Negara Islam Indonesia adalah Jama’ah Furqan di Nusantara ini

Pertanyaan  :

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu`alaikum Wr Wbr

Menurut saya, jika kita dipusingkan dengan berbagai harokah yang menjamur seperti sekarang ini, lebih baik kita berhusnudzon, lebih banyak mempelajari sunnah perjuangan rasulullah. Trus jangan pernah terlepas dari 2 hal, yaitu Qur’an dan sunnah Rasulullah. Selama orang orang NII ingin menegakkan kebenaran seperti Rasulullah, why not… Tinggal kita dengan bersih hati, mempelajari apa sih, gimana sih ajarannya.. Jangan karena ketidaktahuan kita menyebabkan kita mudah mengklaim sesuatu itu sesat atau sebaliknya.…” (Non Nissa, Bandung)

————

Terima kasih Saudari Non Nissa di Bandung atas sumbangan pemikirannya.

Menarik memang kalau coba kita perhatikan tingkah umat Islam belakangan ini. Khususnya mereka-mereka yang tengah dilanda dilema permasalahan seperti yang diungkapkan Sdri. Non Nissa di atas. Sering kali timbul pertanyaan dari seorang yang pusing tujuh puluh keliling menghadapi banyaknya ‘jama`ah’ atau kelompok atau golongan pergerakan (harakah) bermunculan. Bahkan saking banyaknya, sampai rajin pindah-pindah keyakinan akan pilihannya untuk berjama`ah tadi.

Berbicara soal ‘jama`ah’ memang banyak, dan menurut perkiraan nampaknya akan terus berkembang sebanyak variasi pemikiran yang bertebaran hari ini. Begitu pula soal baik dan tidak baik, tiap kelompok memiliki kiat untuk meningkatkan daya tarik dan menyerap peminat untuk bergabung ke dalamnya. Dan sepanjang orang memiliki akal, kreativitas untuk meningkatkan mutu kelompok selalu ada

Oleh karena itu jika pijakan orientasi hanyalah seputar ‘memilih mana yang baik, dan mana yang klop di hati’, maka perhatian kita akan selalu berpindah dari satu kubu ke kubu yang lain. Pilihan senantiasa berganti, dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Karena memang tiap pihak disamping memiliki pesona, tentu ada juga kekurangannya.

Lagi pula kalau urusan mencari jama`ah mana yang benar, maka setiap jama`ah (dalam arti organisasi atau kelompok) yang berdasar Qur`an dan sunnah, maka ia benar adanya. Jumlahnya bisa banyak, bahkan tiap hari bisa bertambah. Tapi kalau anda hendak mencari mana jama`ah (dalam arti Daulah atau Negara) yang benar, tentunya daulah yang menjalankan Qur`an dan hadits shohih sebagai hukum tertinggi. Jumlahnya tidak banyak, persoalaannya maukah anda berada di dalamnya sebagai muslim mujahid. Atau terus berputar-putar mencari jama`ah yang ideal dalam status diri sebagai warga Negara kafir ?

Sdri. Non Nissa, memang benar  Quran dan Sunnah itu sebagai pijakan berpikir harus dijadikan dasar. Karenanya analisis penilaian terhadap segala sesuatu pun harus disandarkan pada hukum Islam tersebut.

Yang kita inginkan dengan jama`ah ini bukan sekadar berkumpulnya, tapi juga terlepasnya diri dari kungkungan struktur jahiliyyah. Mencari cara agar tidak mati di atas asas ‘kebangsaan’, sebab meninggal dalam status itu berakibat terputusnya hubungan dengan ke-ummat-an Nabi Muhammad Saw.

Qur`an mengajari kita bahwa tatanan hukum non-Islam adalah struktur jahiliyyah, berada dalam tatanan hukum seperti itu, berarti matinya dalam keadaan jahiliyyah. Bai`ah yang melepaskan kita dari kematian jahiliyyah bukanlah sembarang bai`ah, tapi bai`ah yang melepaskan kita dari ikatan struktur jahili tadi. Ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan memasuki struktur yang independen di luar ‘lingkaran syaithan’ tersebut. Sesuai dengan dasar Hadits Shahih Bukhari yang menyatakan bahwa :”Barang siapa yang mati, sedang tidak ada di lehernya ikatan bai`ah, maka ia mati sebagaimana bangkainya jahiliyyah”

