Pemikiran Tipikal para Penentang Revolusi Islam

Setelah sekian lama kaum Revolusioner Islam hidup di alam republik, bergaul dan berinteraksi secara sosial dan politik dengan bermacam golongan yang hidup di Indonesia, telah menjadikan pergerakan kita ini semakin kaya dan dinamis. ‘Menuju dewasa’ mungkin personifikasi yang tepat untuk menggambarkan kenyataan yang kita alami. Kita banyak mengalami saat-saat paling membahagiakan ketika pesan revolusi yang kita gaungkan mendapatkan sambutan hangat dari kalangan society muslim, yaitu massa umat Islam dan rakyat jelata. Betapa bahagia melihat perjuangan kita bisa menginspirasi dan kembali memberi harapan kepada mereka yang ada di ujung rasa putus asa.

Di sisi lain, kita juga mengalami saat-saat paling kelam ketika pesan revolusi kita tidak sertamerta dipahami oleh massa umat Islam dan rakyat jelata (dhuafa) yang ingin kita bangkitkan dari keterpurukannya. Terkadang pergerakan kita dicurigai terlalu jauh sebagai anasir jahat penebar teror. Kita sangat maklum bila semua itu terjadi karena keterbatasan intelektual atau karena rasa takut semata. Namun bila semua itu terjadi akibat penentangan dari kelompok di luar Islamis, penolakan yang mengakibatkan pesan kita tidak sampai ke massa umat Islam, itu harus dipandang sebagai perlawanan serius atas usaha kita.

Ketabahan dan istiqomah kaum Islamis mempertahankan ideologi Islam selama bertahun-tahun di republik ini menjadikannya mampu mengenali tipe dan pola tersembunyi dalam argumen yang dipakai untuk menentang kausa revolusi kita. Kita kaya akan pengalaman dalam menghadapi penentangan dari golongan kebangsaan yang lain karena seringnya kita menghadapi argumen penolakan yang itu-itu saja selama ini. Pemikiran tipikal memang hanya bergulat di tempat yang sama. Kita ingin mengubah wajah negeri ini menjadi lebih baik lagi di hadapan Allah sedangkan para penentang Islam bersikap jumud mempertahankan situasi koruptif yang menjelmakan diri mereka sebagai kaum konservatif yang merugikan negeri ini.

Argumen yang Mereka Kemukakan

  • Cuci otak radikal seperti NII, Tentunya aktivis pergerakan Islam pasti pernah mendengar argumen penentangan dari kelompok diluar Islamis tentang kekritisan kita dalam menyikapi Pancasila. Apabila ada seseorang Islamis mempertanyakan ‘kesetaraan’ antara Pancasila dengan domain Islam seperti ideologi Pancasila dengan ideologi Islam, pandangan hidup Pancasila dengan way of life Islam, pastilah akan dinilai sebagai metode cuci otak kelompok radikal Negara Islam Indonesia (NII). Jika sudah begitu, perdebatan tidak pernah dituntaskan kepada jawaban melainkan dialihkan ke soal kewaspadaan agar tidak terjebak usaha membingungkan generasi muda untuk direkrut kelompok Islam yang tidak bertanggungjawab.

Sesungguhnya pertanyaan seperti itu yang mempersoalkan benturan nilai antara dua konsepsi yang berbeda tapi eksis sederajat di ruang dimensi yang sama merupakan materi dialektika yang wajar dalam khasanah ilmiah. Ini bukan usaha ‘membingungkan’ generasi muda agar berpindah afiliasi karena setiap generasi muda Indonesia harus terbiasa berhadapan dengan persoalan seperti ini agar akal dan daya kritisnya berjalan. Lagipula pertanyaan seperti ini bukan ‘eksklusif’ milik NII melainkan juga terlintas di benak pergerakan Revolusi Islam. bisa saja membalik tuduhan kaum Nasionalis secara ekuivalen dengan mempertanyakan apakah pendidikan Pancasila yang diselenggarakan dalam kegiatan pendidikan formal Indonesia juga bisa dikategorikan sebagai “metode cuci otak kaum fanatik yang memberhalakan Pancasila?” Tapi kami sungguh tidak tertarik dengan perdebatan yang buntu, sibuk mencacimaki pihak lain dan melupakan objek perdebatan sesungguhnya. Daripada sibuk menuduh subjek bukankah lebih baik bagi kaum Nasionalis menjawab pertanyaan objektif tersebut dengan argumen yang menguatkan klaim Pancasila sendiri.

