Peta Politik Kontemporer Republik Indonesia dibawah Bayang Bayang Kebangkitan Negara Islam Indonesia

Politik, adalah sebuah tatacara dalam pengaturan ketatanegaraan. Untuk memahami Negara maka kita harus memahami politik (political science). Dan untuk memahami siapa saja atau kelompok mana saja yang berpengaruh dalam sebuah Negara (baik yang berkuasa ataupun yang tidak) maka kita harus mampu membacanya melalui pemetaan politik.

Sepintas Sejarah Perpolitikan Indonesia

Kekuasaan yang ada saat ini tidak terlepas dari perjalanan politik di masa lalu. Hadirnya penguasa ataupun para oposan tidak serta merta muncul tanpa proses politik. Mereka muncul setelah melalui proses panjang sejarah yang dilaluinya lewat political struggle (pertarungan politik), ideology diffuses (pembauran ideologi), international conspiracy (konspirasi internasional), serta aksi-aksi politik lainnya. Hingga akhirnya seperti layaknya hukum barbar, siapa yang kuat maka merekalah yang bertahan. Dan yang kalah mereka melakukan gerakan bawah tanah atau muncul dengan varians baru yang telah melalui berbagai penyesuaian ideologi dan pandangan politik.

– Pra Kemerdekaan

Munculnya gerakan politik modern di Indonesia diawali dengan kebijakan Pemerintah Kerajaan Belanda untuk melaksanakan Politik Etis di wilayah jajahannya. Setelah kebangkrutan VOC (perusahaan Belanda yang memegang hak monopoli dalam pengeloloahan daerah jajahan di Nusantara) dan perjalanan menyakitkan ketika Belanda menerapkan kebijakan Culture Stelsel, Politik Etis mampu dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat pribumi. Dari mulai didirikannya sekolah-sekolah modern hingga hak untuk berserikat mampu memunculkan semangat terutama generasi muda dalam beraktifitas di dunia politik. Diawali oleh ISDF (1897) pimpinan Sneevelt (Sosialis) kemudian diikuti SDI (1905) pimpinan H.Samanhudi (Islam), Budi Utomo (1908) (Nasionalis) dan organisasi massa lainnya, hingga akhirnya Belanda memberikan hak berpolitik formal secara kooperatif lewat Volksraad (semacam DPR).

Berikutnya muncul 3 kelompok kekuatan Politik di Indonesia, diantaranya adalah :

  1. Islam, SI (Syarikat Islam)
  2. Nasionalis, PI (Perhimpunan Indonesia), PNI (Partai Nasionalis Indonesia)
  3. Marxis, Banyak bergerak di bawah tanah, ISDV sendiri dibubarkan karena terlibat pemberontakan buruh, kemudian menyusup ke Syarikat Islam cabang Semarang membentuk SI Merah (cikal bakal PKI).

Pada akhirnya banyak dari organisasi yang ada melakukan pembauran ideology karena interaksi diantara mereka. Akan tetapi pada masa berikutnya mereka kemudian memisahkan diri membentuk kelompok masing-masing. Sebagai contoh Masyumi (Majelis Syuro Muslimin) merupakan satu-satunya partai yang menghimpun kekuatan Islam, kemudian beberapa tahun kemudian PSII memisahkan diri diikuti oleh NO (Nahdlatoel Oelama, NU sekarang) pada tahun berikutnya.

Yang paling menarik adalah semangat yang muncul dikarenakan kebangkitan Asia dengan menggunakan symbol Negara Jepang. Setelah Restorasi Meiji Jepang menjadi kekuatan baru di Asia, mengalahkan tentara Rusia pada tahun 1905 menjadikan Jepang sebagai idola bagi kaum Nasionalis. Dan Pemuda Soekarno adalah salah satu contoh diantara kaum Nasionalis yang menjadi Agen Jepang. Jepang menggunakan kemampuan rethorika Soekarno untuk meyakinkan rakyat Indonesia menerima Jepang sebagai penjajah mereka. Seluruh program penjajahan Jepang dijembatani oleh kaum Nasionalis (yang rata-rata memempunyai kemampuan rethorika yang tinggi) untuk diterapkan di Indonesia. Soekarno sebagai boneka terdekat Jepang akhirnya menerima pembalasan setimpal ketika bersama kaum Nasionalis lainnya dipersiapkan untuk mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia (setelah Jepang meyakini bahwa mereka kalah Perang). Kenapa Jepang memilih kaum Nasionalis menjadi pelanjut dalam estapeta kepemimpinan di Indonesia? Karena kaum Nasionalis-lah yang paling dekat dengan ideology mereka yang ultra Nasionalis/Fasis (pelanjut idea Pan Asia) dibandingkan dengan Islam atau Marxis. Islam yang beberapakali melakukan pemberontakan terhadap Jepang (atas penolakan beberapa program Jepang) mempunyai ideology yang bertentangan dengan Nasionalisme dan kaum Marxis yang merupakan musuh utama mereka di Cina, mempunyai program tersendiri untuk program internasionalnya.

Soekarno dan kaum Nasionalis lainnya akhirnya mampu memanfaatkan kedekatan mereka dengan Jepang, dan berdirilah Republik Indonesia yang pada dasarnya tidak diakui oleh seluruh rakyat Indonesia.

– Era Soekarno

Keberhasilan kaum Nasionalis dalam mendirikan sebuah Negara tidak terlepas dari munculnya pribadi Soekarno yang mampu meyakinkan beberapa aktivis gerakan lainnya yang sebenarnya berbeda ideology seperti dari Sosialis Barat (Sutan Syahrir, Syafrudin Prawiranegara) dari Islam (Wahid Hasyim, Abikusno Cokrosuyoso), Marxis (Tan Malaka, Semaun) untuk tidak menolak berdirinya Negara Republik Indonesia. Akan tetapi pada akhirnya setelah Negara berdiri kalangan yang masih memegang teguh ideology asli mereka dengan serta merta menolak eksistensi Republik Indonesia terutama setelah loby politik yang gagal pada perjanjinan Renville (1948) dimana territorial Republik hanya tinggal sebatas Jogja.

Dengan kosongnya territorial diluar itu (status quo) Partai Komunis Indonesia (Marxis Leninisme) akhirnya memproklamasikan berdirinya Negara Komunis Indonesia di Madiun yang dimotori kader utama mereka yang baru pulang dari pengkaderan di Moskow, Muso. Sedangkan SM Kartosuwirjo yang didukung oleh sebagian besar kader Masyumi yang konsisten terhadap Ideologi Islam, Hizbullah, Sabilillah, GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), para Ulama di Jawa Barat, dan berbagai elemen masyarakat lainnya mendirikan Negara Islam Indonesia. Kemudian diikuti oleh Aceh dan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi (Maluku+NTB).

