Al ‘Urwatil Wutsqa Merupakan Jalan Menuju Keselamatan Bagi Manusia

Ketahuilah wahai saudaraku, -semoga Allah ta’ala merahmatimu sesungguhnya kepala segala urusan, inti dan tiangnya, serta sesuatu yang paling pertama kali Allah fardlukan atas anak Adam untuk mempelajarinya dan mengamalkannya sebelum shalat, zakat, serta ibadah-ibadah lainnya adalah kafir kepada thaghut dan menjauhinya, serta memurnikan tauhid hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja.

Maka untuk tujuan itu Allah menciptakan makhluk-Nya, mengutus rasul-rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, serta Allah mensyari’atkan jihad dan mati syahid (istisyhad)… dan karenanya terjadilah pertikaian antara auliyaaurrahman dengan auliyaausysyaithan, serta untuk mencapai hal itu berdirilah Daulah Islamiyyah dan Khilafah Rasyidah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”. (QS. Adz-Dzariyaat 51: 56)

Yaitu: supaya kalian beribadah kepada-Ku saja. Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An Nahl: 36)

Hal ini adalah ikatan paling agung dari ikatan-ikatan Islam. Dakwah, jihad, shalat, shaum, zakat, dan haji tidak mungkin diterima tanpa hal diatas itu. Orang tidak mungkin selamat dari api neraka tanpa berpegang erat terhadapnya, karena hal itu (kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah) adalah satu-satunya ikatan yang telah dijamin oleh Allah bahwa itu tidak mungkin lepas.

Adapun selain itu, berupa ikatan-ikatan agama dan syari’at-syari’atnya, maka itu tidak cukup dengan sendirinya untuk bisa menyelamatkan tanpa adanya al ‘urwatul wutsqa. Allah Subhanahu  Wa Ta’ala berfirman:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);  Telah jelas ar-rusydu dari al-ghayy, karena itu barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.  Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 256)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِي

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikan berita itu kepada hamba-hamba-Ku”. (QS. Az Zumar: 17)

Perhatikanlah, bagaimana dalam ayat-ayat itu Allah mendahulukan penyebutan kufur kepada thaghut dan menjauhinya atas iman kepada Allah dan inabah kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala. Ini sama persis dengan pengedepanan nafyu atas itsbat dalam kalimat tauhid Laa ilaaha

Illallaah. ini dilakukan tidak lain untuk mengingatkan terhadap rukun yang sangat agung dari al ‘urwatul wutsqa, sehingga tidak sah keimanan kepada Allah dan tidak bermanfaat kecuali bila didahului dengan kufur kepada thaghut.

Thaghut yang engkau wajib kafir kepadanya dan menjauhi dari mengibadatinya supaya engkau bisa berpegang kepada tali penyelamat yang sangat kokoh bukanlah hanya terbatas kepada batu, patung, pohon, kuburan yang disembah dengan sujud, rukuk, permohonan, nadzar, atau thawaf saja. akan tetapi lebih luas cakupannya dari itu semua. Sehingga mencakup: Segala sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan bentuk ibadah apa saja sedang dia tidak mengingkarinya.[1]

Thaghut diambil dari kosa kata thughyaan yang maknanya adalah melampaui batas makhluk yang telah Allah batasi tujuan penciptaannya. Sedangkan ibadah itu adalah bermacam-macam, sebagaimana sujud, rukuk, doa, nadzar, dan penyembelihan adalah ibadah, maka begitu juga taat dalam tasyri’ (pembuatan hukum/aturan/undang-undang) adalah ibadah juga. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang Nashrani:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. ( QS Al Taubah 9 : 31 )

Sedangkan orang-orang Nashrani tersebut tidak pernah sujud atau rukuk terhadap para ulama mereka. Akan tetapi mereka mentaati para ulama itu dalam penghalalan yang haram dan dalam pengharaman yang halal, serta sepakat dengan mereka atas hal itu, maka Allah menjadikan perlakuan mereka itu sebagai bentuk menjadikan para ulama dan pendeta sebagai arbaab (tuhan), karena taat dalam tasyri’ itu adalah ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Sehingga bila seseorang memalingkannya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala meskipun dalam satu hukum saja, maka dia itu menjadi orang musyrik.

