Sudahkah Kita Beriman dan Beramal Shalih ???

Ditulis oleh ; Muhammad Yusuf Thahiri  —  Imam / Panglima Tertinggi Angkatan Perang NII

 

Dalam Al Qur’an surat 24 An Nuur ayat 55 disebutka bahwa Allah SWT telah menjanjikan adanya kekuasaan kepada yang beriman dan beramal shalih.  Dalam hal ini mesti dipahami pengertian beriman dan beramal shalih. Sebelumnya perhatikan ayat mengenai kekuasaan yang telah dijanjikan itu:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu yang mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji )itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. 24 An-Nuur:55 ).

Beriman dan Beramal Shalih

Janji Allah yang dimaksud hanya kepada yang beriman dan beramal shalih Oleh sebab itu harus diresapi dulu bagaimana beriman dan beramal yang sebenarnya itu? Jawaban yang akan diuraikan  pokok-pokoknya saja di bawah ini:

  1. Tidak Disebut Beriman

Perhatikan ayat -ayat yang bunyinya:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya ) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.4:65).

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا فَلا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu “. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” – (QS. 5:68).

Dari kedua ayat itu disimpulkan mereka yang bertahkim kepada hukum-hukum kafir atau yang tidak bertahkim kepada hukum-hukum Allah bukanlah orang-orang beriman.

Kemudian perhatikan lagi ayat:

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونََ

 “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang­ orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. ”. – (QS.9:45).

Ayat ini menjelaskan bahwa meskipun orang-orang itu sudah tunduk dan berada didalam sistem pemerintahan Islam namum mereka minta izin untuk tidak ikut berperang tanpa uzur sehingga mereka dinyatakan tidak beriman. Pengertiannya lebih tidak beriman lagi bagi yang rela bernaung dibawah naungan hukum jahiliyah seperti yang berlaku di negara Republik Indonesia yang berasal dari kolonial Belanda.

  1. Beriman yang Sebenarnya

Perhatikan ayat berikut:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni’mat) yang mulia. ” – (QS. 8 : 74).

Dalam ayat itu disebutkan bahwa yang sebenar-benarnya beriman itu:

  1. Berhijrah sehingga berada dalam furqan– Lepas dari sistem pemerintahan Thaghut, bergabung dengan sistem pemerintah (Ulil Amri) berdasarkan kepada hukum-hukum Allah.
  2. Berjihad atau mempertahankan struktur pemerintahan (Ulil Amri) yang berdasarkan hukum Allah dari segala ancaman dari luar ataupun dari dalam.
  3. Kesediaan memberikan tempat tinggal dan menolong para penegak hukum Allah.

 Beramal Shalih.

Perhatikan ayat yang bunyinya:

مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,” (Qs. 9 At- Taubah: 120).

Dari ayat di atas diambil arti bahwa beramal shalih itu di antaranya harus siap berkorban dalam rangka melawan pihak yang selalu merintangi dhahirnya hukum-hukum Allah secara kaffah. Tegasnya, beramal shalih diantaranya ialah yang berjihad mempertahankan struktur pemerintah (ulil amri) yang didasari hukum Islam sebagaimana yang sudah dilakukan para shalihiin pada zaman Nabiy Dalam ayat itu juga disebutkan yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, artinya  tidak bekerja sama dengan mereka yang menentang tegaknya hukum-hukum Islam.

Jadi, ayat 55 An-Nuur (mengenai janji Allah) di atas  tidak ditujukan kepada orang yang mengharapkan tegaknya hukum Allah di muka bumi tanpa kesiapan berperang di jalan Allah. Tidak ditujukan kepada orang yang bermesraan dengan para pengayom Latta dan Uzza versi musyrikin Pancasilais di Indonesia.

Sesungguhnya untuk mempraktekkan apa yang dikemukakan dalam surat 8 An-Anfaal ayat 74 di atas bukanlah perbuatan ringan melainkan sangat berat. Tetapi apa sebabnya bisa dilakukan oleh ummat Islam zaman Rasulullah SAW, atau para mujahidin tahun-tahun pertama  diproklamirkan Negara Islam Indonesia? Jawabnya ialah :

  1. Gemetar Hati

Firman Allah SWT:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb mereka bertawakkal” – (QS.8 Al-Anfaal:2)

