Menghadirkan Kembali Negara Islam Indonesia

Ditulis Oleh :  Muhammad Yusuf Thahiry — Imam / Panglima Tertinggi Angkatan Perang  NII

 

LEBIH DARI MENGGONCANGKAN DIRI

Tegaknya Daulah Islamiyah akan menimbulkan ekses revolusi fisik dan goncangan jiwa. Hal itu tidak mengurungkan diri kami berjihad untuk mendhahirkan peraturan- peraturan Ilahi. Pertarungan kekuasaan di negeri manapun bisa menimbulkan ekses revolusi yang kadarnya sesuai dengan bentuk revolusinya. Hal demikian tidak hanya terjadi pada orang yang sudah bara’ah dari system thagut/bathil melainkan juga kepada yang tidak bara’ah, yakni antara bathil melawan bathil juga bisa terjadi ekses revolusi. Contohnya perhatikan bagaimana Revolusi Perancis dan Revolusi Bolsyevik, 1917 (Rusia). Logikanya antara sesama ideologi non Islam pun terjadi revolusi, bagaimana tidak akan terjadi revolusi antara Al Haq melawan Al Bathil?

Jadi sekalipun orang menghindar dari revolusi, ia tetap akan datang sebab dunia ini tempat pertarungan ideologi. Perhatikan ayat:

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

“Allah berfirman : ”Turunlah kalian semua. Sebagian kalian menjadi musuh yang lain. Bagi kalian di muka bumi ada tempat kediaman dan perbekalan sampai waktu yang telah ditetapkan.”(QS.7: 24).

 Dari ayat di atas diambil makna bahwa dunia ini tidak terlepas dari adanya pertikaian  antara barisan yang taat sepenuhnya kepada Allah dengan barisan yang mengikuti kehendak Iblis yang pada klimaksnya terjadilah revolusi. Sebab sesuai dengan janjinya, Iblis akan terus bergerak  memproduksi ‘syaithan-syaithan’ dari jenis manusia guna menantang barisan yang benar-benar taat kepada Allah.

Oleh karena itu jika  pihak mukmin tidak menyerah kepada barisan Iblis, cepat atau lambat akan terjadi revolusi. Sekarang tinggal kita bertanya, “Apakah mau rela menyerah di bawah hukum-hukum yang sesuai dengan kehendak ‘syaithan’, sehingga di akhirat juga dicap sebagai pengikut syaithan dari jenis manusia? Ataukah mau melawan syaithan dari jenis manusia, meski terjadi ekses revolusi? Tentu bagi pihak yang berada di barisan Allah  akan menjawabnya, biarlah menghadapi ekses revolusi di dunia, ketimbang ekses revolusi di akhirat !

Dalam Islam, berperang itu untuk mempertahan diri, artinya jika pihak luar Islam berjanji tidak akan menyerang maka pihak Islam dilarang menyerang. Umat Islam Indonesia memproklamirkan diri yakni bara’ah dari penjajahan Belanda serta negara bonekanya, RIS atau RI -1950-  yang kembali menjajah Indonesia!

Melepaskan diri dari penjajahan Thaghut adalah  hak kita sebagai mayoritas Islam guna bisa menjalankan hukum Islam secara kaffah. Jadi kita ini bukan mau menyerang melainkan mempertahankan hak. Dengan demikian timbulnya ekses revolusi itu diakibatkan  mereka  menyerang kita. Namun  kita harus siap menghadapinya sebab walaupun tidak menghadapi ekses revolusi, kita tetap akan menghadapi kemungkinan adanya siksaan yang tidak khusus menimpa kepada orang-orang zalim saja. Artinya, jika berdiam diri maka akan menghadapi siksaan, yaitu ekses revolusi yang paling mengerikan, api Jahannam yang abadi. Berkaitan dengan itu perhatikan ayat:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari bala bencana yang tidak saja akan menimpa orang-orang yang bersalah diantara mu semata-mata. Dan ketahuilah bahwa Allah itu amat keras tindak hukuman-Nya.” (QS.8:25).

Ayat di atas memperingatkan kita untuk mawas diri terhadap siksaan baik  di dunia maupun di akhirat kelak. Jika kita berdiam diri tidak memproklamirkan suatu bara’ah (pelepasan diri) dari kekufuran maka kita terlibat dalam penolakan terhadap hukum-hukum Allah sehingga bisa jadi diri kita tertimpa  siksaan yang melebihi dari ekses revolusi di dunia, yaitu Jahannam (QS.9:81)  asyad-du har-raa (yang sangat panas ).

