Mempersiapkan Keinsyafan Identitas Islam Kaum Pergerakan Islam

 

Semua pergerakan agung yang tertulis dalam sejarah manusia adalah pergerakan rakyat. Dalam Islam pergerakan rakyat yang paling sempurna diwakili oleh nama pergerakan umat. Dia adalah ledakan dari kehendak manusia yang dipicu oleh kekejaman thagut dewa keputusasaan. Juga dijilat oleh api obor Sidaratul Muntaha yang dilontarkan Jibril ke hati massa umat Islam. Wujudnya jelas bukan lagi kata-kata manis penenang batin, bacaan budaya, dan epik masa lampau. Ia berwujud amukan badai kehendak manusia yang akan ‘mengubah nasib suatu kaum’. Kehendak istimewa yang cuma bisa dirasakan oleh seorang manusia yang tahu kalau kehendak itu ada di dalam dirinya. Hanya manusia yang seperti itu yang dapat melancarkan ajakan yang akan membuka gerbang hati ‘ummatan terbaik di muka bumi’ laksana dentuman godam.

Suatu pergerakan yang berharap untuk mencapai tujuan agungnya harus selalu mawas dan menjaga hubungan dengan orang kebanyakan (massa). Semua pertanyaan yang diajukan harus ditimbang dari sisi itu dan diputuskan dengan pandangan itu. Sebuah pergerakan harus menghindar dari segala hal yang akan melemahkan kemampuan dirinya mempengaruhi orang banyak. Tanpa kekuatan raksasa dari rakyat jelata, tiada tujuan besar, tak peduli betapa mulia dan sucinya, yang bisa diraih.

Telah tiba waktunya bagi kita untuk memberi pergerakan sosial Islam yang telah kita bangun ini sebuah titik fokus. Titik fokus yang dimaksud tak lain tak bukan adalah massa umat Islam itu sendiri. Dan massa umat Islam paling banyak ternyata ada di jiwa para kelas pekerja. Demi tujuan ini kita harus menyingkirkan skeptisme, gengsi, dan lagak intelektual kita demi mendapatkan pesan-pesan yang mudah dipahami kelas pekerja ini, sambil terus menampilkan kejujuran bulat yang terang-terangan.

Meskipun hanya dengan intelijensia, dengan kecerdasan kita bisa memahami seluk-beluk dan tipu muslihat yang ada dalam kegiatan ekonomi, politik dan tatanan masyarakat, namun ini bukan tugasnya kaum pekerja. Memaksakan hal ini kepada mereka jelas merupakan jalan menuju kegagalan. Pikiran kelas pekerja ialah orang yang ‘selalu mencari yang gampang’, tidak mau tahu hal rumit atau susah. Sedangkan jiwa para pekerja adalah orang yang selalu ‘menunggu bimbingan dari pihak di atas mereka’. Kemauan para kelas pekerja ialah diperintah oleh ‘orang besar’ atau pemimpin. Tak lebih dari itu.

Jika pemimpin besar ini tidak mereka dapatkan, mereka akan memuaskan diri dengan mengikuti keinginan seseorang yang dipoles dan diajukan kepadanya dengan ‘simbol kebesaran’. Mereka lebih puas mendapatkan alternatif pemimpin bodong dibandingkan harus mencoba memahami pesan intelektual yang disampaikan kepadanya oleh orang baik-baik, oleh tokoh masyarakat.

Ingatlah betapa kepemimpinan nasional kemarin ternyata penuh dengan pencitraan, terlalu banyak diberi simbol kebesaran hingga menutupi kemampuan sebenarnya. Tapi toh pemimpin seperti itu pula yang ditunjuk rakyat pekerja kebanyakan. Batin rakyat Indonesia kini kosong lagi dan menanti-nanti Sang Pemimpin. Apakah mereka akan segera mendapatkan pemimpin jempolan pemuda pilihan Tuhan ataukah pemimpin jadi-jadian hasil polesan media massa kapitalis lagi? Kita tunggu saja, disamping Revolusi Islam kita ini masih harus menyiapkan pemimpin-pemimpinnya sendiri demi umat dan ad Din.