Hal ini dibuktikan secara gamblang dengan munaadharah (perdebatan) yang pernah terjadi pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam antara auliyaaurrahman dengan auliyaausysyaithan tentang masalah bangkai dan pengharamannya, dimana orang-orang musyrik berusaha meyakinkan kaum muslimin bahwa tidak ada perbedaan antara kambing yang disembelih oleh kaum muslimin dengan kambing yang mati sendiri dengan dalih dan syubhat bahwa bangkai itu tidak lain adalah sembelihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Allah menurunkan keputusan-Nya tentang kejadian ini dari atas langit yang ke tujuh, Dia berfirman:

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan bila kalian mentaati mereka, maka sungguh kalian adalah orang orang musyrik”.[2] (Al-An’am: 121)

Termasuk kategori thaghut adalah setiap orang yang memposisikan dirinya sebagai musyarri’ (pembuat hukum dan perundang-undangan) bersama Allah, baik dia itu sebagai pemimpin atau rakyat, baik dia itu sebagai wakil rakyat dalam lembaga legislatif atau orang yang diwakilinya dari kalangan orang-orang yang memilihnya (ikut pemilu), karena dengan perbuatan itu dia telah melampaui batas yang telah Allah ciptakan baginya, sebab dia diciptakan sebagai hamba Allah, dan Tuhannya memerintahkan dia untuk tunduk berserah diri kepada syari’at-Nya, namun dia enggan, menyombongkan diri, dan melampaui batas-batas Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dia justru ingin menjadikan dirinya sebagai tandingan bagi Allah dan menyekutui-Nya dalam wewenang tasyri’ (penetapan hukum dan perundang-undangan) yang padahal itu tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Barangsiapa melakukan hal itu, maka dia telah menjadikan dirinya sebagai ilaah musyarri’ (tuhan yang membuat hukum), sedangkan orang seperti itu tidak diragukan lagi merupakan bagian dari ru’uusuththawaghiit (pentolan-pentolan thaghut) yang di mana tauhid dan Islam seseorang tidak sah sehingga dia kafir kepada thaghut itu, menjauhinya, serta bara’ah (berlepas diri) dari para penyembahnya dan dari para bala tentaranya.

Mujahid berkata: “Thaghut adalah setan berbentuk manusia yang mana manusia merujuk hukum kepadanya, sedangkan dia adalah yang memegang kendali mereka”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Oleh sebab itu orang yang memutuskan hukum dengan selain Kitabullah yang mana dia itu menjadi rujukan hukum, (maka) dia itu dinamakan thaghut.”[3]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Thaghut adalah segala sesuatu yang dilampaui batasnya oleh si hamba, baik dia itu yang disembah, atau yang diikuti, atau yang ditaati, sehingga thaghut setiap kaum adalah orang yang mereka jadikan sebagai rujukan hukum selain Allah dan Rasul-Nya, atau yang mereka sembah selain Allah, atau yang mereka ikuti tanpa ada landasan dalil dari Allah, atau orang yang mereka taati dalam hal yang tidak mereka ketahui bahwa itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah”.

