Kenyataan yang ada Manhaj Salaf Itu Bara’ah Kepada Thagut

Pertanyaan :

Bismillahirrahmahirrahiim
Assalamu`alaikum Wr Wbr

“Demikian risalah ini ana tulis, semoga berkenan di hati antum yang mencari kebenaran akan Al Islam itu, mengapa ana keluar dari NII dan tidak berjuang untuk memperbaikinya itu karena yang seperti Ustad Suroso Abdussalam ( mantan petinggi NII dan juga penda’wahnya yang sudah taubat dan ruju’ kepada ahlu sunnah wal jamaah) tidak bisa mengajak petinggi NII yang lain untuk ruju kepada ahlu sunnah wal jamaah sehingga dia pun Baro’ terhadap  NII dan wala kepada ahlu sunnah wal jamaah, apalagi ana yang hanya tholib, Namun justru pertanyaan ini ana balikkan kepada antum , Mengapa NII menyempal dari RI dan bukan malah memperbaiki RI dari dalam. Silahkan antum baca kitab NII dalam timbangan Aqidah oleh Suroso Abdussalam, penerbit Darul Falah atau Pustaka Al Kautsar ( kalo ana engga salah ingat ). Sebagaimana Ustad Suroso pernah katakan juga dalam bedah buku tersebut dalam ceramah agama islam tasjilat El Data Jakarta vol 16 ). Tidak ada orang yang benar benar mempunyai izzah yang kuat akan Islam akan menolak berdirinya daulah islam dimanapun itu,dan ahlu sunnah tentu akan berbaiat kepada daulah tersebut namun sayang kebanyakan dari mereka yang memperjuangkan daulah ini banyak menyimpang dari manhaj rasulullah, batapa banyak kita lihat mereka semua mengaku telah tegak daulah dan berbaiat kepada imam imam mereka, mana bisa hal itu terjadi bukankah jika ada dua imam yang dibaiat maka yang terakhir harus dibunuh? Dan khalifah itu harus dari orang Quraisy sebagaimana yang diterangkan dlm hadits yang shahih ( afwan saat ini tidak ada dlm ingatan ana hadist tsb).” (Ibnu Shodiqin, Jamaah Salafi- eks NII —Jakarta)

—————

Baiklah Ibnu Shodiqin di Jakarta,

Pemakaian kata Salafy memang ditujukan pada salah satunya satu makna generasi orang-orang terbaik dalam Islam, yang mengikut jejak Rasulullah Saw. Memang itu salaf berasal dari kata dasar salifa yang berarti sabiq atau yang pertama atau yang mula-mula atau yang terdahulu.

kemudian dihubungkan dengan pergerakan yang dikembangkan oleh pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengarah kepada perbaikan ketauhidan dan pembaharuan ketauhidan yang didasarkan kepada 1. Al-Qur’an. 2. Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih). 3. Al-Qur’an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi’in , dan tabiut tabi’in. Jadilah kata Salaf ini dipakai oleh pergerakan dakwahnya.

Dimana memang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak dipengaruhi oleh ide yang dikembangkan oleh Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah yang lahir pada hari Senin, 10 Rabiul Awal 66l H (22 Januari 1263 M) di Harran dan meninggal pada tanggal 20 Zulkaedah 728 H. (25 September 1328 M) dalam penjara, karena Ibnu Taimiyah memang beberapa kali keluar dan masuk penjara di Mesir selama pemerintahan Khilafah Islamiyah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Mustansir 1261 M, Al-Hakim I 1262 M -1302 M , Al-Mustakfi I 1302 M -1340 M yang berpusat di Kairo, Mesir. Dimana Ibnu Taymiyyah berkata:”…Mereka (tabi’in dan tabiut tabi’in) adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama’ah karena mereka selalu mengikuti shari’ah dan jama’ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

Nah, maka jelas itu yang namanya faham Wahabi atau Salafy lahir dari ide Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang banyak dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyyah.

Saudara Ibnu, itu manhaj Salaf atau mengikuti langkah-langkah Rasulullah Saw dan generasi terbaik sesudahnya ialah ketentuan bagi seluruh umat Islam di dunia ini. Tidak hanya kalian yang berhak dan merasa wajib mengikutinya. Jadi jangan katakan orang-orang di luar pengikut dakwah Wahabi yang menamakannya juga dengan sebutan Salaf itu adalah orang-orang atau golongan yang masuk ke dalam 72 golongan yang tidak benar. Memangnya hanya kalian pengikut dakwah Wahabi alias Salafy yang mengupas kitab-kitab salaf dan mencoba untuk menisbatkan kepada jejak Salaf ?