Maka jangan mengharap kalau struktur haq itu posisinya damai sejahtera di bawah naungan thaghut, tapi justru secara diametral berhadapan dengan kuasa kebathilan tersebut. Bahkan dianggap jahat oleh mereka. (QS. 38:62)

Sehingga dapatlah diambil simpulan bahwa jama`ah yang haq itu, bukanlah jama`ah yang direkomendasi baik oleh penguasa darul kuffar! Jama`ah yang haq adalah jama`ah yang terorganisasi rapi di bawah perwalian Daulah Islamiyyah! Jelas betapa pun shalihnya aktivitas harian seorang mujahidin, tetap saja akan dianggap jahat oleh penguasa kuffar. Mengapa ? Karena menjadi musuh bagi negaranya! Ini menunjukkan bahwa target jama`ah itu bukan sekadar mentarbiyyah arkanul Islam, tapi menegakkan Daulahnya. Sebab kalau shalat, shaum, dzikir yang mewarnai organisasi, orang sekuler pun menganggap baik pekerjaan itu.

Nah Sdri. Non Nissa, kiranya sedikit paparan di atas dapat memberikan penjelasan bahwa Negara Islam Indonesia itu bukanlah satu jama`ah seperti halnya satu kelompok atau golongan dan semacamnya yang berada dalam naungan Daulah Kuffar Negara Kafir RI.

Negara Islam Indonesia tidak punya masalah dengan jama`ah-jama`ah Islam warga Negara RI. Bila NII berjaya di masa depan jama`ah-jama`ah tersebut Insya Allah tidak juga akan kita bubarkan, malah akan kita kembalikan asasnya semula ke asas Islam, dan dibina di bawah naungan Daulah Islamiyyah Berjaya, dijamin kebebasannya agar tetap bisa membina rakyat Islam untuk mengenal dan mengamalkan Quran dan Hadits yang shahih tanpa kendala.

Mengenai sekarang beberapa figur atau simpatisan mereka, jama`ah-jama`ah Islam-nya Negara Kafir RI model Ibnu Shodiqin, Ryanno71, Zuhud, Sugeng Marjono, Firdaus Rama, Mujtahid133 itu nampak sinis kepada NII, bahkan terkadang membahayakan dengan segala celoteh atau klaim-klaim-nya. Itu semua wajar saja karena memang begitu status mereka sebagai rakyat musuh, adalah hak mereka untuk membela negaranya, seperti kami pun tengah berjuang mempertahankan berdirinya Negara Islam Indonesia.

Sebetulnya kehadiran tenaga-tenaga Ulama yang mapan di berbagai bidang keilmuan Islam sangat dinantikan kehadirannya ke dalam tubuh Negara Kurnia Allah ini. Sebab mereka lah yang sebenarnya lebih pantas memimpin dan mengurusi Daulah Islamiyyah ini. Sayangnya, kebanyakan mereka yang tinggi pemahaman syariatnya malah bangga dengan apa yang ada pada mereka (kullu hizbin bimaa ladaihi farihuun). Kemudian dari luar pagar berkoar-koar meneriaki kelemahan dan kesalahan NII, sekalipun dengan harus menelan mentah-mentah hikayat musangnya negara Kafir RI. Seenaknya menuduh bid`ah, menyimpang dari pemahaman salaf, dan sebagainya. Tapi dirinya sendiri tidak terjun langsung membela dan memperbaiki dari dalam. Malah lebih suka bersila mengaji di pendudukan Darul Kuffar sementara diri terikat dalam lingkaran thaghut itu, lalu menjelek-jelekan kami.

Lagi-lagi harus kita maklumi, memang tingkah mereka-mereka itu warga Negara Kafir RI adalah wajar. Begitulah keadaan mental rakyat yang negaranya sedang berperang dengan Daulah Islamiyyah. Sekalipun mereka muslim, tapi tentu kapasitas mental muslim dzimmi tidaklah sama dengan mereka yang masih berkobar api jihad di jiwanya!

Masalahnya memang bukan karena beda aqidah, tapi beda Daulah. Karenanya wajar praktik amal dan wawasan tidak sama, sebab kaki berpijak pada tempat yang berbeda.
Itulah tanggapan Kami atas sumbangan pemikiran dari Saudari Non Nissa.
Hanya kepada Allah kita memohon petunjuk dan kepada-Nya segalanya dikembalikan.

Wassalam,

Rahadian (Warga NII) – Bandung

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s