Keharusan Ummat Islam Memiliki Kepemimpinan dalam Melaksanakan Ibadah Kepada Allah

 

Oleh : Muhammad Yusuf Thahiry —- Imam / Panglima Tertinggi Angkatan Perang  Negara Islam Indonesia

بسم الله الرحمن الرحيم

ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرو ر انفسنا ومن سيئات اعمالنا, من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له, واشهد ان لااله الاالله وحده لاشريك له وأشهد ان  محمدا عبده ورسوله.يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله و قولوا قولا سديدا.يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون إن الله وملإكته يصلون عل النبى يأيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.

Dalam upaya menjaga diri pribadi dan keluarga kita dari azab Allah, semua itu tidak lepas dari keharusan untuk memiliki kepemimpinan. Untuk pembahasan itu kami kemukakan ayat di bawah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (Perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.Al Tahrim 66 : 6).

Ayat itu mengandung makna bahwa menjaga diri sendiri itu kewajiban yang pokok. Di akhirat pun pertanggungjawaban pribadi hanya ditanggung oleh dirinya sendiri. Perhatikan ayat-ayat ini:

فَإِذَاجَاءَتِ الصَّاخَّةُ (٣٣)يَوْمَ يَفِرُّالْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (٣٧)

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangsakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” ( QS. Abasa 80 .: 33 – 37 ).

Dengan ayat itu dapat pula dipahami bahwa kewajiban menjaga keluarga merupakan soal kedua. Pertama adalah diri sendiri, artinya jika sudah diri sendiri baru keluarga, di mana kita sekedar berusaha memelihara sesuai batas kemampuan, adapun berhasil atau tidak hal itu bukan urusan kita. Perhatikan ayat-ayat berikut :

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُالْحَاكِمِينَ (٤٥)

“Dan Nuh berseru kepada Rabbnya seraya berkata : ”Ya, Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkaulah yang benar. Dan Engkau Hakim yang seadil-adilnya. ”- (QS. Hud 11: 45).

قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُصَالِحٍ فَلاتَسْأَلْنِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (٤٦)

“Allah berfirman: ”Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohan kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekatnya). Sesungguhnya aku memperingatkan kapadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang jahil”.”_(QS.Hud 11 : 46).

Dari ayat di atas dimengerti bahwa apabila keluarga sudah tidak mau, kita tetap harus menjaga diri sediri, jangan sampai keluarga tidak mau, lalu kita hanyut terbawa oleh keluarga.

Tiap pribadi mukmin yang sudah baligh wajib menegakkan hukum-hukum Allah secara keseluruhan. Kewajiban tersebut sama halnya dengan kewajiban menjalankan shalat yang lima waktu. Dan dalam upaya menegakkan hukum-hukum Allah itu haruslah dilakukan bersama-sama, sebagaimana Allah memerintahkan kaum muslimin berperang dengan berkelompok-kelompok atau bersama-sama.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama­ sama!” (QS. 4: 71)

Menjalankan hukum-hukum Allah tidak bisa dengan cara sendirian, melainkan harus dengan cara bersama-sama. Perintahnya “Kum ”, yakni kamu sekalian. Untuk itu wajib ada pemimpinnya, atau wajib memiliki pemimpin. Apabila seseorang tidak berada dalam kepemimpinan yang hak, berarti dalam kepemimpinan yang bathil berarti tidak menjaga diri dari azab neraka. Dengan demikian kita berada dibawah kepemimpinan NII merupakan upaya menjaga diri dari api neraka.

Masing-masing keluarga juga diajak supaya bersama dengan kita, namun tentu harus melalui pertimbangan sesuai dengan situasi dan kondisi. Seandainya diantara mereka ada yang tidak mau, kita tetap harus menjaga diri sendiri, dengan kata lain terus berlaju tanpa mesti menunggu anggauta keluarga yang tidak mau, sebagaimana Nabi Nuh.Demikianlah makna menjaga diri sendiri.

Berkaitan dengan itu perhatikan dua ayat di bawah ini :

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُواهَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (١٠)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?” ( QS Al Shaf .61:10).