Adapun goncangan jiwa merupakan resiko keberadaan kita di jalan yang hak. Mereka yang berada di jalan yang bathil juga bisa mengalaminya sebab pada dasarnya semua manusia tidak mau mengalami goncangan jiwa. Apa sebab goncangan jiwa itu terjadi? Jawabnya ialah orang yang berada dalam kebathilan didorong oleh syaithan sedangkan orang yang berada di jalan yang haq didorong oleh Iman, yakni takut ditimpa goncangan di Akhirat yang melebihi segala goncangan yang terjadi di dunia.

Bagaimanapun besarnya goncangan dalam rangka taat kepada Allah tidak lebih daripada mati kemudian kembali kepada Allah. Sedangkan bagi yang leha-leha rela melihat kafirin menjegal hukum Islam sehingga dirinya juga terlibat pada jalan syaithan maka mau kemana lagi matinya? Mengenai kegoncangan diri, Allah berfirman yang bunyi-Nya:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk ke dalam syurga, padahal belum pernah datang kepadamu malapetaka yang pernah diderita oleh orang-orang yang terdahulu dari kamu? Mereka menderita kesengsaraan, kemelaratan, goncangan-goncangan dahsyat, sampai Rasul dan orang-orang beriman disampingnya menanyakan: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah ! Sesungguhnya pertolongan Allah selalu dekat.” (Qs.2 :214).

Goncangan  yang dimaksud ayat di atas ialah dalam rangka mempertahankan keberadaan Daulah Islamiyyah, yakni dalam menghadapi serangan fisik dari mereka yang anti hukum Islam. Kaum muslimin pada zaman Nabiy tangguh menghadapi goncangan Perang Akhzab dimana tentara Islam hanya berjumlah 3000 orang dengan kondisi  kehabisan makanan (setelah ada pemboikotan dari Yahudi Banu Nadzir) menghadapi 12.000 tentara  Quraisy Makkah dan sekutunya yang penuh dengan segala persediaan.

Dalam sejarah ummat Islam, tentara Islam dalam melawan kebathilan selalu berjumlah lebih sedikit dibanding dengan musuhnya. Sudah ketentuan bahwa yang berjumlah sedikit  akan lebih goncang daripada yang berjumlah  bayak apalagi berkali lipat. Timbul pertanyaan apa sebab orang mukmin yang lebih sedikit itu berani?  Jawabnya:

  1. Mati atau hidup menghadapi goncangan, jika dalam rangka menegakkan hukum-hukum Allah, maka goncangan jiwa itu sebagai proses untuk masuk surga sebagaimana makna ayat di atas (QS.2:214).
  2. Mengalami goncangan atau tidak, jika masa bodoh terhadap hukum-hukum Allah, tetap akan mengalami goncangan yang tiada tara dahsyatnya di Alam Mahsyar, Maka segalanya tidak berguna kecuali kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah sewaktu di dunia. Ekses revolusi yang sebenarnya ialah di Alam Mahsyar saat  Hari Hisab  (Hari perhitungan).

 Merupakan PEMBELA Toleransi di Indonesia

Jika hukum Islam secara keseluruhan diberlakukan  di Indonesia,  hal itu tidak bertentangan dengan sikap toleransi terhadap para pemeluk agama lain bahkan memelihara toleransi  beragama . Sebabnya antara lain :

  1. Dengan berlakunya hukum pidana Islam tidak ada pengurangan terhadap ajaran-ajaran agama selain Islam. Sebab dalam ajaran-ajaran agama selain Islam  tidak didapat  yang bertentangan dengan hukum pidana Islam,  artinya tidak didapat  ajaran yang berupa tata sosial masyarakat yang bertentangan dengan hukum pidana Islam. Sama halnya hukum pidana  KUHP- Pancasila tidak mengurangi ajaran agama selain Islam,  misalnya Kristen,  Hindu,  Konghucu dan lainnya. Berbeda dengan Islam yang ajarannya memiliki hukum pidana,  jika yang diberlakukan hukum pidana KUHP-Pancasila,   cepat atau lambat tidak bisa dihindari terjadi pertikaian di antara bangsa Indonesia sebab  umat Islam  tidak diperbolehkan mengamalkan ajaran agamanya!

2.     Penduduk Indonesia yang mayoritas Islam jika terus dipaksa menerapkan hukum yang bertentangan dengan ajaran Islam, sampai kapan pun tidak akan aman. Dan itu akan mengganggu sikap toleransi sebab  umat Islam merasa dinodai karena dipaksa meninggalkan ajaran Islam.