Di luar itu semua, kaum pekerja selalu punya kecenderungan alami untuk memegang kebenaran saat disampaikan kepadanya dalam bentuk paling sederhana. Mereka pun akan mendasarkan kebenaran pada model tersebut. Media massa sendiri adalah medan pertempuran ‘pesan yang disampaikan’. Apabila soal volume dan skala media bisa diimbangi maka soal kualitas kebenaran pesan baru bisa mencapai pikiran rasional massa. Jika semua berjalan dengan adil maka pihak yang menyampaikan pesan atas kebenaranlah yang akan mengungguli pihak yang berpesan penuh dengan dusta.

Para penyampai pesan dakwah sering terjebak kesalahan ini dengan menyampaikan pesan yang terlalu rumit, rawan disusupi ide menyeleweng, atau terlalu kerdil hanya  solusi masalah individu bukannya permasalahan ummat. Para pekerja tidak tertarik pada sejarah kuno sehingga jangan terlalu membanggakan kejayaan Islam masa lalu saat berbicara kepada mereka. Mereka hanya tertarik pada masa sekarang, masa mereka hidup. Kaum pekerja tidak tertarik untuk mengetahui muslihat bisnis perusahaan asing yang menjarah kekayaan Indonesia. Pekerja cuma tertarik pada bagaimana mereka bisa menafkahi keluarganya. Ia juga tidak tertarik untuk memahami bagaimana sikapnya selama ini adalah hasil indoktrinasi sistematis lewat sistem pendidikan nasional dan percontohan media massa. Masyarakat kelas pekerja tertarik pada pemandangan baru yang disajikan kepadanya, dimana ia bisa utak-atik buat gambaran baru dirinya sendiri.

Sekadar contoh, bisa kita temui bagaimana reaksi perempuan Indonesia saat disajikan kepadanya kalau perempuan yang berkulit cerah (putih) itu adalah citra kecantikan baru. Tak perlu waktu lama bagi kita mendapati perempuan pribumi Indonesia yang sejatinya berkulit sawo matang ini berlomba memutihkan kulit dan menjauhi citra kulit coklat yang kusam (diartikan jelek).

Kembali ke persoalan pesan pergerakan Islam yang akan disampaikan kepada mayoritas kaum pekerja, hendaknya tidak dipenuhi bangunan teori rumit yang akan membingungkan mereka. Pemikiran ilmiah kita hanya akan disajikan kepada para cendikiawan yang bertanya.

Anehnya malah sering kita temui pesan pergerakan Islam yang berisi teori rumit namun samasekali tidak ilmiah atau separuh ilmiah. Mengadopsi teori konspirasi sebagai dasar bertindak pergerakan Islam merupakan kekeliruan fatal. Lebih banyak mudharat daripada manfaatnya bagi harakah Islam. Dia bagaikan khamr bagi kapasitas kecerdasan berpikir suatu pergerakan. Aktivis Islam seringkali terpukau dicekoki teori konspirasi yang konon berpengaruh dahsyat dan mendunia.

Perlu di tegaskan di sini bahwa tidak ada sejarah besar di dunia ini yang dibuat oleh organisasi rahasia dari balik layar. Semua peristiwa besar dilakukan oleh pelaku sejarah secara sadar dan terang-terangan. Salahuddin al-Ayyubi merebut Al Quds, Bolshevik Rusia menentang Tsar, bangsa Indonesia memproklamasikan Negara Islam. Semua dipergilirkan terjadi oleh Allah SWT agar jadi pelajaran bagi kaum yang berpikir. Kita tak perlu mengenal mereka yang terlalu pengecut untuk tampil terbuka berhadapan dengan kehendak Revolusi Islam.

