleh mengubah wet-wet itu untuk kesenangannya sesuatu golongan, partai atau kelas”

Pemerintahan Islam menurut Cokroaminoto adalah satu pemerintahan rakyat,  pemerintah hanyalah sebagai perwakilan rakyat untuk mengatur dan mengurus segala kebutuhan dirinya (rakyat), dijabat oleh orang-orang yang dianggap jujur dan bijak. Begitu pula dari sudut pertahanan negara, seluruh rakyat wajib membela negaranya sehingga militer didalamnya adalah Tentara Rakyat. Bukan satu kesatuan profesional (tentara bayaran).

HOS Cokroaminoto menyatakan dalam buku Islam dan Sosialisme “…Peraturan pemerintahan dan militer dalam Negeri-negeri Islam dulu adalah bersifat Socialistisch dengan sempurnanya”.

Ketika menggambarkan pemahaman Industrie-Socialisme, Cokroaminoto memandang Muhammad SAW menerapkan konsep perlindungan terhadap rakyat banyak. Dengan mengharamkan Riba. Riba adalah sistem Kapitalisme. Pemberian Upah yang layak dan dilarang keras untuk tertunda, satu hal yang lazim terjadi dalam realitas sistem kapitalis dimana buruh tidak diperhatikan dalam hal hak-hak kemanusiaannya termasuk didalamnya ketidak layakan upah. Cokroaminoto menyatakan “Dengan begitu maka nyatalah Igama Islam memerangi Kapitalisme sampai pada akarnya, membunuh Kapitalisme mulai dari pada benihnya”

Meskipun HOS Cokroaminoto memuji Marxisme dalam hal pembelaannya terhadap kaum buruh, akan tetapi Beliau melihat bahwa Engel dan Karl Marx hanyalah perpanjangan teori dari Charles Darwin, atau Darwinisme. Yang dimaksud adalah bagaimana Karl Marx mengemas pemahamannya sangat dipengaruhi oleh filsafat Historisch Materialisme. Bagaimana kebereradaan Tuhan hanyalah ciptaan (imajinasi) manusianya saja. Bahwa segala sesuatu berasal dan menuju kepada sifat dan bentuk materi. Sosialisme nya Karl Marx adalah Sosialisme Materialisme. Disinilah letak ketidak sempurnaanya.

Ada tiga anasir Sosialisme menurut HOS Cokroaminoto, Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan. Dimana ketiganya menurut Beliau dimasa Rosulullah Muhammad SAW masuk bersenyawa didalam setiap aturan atau hukum-hukum islam, didalam sendi-sendi kehidupan sosial kemasyarakatan. Sehingga tidaklah terdapat satu pemaksaan kehendak seperti bagaimana Beliau mengkritik realita hasil dari Revolusi Bolsvijk yang memunculkan Comunist (Komunisme) dimana terjadinya sosialis yang dipaksakan semacam imperialisme. Sedangkan Islam menurut Beliau “Ke elokannya Sosialisme Islam, ialah bahwasanya Sosialisme  Islam tidak merusakkan nafsu kerajinan orang dan tidak pula menggoda kenyataan orang akan mencari kemajuan, tetapi dicegah dan dipantangkan seorang menindas dan merusakkan lain orang, dicegah dan dipantangkan seorang menjadi kaya lantaran merugikan atau memakan hasil pekerjaan dan hasil usahanya lain orang.

