Baitul Maal Untuk Kebangkitan Ekonomi Islam

Realitas kondisi yang tengah dihadapi oleh umat islam Bangsa Indonesia adalah dalam keadaan dho’if (tertindas) diberbagai sendi kehidupan. Ketertindasan yang dialami itu bersifat menyeluruh, baik dalam lingkup Ipoleksosbudhankam maupun dalam lingkup diluar bingkai itu.

Gagasan perlawanan atas keadaan itu, pada tataran implementasi telah bermunculan diantara kalangan umat, dari sejak masa kolonial hingga sekarang. Namun perlawanan itu belum sampai kepada gerbang fatah dan falah. Sepak terjang para pejuang perlawanan bilkhusus dalam bidang politik dan ekonomi telah dimulai sejak dahulu.

Kenyataan sejarah itu sebagaimana terungkap dalam sikap Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Dalam konteks pergerakan politik untuk tegaknya Islam dimasa sekarang, sungguh merupakan sebuah kemunduran pemikiran bila para pejuangnya tidak berfikir bahwa pergerakan politik islam tidak memerlukan dan atau tidak ada keterkaitan dengan persoalan ekonomi.

Dalam kesadaran teoritis, insya Allah para pejuang untuk tegaknya islam cukup mengerti bahwa jihad memerlukan dua syarat umum, yakni syarat amwal (harta) dan syarat anfus (jiwa). Namun kesadaran teoritis ini belum teraplikasi secara nyata dalam bentuknya secara aplikatif, sehingga sampai sekarang implementasi ekonomi islam dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dirasakan dan umat islampun masih tetap dalam kondisi miskin dan terperangkap dalam kapitalisme.

Kalaupun ada masa kini telah bermunculan perbankan islam, seperti Bank Muamalat Indonesia atau Bank Konvensional yang mengadopsi sistem perbankan islam seperti Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah atau BNI Syariah atau juga BPR Syariah sampai kepada lembaga keuangan mikro syariah seperti Baitul Maal wa Tamwil, semuanya itu hanya bersifat lebelisasi, mereka hanya merasa khawatir akan kehilangan pasar, karena umat islam adalah pasar potensial di Indonesia.

Perbankan islam dalam implementasinya masih bersifat “abu-abu”, mereka masih berada dalam dualisme hukum. Keberadaan perbankan islam di Indonesia, dalam perspektif politik hanya sebagai peredam, agar supaya umat islam merasa diperhatikan dan tidak berfikir serta tidak bertindak untuk melakukan revolusi islam.

Usaha usaha kaum pergerakan dimasa lampau baik dari segi pemikiran maupun dari segi gagasan aplikasi sudah cukup mapan, walaupun masih terhambat oleh kondisi politik pada masa itu. Dimasa Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh K.H. Samanhudi, telah digagas dan dibentuk lembaga keuangan yang berbentuk Koperasi. Lembaga keuangan ini kemudian dilestarikan hingga masa Syarikat Islam (SI). Pada masa sekarang badan koperasi ini masih terabadikan, walaupun tidak lagi memiliki identitas yang sama dengan koperasi dimasa SDI dan SI. Koperasi dimasa SDI dan SI dilandasi oleh satu prisip “ta’awuniyah (tolong menolong), nas menegaskan “…wata’awanu ‘alal birri wa taqwa wala ta’awanu ‘alal ismi wal ‘udwan“…. “…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan“….(Q.S Al-Ma’idah 5:2).

Dalam sebuah kongres Majelis Tahkim PSII thn 1929 di Jakarta (dulu betawi) telah diputuskan sebuah lembaga keuangan yang dapat memberikan solusi bagi umat islam untuk mendapat bantuan modal usaha, lembaga keuangan itu dinamakan Bank Qiradh.  Motivasi, sasaran dan tujuan dari pendirian Bank Qiradh ini adalah untuk memperbaiki perekonomian rakyat (ummat islam). Sesuai dgn namanya “Bank Qiradh” bank ini mengambil esensi dari sebuah nas, “mandzaladzi yuqridhullah qardhan hasanah“.