Beliau berkata lagi: “Siapa yang merujuk hukum atau mengadukan perkara hukum kepada selain apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka berarti dia itu telah merujuk hukum dan mengadukan perkara hukum kepada thaghut”.[4]

Di antara macam thaghut yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada zaman sekarang dan yang menjadi kewajiban atas setiap muwahhid untuk kafir kepadanya dan berlepas diri darinya serta dari para pengikutnya supaya dia bisa berpegang kepada al ‘urwatul wutsqa dan selamat dari api neraka adalah tuhan-tuhan palsu dan arbaab yang dipertuhankan yang telah dijadikan oleh banyak manusia sebagai syurakaa musyarri’iin (sekutu-sekutu yang membuat hukum dan perundang-undangan) selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. Asy-Syuura: 21)

Ini terjadi karena mengikuti mereka dalam rangka menjadikan tasyri’ (membuat hukum dan undang-undang) sebagai wewenang dan hak/tugas mereka dan parlemen mereka, dan lembaga lembaga hukum mereka, baik yang bersifat internasional, regional, ataupun yang nasional (lokal). Mereka dengan tegas menuangkan hak wewenang itu dalam undang-undang dan peraturan mereka, dan hal itu adalah sesuatu yang sudah dikenal lagi masyhur di kalangan mereka[5]   sehingga dengan sebab itu mereka menjadi arbaab (tuhan) bagi orang orang yang mentaatinya, mengikutinya, dan yang sepakat bersama mereka atas kekafiran dan kemusyrikan yang terang ini, sebagaimana yang telah Allah voniskan terhadap orang-orang Nashrani tatkala mereka mengikuti para ulama dan para pendeta mereka dalam hal seperti itu.

Bahkan keadaan mereka (para anggota parlemen dan yang sejalan dengannya) lebih jahat dan lebih busuk, karena sesungguhnya para ulama Nashrani melakukannya dan bersekongkol di atas hal itu tanpa menjadikannya sebagai qanuun (undang-undang dasar), tanpa menyusunnya sedemikian rupa, dan tanpa membukukannya menjadi kitab undang-undang hukum yang bila ada yang menyalahinya atau mencelanya dikenakan hukuman, serta menjadikannya sebagai tandingan Kitab Allah, bahkan menjadikannya lebih tinggi dari Kitabullah, sebagaimana halnya,keadaan mereka (para anggota parlemen/majelis/dewan perwakilan rakyat dan para pengusungnya).

Bila engkau telah memahami hal ini, maka ketahuilah sesungguhnya derajat teragung dalam berpegang teguh terhadap al ‘urwatul wutsqa serta tingkatan tertinggi dalam kafir terhadap thaghut adalah jihad (yang merupakan puncak Islam) memerangi sistem ini dan memerangi para pengusungnya dan para pengikutnya, berupaya untuk menghancurkannya, serta berusaha mengeluarkan manusia dari penghambaan terhadapnya kepada penghambaan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja.

Di antara bentuk jihad ini adalah menyebarkan dengan gencar kebenaran ini secara terang-terangan dan meneriakkannya sebagaimana yang telah dilakoni dan dijalani oleh para nabi, jalan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala jelaskan kepada kita dengan penjelasan yang sangat gamblang tatkala Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Millah Ibrahim dan dakwahnya, Dia berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia[6]  ; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (Al Mumtahanah: 4)

Firman-Nya: Badaa artinya adalah nampak dan jelas.

Perhatikanlah ungkapan permusuhan yang didahulukan daripada kebencian, karena sesungguhnya permusuhan adalah yang paling penting, sebab terkadang ada orang yang membenci para auliyaa (penolong,kroni) thaghut, namun dia tidak memusuhi mereka, maka dengan demikian orang itu tidak merealisasikan kewajiban dia sehingga dia melakukan permusuhan dan kebencian terhadap mereka.