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِيسَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْوَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌلَكُمْ إِنْكُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (١١)

“ (Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. ”.-( Qs. Al Shaf 61:11).

Dari  dua ayat di atas bisa diambil pengertian bahwa :

  1. Beriman kepada Allah, dengan arti memegang amanat Allah, yakni menjalankan seluruh perintah-Nya,dan meninggalkan laranganNya.
  2. Berjihad di jalan Allah. Dalam hal ini jelas harus didahului memiliki pemimpin. Bila ada yang mengaku sedang berjihad fisabilillah, tapi tidak punya pemimpin, maka akan ngawur, yakni tidak tepat pada sasaran yang hak. Mereka yang berjihad di jalan Thaghutpun ada pemimpinnya (QS.34:31-33 ). Telah dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat 90 ayat10) ,“ Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan ”. Apabila tidak berada dalam kepemimpinan sabilillah berarti berada dalam kepemimpinan thagut.  Artinya, setiap pribadi terkait dengan pemimpin. Jadi, terlepas disadari atau tidak maka biarpun seribu kali mengatakan, “menjaga diri dan keluarga dari api neraka, ” tetapi jika tidak memiliki kepemimpinan di jalan Allah berarti berada di jalan Thaghut, dan berarti pula tidak berjihad pada jalan Allah. Sedangkan berdasarkan Qur’an surat 61 As-Shaff ayat 10-11, bahwa menyelamatkan diri dari azab neraka yang pedih itu ialah beriman kepada Allah dan berjihad fisabilillah dengan harta dan jiwa.

DARI KEHIDUPAN SEKARANG

Tidak dipungkiri bila ada yang mengharapkan munculnya pemimpin umat hanya dengan menunggu-nunggu datangnya Imam Mahdi. Padahal pertanggungjawaban kita kepada Allahl. hanyalah kehidupan kita sekarang. Mengenai akan datangnya Imam Mahdi, kita kemukakan beberapa keterangan yang berkaitan dengannya:

عن عمرا ن بن حصين رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لاتزال طائفة من امتى يقاتلون على الحق ظاهرين على من ناوأهم حتى يقاتل اخرهم المسيح الدجال . ( رواه  ابو داود و ا حمد ).

 “Dari  Imran bin Hushain a, dia berkata: telah bersabda Rasulullah y: “Akan terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang berperang atas kebenaran, mereka mengalahkan orang-orang yang memusuhi mereka, sehingga orang-orang terakhir dari mereka ini memerangi  al-Masih Dajjal”.[1]

عن جابر بن عبدالله رضى الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لا تزال طائفة من امتى يقاتلون على الحقظاهرين الى يوم القيامة . قال: فينزل عيس ا بن مريم عليه السلام فيقول أمرهم تعال صل لنا فيقول: لا إن بعضكم على بعض أمراء تكرمة الله هذه الأمة . (رواه مسلم ).

“Dari Jabir bin Abdillah a, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah y: ‘Terus menerus dari ummatku ada sekelompok orang yang berpegang di atas dasar kebenaran, mereka itu selalu tampil dengan kebenaran sampai hari kiamat.” Kemudian beliau bersabda: “Maka Nabiullah Isa pturun, maka berkatalah pimpinan mereka (yakni pimpinan kelompok pejuang kebenaran itu) kepada Isa: “Kemarilah, pimpinlah kami menunaikan shalat”. Maka Isa menjawahb: “Tidak, sesungguhnya sebagian kalian atas sebagian yang lainnya sebagai pimpinan sebagai pemulyaan Allah terhadap ummat ini.” (H.R Muslim).

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Abani Hafizullah menerangkan: ”Perkataan ‘pimpinan mereka’ di hadits ini yang dimaksud adalah Imam Mahdi Muhammad bin Abdullah ‘alaihis salam sebagaimana yang bisa dilihat dalam hadits-hadits lain.”

