Apakah kita Menjadi Moderat atau Radikal ….???

Menilik dari judul yang tertera di atas, timbul suatu gambaran yang sangat kontras diantara keduanya. Bagai garis tegas yang memisahkan antara putih dan hitam, moderat dan radikal selalu digambarkan sebagai dua kutub berbeda yang selalu bertentangan. Seringkali moderat atau moderatisme digambarkan sebagai pihak yang penuh persahabatan, kedamaian, dan toleransi sehingga selalu dianggap sebagai representasi dari ‘kebaikan’ yang diasumsikan dengan warna putih. Sedangkan radikal atau radikalisme sering pula diserupakan dengan pihak yang penuh dengan permusuhan, kekerasan, dan in-toleransi akan dianggap sebagai representasi dari ‘kejahatan’ yang diwakili dengan warna hitam.

Dalam pemahaman yang beredar kini, banyak anggapan bahwa kedua entitas putih-hitam ini merupakan pertarungan abadi antara kebaikan-kejahatan, antara benar-salah, dan dikotomi lainnya yang direpresentasikan dengan putih-hitam tersebut. Moderat dan radikal selalu menjadi pihak yang saling berseberangan dan berusaha untuk saling mengalahkan, saling melenyapkan. Berbagai wacana sudah memakai dikotomi ini untuk memisahkan pihak-pihak yang terlibat didalamnya ke dalam pembagian peran protagonis dan antagonis.

Dalam wacana terorisme misalnya, sebuah wacana yang paling gamblang mengupas hal ini, menempatkan para teroris menjadi bagian dari radikalisme, sebuah kegiatan jahat untuk menebar teror. Sehingga pemerintah sebagai tokoh protagonis mempunyai tugas melakukan perlawanan untuk memadamkan radikalisme. Sedangkan dalam wacana ormas, khususnya ormas Islam, seringkali ormas tersebut dicap sebagai ormas radikal atau ormas yang melakukan radikalisme ketika mereka melakukan sweeping atau melakukan pengerusakan. Dari keadaan tersebut munculah istilah “deradikalisasi” yang berarti menurunkan derajat radikalisme yang jahat agar menjadi moderatisme yang baik, atau dengan kata lain sebagai jalan ‘pertobatan’ si jahat agar menjadi baik, radikal bertobat menjadi moderat. Dapat disimpulkan, radikalisme selalu menjadi pembuat onar atas nilai-nilai kemapanan yang moderat.

Namun apakah segamblang itukah pemahaman dan ide mengenai moderat dan radikal?

Perlu kita telaah terlebih dahulu mengenai pengertian masing-masing dari moderat dan radikal. Secara etimologi, moderat berasal dari bahasa latin moderatus yang secara bebas dapat diartikan sebagai lunak, sedang, menengah. Sedangkan radikal berasal dari bahasa yang sama, dari kata radicalis yang berarti akar, mengakar, kuat. Maka secara sederhana jika kedua kata tersebut diimplementasikan ke dalam kehidupan kita terutama seperti pada wacana di atas, akan diperoleh pemahaman:

  •   Moderat(isme) adalah suatu sikap untuk mengambil jalan tengah dari suatu ide ketika dihadapkan dengan konflik terhadap ide lain, dengan kata lain kompromistis atau kooperatif. Maka tak heran ketika moderatisme selalu lekat dengan toleransi, karena ide mengenai toleransi sendiri merupakan tindakan kompromistis.
  •   Radikal(isme) merupakan sikap untuk mempertahankan ide secara utuh ketika dihadapkan dengan konflik terhadap ide lain, atau dengan kata lain non-kooperatif. Atas dasar tersebut, radikalisme biasanya akan menempuh langkah yang perlu dilakukan untuk mempertahankan ide yang dianutnya.

Konflik antar ide bisa terjadi pada keduanya, namun yang membedakan adalah sifatnya. Moderatisme bersifat lebih pasif, artinya sikap moderat hanya terjadi ketika menerima tekanan-tekanan ide yang berasal dari luar. Berbeda dengan radikalisme yang bersifat lebih agresif, terjadi tidak hanya ketika mempertahankan ide karena tekanan-tekanan ide yang berasal dari luar, namun juga terjadi ketika memperkenalkan dan menyebarkan ide-ide baru. Inilah mengapa para pembaharu biasanya terlihat lebih radikal ketika melahirkan pemikiran-pemikiran baru.