Coba perhatikan, bagaimana Allah menyebutkan terlebih dahulu bara’ah (berlepas diri) mereka dari kaum musyrikin sebelum penyebutan bara’ah mereka dari apa yang kaum musyrikin sembah, ini dikarenakan yang pertama lebih utama daripada yang ke dua, disebabkan karena sesungguhnya banyak sekali manusia yang bara’ah (berlepas diri) dari berhala, thaghut-thaghut, dasaatiir (peraturan-peraturan), qawaaniin (undang-undang), dan agama-agama yang batil, namun mereka tidak berlepas diri dari para penyembahnya, para pengusungnya, serta bala tentaranya, maka berarti dia itu tidak merealisasikan kewajiban[7]. Akan  tetapi bila dia berlepas diri dari para penyembahnya yang musyrik itu, maka secara otomatis mengharuskan dia untuk bara’ah dari hal-hal yang disembahnya dan dari ajarannya yang batil.[8]

Adapun tingkatan kewajiban paling rendah yang harus direalisasikan oleh setiap mukallaf dan dia tidak mungkin selamat (dari siksa kekal api neraka) kecuali dengannya adalah menjauhi thaghut dan tidak menyembahnya, atau (tidak) mengikutinya di atas kemusyrikan dan kebatilannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An Nahl: 36)

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu”. (QS. Al Hajj: 30)

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku berserta anak-cucuku dari menyembah berhala berhala”. (QS. Ibrahim: 35).

Bila hal ini tidak direalisasikan oleh seseorang di dunia ini -yaitu dia menjauhi thaghut, dan menjauhi ibadah kepadanya atau mengikutinya sekarang di dunia-, maka di akhirat dia pasti berada dalam jajaran golongan yang merugi. Saat itu amalan-amalan agama yang dia amalkan tidak bermanfaat dan tidak berguna sedikitpun bila dia di dunia menyepelekan pokok yang paling mendasar tersebut.

Dia akan menyesal saat penyesalan sudah tidak berguna lagi, dia akan berangan-angan untuk bisa dikembalikan ke dunia ini supaya bisa merealisasikan rukun yang maha agung ini dan agar bisa memegang teguh al ‘urwatul wutsqa, serta mengikuti millah yang maha agung ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأسْبَابُ

وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya dan mereka melihat siksa dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orangorang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikian Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. (Al Baqarah: 166-167)

Akan tetapi mana mungkin itu bisa terjadi, (karena) kesempatan telah tiada, dan tidak mungkin bisa kembali ke dunia. Bila engkau –wahai hamba Allah-, ingin selamat dan mengharap rahmat Tuhan-mu yang telah Dia tetapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, maka jauhilah semua thaghut-thaghut itu dan hindari kemusyrikan mereka sekarang juga, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menjauhi mereka di hari kiamat dan tidak bisa selamat dari tempat kembali mereka di akhirat, kecuali orang yang meninggalkan dan menjauhi mereka di dunia ini.

Adapun orang yang ridla dengan dien mereka yang bathil dan mengikutinya di atas kebatilannya, maka sesungguhnya di hari kiamat ada penyeru yang menyerukan:

“Siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah dia mengikutinya”, maka yang dahulunya menyembah matahari diapun mengikuti matahari, orang yang dahulunya menyembah bulan diapun mengikuti bulan, dan orang yang dahulunya menyembah thaghut maka diapun mengikuti thaghut…” hingga perkataannya dalam hadits tentang orang-orang mukmin saat dikatakan kepada mereka: “Apa yang membuat kalian tertahan sedangkan orang-orang sudah pergi?” Maka mereka mengatakan: “Faaraqnaahum wa nahnu ahwaju minnaa ilaihi al yaum, dan sesungguhnya kami mendengar penyeru yang menyerukan:

Hendaklah setiap kaum bergabung dengan apa yang pernah mereka sembah, sedangkan kami hanyalah menunggu Rabb kami”.[9]

Perhatikan ungkapan kaum mukminin: (Faraqnaahum wa nahnu ahwaju minnaa ilaihi) yaitu kami telah meninggalkan mereka di dunia. sedangkan kami sangat membutuhkan kepada dirham dan dinar serta kedudukan mereka di dunia, maka bagaimana kami tidak meninggalkan mereka itu di hari yang sangat agung ini. Di dalam hadits ini ada penjelasan sebagian rambu-rambu perjalanan… Begitu pula dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ

“(Kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang dhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah.” (QS. Ash- Shaaffaat: 22)

Ajwaajahum adalah sejawat mereka, teman-teman mereka, kelompok mereka, dan para pendukung mereka di atas kebatilannya, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam adzab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepadamereka” Laa ilaaha Illallaah” mereka menyombongkan diri.” (QS. Ash- Shaaffaat: 33-35).