عن عبد الله بن مغفل رضى الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يلبث الدجال ما شاء الله , ثم ينزل عيس بن مريم مصدقا بمحمد و على ملته و حكما عدلا فيقتل الدجال. (الطبرا نى فى الكبير وبيهقى فى البعث ).

“Dari ‘Abdillah bin Mughoffal, aberkata: “ Rasulullah ybersabda:’ Akan tinggal Dajjal di bumi sampai waktu yang dikehendaki Allah, kemudian turunlah Isa bin Maryam yang membenarkan Nabi Muhammad dan berada di atas millah (syari’at)nya dan sebagai hakim yang adil, maka beliau membunuh  Dajjal.”[2]

Dari tiga hadits itu dipahami bahwa yang disebut sebagai Imam Mahdi yaitu yang datangnya pada akhi zaman sewaktu sudah mendekati Hari Kiamat, yaitu menjelang turunnya Nabi Isa pyang kemudian datang pula Dajjal. Sehingga bala tentara Imam Mahdi memerangi bala tentara Dajjal. Dan terjadi sezaman dengan turunnya Nabi Isa phingga akhirnya Nabi Isa pmembunuh Dajjal.

Kesimpulan dari tiga hadits di atas bahwa akan datang Imam Mahdi pada akhir zaman mendekati Hari Kiamat. Jadi, musuh Islam yang dihadapi oleh Imam Mahdi bukan lagi musuh yang seperti kita lihat sekarang. Musuh yang dihadapinya merupakan musuh yang berat yang tidak bisa dihadapi oleh kita sekarang. Kemudian Allahl menurunkan Nabi Isa AS, maka tentu pemimpin muslimin yang menerimanya juga bukanlah yang tidak ma’shum seperti pemimpin kita sekarang. Begitu juga yang dijadikan musuhnya, sebagai alat penguji keimanan ummat muslimin ditakdirkan oleh Allah dengan membawa keluarbiasaannya, yaitu Dajjal dan bala tentaranya.

Allah Maha Bijaksana bahwa akan menguji ummat muslimin dengan musuh (Dajjal) yang diberikan keluarbiasaan, maka akan mendatangkan pimpinan ummat yang diberikan keluarbiasaan pula, yaitu Imam Mahdi dan diturunkan Nabi Isa AS  Kita tidak tahu kapan datangnya Hari Kiamat, atau kapan datangnya Dajjal yang disebutkan dalam hadits. Imam Mahdi hanya akan mempertanggungjawabkan ummatnya pada zaman menjelang kedatangan Dajjal mendekat Hari Kiamat.Artinya Imam Mahdi tidak bertanggung jawab kepada kehidupan kita sekarang.

Untuk itu seandainya anda tidak mau punya pimpinan Islam, karena anda mengandalkan datangnya Imam Mahdi, sedangkan kewajiban bagi Imam Mahdi itu nanti sezaman dengan datangnya Dajjal dan Nabi Isa AS, maka berarti anda sekarang tidak merasa diperintah Allah untuk memerangi musuh-musuh Islam pada zaman sekarang. Ataukah memang anda bersikeras ingin menunggu berperang melawan bala tentara Dajjal yang kekuatannya luar biasa?

Mestinya anda bersyukur ditakdirkan oleh Allah, hidup pada zaman sekarang, belum datang Imam Mahdi, musuh anda belum begitu berat seperti nanti pada zaman Imam Mahdi. Hidup kita sekarang akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Jadi, soal akan datangnya Imam Mahdi, itu urusan nanti,  anda tidak akan diminta pertanggungjawaban soal Imam yang akan datang. Tegasnya, adanya berita akan datangnya Imam Mahdi, tidak bisa melepaskan kita dari kewajiban memiliki Imam /pemimpin saat sekarang.

 WALAU BELUM BISA DIJALANKAN

Berdasarkan sunnah,  sebelum diturunkan hukum-hukum, kepemimpinan (Rasul y) sudah terlebih dulu ada. Artinya sebelum ada pelaksanaan hukum–hukum Islam, struktur kepemimpinan negara sebagai alat pelaksana hukum itu sudah didahulukan. Maka dari itu sungguh wajib adanya Imam , walaupun hukum Qishas, Ranjam, dan Haad belum bisa dilaksanakan. Sebab, apabila kondisi dalam keadaan Darurat Perang, atau kondisi sedang berada dalam wilayah yang dikuasai musuh, maka tidak diperbolehkan melaksanakan hukum had (potong tangan).