Membentuk satu tatanan masyarakat yang diatur oleh peraturan yang didalamnya dikemas dengan sosialistis sempurna maka dalam pembentukan suatu tatanan politik dan kenegaraan, haruslah dibangun dalam satu tatanan yang Demokratis. HOS Cokroaminoto memberikan prinsip dasar ini hingga mewujud menjadi kebijakan Partai. Seperti apa yang Beliau tulis didalam Tafsir Program Azas dan Tandzim PSII. “Negeri merdeka (Indonesia) yang kaum Partai SII wajib berusaha akan mencapainya, pemerintahannya haruslah bersifat Demokratis, sebagai yang dinyatakan didalam Qur’an, surah asy Syuro ayat ke 38”. Syuro atau Musyawarah sebagai prinsip dasar dari Demokrasi, menjadi ruh utama dalam satu tatanan Negara Merdeka. Berbeda dengan Demokrasi yang dijalankan di Negeri-negeri barat, Demokrasi Islam adalah Dimokrasi yang dibatasi oleh Al Qur’an dan Hadits sebagai ketetapan Allah dan RosulNya. Demokrasi sebagai tatacara yang dijalankan Rosulullah dalam membentuk kebijakan dilaksanakan  bahkan sejak sebelum terbentuknya Negara di Madinah. Maka negara merdeka yang Demokratis menjadi tujuan utama bagi HOS Cokroaminoto dalam pergerakan politiknya. Beliau menyatakan bahwa sesuai ayat tersebut (Asy Syuro:38), Pemerintahan haruslah bersandar pada kemauan rakyat, dimana ada keterwakilan didalam majelis-majelis syuro, berupa Majelis Perwakilan Rakyat, Majelis Parlemen atau lainnya, dimana lembaga-lembaga tersebut harus berdasarkan kepada asas-asas Demorkasi yang seluas-luasnya.

HOS Cokroaminoto menegaskan, meskipun satu tatanan negara dibentuk dengan konsep Republik ataupun Monarki dengan Parlemen, dimana keduanya menggunakan prinsip Demokrasi, akan tetapi peraturan yang dibuat oleh manusia akan mengakibatkan ketimpangan-ketimpangan. Dimana yang terjadi peraturan selalu akan memihak kepada kaum yang kuat dan kaya, bukan kepada rakyat miskin. Berbeda jika negara tersebut ditata berdasarkan Islam (Negara Islam) dimana didalamnya tertata sistem sosialistik yang sejati. “Kerajaan (Staat) ada didalam genggaman sekalian orang Ra’yat (Ummat), yang semuanya berta’luk dan menurut satu hukum, bukan bikinan manusia, tetapi Hukum yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Luhur, dan Maha Adil, yaitu Qur’an Suci, yang hingga kini dan sampai akhir zaman masih tetap dan akan tinggal tetap didalam kesuciannya yang semula”

Pada masa kini, ketika banyak berdatangan ke Indonesia kelompok atau organisasi yang didirikan di Timur Tengah, dimana mereka tumbuh di dalam satu negara yang buruk dalam tatanan Demokrasinya, bahkan konsep sosialisme yang subur cenderung kepada Marxisme, sehingga mengakibatkan terminologi Demokrasi ataupun Sosialisme terdistorsi dan terstigmatisasi. Banyak Ulama atau pemimpin diantara mereka mengharamkan konsep keduanya diakibatkan pemahamannya yang parsial setelah mereka mengalami kondisi yang buruk oleh perlakuan pemerintahan di negaranya itu. Serta minimnya Ulama diantara mereka mempelajari dengan sungguh-sungguh konsep Politik dan Ketatanegaraan di Madinah pada masa Rosulullah. Dan ketidak mampuan mereka dalam melakukan studi komparatif (melakukan perbandingan ilmu) yang independent. Pemahaman ini kemudian menjadi dominan di kalangan aktifis Islam di Indonesia. Dimana pada masa kini Tulisan-tulisan Politikus Modernis semacam HOS Cokroaminoto tidak populer dibandingkan tulisan-tulisan ulama Timur-tengah yang lebih konservative dengan pemahaman politik yang cenderung kepada Monarki Absulut atau Otoriterian. Sering kali mereka tidak memahami sama sekali terminologi “Demokrasi” atau “Sosialisme” sehingga mereka tidak pernah mencoba mengkomparasi atau bahkan menggunakannya sebagai term Da’wah, saat mereka melakukan aktifitas gerakan. Bahkan beberapa organisasi pergerakan islam akibat ketidak mampuan memahami kedua term tersebut (dan ini sudah menjadi doktrin),  melakukan propaganda negatif dengan mendeskriditkan dan mengharamkannya meski dalam bentuk atau isme apapun. Sedangkan kedua term tersebut merupakan term paling  populer didalam komunitas politik. Kondisi yang mengakibatkan terjadinya ketidak sinambungan informasi ketika mengenalkan konsep Rosulullah dalam hal politik dan ketatanegaraan kepada kalangan mereka (komunitas politik). Satu hal yang tidak pernah terjadi pada masa keemasan Partai Syarikat Islam Indonesia saat dipimpin Cokroaminoto. Dimana beliau mampu mentransformasikan konsep Islam dalam komuntias politik apapaun ideologi mereka. Dan jika melihat anggota PSII yang didalamnya terdapat kaum moderat ataupun konservative, baik di kalangan muslim perkotaan (yang dibesarkan didalam sekolah belanda) atau muslim pedesaan (yang dibesarkan didalam sekolah pesantren), sedangkan tulisan-tulisan HOS Cokroaminoto sebagai Presiden PSII menjadi bacaan wajib bagi seluruh anggotanya. tidak pernah ulama diantara mereka mempunyai permasalahan dalam memahami kedua term tersebut. Memperlihatkan bagaimana kondisi saat ini terjadi kemunduran kualitas ilmu yang signifikan diantara para aktifis islam.