Berbeda dengan Negara Islam Indonesia yang tidak pernah menyerah hingga Imam Asy Syahid SM Kartosuwirjo di eksekusi, Komunis setelah kegagalan pendirian negaranya maka kader-kader berikutnya malah bergabung dengan Republik Indonesia dengan mengaktifkan kembali Partai Komunis Indonesia melakukan strategi politik kooperatif (untuk mempersiapkan kudeta di kemudian hari).

Setelah Soekarno muncul menjadi rejim Diktator, Soekarno merangkul empat kekuatan besar untuk berkoalisi dalam cabinet berkaki 4 yang mencerminkan dominasi mereka, Masyumi, NO/NU, PNI, PKI. Toh pada akhirnya mereka tidak pernah berhasil disatukan dalam koalisi yang kompak.

Masyumi bersama PSI akhirnya terlibat pemberontakan PRRI/Semesta dan kemudian diikuti oleh PKI yang bersaing ketat dengan militer (sekutu CIA /Amerika) dan mengakibatkan jatuhnya Soekarno dalam kudeta halus para Jendral pro Amerika. Kemudian memunculkan sosok Jendral Soeharto sebagai rejim baru di Republik.

– Era Soeharto

Soeharto yang mendapat julukan The Smiling General merupakan politikus bertangan dingin ahli strategi yang mampu mengorbankan temannya demi kepentingan kelanggengan kekuasaanya. Mempunyai jargon politik pamungkas Asas Tunggal (Pancasila) untuk menghancurkan semua lawan-lawan politiknya. Dengan back up badan intelegent yang kuat dan dukungan Amerika mampu menjadikan politik Indonesia melalui masa paling suram dalam sejarah berdirinya Negara ini. Dengan politik propaganda pembentukan stigma terhadap dua lawan politik terbesar (Komunis dan Islam) Soeharto mampu bertahan hingga hampir 30 tahun meski harus berdarah-darah.

Saat memimpin Soeharto yang didukung penuh oleh militer memberlakukan konsep kenegaraan mirip Negara komunis. Partai politik secara bertahap di eliminir hingga 10 partai yang kemudian pada tahun 1977 menjadi 3, itupun kemudian di interfensi secara ideologis melalui asas tunggal, hingga praktis dua partai politik menjadi partai boneka saja. Parlemen di kebiri hak-hak politiknya hingga tidak pernah muncul oposisi, jika saja ada partai, atau anggotanya yang tidak sefaham dengan manifesto politik Soeharto, maka mereka akan ditarik dari arena. Soeharto layaknya The God Father (pimpinan mafia) adalah sosok yang tidak terbantahkan. Praktis pada saat itu seluruh kekuatan politik melakukan under ground movement (gerakan bawah tanah) untuk menghindar konfrontasi langsung selama belum kuat. Akan tetapi keahlian Soeharto dalam bidang militer sebagai ahli strategi, mampu membongkar beberapa gerakan sebelum besar, dengan melalui penyusupan kader-kader intelegent, memancing gerakan untuk terbuka, memberlakukan beberapa daerah rawan menjadi daerah operasi militer, dll.

Kediktatoran Soeharto akhirnya mulai melemah setelah beberapa kelompok pendukung utama mulai tidak loyal dan menjauh. Akhirnya Soeharto hanya mempunyai politikus-politikus oportunis yang didukung oleh floating mass (masa mengambang/tidak idealis). Nepotisme didalam tubuh militer mengakibatkan terjadinya konflik internal antar kubu yang mencoba untuk lebih mendominasi antara satu dengan yang lainnya. Dilain pihak gerakan bawah tanah dari beberapa kelompok politik malah semakin menguat, diantaranya adalah Marxis/Marhaenis (PDI-Megawati, LSM-LSM kiri), Islam (Tarbiyah, eks Masyumi, Kebangsaan/NU non pemerintah), Liberal (LSM-LSM barat). Dengan konspirasi Amerika yang tidak terdeteksi, akhirnya Soeharto berhasil digulingkan dengan kudeta tak berdarah oleh kelompok yang mengatasnamakan dirinya kaum reformer (lebih tepatnya sebagai kelompok “anti Soeharto yang ingin berkuasa”) didukung penuh oleh Amerika mereka berhasil merubah Republik dari setengah Komunis menjadi Kapitalis Liberal.

– Paska Reformasi

Liberalisasi Politik yang dilakukan oleh kaum Reformis berhasil memunculkan berbagai kekuatan politik yang ada di Republik Indonesia, dari politikus idealis hingga politikus oportunis berhasil mengekspresikan idea politik mereka demi posisi di eksekutif maupun legislatif dari pusat hingga desa-desa. Perubahan baru yang mengalihkan aliran dana dari kroni-kroni Soeharto berubah menyebar ke seluruh daerah yang pada dasarnya jauh lebih boros dan memunculkan lebih banyak jenis kroni dan Soeharto-soeharto baru. Para penguasa betul-betul membagi habis jatah rakyat demi kemunculan raja-raja baru tanpa idealism dan empati.

Pada awalnya liberalisasi politik berhasil memunculkan harapan nisbi bagi kaum idealis baik nasionalis, marxis, maupun islam. Mereka bebas membentuk partai tanpa syarat-syarat ketat, tetapi pada akhirnya euphoria tersebut hilang. Mereka kaum idealis itu lupa, bahwa Liberalisasi yang ada adalah Liberalisasi gaya America, Liberal Kapitalisme. Idealisme yang dapat diterima adalah yang berdasarkan Kapitalisme. Paradigm yang harus dimunculkan adalah untung rugi, kekuatan uang. Rakyat yang juga terdoktrin oleh bahasa-bahasa kaum berjuis berhasil terbawa arus dan menjadikan politik sebagai lahan subur untuk mengisi perut mereka yang lapar.

Yang berhasil berkuasa didalam system kapitalis ini adalah mereka yang mempunyai cukup uang untuk menyumpal mulut-mulut yang sudah tidak perduli lagi dengan mimpi ideologis. Dan jadilah tatanan politik di Republik saat ini tidak jauh berbeda dengan perusahaan besar yang merupakan gabungan dari perusahaan-perusahaan kecil (Holding Company). Politikus layaknya bisnisman-bisnisman yang didalam otaknya hanya tertera kata ”profit”, “investasi”, “asset”, dan kata sejenis lainnya. Sedangkan “Rakyat”, itu hanya sebuah kata kunci saat kampanye politik 5 tahun sekali.

Sepintas Tentang Demokrasi, Liberalisme, dan Human Rights

Demokrasi adalah jargon politik paling populer paska reformasi, rakyat Indonesia terlalu awam untuk memahami bahwa Demokrasi adalah senjata jitu bagi Zionist melalui Amerika menguasai Dunia termasuk Indonesia didalamnya. Sebelum Demokrasi menjadi andalan utama, Zionist menggunakan kata Kebebasan (Liberalisme) dan Persamaan Hak (Human Rights) dan Amerika Serikat adalah target awal penguasaan Zionist terhadap Dunia.

