Menjadikan Negara Islam Indonesia Sebagai Washilah dalam Bertaqwa kepada Allah SWT

Laporan pandangan mata pada acara Tazkirah ( Peringatan ) Proklamasi Negara Islam Indonesia ke 70 tahun, pada tanggal 12 Syawal 1438 H, bertepatan dengan tanggal 6 Juli 2017

 

Sesungguhnya, berdirinya Negara Islam Indonesia, yang diproklamasikan pada 12 Syawal 1368 H, bertepatan dengan 7 Agustus 1949 M merupakan nikmat yang besar bagi bangsa Indonesia. Karena itu, Ummat Islam Bangsa Indonesia khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, seharusnya mensyukuri kurnia ini, dengan menjadikan Negara Islam Indonesia sebagai washilah dalam bertaqwa kepada Allah SWT.[1] Nas-Nya menegaskan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, ...”.[2]

Sungguh sangat absurd, jika ada dari kalangan kaum muslimin, terlebih umat Islam bangsa Indonesia, dalam bertaqwa kepada Allah SWT, menjadikan darul kuffar sebagai tempat untuk mendekatkan diri kepada-Nya, Demikian disampaikan oleh  Muhammad Yusuf Thahiri, Imam Negara Islam Indonesia, dalam acara Tazkirah (peringatan) Proklamasi Negara Islam Indonesia  yang ke 70 pada tanggal 12 Syawal 1438 H bertepatan dengan tanggal 6 Juli 2017 di daerah Jawa Barat.

Kemudian Imam Negara Islam Indonesia yang juga sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia ini, menegaskan, ketahuilah dan pahamilah, sesungguhnya manusia yang hatinya telah diliputi nuurallah atau dalam jiwanya telah melekat suatu tekad, bahwa peradaban Islam itu sebuah kemestian, maka tempat berjuangnya adalah di dalam bait yang diizinkan Allah SWT, yakni Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia.

Di dalam bait inilah seharusnya ummat Islam dan kaum muslimin bangsa Indonesia mendekatkan diri kepada Allah SWT, bertasbih dan mengagungkan asma-Nya. Mereka yang berkhidmat di dalam melaksanakan ketakwaannya di dalam Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia adalah muttaqien yang tidak dilalaikan oleh gemerlapnya kehidupan dunia, mereka senantiasa mengingat Allah, mereka senantiasa menegakkan shalat demi tegaknya dienul Islam dan merdekanya Negara Islam Indonesia, mereka senantiasa  menunaikan hartanya (zakat) demi bangkitnya al-iqtishadiyah, dan mereka adalah orang-orang yang takut akan datangnya kiamat, yaitu suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.[3]

Sebagaimana telah dimaklum,  sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.[4] Karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dimana saja kita berada, bertaubatlah dan ikutilah kesalahan dengan kebaikan, dan marilah kita bermasyarakat dan bernegara di dalam Negara Islam Indonesia dengan akhlak Rasulullah SAW sebagai bingkainya, yakni al-qur’an dan sunnah.[5]

Dalam momentum tadzkirah I’lanu daulah atau peringatan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun ini, penting bagi kita untuk ber-muhasabah atas ketakwaan yang telah kita perbuat di dalam Negara Islam Indonesia.

Pemerintah Negara Islam Indonesia, dalam hal ini Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia telah menetapkan sebuah pedoman bagi Ummat Islam Bangsa Indonesia dalam bertakwa kepada Allah SWT, bagi tegaknya Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, sehingga hukum syariat Islam yang dicita-citakan berlaku seluas-luasnya dalam kalangan umat Islam bangsa Indonesia khususnya dan dalam masyarakat Indonesia pada umumnya. Pedoman itu ditetapkan pada tahun 2008 dan diberi nama marhalah jihad.

Pedoman ini masih berkorelasi, dengan pedoman yang telah ditetapkan di masa terdahulu, di masa Imam Asy-Syahid SM. Kartosoewirjo.[6] Selain di sandarkan kepada Al-Quran dan al-Hadits yang merupakan sandaran utama di dalam pedoman ini, juga disandarkan kepada historis dan penjelasan proklamasi Negara Islam Indonesia.