Jangan lupakan sejarah! Manakah yang lebih baik, moderat atau radikal?

Sejarah telah mencatat, bahwa kedua entitas ini selalu ada bahkan ikut mewarnai perjalanan sejarah negeri kita. Tidak bisa dipungkiri lagi, masing-masing kelompok yang menempuh jalur moderat maupun radikal turut memberikan sumbangsih atas sejarah kita. Jika kita tengok lagi, pada tahun 1912 berdiri organisasi Sarekat Islam (SI) di Surakarta, SI merupakan organisasi politik pertama di Nusantara yang anti-pemerintahan kolonial. Organisasi ini merupakan evolusi dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri pada tahun 1905, sebuah kongsi dagang lokal yang memiliki benih-benih anti-kolonialisme. Evolusi SDI menjadi SI berawal dari kesadaran, bahwa perlawanan sosial tidak cukup hanya dari satu bidang saja (SDI saat itu hanya menyangkut bidang ekonomi saja) akan tetapi harus menyangkut seluruh aspek sosial, dan politik merupakan bidang yang memiliki jalur ke seluruh aspek sosial tersebut. SDI dan SI berinisiatif menempuh jalur non-kooperatif sebagai langkah memperjuangkan tujuannya, sehingga pemerintah kolonial mengkategorikan kedua organisasi tersebut sebagai organisasi radikal.

Berbeda dengan radikalisme, moderatisme yang bersifat lebih kooperatif biasanya tetap eksis dimasa kapanpun mengikuti kondisi sosial yang terjadi. Misal pada masa pra-kemerdekaan, Petisi Soetardjo sebagai langkah kaum moderat dalam mengangkat peran pribumi dalam pemerintahan kolonial. Namun ketika masa kemerdekaan, dengan mengikuti kondisi sosial saat itu, tindakan-tindakan diplomasi menjadi langkah kaum moderat bagi kemerdekaan.

Dengan melihat lebih lanjut, moderat maupun radikal masing-masing telah menyumbangkan kontribusi besar bagi pembebasan Nusantara. Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan pernah terjadi jika tidak ada tekanan kaum radikal, yang diwakili oleh kelompok pemuda, untuk disegerakan proklamasi. Aksi penculikan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok merupakan tindakan radikal bagi kelompok pemuda untuk menjadi jalan pembuka perubahan tersebut. Jadi perubahan selalu dimotori oleh gerakan radikal. Meskipun begitu, 27 Desember 1949 menjadi momen penting dalam perjuangan moderat Nusantara. Melalui jalan diplomasi, penjajah akhirnya mengakui kekalahannya dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Tidak hanya memperoleh pengakuan dari luar, langkah tersebut juga menjadi jalan konsolidasi ke dalam negeri sendiri.

