Sangat Jelas NKRI itu Adalah Negara Yang Berlandaskan Bukan Hukum Islam

Pertanyaan :

Jangan menyempal dari pemerintahan muslimin ( RI adalah pemerintahan muslimin karena presidennya dari dulu sampai sekarang adalah orang Islam ) dan sebagian hukum Islam tegak di Indonesia ini, bedakan dengan negara kuffar amerika, perancis, inggris dan israel serta negara kuffar lainnya. SM Kartosuwiryo rahimahullah ( semoga Allah merahmatinya ) telah salah melangkah dalam menentukan arah dakwah dengan mendirikan negara dalam negara karena memang Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pun tidak demikian.”

Ibnu Shodiqin (Orang Salafi eks NII) – Jakarta

—————

Pertanyaan tersebut dapat kita pecah menjadi beberapa pertanyaan :

  1. Jangan menyempal dari pemerintahan muslimin
  2. RI adalah pemerintahan muslimin karena presidennya dari dulu sampai sekarang adalah orang Islam,
  3. Sebagian hukum Islam tegak di Indonesia ini, bedakan dengan negara kuffar amerika, perancis,inggris dan israel serta negara kuffar lainnya.
  4. SM Kartosuwiryo rahimahullah ( semoga Allah merahmatinya ) telah salah melangkah dlm menentukan arah dakwah dengan mendirikan negara dlm negara karena memang Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pun tdk demikian.”

Jawaban pertanyaan a:

Apakah Daulah Islam Berjuang menyempal, sahkah proses berdirinya

Memang banyak sekali terjadi salah pemahaman mengenai proses berdirinya Darul Islam di Indonesia, apalagi jika sumber yang diperoleh tidak lah cukup lengkap bahkan hanya didasarkan prasangkaan dan desas desus, sehingga kita cenderung terburu buru untuk menolak fakta atau kebenaran. Seandainya kita cukup bersabar untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya maka kita akan memiliki kesimpulan akhir yang lebih benar :

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.”  ( QS Yunus 10 : 36 )

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Bahkan yang Sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan Sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka Telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” ( QS Yunus 10 : 39 )

Sebagai bahan tambahan bacaan untuk memahami tentang NII silakan buka link ini

https://ahkamsulthaniyah.wordpress.com/2016/07/25/fakta-sejarah-negara-islam-indonesia/

Jawaban pertanyaan b:

Apakah pemerintahan Islam ditentukan dengan keislaman pemimpinnya

Dalam wacana berpikir salafiyah sebagaimana ulama Arab Saudi mengutip bahwasanya manhaj (cara beragama) seseorang akan menentukan atau mempengaruhi Aqidahnya. Contoh yang dikemukakan dalam wacana tersebut adalah, jika seseorang mengambil manhaj Mu’tazillah atau Khawarij maka aqidah orang tersebut tentulah berakidah Mu’tazillah atau Khawarij sebagaimana manhaj yang diikutinya. Demikianlah yang kami temukan dalam sebuah karya yang telah ditahkik oleh Syaikh Al-banni dan Fauzan.

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Aqidah rakyat R.I. ditentukan dengan manhaj yang diambilnya.  Allah tidak memberikan peluang bagi muslimin untuk mengambil dua pilihan antara Iman dan Thogut[1]

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya (QS Al Nisa. 4:60)

Maka kita akan coba urai bagaimana karakteristik dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Proses pendirian NKRI hingga terjadinya peristiwa penghilangan 7 kata dalam piagam Jakarta .  Dalam link ini   ;          https://ahkamsulthaniyah.wordpress.com/2016/08/12/ummat-tidak-akan-pernah-lupa-18-agustus-1945-dihapusnya-syariat-islam-dalam-piagam-jakarta/

Dari mana datangnya penyimpulan bahwa pemerintahan muslim itu identik dengan Islamnya pemimpin Negara tersebut.?