Komponen teori konspirasi samasekali tidak bisa kita selidiki lebih dalam atau kita tabayyun-kan sehingga lebih banyak berisi keraguan daripada kepastian. Dasar kaum Revolusioner Islam bertindak adalah realitas bukannya reaksi atas dugaan-dugaan, tipu muslihat, atau jebakan. Keselamatan umat, dienul Islam, kaum dhuafa, dan rakyat Indonesia bergantung penuh pada hal ini sehingga kita tak boleh ceroboh.

Pengaruh teori konspirasi terhadap diri pejuang Islam sangat berbahaya karena menyerupai khamr. Dia akan paranoid, patah semangat, dan selalu ketakutan merasa dikelilingi kekuatan konspirasi internasional yang lebih unggul. Karena paranoid ia akan menilai keadaan dengan su’udzhon, berburuk sangka. Dia menjauh dari realitas karena berburuk sangka akan membentuk realitas palsu di dalam kepalanya, lalu semua tindakannya akan berlebihan dan tak terukur.

Teori konspirasi juga bisa menuntun pejuang Islam untuk ‘men-Thagut-kan’ pelaku konspirasi secara tidak sadar. Dia akan mencitrakan bahwa organisasi rahasia kelas dunia ‘sudah merencanakan segalanya’. Semua hal yang terjadi adalah rencana organisasi rahasia macam Freemason, Illuminatie, Yahudi Rahasia, Invisible Hands, atau Knight Templar. Mereka tidak pernah kalah atau salah bertindak karena semua hal ‘sudah direncanakan sejak dulu’. Bahkan reaksi perlawanan muslim sudah diantisipasi atau malah menjadi ‘bagian dari rencana mereka’. Bukankah sifat-sifat seperti itu hanya milik Allah yang tidak pernah salah mempergilirkan takdir atas dunia sejak dulu?

Kita bukan menyangkal keberadaan organisasi jahat macam itu, namun sebelum mereka cukup jantan untuk tampil berhadapan dengan kekuatan Revolusi Islam, kita harus mengabaikan pengaruh mereka dan memusatkan seluruh tenaga dan pikiran kita menghadapi musuh revolusi yang nyata dan terang-terangan. Sekali lagi, kiprah kita adalah realitas yang artinya bertindak atas dasar kenyataan.

Kebenaran yang telah dipangkas ke bentuknya yang paling sederhana, harus menjadi inti dari pesan yang kita sampaikan. Massa umat tidak bisa memahami konsep musuh ideologis Islam. Menyatakan musuh kita itu kemiskinan, kebodohan, dan hal abstrak sejenisnya malah lebih keliru lagi. Selain tidak bisa dikenali massa kebanyakan juga menjauhkan tudingan kita dari pelaku kerusakan sebenarnya. Massa umat hanya bisa mengenali  konsep musuh fisik, golongan manusia yang bisa ditunjuk karena memiliki wajah dan nama.

Situasi Sesungguhnya di Lapangan

Beberapa artikel memang dibuat untuk dipahami mereka yang memiliki keterbatasan intelektual. Hal itu disengaja karena massa umat selalu membutuhkan orang-orang yang bisa berpikir dengan cakrawala lebih luas untuk membimbing mereka. Sebut saja mereka ini para ulama, mualim, guru, tokoh dan cendikiawan Islam. Masalahnya sekarang, kebanyakan orang yang memiliki kapasitas untuk memimpin ini mengajukan pesan kebenaran Islam dari pandangan yang berbeda-beda. Sehingga kita gagal menyampaikan pesan yang koheren dan konsisten, pesan yang ‘bersambung dan utuh’ buat umat. Kita harus merampingkan pesan ke umat sambil menghadirkan front persatuan di tengah-tengah mereka, jika kita ingin punya satu-satunya harapan memenangkan pertarungan ini.