Sejak awal Revolusi Amerika para petinggi Amerika (terutama George Washington) menggunakan dua kata itu untuk merekruit (membodohi) tentara mereka dari sekumpulan rakyat yang lapar saat para berjuis Amerika membebaskan diri dari Inggris, dan Abraham Lincoln sebagai kader utama Freemansonry (organisasi induk Zionist) berhasil menguasai Amerika Utara (USA sekarang) secara keseluruhan sebagai kemenangan berikutnya.

Amerika Serikat mulai meng-ekspor ideology Liberal setelah organisasi Zionist terbentuk dan berhasil memunculkan ide “yang tersimpan” mereka untuk kembali ke “Tanah Harapan Yang Dijanjikan” (Palestina) untuk memunculkan basis kedua setelah daratan Amerika terkuasai. Setelah Palestina menjadi target dimana areal ini merupakan pusat dari tiga benua besar (Afrika, Eropa, Asia) saat itulah Amerika Serikat melalui Propaganda (News), Politik (Persekutuan), dan Senjata (Perang) berusaha menguasai Dunia lainnya dengan menyebar luaskan faham Liberalisme dalam dunia politik dan social budaya serta perekonomian.

Liberalisme hanya mampu berkuasa di suatu Negara jika dan hanya jika Negara tersebut menganut faham Demokrasi dalam system politik mereka. Dan Demokrasi dapat dianut oleh suatu Negara jika dan hanya jika rakyat disana menganut faham Kebebasan mutlak, Kebebasan Mutlak dapat muncul dalam paradigm rakyat jika dan hanya jika Human Rights (Hak Asasi Manusia) mampu melebihi limit Hak Tuhan terhadap dirinya sendiri. Mind Set ini telah berhasil diterapkan di hampir seluruh masyarakat dunia saat ini, dimana eksistensi Tuhan telah dihilangkan tenggelam dibawah lautan hak kebebasan manusia menurut versinya (hawa nafsu) inilah yang disebut terbebasnya hak asasi mutlak (Freedom of Human Rights).

Setelah Liberalisme menjadi sebuah kultur dalam setiap individu maka langkah berikutnya melalui Demokrasi (Kebenaran adalah suara terbanyak) Liberalisme dapat menjadi sebuah Ideologi Politik secara Legal (meskipun dibalut bahasa daerah masing-masing, contohnya di Indonesia. Pancasila sebagai Ideologi Absurb berhasil dijadikan bungkus berkembangnya faham ini)

Human Rights dan Liberalisme adalah dua kata “indah” yang sangat berbahaya jika direalisasikan dalam bentuk manifesto politik dan sosial budaya. Dua kata ini akan menghancurkan eksistensi Tuhan dalam kekuasaan Politik. Yang pertama hancur oleh dua kata ini adalah Agama Naserani yang memunculkan ide ‘suara rakyat adalah suara Tuhan”, sehingga banyak dari perjanjian baru telah direvisi oleh para Pastur dan Pendeta setelah beberapa doktrin agama mereka dianggap tidak dapat diterima lagi oleh kalangan rakyat banyak (dianggap tidak adil/tidak masuk akal).

Dan ketika Liberalisme ini menjadi Ideologi Politik maka ideology ini akan menjadi merata di kalangan rakyat melalui kekuatan hukum dan kebijakan-kebijakan Politik. Dan sekali lagi dikatakan bahwa kondisi ini hanya bisa terjadi ketika faham sistem politik Negara tersebut adalah menganut faham Demokrasi. Untuk lebih jelasnya dibawah ini digambarkan bagaimana kronologis tahap demi tahap Negara tersebut dapat menjadi Negara Liberal (saat dimana Zionist dengan bebas menguasai) :

Tahap 1 : Merubah mind set individu setiap rakyat untuk menerima Hak Asasi Mutlak melebihi Hak Tuhan dalam dirinya.

Tahap 2 : Merubah Kultur masyarakat (social culture) agar menerima dan melaksanakan serta menjunjung tinggi kebebasan mutlak (dalam berfikir dan aplikasi/tindak tanduk)

Tahap 3 : Setelah rakyat terbiasa dengan kebebasan, melalui faham system politik Demokrasi maka dengan sendirinya rakyat banyak akan memilih pandangan politik mereka sesuai dengan kepribadian mereka (yang cenderung bebas secara mutlak).

Tahap 4 : Setelah berkuasa (melalui system Demokrasi) Liberalisme akan memaksa Rakyat secara keseluruhan (melalui jargon Demokrasi) untuk melaksanakan system ini baik di bidang Sosial, Budaya, Ekonomi, bahkan Agama. Dan mereka akan dilindungi oleh Hukum (berdasarkan paradigma Liberalisme).

Peta Politik Kontemporer : Liberalisme, Nasionalisme, Sosialisme, Islam

Paska Reformasi munculah euphoria baru untuk mengekspresikan secara bebas faham dan ideology politik rakyat. Pada kenyataanya setelah Political struggle yang melelahkan selama hampir 10 tahun, maka kekuatan politik mulai mengkristal. Mereka adalah : Liberal, Nasionalis, Sosialis, dan Islam. Berbeda dengan masa awal berdirinya Republik saat awal 1940-an hingga 1960-an dimana setiap partai mempunyai ciri khas ideology, maka pada saat paska Reformasi kondisi ini hanya muncul tepat setelah Reformasi usai, akan tetapi setelah tergerus peraturan minimal threshold partai yang muncul berdasarkan ideology politik murni mulai tenggelam, termasuk dari kalangan Islam seperti PK dan PBB, mereka harus dengan terpaksa menanggalkan baju keislamannya untuk menarik masa pada pemilu berikutnya, sedangkan PSII, Masyumi, dan Partai Islam kecil lainnya terpaksa bergabung dengan partai-partai lain yang lebih terbuka (bukan partai yang berdasarkan ideology).

Kita dapat melihat disini dimana ideology murni sudah mulai tidak diminati oleh rakyat yang secara simultan selama puluhan tahun (booming saat kekuasaan Soeharto) mereka secara tidak sadar disusupi faham baru tentang kebebasan (Liberalisme) yang dimotori oleh media-media Amerika. Islam, Marxisme, dan Ultra Nasionalis tidak lagi menjadi pandangan hidup kebanyakan rakyat Republik Indonesia saat ini. Dapat dikatakan Liberalisme menjadi pandangan ideology baru bagi hampir seluruh kalangan dan segmen masyarakat, bagaimana dengan partai-partai politik? Tentunya hal ini tidak jauh berbeda.