Dalam sejarah tercatat ketika Jazirah Arab berada dalam pendudukan bangsa Mongolia yang Kafir dimana pada masa yang sama hiduplah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata bahwa” Seandainya saya berada diantara mereka sedang saya sedang menjunjung Qur’an maka tetaplah perangi saya….”.[2]

Jadi Islamnya sebuah institusional seperti pemerintahan dan Islamnya pemimpin beserta rakyatnya adalah dua hal berbeda yang masing masing memiliki pendekatan dalil agar dapat disebut Islam.

Dari penjelasan sebelumnya telah disimpulkan bahwa semenjak diproklamasikan NKRI dengan jelas tidak mendasarkan azas Islam atau tidak berniat menjadikan wilayah yang menjadi jajahan bangsa Kafir (Portugis, Belanda dan Jepang) menjadi Negara dengan konsep Illahiyah.

Maka dalam konsep Islam NKRI tidak akan pernah berubah sampai kiamat kecuali melalui proses pertobatan. Tobat dalam Islam haruslah memenuhi dua hal yang pertama adalah pengakuan bahwa NKRI adalah sebuah kesalahan atau dosa, dan aspek kedua adalah tidak akan mengulangi atau meninggalkan perbuatan dosa (NKRI), inilah yang dinamakan Taubatan Nashuha

Baiklah Saudara Ibnu Shodiqin, membaca itu pemahaman Saudara Ibnu Shodiqin mengenai pemerintahan. Siapa juga yang dimaksud dengan pemerintahan bagi kami warga Negara Islam Indonesia? Perlu diperjelas di sini, yang ada dan wajib ditho`ati bagi kami rakyat Negara Islam Berjuang adalah pemerintahan Negara Islam Berjuang. Bukannya pemerintahan NKRI, karena memang jelas berbeda antar posisi warga negara dengan hubungan pemerintahannya. Coba Saudara Ibnu Shodiqin ceritakan itu data, fakta sejarah berdirinya Negara Islam Indonesia yang Saudara sebutkan sebagai bentuk sempalan dari pemerintahan RI dan membuat negara dalam negara. Mana itu dasar data, fakta, sejarah yang mengatakan hal demikian ? Silakan Saudara kemukakan dalam forum ini. Jangan cuman bisa asal tuduh tanpa dasarnya. Mengenai hal ini telah saya uraikan dalam beberapa tulisan saya sebelumnya dalam forum yang sama.

Kemudian itu pemerintahan RI yang membuat, menetapkan, menjalankan hukum dan undang-undang di luar dari hukum dan undang-undang yang diturunkan oleh Allah Swt adalah jelas seperti yang ditegaskan dalam AL Qur`an surat Al Maidah ayat 44, 45, dan 47. Bahwa orang yang menjalankan hukum yang tidak sesuai dengan apa yang Allah turunkan adalah orang kafir, dzolim, dan fasik. Inilah ditegaskan dalam Quran yakni mengenai orang-orang pelaksana hukum atau aparatur satu lembaga hukum semisal dengan Negara.

Dan mengenai tulisan ‘Makkah Indonesia’ yang ditulis oleh Al Haq adalah menerangkan menganai satu lembaga hukum yang tidak berdasarkan kepada hukum yang sesuai dengan yang Allah turunkan. Apa yang dijelaskan dalam tulisan tersebut adalah lembaga hukum atau Negaranya, bukan personal orang-orang yang mengisinya. Sekarang kalau kita melihat kepada Negara yang sistem kenegaraannya yang mencakup hukum, undang-undang, konstitusi dan semua perangkat kenegaraannya yang tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw atau yang tidak bersumberkan kepada Al Quran dan As-Sunnah, maka negara tersebut dinamakan Negara kafir atau Daulah Kufar.

Bagaimana Status NKRI?

Dengan dasar inilah mengapa Negara RI dinamakan Negara Kafir RI. Artinya Negara kafir RI adalah Negara yang sistem kenegaraannya yang mencakup hukum, undang-undang, konstitusi dan semua perangkat kenegaraannya yang tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw atau yang tidak bersumberkan kepada Al Quran dan As-Sunnah. Atau dengan kata lain Negara kafir RI adalah Negara yang sistem kenegaraannya yang mencakup hukum, undang-undang, konstitusi dan semua perangkat kenegaraannya yang mengacu dan bersumberkan kepada pancasila.