Dahulu sebagian besar  umat Islam tidak perhatian terhadap usaha penerapan hukum Islam dan tidak menjiwainya karena kondisi mereka tidak paham tentang Islam. Tetapi kini telah berubah seiring dengan bertambah majunya media informasi serta kemajuan berfikir  sehingga semakin lama semakin  kritis terhadap keyakinannya.  Akhirnya tiap pribadi  bertanya pada dirinya, Mengapa aku tidak mengamalkan Al-Qur’an dan dipaksa untuk tidak menjalankan perintah-perintah Allah. Bagaimana nanti pertanggung- jawabanku di hadapan Allah,  dan mengapa aku rela sebagai mayoritas dikalahkan golongan minoritas,  mengapa aku tidak merasa berdosa berdiam diri dijalan Thagut?”

Seribu satu macam pertanyaan akan muncul pada diri umat Islam yang yakin bahwa di dunia ini hanya sebagai jalan dalam rangka tugas dari Allah  dan akan ditanya pula  oleh-Nya. Dari sekian banyak pertanyaan yang mengendap pada tiap kalbu mukmin itu akhirnya akan menjadi kesatuan yang bangkit menuntut haknya.

Umat Islam tidak bisa dipaksa golongan minoritas supaya tunduk menjalankan hukum-hukum yang memepetkannya ke api jahannam! Juga  tidak bisa dipropaganda oleh orang -orang  yang telah menjual ayat-ayat Allah. Jadi, satu-satunya jalan untuk mewujudkan  toleransi beragama di Indonesia ialah tegaknya Negara Islam Indonesia. Allahu Akbar !

  1. Arti toleransi yaitu saling menghormati antar agama yang ada dan tidak mengganggu pengamalan ajaran masing-masing.  Dalam ayat dinyatakan:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesunggunya ia telah berpegang kepada tali buhul yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. ”_(QS.2:256 ).

Tidak ada dalam sejarah bahwa umat Islam memaksa orang non Islam masuk Islam  atau menghalangi peribadahan mereka. Sejarah menyaksikan bahwa Kalifah Umar bin Khattaba telah memerintahkan membangun gereja bagi orang-orang kristen. Tidak pernah terjadi dalam Daulah Islamiyyah pemaksaan terhadap non Islam, apalagi seperti yang dilakukan oleh para penguasa kristen pada zaman Ratu Isabella di Spanyol, yaitu memaksa orang Islam supaya masuk kristen dengan segala macam penyiksaan. Pada tahun 1501 suatu dekrit kerajaan menawarkan pilihan tanpa belas kasih, antara mengingkari Islam atau meninggalkan Spanyol. [1]  Beberapa dekrit menyusul. Pada giliran Abad ke XVII, menurut perkiraan sejumlah tiga juta Muslim Spanyol lenyap.[2]

Oleh karena itu tidak tepat jika mayoritas penduduk Indonesia yang menganut   Islam  dihalangi menjalankan hukum Islam secara utuh  karena alasan mengganggu toleransi beragama padahal berlakunya hukum Islam tidak mengurangi pelaksanan ajaran agama non Islam.

  1. Umat Islam tidak mau disakiti atau dikhianati selamanya sehingga tidak bisa mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Generasi Islam mendatang akan lebih pintar dan lebih waspada daripada generasi sebelumnya, tidak bisa lagi ditipu atau dibodohi sebab telah berpengalaman mempelajari sejarah masa lalunya  serta bertambahnya wawasan Daulah Islamiyyah. Dengan demikian sekalipun dijegal dengan berbagai cara,  selama Daulah Islamiyyah belum tegak, maka revolusi Islam akan tetap melanda!  Dan menggilas semua pihak yang merintanginya  termasuk yang anti toleransi.   Tegasnya,  pihak yang tidak setuju terhadap mayoritas Islam menjalankan hukum Islam itulah yang tidak toleransi terhadap sesama umat beragama !

 Antara Kemenangan dan Hadits 73 Golongan

Tidak dipungkiri apabila di antara muslimin ada yang suka mengungkap hadits mengenai akan terpecahnya ummat Islam menjadi 73 golongan tetapi tidak mungungkapkan ayat-ayat atau hadits lain yang menunjukkan akan adanya kejayaan Umat Islam sebagaimana pada Khalifah Nubuwwah. Oleh sebab itu kami akan mengemukakan beberapa keterangan tentang akan diperolehnya kemenangan defakto bagi para mujahid Islam. Perjuangan merupakan proses menuju kemenangan. Maka  perjuangan Negara Islam Indonesia 7 Agustus 1949 pun  pada akhirnya akan memperoleh kemenangan defakto. Dasar-dasarnya:

  1. Janji Allah

Firman Allahlyang berbunyi:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh­sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-arang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai­Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah( keadaan ) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah(janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik. ”_(QS.24 An­ Nuur:55).