Kalangan Nasionalis dan Islam, mereka hanya mampu bermain di pinggir lapangan, sesekali berkomentar (yang tidak didengar) dan yang masih sanggup bersikap oportunis mereka mencoba bergabung di partai-partai besar seperti PDIP dan Golkar (Nasionalis dan Sosialis) atau PKS (Islam), akan tetapi dengan system dan paradigm politik yang berlaku saat ini tidak mungkin mampu menjadikan mereka survive mengimplementasikan ideology mereka secara legal formal setidaknya untuk 10 tahun kedepan. Sedangkan Partai Demokrat (Pimpinan SBY sebagai Agen Utama Liberalisme Modern di Indonesia) sepanjang layak oleh Amerika Serikat sebagai senjata utama penguasaan Negara, maka Partai ini akan mendapat support bukan hanya dari rakyat yang saat ini menghendaki “kebebasan mutlak”. Tapi juga support politik dan financial selama masa kekuasaannya.

Bahaya Laten Islam Liberal dan Sosialis Kosmopolis

Dampak dari system Demokrasi Politik adalah munculnya kebebasan, dua contoh nyata efek dari Demokrasi Politik adalah suburnya faham Liberal dan antitesisnya Sosialisme. Yang membedakan antara keduanya adalah Liberal berangkat dari kebebasan individu, sedangkan Sosialisme berangkat dari pembelaan masyarakat terhadap efek Liberalisme Ekonomi dimana efek Liberalisme adalah individualistis. Akan tetapi keduanya sama-sama menganut kebebasan berfikir (cenderung materialism), dan Demokrasi sama-sama mereka jadikan Jargon Politik. Pola berfikir Liberal pada akhirnya banyak diminati para intelektual islam yang kronologis pendidikannya berada dijalur non salaf (salaf=fiqh minded), tanpa khawatir dibatasi oleh aturan fiqh mereka mencoba mentafsirkan berbagai ayat Al Quran menurut kebebasan berfikir mereka. Maka munculah generasi baru di Indonesia dimana intelektual islam mulai terimbas Liberalisme. Faham-faham mereka digunakan oleh orang-orang sosialis sebagai bantahan menghadapi suara-suara kekuatan Islam ideologis. Mereka (golongan Islam Liberal) menjadi ujung tombak bagi para sosialis dan Nasionalis untuk menekan bangkitnya kembali pemahaman Islam Salaf dalam pemurnian kembali ajaran-ajaran Islam termasuk masalah politik dan Negara. Perbedaan utama antara Islam Liberal dengan Islam Ideologis dalam hal politik tatanegara adalah masalah Negara Islam. Dimana Islam Liberal berpendapat bahwa Islam (atau agama apapun itu) adalah urusan individu dan tidak bisa dibawa masuk ke khasanah politik ketatanegaraan. Sedangkan Islam Ideologis adalah sebaliknya.

Sedangkan para Sosialis muda yang banyak dikader oleh senior mereka dengan dukungan NGO (Non Government Organization/LSM) dari barat mulai merubah mindset mereka untuk lebih kosmopolis (istilah baru dari Ideologi Internasonalisme mereka), mereka merupakan penyalur/agen utama untuk ideology kebebasan mutlak, mereka adalah jaringan tradisional intelegen kepentingan Barat (Amerika dan Eropa), prestasi spektakuler mereka adalah ketika berhasil secara simultan menggerogoti kekuasaan Soeharto hingga tumbang (dalam kurun waktu 1987-1997) melalui penyebaran propaganda dan demontrasi serta penetrasi kedalam tubuh Organisasi Politik (saat itu PDI). Mereka corong utama bergemanya istilah Human Right (HAM), yang saat ini telah mencapai puncaknya, saat Liberalisme telah menguasai system Politik paska Reformasi.

Sosialis Kosmopolis adalah varians dari Marxisme yang setelah bersentuhan dengan dunia barat (liberalism) mereka meninggalkan ideologi murni mereka dan lebih liberal. Kosmopolis adalah sebuah pandangan hidup dimana Dunia ini selayaknya berada didalam satu persamaan, satu pola hidup dibawah prinsip-prinsip sosialisime. Mempunyai pandangan sama terhadap apapun dan siapapun hingga cenderung menolak pandangan Agama yang muncul berdasarkan hitam putih, benar dan salah. Mereka menghendaki Dunia tanpa batas (hukum, budaya, social, ekonomi, dll) Mereka adalah pembawa misi Human Rights (HAM menurut versi mereka), Globalisasi, Persamaan Gender (menurut versi mereka), Penerima Homoseksual/Lesbian/Transeksual, Menyamakan Semua Agama (Kebanyakan diantara mereka malah tidak punya agama /Atheis/Materialis)

Liberalisasi Agama, Individualistik, Paradigma materialism, Sosialisme Kosmopolis, hanyalah segelintir dari dampak Liberalisme dan Demokratisasi Politik, keduanya sama-sama manis terdengar, benar berdasarkan logika sesaat, dalam arti lain “dapat diterima oleh akal sehat”, saat ini Indonesia memasuki masa dimana logika rakyat kebanyakan menerima “iklim” ini. Mereka menikmatinya seperti Nikmatnya Pemimpin mereka saat menikmati hasil jarahan dari rakyatnya.

Aliran Politik Islam Ideologis

Umat Islam di Indonesia mempunyai beberapa pemahaman yang berbeda dalam hal Paradigma Politik. Seperti halnya kedatangan penyebar agama islam yang berbeda tempat asal dan berbeda latar belakang baik kultur, mahzab, aliran, dll. Maka Umat Islam di Indonesia pun demikian adanya. Dua perbedaan utama dalam paradigm politik tersebut adalah :

Pemahaman 1 : Bahwa kekuasaan dan agama adalah susuatu yang berbeda, agama adalah masalah ritual individu dan hubungan masyarakat (minus politik), sedangkan kekuasaan adalah milik penguasa, para ulama lebih baik menghindarinya. Hukum tidaklah harus memakai Al Qur’an sebagai sumber hukum, yang paling penting adalah esensi dari hukum tersebutlah yang dipergunakan. Setiap ibadah apapun yang wajib dilakukan oleh umat, Negara tidak berhak mencampurinya, baik ketaatannya maupun pelanggarannya. Kesimpulan dari Pemahaman 1 adalah Terpisahnya Politik (Ketatanegaraan) dengan Urusan Agama.

Pemahaman 2 : Bahwa Kekuasaan dan Agama itu tidak dapat dipisahkan, agama adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif secara individu, masyarakat, dan Negara. Seluruh tatanan politik haruslah berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, Hukum yang berlaku haruslah bersumber dari Al Qur’an, baik masalah muamalah, ibadah ritual/individu, politik, ekonomi, social, budaya, keamanan, pertahanan, dan semuanya dianggap sebagai hak dari umat islam untuk melaksanakannya dan Negara wajib mengawasinya, memerintah untuk melaksanakannya, menghukumi jika terjadi pelanggaran terhadapnya.

Pemahaman 1 ini biasa kita sebut sebagai Islam Kultural atau Islam Kebangsaan sedangkan Pemahaman 2 disebut sebagai Islam Politik atau Islam Ideologis.

