Jawaban Tegas Atas Penyesatan Manipulatif Oleh Abu Maisarah Dan Majalah Dabiq

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala pujian hamya milik Allah. Kami memujaNya, memohon perlindungan padaNya, memohon petunjuk dariNya, serta memohon ampun dan bertaubat padaNya. Kami berlindung pada Allah dari keburukan diri kami, dan dari keburukan amalan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan baransiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikannya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah yang tiada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [QS. Al-Ahzab: 70-71]

Amma ba’du:

Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad yang telah bersabda:

من قال في مؤمن ما ليس فيه أسكنه ردغة الخبال يوم القيامة حتى يخرج مما قال

“Barangsiapa yang berkata tentang seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, maka ia akan dibenamkan dalam ‘radghatul khabal’(lumpur yang berasal dari sari keringat penduduk neraka) hingga keluar dari apa yang ia katakan itu” [HR. Abu Dawud no. 3597 dengan sanad yang shahih]

Rasulullah juga telah bersabda:

ومن استمع إلى حديث قوم وهم له كارهون صب في أذنيه الآنك يوم القيامة

“Barangsiapa yang menguping sesuatu kaum, sedangkan mereka benci kalau hal itu didengar olehnya, maka dituangkanlah di kedua telinganya itu timah yang cair pada hari kiamat” [HR. Al-Bukhari]

Telah beredar sebuah makalah yang ditulis oleh Abu Maisarah As-Syami yang bernama asli Thaha Subhi atau yang di kalangan pengikutnya ia lebih dikenal dengan nama Abu Muhammad Al-Adnani. Makalah tersebut membeberkan bocoran isi surat Syaikh Abu Iyadh At-Tunisi kepada Syaikh Dr. Ayman Az-Zhawahiri.

Sebagaimana kebiasaan makalah-makalah yang disebarkan oleh majalah sumber kefasikan bernama Dabiq, maka makalah yang satu ini juga berisi penuh dengan dusta dan kebohongan. Si penulis makalah adalah seorang jagoan dari gerombolan tidak berilmu dan tidak berpengalaman, ia telah memanipulasi dan memutarbalikkan fakta. Oleh karena itu saya merasa perlu melemparinya dengan tombak yang berupa tanggapan ini, dengan izin Allah tombak ini akan menusuk dada setiap mereka yang telah merusak dan membusukkan jihad serta menyerang Tandhim Qaidatul iIhad.

Dengan nama Allah dan taufikNya saya katakan:

Sesungguhnya metode yang paling utama yang dijalankan para thagut hari ini adalah memupuk dan merawat bibit-bibit ghuluw. Orang-orang ghuluw adalah mereka yang sibuk dengan vonis kafir terhadap perkara-perkara yang bukan penyebab kekafiran. Metode selanjutnya adalah dengan menginfiltrasi atau menanam mata-mata dalam jama’ah kaum muslimin, terlebih jika jama’ah tersebut adalah jama’ah yang telah digerogoti virus ghuluw dan khawarij.

Berbicara tentang kaum Khawarij, maka kita harus mengetahui bahwa kaum Khawarij di masa lalu tidaklah sama dengan Khawarij yang ada pada hari ini. Sungguh Khawarij zaman ini telah mengumpulkan karakteristik taqiyah Rafidhah, sikap ekstrim Khawarij, akhlak orang-orang fasik, dan keangkuhan orang-orang durhaka.

Sebelum kita masuk ke inti permasalahan, mari kita sama-sama mengkaji hukum mencari-cari kesalahan kaum muslimin “Tajassus” terlebih dahulu.

Sahl bin Abdullah Al-Tustari pernah berkata: “Barangsiapa ingin selamat dari gibah maka hindarilah pintu prasangka, barangsiapa yang selamat dari prasangka ia selamat dari tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain), siapa yang selamat dari tajassus ia selamat dari ghibah, siapa yang selamat dari ghibah, selamat dari kepalsuan dan barangsiapa yang selamat dari kepalsuan ia akan selamat dari dusta (buhtan).