Dari ayat  di atas  dipaham bahwa untuk memperoleh  kekuasaan  (kemenangan defakto / futuh)  akhirnya akan tercapai. Hanya kapan waktunya tidak ditentukan sebab ayat di atas menyebutkan minkum (di antara kamu sekalian), yakni sebagian dari orang-orang beriman. Dikaitkan dengan  perjuangan NII, kemenangan (futuh) perjuangan NII tidak mesti dialami semua mujahid yang sedang memperjuangkannya  melainkan bisa jadi generasi penerusnya. Bisa saja kemenangan itu dialami oleh kita jika Allah mengizinkannya  sebab Allah Maha Kuasa.

Apabila kekuasaan belum juga diperoleh  karena tutup usia  maka kita tetap bersyukur telah menunaikan tugas mengestafetkan perjuangan kepada generasi penerus  kita.  Tidaklah rugi  sebab yang kita tuju adalah bisa beramal shalih  sehingga bernilai ibadah kepada Allah. Para mujahid terdahulu yang benar-benar ikhlas pada hakekatnya sudah berhasil memiliki nilai ibadah berhijrah dan berjihad sehingga menjadi amal shalih.

  1. Digilirkan-Nya

Masa kejayaan dan kekalahan digilirkan Allah. Perhatikan ayat yang bunyinya::

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kamu menderita luka-luka (pada perang Uhud), maka (musuhmupun) menderita luka-luka yang sama seperti itu. Masa kejayaan itu Kami pergilirkan di antara manusia, karena Allah hendak menunjukkan bukti; siapa yang dapat disebut mukmin, dan siapa pula yang gugur di antaramu yang dapat disebut syuhada. Namun Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS.3:140).

Dari ayat di atas diketahui bahwa dibalik kekalahan akan ada kemenangan, artinya tidak selamanya dalam kekalahan. Contoh sejarah, seperti Daulah Bani Umayah yang ibu kotanya Damaskus sudah pernah menjadi kekuatan dunia tetapi hanya berkuasa sembilan puluh tahun. Padahal bila dilihat dari keperkasaannya sebelum ditumbangkan pemberontakan  Abbasyiyah, tentu orang berpikir mana mungkin ada gerakan yang  bisa melenyapkan imperium Bani Umayah. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Apalagi Negara Islam Indonesia bukan pemberontak melainkan negara dengan proklamasi hasil merebut dari penjajah Belanda sehingga memiliki landasan hukum di forum Internasional. Pada akhirnya semua negara yang menjunjung tinggi hukum akan mengakui NII sebagai negara yang sah yang diberontak RIS (yang merupakan negara boneka imperialis Belanda) dan  mengganti nama menjadi RI (sejak thn 1950).

Generasi mendatang yang  mengerti hukum pun tidak rela bernaung di bawah negara pemberontak hasil rekayasa Belanda. Ditinjau dari sudut patriotik sejati, bangsa Indonesia tidak akan mau negerinya terus menjadi negara hasil rekayasa bangsa asing dengan KMB-nya.

Jelasnya, bahwa pada akhirnya  bangsa Indonesia dari semua lapisan tidak rela bernaung dalam negara yang tidak memiliki dasar hukum proklamasi di mana sudah  diserahkan kepada Belanda dengan Perjanjian Renville ke I (Amir Sjarifuddin).Disusul dengan pengibaran bendera putih oleh Dewan Menterinya di Gedung Agung Yogyakarta, 19 Desember 1945. Kemudian Renville ke II (Roem–Royen). Perhatikan dua ayat yang berbunyi:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Mana tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka , Kami pun membukakan semua pintu pintu kesenangan untuk mereka ; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong­konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” – (QS. 6 :44 )

 فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar ­akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. 6 Al­ Anaam:45).

Dari ayat pertama (QS.6:44), kita bisa menganalisa ke depan bahwa orang-orang yang  mengabaikan hukum-hukum Allah sesudah  mereka diberi peringatan akan dibukakan pintu-pintu kesenangan sehingga merasa sukses dalam segala hal yang mereka kerjakan, sesudah itu akan diazab dengan siksaan  yang tidak diduga-duga dari soal kehidupan sehingga terjadi kegoncangan dalam kekuasaan mereka yang akhirnya mereka berputus asa dalam memegang kekuasaan.

Dari ayat kedua (QS.6:45). Apabila para mujahid Islam sudah stand by untuk berperang maka orang-orang yang menentang peraturan- peraturan Allah itu akan dimusnahkan sampai keakar-akarnya. Sehingga kekuatan dari segala ekponen pemerintah Thaghut dapat ditumpas. Jika sudah demikian bergema pula Walhamdulillaahi  Rabbilalamiin.

Berkaitan dengan Al Qur’an surat 6 ayat 45 maka perhatikan Al Qur’an surat 9 ayat 14 yang berbunyi:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang beriman. ” (9:14).