  • Menghalalkan segala cara?, pemikiran tipikal kedua yang sering dijumpai adalah idiom “menghalalkan segala cara” untuk menghukumi seluruh usaha sosial politik yang dikerjakan pergerakan Islam dengan penilaian buruk. Pemikiran ini pernah dipakai untuk menyerang reputasi subjek pergerakan Islam yang memperjuangkan berdaulatnya Syariat dengan mengatakan bahwa kelompok Islam akan menghalalkan segala cara untuk memaksakan tujuannya yang tidak sesuai dengan NKRI. Tindakan menghalalkan segala cara yang disebutkan antara lain akan menyusupkan Syariat lewat ‘jalan belakang’ pemberlakuan Peraturan Daerah/Perda setelah gagal di konstitusi dan Undang-Undang. Kemudian kelompok Islam akan mengusung Syariat lewat parpol Islam yang curang dalam bernegara seperti mengambil uang negara dari korupsi, pura-pura ikut koalisi namun berkhianat kepada mitranya, dan politisi partai Islam yang digambarkan laksana tukang tipu. Di tataran sosial, kelompok Islam dicitrakan mengedepankan kekerasan, anti-demokrasi, mengancam pluralitas Indonesia, dan gemar memaksakan kehendak.

Semua rangkuman ‘penghalalan segala cara’ yang menunjuk pada penghalalan perihal haram seperti dilontarkan kaum Nasionalis tadi jadi argumen yang terlihat lucu. Disini harus kita tegaskan kalau metode penilaian halal-haram hanya ada di ajaran Islam, miliknya kaum Islamis. Dulu idiom ini sukses dipakai sebagian barisan Islam untuk memberangus pergerakan Marxis saat kolaborasi dengan kudeta militer Orde Baru. Akan sangat absurd memakai idiom ini untuk menekan golongan Islamis seperti kita karena konstruksi halal-haram dalam Syariat sangat jelas dan tegas. Mana mungkin kita memperjuangkan Syariat jika tidak menjunjung konstruksi halal-haram di dalamnya. Mustahil menyerang Ummat Islam menggunakan raison de etre-nya sendiri. Upaya seperti ini jelas diarahkan untuk menjelekkan pergerakan ideologi Islam di mata awam massa umat Islam sendiri karena kelompok diluar Islam sangat takut dengan bangkitnya kesadaran politik diantara umat Islam di Indonesia. Kalau anda penyelenggara negara, pakailah konstruksi nilai legal-ilegal, atau bila anda kaum Nasionalis pakailah term sendiri seperti nasionalis-anasionalis. Itu lebih adil.

  • Perjuangan Syariat dinilai sebagai sectarian, Apakah benar perjuangan Syariat adalah sektarian, dalam arti hanya mengakomodasi kepentingan satu pihak dan mengabaikan kelompok lain? Kami jawab disini kalau perjuangan Syariat tidak bisa dinilai sebagai sektarian seolah Syariat akan menganiaya golongan selain Islam dan menguntungkan orang Islam saja. Marilah kita tinjau dari hakikat Syariat dan jangan nilai pergerakan ini dari subjek yang mengusungnya saja. Syariat Islam diciptakan oleh Allah Pengatur Semesta Alam untuk kesejahteraan semua manusia, baik yang sudah Islam maupun manusia yang belum mengakui Islam semata karena Allah berkehendak menyayangi semua manusia ciptaan-Nya. Syariat bukan ayat racikan Muhammad karena beliau pun hanyalah manusia pengemban risalah. Syariat pastinya juga bukan berasal dari nafsu orang-orang Islam yang didalamnya hanya menguntungkan umat Islam. Mustahil ada manusia yang bisa menyusun sistem hukum yang sekompleks dan serumit ini melibatkan persoalan duniawi-akhirati, lahiriyah-batiniyah, akidah-muamalah, individu-kolektif umat, pengetahuan-ramalan, fisika-metafisika, eksistensi-kegaiban, kalau bukan berasal dari sesuatu Yang Maha Cerdas.