Untuk tercapainya tujuan, sasaran, dan target marhalah jihad, telah ditetapkan juga sebuah pedoman teknis pelaksanaan, yang diberi nama minhaj binayatil ummat, kemudian dikenal dengan istilah sab’ul binayah. Inilah kitab atau undang-undang yang mengatur tata cara bertakwa kepada Allah SWT dalam perspektif kenegaraan di dalam Negara Islam Indonesia, sebagai produk hukum dari Ulil Amri (pemerintah Negara islam Indonesia).

Insya Allah, secara esensi maupun substansi, undang-undang ini tidak ada keraguan di dalamnya, karena tidak menyelisihi al-qur’an dan sunnah Rasulullah.[7] Dalam konteks implementasinya, jika dikorelasikan dengan nas-Nya yang menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. …”[8] Maka seluruh jajaran aparatur Negara dan rakyat Negara Islam Indonesia wajib mengimplementasikan segala produk hukum yang dturunkan Allah SWT, segala produk hukum yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW, dan segala produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintah Negara Islam Indonesia dengan penuh ketaatan.

Jika tidak melaksanakan, maka itu tergolong kepada pelanggaran dan beresiko hukum. Jika di dalam produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintah Negara Islam Indonesia terdapat kesalahan dan kekeliruan, maka wajib untuk diadakan perubahan dan penyempurnaan sesuai mekanisme yang berlaku di dalam Negara Islam Indonesia. Inilah makna ayat yang menegaskan,“…jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.[9]

Lebih jelas lagi Abu MYT, sebagai panggilan akrab beliau, menegaskan, Dalam konteks ini penting untuk diperjelas, bahwa yang melaksanakan Pedoman Umum Program Perjuangan Negara Islam Indonesia atau dalam konstitusi disebut dengan istilah GBHN _Garis Besar Haluan Negara_ dapat disebut sebagai muttaqien. Dan muttaqien itu adalah mereka yang mampu melaksanakan segala makna yang terkandung di dalam arkanul iman dan segala makna yang terkandung di dalam arkanul islam. Sesuai dengan nas yang dikutip diatas, muttaqien itu diantaranya adalah mereka yang mengimani yang ghaib, yang menegakan shalat, dan yang menafkahkan hartanya yang telah dianugerakan Allah SWT.[10]

Beriman kepada yang ghaib yaitu yaumul akhir, dalam perspektif perjuangan bagi tegaknya Negara Islam Indonesia, adalah berakhirnya peradaban jahiliyah dan bangkitnya peradaban Islam, itulah hari kebangkitan dan kemenangan Islam, yang rahasianya ada pada Allah SWT. Itulah dunia baru atau peradaban Islam yang secara umum telah ditegaskan dalam mukadimah Kanun Azasi Negara Islam Indonesia, yakni “mencari dan mendapatkan mardlatillah, yang merupakan hidup di alam ikatan dunia baru, yakni Negara Islam Indonesia yang merdeka”.[11]

Karena peradaban Islam atau ikatan dunia baru itu merupakan suatu masa yang akan terjadi di masa depan, maka sebelum sampai pada kenyataanya disebut dengan istilah ghaib. Dengan demikian, kewajiban kita adalah bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan marhalah jihad, sehingga kita sampai pada kemenangan yang ditakdirkan Allah SWT.

Kemudian, dengan keyakinan yang mendalam akan datangnya kebangkitan peradaban Islam dan luluh lantaknya peradaban jahiliyah, setiap muttaqien senantiasa bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan shalat. Pelaksanaan shalat bagi setiap muttataqien adalah meliputi keseluruhan pengertian shalat sebagaimana ditegasakan dalam nas maupun hadits.

Dan bagi tegaknya dienul islam atau darul islam dan atau Negara Islam Indonesia, shalatnya seorang muttaqien mengerucut kepada suatu pengertian sebagaimana nas menegasakan, ash-shalatu ‘imaaduddien.

Dan telah dimaklum, bahwa shalat itu diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang penuh konsentrasi menghadap baitullah. Dengan demikian; gerak hati, gerak lisan, dan gerak jasmani shalatnya setiap muttaqien dalam perspektif memperjuangkan dienul islam adalah tertuju kepada bait yang diizinkan Allah SWT, yaitu Darul Islam atau dalam konteks Indonesia adalah Negara Islam Indonesia.