Islam Ideologis atau umat islam yang memakai ideologi politiknya sesuai dengan Al Qur’an (menurut versinya masing-masing) di Indonesia perkembangannya mempunyai pasang surut. Jaman keemasan islam ideologis adalah saat berkuasanya penyebar islam di jawa yang biasa disebut wali 9. Pemimpin mereka diperintah oleh raja Perlak di Aceh untuk mengislamkan Jawa secara politik. Saat itu dua kerajaan besar di Jawa (Pajajaran dan Majapahit) masih beragama Hindu dan dinilai sebagai penghambat laju islamisasi di Nusantara, dimulai dengan pengislaman masyarakat jawa kemudian berlanjut dengan para kerabat kerajaan hingga akhirnya berdiri dua Negara Islam awal sebagai basis yaitu Demak dan Cirebon (dilanjutkan ke Banten), sehingga pada akhirnya dua basis Negara Islam ini menguasai Jawa dan menyingkirkan dua kerajaan Hindu saat itu.

Saat Penjajahan Portugis hingga Belanda, kerajaan-kerajaan islam ini kemudian dimandulkan oleh Negara Kristen tersebut hingga ideologi politik mereka sedikit-demi sedikit hilang. Maka mulailah secara bertahap terlepas hukum-hukum Allah didalam dunia politik Nusantara. Puncaknya saat Snouck Horgronje disusupi (dengan berpura-pura Islam dan belajar Islam) ke Jama’ah-Jama’ah Islam terutama di Sumatra dan Jawa (dua daerah ini paling sulit ditaklukan oleh Belanda, setiap masanya selalu ada pemberontakan dengan basis gerakan Islam. Kesimpulan data yang dipelajari oleh Snouck akhirnya merubah pola strategi penguasaan Nusantara terutama yang berbasis Islam oleh Belanda. Snouck berpendapat bahwa Gerakan yang berbasis Islam tidak akan bisa dikalahkan kecuali Islam harus dipisahkan dari kekuasaan dan Jihad, dan Islam hanya dapat dikalahkan oleh Islam (dibenturkan dalam perang saudara).

Pemahaman Snouck ini sangat berpengaruh di masyarakan Islam di Indonesia, terutama pesantren-pesantren tradisional hingga sekarang. Pesantren tradisional yang notabene kebanyakan berbasis tasauf/tarekat (Naqsabandiyah/Qodariyah) sejak awal penyebarannya memang tidak pernah berkecimpung di dunia politik (termasuk di Negara asal mereka Eropa Timur, Asia Tengah, Iraq dan India), sehingga pemahaman Snouck sejalan dengan prinsip-prinsip mereka, akan tetapi tentunya tidak seluruh dari golongan ini mengikuti keinginan Belanda atau para Ulama mereka. Sebagian diantaranya konsisten terhadap Sunnah Rasulullah yang tidak memisahkan Dunia Politik dengan Islam.

Ideologi Islam secara Politis mulai mengemuka berkat seorang Mujahid Intelektual yang bernama HOS Cokroaminoto saat beliau memimpin organisasi terbesar Islam saat itu Syarikat Islam. Organisasi yang awalnya bernama Syarikat Dagang Islam (organisasi ekonomi/dagang) berubah menjadi Organisasi Politik saat dipimpin oleh Cokroaminoto dan mendapat sambutan luas dari para ulama, umat, dan para politikus saat itu. Mereka yang menjadi anggota SI berlatarbelakang berbeda, sebagian diantarnya dari golongan Islam tradisional, sebagian yang lain dari Islam moderat, bahkan sebagian dari mereka adalah Islam yang cenderung berideologi Marxis (mereka akhinya memisahkan diri dan mendirikan PKI).

Cokroaminoto sendiri sempat dijuluki Raja tak Bermahkota, saking besarnya pengaruh dari SI yang dipimpin beliau. Sempat menjadi anggota Volksraad akhirnya mengundurkan diri karena beliau melihat Volksraad hanyalah alat pemandulan gerakan politik yang sengaja dibentuk Belanda. SI akhirnya berubah menjadi PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) setelah gerakan mereka murni sebagai gerakan politik.

Saat Jepang berkuasa seluruh ulama dan politikus Islam dari berbagai aliran akhirnya menggabungkan diri dalam satu organisasi (seijin Jepang) yang disebut MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang kemudian berubah menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin). Masyumi akhirnya berubah menjadi sebuah Partai Politik pada era awal Kemerdekaan RI dan menjadi satu-satunya penyaluran politik (yang kooperatif dengan NKRI) bagi para politikus yang berideology Islam secara formal, akan tetapi kondisi ini tidak bertahan lama setelah PSII memisahkan diri diikuti oleh NO (sekarang NU: Nahdlatul Ulama).

Akan tetapi tidak seluruh politikus juga ulama dan umat yang berideologi Islam menyalurkan politiknya ke Masyumi atau PSII. Diantara yang lainnya terdapat beberapa Politikus yang bahkan menolak eksistensi Negara baru Republik Indonesia, NKRI yang merupakan Negara bentukan politikus Nasionalis yang saat Jepang menjajah Indonesia menyerahkan martabat bangsa dan rakyat untuk digadaikan ke penjajah baru ini demi kekuasaan yang dijanjikan (sejak awal kedatangan Jepang di Indonesia) para ideolog islam yang mengetahui kelicikan Soekarno dan para Nasionalis lainnya memahami betul bahwa Negara ini akan dijadikan oleh Soekarno (sebagai pengagum Kemal Attaturk dan Jengis Khan serta berideologi Marxis) menjadi sebuah Negara Sekuler yang memisahkan Agama dengan Negara.

Soekarno yang merangkul politikus Islam Kebangsaan (Islam Nasionalis) dari kalangan NU yang sangat mudah di setir lewat rethorika, mengetahui sejak awal pra kemerdekaan, bahwa ganjalan terbesar bagi obsesinya adalah para politikus Islam yang konsisten dengan konsep Negara bersyariat Islam (Negara Islam), dalam perdebatan panjang dengan Cokroaminoto dan A Hasan (Hasan Persis/Hasan Bandung) terlihat bahwa Soekarno yang berideologi ultra Nasionalis dan Marxis tidak mungkin dapat sejalan dengan Politikus Islam yang berideologi Radikal dan Foundamentalis.

Dan akhirnya terbukti setelah NKRI menandatangani perjanjian Renville yang mengharuskan pengikutnya untuk mengakui bahwa wilayah Republik ini tinggal sebatas Jogja, serta membiarkan seluruh wilayah Nusantara (selain Jogja) di status quo kan maka kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia di tanah yang tak bertuan ini.