Saat kaum Islamis memperjuangkan ini, tidaklah berasal dari hasrat nafsu melainkan berasal dari hal yang lebih mulia dari itu, yakni ketakwaan (kesadaran untuk terus beriman). Bila ada kelompok selain Islam yang menangkap adanya nuansa ‘ketidakadilan’ dalam usaha menegakkan Syariat ini seperti: Syariat tidak mau ko-eksistensi dengan tatanan selain Islam, Islam tidak mau sejajar dengan ajaran lain maka pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh falsafah kebenaran. Kita tanggalkan dulu semua tatanan yang berkonflik kepentingan ini, marilah kita uji pertanyaan paling dasar dalam akal manusia: apakah kebenaran sejati itu ada? Kalau jawaban saudara: Ada! Maka kebenaran itu harus bisa berdiri mengungguli ketidakbenaran. Di dunia ini harus ada satu kebenaran tunggal yang berdiri mandiri dan tidak bisa sejajar dengan hal ketidakbenaran yang jamak. Mustahil kebenaran bisa ko-eksistensi dan saling simbiosis dengan ketidakbenaran. Silahkan anda cari kebenaran sejati itu, yang sifatnya ‘mampu mengatasi segala ketidakbenaran’. Kami telah menemukannya di ajaran Islam yang kami yakini.

  • Menyalahkan pergerakan Islam atas kekurangan sistem nilai sendiri: ideologi Pancasila
    Berkaitan dengan pendirian kaum Islamis bahwa Pancasila hanyalah perjanjian dasar negara dan menolak untuk menaikkan derajatnya sebagai ideologi, benar-benar membuat kelompok yang mensakralkan Pancasila murka. Mereka murka hanya karena Ummat Islam tidak mau mengikuti jalan pikir mereka, padahal Pancasila sendiri dinilai terbuka untuk disikapi oleh para pembentuknya, termasuk oleh kaum Islamis Indonesia. Golongan Islamis tidak mungkin menanggalkan ideologi Islam dan menggantinya dengan ideologi Pancasila, karena hal itu akan menghapus identitas dasar kami dari Islamis menjadi bukan Islamis lagi melainkan Pancasilais. Kemunduran kualitas hidup yang secara lahiriah dialami kehidupan bernegara, dan secara sosial dialami kehidupan berbangsa selalu dianalisis menggunakan parameter ideologi Pancasila.

Saat semua aktifitas kehidupan dinilai menggunakan ukuran ideologi Pancasila, hasil yang diperoleh hanya kemunduran kualitas hidup masyarakat kita. Kemudian gejala ini selalu disimpulkan dengan ‘diagnosa ampuh’ yang menyatakan bahwa ‘masyarakat Indonesia semakin meninggalkan nilai-nilai ideologi Pancasila’. Obat manjur yang diresepkan oleh Pancasilais selalu itu saja: mari kita kembali berideologi Pancasila. Para penganjur Pancasila ini rupanya terlalu jauh tenggelam dalam doktrinasi Pancasila sehingga abai dalam menyelidiki realitas kehidupan sosial kita mengapa rakyat Indonesia sendiri semakin meninggalkan Pancasila. Dengan kebiasaan seperti ini, Pancasilais akan selalu gagal menemukan gejala sosial sesungguhnya yang pada gilirannya akan membuat Pancasilais gagal memperbaiki kekurangan sistem nilai mereka sendiri. Langkah selanjutnya yang paling mudah untuk mereka lakukan adalah dengan menunjuk dan menyalahkan idealisme golongan lain yang tidak sejalan dengan konsepsi ‘ideologi Pancasila’. Dikemukakanlah pernyataan bahwa kemunduran ideologi Pancasila adalah kesalahan kaum Islamis yang masih menjalankan ideologi Islam dan bukan karena kesalahan orang-orang yang ‘sudah benar’ berideologi Pancasila. Bukankah sebuah ideologi seharusnya yakin dan mampu bangkit dengan idealismenya sendiri bukan lewat mengemis dukungan dari ideologi lain? Pancasilaisme akan kokoh apabila pengusungnya tengah ber-Pancasila sebagaimana Islamis juga yakin bahwa ideologi Islam akan diagungkan oleh muslimin pengusungnya. Islamis sekarang sedang sibuk menyelidiki relitas mengapa muslimin Indonesia meninggalkan ideologi Islam. Daripada menyalahkan pihak lain, mari kita sama-sama selidiki apakah yang sebenarnya sedang terjadi pada masyarakat Indonesia.