Dari ayat tersebut, meskipun hakekatnya yang menyiksa  musuh-musuh Islam itu adalah Allah namun dhahirnya melalui kesatuan orang-orang mukmin dengan jalan perang. Sedangkan berdasarkan fakta di Indonesia bahwa perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah secara keseluruhan melalui pemisahan sistem antara al-hak dan al-bathil dan terjadi peperangan sebagaimana ayat di atas hanya terjadi antara Negara Islam Indonesia dan musuh-musuhnya. Oleh karena itu  kemenangan NII dengan Tentara Islam Indonesia akan  terjadi (insya-Allah).

Bagi umat Islam Indonesia yang telah menjual diri kepada Allahl dengan cara memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia sebagai bentuk bara’ah, jelas tidak berdiam diri melainkan bergerak  dengan segala daya. Dengan itu yakin pada akhirnya NII  memperoleh kemenangan de facto. Perhatikan pula ayat- ayat di bawah ini:

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi kurnia terhadap mereka yang tertindas di negeri itu: hendak menjadikan mereka menjadi pemimpin, begitu juga sekaligus menjadi pewaris. ” (QS..28:5).

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Lalu Kami pusakakan kepada kaum yang pernah tertindas, negeri­ negeri Timur dan Barat yang telah Kami berkahi. Dengan demikian terlaksanalah Kalimat Allah yang mulia yang dijanjikan-Nya kapada Bani Israil disebabkan kesabarannya. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat oleh Fir ’aun dan kaumnya dan sekaligus apa yang telah mereka bangun.”(QS.7 Al-A’Raaf :137 ).

Dari kedua ayat itu dapat diambil makna:

  1. Kemenangan akan diperoleh setelah melalui proses adanya kesabaran dalam  menghadapi penindasan-penindasan akibat  keteguhan untuk menjalankan semua perintah Allah.
  2. Kemenangan secara de facto (menguasai wilayah) tidak ditujukan kepada pribadi-pribadi melainkan kepada kelembagaan. Artinya, banyak Bani Israil yang tertindas tetapi mereka tidak sempat berkuasa karena terburu tutup usia. Namun, sebagian  yang masih hidup atau turunan mereka tetap menjalankan kesabaran, yakni terus mengadakan perlawanan terhadap Fir’aun. Dengan kesabaran itulah akan diperoleh kemenangan dalam bentuk kekuasaan wilayah bagi Bani  Israil yang masih hidup dan terus berjuang.

Dikaitkan dengan para penegak hukum Allah di Indonesia seperti telah dilakukan  para mujahid Negara Islam Indonesia yang sebagian mereka menjadi syuhada, sampai saat ini mereka belum mengalami kemenangan dengan menguasai wilayah secara defacto kembali, namun mereka sudah menjalankan kesabaran sebagai syarat kemenangan NII secara de facto bagi generasi pelanjutnya. Hal demikian sudah menjadi sunnattullah yang tidak berubah (QS.35:43). Jadi walaupun sebagian anggota(TII) Tentara Islam Indonesia desersi atau menyerah, namun sebagian lain atau pelanjutnya tetap menjalankan kesabaran dengan terus mengadakan gerilya perlawanan.

Sebagaimana umat terdahulu banyak yang mundur tetapi  banyak juga yang terus bertahan dengan kesabaran, sebab yang diikuti mujahid yang sebenarnya bukanlah oknum atau pribadi pemimpinnya melainkan lembaga atau negaranya. Para pengikut nabi-nabi dahulu tidak mengikuti pribadi-pribadi mereka yang mundur melainkan mengikuti misi kenabiannya.

Sunattullah tetap berjalan, yang terus menjalankan kesabaran tetap akan bermunculan. Perhatikan ayat:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak nabi-nabi yang turut berperang, serta ikut dengannya begitu banyak pengikut-pengikutnya, namun mereka tidak merasa lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak mau menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS.3:146)

Jelas bahwa yang disebut sebagai orang-orang yang sabar bukanlah yang diam menyerah kepada keadaan, tetapi orang yang terus mengadakan perlawanan. Bukan pula orang-orang yang hanya berdo’a minta tolong  lepas dari tekanan kaum kaum kafir sedangkan dirinya tidak memiliki kepemimpinan yang bara’ah dari pemerintahan penentang hukum Allah.

Sabar yang dimaksud ayat di atas ialah orang-orang yang tidak menyerah atau tidak berhenti melawan kekuatan penjegal hokum Allah. Karena ada ayat mengenainya berarti ada bayyinahnya. Itulah sunnattullah, kemenangan pada akhirnya juga akan terbukti. Itulah salah satu dasar bahwa kemenangan NII secara defacto akan diperoleh.