Artinya, dalam kondisi demikian, pelaksanaan hukum potong tangan itu harus ditunda. Jadi, tidak dilaksanakannya hukum Had, Qishos dan Ranjam itu bukan disebabkan belum didhohirkannya Iman, melainkan karena kondisi ketidakmampuan kaum muslimin untuk menguasai orang yang dikenai hukum potong tangan itu bilamana  membelot kepada musuh. Dengan demikian untuk melaksanakan hukum had, apabila wilayahnya sudah dikuasai dengan penuh (defacto).

Abul Qasim Al-Kharaqi dalam risalahnya meriwayatkan bahwa Bisyr bin Arthaah menangkap seorang tentara (mujahid) yang mencuri barang miliknya. Dia berkata: ” Sekiranya aku tak mendengar sabda Rasulullahy, diwaktu perang, tangan-tangan tak boleh dipotong, pasti akan kupotong tanganmu ”.(Diriwatkan oleh Abu Daud).

Imam Ahmad, Ishak bin Ranaiwah, Azauza’i juga yang lainnya menentukan, bahwa hukum tidak boleh dilaksanakan di daerah yang dikuasai musuh. Khalifah Umar bin Khathaba mengumumkan pelarangan terhadap pelaksanaan hukum dera di waktu perang.

Dalam Perang Qodisiyah, Abu Maljam diketahui sedang minum Khamar oleh Sa’ad bin Abi Waqqos namun tidak dihukum dera tapi diperintahkan kepada anak buahnya supaya mengikat kedua kaki Abu Maljam. Sewaktu Abu Maljam melihat kuda-kuda dihalau untuk dipersiapkan menyerbu musuh, dan dirinya dikerumuni orang, Abu Maljam meminta kepada Ibna Hafsah supaya dilepaskan kakinya dengan janji, bilamana selesai berperang ia masih hidup, dirinya akan kembali untuk diikat kakinya. “Apabila aku mati, kalian (yang melepaskan) terbebas dari pertanggungan jawab mengenai diriku !” Begitulah ketegasan Abu Maljam.

Setelah dilepaskan kakinya, ia kemudian maju menyerbu musuh. Ketika itu Sa’ad bin Abi Waqqos sedang luka-luka tidak memimpin perang, namun dinaikkan ke atas  pohon, sambil mengawasi situasi perang.  Abu Maljam melompat ke atas kuda Sa’ad, dengan bersenjatakan tombak, ia menerjang musuh dengan gesitnya, puluhan musuh terbunuh olehnya. “Ada Malaikat!” teriak seorang shahabat. Sesudah tentara Islam mengalahkan musuh, Abu Maljam kembali mengikat sendiri kedua kakinya. Ibna Hafsah menanyakan mengenai Abu Muljam kepada suaminya. Sa’ad bin Abi Waqqos berkata:” Demi Allah, aku takkan mendera orang yang memberi kemenangan kepada muslimin”. Abu Maljam lalu dibebaskan.[3]                                                                                                                                           

Dari riwayat itu diketahui bahwa Daulah Islamiyah beserta Imamnya sudah ada atau dhahir, meski hukum-hukum yang menyangkut pidananya tidak dijalankan, karena di daerah musuh, artinya masih dalam bahaya.

Jadi, sebelum Ummat Islam berkuasa penuh, atau sebelum berlakunya hukum- hukum pidana Islam, maka yang pertama kali ialah adanya Pemimpin / Imam. Dan jelas sekali bahwa sebelum diturunkan hukum-hukum pidana, Qishos, Had dan Ranjam itu, maka kepala negara / pemerintahan Madinah yang pada waktu itu dipegang oleh Nabi ysudah ada, artinya sebelum adanya kewajiban menjalankan hukum hukum pidana itu didahului dengan adanya Daulah Islamiyyah serta imamnya. Secara logika akal pun dimengerti bagaimana bisa berkuasa penuh atau memiliki wilayah yang sepenuhnya dikuasai, jika untuk mengadakan imamnya saja belum bisa.