Wahai hamba Allah, janganlah engkau sekali-kali berpaling dari kalimat tauhid dan menyepelekan dalam menetapkan apa yang ditetapkan oleh kalimat itu serta (menyepelekan) dalam menafikan apa yang dinafikan oleh kalimat itu. Janganlah engkau sekali-kali menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran serta janganlah bersikeras untuk tetap membela thaghut, maka engkau pasti akan binasa bersama orang-orang yang binasa dan menyertai mereka ke dalam tempat kembalinya.

Kemudian ketahuilah, sesungguhnya Allah telah menjamin tauhid yang murni ini serta pokok yang paling inti ini, yaitu dienul Islam. Allah telah memilihkannya bagi hamba-hamba-Nya yang bertauhid, siapa orang yang datang membawa tauhid maka diterimalah semua amalannya, dan

barangsiapa membawa ajaran selainnya, maka Allah menolaknya dan dia tergolong orang yang rugi.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al Baqarah: 132)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Janganlah membatasi kata “agama” itu hanya pada Kristen, Yahudi dan yang lainnya. Sehingga kamu justeru mengikuti agama-agama lain yang sesat, maka kamupun tersesat. (Ketahuilah) sesungguhnya kata agama (dien) itu mencakup segala paham (millah), jalan hidup (manhaj), atau aturan hukum, atau undang-undang yang dijadikan rujukan oleh umat manusia dan mereka merujuk kepadanya. Sesungguhnya semua itu adalah agama-agama yang kamu wajib bara’ah darinya, menjauhinya, serta kafir terhadapnya, dan menjauhi orang-orangnya… kecuali millah tauhid dan dienul Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman seraya memerintahkan kita untuk mengatakan kepada seluruh orang-orang kafir dengan berbagai macam ajaran dan agamanya:

“Katakan: “Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kaafiruun)

Setiap agama/ajaran dari agama-agama kekufuran telah menghimpun aturan dan jalan hidup yang berseberangan lagi bertentangan dengan dienul Islam. Aturan itu adalah agama yang mereka ridlai, sehingga mencakup di dalamnya: Komunis, Sosialis, Sekuler, Pancasila, Bath dan aliran serta paham baru lainnya yang diada-adakan oleh manusia dengan pemikirannya yang rendah serta mereka rela untuk menjadikannya sebagai jalan hidup mereka. Di antara paham itu adalah apa yang dinamakan Demokrasi. Sesungguhnya demokrasi adalah satu agama di luar agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Berikutnya silahkan anda baca penjelasan singkat tentang kesesatan agama baru ini yang telah membuat banyak manusia tertipu dengannya, -bahkan banyak dari kalangan yang mengaku Islam-, supaya engkau mengetahui bahwa agama baru ini adalah bukan millah tauhid dan justru merupakan salah satu jalan dari jalan-jalan yang menyimpang yang di mana di setiap persimpangan jalan itu ada setan yang mengajak untuk masuk ke neraka, maka seharusnya engkau menjauhinya dan mengajak orang lain untuk menjauhinya.

Hal itu merupakan:

Peringatan bagi kaum mukminin

Pengingat bagi orang-orang yang lalai

Sebagai penegakan hujjah atas orang-orang yang mu’aanid (membangkang).

Serta sebagai alasanmu di hadapan Rabbul ‘Alamiin.

