Membela Negara Islam Lebih Utama daripada Membenahi Negara yang Bukan Negara Islam

Pertanyaan 1 :

Apa perlunya kita memaksakan pendirian Negara Islam seakan akan menomorsatukan negara, padahal yang harus kita nomor satukan adalah Allah, Tuhan kita yang Esa. Apa benar begitu ???

——————–

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa NII menomorsatukan negara itu pendapat dari mana ? Apa pendapatnya warga NII ? Apa penilaian orang-orang di luar NII ? Perlu dicatat di sini, bahwa keberadaan Negara Islam dengan segala perangkatnya (pemerintahan) yang ada di dalamnya ialah hanya sebagai sarana dari terlaksananya perintah-perintah Allah dalam kehidupan bernegara. Jika dikatakan Negara Islam sebagai wadah terlaksananya syariat secara menyeluruh itu ialah tujuan akhir dan segala-galanya, maka itu tidaklah benar, melainkan adanya adalah menjadi tujuan antara dari tujuan hidup mukminin yaitu ridho Allah.

Nah, jadi kalau ada orang yang mengatakan NII itu menomorsatukan Negara, apa alasannya ? Lalu apa baiknya menomorsatukan (Lebih memilih untuk berfihak kepada) Negara Kufur yang nyata anti-Islam itu untuk dibenahi dengan harapan terjadi perubahan dari dalam, baik itu dalam arena politik sistem thoghut maupun arena dakwah dari mimbar ke mimbar ? Sampaikan saja kepada mereka : “Jangan Mimpi !!”. Lagi pula, (Dalam batasan konteks pembicaraan sebuah institusi Negara) Kalaupun mau dinomorsatukan untuk dibenahi, diperjuangkan, diperbaiki keadaannya itu Negara mana dulu ? Negara Pancasila apa Negara Islam ?

Adanya pemerintahan Islam adalah salah satu hal yang diwajibkan atas umat Islam sebagai sarana ulil amri Islam yang ditaati, ialah pemerintahan penyelenggara hukum-hukum Islam, itulah yang dimaksud dengan ‘pemimpin di antara kamu (orang-orang beriman)’. Bukannya para pemimpin yang telah bersumpah untuk setia kepada thoghut Pancasila dan UUD 45. Demikian pendirian Negara Islam Indonesia 7 Agustus 1949 itu ialah atas dasar Islam yang memiliki landasan dalil naqli dan aqli.

Jika warga Negara Islam Indonesia itu mati-matian membela Negara nya sendiri walaupun tengah berada dalam masa kekalahan atas NKRI, maka yang dibelanya itu bukanlah semata membela Negara sebagai institusi tempat dimana dia berikan loyalitasnya untuk itu, melainkan dilihat lebih daripada itu, yakni mempertahankan tegaknya hukum-hukum Allah yang telah berjalan dalam Negaranya. Memang begitulah perjuangan yang menegara. Yang telah tegak berdiri teguh laksananya hukum-hukum Islam di dalamnya, maka setiap rakyatnya wajib untuk mempertahankan keberadaanya, itulah wajib suci, jihad fi sabilillah mempertahankan Negara Karunia Allah.

Perkara mereka warga Negara Pancasila ingin mempertahankan Negaranya sendiri, sampai mati-matian membela Negara, Ideologi Pancasila  dan segenap pemerintahannya dan mencemooh NII dari luar, itu urusan mereka, karena memang itulah namanya bela negara. Tapi bagaimana dengan pertanggungjawaban di mahkamah Ilahi nanti…..????

Bersiap-siaplah  !!! Siapa yang sebenarnya di pihak Ilahi …!!! .

Coba perhatikan itu salah satu contoh bela negara yang dikemukakan oleh Saudara Muslim Sejati dalam rubrik ‘Politik dan Ekonomi Islam’, subjudul ‘Menunggu Jawaban Ameeratul Jannah’, dalam komentarnya ; “Maaf, saya ingin memberi komentar. Menurut saya, negara kita sekarang ibarat rumah bobrok dan pemiliknya miskin. Alangkah lebih baiknya bila kita terlebih dahulu memperbaikinya. Apabila rumah yang bobrok diperbaiki, si pemilik mempunyai kesempatan untuk memanfaatkannya untuk ekonominya, misal dengan di sewakan sebagian kamar. Dalam hal ini, kita harus menambah pengetahuan tentang Islam, dan terus mendalaminya. Apabila rumah tersebut sudah menghasilkan, kita tabung hasil tersebut. Setelah kita rasa cukup modal untuk membangun rumah yang lebih baik, baru kita bongkar rumah yang udah ada, termasuk pondasinya. Dengan begitu, kita tidak terlalu terbebani dengan modal untuk membangun rumah baru. Dengan kata lain, kita tidak mendapat tentangan dari umat Islam sendiri, setelah sebelumnya mencicil untuk menambah pengetahuan, serta kuantitas umat Islam yg sudah faham betul. Maklum saja, sindrom Islamofobia masih mengental, sebagai akibat dari kebijakan OrBa.”

