Bagaimanakah Revolusi Menurut System Islam…???

“Apa Itu Revolusi?

Seringkali rakyat awam menunjuk revolusi itu sebagai adegan ratusan ribu orang mengepung istana pemerintah dan gedung parlemen, menyuarakan tuntutan sampai pemerintahan yang direvolusi lengser. Ini hanyalah satu adegan tidak lengkap dari sebuah cerita panjang revolusi. Setara dengan satu adegan selama satu menit dari sebuah cerita film berdurasi tiga jam.

Revolusi bukanlah kumpulan perbuatan mengerikan seperti tuduhan banyak orang selama ini. Revolusi bukanlah ajang pertumpahan darah, bukan peristiwa pemaksaan kehendak yang penuh kekerasan, bukan perilaku anarkis tanpa arah, juga bukan perbuatan anti-damai yang berujung pada penderitaan bersama. Revolusi adalah pergerakan dari hal-hal buruk menuju perbaikan. Revolusi adalah perjuangan atas tujuan-tujuan mulia yang layak diperjuangkan. Kebaikan yang bernilai dan layak diperjuangkan itulah yang membuat para pengusung revolusi sedia berkorban sehingga tiada istilah pengorbanan yang sia-sia atas revolusi.

Lantas apa itu Revolusi Islam? Revolusi Islam adalah revolusi menuju perbaikan yang dilakukan oleh umat Islam. Karena dilakukan dan diperjuangkan oleh umat Islam maka segala tujuan yang ingin dicapai ialah idealitas atau keparipurnaan berdasar Syariat Islam yang bersumber pada ajaran dalam Al Quran dan Hadist Rasul. Revolusi Islam bukan ajang untuk membunuhi mereka yang bukan orang Islam karena tidak pernah ada pedoman itu dalam ajaran Islam sendiri.

Revolusi Islam di Nusantara adalah revolusi Islam yang dilakukan oleh umat Islam di Indonesia dengan memperhatikan seluruh unsur dalam kegiatan perikehidupan di Indonesia. Dengan memahami kalimat tersebut maka kita tahu kalau revolusi Islam itu menyangkut semua persoalan penting dalam kehidupan, jadi bukan perbuatan kecil-kecilan atau persoalan remeh-remah. Kita tidak memulai revolusi dari perbuatan remeh seperti menganjurkan buang sampah di tong sampah.

Revolusi secara alami bukan perbuatan evolutif dari hal kecil jadi hal besar, dari ranah individu diterapkan ke keluarga lalu ke tengah masyarakat. Revolusi selalu menyangkut hal-hal besar dalam kehidupan karena revolusi ialah perubahan dari satu perilaku banyak manusia menuju satu perilaku banyak manusia lainnya. Objek revolusi selalu sistem pergaulan sosial dalam satu masyarakat. Dia menyoroti persoalan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial budaya, termasuk sistem hukum. Dari sini dapat kita pahami kalau kegiatan revolusi merupakan tindakan seragam yang dikerjakan banyak orang karena kesamaan kehendak. Artinya apa yang dilakukan dalam revolusi bukanlah tindakan sendiri-sendiri yang dikerjakan berdasar persepsi masing-masing orang. Revolusi tidak menghendaki perbedaan pemahaman berlabel ‘revolusi ala gue’ yang bersumber pada individualitas.

“Mengapa Kita Perlu Revolusi?

Buat apa revolusi, bukankah kita sekarang lebih butuh pembangunan? Mungkin inilah pertanyaan yang terlintas dalam benak banyak orang Indonesia saat ini. Pertanyaan yang masih dipengaruhi keraguan, skeptisme pada pergerakan revolusi karena terbuai pada kenikmatan situasi sosial tanpa revolusi.