Sudah disinggung bahwa syarat memperoleh kemenangan harus siap menghadapi penindasan akibat tidak menyerah dan terbukti sabar dalam menghadapi penindasan itu. Dengan demikian kami serukan kepada musuh-musuhnya NII, “Jangan mengira dengan banyaknya tekanan fisik yang anda lakukan terhadap warga NII akan membuat kami kalah atau mundur !!!, TIDAK !!!, sekali lagi TIDAK !!!.  Bahkan hal itu akan menjadi bukti kesabaran kami dan dengan kesabaran itu melengkapi syarat kemenangan  Negara Islam Indonesia !!!

Dengan memperhatikan petikan  ayat Al Qur’an surat 3 ayat 140.“…Masa kejayaan itu Kami pergilirkan  diantara manusia. karena Allah hendak menunjukkan bukti: siapa  yang dapat disebut mukmin, dan siapa pula yang gugur di antaramu yang disebut syuhada…” , maka apa yang  disebutkan ayat tersebut pasti  akan terbukti. Jadi bila sekarang NII masih dalam tekanan musuh, hal itu hanya merupakan proses sejarah supaya kita bisa membuktikan diri sebagai mukmin dan supaya di antara kita ada yang mati syahid (syuhada).

Dengan demikian kita tidak berpikir kapan menang melainkan sampai tahap keberapa pengorbanan  memperjuangkannya sehingga memperoleh  sebutan mukmin dari Allahl.  Soal kemenangan secara de facto / Futuh pasti akan terjad meski di antara  kita tidak semua menyaksikannya karena terburu tutup usia. Generasi penerus kita akan memperolehnya bagi kita sama saja. Nilai di hadapan Allahl adalah ketangguhan kita dalam menegakkan hukum-hukum-Nya.

  1. Proses Sejarah Mu’miniin Diciptakan-Nya

Memperhatikan ayat:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang- orang yang bertaqwa dan beramal baik. ” –(QS.16 An-Nahl:128).

Mazheruddin Shiddiqi berpendapat bahwa proses sejarah umat Islam tidak lepas dari  kekuasaan Allah. Pandangan ini bertolak belakang dengan ajaran Karl Marx, yang menyatakan bahwa gerak sejarah manusia diciptakan oleh manusia sendiri. Perbedaan pendapat demikian ini mudah dimengerti karena Mazheruddin Shiddiqi mengambil sumber berdsar dari Al-Qur’an. Adapun yang dijadikan landasan analisisnya adalah surat An-Nahl ayat 128: “sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang  takwa dan beramal baik”. Pengertian takwa atau takut di ayat itu adalah takut kepada hukum Allah yang menentukan proses sejarah. Dan karena sasaran ayat ini bukanlah perseorangan tetapi community (masyarakat atau nation /bangsa) maka apabila suatu masyarakat/bangsa menyadari akan hukum ini, niscaya akan menunjang perjuangan mereka dalam melawan kekuatan lawan.” [3]

Sekalipun ada sekelompok manusia atau bangsa yang memiliki persenjataan kuat yang dapat menghancurkan suatu kebudayaan yang ada, kebanyakan kelompok ini berumur pendek. Saya kira dalam sejarah Indonesia sendiri kita mengetahui betul tokoh-tokoh yang pernah mencapai puncak kekuasaan, tetapi mereka hanya memainkan peranan yang negatif dalam sejarah.”  [4]

  1. Periode Khalifah Nubuwwah Akan Datang

Pernyataan Nabiy mengenai tahapan kekuasaan pasti terbukti, seperti yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir:

كنا قعودا فى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم و كان بشير رجلا يكف حديثه فجاء ابو ثعلبة فقال: يا بشير بن سعيد أتحفظ حديث رسول الله صلى الله عليه سلم فى الامراء ؟ فقال حد يفة: انا ا حفظ  خطبته فجلس ابو ثعلبة الخشنى فقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

(1) تكون النبوة فيكم ما شاء الله ان تكون ثم يرفعها إذا شاء ان يرفعها .

(2) ثم تكون خلافة على منها ج النبوة فتكون ماشاء الله ان تكون ثم يرفعها اذا شاء ان يرفعها .

(3) ثم تكون ملكا عاضا فيكون ماشاء الله ان يكون ثم يرفعها إذا شاء ان يرفعها .

(4) ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله ان تكون ثم يرفعها اذا شاء ان يرفعها .

(5) ثم تكون خلافة على منها ج النبوة .

