Succesion of State; Sebagai Wacana dan Solusi bagi Ummat Islam Indonesia

Misi risalah yang diemban oleh para Rasul adalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah (Thagut) , maka di keluarkanlah manusia itu dari sistem Dzulumat (Jahiliyah) kepada sistem al Nur (Islam) , bukan dibiarkan berada dalam sistem dzulumat yang menyebabkan mereka tetap berada dalam Kesyirikan Rubbubiyah, Kesyirikan Mulkiyah dan Kesyirikan Uluhiyah.
Cita-cita seluruh manusia secara fitrahnya termaktub dalam surah albaqarah ayat 201

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Qs. Albaqarah : 201)

Dunia yang hasanah adalah sebuah negri yang dilukiskan dalam alquran “Baldatun thoyyibatun Wa robbun ghofur ”ialah “mencari dan mendapatkan Mardhotillah, yang merupakan hidup di dalam ikatan dunia baru, ya’ni Negara Islam Indonesia yang merdeka”  itulah dunia hasanah dan akhirat yang hasanah adalah dunia Baqa’ yaitu mardhatillah di Akhirat yaitu darusalam, maka berbagai upaya dan usaha yang Syar’I untuk mewujudkan cita-cita  (doa) harus di tempuh. Salah satu alternatif yang bisa di ambil oleh para ulil albab pendamba cita-cita mulia (Doa) tadi tulisan dibawah ini bisa menjadi renungan agar kita bisa membawa dan mengeluarkan umat seperti yang tertuang dalam Quran Surat An-nisa ayat 75

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

…”Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (Qs. Annisa : 75)

Succesion of State ,Wacana Menuju Lembaran Baru

Ada Tulisan menarik dalam majalah “Amanah” no.1 tahun 3 bulan januari 1974 yang diterbitkan oleh Lembaga Dakwah Syarikat Islam Pusat, pada halaman 9 bertajuk : “Bantuan IGGI kepada Indonesia” di situ disebutkan bahwa utang Indonesia (dari mulai RI, terus Ke RIS sampai NKRI –pen): pada masa Orde lama berjumlah 2,6 milyar dollar, kemudian utang ini membengkak. Pada pebruari 1967 dibentuk Inter Govermental Group of Indonesia (IGGI). Kelompok negara-negara pemberi pinjaman-pinjaman pada Indonesia yang diprakarsai oleh Belanda, dan yang saat tulisan tersebut terbit (1974) IGGI diketuai oleh Mr. J.P. Pronk ,Mentri Kerjasama Pembangunan Belanda, telah memberikan pinjaman sebagai berikut :

Th 1967                US$. 200.000.00,-

Th 1968                US$. 325.000.00,-

Th 1969/70         US$. 500.000.00,-

Th 1970/71         US$. 600.000.00,-

Th 1971/72         US$. 640.000.00,-

Th 1972/73         US$. 670.000.00,-

Untuk tahun 1973/74 hutang pemerintah Republik Indonesia adalah sebesar US$. 760 juta; (dalam pelakasanaanya menjadi US$.876,6 juta) karna bantuan negara-negara donor satu persatu dinyatakan dalam mata uang sendiri yang telah mengalami reevaluasi terhadap Dollar amerika; yang terdiri dari US $160 juta bantuan pangan ; dan US $600 juta untuk bantuan bukan pangan . Semula kesediaan para anggota IGGI sebesar US$ 716.6 juta dengan rincian sebagai berikut :

Jepang                 US$. 180.000.000,-

Amerika               US$. 150.000.000,-

Jerman Barat      US$. 57.000.000,-

Belanda               US$. 51.000.000,-

Perancis               US$. 26.300.000,-

Australia              US$. 23.800.000,-

Kanada                 US$. 13.000.000,-

Swiss                    US$. 6.000.000,-

Italia                     US$. 4.000.000,-

Bank Dunia          US$. 133.000.000,-

ADB                      US$. 31.000.000,-

Jumlah hutang  yang dipinjam Indonesia dari IGGI semenjak tahun 1967 berjumlah 3.6 milyar dollar amerika dan kewajiban NKRI membayar seluruh hutangnya (termasuk hutang Orde lama) adalah US$.6.251.600.000,- atau Rp.2.595. 414.000.000,- (dengan kurs th 1974 sebesar Rp.415,-)

Dalam majalah itu diutarakan keprihatinan yang semakin membengkak. Entah apa jadinya bila penulis itu mengetahui bahwa utang NKRI tahun sampai bulan maret tahun 2001 sudah berjumlah 138,244 milyar dollar amerika; melebihi pendapatan domestiknya sendiri, dan ini menempatkan NKRI sebagau pengutang terbesar (Most Indebted Country) setelah jepang 1.