Revolusi pada dasarnya ialah perubahan dari satu situasi kepada satu situasi lainnya melalui suatu percepatan proses. Artinya revolusi adalah istilah netral yang tidak perlu dimaknai prasangka buruk lebih dulu. Revolusi adalah proses perubahan yang dipercepat. Dalam era Pembangunan seperti sekarang pun tidak menolak untuk memakai istilah ‘percepatan’ seperti ‘percepatan pembangunan daerah tertinggal’ atau ‘percepatan pertumbuhan ekonomi’.

Beda semua itu dengan revolusi hanya disebabkan revolusi menyangkut perubahan menyeluruh dan masif. Jadi bukan soal perubahan per bidang lagi. Kesulitan kita dalam berbangsa bernegara senyatanya lebih disebabkan banyaknya sistem formal kita yang macet, menyimpang, bahkan membahayakan. Perubahan seperti ini tidak bisa ditanggulangi perubahan kecil-kecilan seperti percepatan, reformasi, restrukturisasi, atau transisi moderat lagi. Suksesi rutin per lima tahun ala demokrasi formal juga sama saja hasilnya. Kerusakan menyeluruh seperti ini ternyata disengaja dan dilestarikan oleh kekuatan politik di belakangnya, yang ikut menikmati segala kerusakan dan penyimpangan tersebut. Kita perlu perubahan cepat yang mendasar, menyeluruh, besar-besaran, dan dilindungi kekuatan politik, yang semua itu hanya bisa dilakukan revolusi.

“Kenapa Memilih Revolusi Islam?

Jalan revolusi adalah perjuangan yang dikenal oleh bangsa kita sendiri. Kesadaran melawan kolonialisme-imperialisme hingga berbuah pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah contoh Revolusi Indonesia yang pernah dijalankan. Mengenai nama Islam dan Indonesia yang kita pakai ialah bentuk identitas dan ikatan alami kita kepada negeri dimana kita hidup. Istilah “Revolusi Islam di Nusantara” memiliki ikatan kuat antara ketiga unsur yang membentuknya. Revolusi menunjukkan jalan perjuangan yang dipilih secara sadar termasuk kelebihan dan kekurangannya. Islam menunjuk pada subjek yang mengusung revolusi.

Masyarakat Islam merupakan realitas Indonesia yang tidak bisa dipungkiri karena ada dan nyata. Islam adalah identitas yang tidak bisa ditawar lagi karena telah lekat ke dalam sistem nilai, kebenaran, ideologi, dan kebudayaan masyarakat Islam. Sementara nama Nusantara ialah menunjuk kepada lokasi, ikatan kepada tempat dimana usaha revolusi itu dijalankan.

Bagi golongan Islam (masyarakat Islam dan non-muslim yang punya kesadaran politik Islam) ajaran Islam adalah inspirasi dan satu-satunya petunjuk langsung dari Allah SWT untuk menjalankan kehidupan, termasuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika orang Islam tidak mau menggunakan Syariat sebagai petunjuk, Allah berjanji untuk tidak lagi jadi penolong. Jadi bisa dibayangkan sudut pandang muslim jika Sang Pencipta tidak mau lagi jadi penolong, betapa ruginya sang hamba dalam menjalani kehidupan.

Revolusi Islam yang dijalankan kaum Revolusioner Islam Indonesia sekarang adalah kelanjutan dari Revolusi Indonesia yang pernah dihentikan diktator Orde Baru. Wajar jika revolusi kali ini bercorak Islam karena inisiatifnya berasal dari golongan Ummat Islam Bangsa Indonesia. Revolusi Indonesia memang harus dijalankan lagi karena Revolusi Pertama dahulu pernah dinyatakan “belum selesai”. Dari pengertian ini Revolusi Islam di Nusantara adalah Revolusi Indonesia jilid 2 atau ‘Revolusi Kedua’. Revolusi Islam di Indonesia mustahil jadi ancaman bagi Indonesia kecuali menjadi ancaman bagi musuh revolusi itu sendiri.

“Apa Musuh Revolusi Islam?”