“Suatu ketika kami sedang duduk-duduk di Masjid Rasulullahy, sementara itu Basyir adalah  seorang laki-laki yang tidak banyak bicara. Datanglah Abu Tsa’labah, kemudian ia berkata: “Wahai Basyir bin Sa’ad apakah engkau  hapal hadits Rasulullahy, tentang para penguasa ?”  Hudzaifah kemudian tampil seraya berkata,” saya hapal khutbahnya.” Maka Abu Tsa’labah al-Khasyni duduk, mendengarkan Hudzaifah berkata: Bersabda Rasulullahy:

  1. Nubuwwah (‘ahdu’n-Nubuwwah), tetap berada di antara kalian selama Allah menghendaki, kemudian jika mau, ia akan mencabutnya.
  2. Kemudian akan datang khilafah berdasarkan pada Minhaj Nubuwwah (‘ahdu ‘l-khilafatu ‘r-rasyidin) selama Allah menghendakinya, dan jika Ia menghendaki niscaya ia mencabutnya.
  3. Selanjutnya akan berlangsung masa penguasa (raja-raja) yang “menggigit” dan kuat (‘ahdu ‘l-muluka ‘l-’aad ) selama Allah menghendakinya, dan akan mencabutnya sampai Ia menghendakinya.
  4. Lantas akan ada penguasa tiran (diktator) (‘ahdu ‘l-muluka ‘l-jabbar) selama dikehendaki Allah, dan Ia akan mencabutnya kalau Ia menghendakinya.
  5. Seterusnya akan muncul lagi masa khilafah (‘ahdu ‘l-khilafah berdasarkan Minhaj Nubuwwah.” ( Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal ).

Dari hadits di atas itu, pada akhirnya akan ada pemerintahan sebagaimana zaman empat khalifah  yang bersistem kepada pemerintahan Nabiy. Apabila anda benar-benar mengkaji sistem Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949, ditemukan bahwa Negara Islam Indonesia  mengacu kepada Minhaj Nubuwwah. 

 5. Satu Diselamatkan

Mengenai umat Islam akan pecah  menjadi 73 golongan, perhatikan  dua  hadits di bawah ini:

افترقت اليهود والنصارى على ثنتين و سبعين فرقة, و ستفترق أمتى على ثلاث وسبعين فرقة  كلها في النار إلا واهدة. قالوا من هي يا رسول الله ؟ قال: هم الذ ين على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي.

 (اخرجه الترمدي والطبرا نى )

 “Akan berpecah belah Yahudi dan Nashara menjadi 72 golongan dan akan berpecah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu. Shahabat bertanya: Siapakah mereka ya Rasulullah ? Beliau menjawab: mereka itu adalah orang-orang yang mengikuti aku dan para shahabat lakukan hari ini.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani).[5]

عن عوف بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لتفترقن أمتى على ثلاث وسبعين فرقة, واحدة  فىالجنة و ثنتا ن و سبعو ن فى النار . قيل يا رسول الله من هم ؟  قال: ا لجما عة .

(رواه ا بن ما جه).

“Dari ‘Auf bin Malik ia berkata: Telah bersabda Rasulullahy:“Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan masuk surga dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”. Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah satu golongan itu ?”. Beliau menjawab: “AL-Jama’ah”. (HR Ibnu Majah).

Dari hadits di atas itu diambil tiga kesimpulan :

  1. Dalam kedua hadits di atas disebutkan yang masuk surga (selamat) hanya satu, artinya yang lurus tetap ada. Dengan demikian golongan yang mengikuti jejak Nabiy dan para shahabatnya akan eksis dan memperoleh kemenangan.
  2. Dinyatakan bahwa yang selamat adalah jama’ah dan yang disebut jama’ah adalah golongan yang mengikuti jejak Nabi dan para shahabatnya. Untuk menilai golongan manakah yang saat ini bisa disebut mengikuti jejak Nabi dan para shahabatnya, tentu harus memahami apa yang dilakukan oleh Nabi beserta para shahabatnya, diantaranya:
  3. Bara’ah / proklamasi berlepas diri dari struktur pemerintahan yang bertolak-belakang dengan hukum-hukum Allahl.
  4. Bantu-membantu menyusun kekuatan (QS.8:73) militer dalam struktur kepemimpinan  sehingga jelas dan tidak samar menentukan mana kawan dan mana lawan.
  5. Membuat Undang-Undang Negara (Piagam Madinah) serta mempertahankannya dengan kekuatan senjata sampai terjadi yaqtuluuna wa yuqtaluun (QS.9:111).

Dengan tiga poin itu saja, secara jujur harus diakui bahwa golongan yang mengikuti jejak Nabiy dan para shahabatnya di Indonesia ini adalah umat Islam yang mempertahankan Proklamasi Negara Islam Indonesia 7 Agustus 1949 dengan segala pengorbanannya hingga hari ini.

Disebut mengikuti jejak Rasulullahy dan para sahabatnya bukan hanya dalam ucapan  tanpa perbuatan (QS.61:2), bukan hanya menyampaikan hadits-hadits  kepada orang lain sedangkan diri sendiri tidak melakukannya, bukan pula mengamalkan hadits- hadits pilihan  seenaknya saja.