Pada ayat di atas  disebutkan gemetarlah hati mereka, karena tatkala disebutkan nama Allah teringat pula akan kekuasaan Allah, azab Jahannam yang sudah dijanjikan-Nya bagi pelanggar perintah-Nya. Darinya teringat pula akan perintah-Nya yang belum mereka laksanakan sehingga timbul rasa takut yang sangat mengancam sehingga mengakibatkan jiwa terperanjat bangkit bertekad melaksanakan seluruh perintah Allah, walaupun resikonya harus berhadapan dengan kekuatan kaum musyrikin. Itulah sebabnya para mujahidin di masa dahulu siap berhijrah dan berperang serta berpisah dengan kekayaan duniawi memperjuangkan tegaknya kalimat Ilahi, sebagaimana yang dilukiskan dalam surat 9 At-Taubah ayat 24, ayat 20 dan  surat 8 Al-Anfaal ayat 74 yang dikemukakan di atas tadi.

Nama Allah yang menggetarkan hati bukanlah nama Allah yang selalu disebut tetapi tidak ingat dengan kewajiban mengerjakan perintah-Nya, tidak ingat akan ancaman-Nya meski sambil geleng-geleng kepala ke kiri ke kanan, masih saja berdiam diri tunduk kepada pemerintah Pancasilais yang menentang berlakunya hukum Allah.

Apabila demikian maka tidak beda dengan nama Allah yang disebut- sebut oleh konco Abu Jahal ketika bersumpah dengan nama Allah (perhatikan QS..4:62, QS..9:56, QS.9:62, 9:74). Musuh-musuh Islam banyak yang menyebut nama Allah tetapi bukannya takut bahkan menentang-Nya sebab bahwa Allah yang mereka maksudkan tidak memiliki kekuasaan hukum yang mutlak melainkan hanya mereka jadikan simbol. Lebih lanjut perhatikan  ayat di bawah ini:

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang­ orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. ” – (QS.39:45).

Bila memperhatikan sejarah pada zaman Nabiy., banyak dari para penguasa musyrikin Quraisy bersumpah dengan nama Allah yang berarti mereka percaya kepada Allah tetapi dasar kehidupan (way of life) mereka ialah berhala Latta dan Uzza. Oleh karena itu apabila kepada mereka disebutkan nama Allah yang didatangkan dari Al-Qur’an, mereka tidak senang dan bangkit menyerang setiap yang menyebut-Nya. Sebab, bahwa nama Allah yang dimaksud Al-Qur’an ialah Allah yang mengutus Muhammady. sebagai Rasul-Nya, Allah yang memiliki kedaulatan hukum yang wajib dijalankan ummat Islam. Dalam kalimat lain yakni Allah yang mewajibkan kepada kita untuk memiliki struktur pemerintah / negara yang memberlakukan hukum-Nya. Berkaitan dengan itu perhatikan bunyi ayat di bawah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama)Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukkanmu.(QS.47: 7).

Seandainya jumlah seluruh manusia  bumi ini sejuta kali dari yang sudah ada, Allah tetap tidak membutuhkan pertolongan mereka. Dengan demikian ayat di atas menunjukkan bahwa sebutan Allah yang dimaksud Al-Qur’an ialah Allah yang seluruh hukum / perintah-Nya mutlak tidak boleh dibantah. Sedangkan tegaknya seluruh hukum / perintah Allah itu hanya dengan perantara (wasilah) tegaknya pemerintah / negara yang menjalankan hukum Islam. Dengan demikian menolong Allah berarti membela negara yang berdasarkan hukum Islam.

Kita ulangi ayat yang dikemukakan terdahulu (QS.39:45) “Dan jika nama Allah yang satu itu disebut jengkellah hati orang-orang yang tidak beriman kepada Hari akhirat”. Artinya jika kita menyebut nama Allah dengan konsekuensi  kita mendhahirkan negara yang membela hokum Allah, maka pihak Thaghut akan benci. Dan pada ayat lain (QS.8:26) disebutkan apabila keadaan kita sedikit atau lemah, mereka akan menangkap kita, sebagaimana terjadi di Indonesia yang dilakukan oleh tentara Thaghut terhadap para mujahidin NII karena masih sedikit atau lemah.

