Membina Rasa Cinta, Ta’at, Setia dan Patuh bagi Jama’ah Mujahidin Negara Islam Indonesia

Tulisan ini adalah merupakan kelanjutan dari tulisan yang lalu dengan judul  : Memahami Maklumat Komandemen Tertinggi Negara Islam Indonesia no 11 tahun 1959, dengan kondisi kekinian Ummat Islam Bangsa Indonesia.

 

Dalam kata “ta’at dan patuh” termasuk pula istilah “disiplin”, dalam arti-kata khusus maupun umum.   Ta’at-patuh tanpa rasa-cinta setia, akan merasakan kaku-tegang dan kurus-kering-tandus, laksana suara irama. Bahkan kadang-kadang terasakan sebagai sesuatu yang keras dan kejam, kasar dan bengis.

Demikian pula “benar dan adil”, tanpa “qisthi dan palamarta (baik hati/ramah)”. Maka untuk memperoleh hasil amal yang sempurna, jasa-jasa yang besar manfa’at dan maslahatnya untuk umum, untuk Ummat, Negara dan Agama, maka kuncinya terletak dalam jiwa, atau lebih tegasnya: jiwa Mujahid yang harmonis, selaras dengan tugasnya.

Mujahid yang memiliki keselarasan jiwa ini akan menunaikan segala tugas wajibnya dengan sepenuh-jiwanya, dengan tekun, dengan khusu’ dan khudlu’ tanpa menghiraukan atau terpengaruh oleh sesuatu diluarnja. Dan keselarasan jiwa itu hendaknya bersifat vertikal  mulai tingkatan pemimpin teratas hingga tingkatan bawahan yang terendah, dan sebaliknya, dan bersifat pula horizontal, merata-mendatar, hingga sampai meliputi Jama’atul-Mujahidin sebagai kesatuan dan keseluruhan.

Maka pokok-pangkal daripada keselarasan jiwa itu terletak pada rasa-cinta, ialah rasa-suci-murni yang bersemayam dalam lubuk kalbu setiap Mujahid sedjati. Bagi membina jiwa baru, atau menanam jiwa jihad, jiwa yang sanggup dan mampu menyelaraskan diri dengan hukum-hukum Jahad, jiwa yang berani bertindak menyalurkan tingkah-laku dan amal-perbuatannya dengan hukum-hukum Jihad, maka landasan pembinaan jiwa kesatria suci sematjam ini adalah sebagai berikut:

  1. Rasa cinta setia kepada Allah (Mahabbah) dalam ma’na dan wujudnya:
  • sanggup dan  mampu  melaksanakan  tiap – tiap  perintahNya dan menjauhi tiap- tiap laranganNya tanpa kecuali dan tanpa tawar-menawar
  • mendahulukan dan  mengutamakan  pelaksanaan  perintah-perintah Allah, daripada sesuatu diluarnya; dan
  • mendasarkan tiap-tiap laku  lampah  dan  amalnya  atas  Wahdaniyat Allah, tegasnya: atas Tauhid  sejati, dan  tidak  atas  alasan,  pertimbangan dan dalil apapun, melainkan hanya berdasarkan  Khulishan – mukhlisan  semata,  atau  dengan  kata-kata lain: “Allah-minded  100%”.

    2. Rasa cinta setia kepada Rasulullah SAW, dalam ma’na dan wujudnya:

  • sanggup dan mampu  merealisir  ajaran  dan  Sunnah  Rasulullah SAW, dengan  kepercayaan dan keyakinan sepenuhnya, bahwa tiada contoh dan  tauladan  lebih  utama  daripada  ajaran dan Sunnahnya:  khusus  dalam  rangka  jihad, tegasnya dalam rangka usaha membina Negara  Madinah Indonesia; dan
  • pantang melakukan sesuatu diluar ajaran dan hukum Islam, sepanjang Sunnah, hingga mencapai taraf “Islam-minded 100%”.

