Mamahami Maklumat Komandemen Tertinggi Negara Islam Indonesia no 11 tahun 1959, dengan kondisi kekinian Ummat Islam Bangsa Indonesia.

Bagi kalangan Mujahidin Negara Islam Indonesia MKT no 11 tahun 1959 bukanlah hal asing, karena MKT ini merupakan dasar hukum yang menjadikan gerakan dan perjuangan  mereka berkaitan dan berkesinambungan dengan perjuangan para mujahidin NKA NII yang telah dipimpin oleh Imam Asyahid Sekarmaji Marijan Kartosuwirjo terdahulu.

MKT no 11 tahun 1959 ini menjelaskan tentang Pembentukan Komando Perang, dan Penyempurnaan Stelsel Komandemen NKA NII dalam kondisi perang,  Dalam dictum Pertimbangan dibentuknya MKT ini di disebutkan ; “ Perloe dibentoek Pimpinan Perang atau Komando Perang jang lebih koeat, dan Penjempoernaan systeem atau Stelsel Komandemen jang lebih effektif demikian roepa, sehingga lebih terdjamin makin hebat dan bergeloranja peperangan dan sehingga tertjapailah dengan tolong dan koernia Allah djoea kemenangan perang terachir, tegasnja kemenangan Islam dan kemenangan Negara Islam Indonesia, ialah satoe-satoenja pintoe gerbang menoedjoe dan memasoeki Negara Madinah Indonesia, atau/dan Negara Islam Indonesia boelat-sempoerna, merdeka dan berdaulat sepenoehnja, kedalam maoepoen keloear, de facto dan de jure, sepandjang boekti-boekti kenjataan dan hoekoem “.

Melihat kepada kondisi dan situasi ummat Islam yang makin terjepit, tidak dapat bergerak dan makin ditindas oleh kekuatan system jahiliyah modern maka dewan Imamah NKA NII melihat sangat perlu untuk merubah pola peperangan yang dilakukan oleh ummat Islam dengan langkah awalnya perlu dibentuk pimpinan perang atau komando perang yang lebih kuat dan penyempurnaan system atau stelsel komandemen yang lebih efektif demikian rupa sehingga lebih terjamin makin hebat dan bergeloranya perperangan sehingga dengan Tolong dan Karunia Allah SWT kemenangan Islam dan Negara Islam Indonesia adalan merupakan pintu gerbang menuju dan memasuki Negara Madinah Indonesia atau Negara Islam Indonesia yang merdeka, berdaulat sepenuhnya kedalam dan keluar de facto dan de jure, kita lihat MKT ini sangat fleksibel walaupun MKT ini dilahirkan 7 agustus 1959, dilihat dengan situasi dan kondisi ummat islam hari ini pemberlakuan MKT ini sangat tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Selanjutnya dijelaskan maksud dan tujuan diberlakukannya MKT ini adalah :

Sehingga terdjaminlah dengan pasti berlakoenja dan pelaksanaan Komando Perang jang berdaja goena sebesar-besarnja, teroetama pada sa’at-sa’at dikeloearkannja Komando Perang Semesta atau Komando Perang Totaliter dalam arti kata jang seloeas-loeasnja, dan terlebih-lebih lagi mendjelang sa’at moestari, atau sa’at dikeloearkannja Komando Perang Moetlak, Komando Oemoem, ialah Komando Allah langsoeng, melaloei Imam Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, selakoe Khalifatoellah dan Khalifatoen Nabi di noesantara Indonesia; ialah Perang Semesta dan Perang Moethlak, jang akan menentoekan nasibnja Negara Islam Indonesia dan Hari Depan Oemmat Islam Bangsa Indonesia dimasa-masa mendatang; dan

