Kini Saatnya Jadi Ummat Islam yang Sebenarnya

Harus kita akui bahwa di dalam sebuah perjuangan untuk mencapai tujuan mulia yang ideal akan diperlukan banyak pemahaman mendalam atas pergerakan itu sendiri. Sebuah perjuangan sepatutnya dapat dipahamkan dan tidak sembarangan main hantam kromo. Dan perubahan besar untuk merengkuh tujuan mulia itu hanya bisa diusahakan lewat suatu perjuangan yang revolusioner.

Namun tindakan berjuang ini sendiri pada dasarnya tetap membutuhkan subjek utama yang akan mengerjakannya. Kemudian subjek perjuangan revolusi Islam itu pastinya adalah segenap manusia yang berhimpun sebagai pihak Islam. Urutan logikanya sangat jelas. Tujuan berupa kondisi yang diridhai Allah butuh diperjuangkan lewat suatu perjuangan revolusi, dan revolusi harus digerakkan serta dijalankan oleh manusia revolusioner yang dikenal sebagai Ummat Islam (Islamist). Mimpi sebuah negeri darussalam yang dicintai Allah ini tidak akan pernah terwujud jika kaum Islamis tidak pernah terlahir. Melahirkan kaum Islamis adalah suatu keharusan sejarah bagi umat Islam negeri ini.

Kegagalan massa umat Islam Indonesia melahirkan kaum Islamis akan membawa petaka sebuah alternate destiny, sebuah takdir yang berkebalikan dari cita-cita umat Islam. Kemenangan rezim Globalisasi atas negeri kita niscaya akan merombak seluruh kebudayaan dan kehidupan kita semuanya. Arus globalisasi hanya menjadikan bangsa kita sebagai manusia materialistik belaka dan melupakan kehidupan akhirat yang kekal. Mereka akan menjadi makhluk penyokong industri yang setiap hari bekerja keras siang malam tanpa henti. Bermandi peluh namun minim kemuliaan karena mengabdikan kerja kerasnya bukan lagi kepada zat spiritual Yang Maha Disembah, namun memberikan kerja kerasnya pada pencapaian kekayaan materi. Bekerja sampai mati menuruti perintah manusia lain para pemilik modal. Hilanglah sebuah alam merdeka sebagai rahmat Allah Yang Maha Kuasa sejak 70 tahun lalu karena kelalaian kita. Indonesia akan kembali dibawa ke dalam sebuah perbudakan kelam dan kembali menjadi een natie van koelies en koelie onder de naties, budak diantara bangsa-bangsa lain.

Bersyukurlah bahwa takdir mengerikan tadi belum terjadi hari ini. Kita belum terlambat karena masih punya kesempatan dan tempo untuk mewujudkan takdir yang penuh kebaikan atas Nusantara. Di ufuk fajar kebangkitan umat Islam Nusantara, seorang pemuda muslim seperti kita tentu tak ingin ketinggalan peran atas huru-hara terbesar ini.

Kami akan terus mengajak, terus menginsyafkan, terus menerangkan bahwa pergerakan revolusi ini jangan sampai gagal hanya karena tidak bisa dipahami oleh manusia-manusia yang telah tercerahkan lafadz ayat-ayat suci Al Quran. Jalan untuk mengubah seorang pemuda muslim biasa menjadi seorang pejuang Islam harus dibuka seluas-luasnya dengan kejujuran. Itu artinya kita harus bisa menepis keraguan batin pemuda kita dan menggantinya dengan keyakinan yang mantap.

Mari kita ulas bagaimana cara menjadi seorang Islam sesungguhnya. Pada prinsipnya ada tiga langkah pokok untuk menjadi seorang Islam, yaitu:

  • bersedia detach menjadi golongan Islam dalam berindonesia atau segregasi sosial politik
  • bersedia untuk setia kepada society massa umat Islam
  • bersedia berkontribusi untuk Indonesia atau Nusantara

Berikutnya, ketiga langkah tersebut akan kita bahas satu per satu.