Nah, dalam kutipan di atas Saudara Muslim Sejati menuliskan ;”Menurut saya, negara kita sekarang …dst”. Itu yang dimaksud dengan ‘negara kita’ oleh Muslim Sejati ialah jelas Negaranya sendiri (NKRI) dimana ia memberikan loyalitas dan ketaatan di dalamnya. Dalam hal ini, Saudara Muslim Sejati memprioritaskan perbaikan Negaranya ke arah yang Islami. Namun demikian tidak bisa dikatakan perbuatannya itu menomorduakan Tuhan Yang Maha Esa, Allah azza wa jalla, dan menomorsatukan Negaranya hanya karena yang diperjuangkannya ia menggunakan kata ‘negara’.

Karena apa yang menjadi tujuan akhirnya itu ialah kembali kepada penyempurnaan Islam dan hukum-hukum Allah. Dan memang begitulah kerjanya ulama-ulama satu negara (NKRI misalnya), yang dibenahinya ya tentu negara nya sendiri, sekalipun telah jelas-jelas Negara itu tadi mengubur permanen syariat Islam dan anti-Islam. Mungkin yang seperti ini lah yang secara niat dan tujuan menomorsatukan Allah, Tuhan kita yang Esa, tetapi pada praktiknya malah sebetulnya menomorsatukan Negara yang kebal kepada sebagian hukum Tuhan nya sendiri.

Wassalam,

Rahadian (Warga NII) – Bandung.

 

Pertanyaan 2

Bertanyalah pada ulama jika kalian tidak tahu ( setahu ana di tubuh NII tidak mempunyai ulama ulama panutan yang shahih ilmunya ) lalu bagaimana ingin menegakkan syariat Allah jika tdk ada yg membimbing.Lalu bagaimana hukum hukum Allah itu berjalan jika tidak ada Qadhi yang memang seorang ulama


Pertanyaan apriori seperti diatas dari mana sumber berkembangnya? Kami khawatir sikap skeptis tersebut terlahir dari kekerdilan berfikir terhadap keberadaan Daulah Islam Berjuang.

Perlu ditegaskan sekali lagi NII adalah sebuah Negara Islam yang telah ada dan berdiri secara sah baik ditinjau dari segi syari atau hukum jahiliyah sekalipun. Jadi syariat Allah telah ditegakkan oleh Kepemimpinan daulah dan tentunya seluruh warga Negara Karunia Allah telah rela menjadikan Syariat Islam sebagai Diennya.baik ada maupun tidaknya Qodhi sebagaimana yang dipertanyakan.

Ketahuilah bahwa seluruh yang berdasarkan Qur’an dan Sunah menjadi rujukan utama bagi ilmu warga Daulah baik dari ulama Salaf maupun Khalaf dengan landasan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Anggaplah Di tubuh NII tidak ada ulama shahih sebagaimana yang dituduhkan, lantas apa dalil syar’i yang membolehkan warga NKA meninggalkan ketaatan kepada Imam/Amirnya hanya karena tidak ada ulama shahih didalamnya ???

Dan Apakah  dengan tetap menjadi warga NKRI adalah merupakan sebuah tuntunan syar’i ???  padahal jelas-jelas tidak memiliki ulama shahih, dan tidak mau menjadikan Islam sebagai dasar negaranya. (cek peristiwa pencoretan 7 kata dalam piagam Jakarta)

Satu respons untuk “Membela Negara Islam Lebih Utama daripada Membenahi Negara yang Bukan Negara Islam

  1. Wujud haqeqi Alloh,tidak ada yang tahu ,tapi wujud mazajinya yaitu negara Alloh . Negara yg telah dikarunikan kepada manusia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s