Tajassus adalah salah satu dari dosa-dosa terbesar dalam syariat kita, semoga Allah melindungi kita dari dosa ini. Pelaku tajassus adalah orang yang fasik, sedangkan lawan dari tajassus adalah berlaku adil.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami mendefinisikan tajassus dengan: “Membocorkan sesuatu hal yang tidak diridhai oleh yang bersangkutan, baik itu dibocorkan dengan cara diceritakan kepada orang lain, diumumkan dengan ucapan atau dengan tulisan ataupun dengan wasilah lain.”

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu telah berkata: “Barangsiapa yang melihat buku saudaranya tanpa izin, maka dia sedang melihat neraka.”

Allah Ta’ala telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنْ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus)” [Al-Hujurat: 12].

Rasulullah telah bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta”

Metode mengumpulkan data dari kaum muslimin dengan cara tajassus adalah metode yang turun temurun digunakan oleh Fir’aun, kemudian dilanjutkan oleh para penguasa tiran, dan kini oleh Khawarij zaman ini. Perhatikanlah bagaimana para penguasa tiran mememerangi jihad melalui berbagai wasilah, baik dengan cara tajassus oleh lembaga intelijen, dan juga dengan merusak citra jihad melalui media massa yang busuk. Diantara para penguasa tiran yang paling ahli dan paling berpengalaman dalam menerapkan tajassus adalah Saddam Husein. Melalui berbagai lembaga yang dipimpin oleh kader-kader partai Ba’atsnya ia mengontrol informasi. Dan kini tidak mengherankan mengapa Jama’ah Daulah menjadi ahli dalam mengikuti metode ini, ini dikarenakan intisari Ba’ats di era Saddam Husein adalah juga intisarinya Jama’ah Daulah hari ini.

Demi Allah yang Maha Besar, lihatlah bagaimana Jama’ah Daulah sedang menghancurkan tataran jihad dengan skandal tajassus. Mereka ingin mengancam stabilitas Al-Qaidah dengan cara membocorkan sebuah dokumen yang mereka curi.

Lihatlah bagaimana Abu Maisarah sedang menghukumi dengan berdalilkan dokumen yang ia curi. Dengan membabi buta ia menfitnah Syaikh Abu Iyadh yang sebenarnya tujuan utama beliau adalah hendak menyelamatkan darah mujahidin dan menyatukan barisan mereka walau memang terkesan sedang mengadu nasib dan keberuntungan.

Abu Maisarah telah menyelewengkan maksud kalimat dari yang sebenarnya. Ia memberondong Syaikh Abu Iyadh berdasarkan surat yang berhasil ia curi melalui bantuan para pengkhianat keji yang tidak menunaikan amanah menyampaikan surat tersebut kepada yang berhak menerimanya. Demi Allah, apakah seperti ini akhlak orang-orang yang sedang menunaikan puncak tertinggi ibadah dalam Islam!?

Benar surat itu memang pernah dikirimkan, tatkala banyak dari para masyayikh mujahidin dan para penuntut ilmu diantara mereka sedang berupaya mendamaikan antar mujahidin dan menghentikan fitnah. Namun malangnya saat itu kami masih belum mengetahui hakikat ghuluw yang ada dalam Jama’ah Daulah, dan sebelum mereka terang-terangan mengkafirkan para mujahidin shalih yang mulia.

Abu Maisarah dan majalah fasik Dabiq memiliki perangai culas dan curang, mereka menampilkan sebagian konten surat dan menyembunyikan bagian lainnya.

Syaikh Abu Iyadh telah menulis dalam surat tersebut: “Wahai Syaikh yang tercinta (Syaikh Ayman Az-Zhawahiri –red), sesungguhnya saya sedang menunaikan kewajiban memberikan nasehat sebagaimana diwajibkan atas kita oleh dien ini, karena dien adalah nasehat. Nasehat saya ini adalah untuk menyentuh kelembutan hati, pikiran dan kebijaksanaan anda yang telah diakui baik oleh musuh dan kawan. Saya juga berharap semoga Allah meninggikan derajat diri anda di dunia dan akhirat.