Berbeda dengan Jepang , dimana besarnya hutang tadi digunakan untuk menggulirkan roda pembangunan, Negara Kesatuan Republik Indonesia justru semakin terjerat dengan hutang tadi, sebab dana tersebut sebagian besar terserap guna menggulirkan roda pemerintahan.

Dalam laporannya pertengahan Juni 2017 TV Berita Satu dalam acara Money Report menyampaikan tentang Besar Hutang Luar Negeri Pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo pada posisi akhir Mei 2017 baik Bilateral maupun Multi Lateral tercatat sebesar 723,44 Trilyun rupiah bersumber dari 11 kreditur besar dunia diantaranya ;

  • World Bank                                             234,68  Trilyun rupiah
    • Jepang                                             196,98 Trilyun  rupiah
  • Asian Development Bank                     119,51 Trilyun  rupiah
  • Jerman                                                             3   Trilyun  rupiah
  • Perancis                                                     24,3    Trilyun  rupiah
  • Korea Selatan                                           19,5    Trilyun  rupiah
  • Republik Rakyat China                          13,51   Trilyun  rupiah
  • Islamic Development Bank                    9,95    Trilyun rupiah
  • Australia                                                    6,95    Trilyun rupiah
  • Rusia                                                          3,37     Trilyun rupiah
  • Inggeris                                                     1,92     Trilyun rupiah

Pemerintahan di NKRI sekalipun dilanjutkan oleh pemerintah yang bersih, sebenarnya secara Ekonomis tetap rugi, kita akan kehilangan sumber daya alam untuk mencicil hutang yang terus membengkak itu. Bagaimana akan bisa dibayar ?

Keadaan makin parah dengan rayap-rayap yang menggrogoti negara , hukum yang longgar membuat mereka mengambil kesempatan, selagi berkuasa, sebab pinjaman ini berjangka panjang , pembayaran tidak harus lunas pada masa pemerintahannya, tapi terus beralih pada pemerintahan berikutnya.

Negara yang dipinjami pun tidak rugi , Taruhan pinjaman sebuah negara adalah “sovereignity”, toh selama NKRI tetap ada , kedaulatan tetap berdiri , cicilan tetap mengalir, sumber daya alam masih bisa digali.

Republik Islam Iran ???, mengambil jalan pintas  menghapus  semua hutang negara akibat kebobrokan rezim Syah Reza Pahlevi , merubah kepribadian dari kerajaan Iran, menegakan negara dan pemerintahan baru diatasnya hadirlah Republik Islam Iran menjadi satu-satunya negara yang tidak punya utang di dunia !

Bagaimana di Nusantara ? Ide Federasi kemudian pecah menjadi negara-negara kecil  yang berdaulat merupakan ide cerdas . Sayang ide ini cuma menjadi wacana yang mati premature.

Padahal USSR berhasil dengan trik ini. Ketika USSR pecah , negara-negara kapitalis gembira , menganggap musuh ideologinya musnah, padahal komunis tidak mati, negara komunis belum ada yang pecah, yang pecah adalah ikatan negara-negara sosialis, kemudian mereka berdaulat sendiri-sendiri. Lepas dari kewajiban menanggung utang USSR yang membengkak akibat beban perang melawan Mujahidin Afganistan.

Succession Of State (Pergantian Negara ) seperti yang dijelaskan dalam Konvensi Wina  1978 pasal 9 ayat 1 ditetapkan bahwa : “Obligations or rights under treaties in force in respect in of a territory at the date of succession of state do not become the obligation or right of the a state or of other states parties to those treaties by reason only of the fact that the successor state has made unilateral declaration providing for the continuance in force treaties in respect in respect of its territory.” Maksudnya semua hak dan kewajiban yang berlaku sampai terjadinya pergantian negara , maka semua perjanjian itu tidak akan menjadi Hak dan Kewajiban negara pengganti atau negara lain yang menjadi pihak dalam perjanjian itu, kecuali jika ada pernyataan (deklarasi) dari negara pengganti yang menegaskan kelanjutan dari berlakunya perjanjian di atas wilayah yang dikuasainya.