Tidak hanya keberhasilan dan kejayaan yang diraih oleh moderat dan radikal, kedua entitas ini juga pernah melakukan tindakan khilaf atau blunder. Sebagai contoh beberapa perjanjian pasca kemerdekaan (Linggajati, Renville, Roem-Royen), dimana sebenarnya telah terjadi ‘kekalahan diplomasi’, yang berakibat muncul beberapa pemberontakan (baca: pembangkangan) sebagai reaksi atas isi perjanjian tersebut. Dari beberapa perjanjian itu, sesungguhnya berisi klausul yang merugikan pihak kita. Bagaimana tidak? Wilayah Republik yang pernah dibebaskan oleh gerakan bersenjata kaum radikal, dilepas begitu saja oleh para diplomat moderat yang menandatangani perjanjian itu hanya karena takut dengan gertak (sambal) kaum kolonis. Para diplomat moderat tersebut tidak mengetahui kekuatan Belanda sebenarnya, padahal kekuatan riil Belanda saat itu masih terseok-seok dan compang-camping pasca Perang Eropa. Maka tak heran dan tidak sepenuhnya suatu kesalahan jika pada masa itu banyak timbul pembangkangan bersenjata, seperti Madiun Affair, DI/TII, gerilya Soedirman, dll. Disisi lain, blunder yang pernah dilakukan oleh kaum radikal tercatat pada tahun 1926, ketika sebuah aksi sepihak yang dilakukan oleh rakyat jelata. Aksi yang dimotori oleh Ulama (juga Ulama Kiri) bersama Kaum Kiri tersebut melakukan aksi sepihak dengan merebut tanah dan aset milik pemerintah kolonial, para tuan tanah kolonis, dan perusahaan asing, sebagai puncak kemarahan kepada Kaum Kolonis atas perlakuannya yang semena-mena kepada pribumi selama ini. Aksi sepihak tsb sebenarnya mendapat dukungan dari grass-root pribumi, terlihat dari pelaku aksi yang semakin banyak semakin harinya, terutama golongan yang dirugikan selama ini, petani dan buruh. Namun aksi sepihak tersebut dengan mudahnya digerus oleh KNIL dan Politie karena kesalahan kalkulasi kekuatan. Volksraad sebagai satu-satunya lembaga yang juga menampung pribumi, menjadi sangat elitis dan ikut menuding aksi sepihak rakyat jelata tsb sebagai biang-kerok perusuh harmonisasi koloni. Blunder dari tindakan radikal seperti ini disebut dengan Putsch.

Baik moderat maupun radikal, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan, namun dalam perkara ini sebenarnya bukan soal mana yang baik dan mana yang buruk, akan tetapi ‘kapan’ waktu yang tepat untuk menjalaninya. Mengapa? Sebab hakikat kedua entitas ini adalah sarana untuk mewujudkan dan melestarikan keberadaan ide (ideologi) itu sendiri. Keduanya mempunyai fungsi yang berbeda akan menjadi sangat efektif ketika digunakan pada saat yang tepat, selain itu keduanya tidak akan bisa saling meniadakan. Kekuatan radikal dan moderat sama-sama dibutuhkan oleh pergerakan untuk meraih tujuannya, mereka saling melengkapi, saling membutuhkan, dan tak terpisahkan. Jadi moderat dan radikal laksana sebuah koin yang memiliki dua sisi, keduanya pasti ada, hanya saja ada masanya ketika kita bisa moderat, dan ada kalanya kita harus menjadi radikal.

Bilamana kaum moderat dan radikal bekerja?

Sebelumnya perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa moderat maupun radikal hanyalah metode untuk mewujudkan ide. Sebuah ide yang sama dapat diwujudkan dengan kedua jalan ini tergantung dengan keadaan dan kebutuhan ketika itu. Dalam hal ini adalah soal masa ketika kaum moderat atau kaum radikal yang dibutuhkan dalam menjalankan sistem untuk mengatasi permasalahan. Tempo menjadi kunci atas berjalannya kedua entitas ini. Ketika situasi dan kondisi mendukung, maka secara alamiah kedua entitas ini akan bekerja dengan sendirinya. Baik moderat maupun radikal akan bekerja dengan masing-masing parameter yang berbeda. Banyak faktor yang menjadi penentu parameternya, seperti sistem sosial, politik, ekonomi, hukum, dsb. Dengan sifat dan kekhasannya itu pulalah baik moderatisme maupun radikalisme menjadi solusi ketika jaman membutuhkannya. Ketika sistem dalam kehidupan masih dapat mengakomodasi ide, maka akan ditempuh jalan moderat untuk mewujudkannya, karena sifatnya yang lebih kooperatif. Sebaliknya, ketika sistem dalam kehidupan kita sudah tidak dapat mengakomodasi ide lagi maka jalan radikal akan ditempuh untuk mewujudkan ide tersebut secara non-kooperatif. Adapun tolok ukur terakomodasinya suatu ide di dalam sistem kehidupan tergantung pada sistem yang sedang berlaku ketika itu.

Untuk lebih mudahnya, bisa kita lihat secara gamblang dalam beberapa dimensi.