Dalam tataran aplikasinya, sifat dan wujud bank ini berbeda dengan bank pada umumnya (Konvensional) sebagaimana yang dikenal. Dimana bank ini merupakan suatu badan usaha perbankan yang menjalankan prinsip dan sistem ekonomi islam didalamnya, sehingga persoalan riba dan rente dapat diberantas total.

Kemudian, pada tahun 1932 PSII meluaskan pemikiran dan gagasan serta gerakan untuk tegaknya islam dalam bidang ekonomi dan politik. Gagasan itu mengerucut kedalam suatu realitas terbentuknya wilayah wilayah yang mandiri, terutama dari segi ekonomi untuk kemudian menuju sebuah wilayah mandiri secara politik. Gagasan dan gerakan ini dinamakan dengan gerakan Swadesa (Desa Mandiri). Dimana didalam wilayah desa tersebut secara ekonomi terlepas dari kungkungan kapitalisme Hindia Belanda.

Baitul Maal di Zaman Pancaroba Gagasan untuk tegaknya syariat islam dalam bidang ekonomi tidak terhenti sampai kepada usaha untuk terbentuknya Bank Qiradh, dalam sebuah artikel pada tahun 1943 telah muncul sebuah gagasan untuk pendirian sebuah lembaga keuangan yang bersifat universal. Secara historis lembaga keuangan itu merupakan bagian dari sebuah institusi islam sebagaimana yang berlaku dimasa Rasulullah, yaitu Baitul Maal.

Dalam perspektif ekonomi, Baitul Maal pada masa Rasulullah telah berwujud sebagai  suatu syarat akan kemakmuran rakyat. Kemudian dalam perspektif politik, Baitul Maal dimasa Rasulullah telah menjelma sebagai badan yang dapat mengikat persaudaraan kaum muhajirin dan anshar. Dengan demikian keberadaan Baitul Maal merupakan jembatan atau menjadi salah satu alat untuk tegaknya Islam. Baitul Maal dimasa Khulafaur Rasyidin, selain melestarikan visi dan misi yang telah ditanamkan dimasa Rasulullah, kemudian tumbuh sebagai Lembaga Perbendaharaan Umat. Dimana keberadaan Baitul Maal pada masa itu memiliki makna strategis dalam mengatur belanja Negara (Madinah) termasuk didalamnya perihal belanja perang.

Didalam islam telah tegas dan sangat qath’i berkenaan dengan hal hal yang mengatur persoalan ekonomi untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Bahkan jika digeneralisir, keberadaan islam dimuka bumi pada esensinya hanya untuk dua hal saja yakni mengatur manusia agar selamat didunia dan selamat diakhirat.  Sungguh sangat ironis, bila seorang muslim ingin selamat diakhirat namun tidak pernah mau terikat dengan syariat islam ketika didunia, baik dalam hal aqidah, ibadah maupun muamalahnya.

Tidak ada alternatif lain, bila seorang muslim ingin selamat dunia dan akhirat, maka ia harus menerima islam secara kaffah (menyeluruh) baik dengan sukarela maupun terpaksa. Dimana islam kaffah meliputi dasar dasar islam, bangunan islam dan penguat islam. Dasar dasar  islam yakni iman, islam dan ikhsan. Bangunan islam yakni ipoleksosbudhankam dan Penguat islam yakni Jihad fie Sabilillah.

Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo dalam artikelnya menyatakan “Tiap tiap manusia yang sadar akan kewajibannya, tentulah ingin melakukan amal usaha yang suci, yang bisa membawa dia kearah kesejahteraan dan kemakmuran, dalam arti kata: Keselamatan dunia dan Kemuliaan akhirat”.