Demokrasi atau Sosialisme dan juga Republik, term yang baru populer kembali di abad ke 18, pertama dipraktikan di dunia dengan sempurna oleh Rosulullah Muhammad SAW. Yang berarti 12 abad sebelumnya. Mulai menjadi bahasan Ilmuwan ketika Islam berkuasa di Spanyol dimana Universitas Cordova menjadi pusat pendidikan dunia. Disaat Eropa saat itu mengalami masa kegelapan yang panjang, Dunia islam menjadi pusat kemajuan keilmuan, dan diantaranya adalah bagaimana saat itu ilmu filsafat Yunani kembali menjadi bahan pelajaran. Ilmuwan Islam separti Ibn Rusyd dan Ibn Khaldun mencoba mentransformasikan ilmu dari para filsuf Yunani tersebut dengan apa yang sudah diperbuat oleh Rosulullah, dan lahirlah beberapa buku politik dan ketatanegaraan semacam al Ahkam wal Sulthoniyah dan Al Jumhuriyah wal Ahkam. Dimana kedua ulama inilah yang mempengaruhi pertama kali di eropa dalam hal pemahaman ilmu politik dan ketatanegaraan.

Derasnya arus ideologi baru (Marxisme) masuk ke Indonesia di akhir abad 18 dan di awal abad 19, dan mulai mempengaruhi rakyat indonesia, saat para intelektualis pribumi mulai dibanjiri oleh buku-buku dari para orientalis dan ideolog, terutama saat Belanda mulai melaksanakan “politik etis”. HOS Cokroaminoto mencoba membentengi masyarakat dengan membuka pemahaman melalui beberapa tulisannya dengan terminologi populer diantara para intelektualis saat itu. Juga ketika mulai membangkitkan kaum pribumi untuk menjadi satu masyarakat yang Merdeka, beliau mencoba lebih dahulu membongkar pemahaman dari sudut ideologi para penjajah kapitalis. HOS Cokroaminoto mengajak kaum Muslimin untuk bangkit dan memerdekakan diri dengan memberinya wawasan dan ilmu yang didasari dari Ideologi yang diyakininya. Dan Beliau melihat, Islam bukan hanya sebagai satu keyakinan Rakyat Indonesia, lebih jauh dari itu, beliau mempunyai pemahaman bahwa Islam adalah satu-satunya solusi bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Kemerdekaan sejati, bukan kemerdekaan nisbi seperti yang dialami oleh Bangsa Indonesia masa kini.

Penataan Ekonomi

Menata Ekonomi dalam satu tatanan Negara Merdeka yang Demokratis dan Sosialistis, haruslah memenuhi dan sesuai prinsip-prinsip sosialis yang kesemuaannya sudah dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad SAW dan Khulafaturrosyiddin. Penataan Ekonomi yang Merdeka, didasari prinsip persaudaraan dan persamaan.

Penataan Ekonomi yang Kapitalistik dimana peraturan selalu berfihak kepada para pemegang kapital harus  diperangi dan dihancurkan hingga ke akar-akarnya, dan dimusnahkan hingga ke bibit-bibitnya. Imperialisme Barat yang mengakibatkan ratusan tahun penjajahan di Dunia adalah diakibatkan dan didasari oleh Penjajahan Kapitalisme, meskipun didalam era modern ini berbagai fihak meneriakan Kemerdekaan, akan tetapi didalam sistem Kapitalisme Kemerdekaan sejati tidaklah akan didapatkan.