Dan, sebagaimana dimaklum, bahwa setiap hamba yang akan melaksanakan shalat, disyaratkan agar ber-wudhu atau mensucikan diri dari segala najis, dan ini merupakan bagian dari syarat sahnya shalat. Mengambil spirit dari bab wudhu ini, maka hendaknya setiap mujahid di dalam memperjuangkan tegaknya Negara Islam Indonesia, hendaklah dirinya terbebas dari segala macam najis yang melekat di dalam jiwa. Bersih jiwa artinya setiap jiwa kita hendaknya terbebas dari segala macam bentuk syirik, dan tidak pernah melakukan talbis.[12] Jika tanpa sengaja terjadi, maka tajdidul iman adalah kewajiban yang harus ditunaikan, sehingga iman setiap mujahid senantiasa terpelihara.

Mengambil spirit yang termaktub di dalam nas dan hadits, bahwa dalam setiap perintah shalat senantiasa bergandeng dengan perintah zakat, maka makna yang terkandung didalamnya, bahwa jihad fisabilillah atau dalam memperjuangkan tegaknya Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia harus disertai dengan dua pengorbanan, yaitu biamwalikum waanfusikum. Inilah makna yang terkandung dalam nas tersebut di atas, bahwa muttaien itu senantiasa mengorbankan hartanya yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya.[13]

Sekecil apapun pengorbanan harta yang ditunaikan oleh setiap muttaqien dalam masa perjuangan akan dibalas  maksimal oleh Allah SWT. Karena itu, marilah kita serahkan harta yang diamanahkan kepada kita bagi tegaknya Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Dan janganlah ada rasa berat dalam menunaikannya, karena sesungguhnya harta yang dikuasai oleh setiap mukmin adalah amanah Allah SWT, dan bersyukurlah dengan amanah tersebut.

Pahami dan ketahuilah, sesungguhnya segala harta adalah harta Allah dan segala kepemilikan adalah milik Allah SWT sedangkan kita sebagai hambaNya hanya diberikan hak pakai dan pendayagunaannya adalah semata mata untuk mendapatkan ridha Allah. Inilah prinsip kepemilikan di dalam system ekonomi Islam.

Penting juga untuk dipahami oleh Ummat Islam Bangsa Indonesia dan kaum muslimin pada umumnya, dalam sebuah kitab fikih ditegaskan, bahwa menunaikan zakat kepada pemerintah darul kuffar adalah haram hukumnya.[14]  Maka pilihannya, penunaian kewajiban zakat bagi ummat Islam adalah di dalam Darul Islam, yakni di Negara Islam Indonesia.

Dalam konteks pembiayaan perjuangan bagi tegaknya Negara Islam Indonesia, penting juga untuk dipahami akan sebuah riwayat yang menegaskan, “nahnu nuharribu bima’unatil musyrik _kita kaum yang berjuang tanpa bantuan musyrik”. Dengan demikian, pemerintah Negara Islam Indonesia dalam pemenuhan anggaran perjuangan dan anggaran pembangunannya harus mandiri, memaksimalkan potensi amwal yang diamanahkan kepada setiap mukmin dan bergantung mutlak kepada Allah SWT, nas menegasakan, innallaha ghaniyun hamid.

Selanjutnya Abu MYT menyerukan kepada seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia dan seluruh jajaran aparatur di berbagai lembaga Negara Islam Indonesia, marilah kita beristishab. Bahwa sasaran, tujuan dan target Marhalah Jihad dari segi konsepsional adalah adanya Pedoman Umum Program Perjuangan Negara Islam Indonesia, sehingga menjadi petunjuk umum pelaksanaan Jihad fi sabilillah.[15] Dengan demikian, telah ada jawaban bagi siapa saja yang bertanya, mau apa dan mau kemana arah dan tujuan perjuangan Negara Islam Indonesia.

Dalam perspektif  bagi tegaknya Negara Islam Indonesia, inilah makna huddaa lilmuttaien.  Pemerintah Negara Islam Indonesia, dalam hal ini Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, terhadap siapa saja yang melaksanakan pedoman ini, tentunya akan memberikan apresiasi sesuai dengan spirit yang termaktub di dalam nas, ”… Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan oleh-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.[16]

Dalam konteks pelaksanaan, sasarannya adalah memerdekakan bumi Allah dari kekuasaan orang-orang kafir di mulai dari Indonesia; dan tujuannya adalah memberlakukan Hukum Islam di muka bumi Allah di mulai dari Indonesia; dan targetnya adalah tegaknya Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia (NKA-NII) serta tegaknya khilafah fil ardh.[17] Penting untuk dicatat dan diingat bahwa target i’dad, ribat, qital, dan futuh harus tuntas dalam periode program jangka menengah.