Dalam pendirian Baitul Maal hendaknya diawali oleh niat yang suci dan diimplementasikan dalam hajat yang suci pula. Baitul Maal bukanlah suatu gerakan sosial politik yang berbentuk sebuah perhimpunan atau organisasi, akan tetapi Baitul Maal merupakan sebuah badan amal atau suatu tata usaha sehingga tercukupinya hajat perjuangan dan hajat masyarakat umumnya dalam memenuhi kebutuhan pokok, khususnya dalam bidang pangan, sandang, pendidikan anak dan kesehatan. Oleh karena demikian, maka pendirian Baitul Maal harus diasaskan kepada sendi sendi  yang suci menuju maksud yang sejati. Yang dimaksud “suci dan kesucian” adalah pendirian Baitul Maal harus diasaskan kepada syariah, sehingga tiap tiap amal usaha yang dilaksanakan oleh Baitul Maal bersifat ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Sifat Baitul Maal pada kondisi sekarang, tentunya berbeda bila dibandingkan dengan Baitul Maal dimasa Rasulullah atau dimasa para sahabat. Perbedaan sifat itu bukan dimaksudkan untuk tampil beda dan tidak mengambil pelajaran dari sunnah Nabi, akan tetapi perbedaan sifat ini semata-mata karena faktor kondisi yang mempengaruhinya. Sekalipun demikian, Baitul Maal dalam implementasinya dimasa sekarang semaksimal mungkin disesuaikan dengan sunnah, terutama dalam hal-hal yang bersifat prinsip.

“Dialah yg meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan RahmatNya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih, agar Kami hidupkan dengan air itu negri (tanah) yang mati dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya). Maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari nikmat” (Q.S.Al-Furqan 25:48-50).

“Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu” (Q.S. Fatir 35:9).

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)” (Q.S. Az-Zukhruf 43:11).

Dari beberapa nash Qur’an diatas, satu dari sekian banyak esensi yang terkandung dalam ayat ayat tersebut, memberikan informasi kepada manusia bagaimana cara Allah menghidupkan perekonomian yang mati, baik perekonomian yang bersifat mikro maupun makro. Setiap manusia diperintahkan Allah untuk memetik hikmah dari padanya, pernyataan Allah dalam nash itu menegaskan, “mudah mudahan kamu mengambil pelajaran“. Seharusnya umat islam menyadari bahwa perekonomian yang berjalan pada masa sekarang bukanlah suatu perekonomian yang dilandaskan pada prinsip dan sistem ekonomi islam.

Oleh karena demikian, maka perekonomian islam dalam kondisi mati. Dampak dari kematian prinsip dan sistem ekonomi islam, maka islam dan umatnya tertindas dalam hal ekonomi. Kini, disadari atau tidak bahwa umat islam telah menjadi kaki tangan Kapitalisme juga ada yang terjebak dalam gerakan untuk bangkitnya ekonomi kapitalis. Landasan Filsafat Pendirian Baitul Maal Atas kenyataan tersebut, tentunya menghendaki sebuah metode (cara) untuk bangkit dari ketertindasan. Insya Allah apa yang telah diinformasikan dalam nash merupakan sebuah cara yang terbaik, dimana itu merupakan cara Allah untuk membangkitkan ekonomi umat islam dari ketertindasan dan keterpurukan.

FirmanNya menegaskan: “Dan Dialah yg meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan RahmatNya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan didaerah itu. Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan, seperti itulah Kami membangkitkan orang orang yang telah mati. Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah. Dan tanah yang buruk tanaman tanamannya hanya tumbuh dengan merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda tanda kebesaran (Kami) bagi orang orang yang bersyukur” (Q.S Al-A’raf 7:57-58).

Dalam proses sebelum terwujudnya awan, ada sebuah faktor yang samar di dalam nash tersebut. Ilmu pengetahuan alam telah menemukan sebuah siklus bagaimana proses terjadinya hujan. Insya Allah telah maklum, bahwa adanya awan karena adanya sebuah proses penguapan melalui penyinaran dari matahari.  Inilah faktor yang tidak terungkap dalam nash tersebut diatas, yaitu matahari menyinari bumi dan menguapkan segala potensi materi yang mengandung air, baik dalam wujudnya yang berbentuk sungai, laut ataupun pohon pohon  dan benda benda lain yang mengandung air.