Saya menganjurkan pada anda wahai Syaikh tercinta pada hari ini untuk menjadi layaknya Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhuma.”

Demi Allah wahai anda pembaca yang jujur, apakah ucapan diatas bertujuan untuk memecah belah jama’ah? Hendaknya ucapan seseorang dibawa sesuai dengan arah yang dimaksudkan oleh yang punya ucapan. Terlebih lagi jika disana terdapat perumpamaan, di mana Syaikh Abu Iyadh telah memberikan perumpamaan dan qiyas yang menganjurkan untuk masuk ke dalam Daulah untuk memperbaiki hubungan antar mujahidin pertama, dan kedua untuk memperbaiki keadaan Daulah yang mulai hilang kendali. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Hasan bin Ali tatkala yang menyerahkan kekhilafahannya pada Muawiyah semoga Allah meridhai mereka semua. Begitulah seharusnya kalimat ini diartikan.

Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama.

Apakah hati Abu Maisarah telah buta terlebih matanya untuk memahami maksud dari perkataan Syaikh Abu Iyadh?

Atau ia memang sengaja ingin menghasut dan memanipulasi informasi untuk para pengikutnya?

Atau ia ingin memberikan teladan busuk untuk para pengikutnya untuk menghalalkan segala cara?

Silahkan anda para pembaca yang memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan diatas dengan objektif dan terhindar dari hawa nafsu serta fanatisme kelompok.

Wahai pembaca yang mulia, mengapa Abu Maisarah melompat dari paragraf yang kita bahas diatas? Jika anda memiliki makalah dari Abu Maisarah, saya sarankan untuk anda baca kembali, dan kemudian bandingkanlah! Lalu tanyakanlah hati anda bukankah Abu Maisarah sedang berdusta, menyesatkan, dan menipu?

Abu Maisarah telah dimanjakan untuk menyebar berbagai dusta di majalah sumber kafasikan bernama Dabiq. Kali ini ia ingin melempar beberapa burung sekaligus hanya dengan satu batu. Ia mengira bahwa kali ini, dengan makalahnya tersebut ia bisa memprovokasi musuhnya dan memuaskan kedunguan para pengikutnya. Ia menjadikan surat Syaikh Abu Iyadh tersebut sebagai senjata pembenaran atas apa yang berlaku di dalam jama’ahnya, seperti pengkhianatan dan pembelotan orang-orang yang meninggalkan jama’ah mereka terdahulu secara sepihak untuk bergabung dengan Daulah.

Provokasi inilah yang sedang ia dengungkan karena kebutuhan mereka kepada para muhajirin, setelah banyaknya anggota mereka yang dikorbankan dalam berbagai pertempuran yang sia-sia. Seperti yang terjadi dalam pertempuran Kobane, di mana ribuan muhajirin tewas dibantai. Orang-orang yang berada dalam Jama’ah Daulah mengetahui benar apa yang saya katakan ini. Namun Majalah Dabiq dengan sangat menjijikkan telah memanipulasi fakta dengan penuh kedustaan yang naif.

Namun sebagian dari mereka ada yang bersikukuh bahwa jika para muhajirin mundur dari Kobane, maka itu adalah dosa besar melarikan diri dari medan perang. Apakah wajib bagi mujahidin untuk mati dengan konyol? Apakah mundur dari medan perang yang mustahil dimenangkan dan tidak ada kesempatan untuk bertahan adalah termasuk dosa lari dari medan perang? Bukankah ini diatur dalam fiqh perang gerilya? Atau si Abu Maisarah memang menilai bahwa permbantaian di Kobane adalah bagian dari agenda politik terselubung?