Walaupun Negara RI adalah Negara kafir tetapi rakyatnya tidak berarti kafir. Dengan dasar Nash di atas tadi yang memiliki dasar hukum yang tertuju pada pelaksana hukum. Bagi siapa di lembaga legislatif, yudikatif, dan eksekutif yang membuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum yang telah diturunkan Allah SWT, lalu tidak menetapkan dan tidak memutuskan aturan, hukum, undang undang menurut aturan, hukum, undang undang yang telah ditrunkan Allah SWT, maka Allah SWT memvonis mereka dengan vonis kafir, zhalim, fasik. Keberadaan rakyat yang ada di dalamnya maka Allah melarang untuk menthoati pemimpin kafir yang menjalankan hukum kufur (Q.S. 4:144). Sedangkan menthoati kekuasaan atau pemerintahan yang tidak islami berarti mengundang laknat Ilahi. (Lihat :Q.S. 11:59-60 dan 96-99, Q.S. 33:66-68). Kecuali mereka yang melakukan taqiah atau tuqoh (Q.S. 3:28).

Nah, sekarang apakah dengan meninggalkan ketha`atan kepada pemerintahan Islam itu menghasilkan kemuliaan ? Akan anda dapatkan dimana kemuliaan habluminallahu dan habluminannas dalam lindungan pemerintahan Islam (Q.S. 4:65) ? Kembali pada pemerintahan Pancasila ? Ayyabtaghuna inda hummul izzah ? (Q.S. 4:139). Bagaimana anda melaksanakan Q.S. 4:59 hari ini ?

Dari Pertanyaan : Bertanyalah pada ulama jika kalian tidak tahu ( setahu ana di tubuh NII tidak mempunyai ulama ulama panutan yang shahih ilmunya ) lalu bagaimana ingin menegakkan syariat Allah jika tdk ada yg membimbing.Lalu bagaimana hukum hukum Allah itu berjalan jika tidak ada Qadhi yang memang seorang ulama.”

Coba Saudara sebutkan itu apa kriteria ulama panutan yang shahih ilmunya ?

Semua ilmu yang kami gali, pelajari, hayati, pahami, analisa yang datangnya baik itu melalui kitab-kitab seperti tafsir, ushul fiqh, fiqih, hadits, mushthalah hadits yang ditulis dan dikumpulkan oleh ulama-ulama besar, maka itulah ulama-ulama yang digurui oleh kami rakyat NII. Begitu juga ulama-ulama yang pernah digali ilmunya oleh orang-orang yang merantau ke Negara-Negara Arab, apakah melalui buku-bukunya, atau ceramah-ceramahnya, atau tulisan-tulisannya, atau khutbah-khutbahnya, itulah ulama yang digurui oleh kami, walaupun tidak semua jalan pikiran ulama yang dikenal diterima. Tetapi sebagai guru dan sekaligus sebagai ulama, maka sangat menghormatinya.

Jelas imam-imam dan pemimpin-pemimpin dalam NII mereka memiliki ulama-ulama yang mereka pelajari ilmu-ilmunya baik melalui kitab tafsir, hadits, mushthalah hadits, tafsir, fiqh, ushul fiqh. Mengapa harus kita perdebatkan siapa ulama-ulama besar yang dipelajari ilmunya oleh para pimpinan dan rakyat NII. Biarkan mereka bebas belajar, menggali, memikirkan, menganalisa, ilmu-ilmu yang diberikan Allah SWT kepada kita umat manusia.

Dari pertanyaan :. Sekali lagi perbaikilah tauhid dulu karena Indonesia sekarang ini banyak kesyirikan kesyirikan, khurofat, tahyul dan bid’ah.”

Saudara Ibnu Shodiqin masih menutup mata dengan syirik, khurofat, bid`ah dan takahyul yang besar dan dilindungi di negeri Kafir RI. Tapi melek kepada syirik, khurofat, bid`ah, dan takhayul yang dibebaskan dari kerangka hukum RI.