Dengan demikian, siklus kehidupan (ekonomi) factor factornya adalah: 1) Matahari; 2) Angin; 3) Awan; 4) Hujan; 5) Tumbuhan; 6) Tanah. Mengambil hikmah (pelajaran) dari ayat ayat Allah tersebut diatas dengan analogi sebagaimana yang sudah dipaparkan diatas, maka proses untuk terwujudnya kebangkitan ekonomi islam atau aktivitas usaha umat islam adalah memerlukan beberapa hal, sehingga umat islam dapat memungkinkan untuk mengaplikasi sebuah perekonomian yang dapat mensejahterakan diri dan keluarganya, dan lebih luas untuk mensejahterakan masyarakat dan memajukan negaranya dalam bidang ekonomi.

Hal hal yang diperlukan itu ialah:

  1. Kebijakan (Syariat/Hukum) Dalam perspektif bermasyarakat (bernegara), salah satu faktor yang dibutuhkan oleh umat agar roda perekonomian islam dapat berjalan adalah memerlukan undang undang dan produk hukum lainnya yang mengatur secara teknis. Dalam hal ini sangat baik dan itulah yang benar, bila produk hukumnya dikeluarkan oleh Negara Islam. Sungguh sangat tidak benar dan tidak baik, bilamana penerapan ekonomi islam berada dalam bingkai dualisme hukum, sampai kapanpun tidak akan sampai pada sasaran baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur dan jauh dari Ridha Allah.

KERAKYATAN Inilah suatu realitas, dimana Allah telah mensinyalir bahwa “kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari nikmat”. Allah Azza wa Jalla telah memberikan solusi bagaimana cara membangkitkan ekonomi islam, namun kebanyakan manusia karena keingkarannya, mereka lebih condong menjadi kapitalis atau sosialis.

Nash menegaskan, “seperti itulah Kami membangkitkan orang orang yang telah mati“. Dalam perspektif ekonomi dan mengacu pada keumuman dalil sebagaimana tersebut diatas, bahwa cara Allah membangkitkan perekonomian umat (islam), hanya dengan beberapa hal yang penting untuk digerakkan yaitu Allah menggerakkan angin untuk menghalau awan, kemudian awan pada ketinggian tertentu menurunkan hujan, dan hujan menjadi sebab tumbuhnya pohon pohonan dan berbuah. Sesuai dengan nash diatas, hanya ada satu faktor tumbuh tidaknya pohon pohon tersebut, yaitu faktor tanah. Bila tanahnya baik maka pohon pohonanya akan tumbuh dengan suburnya. Sebaliknya, bila tanahnya tidak baik maka pohon pohonan itu tumbuh merana.

Walaupun demikian, bila negara islam belum defacto dan dejure atau belum ada sama sekali, tetapi sudah ada jamaah(kumpulan orang islam) secara mandiri umat islam dapat langsung mengacu kepad Al-Quran dan Hadits dalam mengambil hukum sebagai kebijakan dalam menata perekonomian. Al-Qur’an dan Hadits secara kultural telah menjadi hukum tertinggi dalam kalangan umat islam. Akan tetapi praktek semacam ini hanya untuk kondisi dharuri (sementara sebelum adanya negara islam).

Hal yang paling benar dalam berekonomi adalah tidak lepas dari adanya sebuah negara islam. Hal mana itu diperlukan karena umat islam adalah makhluk sosial dan dalam kehidupan sosialnya memerlukan sebuah badan yang mengikat hingga terwujudnya masyarakat yang harmonis.