  • Hendak membubarkan republik dan mendirikan negara Islam, Daulah Islamiyah atau negara berdasar hukum Syariat adalah idealisme kaum Islamis negeri ini sejak dulu hingga kini. Masihkah ingat saat para founding fathers Islam menawarkan ini kepada bangsa Indonesia dalam sidang BPUPKI? Kompromi yang tercapai adalah pembentukan negara republik berketuhanan (tidak murni sekuler). Jangan samakan perihal hasil kompromi dengan idealitas. Di dunia ini tidak ada pihak yang bisa melarang idealisme seorang Islam kecuali bila Allah sendiri yang melarang kita untuk bernegara Islam. Pihak penentang Islam menghiperbolakan situasi netral ini dengan idiom “membubarkan republik dan mendirikan negara Islam”. Kata “membubarkan” disini memiliki konotsi buruk dan memiliki efek histeria yang menakutkan. Kata “bubar” bagi sebuah negara diasosiasikan dengan ‘kekacauan’ dan ‘ketiadaan tatanan’ karena ketidakhadiran konsep negara. Kalimat ini secara linguistik jelas memiliki maksud untuk menjauhkan simpati rakyat awam kepada esensi Negara Islam yang penuh kemakmuran.
    Kami Ummat Islam akan menghadapi pemikiran ini dengan penerangan soal negara Islam sejelas-jelasnya dan seluas-luasnya (exhaustive). Konstruksi pikir yang membayangkan sebuah ‘pembubaran yang penuh dengan kekacauan’ jelas sebuah kekhilafan.

Ummat Islam Bangsa Indonesia sangat sadar dengan realitas rakyat Indonesia yang saat ini tengah hidup di alam republik. Mengubah negara ini dari republik kebangsaan menjadi negara Islam yang tetap punya kesadaran ras adalah proses yang transformatif. Tahap demi tahap akan kami jalani dengan penuh kesabaran, terus menerangkan  kepada yang belum tahu dan juga terus mengajak kepada yang belum mengikuti. Ummat Islam Bangsa Indonesia akan senantiasa bersabar dan ulet kepada bangsa ini, bangsa kami sendiri. Dalam proses ini tidak perlu ada tahap ‘pembubaran’ atau ‘ketiadaan tatanan’ karena semuanya dilakukan dengan sistematis dan beradab. Secara normal ideal tidak perlu ada kekacauan atau korban atas proses perubahan revolusioner ini. Jika diminta harus lewat proses yang damai, kita akan ikuti kehendak damai itu. Kalau harus lewat persetujuan rakyat banyak maka akan kami kumpulkan dukungan itu. Tidak perlu ada yang dikuatirkan.

Cita-cita golongan Ummat Islam menjadikan negeri ini sebagai salah satu negara Islam di dunia tidak bisa dihalangi, tidak bisa di-blocking dengan ide “NKRI adalah nilai final” atau ” NKRI harga Mati” . Kami sudah kebal dengan jimat kaum Nasionalis macam itu. Toh frasa “NKRI nilai final” atau ” NKRI harga Mati” juga hanya sebuah intepretasi, sebuah terjemahan atas konstitusi dan bukan konstitusi itu sendiri. Bagi Ummat Islam proses bermuamalah, proses membangun ummah, proses membentuk society, proses yang berpuncak kepada suatu negara Islam adalah sebuah Revolusi sosial. Tatanan masyarakat yang berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Kita tidak mungkin berhenti di titik “NKRI nilai final” seperti golongan kebangsaan yang lain karena kita hendak membawa bangsa besar ini menjadi penyembah Allah yang sesungguhnya.

Tidaklah disebut beriman sebelum tunduk kepada hukum Allah, adalah prinsip yang dipegang Ummat Islam. Dalam sebuah Negara Islam tidaklah ada pemaksaan untuk memeluk agama tertentu karena itu merupakan kebebasan individual. Yang ada di negara Islam hanyalah kesediaan untuk hidup diatur oleh hukum Syariat yang diturunkan oleh Allah Maha Pengatur alam Semesta kepada para pembawa RisalahNya untuk diberlakukan kepada seluruh ummat manusia. Syariat adalah nilai final kita.