Maksud istilah Imam ialah pemimpin tertinggi. Bila pada zaman Nabi di Madinah ialah beliau sendiri. Maka sebelum ada perintah shalat juga hukum-hukum pidana Islam, Imam/pemimpin ummat sudah ada, meski masih berada di wilayah yang dikuasai musuh. Dengan demikian, sungguh salah alias terbalik , bagi yang mengatakan bahwa shalat itu baru wajib kalau sudah diperintah oleh Imam, begitu juga sungguh salah alias terbalik, bagi yang mengatakan tidak perlu adanya Imam karena belum bisa menjalankan hukum jinayah seperti Qishos, had dan Ranjam. Kesimpulannya, bahwa sebelum adanya pelaksanaan hukum-hukum, pemimpin sudah terlebih dulu ada.

SEBAB-SEBAB OPTIMIS MEMBELA NII

Sudah sekian lama perjuangan Negara Islam Indonesia mengalami banyak rintangan serta berbagai cobaan yang dialami para mujahidnya. Karena itu  wajar bila ada sebagian orang luar  NII yang merasa pesimis akan adanya kemenangan defakto bagi NII. Namun, bagi kita tetap merasa optimis. Sesuatu yang menjadi dasar bagi kita optimis, ialah karena yakin bahwa perjuangan NII meupakan satu perjuangan yang benar sesuai Al-­Qur’an dan Sunnah Nabiy. Dengan kita berada di dalamnya berarti sudah bisa menjalankan tugas dari Allah, sehingga tidak punya beban di akhirat saat diminta pertanggungjawaban oleh-Nya tentang kewajiban menjalankan hukum-­hukum Allah secara total.

Jadi, memperjuangkan NII ini “bukanlah karena” akan memperoleh kemenangan secara fisik (futuh) yang dengan pasti akan dialami dalam kehidupan kita sekarang, melainkan karena keyakinan bahwa hal itu perintah dari Allah (sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnahy). Sebab, apabila tugas sudah dikerjakan, maka hasilnya diserahkan kepada Allah dan kita peroleh pahala dari-Nya. Jelasnya, yang disebut optimis dalam hal ini ialah bebas dari beban dosa, dan adanya pahala yang abadi. Perhatikan apa yang terjadi pada ummat Nabi Nuh p, mereka diperintahkan oleh Allah membuat kapal di daratan yang sangat jauh dari lautan. Jika tujuannya hanya supaya bisa menaiki kapal dan berlayar, mungkin di antara yang paling tua usianya berfikir bagaimana kalau keburu mati, atau kapan dan dari mana datangnya air. Kenyataannya pengikut Nabi Nuh p tidak demikian. Melainkan, yakin bahwa setiap menjalankan perintah  Allah pasti ada jalannya. Cepat atau lambat itu bukan soal. Sebab, jika untuk kemenangan fisik atau berlayarnya kapal belum juga tercapai, sedangkan jasad keburu mati dalam menjalankan perintah Allah, maka itu juga sebagai jalan yakni mati dalam menjalankan perintah Allah. Itulah yang disebut Optimis (punya harapan), yakni “aman” di hadapan Allahl ( Q.S.6 Al-An’aam:82).

Sama halnya dengan ummat pada zaman Nabi ysewaktu jumlah mereka masih sedikit (beberapa orang) tentu menurut perhitungan, jumlah berberapa orang itu tidak akan bisa menguasai Makkah dan Madinah dalam tempo beberapa tahun. Sebab, selama tiga tahun berjuang baru menghasilkan tiga puluh lima orang, sedangkan usia Nabi sudah empat puluh tiga tahun. Maka, hitung saja 20 tahun dibagi 3 tahun = kira-kira 7, kemudian kali (x) 35 = 245 orang. Sedangkan pada waktu itu jumlah ummat Islam baru 35 orang, sementara  penduduk Jazirah Arab sudah dua belas juta orang. Jika selama 20 tahun tentu bukan dua belas juta lagi. Dengan itu tidak dimengerti jika dalam tempo 23 – 3 = 20 tahun akan bisa menguasai Makkah Dan Madinah.