 Sehingga seloeroeh Negara Islam Indonesia, beserta segenap Angkatan Perang dan ra’iat warga negaranja, tanpa ketjoeali, soenggoeh-soenggoeh ikoet serta mewoedjoedkan tenaga perang raksasa maha dahsjat, satoe gelombang Djama’ah Moedjahidin Maha-Besar, jang lagi madjoe-bergerak memenoehi panggilan dan seroean Allah, langsoeng menoedjoe arah Mardlatillah sedjati, di doenia dan di achirat; ialah potensi perang maha-hebat, persatoe-padoean segenap tenaga dan kekoeatan seloeroeh Oemmat Moedjahidin; Oemmat-pilihan dan kekasih Allah, jang sanggoep dan mampoe menghadapi serta mengatasi, dan achirnja menghantjoer-lindaskan segala djenis dan bentoek moesoeh-moesoeh Allah, moesoeh-moesoeh Islam, moesoeh-moesoeh Negara Islam Indonesia dan moesoeh-moesoeh seloeroeh Barisan Moedjahidin, hingga tekoek-loetoet atau hantjoer-binasa; dengan karena berkat kehendak dan kekoeasaan, tolong dan kasih-koernia Allah, Dzat Jang Maha Agoeng djoea adanja.

 Sungguh sangat jelas bagi kita tujuan dari MKT no 11 tahun 1959 sebagai strategi perang bagi seluruh Angkatan Mujahidin NKA NII ( Angkatan Perang Negara Islam Indonesia ) sehingga hilangnya fitnah terhadap islam di muka bumi ini, dengan menghancur lindaskan segala jenis dan bentuk musuh musuh Allah, musuh musuh Islam, musuh musuh Negara Islam Indonesia, musuh seluruh barisan mujahidin hingga bertekuk lutut dan hancur binasa, semuanya karena berkat kehendak dan kekuasaan, tolong dan kasih karunia Allah Dzat yang Maha Agung.

Untuk itu mulailah disusun struktur komando; “ Pembagian Indonesia dalam 7 (toedjoeh) Daerah Perang, atau Sapta-Palagan. Selama Negara Islam Indoneisa terlibat dalam peperangan dengan Negara Pantjasila, maka selama itoe atas dan bagi Negara Islam Indonesia, jang melipoeti seloeroeh Kepoelaoean Indonesia, berlakoelah hoekoem perang, atau lebih djelas dan tegas Hoekoem Islam dimasa Perang, Hoekoem Djihad fi-Sabilillah, sampai-sampai ditiap djengkal tanah jang manapoen.

Mengingat dan sebagai konsekwensi, atau akibat landjoetan daripada berlakoenja Hoekoem Perang, maka seloeroeh Indonesia adalah dalam keadaan Perang, sehingga setiap warga negara penghoeninja dalam hidoep dan kehidoepannja terlibat dan terpengaroehi, langsoeng atau/dan tidak-langsoeng, maoe atau tidak maoe, sengadja atau tidak sengadja, oleh Hoekoem Perang. Oentoek mendjamain berlakoenja Hoekoem Perang, sehingga merata dan melipoeti seloeroeh Indonesia beserta segenap penghoeninja, maka seloeroeh Indonesia beserta segenap penghoeninja, maka seloeroeh Indonesia dibagi mendjadi 7 (toedjoeh) Daerah-Perang, atau Sapta-Palagan

M.K.T. Nomor 11 ini hendaknya dianggap dan diperlakukan sebagai usaha penyempurnaan Stelsel atau Sistem Komandemen, berdasarkan atas Maklumat-Maklumat Komandemen Tertinggi sebelumnya, dengan maksud dan harapan, agar setiap Komandan dan Komandemen, mulai dari atas kebawah atau sebaliknya, lebih lancar, lebih pesat dan lebih efektif (berdaya guna) dalam menunaikan tugasnya selaku Pimpinan Perang, Pimpinan Negara dimasa Perang, Pimpinan Ummat Berperang, Ummatul-Mujahidin, Ummat-Pentegak-Kalimatillah, Ummat Pilihan dan kekasih Allah.

Dengan cara dan jalan demikian, berkat amal jihad segenap Barisan Mujahid dan terutama berkat besarnya limpahan Kurnia Allah Yang Maha-Besar, maka Insya Allah dimasa dekat mendatang kita sekalian pastilah diperkenankan Allah menginjak dan melintasi pintu-gerbang Falah dan Fatah, ialah kemenangan Islam dan Negara Islam Indonesia yang muthlak dan sempurna.