Kebijakan atau hukum dan atau syariat adalah manifestasi dari analogi matahari dalam siklus kehidupan sebagaimana dipaparkan diatas. Keberadaan Matahari yang sebenarnya (planet matahari) sangat diperlukan, bahkan bukan hanya oleh manusia, oleh makhluk lainnyapun dibutuhkan. Ahli ilmu pengetahuan alam menyimpulkan bahwa matahari adalah sumber energi sekaligus sebagai sumber kehidupan makhluk dibumi. Oleh karena demikian, maka Al-Quran dan Hadits yg dianalogikan sebagai matahari ia sangat diperlukan oleh manusia dan makhluk lainnya dibumi.

Sungguh sangat bodoh jika ada manusia yang tidak bisa menerima Al-Quran dan Hadits sebagai sumber kehidupan. Dalam kehidupan bermasyarakat, hal yang utama adalah memerlukan hukum. Bila tanpa hukum, dapat dipastikan manusia itu akan sama perilakunya dengan binatang.

Hukum Islam (Kebijakan Islam) dalam konteks muamalah, sekalipun masih terbuka adanya ijtihad demi kemaslahatan umat dan syi’ar islam, sebagiannya telah cukup untuk dijadikan landasan dalam bermuamalah. Sekalipun masih ada beberapa bagian lainnya yang memerlukan ijtihad, insya Allah dari kalangan umat islam sangat banyak yang mumpuni untuk digolongkan sebagai mujtahid.

Melalui sumber hukum dan hukum tertinggi umat islam itu, maka hukum hukum islam dapat diimplementasikan kedalam suatu bentuk dan aplikasi ekonomi islam. Misalnya berkenaan dengan kewajiban bagi umat islam untuk menunaikan zakat, infaq dan shadaqah. Juga untuk hal hal lainnya, misalnya wakaf, hibah, hadiah dan sebagainya. Dalam konteks aplikasi ekonomi islam pada masa sekarang hukum hukum islam yang terkait dengan muamalah tersebut dapat dijadikan kebijakan yang mengikat.

Dalam prosesnya, matahari secara konstan setiap saat menyinari bumi. Panas matahari yang menyentuh bumi secara fitrah menguapkan segala materi yang mengandung unsur air (H2O), baik materi yang ada dipermukaan tanah ataupun materi yang berada didalam tanah. Selanjutnya uap dari hasil penyinaran sinar matahari tersebut bersifat gas, maka secara perlahan-lahan ia akan meninggi dan menggumpal dalam ketinggian tertentu. Pada saat proses penguapan, gas air (uap) tidak tampak, namun ketika gas air tersebut dengan melalui proses alam pada ketinggian tertentu menggumpal, kemudian dikenal oleh manusia adalah awan. Dengan analogi tersebut diatas, maka penting adanya kebijakan yang dapat mengatur adanya siklus ekonomi (kehidupan).

Dalam tataran implementasi, pengorbanan umat sebagai manifestasi dari adanya pelaksanaan hukum, itu harus terwadahi, untuk kemudian dari wadah tersebut didistribusikan kembali sesuai haknya.

Insya Allah sudah maklum dan mafhum, bahwa setiap umat mempunyai kewajiban untuk mengorbankan hartanya, baik dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah dan atau lainnya seperti hibah, wakaf, hadiah dan sebagainya.

  1. Baitul Maal (Lembaga Keuangan). Dlm siklus kehidupan, awan adalah terbentuk atau berwujud (nampak) pada ketinggian tertentu dari sebuah proses penggumpalan uap air dari berbagai arah. Melalui analogi ini, untuk terwujudnya siklus perekonomian umat islam, maka segala pengorbanan umat sebagai akibat dari adanya perintah (kebijakan/hukum) adalah memerlukan wadah yang dapat menampung dan mendistribusikannya kembali.

Dalam konteks ini, maka baitul maal merupakan manifestasi dari qiyas adanya awan. Eksistensi baitul maal dalam konteks bernegara merupakan sebuah institusi yang dilahirkan oleh undang undang dan produk hukum lainnya yang mengatur factor faktor teknis. Keberadaannya harus demikian, karena ia merupakan refresentasi dari sebuah lembaga keuangan Negara Islam.