Setelah segala usaha Ummat Islam dengan segala idealismenya menjelma jadi kenyataan di negara republik ini, sekarang tinggal tergantung kepada golongan kebangsaan yang lain. Maukah mereka yang “bernilai final NKRI” berbagi ruang hidup dengan mereka yang “bernilai final negara Syariat” untuk saat ini?

  • Usir orang Islam,  Pemikiran terakhir yang sering dijumpai oleh para pejuang Islamis adalah sikap insult, sikap menghina umat Islam di Indonesia yang menginginkan agar seorang Islam segera berhenti memperjuangkan aspirasi politiknya kemudian segera angkat kaki dari negeri ini. Ya benar, seperti yang sidang pembaca pikirkan…sebuah pengusiran. Jelas dan lugas. Mereka tidak lagi mau mendengar alasan apa yang melatari perjuangan kita. Tidak mau lagi menimbang argumen kebenaran dan kebatilan karena apa yang mereka inginkan hanya kepergian kita.

Terhadap sikap ‘kuping panci’ yang sudah tidak mau tahu dengan perdebatan objektif ini harus kita sikapi dengan ‘hati baja’, sikap teguh hati kepada revolusi yang sedang kita jalankan. Tahap dimana para penentang Islam berhenti berdebat lalu mengaku negeri ini milik mereka sendirian seolah kita tidak punya hak hidup diatas Nusantara adalah tahap paling kritis dalam perjuangan Islam di segala jaman. Kita ingat kisah ayahanda kita Nabi Ibrahim AS yang harus hijrah dari negeri Babilon, atau Musa AS yang harus eksodus dari negeri Mesir, dan terakhir baginda Rasulullah SAW yang disoraki kaum sebangsanya sendiri untuk keluar dari negeri Mekkah.

Tahap ini kita sebut kritis karena inilah fase dimana serangan hujjah berhenti dan serangan verbal irasional dimulai. Pejuang revolusioner Islam kita wanti-wanti betul akan hal ini. Inilah saat kita berhenti menanggapi keberatan para penentang Islam dan mulai memalingkan segenap konsentrasi untuk mulai mempercayai apa yang kita percayai. Mulailah untuk menundukkan wajah kita untuk memohon petunjuk dari Allah dengan membuka Kitabullah yang amat kita muliakan. Disana kita temukan sebuah kalimat agung yang mengatakan: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”… (QS Al Hajj 22:39-40). Inilah petunjuk dahsyat yang amat ditakuti para penentang Islam di segala jaman. Don’t give us a reason, coba-coba beri kami alasan buat melawan balik. Semakin ditekan semakin melawan itulah prinsip Revolusi Islam. Terhadap bangsa Indonesia yang mencoba mengusir para pembela dan pejuang islam hanya karena dia berideologi Islam, kita akan tetapkan sebagai kaum zalim yang harus dibinasakan sebagaimana Allah SWT telah tetapkan kepada para penentang nabi-nabi sebelumnya. Manusia Indonesia yang terjerumus dalam kezaliman tidak pantas menjadi ahli waris negeri Nusantara walaupun dia masih satu bangsa dengan Ummat Islam bangsa Indonesia.

Posisi Keliru Menentang Para Pejuang dan Pembela Islam

Disamping argumen yang bermula dari pemikiran tipikal di atas yang berciri raw atau mentah akan kita hadapi pula pemikiran tipikal lain yang berusaha mengambil posisi lebih ‘mendalam’ dengan menyerang penyimpulan yang diambil Ummat Islam atau menyerang aktifitas yang dikerjakan dalam usaha Revolusi Islam, seperti:

  • Islam secara objektif baik, namun penyimpulan Ummat Islam membuatnya tidak baik.   Pendapat seperti ini boleh kita katakan sebagai usaha brainstorming umat, usaha untuk membingungkan massa umat Islam lewat urutan berpikir yang tidak logis. Pendapat seperti “Islam adalah rahmatan lil alamiin sehingga tidak perlu dipolitisasi lewat Revolusi Islam” adalah sebentuk kekacauan urutan logika berpikir. Bagaimana kesimpulan rahmat bagi semesta alam bisa diambil tanpa ajaran Islam dimenangkan lebih dulu dalam tataran pikiran manusia? Bagaimana mungkin kesimpulan lebih dulu lahir sebelum kondisi tercipta? Hal itu sama saja mengatakan bahwa ajaran Islam telah membawa kebahagiaan ditengah masyarakat yang masih jahiliah dan dirundung bencana.