Sebagai Revolusioner Islam, kita yakin pada hal-hal berikut yang harus kita setujui bersama terlebih dulu:

  • bahwa manusia pada dasarnya makhluk spiritual secara alami. Artinya manusia adalah makhluk yang butuh kekuatan dari luar dirinya sendiri yaitu bersumber pada kekuatan dari Allah SWT.
  • bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial secara alami. Artinya tidak ada manusia yang mampu hidup sendirian tanpa pertolongan manusia lain anggota kelompoknya. Ini penegasan perintah Allah untuk bergerak sebagai umat, sebagai jamaah, bukan sebagai individu.
  • bahwa ideologi Islam adalah tradisi dan kebudayaan kita yang tak tergantikan sejak dulu, kini, dan nanti. Tindakan untuk mengganti ideologi Islam harus dipandang sebagai permusuhan atas kemerdekaan kita. Sedangkan ideologi lain yang ditawarkan kepada umat Islam harus ditolak.
  • bahwa musuh ideologis juga ada. Musuh ideologis kita secara gamblang adalah semua bentuk kekufuran yang mengagungkan selain Allah. Karena ragam kekufuran banyak maka politik Islam harus mendefinisikannya satu per satu agar umat bisa menunjuk wajah dan nama mereka.
  • bahwa segala kekacauan, marabahaya dan keputusasaan yang dialami umat muslim dan rakyat Indonesia adalah hasil kerja ideologi kekufuran yang bercokol di negeri ini.
  • bahwa ideologi kufur harus dilawan oleh senjata ampuh berupa Revolusi Islam yang kita jalankan. Tugas Revolusi Islam adalah menjadi pengawal yang akan mengantarkan Syariat Islam kepada kekuasaan tertinggi di negeri ini sehingga terbukalah pintu langit pertolongan Allah melenyapkan angkara murka.
  • bahwa kompromi terhadap semua prinsip di atas adalah penghianatan terhadap tujuan Revolusi Islam.

Prinsip-prinsip diatas adalah intisari yang bisa dihubungkan dari beragam organisasi berlatar Islam dengan arah politik pergerakan Islam yang diinginkan mayoritas umat. Prinsip tersebut tidak boleh dikompromikan lagi namun untuk hal-hal diluar itu tentu masih terbuka untuk dirundingkan lagi.

Memaksakan kompromi atas prinsip tersebut akan mengubah suatu pergerakan Islam menjadi bukan pergerakan Islam lagi, dengan kata lain menghapus identitas kita sendiri. Kompromi yang mengakibatkan pergerakan Islam berubah jadi bukan pergerakan Islam adalah penaklukan nyata. Kesadaran identitas untuk menjadi radikal bukanlah kejahatan melainkan pilihan. Kita akan buktikan kalau kaum radikal pun bisa belajar, menilai, dan memutuskan apa yang terbaik untuk mengatasi permasalahan negeri ini.

Kita akan bergembira jika prinsip-prinsip ini dipakai generasi muda muslim menilai organisasi pergerakan Islam dimana mereka berkiprah. Kita mustahil menang dengan hanya menjadi pendekar internet, jawara seminar, atau jagoan debat. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip pergerakan Islam di atas kepada semua orang baik muslim maupun non-muslim yang bersimpati kepada usaha ini. Kita ingin prinsip-prinsip ini dipakai oleh partai-partai Islam. Golongan radikal di partai PKS, PPP, PBB, atau PSII berhak melakukan pembersihan partai masing-masing demi mengembalikan kehormatan partai Islam di mata konstituen. Parpol Islam adalah satu-satunya perisai yang memberi jarak aman antara kebudayaan Islam kita dengan kesewenang-wenangan kuasa pemerintahan sekuler.