Akan tetapi, karena tujuan pokok bagi ummat Nabi y itu mengabdi kepada perintah-perintah Allah, yang memiliki semua kekuasaan, maka soal akan bisa menguasai atau tidaknya terhadap Makkah dan Madinah itu soal kedua. Sebab, seandainya tidak sempat menguasai Makkah dan Madinah pun, maka tetap mereka memiliki pahala yang besar dari Allahlsehingga optimis. Suatu yang menjadi nilai di hadapan Allahlbukanlah menangnya, melainkan suksesnya menghadapi ujian. Perhatikan dua ayat ini:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْءٍقَدِيرٌ (١)

“Maha suci Allah yang ditangan-Nya segala Kerajaannya, dan Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu. ”. (Qs.67:1).

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَلِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاوَهُوَالْعَزِيزُالْغَفُورُ (٢)

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia men guji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. ”. (Qs.67:2).

Ayat yang pertama (QS.67:1) menerangkan bahwa yang memiliki segala kekuasaan adalah Allah. Bila dihubungkan dengan kapan akan menangnya Negara Islam Indonesia secara dhahir / defacto sehingga hukum Islam bisa dijalankan dengan sempurna,  itu urusan Allah yang memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu. Jadi soal kapan menangnya, atau akan dialami  dirinya atau tidak bukanlah persoalan.

Ayat yang kedua (QS.67:2) menerangkan bahwa yang menjadi nilai bagi pribadi mukmin ialah kelangsungan dalam mengemban tugas berjihad dijalan Allah, walau terus menerus menghadapi berbagai ujian. Jika hal itu dikaitkan dengan perjuangan menegakkan Negara Islam Indonesia, maka bagi para mujahidnya akan tetap “optimis” meski terus menghadapi berbagai ancaman musuh dengan segala provokasinya. Sebab hanya dengan itu saja berarti sudah memperoleh kemenangan yang hakiki, yakni memperoleh kehidupan atau kematian dengan ketabahan menghadapi berbagai ujian akibat menegakkan negara yang didasari hukum-hukum Allah. Memperoleh ujian dalam menegakkan hukum-hukum Allah berarti juga memperoleh “nominasidari Allah untuk berlomba menentukan mana yang lebih tahan menghadapi ujian, sehingga dicatat pula mana yang lebih tinggi nilainya. Bagi yang berjihad menegakkan Daulah Islamiyah pasti menghadapi ujian (Perhatikan QS.2:155, 214).

Sebuah perumpamaan misalkan kita kerja  kuli mencangkul tanah kepunyaan konglomerat yang luasnya ribuan hektar, tentu soal bisa segera selesai atau tidak, bukanlah urusan kita sebagai tukang cangkul, melainkan urusan konglomerat yang punya modal besar.Bisa saja jika konglomerat  mau segera menyelesaikannya maka dengan tiba-tiba mendatangkan ribuan tukang cangkul. Jadi, bila dimisalkan kita tukang cangkul yang sedikit sehingga banyak yang tidak mau menjadi teman bekerja, kita tidak bingung bagaimana kalau tidak bisa menyelesaikan tanah yang luasnya sekian ribu hektar yang memang bukan kuasa kita. Sebab, yang dibutuhkan kita adalah kelangsungan menjadi pekerja dari konglomerat tanah itu sehingga mendapat upah, dan kita bekerja sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Dengan demikian,optimis memiliki jaminan darinya sekalipun kerjanya sedikit asal sesuai dengan peraturan, maka tetap memperoleh upah. Tetapi meskipun kerjanya banyak, namun bila tidak sesuai dengan kehendak konglomerat, maka bukannya diberi upah, melainkan justru mendapatkan  cercaan.