Disebut  mengikuti jejak ( sunnah) Nabi kalau semua itu   dalam praktek sehingga nyata dirasakan oleh diri sendiri dan dirasakan pula oleh musuh-musuh Islam bahkan syaithan-syaithan pun terasa adanya asyid daa-u ‘alal kuf-fari (QS.48:29).

Semua orang tahu bagaimana hukumnya orang yang sudah tahu adanya perintah-perintah  Allah tetapi tidak menjalankannya. Oleh sebab itu yang disebut mengikuti sunnah Nabi  bukan hanya mengemukakan hadits- hadits melainkan  mempraktekkan apa yang diperbuat Nabi Arti pokok sunnah adalah  jalan, perilaku, kebiasaan, cara berbuat, atau tingkah laku kehidupan. Ada sejumlah ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa istilah sunnah menunjukkan kebiasaan dan perilaku. Istilah ini tidak asing bagi umat Islam “[6]

Dalam hadits di atas,  golongan yang selamat hanya satu yakni yang mengikuti jejak Nabi dan para shahabatnya hanya satu golongan. Dengan demikian sungguh tidak berdasar jika untuk mempraktekkan  Sunnah Nabi itu harus menunggu semua golongan bersatu.

Umat Islam zaman Rasulullah merupakan golongan minoritas saat memproklamasikan kedaulatan Islam dan tidak menunggu  golongan terbanyak yang mana masih dalam kegelapan. Hal demikian saja telah menggentarkan dunia yang sebagian besar bukan Islam pada waktu itu. Sebab itu umat Islam Indonesiapun tidak harus menunggu seluruh umat Islam yang tidak punya cita-cita menegakkan Islam, artinya kita tidak bisa menunggu mereka yang mengaku beragama Islam tetapi ideologinya bukan Islam.

  1. Dalam Al-Qur’an surat 2 Al-Baqarah ayat 214 dinyatakan

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk ke dalam syurga, padahal belum pernah datang kepadamu malapetaka yang pernah diderita oleh orang-orang yang terdahulu dari kamu ? Mereka menderita ke sengsaraan, kemelaratan, goncang-goncangan dahsyat, sampai rasul dan orang-orang yang beriman besertanya menanyakan; “Bilakah datangnya pertolonganAllah ?” Ingatlah ! Sesungguhnya pertolongan Allah selalu dekat.” (QS.2:214).

Dalam hadits dikemukakan bahwa yang masuk surga hanya satu yakni mereka yang mengikuti jejak Nabi dan para sahabat yang hidup bersamanya. Sementara ayat di atas sebagai peringatan janganlah diri kita menyangka akan masuk surga sebelum mengalami penderitaan  seperti orang-orang yang terdahulu.

Tinggal kita bertanya, “ Golongan umat Islam manakah di Indonesia yang menderita akibat menegakkan Daulah Islam seperti yang diungkapkan oleh ayat  di atas itu?” Jawabnya, “Jelas para mujahid Negara Islam Indonesia!” Apa sebabnya?”  “Karena sudah terbukti melakukan hal yang sama dengan yang dipraktekkan  Nabi beserta para sahabat yang hidup bersama beliau, yakni memproklamirkan Negara Islam yang didalamnya menyatakan berlakunya hukum Islam, sehingga resikonya memperoleh gempuran pihak anti penerapan hukum Islam sehingga pula mengalami penderitaan sebagaimana dimuat dalam  Qur-an surat 2 Al-Baqarah ayat 214!”

Dengan demikian, untuk masa kini golongan manakah yang berhak memperoleh sebutan salafy sebagai orang-orang yang meniti jejak generasi terdahulu? Sungguh itulah para mujahid Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949 !”

Demikianlah alasan-alasan bahwa Negara Islam Indonesia akhirnya akan memperoleh nashrullah kemenangan defakto. Maka kehadiran Negara Islam Indonesia menjadi harapan yang dinanti nanti oleh seluruh UMMAT ISLAM.   Wallahu a’lam

 

Refferensi  :

[1]Islam and The West (A Historical Cultural  Survey).By Philip Hitti. Edisi Indonesia oleh:H.M.J.Irawan, hal.96.  Penerbit: CV. Sinar Baru – Bandung.

[2] Ibid.

[3]Prof.Drs. Ahmad Mansur Suryanegara. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Bandung:Mizan,1995, hal. 51.

[4] Ibid, halaman  51.

[5]Sunan Tirmidzi, Jilid IV, halaman 291, nomor hadist 2649.

[6]  Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya.Penerjemah Adang Affandi.cetakan pertama, Penerbit Rosda. Bandung.1988.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s