Negara Sebagai Alat Untuk Sempurnanya Ibadah Kepada Allah

Pertanyaan  :

“Trims, bagi saya ada atau tidak ada negara, ada kerajaan atau tidak ada kerajaan, ada pemerintah maupun tidak ada pemerintah , shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata demi Rabbil`alamiin. Negara, atau pemerintah, ataupun kerajaan itu hanya ciptaan dan buatan manusia, sesuai perkembangan jaman, btw… konsep negara/kerjaan pun sekarang sudah mulai terkikis dengan adanya globalisasi, al. oleh teknologi internet kedaulatan negara dengan batas wilayah sudah menjadi kabur. Dalam benak saya, dienul islam , persatuaan islam bukan ditentukan oleh bentuk dan atau jenis negara/kerajaan, tapi oleh persaudaraan umat islam diseluruh dunia. Silaturahmi seluas-luasnya. Mengapa kita harus mengejar sesuatu yang sudah mulai kabur atau luntur yaitu konsep negara !, negara islam ?. Singkat cerita : Negara bukan alat untuk beribadah.(yang sempurna dan satu-satunya). Masih banyak yang lain brur.” (Maman, Tasik Malaya)

 

Jawab

Baiklah Saudara Maman, kelihatan jelas itu pendapat yang dilambungkan Sdr. Maman di atas adalah rancu, alasan atau gagasan yang menjadikan motif sehingga munculnya anggapan tidak diperlukannya Negara bertentangan 180 derajat.

Jelas itu yang dimaksud dengan ‘hidupku’ dalam QS. 6:162 adalah seluruh aktivitas hidup dalam kehidupan sebelum mati yang pada akhirnya juga diserahkan untuk Rabbil`alamiin. Seperti yang pernah kami sebutkan, bahwa hidup saat ini (di dunia) adalah tempat umat Islam beribadah, tempat berbekal untuk hari akhirat kehidupan setelah mati. Lantas di mana kita mengumpulkan semua bekal itu ? Apa nanti setelah masuk ke alam akhirat ? Tentunya di dunia ini!

Itu yang namanya amal-amal islami seperti shalat dan ibadah ritual lainnya juga syariat ibadah lain yang tertulis titahnya dalam Al Qur`an, jelas harus dilaksanakan dalam kehidupan duniawi dengan segala perangkat dan sarananya. Dalam hal ini, keberadaan Negara sebagai perangkat atau alat/sarana beribadah pengejawantahan hukum-hukum Islam seperti hukum pidana Islam (QS. 5:38, 45, QS. 2:178), Melaksanakan ibadah yang berkaitan dengan perekonomian, diatur oleh penguasa Islam, sehingga menyalur pada kebenaran Ilahi (QS. 9:29), adalah wajib sebagaimana diwajibkannya pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut dalam Al Qur`an. Dengan adanya kewajiban-kewajiban itu saja telah menunjukkan keharusan umat Islam memiliki kedaulatan sendiri. Yaitu “negara yang disandarkan kepada Al Qur an dan Sunnah Saw”, artinya yaitu Negara Islam. Seperti yang ada pada kaidah ushul fikih yang mengatakan :”Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu hal, maka sesuatu hal itu menjadi wajib”.

Sehingga bagaimana mau beribadah dengan sempurna kalau saja perangkat, alat atau sarananya tidak ada ? Dalam Qur`an diwajibkan melaksanakan Qishash bagi mereka yang beriman, lantas bagaimana kita akan bisa melaksanakannya tanpa adanya lembaga hukum Islam yang mewadahinya ? Dalam Qur`an dititahkan kepada orang beriman agar thaat kepada pemerintahan orang beriman, lantas kemana thaat kita diberikan kalau pemerintahan Islamnya tidak ada ?