3.  Rasa cinta setia kepada Ulil-Amri Islam, atau Imam Negara Islam Indonesia, atau Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, yang didalamnya termasuk (1) rasa cinta setia kepada pemerintah Negara Islam Indonesia, dan tidak kepada sesuatu Pemerintah diluarnya; (2) rasa cinta setia kepada Negara Islam Indonesia, dan tidak kepada sesuatu Negara diluarnya; (3) rasa cinta setia kepada Undang-Undang (Qanun-Asasy) Negara Islam Indonesia, dan tidak kepada Undang-Undang negara manapun; dst. dst. dst., yang semuanya itu tercakup dalam istilah “Negara Islam Indonesia-minded 100%”.

             CATATAN:
Kita hanya mengenal satu Ulil Amri Islam, satu Imam-Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, tidak lebih, dan tidak kurang. Tiap-tiap kepercayaan, keyakinan, anggapan dan perlakuan, yang menyimpang atau bertentangan dengan dia, adalah sesat dan menyesatkan, salah, keliru dan durhaka.

4. Rasa cinta setia kepada tanah air, ummat dan masyarakat, sampai-sampai kepada diri pribadi, dengan catatan dan perhatian:

  • bahwa kecintaan dan kesetiaan kita dalam hubungan ini tidak sekali-kali boleh melanggar atau menyimpang, melebihi atau mengurangi apa yang telah termaktub pada huruf-huruf A, B, dan C. diatas; melainkan semuanya tetap berlaku dalam batas-batas rangka jihad dan usaha jihad, dan tidak karena sesuatu diluarnya

5.  Dan rasa cinta setia kepada tugasnya, tugas dan wajibnya melaksanakan Jihad berperang pada Jalan Allah, karena Allah, untuk mentegakkan Kalimatillah, langsung menuju Mardlatillah, lebih dan dilebihkan daripada setiap kecintaan diluarnya, dalam makna dan wujud:

  • percaya dan yakin dengan sepenuh jiwanya, bahwa jihad adalah satu-satunya dharma-bakti muthlak dan maha-suci ‘indallah wa ‘indannas, yang boleh membawa pelakunya naik meninggi sampai kepada harkat-derajat yang termulia, dibawah para Anbiya Allah dan para Rasulullah;
  • karena Jihad berhukumkan “Fardlu’ain dan Fardlu kifayah” (bersama-sama), maka pada tiap-tiap sa’at Allah berkenan mengidzinkannya, wajib jihad itu diletakkan atas pundak tiap-tiap Mujahid dan atas pundak seluruh Jama’ah Mujahidin, atau dengan kata-kata lain; atas seluruh ummat, tanpa kecuali.
  • percaya dan yakin sepenuhnya, bahwa Jihad fi sabilillah adalah satu-satunya cara, prilaku, usaha dan ‘amal memperjuangkan Keluhuran Agama Islam, Kedaulatan Negara Islam Indonesia beserta Hukum-hukum Syari’at Islam yang menjadi sendi-dasarnya, dan Kebahagiaan Ummat dan Bangsa, yang berharap ingin mengucap menikmati Kurnia Allah yang Maha Besar, dalam Kerajaan Allah didunia dan diakhirat, atau sekurang-kurangnya dalam lingkungan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur di Indonesia atau Negara Islam Indonesia, ialah ujung kesudahan cita-cita Ummatul-Mujahidin, Ummat pilihan dan kekasih-Allah di Indonesia; dan
  • sanggup serta mampu menyalurkan tiap-tiap gerak-langkah dan tingkah-lakunya, dlahir maupun bathin, sepanjang Hukum-hukum Jihad; Hukum-hukum Islam dimasa Perang, sehingga menjadi Mujahid tulen dan Mujahid sejati genap-lengkap dlahir-bathin, tegasnya Mujahid yang “Jihad minded 100%”, keyakinan mana akan mendorong Mujahid-pelakunya:

::  Untuk menumpahkan dan mengorbankan segenap tenaga, waktu dan hartanya hanya pada jalan yang ditaburi rahmat dan ridla Ilahy;

::  Untuk menggunakan tiap detik sepanjang umurnya hanya bagi jihad mentegakkan Kalimatillah;

::  Untuk mempertaruhkan jiwa, raga dan nyawanya hanya untuk persembahan dharma-bakti muthlak kepada Dzat ‘Azza wa Jalla semata; tegasnya hanya untuk mentegakkan Kalimatillah, mendhahirkan Kerajaan Allah didunia, khusus dipermukaan bumi Allah Indonesia. Dan tiada sesuatu diluarnya.