Coba lihat itu dasar Negara Pancasila dan UUD 45. Mana sunnahnya ? Mana teladannya dari tiga kurun waktu terbaik masa hidupnya orang-orang terbaik yang mencontoh teladan Rasulullah Saw ? Itu jelas-jelas Pancasila ialah syirik dan bid`ah yang nyata dan besar terlihat di negeri ini. beranikah Saudara Ibnu Shodiqin mengatakan itu Pancasila adalah syirik dan bid`ah yang harus dihilangkan di Indonesia ?

Coba pelajari itu tauhid yang dijelaskan Muhammad bin Abdul Wahhab mengenai hal-hal yang membatalkan keislaman yang diantaranya adalah tidak mengkafirkan orang-orang musyrik dan membenarkan madzhab mereka. (Lihat buku Memurnikan Laa Ilaha Illallah).

Nah, sebetulnya apa yang kita lakukan pun adalah sama-sama ingin hendak menghapuskan keempat penyakit itu tadi. Hanya saja bagi mereka atau anda Saudara Ibnu Shodiqin melakukan itu sementara diri terikat dengan loyalitas kepada pemimpin dan hukum jahil. Sedangkan kami rakyat Negara Islam Berjuang tengah melakukan itu dalam kerangka kami sendiri, hendak menghilangkan kesemua itu dalam tubuh lembaga Karunia Allah ini.

Mengenai pemberantasan syirik, khurofat, bid`ah, dan takhayul tentu mari kita sama-sama berlomba melakukannya.

Kemudian mengenai ketatanegaraan. NII ialah sebuah Negara yang hadir lengkap dengan segala perangklat pemerintahan dan perundang-undangannya dan telah memiliki wilayah de facto dan pengejawantahan de yure dalam tiga kota (Garut Tasik Ciamis) selama 3 tahun sebelum diinvasi oleh pihak RIS. Masalahnya sekarang, adalah pengakuan dari orang-orang di luar NII itu sendiri. Sebagaimana dahulu ketika bermunculan Negara-negara di wilayah Nusantara seperti NIT, Negara Pasundan, RI-yogya dan juga NII yang diproklamasikan SM. Kartosuwiryo 7 agustus 1949 di luar wilayah de facto negara-negara yang ada saat itu. Tetapi tidak mendapatkan pengakuan dari pihak RI-yogya yang tentaranya kabur ke Yogya sementara rakyat Jawa Barat ditinggalkan di bawah penjajahan agresi Militer Belanda 2 akibat perjanjian pimpinan RI Sukarno Hatta dalam KMB yang menyusutkan wilayah RI. Bahkan memerangi NII dengan bantuan 2.000.000 gulden dari pihak Belanda.

Proklamasi NII tidak pernah dicabut, masalah penguasaan wilayah de facto itu masalah perjuangan (semoga Allah menyegerakan Berjaya). Akankah dapat kembali direbut oleh pihak NII semenjak dijajah oleh RIS dilanjutkan NKRI hingga saat ini. Seperti halnya wilayah Palestina yang tengah dipredikati sebuah Negara meski belum pernah memproklamasikan berdirinya negara Palestina, atau proklamasi kemerdekaan sekalipun. Tapi tetap memiliki predikat Negara yang lengkap dengan aparatur pemerintahan dan undang-undang di dalamnya meski teritorialnya yang belum jelas. Karena itu memang dasar hukum Negara tidaklah baku. Maka itu NII tetaplah sebuah negara yang memiliki landasan dasar hukum dan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan dihadapan mahkamah internasional sekalipun.
Hanya kepada Allah kita memohon petunjuk dan kepada-Nya segalanya dikembalikan.

Wassalam,

Rahadian (Warga NII) –  Bandung

Catatan kaki :

[1]  yang selalu memusuhi nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan abu Barzah seorang tukang tenung di masa nabi. termasuk thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu.2. berhala-berhala.Baca lebih lanjut mengenai Thogut

[2]Cek Al-Maududi Khilafah dan Kerajaan atau Dr. Abdullah Azzam

 

Satu respons untuk “Sangat Jelas NKRI itu Adalah Negara Yang Berlandaskan Bukan Hukum Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s