1. Bersediakah pisahkan diri menjadi golongan Islam dalam berindonesia?

Mengapa kita harus mundur sejenak dari identitas Indonesia dalam situasi saat ini? Kita tidak mungkin maju dengan identitas Indonesia karena identitas ini tidak selalu berhasil merepresentasi diri society muslimin. Kita seringkali kecewa dengan identitas Indonesia yang kadang tampil hedonis, seringkali sekularistik, materialistik, dan koruptif. Inilah penampilan identitas Indonesia yang mengecewakan golongan Islam seperti kita. Itulah sebab mengapa kita sekarang memberanikan diri untuk mundur sejenak dari identitas nasional kita dan kembali pada identitas masyarakat Islam. Islam adalah salah satu unsur pembentuk keindonesiaan yang notabene asal-usul kaum muslimin Indonesia. Kita merasa lebih nyaman dan jujur saat berada dalam naungan identitas ini karena Islam benar-benar representasi kami dari lahir hingga matinya dalam hidup ini.

Apakah tindakan mundur dari identitas Indonesia merupakan tindakan pengkhianatan kepada bangsa dan negara? Samasekali bukan karena mundurnya pemuda Islam Indonesia dari keindonesiaan adalah sebuah kebijaksanaan. Kita mundur bukan untuk selamanya melainkan sementara. Mundurnya pemuda Islam ke identitas Islamis adalah sebuah kontemplasi kolektif, sebuah puasa terhadap syahwat, sebuah hijrah batin, sebuah langkah mundur satu langkah untuk maju seribu langkah demi memperoleh visi yang lebih jelas dengan sedikit menjauh dari objek yang dikaguminya sebagaimana Rasulullah SAW memandang kota Mekkah yang gaduh dari kejauhan bukit Jabal Nur yang sunyi.

Setelah sekian lama bergelut merintis Revolusi Islam yang tidak lain merupakan kelanjutan historis dari Revolusi Indonesia, kita kaum Islamis mulai menemukan secercah harapan baru. Dibimbing oleh keyakinan untuk mencari identitas asli yang paling sahih atas kehidupan manusia yang berlangsung di atas tanah negeri ini. Ummat Islam telah berkorban banyak saat memberanikan diri memisahkan diri, menjauhkan diri sejenak dari kegaduhan identitas keindonesiaan yang artifisial. Ummat Islam sering diancam dan dicurigai saat memulai perjalanan spiritualnya mencari jatidiri sebenarnya atas diri segolongan manusia yang dipilihkan Allah SWT untuk hidup di atas bumi Nusantara.

Dan perjalanan spiritual kita itu telah sampai kepada penemuan jatidiri kita. Betul bahwa negeri kepulauan ini dihuni oleh manusia yang secara genetik dikenal sebagai bangsa Melayu. Untuk pembaca yang masih belum bisa ikhlas menerima nama Melayu mungkin bisa diterangkan dengan nama ilmiah bangsa Australoid, atau lebih awam lagi disebut bangsa berkulit sawo matang, bermata cokelat, dan berambut hitam. Itulah ciri fisik bangsa kita. Mengenai identitas spiritual bangsa kita akan didapati kenyataan bahwa mayoritas bangsa kita adalah beragama Islam, hidup dengan kebudayaan Islam.

Jadi jawaban atas jatidiri kita adalah bangsa berkulit sawo matang yang muslim. Pribumi muslim adalah core society kita. Inilah penyimpulan Islam yang memberikan secercah harapan dibandingkan dengan kondisi sebelum kita melakukan perjalanan spiritual mencari identitas. Bukankah pribumi (melayu) muslim merupakan identitas yang berbeda jauh dengan pengertian identitas bangsa Indonesia kini? Bangsa Indonesia adalah identitas artifisial yang disediakan negara kepada kita, melainkan bukan identitas yang kita cari.

Apa manfaat dari menemukan core society? Dari situlah Islamis bisa menggali seluruh kekuatan jiwa raga bangsa ini. Apapun namanya, entah itu Indonesia atau nanti bernama Nusantara, punya core society tunggal yaitu pribumi muslim.