Dalam konteks negara islam masih dalam kondisi perjuangan, institusi baitul maal tetap bisa digagas demi terwujudnya kemaslahatan umat dan syi’ar islam terus berjalan. Dalam kondisi demikian, baitul maal harus tampil sebagai institusi yang berwibawa dan teguh dalam menghadapi berbagai tantangan dan halangan. Teknis pembentukan baitul maal dalam kondisi dimana islam belum memiliki institusi yang dhahir, adalah dapat dilakukan oleh sekumpulan jama’ah.

  1. Pengelola Baitul Maal. Faktor ketiga dalam siklus kehidupan yang terukir melalui nash diatas adalah perihal angin. Dalam fungsinya, angin sebagaimana diterangkan ia merupakan pembawa berita gembira sebelum kedatangan RahmatNya berupa hujan, kemudian angin berperan juga sebagai pembawa (penghalau) awan yang diarahkan kesuatu daerah yang tandus.

Baitul Maal sebagai sebuah badan untuk dapat berfungsi dan berperan sebagaimana mestinya ia harus digerakkan oleh unsur manusia sebagai penggeraknya. Maka angin dalam nash ini merupakan qiyas dari pengelola Baitul Maal. Dengan demikian, fungsi utama pengelola baitul maal adalah menggerakkan, agar baitul maal dapat mengayomi seluruh masyarakat. Dalam potensinya, baitul maal merupakan badan yang berfungsi sebagai fasilitator aktifitas bisnis yang berjalan di masyarakat. Fasilitas yg digulirkan oleh baitul maal berupa kucuran modal/kapital untuk keperluan produktif dan untuk keperluan konsumtif.

  1. Modal/Kapital. Untuk tumbuhnya perekonomian adalah mutlak diperlukan modal awal (kapital atau lainnya). Nash menegaskan, “lalu Kami turunkan hujan didaerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran” Memperhatikan kepada nash ini, maka yang dimaksud dengan hujan sebagaimana dimaklum bahwa ia merupakan Rahmat atau solusi bagi daerah yang kekeringan. Dengan sebab hujan maka tumbuh tumbuhan akan bertunas dan berbuah.

Dalam konteks perekonomian, maka hujan merupakan qiyas dari modal yang harus dikucurkan oleh Baitul Maal. Kucuran modal itu sesuai dengan keterangan nash, bahwa dengan dikucurkannya modal, maka pelbagai macam bisnis dari kelas kecil sampai kelas menengah dan atas akan tumbuh dan akan membangkitkan perekonomian umat islam.

  1. Tumbuhan (badan usaha/bisnis). Nash menegaskan, “…..maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan….” Dalam implementasi berekonomi, maka cukup jelas bahwa dengan dikucurkannya modal (hujan) akan tumbuh dan berkembang berbagai macam usaha umat islam. Dari usaha yang skala kecil hingga yang besar, dan semua itu akan memberikan fitback kepad Negara. Tumbuh tumbuhan dalam nash diatas merupakan qiyas dari aktifitas bisnis umat islam khususnya atau manusia pada umumnya. Dalam konteks membangun ekonomi islam yang benar dan adil, sebelum tumbuhnya bisnis bisnis yang menengah dan besar adalah bisnis kecil walaupun tidak begitu kuat akarnya, namun bilamana hujan turun, yang akan pertama-tama tumbuh adalah rumput (pengusaha kecil). Tumbuh dan suburnya rerumputan merupakan indikasi atau ciri dari sebuah lahan itu subur. Dan itu merupakan sinyal bagi tumbuhnya usaha usaha besar.

Dengan demikian, kucuran permodalan dari baitul maal kepada pengusaha kecil merupakan prioritas. Insya Allah, pengusaha kecil itulah yang akan membesarkan pengusaha pengusaha menengah dan besar.

