Sikap Hidup Berorganisasi Bagi Seorang Mujahid Islam

Sudah agak lama kita belajar hidup berorganisasi, dan memang tiada manusia berjiwa mujahid yang pandai berdiri sendiri, yang tidak tergantung, tidak terpengaruh atau tidak memerlukan sesuatu diluar pribadinya.

Mula pertama kita merasa hidup seorang diri. Lambat-laun perasaan itu meningkat hingga menjadi kesadaran dan keinsyafan selaku anggota sesuatu keluarga. Dan selanjutnya meningkat lagi, hingga kita merasa dan menganggap diri kita, insyaf dan sadar sepenuhnya, sebagai warga masyarakat dan Negara, warga Ummat dan Bangsa.

Dengan meningkatnya nilai perasaan dan anggapan, yang kemudian terealisir dalam kelakuan dan perbuatan, maka makin bertambah-tambah meningkat pula rasa tanggung jawab kita. Sebagai seorang diri, kita hanya bertanggung jawab atas diri kita. Sebagai warga suatu keluarga / kelompok, tanggung jawab kita meningkat menjadi tanggung jawab terhadap keluarga dan kelompok. Begitulah selanjutnya, sebagai warga suatu ummat, bangsa / jama’ah, maka pertanggung jawab kita akan meliputi seluruh ummat, bangsa dan jama’ah itu. Rasa tanggung jawab yang makin meningkat itu, tidak hanya akan menambah besarnya hak kita, melainkan juga makin menambah besar dan beratnya kewajiban antar-warga, antar-kelompok dan antar umat.

Syahdan, dengan sandaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang menjadi sendi dasar hidup dan perjuangan kita, hidup dan berjuang hanya untuk melaksanakan tugas ilahi mutlak, merealisir dharma yang tertanam dalam jiwa setiap mujahid, maka seluruh barisan Mujahidin tanpa kecuali, dimanapun mereka berada dan bertugas, terikat erat satu sama lain demikian rupa, baik oleh Bai’at Negara, Bai’at Jabatan, Bai’at Setia maupun Bai’at selaku Mujahid, sehingga mereka itu berwujudkan satu Jama’ah Besar, yang anggota-anggotanya terdiri daripada tiap-tiap Mujahid dan Mujahidah, tegasnya : Jama’ah  Besar Mujahidin.

Selaku warga Jama’ah Besar Mujahidin, maka tiap-tiap Mujahid akan merasa makin bertambah-tambah besar dan mendalamnya rasa setia kawannya, rasa tanggung jawabnya, rasa wajibnya dst., sampai-sampai akhirnya meliputi seluruh ummat dan Bangsa, Negara dan Agama. Hendaklah semangat, kesadaran dan keinsyafan serupa itu ditanam dalam-dalam dan dipupuk baik-baik dalam jiwa setiap Mujahid, dan kemudian diperkembangkan dan diwujudkan dalam bentuk amal dan jasa-jasa, baik jasa tehadap Ummat dan Bangsa maupun terhadap Negara dan Agama. Jika demikian halnya, maka cita-cita Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur bukan impian atau khayalan belaka.

Daya selamat-menyelamatkan, daya rahmat-merahmati dst.dst.akan sambung-menyambung tidak kunjung putus, sehingga meliputi seluruh ummat dan Bangsa, seluruh Negara dan Agama. Demikianlah “Dharmaning ksatria suci” pentegak Kalimatillah! Harap direnung-resapkan sebaik-baik dan sedalam-dalamnya, hingga terwujud dalam bentuk bukti kenyataan yang sebenarnya.

MEMBINA RASA CINTA THA’AT, SETIA DAN PATUH

Dalam kata “tha’at dan patuh” termasuk pula istilah “disiplin” (discipline), dalam arti kata khusus maupun umum. Tha’at–patuh tanpa rasa cinta setia, akan merasakan kaku-tegang dan kurus-kering-tandus, laksana suara irama. Bahkan kadang-kadang terasakan sebagai sesuatu yang keras dan kejam, kasar dan bengis.

