Persfektif di Kalangan Aktivis Da’wah di Indonesia dan Kenyataannya.

Tulisan ini bagian dari  Paradigma Baru NII, dan merupakan kelanjutannya,

Dalam menjalankan misi da’wah, metode pergerakan NII sebagian ada yang mengacu kepada metode gerakan-gerakan Islam Timur Tengah semacam Ikhwanul Musliimin di Mesir dan Jama’ah islamiyah di Pakistan. Metode tersebut juga menjadi acuan di kalangan aktivis da’wah di Indonesia yang menyatakan bahwa pembentukan Daulah Islam dengan tahapan-tahapan yang dimulai dengan membentuk syahsiah islamiyah (pribadi muslim) kemudian usroh muslimah (keluarga Islam), lalu terbentuk ijtima’iyah Islam (masyarakat Islam) setelah masyarakat siap dapatlah terbentuk Daulah Islam. Teori yang menarik memang, aman, demokratis dan non violance.

Namun bagaimana kalau teori itu dibalik. Dalam Al Qur’an adanya kaum munafik, kafir/musyrik selain mukmin adalah sunatullah sampai hari kiamat. Mau di zaman Nabi, Khulafauh Rasyidin, Kerajaan Islam yang menindas sampai Malikun jabariyah (Kerajaan Islam yang menindas) selalu ada saja orang munafik dan kafir. Berarti selain ada individu Islam dalam suatu keluarga, ada juga invidu munafik bahkan mungkin kafir, yang kemudian berkembang menjadi masyarakat munafik lalu menjadi negara munafik, seperti realitas yang terjadi di Indonesia. Pada saat terjadi benturan antara ideologi Islam, ideologi munafik dan ideologi kafir, apakah bisa selalu hidup bersama dalam keadaan damai?. Maluku, Poso, Papua contohnya , benturan ideologi cepat atau lambat akan memunculkan friksi dan sangat rentan konflik.

Kemesraan dalam pemerintahan dan MPR RI diramalkan hanya berumur pendek spt yang pernah terjadi di era tahun 50-an. Bagaimanapun fraksi reformasi yang diasosiakan sbg fraksi Islam, fraksi PKB yang diasosiasikan sbg fraksi munafik, dan fraksi PDIP yang diasosiasikan sbg fraski kafir/musyrik tidak akan mungkin terus-menerus duduk bersama dalam kemesraan di bawah ideologi Pancasila. Al Qur’an surat 3/118 sudah menyatakan secara tegas ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami, jika kamu memahaminya”. Kaum munafik menginginkan agar partai Islam sama seperti mereka (QS:4/89), sama-sama menyetujui kekafiran, komunisme. Maka dengan jadinya satu koalisinya fraksi reformasi dan PKB, kaburlah perbedaan asas Islam dan nasionalis.

DAKWAH DI PARLEMEN REPUBLIK

Dalam buku Urgensi Harakah Islamiyah karangan Dr. Yusuf Qardawi diceritakan: salah seorang dai pernah ditanya, bagaimana caranya pemerintahan Islam terbentuk. Sang dai menjawab:” “Ini dapat terjadi melalui salah satu dari dua cara : Apakah iman berpindah ke dalam hati orang-orang yang memerintah atau pemerintahan beralih ka tangan orang yang beriman.

Sekiranya iman mudah berpindah ke dalam hati orang-orang yang memerintah atau mereka yang ada di parlemen, niscaya jalan ke arah menegakkan pemerintahan Islam terjadi pendek dan dekat. Ketika itu tidak perlu lagi perjuangan.Tetapi ternyata harapan dan cita-cita tidak lebih dari suatu mimpi yang indah belaka, yang tidak berjejak di bumi nyata.

Kenyataan membuktikan, niat awal partai-partai Islam untuk berdakwah di parlemen, untuk membentuk masyarakat madani melalui parlemen kini melenceng 180 derajat. Nama baik dari partai-partai islam menjadi cemar, menyelewengkan amanat umat karena mengangkat Gus Dur yang jelas tidak layak untuk menjadi Presiden.

Kalau kita berkaca pada sejarah, Rasulullah tidak pernah lagi aktif dalam parlemen Darun Nadwah sesudah kenabiannya. Beliau memilih mendirikan ‘parlemen islam sendiri’ meskipun dalam scoup kecil, yaitu Darul Arqam. Di majelis itulah pengejawantahan ajaran Islam dapat dilakukan secara independen dan mandiri, terbebas dari intervensi kaum Islamphobi atau kuffar. Parlemen diibaratkan suatu gelas yang menampung macam-macam: susu, kopi dll. Kalau umat Islam ingin mengisi gelas itu dengan susu murni, maka jalannya adalah hanya dengan cara membersihkan isi gelas tsb baru diisi susu, atau mengisi susu murni tsb ke gelas lain meskipun gelasnya mungkin masih kecil-kecilan.

Rasulullah SAW juga tidak menunggu Islam menjadi mayoritas untuk membentuk daulah Islam, karena memang golongan yang konsis bukanlah golongan yang mayoritas, mereka adalah golongan minoritas. Al Qur’an menyatakan “Berapa banyak golongan minoritas mengalahkan golongan mayoritas dengan izin Allah.” . Wacana dari Al Qur’an tersebut tentunya bukanlah wacana dalam kerangka demokrasi semajlis dengan nonmuslim di bawah ideology sekuler/kafir, namun merupakan wacana furqan dan hijrah. Harus ada baraah antara kaum muslimin dan musyrikin (QS:9/1). Jadi ada titik kulminasi dari realisasi metode pentahapan da’wah dimana umat Islam harus menetapkan garis (furqon), baraah dengan non Islam sesudah da’wah damai mengalami benturan.

 

Muslim Sejati – Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s