2. Bersediakah untuk setia kepada society massa umat Islam?

Mengajak mereka yang belum Islam untuk masuk ke dalam Islam memang akan selalu menjadi tugas abadi bagi seorang muslim. Namun bagaimanakah sikap kita terhadap saudara kita yang sudah muslim? Pertimbangan apakah yang akan kita lakukan kepada mereka yang sudah muslim, yang telah terbuka menyatakan tunduk kepada hukum Allah SWT.

Para penegak Syariat Islam selalu punya tugas untuk melindungi society muslim karena merekalah keluarga kita, merekalah generasi penerus kita. Jangan sampai massa umat Islam jatuh ke dalam kelemahan, ditinggal tanpa dilindungi oleh para pemuda Islamnya. Alam liberal seperti yang dialami Indonesia sekarang, adalah suasana kehidupan yang amat anarkhis. Kehidupan liberal tidak pernah menginginkan adanya kontrol sosial dari masyarakat, bahkan kaum liberal menghendaki kelompok sosial seperti society Islam (ummah) dan unit kelompok sosial lainnya seperti massa marhaen atau masyarakat adat tidak perlu ada.

Bagi mereka, kelompok sosial dengan seluruh pertimbangan etis kontrol sosialnya adalah penghalang utama atas berlangsungnya kebebasan individual. Dalam pemahaman liberalisme, kehidupan sosial itu tidak ada karena dicurigai sebagai alat yang dipakai seseorang untuk mengontrol orang lain. Semua kehidupan adalah kehidupan personal yang dijalani masing-masing orang secara setara. Individualisme harus dibebaskan tanpa halangan sementara hukum hanyalah instrumen pengakuan dari negara yang dipakai untuk menjamin berlangsungnya individualisme. Kelompok sosial yang masih kukuh bertahan akan digerogoti oleh aktivis liberal dengan membujuk tiap individu pembentuk kelompok sosial tersebut untuk melupakan ikatan sosial  lewat muslihat kejayaan hidup bebas dan modern khas liberalisme.

Motif untuk melindungi society muslim, melindungi massa umat Islam adalah titik tolak kekuatan utama pergerakan Revolusi Islam karena alasan sederhana, bahwa Tuhan telah memerintahkannya kepada kita. Kesetiaan kita untuk melindungi massa umat Islam dan rakyat jelata (dhuafa) adalah kesetiaan untuk mengikuti perintah Allah. Dari sini lah semua mata manusia menilai apa yang dikerjakan. Dari titik inilah kepercayaan kelompok sosial tercetus. Banyak muslim awam yang semula mencibir kita akan berubah sikap menjadi pendukung kita saat revolusioner Islam mampu membuktikan diri membangun sebuah tatanan masyarakat Islam yang terbuka lebar sebagai rumah bagi tiap individu muslim yang terancam kejahatan alam liberal.

Mereka yang tengah terjebak individualisme akan merasakan kesepian luar biasa dalam hidupnya. Kehidupan alam liberal tidak pernah bisa memberikan apa yang dimiliki kehidupan islam, yaitu kehangatan persaudaraan.

Keunggulan ini yang akan kita pakai untuk menarik hati saudara sebangsa kita yang tertipu kehidupan masyarakat global. Ukhuwah Islamiyah adalah kata kunci utama kita dalam perjuangan melindungi massa umat Islam dan masa depannya di negeri ini. Syariat bukan lagi menjadi perdebatan di dalam society Islam karena telah menjelma menjadi amalan nyata. Mereka yang ragu, yang skeptis pesimis, yang mengaku muslim namun menentang eksistensi Syariat di tubuh Islamis harus kita tinggalkan tetap berada di dalam identitas Indonesia. Kita harus ikhlas relakan mereka dimangsa oleh ganasnya perdebatan keindonesiaan akibat keputusan mereka sendiri.