Inilah jembatan-mas terakhir, yang akan membawa segenap Ummat Mujahidin khususnya dan Ummat-Muslimin Bangsa Indonesia umumnya, langsung memasuki, menghidupi dan menikmati Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur di Nusantara Indonesia., baik dalam bentuk Negara Madinah Indonesia maupun sekaligus dalam bentuk Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, merdeka dan berdaulat bulat-lengkap, kedalam maupun keluar, sepanjang bukti kenyataan dan hukum.

Dengan karena curahan Berkah-Allah nan berlimpah-limpah jua adanya.

Marilah kita sekalian bergerak-melangkah maju menjelang Masa Depan Ke-emasan, dengan jiwa besar, ialah jiwa yang sanggup dan mampu mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan suci kehadlirat Dzat Rabbul-Izzaty, apa dan seberapapun diperlukan.

Itulah harga-pembelian yang perlu dan wajib kita tunaikan bersama !

Demi keagungan Allahu Akbar !

Demi Kesucian Agama Allah, Agama Islam !

Demi Kedaulatan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia !

Demi Keselamatan dlahir-bathin Ummat dan Bangsa, yang baik dan buruk Hari-Depannya, tergantung dan dipertanggung jawabkan atas kita sekalian, segenap Ummatul Mujahidin, tanpa kecuali !

Dengan cara, sifat dan bentuk, sepanjang isi dan jiwa M.K.T. Nomor 11 ini, maka Insya Allah terhindarlah Negara kita, Negara Islam Indonesia, istimewa dimasa Hukum Perang masih berkobar, daripada setiap jenis, sifat dan bentuk Dualisme, dalam bidang dan lapangan apa dan manapun. Sehingga dilingkungan Negara kita hanya dikenal satu Pimpinan Negara, yang juga bertugas memegang Pimpinan Perang dan Pimpinan Ummat Berperang.

Dalam pada itu, tiap-tiap Mujahid, terutama Pemimpinannya, harus percaya dan yakin dengan sepenuh jiwanya, akan benarnya perintah-perintah Allah, perintah-perintah Nabi SAW. Dan perintah-perintah Imam- Panglima Tertinggi-., yang terrealisasi dalam Hukum-hukum Jihad dan Perintah-perintah Jihad beserta pelaksanaannya. Tegasnya tiap Mujahid, khusus Pemimpin Mujahid, harus percaya, dan yakin akan benarnya tiap-tiap tingkah-lakunya, berwujudkan amal-amal pembinaan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia.

Dikala Jama’atul-Mujahidin merupakan satu kesatuan Ummat kompak, dlahir dan bathin, tidak tercerai berai dan tidak berpecah belah, maka barulah setiap anggauta atau bagian Jama’ah tersebut. berhak menerima dan menikmati kasih-sayang dan Kurnia Allah SWT. Dan dengan ini, terwujudlah Firman Allah didalam Kitab-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

atau dengan terjemahan bebas :

“Bahwasanya Allah berkenan menumpahkan (segenap) kasih-sayang-Nya (hanyalah) kepada (golongan, ummat dan bangsa) orang-orang yang berjihad—berperang– pada jalan-Nya dengan teratur (berorganisasi, bersaf-saf, tersusun rapih, sepanjang hajat dan keperluan Jama’tul-Mujahidin tersebut.), (yang bentuk, sifat, dan fungsinya) laksana bina-bina daripada sebuah tembok (bantu-membantu, bela-membela, junjung-menjunjung dst.)”. ( Q.S Ash-shaf ; 61 ayat 4 )

Selain dari pada itu, dari pada isi dan jiwa Firman Allah terlukis diatas, bolehlah kiranya ditarik dan dipetik pelajaran daripadanya, yang menunjukkan akan pentingnya kedudukan, peranan dan fungsi Pimpinan dimasa Perang, dimasa revolusi islam. Tegasnya: Pimpinan yang jujur dan ikhlas, benar dan ‘adil serta tegas, tapi bijaksana. Ialah Pemimpin yang sanggup hidup dan berjuang bersama-sama ra’iat, sehidup semati, senasib-sepenanggungan, dan timbul-tenggelam bersama-sama bawahan dan ra’iat, yang menjadi tanggung-jawabnya, didunia hingga diakhirat.