Demikian pula benar dan adil, tanpa qisthi dan palamarta. Maka untuk memperoleh hasil amal yang sempurna, jasa-jasa yang besar manfaat dan maslahat untuk umum, untuk Umat, Negara dan Agama, maka kuncinya terletak dalam jiwa, atau lebih tegasnya:jiwa Mujahid yang harmonis, selaras dengan tugasnya.

Mujahid yang memiliki keselarasan jiwa ini akan menunaikan segala tugas wajibnya dengan sepenuh jiwanya, dengan tekun,dengan khusu’ dan kudlu tanpa menghirukan atau terpengaruh oleh sesuatu diluarnya. Dan keselarasan jiwa itu hendaknya bersifat vertikal (1) mulai tingkatan pemimpin teratasi hingga bawahan yang terendah, dan sebaliknya dan bersifat pula horizontal (2), merata-mendatar, hingga sampai meliputi Jama’ah-Mujahidin sebagai kesatuan dan keseluruhan. Maka pokok pangkal daripada keselarasan jiwa itu terletak pada rasa cinta, ialah rasa cinta suci murni. Yang bersemayam dalam lubuk kalbu setiap mujahid sejati.

Bagi membina jiwa baru, atau menanam jiwa jihad, jiwa yang sanggup dan mampu menyelaraskan diri dengan hukum-hukum jihad, jiwa yang berani bertindak menyalurkan tingkah laku dan amal perbuatannya dengan Hukum-hukum jihad, maka landasan pembinaan jiwa kesatria suci semacam ini adalah sbb:

  1. Rasa cinta setia kepada Allah (Mahabbah) dalam makna dan wujudnya:
  • Sanggup dan mampu melaksanakan tiap-tiap perintah-Nya dan menjauhi tiap-tiap larangan-Nya, tanpa kecuali dan tawar-menawar;
  • Mendahulukan dan mengutamakan perintah-perintah Allah, daripada sesuatu diluarnya;dan
  • Mendasarkan tiap-tiap laku lampah dan amalnya atas Wahdaniyat Allah, tegasnya: atas Tauhid sejati dan tidak atas alasan, pertimbangan dan dalil apapun, melainkan hanya berdasarkan Khulishan-Mukhlisan semata, atau dengan kata-kata lain ‘ALLAH MINDED100%”.
  1. Rasa cinta setia kepada Rasulullah SAW dalam makna dan wujud:
  • Sanggup dan mampu merealisir ajaran dan sunnah SAW dengan kepercayaan dan keyakinan sepenuhnya, bahwa tiada contoh dan tauladan lebih utama dari ajaran dan Sunnahnya: khusus dalam rangka jihad, tegasnya rangka usaha membina Negara Madinah Indonesia; dan
  • Pantang melakukan diluar ajaran dan Hukum Islam, sepanjang Sunnah, hingga mencapai taraf “Islam Minded 100%
  1. Rasa cinta setia kepada Ulil Amri Islam atau Imam NII atau Plm.T.APNII yang didalamnya termasuk (1) rasa cinta setia kepada Pemerintah NII dan tidak kepada sesuatu Pemerintah diluarnya; (2) rasa cinta setia kepada NII dan tidak kepada sesuatu Negara diluarnya; (3) rasa cinta setia kepada Undang-undang (Qonun Asazy) NII dan tidak kepada Undang-undang Negara manapun; dst.dst.dst., yang semuanya tercangkup dalam istilah “ NII-Minded 100%”

 Catatan :

Kita hanya mengenal Ulil Amri Islam, satu Imam-Plm.T.APNII , tidak lebih dan tidak kurang.

Tiap-tiap kepercayaan, keyakinan, anggapan dan perlakuan, yang menyimpang atau bertentangan dengan dia, adalah sesat dan menyesatkan, salah, keliru dan durhaka.