Inti persoalan ialah bagaimana kerjanya,  soal kapan beres, bisa atau tidak menyelesaikan tanah yang puluhan ribu hektar, urusan konglomerat yang punya kekuasaan. Sungguh tidak tahu diri kalau tukang cangkul yang keluar dari kerjanya, karena berpikir tidak akan bisa menyelesaikan tanah yang sekian puluh ribu hektar, padahal dia itu “sekedar tukang cangkul”, sedangkan tanah yang ribuan hektar itu bukan miliknya.

Apabila dikaitkan dengan perjuangan men-defacto-kan kembali Negara Islam Indonesia, yang menjadi optimisnya ialah karena memiliki nilai kelangsungan berjihad walau terus-menerus menghadapi ujian, sehingga sesuai dengan “liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa..” (QS.67:2).

Sehubungan dengan nilai kelangsungan jihad, kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Khabbab ketika ia datang menemui Rasulullah y dan berkata kepada beliau: “Tidakkah Engkau memintakan pertolongan bagi kami ? Tidakkah Engkau mendo’akan kami.” Kemudian Rasulullah y bersabda:“ Adalah seorang laki-laki dari orang-orang yang hidup sebelum kalian, dibuatkan lobang galian di bumi. Lalu ia ditanam di dalamnya. Kemudian didatangkan kepadanya sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya sehingga membelah tubuhnya menjadi dua bagian, tetapi itu tidak membuatnya berpaling dari din-nya. (Ada juga) yang tubuhnya disisir dengan sisir dari besi sehingga dagingnya rontok terpisah dari tulangnya, tetapi itu semua tidak membuatnya berpaling dari Din-nya. ”[4]        

Dalam hadits ini Rasulullah y menjelaskan bahwa kemenangan adalah tsabat (keteguhan) dalam mempertahankan Din dan tidak menyerah walau bagaimanapun rintangan dan tantangan yang harus dihadapi.[5]                                                                                                                                   

Seorang mukmin yang tidak menyerah, meski kepalanya digergaji sudah  tentu didahului pada dirinya tertanam rasa optimis akan memperoleh hakekat kemenangan atau keberuntungan yang nyata . Firman Allah:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْعَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (١٥)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Rabb-ku.” (QS. 6:15 ).

مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَ ئِذٍفَقَدْرَحِمَهُ وَذَلِكَ الْفَوْزُالْمُبِينُ (١٦)

“Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan keberuntungan yang nyata.” (QS. 6:16).

Dengan demikian kesimpulannya bahwa yang menjadi dasar bagi kita optimis memperjuangkan Negara Islam Indonesia ialah karena sesuai dengan Al- Qur’an dan Sunnah Rasulullahy, sehingga dengan terus membelanya tanpa menyerah berarti menjalankan tugas dari Allah supaya bebas dari beban di akhirat saat kita diminta pertanggungjawaban mengenai kewajiban menjalankan hukum-hukum Allahlsecara keseluruhan. Dengan keyakinan demikian, maka optimis akan memperoleh rahmat Allah di akhirat yang merupakan kemenangan sesungguhnya. Soal keberuntungan / kemenangan di dunia hal itu hak Allah, kita sekedar menjalankan tugas semaksimal daya usaha.

DI WILAYAH YANG DIKUASAI MUSUH

Komitmen kepada kepemimpinan yang haq itu wajib, meski berada di wilayah yang dikuasai pemerintahan musyrik. Contohnya, Nabi Ibrahim, Nabi Zakaria, dan Nabi Musau, mereka dikejar-kejar oleh penguasa musyrik karena berada di wilayah kekuasaan musyrik. Kita mesti berada pada posisi yang haq dan syarat untuk itu harus berjihad menegakkannya. Sedangkan syarat berjihad guna menegakkannya itu ialah didahului dengan komitmen atau berbaiat (berjanji) untuk taat kepada kepemimpinannya

Ingat! kalau untuk berbaiat itu menunggu dulu kepemimpinan yang haq itu berkuasa sehingga memiliki wilayah defakto (futuh), maka hal itu bukanlah berjihad, melainkan menunggu hasil. Dan hal demikian (menunggu hasil) tidak didapat dalam Qur’an dan Sunnah. Bahkan sangat terhina !!! Sewaktu Nabi Muhammad ymasih berada di Makkah semua ummatnya berada di wilayah yang dikuasai Abu Jahal, mereka tidak berbaiat kepada Abu Jahal. Begitu juga yang berada di negeri Habsyi, tidak berbaiat kepada penguasa Habsyi. Ikatan berbaiatnya tetap berlanjut walau Nabi tidak di negeri Habsyi.