Selanjutnya, Imam NKA-NII ini mengingatkan pada seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, sebagaimana telah dimaklum dalam sejarah, bahwa seiring kandasnya proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia di meja perundingan, kemudian hingga diproklamasikannya Negara Islam Indonesia adalah berjalan dalam tempo waktu kurang lebih 3,5 tahun. Jika kita harus menjawab, kemungkinan tercapainya marhalah jihad hingga tahapan futuh yang hanya berbatas waktu kurang lebih 3 tahun, sesungguhnya Allah SWT telah menegaskan, ”… sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah”.[18]

Maka dengan keyakinan terhadap khabar ilahi ini, kita optimis; bahwa dalam waktu yang terbatas ini, akan sampai pada tahapan jihad yang telah kita tentukan, insyaa Allah. Tentunya dengan catatan, selain kita harus mengimani qadla dan qadar-nya Allah yang pasti, kita harus menampilkan diri dalam berjuang sebagaimana para mujahid terdahulu, bahwa Imam Asy-Syahid SM. Kartosoewirjo bersama dengan para sahabatnya, dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, mereka adalah orang-orang yang sanggup berbuat maksimal dan full konsentrasi untuk mencapai kemenangan itu.  Maka bagi kita pada masa kini, marilah aplikasikan nas yang menegaskan, ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; …”,[19] dengan geraknya mengacu kepada spirit nas yang menyatakan, ”fiyaumin kaana miqdaruhu alfasanatin mimma ta’uddun”.[20]

Spirit global yang termaktub dalam riwayat bangkit dan tenggelamnya bani Israil sebagaimana ditegaskan dalam nas, ”Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.[21]

Mengambil hikmah dari riwayat yang termaktub dalam nas ini, untuk konteks bangkit dan tenggelamnya kejahatan yang ada di Indonesia. Bahwa kejahatan Negara kesatuan Republik Indonesia terhadap Islam telah terjadi dalam dua kali perbuatan. Kejahatan yang pertama, adalah ketika diproklamasikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai pemberian Jepang, dimana para founding father-nya menanggalkan pemberlakuan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dalam Indonesia merdeka. Atas kejahatan ini, dalam tempo waktu 3,5 tahun, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikandaskan Allah SWT melalui aksi polisional (agresi) oleh tentara Belanda sehingga seluruh wilayah Indonesia dikuasai secara penuh kembali oleh Belanda sehingga tamatlah NKRI, dan di tengah kevakuman kekuasaan ini kemudian Allah memberikan kesempatan kepada Ummat Islam Bangsa Indonesia untuk memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia.

Kemudian, kejahatan yang kedua, pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang sesungguhnya adalah Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) hasil KMB, yaitu Negara pemberian Belanda; mereka mengingkari dan memerangi Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia. Maka atas kejahatan yang kedua ini dan sehubungan mereka tidak bertaubat dan tidak mau berbuat baik terhadap Islam dalam waktu selama ini, maka kini telah tiba waktunya, Allah SWT membangkitkan umat Islam dan kaum muslimin Indonesia untuk menyuramkan, menenggelamkan dan membinasakan kekuasaan mereka, dengan kekuatan rakyat Indonesia seluruhnya yang menjadi bagian dari perjuangan Negara Islam Indonesia.

Rakyat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia sebagai pelopornya membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.[22] Tegasnya, gerakan melanjutkan kembali Revolusi Islam selain karena wajib suci itu harus dilakukan, juga sekaligus untuk membalas kejahatan Republik Indonesia yang kedua kalinya.