  1. Rasa cinta setia kepada Tanah air, Ummat dan masyarakat sampai-sampai kepada diri pribadi, dengan catatan dan perhatian:
  • Bahwa kecintaan dan kesetiaan kita dalam hubungan ini tidak sekali-kali boleh melanggar atau menyimpang, melebihi atau mengurangi barang apa yang termaktub pada huruf A.B. dan C diatas; melainkan semuanya tetap berlaku dalam batas-batas jihad dan usaha jihad dan tidak sesuatu diluarnya.

Dan rasa cinta setia kepada tugasnya, tugas dan kewajibannya melaksanakan Jihad berperang pada Jalan Allah, karena Allah, untuk mentegakkan Kalimatillah, langsung menuju Mardlatillah, lebih dan dilebihkan dari pada setiap kecintaan diluarnya, dalam makna dan wujud:

  • Percaya dan yakin dengan sepenuh jiwanya, bahwa Jihad adalah satu-satunya dharma bakti muthlak dan maha suci ‘indallah wa ‘indannas, yang boleh membawa pelakunya naik meninggi sampai kepada harkat derajad yang mulia, dibawah para Anbiya-Allah dan Para Rasulullah;
  • Karena Jihad berhukumkan Fardlu ‘ain dan Fardlu Kifayah (bersama-sama), maka pada tiap-tiap saat Allah berkenan mengizinkannya, wajib jihad itu diletakkan atas pundak tiap-tiap Mujahid dan atas pundak seluruh Jama’ah Mujahidin atau dengan kata-kata lain; atas seluruh Ummat tanpa kecuali.
  • Percaya dan yakin sepenuhnya, bahwa Jihad Fi sabilillah adalah satu-satunya cara, laku usaha dan amal memperjuangkan Keluhuran Agama Islam, Kedaulatan NII beserta Hukum-hukum Syari’at Islam yang menjadi sendi dasarnya dan Kebahagian Ummat dan Bangsa, yang berharap ingin mengucap-menikmati Kurnia Allah yang Maha Besar, dalam Kerajaan Allah di dunia dan di akhirat, atau sekurang-kurangnya dalam lingkungan Baldatun Thajjibatun wa Rabbun Ghafur di Indonesia atau NII, ialah ujung kesudahan cita-cita Ummatul-Mujahidin, Ummat pilihan dan kekasih Allah di Indonesia; dan
  • Sanggup serta mampu menyalurkan tiap-tiap gerak-langkah dan tingkah-lakunya, lahir maupun bathin, sepanjang Hukum-hukum Jihad; Hukum-hukum Islam dimasa perang, sehingga menjadi mujahid tulen dan mujahid sejati genap-lengkap lahir-bathin, tegasnya Mujahid yang “Jihad Minded 100%”,keyakinan mana akan mendorong Mujahid-pelakunya:
    • Untuk menumpahkan dan mengorbankan segenap tenaga dan hartanya hanya pada Jalan yang ditaburi rahmat dan ridho ilahi;
    • Untuk mengunakan tiap detik sepanjang umurnya hanya bagi jihad mentegakkan Kalimatillah;
    • Untuk mempertaruhkan jiwa, raga dan nyawanya hanya untuk persembahan dharma-bakti muthlak kepada Dzat ‘Azza wa Jalla semata; tegasnya hanya untuk mentegakkan Kalimatillah, mendhahirkan Kerajaan Allah di dunia, khusus di permukaan bumi Indonesia. Dan tiada sesuatu diluarnnya.