Pihak lawan Revolusi Islam selalu dinamakan kontra-revolusi. Mereka adalah pihak yang segala kehendaknya bertentangan dengan Revolusioner Islam. Jika kita ingin korupsi diberantas, kontra-revolusioner adalah para koruptor. Jika kita ingin dibimbing Allah, mereka ingin kehidupan duniawi yang tidak dicampuri unsur Illahiyah. Jika kita ingin segalanya diperbaiki, kontra-revolusioner ingin kerusakan ini tak usah dikutak-katik lagi karena menguntungkan mereka. Dua pihak ini saling bertentangan, saling menghabisi sehingga tidak mungkin ko-eksistensi, hidup berdampingan. Kedua pihak ini tidak bisa dikompromi lagi melalui dialog atau mekanisme perdamaian apapun karena secara alami bertentangan satu sama lainnya. Konsekuensinya pun juga hanya ada dua: menang atau kalah, bertahan dan ada atau musnah samasekali. Tiada alternatif lain.

Kontra-revolusi bisa digolongkan jadi dua. Pertama ialah kontra-revolusi domestik (dalam negeri) berupa kekuatan lama yang menguasai tatanan lama. Kedua ialah kontra-revolusi asing berupa kekuatan intervensionis dari luar negeri yang kita namakan neo kolonialisme-imperialisme (nekolim). Keduanya punya sifat dan cara penanganan yang berbeda untuk dihadapi.

“Apa Penghambat Revolusi Islam?”

Kalau kita berbicara soal penghambat itu artinya berbicara tentang diri sendiri. Terutama kelemahan diri umat Islam dalam menjalankan Revolusi Islam. Pada dasarnya ada tiga hal yang harus dicermati, yakni ragu, pragmatis, dan statis.

Pertama Keraguan. Ragu adalah sikap batin yang mempengaruhi seluruh perbuatan kita. Jika seorang Revolusioner Islam mulai meragukan, mulai mempertanyakan alasan-alasan, musabab, mengapa dia harus berjuang, itulah yang dinamakan ragu. Satu-satunya jalan untuk menghilangkan keraguan adalah dengan menumbuhkan keyakinan akan suatu hal. Sikap yakin diperoleh dengan cara menjawab seluruh keraguan yang mengganjal di hati nurani. Sebagai pergerakan yang amat menghargai kejujuran, Revolusi Islam selalu terbuka untuk kembali dipertanyakan oleh pengusungnya yang belum yakin. Bagi Revolusi Islam lebih baik memiliki sedikit pembela yang yakin daripada harus dibebani banyak pengikut yang ragu.

Kedua Pragmatis. Pragmatis ialah sikap lahir yang mencerminkan semua perbuatan kita setelah melalui pertimbangan. Dalam derajat yang bisa ditoleransi, sikap pragmatis diperlukan untuk menyesuaikan tuntunan dengan kenyataan. Jadi semacam kelincahan bertindak. Namun sikap pragmatis harus tetap dibimbing oleh idealisme atau ideologi. Pragmatis dalam menjalankan revolusi tanpa bimbingan ideologi Islam bisa dipastikan sebagai perbuatan menyeleweng atau tersesat. Agar perbuatan seorang Revolusioner Islam tidak terjerumus pada pragmatisme petualang, dia harus bersedia dikoreksi oleh ideologi Islam yang dijalankan sesama Revolusioner Islam lainnya.

Ketiga Kondisi Statis. Statis adalah sebuah kondisi yang tetap, tidak berubah. Jika revolusi adalah pergerakan yang menghendaki perubahan maka keadaan statis adalah kondisi yang harus dinilai merugikan. Kondisi statis dapat ditemui dalam perjuangan revolusi jika pengemban revolusi mudah berpuas diri atas pencapaian, terlalu letih berjuang (fatigue), dan putus asa atas keberhasilan yang tak kunjung tiba. Kondisi statis hanya bisa dilawan dengan kondisi dinamis. Kembali menjadikan Revolusi Islam terus bergerak meraih tujuannya. Kita tidak boleh cepat berpuas diri akan keberhasilan kecil, menghindari letih dengan istirahat dan persiapan ulang yang cukup, dan tabah dalam menyongsong kemenangan Syariat yang niscaya tiba.