Poin terpenting yang dapat diambil oleh pembaca makalah yang disebarkan oleh Dabiq baru-baru ini adalah si penulis makalah ingin menggiring pembaca untuk melakukan penghakiman dengan berbekal dokumen curian dan dengan sebuah cerita yang dikisahkan oleh Abu Syu’aib Al-Misri. Setelah ia berlepas diri dan merasa sok suci atas pembantaian ribuan muhajirin di Kobane, ia juga meluapkan amarahnya atas peristiwa keluarnya lebih dari 70 orang anggota Daulah di Yaman. Dan bukan rahasia lagi setelah Daulah menelantarkan ribuan muhajirin untuk dibantai di Kobane, banyak sekali anggotanya yang keluar dan membelot, baik itu di Syam maupun di Yaman. Dan bukan rahasia juga bahwa arus muhajirin besar datang dari Tunisia dikarenakan rezim tiran Tunisia sengaja membiarkan mereka ke Suriah dan menjaga ketat agar mereka tidak ke Libya.

Sesungguhnya upaya Abu Maisarah yang menyerang dan mendeskreditkan Syaikh Abu Iyadh dan Al-Qaidah muncul karena kekesalannya menyadari mayoritas orang-orang yang berilmu, para penggerak jihad, dan para senior di Tunisia tetap masih setia diatas manhaj dan akhlak Al-Qaidah. Karena mereka yakin bahwa manhaj yang diusung Al-Qaidah adalah manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, bukan manhaj ghuluw dan ekstrim. Sesungguhnya perang membutuhkan lelaki yang bijak dan penuh perhitungan, sebagaimana yang telag diisyaratkan oleh Umar bin Khattab. Dan seandainya perang di Tunisia akhirnya pecah, dan kondisi semakin mengarah kesana, maka para ulama inilah kelak yang akan membimbing dan mengarahkan para pejuang dan mujahidin.

Hendaknya Abu Maisarah sadar bahwa umur jama’ahnya yang telah berjalan setahun atau dua tahun tidak memberikan perubahan apapun pada tatanan dunia. Sesungguhnya khilafah ala minhajin nubuwah yang dijanjikan oleh Rasulullah benar akan kembali di akhir zaman, namun bukan dengan cara menebar teror bom dan ranjau kepada kaum muslimin. Sipapun yang masih waras pasti tahu bahwa kalian adalah kumpulan orang-orang arogan yang haus akan kekuasaan dan menghalkan segala cara demi obsesi itu, dan kalian sama sekali bukanlah Khilafah ala minhajin nubuwah.

Abu Maisarah dalam makalahnya juga berargumen dengan berbagai dalil akan kewajiban mentaati pemimpin dan kewajiban memerangi siapapun yang menentang khilafah. Maka kita katakana padanya: Apakah khilafah anda telah menerapkan hukum Allah di setiap tempat yang mereka klaim sebagai wilayah mereka seperti di Aljazair, Yaman, dan Libya? Kemudian apakah kalian benar-benar khilafah jika ternyata kalian menjalankannya dengan cara tak lebih dari sebuah jama’ah!?

Jika kalian dengan mudahnya menvonis dan mengutuk orang-orang yang pernah bersama kalian, yang kecewa terhadap komando kalian di Yaman, hingga kalian sematkan gelar “Para Pengikut Jihad Yahudi”. Maka bagaimanakah kalian akan memperlakukan masyarakat awam yang ada dalam wilayah kalian?

Lalu mengapa kalian tidak menjawab tantangan mubahalah Abu Khaibar dan Suhaib Al-Awlaqi dan para mantan pengikut kalian yang lainnya? Bahwa mereka tidak pernah diutus oleh Al-Qaidah Yaman untuk memecah barisan kalian!

Demikianlah tanggapan saya atas penyesatan manipulatif makalah Abu Maisarah yang dipublikasikan oleh majalah fasik bernama Dabiq.

Middad Al-Kulasyi

Satu respons untuk “Jawaban Tegas Atas Penyesatan Manipulatif Oleh Abu Maisarah Dan Majalah Dabiq

  1. Afwan,
    Abu Maisarah As-Syami merupakan nama Samara untuk Abu Sulaiman Asy-syami yg memiliki nama asli Ahmad Abdul Badi’ Abu Samrah. Beliau merupakan penulis dalam majalah dabiq. Biografi beliau terdapat pada majalah Rumiyah edisi 8.

    Sedangkan Abu Muhammad al-adnani merupakan juru bicara IS dimasanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s