MENGGALANG BENTENG ISLAM NAN KUAT SENTOSA

Para Jama’atul-Mujahidin sungguh-sungguh harus sanggup, mampu dan kuasa mewujudkan ajaran-ajaran Kitabullah, Al Qur’anul ‘adzim dan mengikuti Sunnah SAW, dengan tepat dan seksama, setingkat demi setingkat, selangkah demi selangkah, sepanjang rangka Jihad dan Hukum Jihad, Insya Allah dalam Waktu yang singkat gelombang jama’ah tsb akan merupakan satu Benteng Islam raksasa yang maha kuat dan maha sentausa, lahir maupaun bathin, yang sanggup dan mampu menghadapi serta mengatasi segala kemungkinan dan keadaan betapapun sifat dan bentuknya. Beberapa fakta utama, yang akan dapat dijadikan landasan-landasan dan pembinaan ini antara lain ialah:

  1. Memupuk dan memperkembangkan rasa tanggung jawab lahir bathin yang makin bertambah-tambah besar, dalam makna:
  • Bertanggung jawab sepenuhnya akan berlakunya Hukum-hukum Allah, Hukum-hukum sepanjang ajaran Al Qur’an dan Sunnah SAW, tegasnya : Hukum-hukum Syari’at Islam atau Undang-undang Islam, atau Undang-undang NII; dan
  • Bertanggung jawab sepenuhnya akan berlakunya dan dilaksanakannya dengan tepat Hukum-hukum Islam dimasa Perang.
  1. Memupuk dan memperkembangkan rasa setia kawan yang makin bertambah-tambah mendalam, terutama dalam lingkungan Jami’atul Mujahidin, sepanjang ajaran Islam, sebagaimana yang telah terlaksana dalam pergaulan antara kaum Anshar dan Mujahirin, ialah kaum Mujahidin dibawah pimpinan, bimbingan, tuntunan dan asuhan langsung Rasulullah SAW. Pada zaman Madinah awal, di Negara Basis Islam Pertama di Yaziratul-Islamiyah termasuk meliputi segala bidang dan segi, khusus dan umum, sakhsy dan ijtima’l, dalam sepanjang ajaran suci, terutama dalam menanam, membangkitkan dan mengobar-ngobarkan Semangat Jihad dalam membina dan memperkembangkan Jiwa Jihad dan dalam melaksanakan Hukum-hukum Jihad.

Dengan demikian, maka cita-cita hendak menggalang Persatuan Islam dan Persatuan Ummat, terutama Ummatul Mujahidin yang kuat kompak lahir bathin bukanlah satu impian khayal! Jadikanlah Tali-tali Allah, perintah-perintah Allah beserta Sunnah SAW selaku Tafsirnya, sebagai daya pengikat antar jiwa dalam lingkungan Jama’atul Mujahidin! Dan kemudian perkuat dan sempurnakanlah segala usahamu dalam jurusan itu, sehingga seluruh tubuh Jama’ah akan merupakan satu Benteng Islam raksasa yang nan kuat sentausa!

Dalam pada itu, hendaklah diingat pula, tanda setia kawan itu hendaknya dibuktikan lebih dahulu dari atas kebawah, dan bukan dari bawah keatas, karena pihak atasan Komandan atau Pemimpin, harus lebih dahulu pandai menunjukkan kesungguh-sungguhannya melaksanakan wajibnya: memperlindungi, menuntun dan membimbing pihak bawahan atau anak buahnya, daripada hanya pandai menuntut kapatuhan, kesetiaan, kesetiakawanan, pembelaan dan pertangguang-jawab pihak bawahan terhadap pihak atasnya! Itulah bukti yang nyata daripada apa yang disebut Mahabbah kepada Allah dan Mushahabah terhadap sesama Mujahidin, sesama Ummatul Muslimin!

  1. Menanam dan memperkuat disiplin, umum terutama militer.

Disiplin (dicipline), dalam makna Tha’at patuh dan setia, baik dalam bidang-bidang umum maupun dalam segi-segi kemiliteran, wajib ditanam, dipupuk, diperkembangkan dan diperkuat dalam dada, jiwa, tekad dan amal setiap mujahid. Karena tiap mujahid selaku selaku pelaksana Hukum-hukum Jihad, Hukum-hukum Islam dimasa Perang, dengan otomatis sesungguhnya adalah Prajurit Tentara Allah. Tanpa disiplin, maka seorang Mujahid hanya merupakan pejuang liar, ejuang yang ingkar, menyimpang dan menyeleweng daripada Jama’ah Besar, Jama’atul Mujahidin.