3. Bersediakah berkontribusi untuk Indonesia atau Nusantara?

Setelah kita menyadari posisi kita, tahu siapa diri kita, menemukan identitas diri, di situ lah kita bisa mulai memutuskan apa yang terbaik buat kaum muslimin. Inilah fase melangkah maju seribu langkah setelah sebelumnya mundur satu langkah. Sejak awal kami mengingatkan bahwa kaum Islamis bukanlah kelompok yang abai dalam memandang permasalahan yang lebih besar. Kita mengakui bahwa saat ini Ummat Islam memiliki ikatan perjanjian kebangsaan Indonesia sebagaimana dikukuhkan oleh founding fathers Islam. Kita masih bisa terus ikut berkontribusi dalam keindonesiaan dengan syarat bahwa eksistensi Ummat Islam diakui. Akan sia-sia segala daya upaya yang dikerjakan Ummat Islam, termasuk segala pengorbanannya apabila diri kami dianggap bangsa Indonesia tidak perlu ada. Ummat Islam dengan segala kelebihan-kekurangannya, dengan segala kekuatan-kelemahannya adalah entitas nyata negeri ini. Kita tetap sedia berkontribusi dalam keindonesiaan namun kita menolak untuk diasimilasi menjadi seorang Nasionalis, apalagi Pancasilais. Cara kami hidup, berpikir, dan memutuskan berbeda jauh dengan seorang Nasionalis. Lagi pula kontribusi dalam keindonesiaan bukanlah harga mati. Sebuah perjanjian kebangsaan Indonesia selalu tetap memberi ruang bagi kaum Islamis untuk terus ikut atau mundur dari perjanjian luhur bangsa ini.

Diluar persoalan keindonesiaan, Ummat Islam tetap harus bisa menentukan kebebasan seribu langkah yang telah dimilikinya. Kita harus punya jiwa merdeka untuk melakukan langkah mahapenting tersebut. Revolusi Islam adalah kelanjutan historis Revolusi Indonesia karena ia telah jadi takdir Allah SWT atas bangsa kita. Ummat Islam akan melakukan langkah berani untuk memperluas arti bangsa menjadi kesadaran ras Melayu (manusia Asia Tenggara berkulit sawo matang) dimana pribumi muslim adalah core society-nya dan bukan lagi terkungkung dalam konsep kewarganegaraan Republik Indonesia. Ummat Islam akan menyemaikan visi Wawasan Nusantara adalah tanah yang dihuni oleh pribumi muslim sehingga wilayah fisik negeri kita jauh melebihi luas Sabang-Merauke sebagaimana diketahui rakyat Indonesia sekarang. Prinsip anti-SARA harus kita terobos habis karena kita ternyata bisa menemukan kebaikan-kebaikan baru dari penggalian SARA, Suku-Agama-Ras-Antargolongan. Kebaikan Islam dan ideologi Islam ada di dalam inisial A(gama) dan A(ntargolongan).

Revolusi Islam adalah kontribusi agung ummat Islam dalam bertanggungjawab kepada ras-nya sebagaimana yang diperintahkan Allah Alla wa Jalla. Revolusi Islam memiliki derajat yang lebih istimewa dibanding jika harus mengabdi sampai mati kepada NKRI. Visi besar ini akan menjadi hujjah tak terbantah bahwa ummat Islam mustahil jadi pengkhianat bangsa.

Penutup

Keengganan orang Islam pribumi untuk menjadi Islam yang sebenarnya, menjadi dirinya sendiri, adalah tindakan pengkhianatan sesungguhnya karena telah memilih untuk diam saja melihat bangsa melayu ini hancur di hadapan jaman. Lalu siapakah penyelamat yang kalian nantikan? Apakah sedang menantikan bangsa lain sebagai juru selamat bangsa kita. Apakah engkau menantikan saviour dari orang-orang kulit putih, superhero bule keren ala film Hollywood? Apakah umat ini menanti seorang hartawan taipan Cina peranakan datang membagi-bagikan kekayaannya kepada pribumi miskin? Ketahuilah ilusi tersebut takkan pernah terjadi.

Kegagalan ummat Islam mengukuhkan jatidirinya hanya akan melanggengkan atau bahkan memperparah keburukan yang selama ini terjadi di dalam masyarakat kita. Ketakutan kita untuk beridentitas Islam menjadikan umat Islam negeri ini laksana buih jaman yang dipermainkan dan didikte golongan lain sesuka hatinya. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika mereka sendiri tidak punya kehendak untuk berubah memperbaiki diri. Sadarilah bahwa cita-cita kejayaan Islam tidak akan diusung oleh golongan lain. Kaum Nasionalis tidak akan mencita-citakan Syariat Islam berdaulat. Demikian pula golongan Sosialis tidak pernah punya keinginan mencari ridha Allah atas kehidupan negeri ini. Sebab cita-cita mulia tersebut hanya milik kita, kaum Islam yang sebenarnya.