  • Kaum moderat akan mendominasi ketika: Sistem kehidupan secara umum berjalan dengan lebih mapan dan statis. Nilai-nilai normatif dalam sistem sosial masih berlaku dalam kehidupan bermasyarakat (baca: idealisme). Hal ini diikuti dengan kondisi perpolitikan yang biasanya sedang didominasi hanya oleh salah satu entitas politik, sehingga lebih stabil. Entitas politik mayoritas biasanya lebih kooperatif terhadap minoritas. Demikian juga situasi ekonomi yang lebih pasti, tumbuh dan merata. Dan juga hukum yang masih dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sedangkan dalam hal keamanan dan ketertiban cenderung minim konflik (horisontal) dan ancaman. Ketika masa ini terjadi, memang seharusnya moderatisme yang bekerja, karena segala permasalahan yang terjadi ketika itu akan bisa diatasi dengan dialog yang kompromistis. Jika radikalisme dipaksakan untuk bekerja pada masa ini maka yang terjadi adalah putsch.
  • Kaum radikal akan dibutuhkan ketika: Sistem kehidupan sedang berjalan sangat dinamis. Nilai dan norma dalam sistem sosial sudah diabaikan dan hanya menjadi jargon dimulut saja, pragmatisme lebih diutamakan. Kondisi perpolitikan sangat dinamis, tidak ada entitas politik yang mendominasi sistem politik sehingga yang terjadi adalah saling memperebutkan (atau koalisi) kekuasaan guna memenuhi aspek formalitas belaka. Situasi ekonomi juga dalam keadaan yang tidak pasti, pertumbuhan tidak ajeg dan tidak merata, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Hukum hanya berlaku pada kelas masyarakat tertentu, tajam menghujam masyarakat kelas bawah. Friksi-friksi horisontal pada masyarakat kelas bawah semakin intens dan meruncing. Jika kaum radikal tidak dibiarkan bekerja pada masa itu, yang terjadi adalah kebuntuan dalam segala dimensi kehidupan yang akhirnya akan menghancurkan sistem itu sendiri.

Kemudian timbul pertanyaan, mengapa mereka harus ada dimasa itu? Tentu saja ini berkaitan dengan kebutuhan dan fungsinya berdasarkan kondisi saat itu. Kaum moderat akan dibutuhkan untuk menjalankan sistem yang telah mapan, selain itu moderatisme juga dibutuhkan untuk konsolidasi. Sedangkan kaum radikal dibutuhkan untuk mendobrak kebuntuan ketika sistem tidak bisa berjalan lagi sebagaimana mestinya atau mengganti sistem lama dengan yang baru. Kemunculannya untuk mendominasi pun juga tidak bisa dihalang-halangi atau diprematur. Sebagai perbandingan, di situasi dan kondisi yang statis dengan sendirinya kaum radikal akan berkurang karena tindakan-tindakan radikal akan dianggap menjadi tindakan berlebihan yang sia-sia, sebaliknya disituasi dan kondisi dinamis, kaum radikal dengan sendirinya akan semakin banyak karena jalan moderat dianggap tidak mampu lagi mengatasi permasalahan yang ada. Inilah yang dimaksud dengan kedua entitas akan bekerja dengan sendirinya secara alamiah.

Menilik kondisi kini, saatnya moderat atau radikal?

Mari kita lihat lagi indikasi-indikasi yang sudah dijabarkan sebelumnya dengan keadaan terkini Indonesia. Perlu kita renungkan dan kita rasakan. Berbagai dimensi dari sistem sudah mulai menunjukkan sarat permasalahan. Dalam dimensi hukum, hal yang paling gamblang adalah maraknya tindak korupsi hampir disemua lapisan masyarakat. Hal ini terjadi karena korupsi menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat kita. Kebutuhan akan apa? Kebutuhan akan materi dan non-materi. Kebutuhan akan materi hanya karena satu hal: untuk mendapatkan kekayaan, baik untuk mendapatkan yang baru atau untuk mengganti yang telah dikeluarkan sebelumnya. Biasanya korupsi macam ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki otoritas atau jabatan, karena selalu berkaitan dengan fungsi yang dijalankannya. Sedangkan untuk kebutuhan non-materi selalu berkaitan dengan prosedur, dimana seseorang ketika terjebak oleh suatu prosedur, apalagi turut dimain-mainkan oleh prosedur tersebut, maka biasanya akan memilih ‘jalan mudah’ untuk mengakali prosesnya. Korupsi macam ini mahfum dilakukan hampir semua masyarakat, bukan hanya ketika membuat KTP, tetapi juga tercermin dengan minimnya kepatuhan dalam berlalu lintas (juga kompromistis ketika ditilang).