Kita juga ingin prinsip-prinsip ini bisa dipakai ormas Islam yang konsisten pada Syariat Islam. Organisasi massa Islam macam HTI, FPI, FUI, JAT, MMI, Persis bahkan Muhammadiyah dan NU pasti punya aspirasi faksi radikalnya yang patut didengar bukannya dibasmi lewat deradikalisasi.

Wacana pembubaran ormas Islam adalah ancaman simetris atas semua ormas Islam sehingga jangan sekali-kali membuka jalan bagi pelemahan pergerakan Islam. Ormas Islam memiliki kedekatan khusus dengan massa umat karena mampu berbicara lebih jelas bahkan mewakili kehendak warganya yang kebanyakan kaum pekerja. Biasakanlah bekerjasama antar parpol antar ormas agar kita saling mengenal persamaan kita. Semakin banyak orang yang terlibat dengan pergerakan Islam, semakin banyak pula orang yang akan menyuarakan pesan yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Sementara kita terus menghimpun kumpulan pejuang yang akan mengabdikan diri mereka pada Revolusi Islam kita dalam suatu front persatuan ummat, dalam satu kepemimpinan ummat.

Di atas segalanya, kita harus mengakui kebebasan seseorang atas keyakinan agama sebagai sebuah permasalahan individual yang tidak ada sangkut pautnya dengan pergerakan sosial Islam yang kita jalankan.

Masa Depan Pergerakan Islam

Mempersiapkan pergerakan Islam adalah mempersiapkan keinsyafan identitas Islam-nya, juga mempersiapkan tindakan khas Islam-nya, dan juga menjamin kebebasannya sebagai Islam. Ia tidak boleh dibebani untuk bekerja atau menyampaikan pesan-pesan yang bukan berasal dari dalam dirinya. Dia tidak boleh dibebani pertimbangan kebangsaan, tidak boleh dijadikan corong program Pemerintah, tidak boleh jadi kuda beban pergerakan lain yang bukan Islam. Persoalan kerjasama kebangsaan, kerjasama dengan pihak lain bisa dibangun di luar pergerakan Islam lewat mekanisme perjanjian hitam di atas putih yang adil. Biasakanlah melihat pergerakan Islam tumbuh besar, mengatasi permasalahan, dan semakin perkasa sebagai Islam.

Tak lama lagi kita juga harus menyiapkan sarana politik sesungguhnya yang mengakomodasi perjuangan Revolusi Islam yang sudah tidak bisa ditampung lagi dalam suatu front persatuan. Itulah saatnya persekutuan berubah menjadi persatuan. Kerjasama berubah menjadi hidup bersama. Aliansi menjadi fussi. Merasakan langsung ruh keagungan Allah yang mempersatukan jutaan manusia beriman yang sebelumnya merasa berbeda-beda. Merasakan langsung tumbuh semakin kuat dalam system tatanan Negara Karunia Allah, Negara Islam Indonesia.

Ini bukan pertarungan untuk mereka yang lemah secara alamiah, bukan pertarungan buat si pengecut yang berharap terus untuk melindungi diri dan lagak hidup mewahnya. Revolusi bukanlah reformasi. Reformasi sudah mati di belakang sana dikeroyok jiwa kompromisnya sendiri. Revolusi tiada memberi ampun kepada kejahatan sistem lama yang sakit selain menghancurkannya dan menggantikannya dengan idelisme baru. Tidak akan dijumpai pelestarian nilai-nilai lama yang membuat sistem kita sekarang begitu busuk. Kita akan buang gambaran manusia Indonesia sebelumnya sebagai orang rapuh, pengkonsumsi barang materi yang gila hiburan. Menggantinya jadi pemuda Islam yang perkasa, berakhlaq karimah, punya harga diri, dan berkebudayaan Islam.

Bentengi dirimu, perkuat jiwamu dari waktu ke waktu wahai Saudaraku. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang, Kita akan bangkit bagaikan Bouraq yang membentangkan sayapnya mengarungi birunya langit dunia, Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s