Mula pertama kita merasa hidup seorang diri. Lambat-laun perasaan itu meningkat hingga menjadi kesadaran dan keinsyafan selaku anggauta sesuatu keluarga. Dan selanjutnya meningkat lagi, hingga kita merasa dan menganggap diri kita, insyaf dan sadar sepenuhnya, sebagai warga masyarakat dan negara, warga ummat dan bangsa.

Dengan meningkatnya nilai perasaan dan anggapan, yang kemudian terrealisir dalam kelakuan dan perbuatan, maka makin bertambah tambah meningkat pula rasa tanggung jawab kita. Sebagai seorang diri, kita hanya bertanggung jawab atas diri kita. Sebagai warga sesuatu keluarga atau kelompok, tanggung jawab kita meningkat menjadi tanggung jawab terhadap keluarga dan kelompok.

Begitulah selanjutnya, sebagai warga sesuatu ummmat, bangsa atau jama’ah, maka pertanggung jawab kita akan meliputi seluruh ummat, bangsa dan jama’ah itu. Rasa tanggung-jawab yang makin meningkat itu, tidak hanya akan menambah besarnya hak kita, melainkan juga makin menambah besar dan beratnya kewajiban antar-warga, antar-kelompok dan antar-ummat.

Syahdan, dengan sandaran Ma’lumat K.T. yang menjadi sendi-dasar hidup dan perjuangan kita, hidup dan berjuang hanya untuk melaksanakan tugas Ilahy muthlak, merealisir dharma yang tertanam dalam jiwa setiap Mujahid, maka seluruh Barisan Mujahidin tanpa kecuali, dimanapun mereka berada dan bertugas, terikat erat satu sama lain demikian rupa, baik oleh Bai’at Negara, Bai’at Jabatan, Bai’at Setia maupun Bai’at selaku Moedjahid, sehingga mereka itu berwujudkan satu Jama’ah Besar, yang anggauta-anggautanya terdiri daripada tiap-tiap Mujahid dan Mujahidah, tegasnja:   “ Jama’ah Besar Mujahidin “.

Selaku warga jama’ah Besar Mujahidin, maka tiap-tiap Mujahid akan merasa makin bertambah-tambah besar dan mendalamnya rasa-setiakawannya, rasa-tanggung-jawabnya, rasa wajibnya. dst. dst. dst., sampai-sampai akhirnya meliputi seluruh Ummat dan Bangsa, Negara dan Agama.

Hendaklah semangat, kesadaran dan keinsyafan serupa itu ditanam dalam-dalam dan dipupuk baik-baik dalam jiwa setiap Mujahid, dan kemudian diperkembangkan dan diwujudkan dalam bentuk amal dan jasa-jasa, baik jasa terhadap Ummat dan Bangsa maupun terhadap Negara dan Agama.

Jika demikian halnya, maka cita-cita Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur bukan impian atau khayalan belaka.  Daya selamat-menyelamatkan, daya rahmat merah-mati dst. dst. akan sambung menyambung tidak kunjung-putus, sehingga meliputi seluruh Ummat dan bangsa, seluruh Negara dan Agama.  Demikianlah “Pentegak-Kalimatillah” ! Harap direnung-resapkan sebaik-baik dan sedalam-dalamnya, hingga terwujud dalam bentuk bukti-kenyataan yang sebenarnya.

Ikutilah zaman, yang beredar secepat kilat kejarlah waktu, dan janganlah biarkan waktu mengejar-ngejar kita !

Gunakanlah tiap sa’at dan detik untuk menunaikan perang mentegakkan Kalimatillah, dalam bentuk dan sifat apa dan manapun !

Ketahuilah ! Sekali lampau, ia tidak berulang kembali !

Songsonglah kedatangan kembali Imam -Panglima Tertinggi-, dengan realisasi M.K.T. Nomor 11 ini !

Tunjukkanlah bukti patuh-setiamu kepada Allah !  kepada Rasulullah SAW. !

Dan kepada Ulil-Amrimu, Ulil Amri Islam, tegasnja: Imam-Panglima Tertinggi APNII- !

Itulah jalan Jihad fi Sabilillah, satu-satunya Sirathal-Mustaqim !

Wa-hadza Sirathu Rabbika mustaqima………………………………!

Wallahu ………….jad’u ila Daris-Salam……………………………!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s