Ummat Islam Bangsa Indonesia sebagai pelopor gerakan melanjutkan revolusi Islam, perhatikanlah bahwa komando gerakan untuk melanjutkan kembali Revolusi Islam itu, telah dikumandang Imam/Plm.T.APNII sejak setahun yang lalu. Oleh karena itu, kepada seluruh ummat Islam Bangsa Indonesia dan seluruh jajaran aparatur Negara di tiap-tiap komandemen dan seluruh tentara di tiap-tiap kesatuan, serta rakyat islam yang tergabung dalam BARIS, marilah kita bersungguh-sungguh dalam I’dadu al-tsaurah, sehingga dengan persiapan itu, kita sanggup memporak-porandakan kecongkakan Negara Kafir Republik Indonesia (NKRI) laknatullah.

Kita sudah cukup menyaksikan, bagaimana pemerintah darul kuffar itu berbuat kejahatan terhadap Islam pada tiap-tiap orde kekuasaannya. Wabil khusus pada masa pemerintahan Republik Indonesia di masa kini yang dikendalikan oleh presiden yang berhaluan kiri, tegasnya yang berhaluan komunis, sudah cukup nyata dan tidak dapat ditolelir kejahatannya terhadap Islam. Presiden Republik Indonesia yang berideologi komunis itu dalam mengejawantahkan kelanjutan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Jangka Panjang Nasional yang di buatnya, mengusung konsep Nawacita. Konsep ini, ditegaskan oleh mereka sebagai konsep untuk perubahan Indonesia. Jika didalami dengan seksama, sesungguhnya konsep ini diarahkan kepada sebuah perubahan yang didasarkan kepada ideology komunis. Hal ini sudah cukup nyata, dari apa yang telah diperbuat oleh presiden komunis dalam 3 tahun terakhir ini.

Untuk itulah Panglima Tertinggi APNII menegaskan kembali bahwa, I’daduts Tsaurah adalah program yang bersifat pengokohan atas marhalah jihad yang belum tuntas dan sekaligus merupakan langkah akselerasi, sehingga I’dad, ribath, qital, dan futuh dalam marhalah jihad dapat dituntaskan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Akhirnya Imam NKA-NII juga mengingatkan ummat Islam Bangsa Indonesia, walaupun tidak bersifat menyeluruh, mungkin ada baiknya kita untuk bertaubat dan beristighfar atas kelalaian dan kekurangan kita selama ini. Kesadaran untuk bertaubat dan beristighfar itu, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat, bertakwalah kepada Allah SWT dimana saja kamu berada, bertaubatlah dan ikutilah kesalahan dengan kebaikan.[23]

Sesuai dengan spirit yang termaktub dalam riwayat tersebut, maka kita sebagai mujahiddin mempunyai kewajiban untuk melakukan perbaikan atas berbagai kelalaian yang selama ini terjadi. Semoga dengan kesadaran ini, di masa datang, kita berkesanggupan menyelesaikan program perjuangan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Dan semoga keberhasilannya dapat menjadi washilah untuk menjalankan gerakan melanjutkan kembali revolusi Islam sebagaimana yang telah kita canangkan.

Dalam riwayat tersebut di atas, setelah adanya perintah taubat dan istighfar, kemudian diperintahkan untuk memperbaiki kelalaian atau ketidakmasimalan kita di dalam melaksanakan program. Maka langkah perbaikannya adalah sesuaikan dengan kelanjutan hadits tersebut, yaitu “pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.[24]  Dalam konteks aplikasinya, dikaitkan dengan persoalan program yang harus tuntas, adalah sederhana persoalannya, yaitu hanya membina dan menggerakan sumber daya yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada bangsa Indonesia.

Dalam hal ini, sebagaimana telah maklum, bahwa Indonesia adalah sebuah negeri yang penduduknya mayoritas muslim terbesar di dunia, inilah potensi, inilah sumber daya yang dianugerahkan Allah SWT untuk terciptanya dunia baru, untuk bangkitnya peradaban Islam, dan untuk tegaknya Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia. Agar potensi itu dapat didayagunakan, teknisnya sebagaimana dimaksud dalam hadits yang telah dikutip di atas, yakni gauli mereka dengan cara yang baik, yakni dengan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW yakni dengan yatlu ’alaihim aayatihi wayuzakkihim wayu’allimuhumul kitaaba walhikmah.[25]

Dengan mengambil khabar dalam sebuah nas, bahwa jika penduduk Indonesia beriman dan bertakwa, pasti Allah menganugerahkan kemenangan, dan pasti Allah melimpahkan kepada kita sebuah negara yang penuh berkah,[26] yang disebut dengan istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Khabar ini merupakan janji pasti dari Allah SWT dan harus kita yakini.