Seterusnya  kutipan ayat (QS.39:45)  ” …dan apabila selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” Maknanya jika disebutkan nama Allah yang tidak memanifestasikan tegaknya pemerintahan/negara yang didasari hukum-hukum Allah, maka para Thaghut (pengamal hukum-hukum kafir) itu bergembira. Terbukti nyata, biarpun sehari seribu kali menyebut nama Allah tetapi tidak mendhahirkan Negara Islam Indonesia, maka para pentolan syaithan berjenis manusia bukannya jengkel malah bersukaria bahkan sebagian mengundang lagi untuk melakukan hal serupa di masing-­masing kediamannya.

Tentunya walaupun kerap kali menyebut Allahu Rabby, Allah yang mengaturku, namun bila peraturan / undang-undang Allah dihantam dan diganti dengan aturan hukum buatan syaithan berjenis manusia, maka penyebutan Allahu Rabby itu suatu kepalsuan atau sandiwara belaka sehingga mereka yang membenci hokum Allah senang mendengarnya. Bila menyebut nama Allah sedangkan posisi  tidak mendhahirkan semua perintah Allah, bisa diumpamakan seperti  kuli yang mengaku dirinya kuli kemudian menyebut nama majikannya tetapi perintah majikannya dibantah. Hal demikian bisa jadi kulinya palsu dan pengakuannya juga palsu  karena tidak memiliki nilai taat. Dan yang disebut sebagai majikannya juga majikan palsu. Wajar saja tidak ditakuti karena palsu, tidak disertai nilai perintah dan nilai taat.Tidak taat kepada Allah berarti tidak takut kepada-Nya. Berarti  tidak yakin akan kedahsyatan azab-Nya. Apabila tidak yakin terhadap Azab-Nya berarti tidak beriman kepada Allah.

 Sudah Teruji

Harus diperhatikan bahwa janji Allah dalam surat An-Nuur ayat 55, sudah dibuktikan pada ummat pada zaman Nabiy.Hal itu sesudah beberapa kali perang melawan kekuatan musuh yang berkali lipat dalam personal serta persenjataannya sehingga muslimin menghadapi berbagai tekanan berat. Perhatikan ayat yang berbunyi:

øإِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الأبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا    هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالا شَدِيدًا

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (33 : 10- 11)

Dari ayat tersebut diketahui bahwa janji untuk memperoleh kekuasaan sehingga berlaku hukum Islam secara total bukanlah kepada orang yang merasa beriman dan beramal shalih tetapi merasa tidak punya musuh. Padahal mata kepalanya menyaksikan dengan nyata bahwa hukum Islam dilecehkan musuh, yang di Indonesia ialah para Thaghut pancasilais yang mengawali terang-terangan menghapus delapan kata dalam naskah Piagam Jakarta:…dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

 Tuntutan Diri

Nasib suatu kaum akan berubah, jika didahului usaha oleh kaum itu sendiri. Perhatikan petikan ayat di bawah ini:

žإِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“ …. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Qs. 13 :11)

Berdasarkan ayat di atas datangnya bantuan Allah jika kita juga menghedaki bantuan dibuktikan dengan usaha semaksimal daya upaya dan kesiapan menanggung segala resikonya. Dalam surat An-Nuur ayat 55 juga jelas ditujukan kepada yang beriman dan beramal shalih, yakni sudah membuktikannya dengan berhijrah (lepas) dari pemerintah Thaghut dan beralih ke pemerintahan yang memberlakuan hukum Islam, kemudian mempertahankannya dengan kesiapan berperang melawan yang merongrong.

Allah tidak berkepentingan apakah kita akan melaksanakan semua perintah-Nya atau akan berdiam diri di bawah naungan hokum yang bertentangan dengan-Nya. Perhatikan ayat yang berbunyi:

 tوَقَالَ مُوسَى إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan Musa berkata : “Jika kamu dan orang-orang yang berada di muka bumi semuanya mengingkari (ni ’mat Allah), maka sesungguhnya AllahMaha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs.14:8)

Dari ayat itu kita wajib berjihad guna tegaknya hukum­Allahkarena kepentingan diri kita untuk memperoleh ridha-Nya. Dengan demikian sungguh jumud (beku) apabila mengharap  kekuasaan untuk menerapkan hukumAllah sementara dirinya tidak mau berperang melawan kekuatan Thaghut yang menjegalnya.

Begitulah kaitan antara janji adanya kekuasaan bagi yang beriman dan beramal shalih dengan kewajiban kita memperjuangkan kemenangan Negara Islam Indonesia sampai Kalimattullaah tegak dalam segala aspek kehidupan.

2 respons untuk ‘Sudahkah Kita Beriman dan Beramal Shalih ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s