 MENGGALANG BENTENG ISLAM NAN KUAT SENTAUSA

 Mengingat apa yang tertera pada penjelasan-penjelasan Diatas, jika Jama’atul-Mujahidin sungguh-sungguh sanggup, mampu dan kuasa mewujudkan ajaran-ajaran Kitabullah, Al-Qur’anul-‘adzim, dan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, dengan tepat dan seksama, setingkat demi setingkat, selangkah demi selangkah, sepanjang rangka jihad dan hukum jihad, Insya Allah dalam waktu yang singkat gelombang Jama’ah tersebut akan merupakan satu Benteng Islam raksasa yang maha kuat dan maha-sentausa, dlahir maupun bathin, yang sanggup dan mampu menghadapi serta mengatasi segala kemungkinan dan keadaan betapapun sifat dan bentuknya.

Beberapa faktor utama, yang akan dapat dijadikan landasan-landasan dan pembinaan ini antara lain ialah:

  1. Memupuk dan memperkembangkan rasa-tanggung jawab dlahir-bathin yang makin bertambah-tambah besar, dalam ma’na :
  • Bertanggung-jawab sepenuhnya akan berlakunya hukum-hukum Allah, Hukum-hukum sepanjang ajaran Al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah SAW, tegasnya: Hukum-hukum Syari’at Islam, atau Undang-Undang Islam, atau Undang-Undang Negara Islam Indonesia; dan
  • Bertanggung jawab sepenuhnya akan berlakunya dan dilaksanakannya dengan tepat Hukum-hukum Islam dimasa Perang.
  1. Memupuk dan memperkembangkan rasa setiakawan yang makin bertambah-tambah mendalam, terutama, dalam lingkungan Jama’atul-Mujahidin, sepanjang ajaran Islam, sebagaimana yang telah terlaksana dalam pergaulan antara kaum Anshar dan Muhajirin, ialah kaum Mujahidin dibawah pimpinan, bimbingan, tuntunan dan asuhan langsung Rasulullah SAW. Pada zaman Madinah awal, di Negara Basis Islam Pertama di Jaziratoel-Islamiyah termaksud meliputi segala bidang dan segi, khusus dan umum, sakhsy dan idjtima’i, sepanjang ajaran suci, terutama dalam menanam, membangkitkan dan mengobar-ngobarkan Semangat Jihad dalam membina dan memperkembangkan Jiwa Jihad, dan dalam melaksanakan Hukum-hukum Jihad.

Dengan demikian, maka cita-cita hendak menggalang Persatuan Islam dan Persatuan Ummat, terutama Ummatul-Mujahidin yang kuat-kompak dlahir-bathin bukanlah satu impian khayal!. Jadikanlah Tali-tali Allah, perintah-perintah Allah beserta Sunnah Rasulullah SAW selaku tafsirnya, sebagai daya-pengikat antar-jiwa dalam lingkungan Jama’atul-Mujahidin! Dan kemudian perkuat dan sempurnakanlah segala usahamu dalam jurusan itu, hingga seluruh tubuh jama’ah akan merupakan satu Benteng Islam raksasa nan kuat-sentausa !

Dalam pada itu, hendaklah diingati pula, tanda setia-kawan itu hendaknya dibuktikan lebih dahulu dari atas kebawah, dan bukan dari bawah keatas, karena pihak atasan Komandan atau Pemimpin, harus lebih dahulu pandai menunjukkan kesungguh-sungguhnya melaksanakan wajibnya: memperlindungi, menuntun dan membimbing pihak bawahan atau anak buahnya, daripada hanya pandai menuntut kepatuhan, kesetiaan, kesetiakawanan, pembelaan dan pertanggung-jawaban pihak bawahan terhadap pihak atasnya!

Itulah bukti yang nyata daripada apa yang disebut Mahabbah kepada Allah dan Mushahabah terhadap sesama Mujahidin, sesama Ummatul Muslimin !