Sebenarnya Kartosuwirjo sebagai proklamator NII akan memproklamasikan Negara Islam pada bulan Agustus 1945, saat beliau mulai melobi beberapa politikus Islam dari PSII dan tokoh islam lainnya, akan tetapi rencananya ini kemudian tercium oleh kalangan Nasionalis dan Marxis sehingga terjadilah insiden Rengas Dengklok dimana Soekarno di paksa oleh para pemuda Nasionalis untuk mempercepat Proklamsi Kemerdekaan sebelum dari kalangan Islam menyatakannya. Dan demi menjaga konflik Horizontal Kartosuwirjo pun akhirnya membatalkannya. Akan tetapi setelah melihat sepak terjang kaum Nasionalis dibawah pimpinan Soekarno membawa Negara menuju sekulerisme maka kesempatan paska Renville tidak di sia-siakan lagi, dan berdirilah Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949.

Sejak saat itu Ideologi Islam Politik mengalami dikotomi gerakan, meski keduanya sama-sama menghendaki berdirinya Negara Islam, akan tetapi mereka memilih loyalitas yang berbeda, disatu pihak mengakui eksistensi NKRI bahkan mendukungnya dan berkooperatif dengan harapan merubah NKRI menjadi Negara Islam melalului system demokrasi parlemen. Sedangkan pihak lainnya menolak eksistensi NKRI dan memilih mendirikan Negara Islam secara terpisah (karena NKRI yang bentukan politikus Nasionalis dalam paradigm politik ideology tidak mungkin lagi didukung dan diteruskan eksistensinya dan Islam tidak mungkin dimenangkan melalui peblisit/pemilu/Demokrasi)

Yang paling menarik adalah munculnya gejala baru dalam gerakan islam kontemporer, dimana munculnya dua kekuatan baru dalam peta perpolitikan di Indonesia, yaitu munculnya gerakan yang menjiplak gerakan islam dari Timur Tengah (dibawa oleh pelajar-pelajar Indonesia yang belajar di sana), dua gerakan terbesar diantara mereka adalah Tarbiyah atau Ikhwanul Muslimin yang dibawa oleh Ustadz Hilmi (putra dari  Danu salah satu pimpinan NII) sebagai pionir dimana gerakannya meniru gerakan Ikhwanul Muslimin dari Mesir yang didirikan oleh Hasan Al Bana.

Gerakan ini bermetamorfosa menjadi Partai Keadilan yang akhirnya berubah lagi menjadi Partai Keadilan Sejahtera, mereka mewakili politikus Islam yang kooperatif dengan pemerintahan Republik. Gerakan lainnya adalah Hizbut Tahrir, yang menghendaki kembalinya Kekhalifahan Islam di Dunia. Hizbut Tahrir merupakan organisasi murni berorientasi politis, mereka mewakili para ideolog islam yang bersikap Non Kooperatif dengan pemerintahan NKRI. Hizbut Tahrir menghendaki setiap Negara yang pada masa kekhalifahan terakhir (Turki Utsmani) dibawah naungannya dikembalikan lagi dan dipersatukan lagi untuk menjadi (kembali) dibawah satu kekhalifahan dengan pusat (kembali) di Madinah.

Mereka memperjuangkan islamisasi Negara-negara tersebut melalui gerakan politik (membentuk Negara-negara tersebut menjadi Negara Islam) tanpa Jihad (Qital). Jihad akan diberlakukan setelah kekhalifahan terbentuk atas perintah Amirul Mu’minin/Khalifah. Yang membedakan secara fundamental antara Ikhwanul Muslimin (PKS) dengan Hizbut Tahrir (HTI) adalah sikap kooperatif politis. Dimana PKS bekerjasama dengan Thoghut itu adalah diperbolehkan untuk perbaikan dari dalam (mereka menganggap islamisasi Negara tidak mungkin dilakukan tanpa ikut serta didalamnya) sedangkan HTI menganggap Thogut harus diluruskan dan di Islamkan kembali dengan tanpa harus menyertai kekuasaannya (non kooperatif), kecuali Negara tersebut telah menjadi Negara Islam.

Memahami Aliran Politik Hijrah

Istilah Politik Hijrah diambil dari sebuah konsep gerakan politik yang dicanangkan PSII pada tahun 1938 melalui kongres partai (Majelis Tahkim) yang mengamanahkan kepada SM Kartosuwirjo (saat itu menjabat sebagai Sekretaris Umum PSII) agar disusun untuk menjadi konsep ideologi gerakan bagi partai PSII. Intisari dari konsep tersebut adalah :

  1. Bahwa gerakan islam hanya akan berhasil jika mengikuti konsep gerakan Rasulullah SAW yang melalui fase-fase perjuangan sesuai Shirah Nubuwah (tahapannya disesuaikan dengan gerakan perjuangan Rasulullah SAW dari mulai di Mekah, Madinah, Futuh Mekah, hingga Internasionalisme (Penyebaran Islam diluar Hijaz dan membentuk Kekhalifahan Islam),
  2. Bahwa kepemimpinan politik hanya terbagi dalam dua katagori, Kepemimpinan Thoghut dan Kepemimpinan Allah.
  3. Bahwa Bumi Indonesia (Dunia) terbagi dalam dua kriteria, Dunia Kufar (Darul Kuffar) dan dunia islam (Darul Islam), atau secara politis hanya ada dua kriteria Negara, Negara yang menjalankan syariat Allah semurni-murninya, dan Negara yang tidak menjalankan syariat Allah (baik secara total maupun sebagian).
  4. Bahwa Hijrah (seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW) harus dilaksanakan sebagai sebuah ideologi gerakan secara individual (personal), sosial (masyarakat), political (Negara/ketaatan kepemimpinan politis)

Konsepsi Hijrah sebagai ideologi gerakan, mengawali penyusunannya oleh SM Kartosuwirjo dalam hal pembentukan konsep yang lebih luas, yaitu Negara Islam Indonesia. Darul Islam sendiri sudah menjadi symbol yang telah dimunculkan isunya dalam hal target gerakan partai (PSII) dalam buku yang disusunnya itu. Maka salah besar bagi sejarawan atau siapapun itu yang mempelajari NII, bahwa gerakan tersebut bersifat incidental berdasarkan kekecewaan SM Kartosuwirjo terhadap RI dalam hal hasil perjanjian Renville (1949). Karena pada dasarnya SM Kartosuwirjo telah memulai konsep pembentukan Negara Islam Indonesia sejak Soekarno masih duduk manis dalam kursi volksraad sebagai kaki tangan Belanda, dan kemudian menjadi oportunis penjilat saat Jepang datang menggantikannya.

Ideologi gerakan Hijrah menjadi satu-satunya ideology gerakan politik di dunia (setidaknya yang pertama kali) dan ideology gerakan ini akhirnya mencapai puncak gerakan pada saat Proklamasi Negara Islam Indonesia 7 Agustus 1949.

