Mempertanyakan Ketaqwaan Kita

Hari ini menghadiri shalat jumat mendapat khutbah yang sangat mengagetkan para jamaah, dengan mengingatkan jamaah jum’at untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan taqwa yang sebenar benarnya, khatib membahas makna taqwa yang di artikan melaksanakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan segala larangan Allah.

Karena makna taqwa itu adalah melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan, berarti ada dua kata kunci yaitu perintah dan larangan. Kedua kata ini bentuk kongkritnya dalam kehidupan sehari hari adalah berbentuk Hukum, Aturan atau Ketetapan yang dikeluarkan oleh pemerintah karena pasal pasal hukum itu berisikan hal hal yang harus dilakukan oleh masyarakat dan hal hal yang tidak boleh/dilarang dilakukan oleh masyarakat.

Berarti disini apabila kita melaksanakan dan mentaati  seluruh aturan hukum berarti kita menjadi orang yang bertaqwa, dan ini menjadi ukuran ketaqwaan kita,  sebesar apa kita melaksanakan dan mentaati hukum itu.

Karena ketaqwaan itu kaitannya adalah kepada Allah, berarti hukum yang dimaksud adalah Hukum Allah. Sudah sampai sebesar apa, sudah sebanyak  apa hukum hukum Allah itu telah kita laksanakan dalam kehidupan sehari hari kita.

Sekarang yang menjadi persoalan kita sebagai orang yang mengaku sebagai muslimin di Indonesia ini, seluruh hukum hukum Allah itu tidak dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari hari kita. Karena hukum yang berlaku di Indonesia ini bukanlah hukum yang bersumberkan dari Kitabullah (al Qur’an ) dan Sunnah Nabi ( Hadits Nabi ), sehingga segala produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak bisa dikatagorikan sebagai produk hukum yang akan menjadi ukuran ketaqwaan kita kepada Allah.

Alangkah naifnya kita ini, kita selalu di ingatkan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dengan taqwa yang sebenar benarnya, setidaknya sekali dalam sepekan setiap menghadiri ibadah jum’at. Tapi hukum, aturan, dan ketetapan yang mengitari kehidupan kita bukanlah produk hukum yang dikeluarkan oleh ulil amri (pemerintah) yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, sehingga ketaatan dan kepatuhan kita dalam melaksanakan hukum yang hari ini berlaku tidaklah dapat menjadi ukuran ketaqwaan kita kepada Allah, hal ini mengakibatkan seluruh amal ibadah yang kita lakukan menjadi sia sia, dan Allah mengatakan kita sebagai orang orang yang merugi.

Mungkin diantara kita akan mengatakan bahwa kami telah melaksanakan hukum hukum Allah itu, yaitu dengan melaksanakan perintah shalat, puasa, zakat dan berhaji, berarti dengan kami melaksanakan perintah perintah itu sudah cukup menjadi ukuran bahwa kami telah bertaqwa kepada Allah.

Anggapan itu tidaklah salah, Cuma dalam melaksanakan perintah saja tidaklah cukup, terhadap larangannya juga harus dilaksanakan. Bagaimana bagi mereka yang mengaku muslim tapi tidak mau menunaikan shalat, tidak mau berzakat, tidak mau berpuasa dan berhajji, tiap hari selalu terbelit oleh riba, berekonomi yang penuh tipudaya, kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan dengki,muslihat, kecurigaan, saling mengancam, dan menebarkan rasa ketakutan, apa yang harus dilakukan terhadap mereka ???, apakah dibiarkan saja ….??? Sambil diberikan tuduhan pada mereka sebagai kafir, atau munafik atau zalim.??? Seharusnya pemerintah memberikan hukuman pada mereka sesuai dengan aturan hukum Islam.

Sebagian kita akan mengatakan bagaimana mau dihukum dengan aturan hukum Islam …??? Karena yang berwenang untuk menentukan hukumannya itu haruslah pemerintah Islam, sedangkan Negara kita ini kan bukan Negara Islam, tapi Negara Pancasila. Naaah akhirnya kita mentok, kita tidak bisa berbuat apa apa, karena kita hidup bukan di Negara Islam.

Lantas kalau selama umur yang Allah berikan itu, tidak pernah ada usaha dari kita untuk bisa melaksanakan hukum Islam, bagaimana kita akan dapat dikatakan sebagai orang yang bertaqwa ???. sedangkan secara jelas Allah menyebutkan bahwa Syorga itu disiapkan Allah adalah utuk orang yang bertaqwa. Berarti, kalau kita untuk menjadi orang bertaqwa saja tidak mungkin kita dapatkan, apalagi untuk jaminan masuk syorga.