Dalam keadaan biasa, sikap liar hanya akan mengecewakan. Tapi dimasa berlaku Perang Semesta, Perang Totaliter, maka disiplin masuk salah satu kewajiban mutlak, yang harus berlaku tanpa syarat, tanpa kayid dan tanpa tawar-menawar. Oleh sebab itu, hendaklah setiap Mujahid suka melatih diri demikian rupa, sehingga rasa disiplin sungguh-sungguh meresap dan terbukti dalam segala hal, sampai-sampai kepada tingkah laku dan perbuatannya sehari-hari.

Beberapa pokok yang  boleh dijadikan anak tangga mencapai disiplin adalah sebagai berikut:

  1. Disiplin terhadap kepada Allah, dalam arti kata: tha’at, patuh dan setia melaksanakan setiap perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan hati nan jujur, ikhlas dan ridho, tanpa tawar-menawar, tanpa syarat dan tanpa kayid apa dan manapun.
  1. Disiplin terhadap kepada Rosululloh SAW, dengan kenyataan mengikuti jejak SAW sesempurna mungkin, terutama dalam Jihad membina Negara Basis Madinah.
  1. Disiplin terhadap kepada Ulil Amri Islam, tegasnya Tha’at, patuh dan setia melaksanakan segala perintah Imam-Plm.T.,dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, dan lepas daripada syak, nifaq dan dhan.

Catatan :

  1. Sikap dan perbuatan disipliner terhadap kepada Ulil Amri, boleh dianggap sebagai tanda bukti yang nyata akan benarnya apa yang termaktub pada huruf C,1 dan E diatas.
  1. Sepanjang qiyas dan dalam batas-batas tertentu, maka termasuk pula dalam golongan C3 ini: Disiplin terhadap kepada para Panglima (Perang), para Komandan (Lapangan Pertempuran) dan para Pemimpin NII (atasan) lainnya.
  1. Disiplin terhadap sesuatu lain diluarnya, termasuk didalamnya disiplin terhadap diri pribadi. Misalnya :
  • Pandai mengawasi dan menguasai amal dan tindakan sendiri
  • Pandai mengekang dan mengatur segala nafsu getaran jiwa, niat, hajat, ‘adzam, rencana dan segala gerak-gerik panca indranya sendiri;
  • Sehingga tetap berjalan dan tersalurkan pada jalan dan melalui Hukum-hukum yang ditaburi Rahmat dan Ridla Ilahy; Tegasnya: tetap tertib, teliti dan hati-hati dalam melakukan Hukum-hukum Jihad. Hukum-hukum militer , ketentuan-ketentuan militer, siasat militer, dst.dst.; dalam pada itu segala hal yang membawa kepada daerah dan lalai, ceroboh dan sembrono/lalainya harus dijauhkan dan dienyahkan, tagasnya sikap tawakkal ‘alallah secara mutlak harus dipersatu-padukan dengan perbuatan-perbuatan takwa, sifat-sifat ittiqa sepanjang Sunnah; dan kedua unsur jiwa ini harus ditanam dan diperkembangkan dalam jiwa dan amal setiap Mujahid!

Disinilah setiap Mujahid memperoleh kesempatan melakukan Jihadul-Akbar disamping bersama-sama Jihadul-Asghar. Alangkah tinggi nilai setiap Mujahid, yang tahu dan sadar sepenuhnya akan keluhuran fungsinya dan yang pandai serta cakap-cukup menunaikan tugasnya nan maha mulia dan maha suci itu, walau acapkali terasa maha berat sekalipun!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s