Tapi memang Wahabiyyin Ibnu Shodiqin ini hanya taqlid dan mengekor saja pada Ulama-ulama Wahabi-nya itu, termasuk kepada Suroso Abdussalam lalu dipakainya alasan untuk keluar dari Negara Islam lalu kembali membenahi Negara Kafir RI. Seperti yang ditulis di atas :”…mengapa ana keluar dari NII dan tidak berjuang untuk memperbaikinya itu karena yang seperti Ustad Suroso Abdussalam ( mantan petinggi NII dan juga penda’wahnya yang sudah taubat dan ruju’ kepada ahlu sunnah wal jamaah) tidak bisa mengajak petinggi NII yang lain untuk ruju kepada ahlu sunnah wal jamaah sehingga dia pun Baro’ thd NII dan wala kpd ahlu sunnah wal jamaah”.

Lalu acungkan pertanyaan kepada kami :”Namun justru pertanyaan ini ana balikkan kepada antum , Mengapa NII menyempal dari RI dan bukan malah memperbaiki RI dari dalam.”

Jangan dulu bertanya Saudara Ibnu Shodiqin, coba jawab dulu itu setumpuk pertanyaan yang pernah Rahadian berikan yang salah satunya meminta Saudara Ibnu Shodiqin untuk memberikan penjelasan yang memiliki ciri-ciri dan fakta mengenai NII yang disebut sebagai sempalan dari RI ? Belajar lagi apa itu Negara Ibnu, coba sekalian Saudara Ibnu Shodiqin tampilkan itu tulisan Suroso Abdussalam dalam forum ini, kita bahas bersama-sama.

Kemudian mengenai Khilafah, memang benar itu hadits shahih yang menyatakan bahwa Khalifah itu harus dari kaum Quraisy. Sebab di saat Khilafah tegak untuk seluruh bumi, maka sentral pemerintahan yang paling tepat adalah di Makkah, sehingga setahun sekali muslimin di seluruh bumi bisa datang ke ibu kota khilafah Islamiyyah untuk menerima fatwa-fatwanya ketika menunaikan ibadah haji ke tanah suci tersebut. Sehingga dengan demikian kesatupaduan ummah dengan mudah terus terjaga, begitu pula dengan kedekatan hati Ummah pada khalifahnya.

Nah Saudara Ibnu, jadi sepantasnya para ulama yang mengaku paling ‘salaf’ sendiri itulah yang harus giat menasihati raja dan aparat kerajaan Saudi Arabia untuk segera memikul tugasnya menjadi Khalifah Dunia dan mengirimkan pasukan ke seluruh wilayah dunia untuk menegakkan hukum Islam. Apakah tugas ini sudah dilakukan para ulama yang mengaku salafi di dalam negeri Saudi Arabia sana ?

Kami di Indonesia, akan sangat mendukung usaha para ulama salafi untuk menggugah kaum Quraisy agar segera kembali pada wajib sucinya, sementara di sini kami pun berusaha dengan istiqomah menunaikan wajib suci, ialah hak dan kewajiban tiap-tiap mujahid, menggalang Negara Karunia Allah, Negara Islam Indonesia.

Jadi tidak logis bila ada ulama yang melarang perjuangan Islam yang bersifat negara, dengan alasan Imam itu harus seorang khalifah dan khalifah itu harus Quraisy. Sementara larangan ini hanya digembar-gemborkan di sini sehingga memberi keuntungan kepada pihak musuh/thoghut. Sedangkan di Saudi Arabia sendiri mereka tidak mendorong para aparat kerajaannya untuk segera menunaikan wajib sucinya membela seluruh muslimin di dunia ini.

Tapi lagi-lagi Wahabiyin Ibnu ini sudah masuk ke dalam tempurung dakwah Wahabi, tapi buta sejarahnya sendiri, hingga ketakutan baca sejarah pergerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya bersama Amir Muhammad bin Saud dan keturunannya yang bersekutu dengan Kerajaan kafir Inggris melalui Perjanjian Qatif 26 Desember 1915. Lalu mengatakan :”Dan seandainya itu shahih hal tersebut tidak menjadi dalil bagi ahli sunnah akan pendapat ulama tertentu jika bertentangan dengan Al quran dan Sunnah Nabi shalallahu alaihi wa salam.”