 Menanam dan memperkuat disiplin umum dan terutama militer. Disiplin, dalam ma’na Ta’at patuh dan setia, baik dalam bidang-bidang umum maupun dalam segi-segi kemiliteran, wajib ditanam, dipupuk, diperkembangkan dan diperkuat dalam dada, jiwa, tekad dan ‘amal setiap Mujahid. Karena tiap Mujahid selaku pelaksana hukum-hukum jihad, Hukum-hukum Islam dimasa Perang, dengan automatis sesungguhnya adalah Prajurit-Tentara Allah. Tanpa disiplin, maka seorang Mujahid hanya merupakan pejuang liar, pejuang yang ingkar, menyimpang dan menyeleweng daripada Jama’ah Besar, Jama’atul-Mujahidin.

Dalam keadaan biasa, sikap liar itu hanya akan mengecewakan. Tapi dimasa berlaku Perang Semesta, Perang Totaliter, maka disiplin masuk salah satu kewajiban muthlak, yang harus berlaku tanpa syarat, tanpa kayid dan tanpa tawar-menawar. Oleh sebab itu, hendaklah setiap Mujahid suka melatih diri demikian rupa, sehingga rasa disiplin sungguh-sungguh meresap dan terbukti dalam segala hal, sampai-sampai kepada tingkah-laku dan perbuatannya sehari-hari.

Beberapa hal pokok, yang boleh dijadikan anak-tangga mencapai disiplin adalah sebagai berikut:

  1. Disiplin terhadap Allah, dalam arti kata: ta’at, patuh dan setia melaksanakan setiap perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, dengan hati nan jujur, ikhlas dan ridla, tanpa tawar-menawar, tanpa syarat dan tanpa kayid apa dan manapun.
  2. Disiplin terhadap Rasulullah SAW, dengan kenyataan mengikuti jejak Rasulullah SAW, sesempurna mungkin, terutama dalam jihad membina Negara Basis Madinah.
  3. Disiplin terhadap Ulil Amri Islam, tegasnya ta’at, patuh dan setia melaksanakan segala perintah Imam-Panglima Tertinggi-, dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, dan lepas dari pada syak, nifaq, dan dhan.

Tjatatan.

  1. Sikap dan perbuatan disipliner terhadap Ulil Amri, boleh dianggap sebagai tanda-bukti yang nyata akan benarnya apa yang termaktub pada huruf C,1, dan E diatas.
  2. Sepanjang qiyas dan dalam batas-batas tertentu, maka termasuk pula dalam golongan C3 ini; Disiplin terhadap para Panglima (Perang), para Komandan (Lapangan-Pertempuran) dan para Pemimpin N.I.I. (atasan) lainnya.
  3. Disiplin terhadap sesuatu lain diluarnya, termasuk didalamnya disiplin terhadap diri-pribadi. Mitsalnya:
  • pandai mengawasi dan menguasai ‘amal dan tindakan sendiri;
  • pandai mengekang dan mengatur segala nafsu getaran jiwa, niat, hajat, ‘adzam, rencana dan segala gerak-gerik panca-indranya sendiri;
  • sehingga tetap berjalan dan tersalurkan pada jalan dan melalui Hukum-hukum yang ditaburi Rahmat dan Ridla Ilahy; tegasnya: tetap tertib, teliti dan hati-hati dalam melakukan Hukum-hukum Jihad, Hukum-hukum militer, ketentuan-ketentuan militer, tata-tertib Militer, siasat militer, dst. dst.; dalam pada itu segala hal yang membawa kepada daerah lalai, ceroboh, dan sembrono. Lalainya harus dijauhkan dan dienyahkan, tegasnya sikap tawakkal ‘alallah secara muthlak harus dipersatu-padukan dengan perbuatan-perbuatan taqwa, sifat-sifat ittiqa sepanjang Sunnah; dan kedua unsur jiwa ini harus ditanam dan diperkembangkan dalam jiwa dan ‘amal setiap Mujahid !

Disinilah setiap Mujahid memperoleh kesempatan melakukan Jihadul-Akbar, disamping dan bersama-sama Jihadul-Asghar.  Alangkah tinggi nilai setiap Mujahid, yang tahu dan sadar sepenuhnya akan keluhuran funksinya, dan yang pandai serta cakap dalam menunaikan tugasnya nan maha-mulia dan maha-suci itu, walau acapkali terasa maha-berat sekalipun!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s