“Fase atau Tahap Revolusi”

Kami, sejauh ini mencermati bahwa suatu revolusi harus melalui beberapa tahap, yaitu: pelopor, berhimpun, bertarung (vivere pericoloso), dan maju.

  • Pelopor ; Fase pelopor merupakan salah satu tahap terberat yang harus dijalani sebuah pergerakan revolusi, tak terkecuali Revolusi Islam. Pada tahap ini pergerakan mengumpulkan kader inti, yaitu orang-orang yang telah bersepakat untuk memperjuangkan ide revolusi karena keyakinannya. Disini para Revolusioner Islam mendapat tekanan keras dari lingkungan sekitarnya karena harus memperkenalkan suatu sistem baru yang berbeda jauh dengan sistem lama yang buruk. Keteguhan hati sangat dibutuhkan sebab para revolusioner harus melawan arus jaman yang amat deras. Penentangan datang dari penguasa sistem lama (al mala’) dan orang awam yang belum paham juga takut akan perubahan. Al Mala’ merupakan musuh utama revolusi sedangkan orang awam yang takut perubahan adalah objek penerangan kita. Mereka hanya butuh tarbiyah akan Revolusi Islam sejelas-jelasnya untuk kemudian diberi kebebasan memilih pihak: bergabung atau melawan kita. Pada tahap ini, revolusi kita mulai memperkenalkan ‘pihak kita’ kepada siapa saja, terbuka dan tanpa rasa takut. Dimulai dengan memperkenalkan identitas Islam di Indonesia, kemudian hubungan kaum pejuang revolusioner Islam dengan golongan kebangsaan Indonesia yang lain.  Pada masa ini pengenalan ideologi Islam dan politik Islam jauh lebih penting daripada aksi kaum Revolusioner Islam.
  • Berhimpun;   Fase berhimpun atau fase konsolidasi adalah tahap berikut yang harus dijalani Revolusi Islam untuk mengorganisasi segala potensi revolusi yang terkumpul. Pada tahap ini ideologi sudah dipandang matang dan tidak perlu digugat lagi selain terus dikumandangkan. Tahap ini pergerakan fokus pada membuat aturan-aturan pelaksana, dan pedoman bertindak demi menciptakan suatu kedisiplinan pergerakan. Individualitas harus sudah digantikan oleh pandangan kolektif tentang keumatan sehingga kaum Revolusioner Islam bisa bertindak seragam, terarah, terukur.
    Konsolidasi dilakukan dengan mulai mengajak kaum yang bertujuan sama untuk bekerjasama memenangkan tujuan. Pendekatan lunak kepada ormas Islam, parpol Islam, haraqah perjuangan Islam, lembaga sosial Islam mulai gencar dilakukan. Egoisme, gengsi, dan lagak intelektual diantara komponen revolusi ditekan pada level terendah menggunakan kejujuran kepada ideologi Islam dan Revolusi Islam. Persatuan digelorakan memakai logika persamaan sedang khilafiah perbedaan minor harus sering diabaikan sebagai catatan pinggir saja atau dissent opinion. Lembaga Islam yang belum saling mengenal diminta silaturahim, lembaga Islam yang saling kenal diminta kerjasama, lembaga Islam yang bekerjasama diminta bersekutu, dan lembaga Islam yang bersekutu diminta untuk menggabungkan diri demi terciptanya Negara Islam  yang makin kuat.
    Pada tahap ini Revolusioner Islam dibolehkan untuk beraksi setelah menetapkan siapa kawan siapa lawan, termasuk menentukan siapa sekutu dan siapa pihak netral. Saat kita tumbuh makin kuat maka secara naluriah pihak lawan juga akan memperkuat diri dan melakukan konsolidasi. Kita harus pasang mata pada geliat macam ini dengan mulai melancarkan kegiatan intelijen dan kontra-intelijen. Dengan bekal ideologi Islam, identitas Islam, pergerakan Revolusi Islam, politik Syariat, dan dukungan besar kaum dhuafa kita akan kembali menggebrak gelanggang perpolitikan. Revolusioner Islam juga harus menyiapkan sayap militernya sendiri sebagai jaminan atas keselamatan ideologi Islam saat berjalan dengan damai dikhianati pengusungnya sendiri. Dalam diplomasi militer kita harus percaya pada ketajaman pedang kita sendiri, bukan kepada janji para politisi lawan. Persiapan kita secara militer akan terbukti urgensinya pada tahap revolusi selanjutnya.
  • Bertarung;   Fase bertarung adalah tahap terberat yang harus kembali dialami Revolusioner Islam. Disinilah nasib hidup-mati sebuah pergerakan revolusi ditentukan. Pada tahap ini kontra-revolusi telah melakukan konsolidasi, termasuk membentuk persekutuan diantara mereka sendiri untuk menggagalkan Negara Karunia Allah. Pertentangan antara revolusioner melawan kontra-revolusioner semakin tajam, dan akan memuncak menjadi pertarungan terbuka. Kaum kontra-revolusioner yang merasa kepentingannya terancam akan melakukan provokasi kekerasan dan serangan militer lebih dulu. Pemimpin Islam harus tegas pada penghianatan macam ini dengan pernyataan Jihad dan mobilisasi pemuda Islam. Selain berhasil mendefinisikan umat Islam yang baru dan mendapat kemenangan politis, pihak kita juga akan mengalami kemunduran dan pukulan telak dari lawan revolusi. Kemunduran yang kita alami ialah banyaknya Syahid dan adanya saudara seperjuangan yang tidak tahan tekanan realitas untuk kemudian menyerah atau bahkan menyeberang ke pihak lawan menjadi munafikun.