Dimensi politik juga memiliki dampak yang sangat nyata. Jika kita lihat yang terjadi sekarang adalah hal yang yang dianggap ‘wajar’ ketika perpolitikan kita dipandang secara sempit dan berjalan secara elitis, pragmatis, dan korup. Elitis karena partai telah terpisah dari konstituennya dan hanya dibutuhkan saat menjelang pemilu saja. Partai menjadi kehilangan ruh-nya, dan bertindak hanya sebagai alat berorientasi individu demi pencapaian reputasi pribadi. Tindakan partai di parlemen tidak pernah lagi mewakili konstituennya. Pragmatis karena partai maupun parlemen bertindak hanya untuk memenuhi faktor formal belaka, untuk mengisi kursi dan jabatan tanpa memikirkan lagi idealisme. Selain itu, takaran mereka dalam bertindak hanya mempertimbangkan sisi untung tidaknya bagi mereka secara pribadi. Maka tak jarang konstituen ‘digadaikan’ oleh mereka hanya untuk mendapatkan sedikit remeh-remah dari ‘proyek’ yang diperebutkan. Korup karena tindakan-tindakannya telah menyimpang. Maksudnya ialah mereka telah menyalahgunakan kewenangannya hanya untuk memperoleh tahta, harta, dan wanita. Menggunakan jabatan untuk menumpuk harta dan dikelilingi wanita.

Kemudian dimensi ekonomi memiliki dampak yang langsung dirasakan oleh kita semua. Kita tahu bahwa harga-harga melambung tinggi mulai dari harga kebutuhan pokok hingga tarif pelayanan jasa. Bukan hanya terbebani dengan harga-harga tersebut namun juga tercekik dengan macam-macam pajak. Membuat kita semua semakin sulit untuk hidup. Padahal kita berdiri diatas kekayaan alam alam yang cukup melimpah, apakah mungkin kita harus mati kelaparan di dalam lumbung sendiri yang penuh dengan hasil panen? Tentunya kita tidak ingin itu terjadi, karena memang tidak logis. Yang terjadi sekarang adalah kekayaan alam kita sedang diangkut keluar negeri sedangkan rakyat kita hanya memperebutkan remeh-remahnya saja. Pemerintah juga mulai meninggalkan tugasnya sebagai penyelenggara kesejahteraan (welfare state), terlihat dari kesejahteraan rakyatnya yang kini tidak merata, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Lalu dalam dimensi sosial, terlihat dari perangai masyarakatnya yang berubah. Sikap dalam masyarakat kita sudah menjadi individualistis. Pemuda pada semua lini tumbuh menjadi pemuda-pemudi hedonis yang mengejar kesenangan dan kebanggaan individu. Perilaku anti-sosial seperti homoseksual, biseksual, dan transgender semakin merebak. Friksi-friksi horisontal semakin meruncing, dengan berbagai macam latar belakang. Social value akhirnya mulai ditinggalkan dan asing ditengah-tengah kita.

Setelah kita perhatikan sedikit contoh dari beberapa dimensi, kita dapat menilai apa yang sebenarnya terjadi disekitar kita.

Dalam dimensi hukum, terlihat dengan jelas bahwa kejahatan dan kriminal yang terjadi dalam masyarakat kita telah berlangsung secara sistematik, artinya kejahatan telah berhimpun menjadi terorganisir. Terorganisirnya kejahatan itu bukan menjadi organ yang berdiri sendiri, namun telah ‘menumpang’ pada sistem hukum yang berlaku, ini mengakibatkan sulitnya melawan kejahatan secara formal, karena sistemnya telah ‘diakali’ oleh para penjahat tersebut untuk dapat luput dari jeratan legal formal. Hanya orang-orang radikal saja yang juga berani untuk bertindak diluar jalur legal formal yang dapat mengatasi kejahatan macam itu.