  1. Tanah (praktisi ekonomi/pedagang, produsen/masyarakat). Berkembang dan tidak berkembangnya perekonomian umat islam, juga ditentukan oleh keadaan wilayah. FirmanNya menegaskan, “Dan tanah yang baik, tanaman tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang buruk, tanaman tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda tanda kebesaran (Kami) bagi orang orang yang bersyukur.

Suatu wilayah akan dikatakan cukup baik bagi tumbuhnya perekonomian, adalah tergantung sejauh mana tingkat konsumsi dalam wilayah itu. Untuk hal ini, sepanjang dalam suatu wilayah ada kehidupan (masyarakat), insya Allah akan ada kebutuhan, karena adanya kebutuhan tersebut, maka wilayah itu memiliki potensi market yang baik.

Dengan demikian, karena adanya kebutuhan, maka wilayah itu berarti termasuk wilayah yang subur bagi tumbuhnya perekonomian. Dari paparan siklus ekonomi tersebut diatas, factor factor  yang berpengaruh besar terhadap kebangkitan ekonomi islam baik dalam perspektif pemikiran maupun aplikasinya adalah meliputi: 1) Kebijakan; 2) Badan Keuangan(Baitul Maal); 3) Pengelola Baitul Maal; 4) Kapital (Modal); 5) Praktisi Bisnis (Badan usaha, private/kolektif); dan 6) Pasar (Masyarakat pemilik kebutuhan).

Bila dikorelasikan kepada bagaimana cara Allah menciptakan alam semesta, dimana Allah dalam menciptakan langit, bumi dan segala isinya yang diperuntukkan bagi manusia khususnya dan bagi makhluk lain pada umumnya adalah dalam 6 (enam) masa. Mengingat kepada keumumam dalil, maka enam faktor yang tersebut diatas merupakan sebuah proses untuk terwujudnya baldah thayyibah (Negara yang baik). Sudah umum diketahui bahwa sebuah Negara dikatakan maju, salah satu faktor yang menonjol adalah karena perekonomiannya maju dan rakyatnya sejahtera.

Kepentingan berdirinya Baitul Maal bagi masyarakat (khususnya umat islam) adalah bagi terwujudnya kesejahteraan atau setidak-tidaknya ialah tercukupinya kebutuhan (hajat) minimum secara bersama-sama. Pada sisi lain keberadaan Baitul Maal tidak akan lepas dari kewajibannya dalam menutupi kebutuhan dakwah untuk tegaknya Dienul Islam secara kaffah.

Untuk mencapai sasaran dan tujuan berdirinya Baitul Maal, maka:

✅Baitul Maal memperoleh harta bendanya dari kalangan rakyat sesuai syariah, dengan jalan ini kalangan ghaniyuun (hartawan) mempunyai kesempatan yang sangat luas dalam menunaikan amanah yang diembankan kepadanya berupa pengorbanan harta yang merupakan hak mustahiqien. Inilah jalan bagi para ghaniyuun dalam membersihkan jiwa dan hartanya dijalan Allah.

✅Baitul Maal mempunyai kewajiban untuk mendistribusikan harta yang terhimpun kepada masyarakat baik dalam bentuk untuk menutupi kebutuhan yang bersifat konsumtif maupun kebutuhan produktif. Baitul Maal dalam pengelolaan harta yang terhimpun itu mempunyai hak untuk memenej, sehingga penerimaan dan pengeluaran Baitul Maal menjadi harmonis dan semua kebutuhan masyarakat dapat tercukupi. Selain itu hak memenej Baitul Maal, juga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan secara administrative.

✅Baitul Maal dari keberadaannya secara fungsional, juga ia akan berperan dalam meminimalisir tingkat kejahatan sebagai akibat dari adanya kekurangan dan kesulitan hidup (kemiskinan) masyarakat. Kejahatan yang dimaksud, baik kejahatan yang mengenai dirinya sendiri ataupun kejahatan yang mengenai orang lain.