Hal ini menjadi renungan dan peringatan bagi kita semua, maka dalam Al Qur’an Allah memberikan jawabannya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِ

          “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan/sarana (washilah) untuk dapat bertaqwa kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”  ( QS Al Maidah ayat 35 )

Dari ayat diatas kita diperintahkan untuk mencari sarana/jalan (washilah) untuk dapat bertaqwa kepada Allah, sedangkan bertaqwa itu kita sudah pahami adalah melaksanakan segala produk hukum yang bersumberkan kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi , sedangkan yang berhak membuat produk hukum adalah sebuah pemerintahan , berarti sarana (washilah) untuk bisa bertaqwa kepada Allah itu harus adanya pemerintahan Islam dalam bentuk Negara Islam yang dapat memberlakukan dan menjaga pemberlakuan hukum Islam.

Karena adanya perintah itu berarti kewajiban kita hari ini sebagai muslim adalah mewujudkan sarana (washilah) untuk dapat tegak dan berlakunya hukum islam itu, yaitu berbentuk Negara Islam di Indonesia ini, sehingga segala daya upaya yang kita lakukan untuk tegak dan berdirinya Negara Islam itu akan menjadi ukuran ketaqwaan kita dihadapan Allah SWT.

Sebenarnya sampai saat ini, sudah ada Negara Islam di Indonesia dan pemerintahannya berjalan sebagaimana sebuah pemerintahan Negara berjuang, dan pernah pula di proklamasikan pada tahun 1949, tapi karena permusuhan dan kebencian terhadap kekuasaan / pemerintahan islam ini demikian besarnya dilakukan oleh kekuasaan / pemerintahan pembenci islam, sehingga perjuangan untuk menegakkan Negara Islam mendapatkan perlawanan yang sangat besar, baik secara militer, propaganda, agitasi, pembusukan dari dalam, dan pembuatan opini negative terhadap para pejuang dan perjuangannya. Sehingga perjalanan perjuangannya menjadi tersendat, lambat, dan terseok-seok.

Kini kita sebagai ummat Islam seharusnya mulai membuka mata hati kita untuk melihat dan menilai secara jujur dan benar, seharusnya keberpihakan dan keberadaan kita dimana dan kemana. Sehingga di Yaumil Akhir kita dapat mempertanggung jawabkan di hadapan Allah terhadap sikap kita itu, dan tidak menjadi penyesalan yang terlambat, sebagaimana di gambarkan dalam Al Qur’an:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ نُؤْمِنَ بِهَذَا الْقُرْآنِ وَلا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلا أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ

Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Qur’an ini dan tidak (pula) kepada Kitab yang sebelumnya”. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang lalim itu dihadapkan kepada Rabbya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang tertindas berkata kepada orang-orang yang pernah jadi penguasa dan jadi penindas: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”. (QS 34 Saba’ ayat 31)

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.( QS 34 Saba’ ayat 32 )

وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الأغْلالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. ( QS 34 Saba’ ayat 33)

Dalam ayat ini, bagaimana terjadi saling menyalahkan antara rakyat ( tertindas/ mustad’afin) dengan para pemimpin mereka (penindas/pembesar/mutakabbir):

  1. Rakyat menuduh para pembesar telah menjadi penghalang sehingga rakyat terjerumus menjadi orang orang tidak beriman kepada Allah secara benar.
  2. Para penguasa berdalih, bahwa mereka tidak pernah menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah, malah mereka menyediakan/ memfasilitasi segala sarana yang diperlukan, tapi karena kebodohan rakyat saja yang mau dibodohi oleh pembesar mereka (menjadi pendosa).
  3. Rakyat protes, memang memberikan fasilitas tapi fasilitas itu tak lebih hanya tipu daya bagaimana rakyat supaya tidak beriman kepada Allah dengan iman yang sebenarnya.

Semoga tulisan singkat ini memberikan pencerahan kepada kita, sehingga kita bisa menentukan sikap kita yang sebenarnya dan tidak menjadi penyesalan kelak di Yaumil Akhir.

SESAL DAHULU PENDAPATAN  SESAL KEMUDIAN TIDAKLAH BERGUNA.

2 respons untuk ‘Mempertanyakan Ketaqwaan Kita

  1. Aslm…  Bagaimana sikap kita/lembaga menghadapi tragedi pembantaian muslim rohingya…  Mhn penjelasan…  Jzklh

    Dikirim dari Yahoo Mail di Android

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s