Oleh sebab itu fase ini juga dinamai vivere pericoloso, atau ‘tahun yang menyerempet bahaya’. Revolusi Indonesia pernah mengalami ini di tahun 1948 dan 1965 yang dikenal sebagai Tavip. Jika dinisbatkan kepada baginda Rasulullah, fase ini adalah Peperangan Madinah dimana muslim akan dikepung kekuatan lawan yang bersekutu (Al Ahzab).
Walaupun terlihat besar dan kuat, kontra-revolusioner yang bersekutu menyimpan kelemahan akut. Perbedaan diantara mereka menjadikan organisasi mereka rumit, tidak seragam, dan lamban dalam memulihkan diri. Revolusioner Islam sejak awal memiliki keunggulan persatuan yang menjadikan mereka mudah dikumpulkan, direorganisasi, dan melancarkan serangan balas dengan cepat. Momentum ini yang akan dimanfaatkan berulang-ulang oleh barisan militer Islam untuk meraih kemenangan telak.

  • MajuFase maju adalah tahap dimana kesulitan terbesar telah dilalui. Allah SWT menjanjikan bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Perang telah diakhiri dengan kemenangan gemilang yang harus disyukuri (Futuh Makkah). Pada tahap ini rakyat hidup aman, Syariat bisa dijalankan tanpa halangan sehingga Allah akan menolong negeri kita dengan gelontoran rizki dari langit maupun dari dalam bumi membantu reparasi akibat perang. Revolusi Islam bergerak maju dalam kecepatan penuh. Semua aktifitas umat dipimpin oleh Imam yang bijaksana. Fase ini tidak bisa kami gambarkan lebih lanjut karena telah menjadi hak generasi muda Revolusioner Islam di masa itu. Biarlah mereka yang akan mendefinisikan kemajuan-kemajuan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi sebagaimana kita melakukannya di jaman kita sendiri.

Demikianlah pelajaran kita kali ini soal revolusi. Semoga bisa menginsyafkan dan menjadikan kita tidak takut atau ragu untuk memilih jalan revolusi dalam memperjuangkan Syariat Allah yang amat kita cintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s