Kemudian, jika kita lihat juga pada dimensi politik, dimana ketiga sifat elitis, pragmatis, dan korup (el-prakor); telah hinggap hampir disetiap lini birokrat. Eksekutif, legislatif, maupun yudikatif sama-sama diisi oleh para el-prakor. Lembaga negara tidak akan bisa bersih dari para el-prakor, sebab rumusnya seperti ini: para el-prakor akan berteman dengan el-prakor, dan para el-prakor hanya akan digantikan oleh para el-prakor lainnya, maka jadilah lingkaran setan el-prakor. Siapakah yang akan menderita? Kita semua, rakyat jelata. Hanya orang-orang yang bersih dari sifat el-prakor dan berani bertindak secara radikal saja yang dapat menyingkirkan para el-prakor dan memutus lingkaran setan el-prakor.

Ternyata dalam dimensi ekonomi juga telah terjadi kebuntuan luar biasa. Sedikitnya ada 4 macam penjahat yang berperan didalamnya.

  • Para birokrat pembuat kebijakan el-prakor, penjual kekayaan negeri ini untuk negara lain dan membiarkan rakyatnya sendiri menderita.
  • Para spekulan komoditas, sehingga harga-harga mencekik demi keuntungan pribadinya.
  • Para bankir penyebar riba, yang mana riba adalah penyebab terbesar inflasi.
  • Dan yang terakhir adalah para pelaku shadow economy, yaitu para penggiat ekonomi ilegal yang turut mempengaruhi kestabilan ekonomi legal.

Keempat macam penjahat ekonomi ini tumbuh subur pada negara yang menganut sistem ekonomi liberal-kapitalis. Padahal negara kita menganut ekonomi kerakyatan seperti yang disepakati oleh para founding fathers. Namun jelas-jelas sistem ekonomi kita sudah berubah haluan menjadi sistem ekonomi liberal-kapitalis. Lalu bagaimana cara memperbaiki hal ini? Mau tidak mau, hanya orang-orang yang mau bertindak secara radikal untuk mengembalikan sistem ekonomi kerakyatan atau bila perlu menggantinya dengan yang lebih baik. Caranya: memutus lingkaran birokrat el-prakor, mengawasi distribusi, menghapus riba, dan menekan shadow economy.

Sementara dalam dimensi sosial, dengan berubahnya masyarakat kita menjadi individualis menunjukan bahwa kita tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan sosial yang dihadapi oleh kita. Sebab permasalahan sosial hanya bisa diselesaikan secara sosial, bukan individual. Sudah saatnya kita berkumpul untuk membentuk tatanan masyarakat lagi. Tatanan masyarakat yang bisa memberikan sanksi bukan hanya sebagai penganjur kebaikan saja. Seharusnya, perilaku anti-sosial menjadi lawan dari tatanan masyarakat kita, nilai-nilai anti-sosial dapat tersaring dengan penolakan secara tegas. Hanya orang-orang yang bersedia bertindak radikal secara tegas untuk mengatasi permasalahan sosial seperti itu.

Setelah melihat beberapa situasi di atas, semuanya diperoleh kesimpulan yang sama, terjadi kebuntuan untuk mengatasi permasalahan yang kita hadapi. Menjadi buntu karena permasalahan yang terjadi tidak bisa diselesaikan begitu saja mengikuti sistem yang ada, sebab bisa jadi dua hal: permasalahan yang terjadi telah berlangsung secara masal sehingga menjadi maklum atau aturan yang ada telah dimanipulasi untuk mengakomodasi permasalahan tersebut. Artinya ada dua hal yang pasti terjadi, masyarakatnya yang ‘sakit’ dan sistemnya yang ‘sakit’. Hal ini menjadi logis, sebab ketika masyarakat menjadi ‘sakit’ karena terlalu permisif dengan ‘penyakitnya’, pasti akan menghasilkan sistem yang ‘sakit’ pula dengan mengakomodasi ‘penyakit’ tersebut. Jika keadaan ini terus berlangsung yang akan terjadi adalah bencana sosial yang menghancurkan seluruh tatanan. Sehingga ketika masyarakat dan sistemnya sudah sangat permisif dengan keadaan ini, maka tidak lain dan tidak bukan harus ada tindakan radikal untuk memperbaikinya. Kaum radikal saja yang dapat mendobrak sistem yang sakit itu.