Perbedaan Aliran Politik Non Kooperatif dan Politik Hijrah

Politik Hijrah hampir sama dengan Politik Non Kooperatif, sama-sama menolak bekerjasama dengan pemerintah yang berkuasa saat itu. Akan tetapi keduanya mempunyai filosofis gerakan yang jauh berbeda. Diantaranya adalah :

  1. Pandangan terhadap Negara. Politik Non Kooperatif memandang Pemerintah suatu Negara yang dianggap Thoghut tidak mewakili Negaranya itu sendiri, sehingga mereka (Non Kooperatif) tidak memasukan dalam agenda gerakannya untuk mengganti Negara lama dengan Negara baru, jadi yang dihadapi hanyalah Pemerintah (person pelaku kekuasaan) dan system politik. Sedangkan Politik Hijrah memandang bahwa, Negara dan pemerintah Negara tersebut merupakan satu kesatuan. Sehingga jelas sekali bahwa jika suatu Negara dianggap Thoghut maka selain menolak ketaatan politik tehadap Negara tarsebut, lebih jauh lagi ideology ini mewajibkan membentuk kekuatan politik tandingan untuk menghadapi Negara Thoghut hingga suatu saat Negara tersebut mengambil alih dengan menghilangkan baik pemerintahnya (person), sistemnya (Law), juga Negaranya (Nation) dengan memunculkan Negara yang dianggap mewakili sepenuhnya kekuasaan Allah dimuka bumi ini (Fase Futuh Mekah).
  2. Pandangan terhadap teknis Gerakan. Non Kooperatif murni merupakan gerakan politik, dibatasi dengan propaganda, gerakan massa, dan memenangkan kekuasaan baik melalui system Demokrasi, atau melakukan Coup de etate (kudeta) bila perlu. Sedangkan Ideologi Hijrah merupakan gerakan yang komprehensif tersistematis sesuai dengan gerakan politik kenegaraan yang tidak hanya dalam penghimpunan Massa (paska perintah Hijrah) akan tetapi kemudian membentuk sebuab Basis Teritorial selayaknya sebuah Negara, yang dilengkapi kekuatan Militer, yang pada akhirnya gerakan secara bertahap berubah dari gerakan propaganda Politik, kemudian gerakan Massa, dan terakhir adalah gerakan Militer. Yang kesemuaanya terjadi secara sistematis melalui fase demi fase yang telah ditentukan.

Indonesia sebagai bagian dari Perang Memperebutkan “Dunia Baru” (Teori Konspirasi)

Teori Konspirasi merupakan sebuah teori yang masih controversial. Teori Konspirasi hanya dianut oleh orang yang percaya bahwa civilization dan pergerakan Politik Kekuasaan terjadi diakibatkan (secara langsung maupun tidak) oleh segelintir orang di belakang layar yang memang mengarahkan (dengan sengaja) kepada apa yang dikehendakinya. Teori yang paling klasik adalah tentang perebutan kekuasaan antara komunitas hamba Allah yang dipimpin oleh para utusan Allah (Rasul) versus komunitas yang menolak Kekuasaan Allah yang dipimpin oleh Iblis. Dan Puncaknya adalah teori akhir zaman (sebagian mempercayainya sebagai keniscayaan) dimana pembantu Iblis utama yang disebut Dajal akan menghadapi Imam Mahdi (Pemimpin yang ditunggu) dan Nabi Isa AS.

Teori Konspirasi yang paling popular mulai abad pertengahan adalah munculnya group yang dimotori para pimpinan Yahudi yang bernama Freemasonry. Freemasonry dibentuk dengan targetan pembentukan yang mereka sebut sebagai “Dunia Baru”. Yang terbebas dari kekuasaan apapun kecuali mereka. Seluruh masyarakat dunia diharapkan untuk menjadi masyarakat yang tunduk terhadap kehendak mereka, sebuah masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan (menurut versi mereka) sedangkan yang menentangnya tak segan-segan mereka akan memusnahkannya melalui berbagai cara.

Hasil terbesar dari konspirasi mereka adalah keberhasilan dalam membentuk Negara prototype yang diharapkan ideal dan akan menjadi basis pergerakan mereka untuk menguasai dunia secara keseluruhan, Negara tersebut adalah Amerika Serikat. Dan keberhasilan kedua mereka adalah pembentukan Negara Israel Raya sebagai basis untuk benua Asia, Eropa, dan Afrika. Salah satu kelompok konspirasi turunan dari Freemasonry adalah Zionist. Sebuah kelompok konspirasi yang dideklarasikan di bukit Zion. Kelompok inilah yang kemudian berhasil membentuk Negara Israel Raya dan berusaha menguasai dunia melalui Liberalisasi Ekonomi.

Freemasonry/Zionist berhasil meyakinkan dunia melalui agent organisasi internasional hasil konspirasi terbesar mereka yaitu United Nation (PBB) dan berusaha membentuk jaringan internasional mereka melalui organisasi tersebut. Freemasonry membentuk kelompok-kelompok kecil lainnya selain Zionist. Contohnya kelompok  Loby Yahudi yang menggerakkan perpolitikan Amerika Serikat, apakah Partai Demokrat ataupun Partai Konservative yang berkuasa, pe-Loby Yahudi ini tetap berhasil menguasainya.

Indonesia yang merupakan warisan dari Belanda tidak terlepas dari konspirasi mereka. Freemasonry masuk ke Indonesia melalui berbagai pintu, baik langsung dengan membentuk organisasi-organisasi social (Lions Club, NGO/LSM dll) atau secara tidak langsung via Amerika Serikat, UN/PBB, Jaringan Ekonomi/Perbankan Dunia (IMF, Worl Bank, dll). Indonesia bagi mereka seperti hidangan makan malam diatas meja yang siap disantap.

Pergantian kekuasaan di Republik tidak terlepas dari konspirasi Amerika dan Freemasonry, baik masa kejatuhan Soekarno, ataupun Soeharto. Periode Reformasi saat ini merupakan kemenangan besar mereka dalam penguasaan Indonesia secara Politik (Demokratisasi), Ekonomi (Pembukaan serta memperluas Pasar Bebas dan Bursa Saham dengan menguasai BUMN/Perusahaan Lokal), Sosial (Liberalisasi social cultural).

Para politikus Republik di sibukkan dengan permasalahan yang berkutat dalam lingkaran setan (Korupsi, Kolusi, Ham, Demokratisasi Politik, Gender, Political Struggle, dll) sedangkan mereka bebas mengeruk kekayaan dan polarisasi kekuatan untuk mencengkram Indonesia lebih kuat dan lebih luas lagi. Isu Terorisme salah satu contoh sejauh mana dan sebesar apa dominasi mereka terhadap Republik yang lemah ini. Orang-orang Republik hanya menjadi kacung dan budak suruhan dalam peperangan mereka dengan Islam (foundamentalis radikal/Islam Ideologis). Republik Indonesia bagi mereka sudah menjadi bagian dari jaringan kekuasaan dalam pembentukan ide mereka untuk memunculkan “Dunia Baru”. Dunia ciptaan mereka.