HOS Cokroaminoto menyatakan didalam Tafsir Program Azas dan Tandzim, “ Kenyataanya kapitalisme yang merajalela dengan sepnuh-penuh tenaga dan kekuasaanya di Negeri tumpah-darah kita, ternyatalah telah menjadikan sebab bangsa kita hilang kemerdekaanya, jatuh di dalam kenistaan penghambaan kebangsaan dan kenistaan penghambaan pencarian”

Motor penggerak Kapitalisme adalah Riba, Sistem modal kapital diputar dan disokong oleh sistem Riba, tidak akan ada ideologi kapitalisme kalau tidak tersusun dengan sistem Riba, dan tidak perlu ada Riba jika kita tidak menggunakan ideologi Kapitalisme. Riba dan Kapitalisme seperti dua sisi di mata uang yang sama.

Islam memerangi Riba dengan Zakat, Sistem Perekonomian Islam yang didasari sosialistis sejati dimana persaudaraan dan persamaan menjadi landasan utama, menjadikan Zakat sebagai motor penggerak untuk kestabilan ekonomi negara. Selain aset tanah dan air serta seluruh kandungan didalamnya dikuasai negara, juga kepentingannya diperuntukan untuk rakyat sepenuh-penuhnya. Rakyat tidak dibebankan Pajak, Rakyat dibebankan Zakat untuk kepentingan saudaranya se muslim. Didalam Islam dan Sosialisme, HOS Cokroaminoto menyatakan “Dengan hukum zakat maka Islam bermaksud mewajibkan orang kaya mengeluarkan biaya untuk keperluannya orang miskin. Pada zamannya Nabi Muhammad SAW. Tanah itu memberi sebesar-besar dan seluas-luas pekerjaan kepada orang-orang kaum pekerja (arbelders-kuli), dan sebagaimana sudah saya ceritakan diatas, pada zaman pemerintahan Islam tanah itu menjadi kepunyaan Negeri.”

Berikutnya Beliau menyatakan “Nabi kita menyuruh kita berlaku dermawan dengan asas-asas yang bersifat sosialistis. Sedang Qur’an berulang-ulang menyatakan bahwa memberi sidekah itu bukannya bersifat kebajikan, tetapi bersifat satu wajib yang keras dan tak boleh dilalaikannya.”

Baik Zakat ataupun penghasilan negara dari tanah yang dikuasainya dihimpun didalam satu Lembaga Baitul Maal, lembaga yang mengatur regulasi dan sirkulasi harta negara, setiap rakyat yang kaya tetapi didalamnya terdapat ruh islam, tidak akan berlomba-lomba menimbun harta, mereka akan memenuhi Baitul Maal dengan Infaq dan Sedekah. Disinilah letak perbedaan dasar antara sistem Kapitalis yang memberi kekuatan pada pemegang kapital untuk menumpuk harta meski dengan penjajahan terhadap kaum lemah, atau Komunis dimana Negara memaksakan kehendak kepada rakyat dan dijadikannya kaum buruh selamanya dengan pendapatan yang tidak memenuhi syarat, dengan Islam dimana regulasinya menjadikan kaum kuat akan membantu sepenuhnya kaum lemah. Mengangkat derajat kaum miskin oleh kaum kaya. Inilah Sosialisme Sejati. Sosialisme Sempurna. Sosialisme berdasarkan Islam.

HOS Cokroaminoto menyatakan, “Bagi kita, orang Islam, tak ada Sosialisme atau rupa-rupa “isme” lain-lainnya, yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan sosialisme yang berdasar Islam itulah saja”

Ketetapan  dalam pengaturan Perekonomian Negara melalui Baitul  Maal tidak bisa dihapuskan dalam sistem perekonomian Islam, karena pengaturannya telah ditetapkan didalam hukum Allah, Al Qur’an yang dipraktikan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Riba telah menjerat selama ratusan tahun rakyat Yastrib sebelum kedatangan Rosulullah Muhammad SAW, Bani Israil yang menjadi motor penggerak ekonomi yastrib menjalankan perekonomiannya melalui Riba, bahkan peperangan diantara dua suku besar Aus dan Khazraj yang membutuhkan dana banyak telah menyita aset rakyat Yastrib karena peperangan itulah dimana pelaksanaanya membutuhkan dana besar menjadikan mereka lebih terjerat lagi oleh Riba yang dijalankan oleh Bani Israil.