Tetapi untuk sampai kepada anugerah ini, sayaratnya cukup jelas yakni agar kita menggauli masyarakat Indonesia sehingga mereka beriman dan bertaqwa. Dan penting untuk ditegaskan berkaitan dalam persoalan ini, bahwa tidak mungkin sebuah kaum akan berubah kecuali kaum itu yang melakukan perubahan.[27] Artinya kita bersama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya harus memiliki kemauan, kemampuan, dan keberanian untuk melakukan perubahan. Tegasnya tidak mungkin revolusi Islam itu terjadi, jika kaum di negeri itu tidak ada keinginan, tidak ada kemampuan dan tidak ada keberanian untuk melakukan revolusi.

Tugas kita sederhana tetapi dalam pelaksanaannya, memang cukup melelahkan, karena itu Rasulullah SAW menegaskan, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah“.[28] Dan dalam sebuah nas juga ditegaskan, “jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolong”. Semoga kita tergolong kepada orang-orang shabar dan berkonsentrasi penuh di dalam bertugas untuk tercapainya sasaran, tujuan, dan target marhalah jidad sehingga  sab’ul binayah sebagai wasilah bagi terciptanya ats-tsauratul islamiyah dapat terwujud.

Di akhir khutbah Tazkirah Proklamasi NII Abu MYT  mengingatkan nas yang menegaskan; ”Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.[29]

Janji Allah adalah pasti, marilah kita penuhi janji kita kepada Allah SWT, insya Allah… Allah SWT mengijabah cita-cita ini dengan jalan melanjutkan revolusi Islam, kata beliau di akhir khutbah yang di tutup dengan takbir tiga kali, dan disambut dengan gemuruh takbir oleh seluruh hadirin.

Tazkirah Proklamasi NII yang ke 70 di tahun 1438 H ini diadakan secara militer di sebuah lapangan dilereng Gunung salah satu tempat di daerah Jawa Barat, dihadiri oleh seluruh Kepala Majelis, KUKT, Ketua Mahkamah KT, para pimpinan Biro KT APNII,  Utusan dari Komando Perang Wilayah Besar I, II dan III, Para Panglima Wilayah dan Para Komandan Komando Perang Setempat, juga dihadiri beberapa orang Ulama serta tokoh pergerakan Indonesia.

Bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Komandan Batalion 212 Devisi II Sunan Rahmat, dan Inspektur Upacara langsung dipimpin oleh Imam NKA-NII selaku Panglima Tertinggi APNII.    Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

 

[1]  Q.S. At-Taubah (9): 108

[2]  Q.S. Al-Maidah (5): 35

[3]  Q.S. An-Nuur (24): 35-37

[4]  Q.S. Al-Hujuraat (49): 13

[5]  Al-Hadits

[6]  Lihat: Pedoman Dharma Bakti dan hasil Konferensi Cisayong tahun 1948.

[7]  Q.S. Al-Baqarah (2): 1-2

[8]  Q.S. An-Nisa (4): 59

[9]  Ibid.

[10]  Q.S. Al-Baqarah (2): 3

[11]  Lihat Mukaddimah Kanun Azasi NII

[12]  Q.S. AL-An’am (6): 82

[13]  Q.S. Al-Baqarah (2): 3

[14]  Lihat: Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat dan lihat juga dalam Fikih Sunah.

[15]  MKT Nomer 16 Tahun 2008

[16]  Q.S. At-Taubah (9): 105, 95

[17]  Q.S. Al-Baqarah (2): 3

[18]  Q.S. Al-Ahzab (33): 62

[19]  Q.S. Ar-Ruum (30): 30

[20]  Q.S. As-Sajadah (32): 5

[21]  Q.S. Al-Israa (17): 4-7

[22]  Ibid, ayat ke-7

[23] H.R. Turmudzi

[24]  Ibid.

[25]  Q.S. Al-Jumu’ah (62): 2

[26]  Q.S. Al-A’raf (7): 95

[27]  Q.S. Ar-Ra’du (13): 11

[28]  H.R. Bukhari

[29]  Q.S. An-Nuur (24): 55

2 respons untuk ‘Menjadikan Negara Islam Indonesia Sebagai Washilah dalam Bertaqwa kepada Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s