Urutan berpikir yang benar adalah Syariat Islam dimenangkan dahulu, mengalami hidup dalam bimbingan hukum Islam, baru menyimpulkan kalau situasi tersebut adalah rahmatan lil’alamiin. Revolusi Islam di Nusantara diciptakan untuk mengemban tugas memenangkan Syariat di bumi Nusantara. Revolusi Islam eksis untuk menuju kondisi “rahmatan lil’alamiin” dan bukan sebaliknya. Tidak mungkin kondisi “rahmatan lil alamiin” tercipta tanpa ada kesadaran untuk memperjuangkannya secara politis lewat revolusi apalagi malah membelenggu Islam ke dalam ranah individual belaka. Terhadap pihak yang ingin mengacaukan arti Islam rahmatan lil alamiin, kita minta untuk menghentikan aksinya yang merusak konsepsi dasar keumatan masyarakat Islam. Jangan gunakan kesimpulan suci ini untuk mengkonstruksi “agama Allah yang bisa ko-eksistensi dengan kebatilan dalam perdamaian untuk selamanya”. Konstruksi tersebut mustahil karena adanya konsep al Furqan (pembeda).

  • Mengkritik fanatisme tapi menjalankannya, Bagi pihak yang merasa terganggu atau merasa terancam posisinya akibat aktifitas yang kita jalankan selaku Revolusioner Islam, seringkali melontarkan tuduhan subjektif yang benar-benar di luar konteks perdebatan. Usaha para pembela dan pejuang islam untuk menyebarluaskan kesadaran identitas politik Islam, memperjelas relasi negara NKRI dengan warganegaranya yang berafiliasi politik Islam, memperbaiki disintegrasi sosial bangsa yang diakibatkan Globalisasi dengan doktrin keummatan, akan mereka kritik tajam sebagai “sikap fanatik dalam beragama (Islam)”.

Secara jujur harus kita akui bahwa keterbatasan gerakan revolusi kita cuma satu. Bahwa Revolusi Islam Nusantara diciptakan oleh golongan Ummat Islam di Indonesia untuk kemajuan golongannya sendiri dan bukan untuk mengutak-atik tatanan kelompok kebangsaan yang lain, yang bukan golongan Islam. Bukankah tatanan NKRI sendiri seperti itu, yang menghendaki tiap elemen bangsa tidak saling ganggu? Golongan Islam yang menempa dirinya menjadi lebih baik lewat kesadaran sendiri, atau seorang muslimin NKRI yang menemukan jatidirinya lewat identitas Islam sehingga lebih bersemangat untuk menyatakan dirinya melalui ketaatan dalam beragama, yang bermuara pada ketundukan kepada hukum Syariat.

Apabila massa umat Islam dapat tumbuh lebih baik dan kuat sebagai Mujahid Islam, itu tentu bukan kesalahan kita. NKRI harus bisa merasa diuntungkan dengan menguatnya salah satu elemen bangsa dari golongan Islam. Dari pesatnya kemajuan dan keunggulan yang dimiliki Ummat Islam tentu sedikit banyak akan memberi kontribusi positif kepada NKRI secara keseluruhan. Kita tidak perlu melayani ‘rengekan’ golongan lain seperti Nasionalis dan Sosialis yang merasa tertinggal jauh dalam menata kelompoknya sendiri, apalagi menanggapi cibiran mereka yang bernada iri dengki seperti “Ummat Islam janganlah fanatik dalam beragama”.

Dari ajaran sunnah Rasulullah kita dapati bahwa tidaklah ada fanatik dalam beragama. Di dalam agama kita yang ada hanya taat atau ingkar. Semakin taat Ummat Islam kepada Syariat maka disebut semakin beriman, dan bukannya fanatik. Kefanatikan hanyalah berlaku terhadap hal diluar agama. Anda yang semakin gandrung kepada klub sepakbola tertentu maka anda bisa disebut fanatik klub tersebut. Anda yang setia kepada ideologi Pancasila maka anda pantas disebut Pancasilais fanatik. Secara ajaib Ummat Islam tidak bisa dihukumi sebagai fanatik bahkan sebaliknya, kita bisa menilai mereka yang setia kepada nilai-nilai di luar Syariat sebagai kaum fanatik.