Sekarang coba Saudara Ibnu Shodiqin tampilkan itu sejarah pergerakan dakwah Wahabi alias Salafy di sini. Jangan cuman bisa asal tuduh NII itu sempalan RI.

Memang kelihatan Saudara Ibnu Shodiqin ini coba mengalihkan dalil aqli atau daruri berupa kisah sejarah yang kemudian disebutnya sebagai :”tidak menjadi dalil bagi ahli sunnah akan pendapat ulama tertentu jika bertentangan dengan Al quran dan Sunnah Nabi shalallahu alaihi wa salam.”

Saudara Ibnu Shodiqin, mana ada ulama-ulama yang hidup dalam tiga kurun waktu terbaik yang mau membenahi Daulah Kuffar. Para Ulama salaf yang hidup di tiga kurun terbaik, yakni masa Nabi dan sahabat, masa tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in semuanya berada di wilayah Darul Islam, tidak ada seorang pun dari ulama salaf di jaman itu yang rela menjadi warga Darul Kuffar. Sekalipun para Imam Madzhab Ahlus Sunnah itu disiksa dan dipenjara oleh pemerintah Islam ketika itu, tidak ada seorang pun yang berfikir untuk keluar dari pangkuan Daulah Islamiyyah dan lari ke Darul Kuffar dan merelakan diri diperintah oleh Thoghut.

Mana mungkin bisa mengikuti jejak salaf, bila diri masih jadi warga Darul Kuffar, sebab mana sunnahnya ? Mana teladannya dari tiga kurun terbaik yang dijaminkan Nabi Saw ? Nabi dan sahabat sampai hijrah meninggalkan Darul Kuffar membangun Madinah, Ad Daulatul Islamiyyah di bumi Yatsrib, sehingga tidak logis mengaku salafi, hanya sekadar menelaah kitab-kitab salaf sementara membiarkan diri untuk taat serta dikuasai hukum dan pemerintahan jahiliyyah.

Jangan mimpi Ibnu!

Tapi mesti dimaklumi, memang memperbaiki Negara RI itu sebuah keharusan bagi warga negaranya semodel Ibnu Shodiqin dan Salafi-nya di Negara Kafir RI. Tinggal coba kalian yakinkan dengan memberikan penjelasan kepada umat Islam di Indonesia bahwa cara yang kalian pakai itu adalah sesuai dengan cara-cara Rasulullah Saw membangun Daulah Islamiyyah pertama di Yatsrib.

Seandainya pergerakan dakwah Wahabi alias Salafi yang menyerang, memerangi dan menduduki wilayah-wilayah yang dikuasai oleh pemerintahan Islam di bawah Dinasti Utsmani sebagai penerus Daulah Islam Rasulullah Saw di Yatsrib dengan alasan telah banyak bid’ah, khurafat, syirik. Apakah lalu sekarang di Negara kafir RI, kalian kaum Wahabi sanggup menjalankan seperti yang dicontohkan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab menghancurkan khurafat, bid’ah dan syirik yang banyak di Negara RI ?

Coba kalian itu hancurkan tempat-tempat nyekar Abdurrahman Wahid dan Megawati, cari kuburan mana yang selalu Abdurrahman Wahid dan Megawati dan banyak tokoh politik dan Ulama di Indonesia ini meminta-minta dan berdoa-doa. Coba hancurkan kuburan-kuburan itu sampai rata dengan tanah, karena itu sumber khurafat dan syirik, yang kalian perjuangkan untuk meluruskan dan memurnikan tauhid kalian itu, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan pergerakan dakwahnya.

Sistem thaghut pancasila itu adalah sumber khurafat dan syirik. Coba hancurkan itu thaghut pancasila, kalau kalian memang konsekuen menjalankan paham Wahabi atau Salafi-nya demi kemurnian tauhid kalian itu. Lalu berhentilah bercuap sesat dengan mengatakan NII yang menjadi musuh Negara kalian itu sebagai sempalan Negara kalian, Negara RI.

Hanya kepada Allah kita memohon petunjuk dan kepada-Nya segalanya dikembalikan.

Wassalam,

Rahadian (Warga NII) – Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s