Ruang lingkup Islam dengan Negara memang beda, sebab Islam adalah ciptaan Allah untuk mengatur ciptaan-Nya (QS. 3:85), sedangkan Negara adalah hasil karya manusia yang lengkap dengan segala keterbatasannya. Termasuk keterbatasan dalam mengelola wilayah hukum yang dikuasai Negara tersebut. Nabi Saw saja diutus untuk segenap manusia, tapi kemampuan memberlakukan maupun perlindungan hukum saat beliau hidup hanyalah sebatas Madinah.

Di dalam Madinah sebagai Negara Islam pertama di Yatsrib pun didirikan atas dasar persatuan aqidah Islam. Mempersatukan ikatan persaudaraan antara anshar dan hawariyun di Yatsrib di atas sebuah konstitusi yang kemudian disebut dengan konstitusi Madinah atau Shahifah Madinah. Inilah konsep persaudaraan yang dibentuk oleh Rasulullah Saw yakni terjalinnya ummat dalam satu kepemimpinan atas dasar satu ikatan aqidah Islam di bawah perlindungan Daulah Islamiyyah. Langkah awal inilah yang dilakukan Nabi Saw kemudian baru menebar ke muka bumi. Bagaimana mampu menebar Islam ke wilayah lain bila belum ditopang sebuah kekuasaan yang melindungi ?

Memang itu apa yang diacungkan Sdr. Maman :”Dalam benak saya, dienul islam , persatuaan islam bukan ditentukan oleh bentuk dan atau jenis negara/kerajaan, tapi oleh persaudaraan umat islam di seluruh dunia. Silaturahmi seluas-luasnya.” adalah ungkapan yang tidak nyunnah, sebab Rasul Saw pun mendirikan Negaranya, membentuk aparat hukum dan keamanan yang melindungi dakwahnya. Kalau kita melihat surat-surat Rasulullah Saw kepada para Raja ketika itu, nyata benar bahwa pembicaraanya berada dalam kelas hubungan antar Negara. Bisakah ini dilakukan oleh seseorang yang tidak menguasai tentara dan memimpin Negara ?

Sekarang bagaimana bisa menyambung silaturahmi melakukan perlindungan dengan/terhadap saudara muslimin di belahan bumi lain yang dikuasai kekuasaan kafir dapat dijalankan tanpa sebuah kekuasaan dan kedaulatan yang mendukung keberadaan ummat ?

Tapi kelihatan frustasi saja Sdr. Maman ini dengan menyatakan ;”Mengapa kita harus mengejar sesuatu yang sudah mulai kabur atau luntur yaitu konsep negara !, negara islam ?. Singkat cerita : Negara bukan alat untuk beribadah.(yang sempurna dan satu-satunya). Masih banyak yang lain brur.” Yang kemudian sekalian saja dijadikan alasan pula buat nafikan keberadaan Negara Islam.

Itu seandainya konsep Negara itu sudah menjadi satu hal yang tidak dipandang logis dan benar dalam pandangan hukum atau kabur atau luntur, coba sampaikan kepada Mr. Koffi Annan buat bubarkan itu United Nation. Atau kepada  pemerintahan RI di Istana Negara supaya hentikan jalannya roda pemerintahan RI. Tidak usah ada pemerintah, tidak usah ada Negara RI. Kecuali kalau memang itu hanya pendapat Sdr. Maman saja yang tidak punya pemerintahan atau Negara sama sekali ?

Mungkin dapat dimengerti mengapa itu banyak orang yang masih saja memisahkan Islam dengan kehidupan bernegara. Sebab Islam yang mereka pahami hanyalah sebatas ajaran moral. Islam yang telah dipisahkan dengan struktur kekuasaan dan persenjataan yang melindunginya. Itulah mantra Islam bualan Mr. Snough Horgronye.
Nah Sdr. Maman, jadi lebih baik buang saja itu ilmu-ilmu Snough Horgronye dalam benak Saudara.

Hanya kepada Allah kita memohon petunjuk dan kepada-Nya segalanya dikembalikan.

Wassalam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s