  • Menjadi sentris / seimbang dengan doktrin sinkretik nasionalis-relijius,  Masih sering kita jumpai pendapat yang juga banyak beredar di kalangan muslim Indonesia bahwa lebih baik memposisikan diri secara seimbang di tengah diantara kutub menjadi Nasionalis atau menjadi Islam yang kaffah. Mereka yang memilih posisi ini sebenarnya mengalami kebimbangan akut diantara dua pertimbangan: dituntut mengikuti kebenaran mutlak untuk lebih mencintai agama Allah yang artinya berani untuk tidak terlalu mencintai keduniawian, ataukah mencintai bangsa dan tanah air sebagaimana dikonstruksikan oleh masyarakat kita sebagai kebenaran hidup di dunia.
    Mereka akhirnya membentuk suatu dogma baru yang bernama Nasionalis-Relijius. Sebuah formulasi campuran yang menggabungkan kebenaran hakiki dari ajaran agama (soal individu relijius yang seharusnya ber-Tuhan) dan kebenaran sosial (yang menghargai tinggi insan yang peduli pada bangsanya melalui konstruksi nasionalisme). Sikap nasionalistik ditunjukkan dalam kehidupan berbangsa bernegara sedangkan sikap relijius dinyatakan lewat individu bermoral yang taat pada ajaran agamanya. Kedua sikap ini harus dinyatakan dengan prinsip ‘keseimbangan’ alias sentris atau ‘berposisi di tengah’.

Pemikiran seperti ini di Indonesia semula dianut oleh para pemeluk agama filsafati seperti Budha, Konghuchu, Tao, dan penghayat kepercayaan, namun entah bagaimana belakangan ini juga meluas merasuk ke dalam kalangan ‘agama sistematik’ seperti Hindu, lalu para ahlul kitab Nasrani, lalu merasuk pula ke umat Islam. Mungkin ini terjadi akibat kita terlalu intens dalam dialog interfaith sehingga tanpa disadari pengalaman spiritual umat agama lain ikut mempengaruhi cara kita beribadah dan memandang agama sendiri.

Ummat Islam yang Istiqomah sejak awal tidak akan menganut dogma nasionalis-relijius ini dengan alasan adanya kekeliruan berpikir tentang ajaran Islam dan akibat lanjutannya yang akan berpengaruh fatal di masa depan jika dijalankan.

Pertama, dogma ini terlalu buru-buru menyimpulkan cakupan ajaran Islam pada perjumpaan pertamanya. Maksud pandangan ini Islam sejak awal dinilai tidak mengakomodasi sentimen nasionalisme atau kecintaan pada tanah air padahal secara realitas banyak bangsa di dunia yang lahir lewat semangat nasionalisme. Karena dalam Islam tidak ditemui anjuran untuk berbangsa dan mencintai tanah air menandakan ajaran Islam ‘kurang lengkap’ sehingga persoalan kebangsaan / nasionalisme adalah kebenaran di luar agama yang harus ditemukan secara sekularistik. Bagi Ummat Islam, penyimpulan seperti itu sangat prematur dan bukti keengganan mendalami keilmuan di dalam ajaran Islam.

Seorang Islam yang kokoh pendirian tidak akan pernah bertindak lancang dengan buru-buru mencap petunjuk Allah sebagai ‘tidak lengkap’ hanya karena tidak ditemukan kalimat perintah yang dicari secara eksplisit. Apalagi ditambahi anggapan kalau terlalu mematuhi perintah Allah langsung dari kitab suci akan menimbulkan situasi ‘tidak seimbang’ dalam kehidupan nyata sehingga diperlukan penemuan ‘kebenaran di luar kitab suci’ untuk kembali menyeimbangkan semesta. Kita selaku golongan Islam yang teguh ternyata sanggup menemukan petunjuk illahiyah soal bangsa dan tanah air tanpa perlu meragukan sedikitpun kelengkapan wahyu Al Quran. Apabila kita tidak menemukan kalimat yang dicari secara tersurat ternyata kita masih bisa menemukannya secara tersirat lewat intepretasi atas ayat Al Quran.