Kamu berada dimana? Radikalkah?

Setelah mengetahui uraian sebelumnya, kini saatnya kita bertanya pada diri kita sendiri, dimana posisi kita saat ini? Disinilah kita menentukan peran kita dalam tatanan masyarakat. Kita bisa menjadi moderat atau radikal, itu hanya merupakan pilihan. Keduanya memiliki kedudukan yang setara, bisa memiliki tujuan yang sama, namun hanya berbeda jalan dan metode yang justru saling melengkapi. Dari perbedaan itulah, masing-masing memiliki waktunya sendiri, ada saatnya kaum moderat yang berkarya, akan tetapi ada kalanya kaum radikal yang harus bertindak. Dan waktu yang dimaksud kini adalah waktunya kaum radikal untuk meraih kesempatan itu. Akan tetapi bukan berarti seorang moderat harus berubah menjadi radikal, dan bukan pula menghalangi seorang moderat untuk berubah menjadi radikal. Yang moderat tetaplah moderat, namun ketika situasi mengharuskan untuk radikal, berikan kaum radikal ruang dan waktu untuk bekerja. Janganlah takut atau malu untuk menjadi radikal. Menjadi radikal bukanlah suatu kejahatan, bukan hal tabu, bukan pula hal yang hina-dina.

Keberadaan kaum radikal juga merupakan sunnatullah, keniscayaan. Tidak bisa binasa, tidak bisa ditunda, dan tidak bisa diprematur. Jika kesempatan itu datang kepada kaum radikal, harus dipergunakan sebaik-baiknya yang akhirnya bisa menjadi bukti bahwa menjadi radikal bukan merupakan stigma buruk seperti yang telah orang kira kebanyakan. Menjadi radikal bukan berarti identik dengan kekerasan, sekali lagi bukan itu, kaum radikal pun harus menjadikan kekerasan sebagai jalan terakhir untuk beladiri.

Perjuangan paling baik adalah ketika kita memenangkan ide tanpa ada pertumpahan darah. Akan tetapi dalam kenyataan, akan ada pihak-pihak yang berusaha menjegal bahkan tidak segan-segan menggunakan kekerasan, yang artinya mau tak mau kita harus siap terlibat dalam kekerasan untuk alasan beladiri. Dan radikalisme pun tidak identik dengan anarkisme. Itu merupakan dua hal yang berbeda. Radikalisme adalah tindakan berdasarkan tatanan, sedangkan anarkisme ialah tindakan tanpa tatanan. Sehingga untuk memperbaiki tatanan harus dengan tatanan pula agar bisa pulih, jika tidak maka yang terjadi adalah hilangnya tatanan. Kita pun harus menjaga diri agar tidak terjebak dengan anarkisme.

Karena harus kita ingat satu hal: Kejahatan yang tak terorganisir dapat dikalahkan dengan mudah oleh kebaikan yang terorganisir, namun kejahatan terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang sama terorganisirnya, kecuali kebaikan itu terorganisir dengan lebih baik. Inilah arti penting dari tindakan harus memiliki tatanan yang tertata rapi.

Ingin PERUBAHAN?  Jadilah RADIKAL!

Dengan berlangsungnya keadaan yang seperti ini, maka akan ada dua macam manusia, mereka yang ingin hal ini terus berlangsung dan mereka yang menginginkan perubahan lebih baik. Orang-orang yang menginginkan berlangsungnya keadaan ini adalah mereka yang mendapatkan manfaat dan kenikmatan atas situasi ini, merekalah yang dinamakan kaum konservatif. Dijaman yang penuh dengan penjahat ini, kaum konservatifnya terdiri dari dua golongan; yaitu penjahatnya itu sendiri dan mereka yang cukup puas hidup dari remeh-remah para penjahat ini. Sedangkan mereka yang menginginkan perubahan adalah mereka yang pasti dirugikan dan tertindas atas situasi ini. Mereka ini adalah kaum dhuafa, kaum lemah yang butuh pembelaan, dan bersama kaum yang ingin melawan keadaan ini. Mereka yang melawan inilah yang harus menjadi kaum radikal. Dan perubahan pasti terjadi.

Semoga Allah beserta kita menuntun dalam kebaikan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s