✅Baitul Maal dalam perannya sebagai sarana dakwah, ia dapat melakukan bimbingan kepada masyarakat secara langsung, baik dalam hal mental maupun dalam hal bisnis. Bahkan, insya Allah peran ini sangat efektif bila dijalankan sungguh-sungguh karena peran ini terkatagori kepada dakwah bilhal.

Kepemilikan Baitul Maal Mengacu kepada prinsip kepemilikan didalam islam, bahwa “almilku lillahi wahdah_kepemilikan itu satu-satunya hanya Allah_” dan “almaalu maalullah_segala harta itu adalah harta Allah“, maka kepemilikan itu mutlak milik Allah semata. Oleh karena demikian, maka kepemilikan itu tidak dapat dimiliki oleh individu ataupun kolektif.

Dalam implementasi berekonomi, maka segala harta yang ada pada masyarakat atau yang dikuasai oleh Negara adalah bersifat amanah. Oleh karena demikian, manusia secara private maupun secara kolektif tidak dapat menguasai harta secara mutlak. Namun Allah dengan KuasaNya memberikan amanah agar harta Allah itu dikelola oleh manusia baik secara private maupun dengan cara kolektif.

Dengan demikian harta Baitul Maal yang terhimpun dari berbagai sumber bukan milik individu individu pengelola Baitul Maal ataupun milik kolektif dart suatu masyarakat. Baitul Maal sebagai sebuah badan, eksistensinya bukan merupakan sebuah badan usaha (Persero atau CV atau lainnya). Baitul Maal dalam konteks keterkaitan dalam sistem ekonomi, maka kepemilikan dalam Baitul Maal merupakan sebuah antitesis dari dua sistem ekonomi yang selama ini diusung oleh para “AHLINYA”, yaitu Kapitalisme dengan berbagai mazhabnya dan Sosialisme (dalam konteks Indonesia kini dinamakan ekonomi kerakyatan) dengan ragam bentuknya.

Dengan demikian Baitul Maal merupakan salah satu sub sistem dari sistem ekonomi islam secara universal. Mengacu kepada keumuman dalil, “Dialah Allah, yg menjadikan segala yg ada dibumi untuk kamu…” (Q.S. Al-Baqarah 2:29). Maka pendirian Baitul Maal ditujukan untuk kemaslahatan seluruh manusia didalam memenuhi kebutuhan fitrahnya, yaitu berusaha. Dalam kaitan ini, bahwa selain umat islam pun (kristen, hindu, budha, kong hu cu dll) adalah memiliki hak atas segala produk yang dikeluarkan oleh Baitul Maal sebagai lembaga keuangan jama’ah.

Mungkinkah gagasan Baitul Maal yg pernah digagas oleh PSII dahulu diwujudkan pada masa kini, demi kebangkitan ekonomi umat islam ??  Wallohu a’lam bishshowab…….

Semoga segala usaha untuk memperjuangkan tegak dan teguhnya kembali Negara Karunia Allah di bumi Indonesia Mendapatkan tolong dari al Malikus samawati wal ardi, Allahu Rabbii.. utuslah dari sisiMu Kekuasaan yang menolong dan jadikanlah pada pemimpin pemimpin kami keilmuan dan kebijaksanaan, rasa keadilan dan keberanian, berilah mereka kemampuan memimpin kami dalam revolusi menegakkan dien Mu yang haq ini, tetapilah mereka menjadi pemimpin yg Engkau Ridhai..Anta Yaa khairul Nashiriin..Yaa khairul Faatihiin… Yaa Rabb kami, jadikan Negara Islam Indonesia ini sebagai KaruniaMu bagi kami, menangkanlah para mujahidnya dalam menghadapi musuh musuhnya..menangkanlah dengan kekuatanMu, lingkupi kami dengan MakarMu..sebaik-baik makar..Anta Yaa Khairul Makiriiin… Yaa Rabb kami.. sesungguhnya hanya kepadaMu lah kami mengabdi, hanya kepadaMu lah kami berserah diri, hanya kepadaMu lah kami memohon pertolongan..Amiin Yaa Rabbal ‘Aalamiiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s