Wallahu a’lam bissawab

Penulis :  Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy

Catatan kaki :

[1] Dengan taqyid ini keluar dari status thaghut para malaikat, para nabi (seperti Isa ibnu Maryam ‘alaihisallam) dan orang-orang shalih yang disembah sedangkan mereka itu tidak ridla, mereka itu tidak dinamakan thaghut dan tidak boleh berlepas diri dari mereka, namun harus berlepas diri dari peribadatan kepadanya dan dari orang-orang yang menyembahnya..

[2] Surat Al-An’am: 121, dan lihat sebab turun ayat ini, ini telah diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya dari Ibnu Abbas dengan sanad yang shahih.

[3] Majmu Al Fatawaa 28/201.

[4] I’laamul Muwaqqi’iin ‘An Rabbil’aalamiin 1/50.

[5] Dalam:

  • Undang-undang Kuwait pasal 51 dikatakan: “Wewenang/kekuasaan legislatif (tasyrii’) berada di tangan emir dan majlis rakyat sesuai dengan patokan undang-undang”.
  • Undang-undang Yordania no: 25: “Wewenang/kekuasaan legislatif dikembalikan kepada raja dan majlis rakyat”.
  • Undang-undang Mesir pasal: 86: “Majlis rakyat memegang kendali tasyri'”.

(Dan begitu juga dalam UUD 45 di Indonesia bab I pasal I ayat 2 amandemen ke tiga UUD 1945 (10-10- 2001): “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undag Dasar.” bab II pasal 3 ayat 1: “Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar”.)

[6] Sebagian ahli tafsir berkata (Orang-orang yang bersama dia): adalah para pengikutnya atau para nabi yang berada di atas jalannya.

[7] Sehingga jelaslah batilnya pernyataan yang mengatakan bahwa kita hanya mengkafirkan perbuatannya, namun tidak mengkafirkan pelakunya, atau pernyataan sesat bahwa kita hanya mengkafirkan nau’ tidak mu’ayyannya, atau pernyataan bahwa takfir mu’ayyan itu secara muthlaq adalah hak para ulama saja termasuk dalam masalah yang dhahirah ini, atau pernyataan bahwa takfir thaghut-thaghut itu tidak ada faidahnya, atau ungkapan lain yang disadari atau tidak oleh orang yang mengatakannya bahwa ungkapanungkapan itu telah menguntungkan para thaghut dan barisannya. Subhaanallah! bagaimana mereka itu bisa merealisasikan kufur kepada thaghut secara sempurna bila thaghut-thaghut itu masih dia anggap sebagai muslim.

Syaikh Abdillathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Mishbahudhdhalaam, hal: 28: “Dan sebagian ulama memandang bahwa hal ini (takfir) serta jihad di atasnya merupakan satu dari rukun-rukun Islam yang di mana keislaman seseorang tidak sah tanpanya”. Dan pada halaman berikutnya 29 beliau mengatakan: “Adapun menelantarkan jihad dan tidak mengkafirkan orang-orang murtad, orang yang menjadikan tandingan bagi Allah serta orang yang

mengangkat andaad dan aalihah (tuhan) bersama Allah, ini (tindakan) hanyalah dilalui oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak mengagungkan perintah-Nya, tidak mengikuti jalan-Nya, dan tidak mengagungkan Allah dan Rasul-nya dengan pengagungan yang seharusnya, bahkan dia itu tidak mengagungkan para imam dan ulama umat ini dengan pengagungan yang seharusnya”.

[8] Diambil dari Sabilun Najah wal Fikaak min Muwaalatil Murtaddin wa Ahlil Isyraak karya Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq, dan lihatlah risalah kami Millah Ibrahim wa Dakwatul Anbiyaa wal Mursaliin wa Asaalibuththughaah fi Tamyii’ihaa wa Sharfiddu’aah ‘anhaa cetakan An Nur lil I’lam Al Islamiy.

[9] Muttafaq ‘Alaih, potongan dari hadits ru’yatul mukminin lirabbihim yaumal qiyamah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s