Kewajiban berbaiat kepada kepemimpinan yang haq tidak mesti berada di wilayahnya yang defacto. Buktinya, setelah ditanda-tangani Perjanjian Damai Hudaibiyah, pada akhir tahun kelima hijriyah, ada sekumpulan muslimin yang berada di wilayah kekuasaan pemerintah musyrikin. Pada waktu itu Abu Abbas bin Abdul Muthalib yang ditugaskan oleh Rasulullah y mengawasi kota Makkah. Dari hari ke hari secara diam-diam jumlah mereka semakin bertambah. Hal itu diketahui karena secara rahasia banyak datang berbaiat masuk Islam diorganisir oleh sahabat yang ditugaskan di kota Makkah, karena mereka tidak boleh menuju Madinah. Abbas bin Abdul Muthalib sendiri tidak diketahui oleh penguasa Makkah telah mengorganisir muslimin secara sembunyi- sembunyi.  Sebab, dirinya menyembunyikan ke­Islamannya, ”…dan ketika hari terbukanya kota Makkah oleh Nabi dan kaum Muslimin, barulah ia secara terang-terangan menampakkan keIslamannya kepada orang ramai ,..”[6]                                                                                                                                                                                                                   Mereka secara tersembunyi menyusun kekuatan, yang takut ketahuan oleh penguasa melarikan diri, yang bisa lolos tidak tertangkap, mereka berdiam diri di sebuah dusun yang bernama Iesh, suatu daerah di tepi laut yang biasa dilalui orang-orang Madinah yang pergi ke Syam. Selanjutnya seorang demi seorang kaum Muslimin dari Makkah melarikan diri ke Dusun Iesh itu, dan masing-masing bertempat tinggal di situ, sehingga dalam sebentar waktu saja sudah ada tujuh puluh orang kaum Muslimin.” Bahkan diriwayatkan pula datang beberapa puluh orang dari Ghifar, dari Aslam, dari Juhainah dan dari beberapa kabilah Arab, sehingga berjumlah tiga ratus orang.[7] Menurut Perjanjian Hudaibiyyah orang-orang Quraisy yang masuk Islam tidak boleh ke Madinah, sehingga menjelang Fathu Makkah, jumlah mereka yang lari dari Makkah sebanyak tiga ratus orang. Belum lagi yang tinggal di Makah bersama Abu Abbas.

Hal demikian terjadi pada zaman Rasulullahy, berarti merupakan Sunnah Nabi y yang dijadikan dasar perjuangan bagi ummat Islam dewasa ini. Banyak ayat yang melarang kita mengangkat pemimpin dari golongan yang anti hukum-hukum Allah. Dengan itu berarti kita dituntut komitmen kepada pemimpin yang haq. Bila tidak demikian berarti dalam posisi zholaalah(sesat).

 

Referensi

[1]H R. Abu Daud, No. 2484, bab Fi Dawamil Jihad. Imam Ahmad dalam Musnad.

[2]At-Tabrani dalam  Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Al Ba’ts.

[3]Dr. Yusufh Qordhawi, Syareat Islam Ditantang Zaman,  penerjemah Abu Zaky, Surabaya: Pustaka Progressif, 1990,hal.34.

[4]Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (3612).

[5]Dr.Nashir Sulaiman ‘Amr, Menyingkap Hakekat Kemenangan,  Penerjemah: Agus Supriadi,Solo:CV. Pustaka Mantiq, 1994, hal. 38-39.

[6]KH. Moenawar Chalil,  Kelengkapan …Op. cit, hal.36.

7 Ibid,hal.164-165.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s