Rasulullah Muhammad SAW hijrah ke Yastrib membentuk tatanan baru termasuk dalam hal sistem perekonomian negara, bahkan perubahannya itu dilaksanakan di tahun pertama. Pada masa berikutnya Rosulullah sebagai pimpinan Negara melarang dengan tegas Riba di kalangan kaum Mukminin, baik sebagai pelaku, atau pengguna, bahkan sebagai pencatat. Sistem perekonomian yang adil dilandasi kebersamaan dan persaudaraan yang terealisasi melalui Baitul Maal, telah sanggup memakmurkan Rakyat Madinah. Kemakmuran yang hampir merata, setidaknya kefakiran maupun kemiskinan menjadi target utama untuk ditanggulangi oleh Lembaga tersebut (Baitul Maal).

Pendidikan Islam

Konsep Pendidikan Islam dari pemikiran HOS Cokroaminoto terangkum didalam satu tulisan “Moeslem Nationale Onderwijs”. Beliau memandang bahwa perlunya satu konsep pendidikan Islam yang akan menghasilkan kader-kader bangsa untuk mengiring menuju Kemerdekaan (Islam).

HOS Cokroaminoto menyatakan “ … maka kalau kita kaum Mulimin mendirikan sekolah-sekolah kita sendiri, tak boleh tidak pengajaran yang diberikan didalamnya haruslah pengajaran yang mengandung pendidikan akan menjadikan muslim yang sejati dan bersifat nasional dalam arti kata : menuju maksud akan mencapai cita-cita kemerdekaan umat”

Selain keilmuan formal yang saat itu menjadi standar di sekolah-sekolah Belanda atau Pribumi, Cokroaminoto memberikan 4 penekanan penting dalam pembentukan kader melalui pendidikan, Beliau menyatakan “ selain pengajaran kepandaian legal, haruslah juga  :

  • Menanam benih kemerdekaan dan benih demokrasi, yang ialah menjadi tanda kebesaran dan tanda perbedaan Umat Islam besar pada zaman dulu.
  • Menanam benih keberanian yang luhur, benih keiklasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada yang benar (haq), yang telah menjadi tabiat tiap-tiap orang dan tabi’at masyarakat islam pada zaman dahulu.
  • Menanam benih pri-kebatinan (ruhiah/spiritual) yang halus, benih keutamaan budi dan kebaikan perangai, yang dulu telah menyebabkan orang Arab penduduk laut pasir itu jadi bangsa tuan yang halus adat lembaganya dan jadi penanam dan penyebar ke adab an dan ke sopan an
  • Menanam benih kehidupan yang salih dan sederhana sebagai yang dulu telah menjadi sebab masyur nama Umat Islam.

Keterpurukan di Dunia Islam pada masanya menjadikan Cokroaminoto memberikan gambaran bahwa pendidikan Islam haruslah seimbang antara Material dan Spiritual, antara pendidikan filsafat dan syari’at (islam). Agar setiap kader pendidikan tersebut mampu bersaing dengan siapapun. Beliau melihat bagaimana satu suku terasing di Hijaz mampu menjadi beradab dan menguasai dunia melalui pendidikan. Hal yang memungkinkan bagi Bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan akibat Penjajahan, mampu mencapai kemerdekaan dan berdaulat menjadi suatu Negara Islam yang sejajar dengan negara-negara Besar.

HOS Cokroaminoto meralisasikan konsep pendidikannya secara berjenjang melalui 3 tahapan : Langkah Pertama (lager Onderwijs), Langkah Kedua (Midlebaar Onderwijs), dan Langkah Universitet (Hoger Ondrwijs). Dimana tahapan-tahapan tersebut diarahkan untuk menjadi seorang “Muslim Sejati”, Seorang muslim yang mempunyai dasar keilmuan yang lengkap, dan mampu memperjuangkan Kemerdekaan bangsanya, menuju kemerdekaan sejati, kemerdekaan Islam dengan sesempurna-sempurnanya.

 

Sumber:

Shuffah Institute

http://empiris-online.blogspot.co.id/2016/08/negara-islam-menurut-pemikiran-hos.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s