Kita tidak bisa mengandalkan perjuangan kaum Nasionalis yang kian hari kian jumud dan pudar ideologi Marhaenismenya. Tujuh puluh tahun kepemimpinan bangsa di tangan Nasionalis hanya menjadikan negeri kita makin terpuruk. Kita tidak mungkin lagi mempercayakan keselamatan negeri dan semua penduduknya kepada pihak yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang digerogoti oleh dekadensi liberalisme sedikit demi sedikit.

Yang ada sekarang tinggal kita, pribumi muslim, dengan segala kehendak bebasnya untuk memilih apakah dia akan bangkit kesadarannya untuk kembali menjunjung perintah Allah SWT ke atas pundaknya. Perintah suci yang mengisyaratkan untuk menyelamatkan seluruh bangsanya dari angkara rezim Globalisasi. Apakah dia berani menerobos kekerdilan jiwa dan memberanikan diri untuk menjadi seorang Islam sejati? Para Pejuang Revolusioner Islam yang sangat yakin dengan ideologi Islam yang dianutnya. Ummat Islam yang tidak lagi individual egois hanya mengejar surga untuk dirinya sendiri melainkan ummat Islam yang mau mengabdi melayani ummat untuk mewujudkan tatanan Islam di dunia.

Ketiga langkah menjadi ummat Islam yang sebenarnya seperti dipaparkan di atas tidak bisa dilakukan hanya dipicu motif individual agar terlihat gagah, jagoan, atau semata petualangan hidup. Kepentingan ummat terlalu berharga untuk diselewengkan melayani jiwa-jiwa oportunis yang sesat. Perjuangan revolusi ini bukan permainan akbar atau tempat uji nyali melainkan perjuangan sejati yang menuntut banyak sekali pengorbanan dari para pengusungnya. Semua syuhada telah mencontohkannya kepada kita dengan jelas. Karena dengan cara itulah Syariat bisa dimenangkan di negeri ini. Inilah jalan agar Syariat bisa dimulai sebagai rahmatan atas negeri kita sendiri dulu sebelum menawarkannya menjadi rahmatan lil alamiin bagi seluruh dunia.

Kini tiada alasan untuk ragu. Tiada alasan untuk takut. Tiada alasan untuk khawatir. Yang ada cuma yakin. Keyakinan bahwa Allah akan memenangkan segala urusan-Nya walaupun banyak manusia kufur berkeberatan. Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang jadilah sebagai Pejuang Revolusiner Islam! Kita akan haru biru dan gempitakan negeri Nusantara. Akan kita tulis sejarah Nusantara di atas lembaran laman Lauhul Mahfudz dengan tinta emas ketakwaan bangsa kita, muslimin berkulit sawo matang.

Sejak pertama kali kami berikrar sebagai golongan Islam, kami tidak pernah menyesali keputusan itu. Keputusan penting yang malah membuka cakrawala kami atas realitas negeri ini. Inilah ajang bagi seorang Islam untuk membuktikan diri apakah dia mampu jadi manusia yang bermanfaat bagi manusia di sekitarnya. Mampu membuktikan bahwa nama ‘umat terbaik di muka bumi’ bukan sekadar isapan jempol atau takhayul cerita nenek moyang. Camkanlah ini! Sadarlah pemuda Islam, jadilah Ummat Islam yang sebenarnya, dan tinggalkanlah pikiran Nasionalis keindonesiaan yang koruptif dan anarkhis seperti sekarang. Mari kita bangun negeri ini sebagai Nusantara baru yang diridhai Allah Yaa Hayyu Yaa Qayyum.

 

2 respons untuk ‘Kini Saatnya Jadi Ummat Islam yang Sebenarnya

    1. Mari kita berjuang memerdekakan negeri negeri muslim yang terjajah oleh sistem Jahiliyah, Insya Allah NII tetap konsisten dengan perjuangan yang telah di canangkan sejak awal diproklamasikan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s