Teman Taktis, Teman Strategis, Teman Ideologis

NKA NII (Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia) secara politis, social, keamanan, adalah penghambat terbesar bagi kekuasaan mereka (Konspirasi Internasional Amerika+Freemasonry+Zionist) sejak berdirinya 7 Agustus 1949 mereka sudah mulai gerah. Maka melalui Amerika mereka menekan Belanda untuk segera memunculkan Negara boneka yang dianggap mampu menjadi perpanjangan tangan dalam memberantas NII sebagai satu-satunya Negara di wilayah ini yang menghendaki penguasaan politik berdasarkan Syariat Allah (yang sangat mereka takutkan).

Dan tekanan itu berhasil setelah perundingan Meja Bundar betul-betul sesuai dengan harapan mereka terhadap rencana besar yang tersimpan (penguasaan wilayah Nusantara), salah satu klausul dalam perundingan itu (yang tidak dimunculkan secara umum) adalah syarat pemberian hadiah kemerdekaan Negara boneka Indonesia Serikat yaitu memberantas habis Negara yang mempunyai hak penuh atas wilayah ini yaitu  NII. Dan itupun dibuktikan oleh Soekarno 1 tahun kemudian dalam musyawarah di Majelis (MPRS) dalam pidatonya secara resmi menyatakan perang terbuka terhadap NII (setelah meyakini bahwa dia (soekarno) didukung penuh oleh kekuatan Amerika dan Belanda). Dan pada akhirnya memenangkan perang (untuk sementara) pada tahun 1958 (Aceh), 1962(Jawa), 1965(Sulawesi).

Maka setelah itu terjadilah Kiamat Wustho (Istilah yang dikeluarkan Imam As Syahid SM Kartosuwirjo jika tidak ada lagi kekuatan Islam menghadapi gelombang kejahiliyahan) dimana kemusyrikan dan kejahiliyahan terbebas dari cengkraman dan belenggu, hingga mencampai puncaknya saat ini. Para Mujahidin (TII/APNII) mulai bertebaran setelah banyak dari komandan mereka malah menggabungkan diri dengan Republik, akan tetapi berkat pertolongan Allah jua maka mereka yang istiqomah masih bertahan dan membentuk kader-kader baru yang lebih berilmu, lebih Radikal, dan Lebih Foundamental. Meskipun guncangan Fitnah yang datang dari luar (Republik) atau dari dalam (pemimpin yang terjebak oleh kekuasaan individu) datang silih berganti akan tetapi mereka konsisten sebagai Tentara Islam Indonesia, sebagai Mujahidin yang siap untuk menegakan kembali Negara dan menguasai kembali tanah-tanah yang menjadi hak mereka yang direbut paksa oleh Republik sebagai antek Penjajah (Amerika dkk).

Perjuangan ini tidak akan lepas dari Shaff dan Persekutuan jika menghendaki Islam ini kembali tegak di bumi ini. TII tidak akan bisa mengalahkan konspirasi internasional yang sudah menggenggam Indonesia dengan sangat kuatnya. TII pada dasarnya bukanlah hanya melawan Republik Indonesia yang lemah dan bangkrut ini. TII sedang menghadapi kekuatan besar konspirasi yang dimotori oleh Amerika dan Zionist. Politikus Republik hanyalah wayang-wayang yang siap digerakan menurut keinginan mereka, maka perlulah kiranya TII tidak hanya berkutat didalam tapi juga memperluas kekuatan dan persekutuan baik dengan berbagai kalangan sendiri (faksi-faksi yang ada, tandzim yang terbentuk secara independent, ormas-ormas cover yang akhirnya terlepas secara koordinasi) ataupun kekuatan dari luar. Pertemanan dan persekutuan itu dapat dibagi menjadi tiga criteria :

  1. Teman Ideologis. Persekutuan yang paling utama harus dilakukan adalah merapatkan barisan di dalam yang terdiri dari berbagai faksi dan tandzim turunannya. Melepas segala permasalahan masa lalu dan perbedaan pandangan demi Shaff yang tersusun rapat. Maka teman Ideologis ini akan menjadi persekutuan utama dengan persamaan dasar ideology gerakan yang bersumber dari ideology Hijrah.
  2. Teman Strategis. Sekutu kedua yang terpenting adalah dengan menyamakan gerak dan langkah Revolusi bersama Tandzim dan Organisasi yang sama-sama menghendaki Islam tegak di Bumi Indonesia, yang sama-sama memandang bahwa Republik Indonesia ini hanyalah Thogut kecil perpanjangan dari penguasa Thogut besar Amerika. Dengan tidak melihat latar belakang mereka dan memperkecil perbedaan dan friksi. TII dan mereka pada dasarnya sama dalam hal target dan tujuan akhir, yaitu membentuk Kekhalifahan Islam tegak kembali. Meski latar belakang mereka (kebanyakan) adalah gerakan dari luar Indonesia akan tetapi jika melihat target akhir yang sama toh pada akhirnya cepat atau lambat kita (TII) tetap akan menyatukan diri dengan gerakan internasional paska Futuh Mekah (Berdirinya kembali NKA NII dan lenyapnya NKRI).
  3. Teman Taktis. Sekutu ketiga adalah mereka yang sama-sama menghendaki Islam Tegak, akan tetapi masih belum (ragu) melepaskan dirinya dari keterikatan dengan Republik Indonesia, baik dalam hal pandangannya terhadap Republik (masih belum berani menyatakan Thoghut) atau masih mempunyai pemikiran klasik, bahwa Republik dapat diislamkan dari dalam, baik melalui dakwah atau politik (dengan system Demokrasi). Diantara mereka ada yang mempunyai ideology islam foundamental dan mempunyai pengetahuan agama yang tinggi, akan tetapi masih enggan berkonfrontasi secara langsung dengan Republik (malah sebagian mempunyai loyalitas yang fanatic). Mereka hanya pantas dijadikan sekutu taktis, sekutu operasional. Dengan tidak perlu membuka identitas dan pemahaman ideology gerakan (kecuali dalam hal mendakwahi mereka), mereka masih resistant untuk dijadikan teman strategis apalagi ideologis.
  4. Ormas Militan. Diantaranya FPI, secara organisasi FPI loyal terhadap Republik, akan tetapi secara personal diantara mereka ada yang mempunyai pandangan bahwa Republik adalah Thoghut yang harus dimusnahkan. Personal seperti ini sudah pantas dijadikan sekutu strategis setelah diberikan pemahaman ideology gerakan.

Islam cepat atau lambat akan kembali tegak di Bumi Indonesia sepanjang para Mujahidin istiqomah dalam Jihad Fii Sabilillah. Mereka sedang membuat Makar, tapi Makar siapakah yang lebih hebat daripada Makar Allah. Dan Kemenangan bukan lah segalanya bagi kita, kemenangan hanyalah target antara untuk menuju pengabdian setelah nya. Allah melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi saat ini, kita hanya perlu untuk memperlihatkannya, sejauh mana pengabdian kita kepadaNya.

Allahu Akbar !!!… Allahu Akbar!!!…. Allahu Akbar!!!.

Madinah Indonesia, 02  Muharram  1438 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s