Kedua, dogma nasionalis-relijius, akan mempersulit seseorang tumbuhkan keyakinan diri dan melekatkan kesetiaan. Saat dikotomi nasionalisme dan agama (Islam) begitu nyata di negeri ini, persoalan apakah akan setia kepada bangsa ataukah setia kepada ajaran agama menjadi masalah yang amat rumit. Ummat Islam memandang kecintaan kepada agama Allah harus melebihi segala hal di dunia ini karena dari titik itulah Allah SWT akan menolong hamba-Nya mengatasi semua persoalan. Mengabdikan kesetiaan kepada dua kepala hanya akan mengundang kehinaan sebab itulah bibit-bibit kemunafikan sesungguhnya. Anda akan selalu sulit mendapatkan pengakuan dari suatu pihak karena anda tidak benar-benar berdiri di pihak A maupun pihak B.

Sikap Kita Sendiri

Apa yang harus dilakukan Ummat Islam setelah menelaah alasan-alasan penentangnya? Ada dua hal penting yang bisa dilakukan:

  • Teruskan dakwah dan tarbiyah tentang keharusan wujudnya Revolusi Islam

Revolusi Islam adalah jalan perjuangan kita yang menjadi idealisme kita yang tidak bisa ditawar lagi. Idealisme Islam tidak untuk dikompromikan dengan kehendak golongan lain diluar Islam. Sebaliknya, idealisme ini harus disusun dan disistematikkan dalam sebuah ideologi Islam. Ideologi ini berlaku ke dalam society kita sendiri yaitu massa umat Islam untuk disemai, dibudayakan, dan dikembangkan di rumah Nusantara kita. Penentangan atas ideologi Islam tidak boleh ada di dalam society Islam karena semuanya setuju dan sedang berpikir sejalan soal memenangkan Syariat. Agar bisa demikian, ideologi kita perlu untuk selalu disampaikan, diumumkan, di-pidato-kan kepada muslim awam yang belum tercerahkan melalui sebuah metode dakwah. Lalu untuk para simpatisan dan partisan Islam yang telah tercerahkan, perlu untuk selalu mengasah ketajaman pikir dan meningkatkan pengetahuannya atas ideologi Islam melalui pendidikan (tarbiyah) yang sistematis yang kurikulumnya disusun oleh para kader inti Revolusi Islam di Nusantara.

  • Camkan bahwa hanya hamba Allah yang bisa bangkit menata dirinya lah yang pantas untuk berkuasa.
    Selain perihal fisik di atas, tampaknya kita secara batiniah harus ingat akan hak Allah SWT untuk memilih hamba-Nya yang pantas untuk berkuasa dan mana yang pantas untuk dicabut haknya dari kekuasaan. Itu bukan semata wahyu yang jatuh dari langit tanpa bisa dicerna akal, akan tetapi merupakan ketetapan yang bisa dicerna pikiran karena Allah mencintai hambanya yang mau berpikir. Dari situ dapat kita temukan kalau kesempatan berkuasa hanya diberikan Allah kepada hamba yang bisa bangkit menata dirinya sendiri. Mereka yang lalai dibuai kenyamanan pasti akan dicabut haknya. Sungguh ajaran ini sebuah anugerah pantas buat hamba Allah yang bersedia memperbaiki dirinya belajar dari kesalahan yang pernah diperbuat.

Akhirnya dengan mengenali beberapa macam penentangan tipikal ini menjadikan pergerakan revolusi kita bisa menyusun argumen yang lebih kuat lagi, dan ajang berlatih mentalitas untuk tidak menjadikan rintangan semacam ini sebagai beban. Belajar untuk mengenali lawan, belajar untuk mengatasi masalah perjuangan selayaknya menjadi bagian penting dari Revolusi Islam di Nusantara dan Peradaban Islam yang kita bangun. Dari situ gaung pesan revolusi kita menjadi kuat saat mencapai kalangan massa umat Islam dan menepis segala keraguan yang mengganjal di sanubari.

Sucikan jiwa, tajamkan pikiran, dan kuatkan keyakinan wahai Saudaraku!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s