Succession Of State menghantarkan negara baru pada “Clean State Principle” seperti ditegaskan dalam pasal 15 Konvensi Vina tahun 1978, bahwa negara baru tidak terkait dengan perjanjian – perjanjian yang dibuat oleh negara yang digantikannya, termasuk dalam hal ini Utang piutang negara 2. Seperti yang di tuliskan Mc Nair bahwa negara pengganti “…start life with clean state in the matter of treaty obligation” seusai dengan hukum internation bahwa “Pacta tertiis nec nocent nec prosunt” bahwa perjanjian hanya berlaku /mengikat para pihak perjanjian itu sendiri. Sedangkan negara baru bukanlah  pihak yang membuat perjanjian itu. Contoh dalam perundingan-perundingan antara spanyol dan amerika serikat tahun 1898, komisi-komisi perdamaian amerika serikat tidak mau mengakui apa yang di sebut hutang-hutang umum Cuba, karna hutang-hutang itu diadakan oleh Spanyol untuk maksud-maksud sendiri yang bertentangan dengan kepentingan Cuba 3.

Demikian juga sikap rezim komunis terhadap utang-utang yang dibuat oleh pemerintah Czar Rusia (terguling dalam revolusi Oktober 1917 ) All Rusian Congress mendekritkan penghapusan semua perjanjian dan utang-utang luar negri yang dibuat oleh rezim terguling yang isinya dianggap hanya menguntungkan kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah belaka 4. Demikian juga yang terjadi dengan keberhasilan Revolusi Islam Iran tahun 1978.

Suksesi negara membuka peluang terhapusnya utang-utang negara , kecuali atas utang-utang yang merupakan proyek riel yang sampai saat pergantian itu manfaat bisa dirasakan langsung oleh rakyat. Berbeda dengan suksesi pemerintahan, bila hanya pemerintahan yang berganti tanpa perubahan kepribadian negara, atau hadirnya negara baru, maka perubahan ini tidak menghilangkan kewajiban untuk membayar utang-utang tersebut.

Seperti perubahan dari Orde lama ke Orde Baru , bahkan sampai ke Orde Reformasi di NKRI. Walaupun sempat terjadi penggantian pemerintahan bahkan negara dari RI ke PDRI, kemudian menjadi RIS dan akhirnya NKRI, Namun karena Kepribadian negara tidak berubah, tetap Pancasila juga, maka NKRI tetap meng-Akumulasi tanggungan Hutang-hutangnya.

Berbeda dengan Iran, di sana bukan hanya bentuk pemerintahan yang berubah (Dari Kerajaan ke Republik) tetapi keperibadian dan ideology negaranya pun berubah (dari Sekuler ke Syiah) begitu juga dengan Revolusi Oktober Rusia (dari Feodal Kapitalis ke Sosialis), perubahan drastis inilah yang memutus negara/pemerintahan baru dengan beban masa lalunya.

A Government , the instrumentality trough which state functions, may change from time to time both as to form as form of monarchy to a republic- and as to the Head of the government without effecting the Contuinity or Identity of the state as an international persons”5.

Pemerintah suatu negara bisa berubah , misalnya bantuk Kerajaan menjadi Republik ataupun kepala pemerintahanya (atau cabinet misalanya yang diganti lewat pemilihan umum atau lainya). Perubahan pemerintahan seperti itu tidak mempengaruhi kelanjutan kewajiban negara berikut identitas negara tersebut menjadi subject hukum international.

Inilah alternative menghapus utang-utang yang berkaitan dengan praktek politik yang korup, hasil ideology lepas wahyu. Namun tentu saja persoalanya tidak sesederhana itu, sebab setiap upaya succession of State di atas negara “Kaya utang”, berarti harus menghadapi negara-negara Inangnya, negara-negara pendonor hutang tadi. Berhadapan dengan satu negara , bisa berhadapan dengan berbagai kekuatan dunia.

Dari itu pada negarawan pejuang harus mempersiapkan dengan matang “Succession of State” ini, bukan sekedar berbekal berani yang memamerkan kebrutalan , siap mati tapi tidaka siap hidup untuk membawa negara pada janji kemakmuran dan keadilan yang nyata.

Tentu saja sebagai negara beradab, negara baru , apalagi kalau itu sebuah Daulah Islamiyah , tidak boleh merugikan negara lain yang memberikan pinjaman, bila memang utang itu digunakan secara nyata untuk kemakmuran rakyat. Bahwa “Taking the burden with the benefits”  merupakan kenyataan yang tidak boleh di raup tanpa harga diri dan tak tau malu. Sudah selayaknya jika negara pengganti , yang juga memperoleh manfaat dari utang lama dalam wilayah yang dikuasainya juga bertanggung jawab atas utang tersebut.

Namun tentu saja sebatas yang memberi guna secara nyata, tidak termasuk utang-utang yang di pergunakan negara lama untuk mempertahankan system kekuasaannya, atau biaya perang yang didanai utang luar negri.

Dalam hali ini sebagai negara baru (Succession State) berhak memilih perjanjian mana yang akan dilanjutkan dan mana yang dibatalkan dari pemerintah yang digantikannya (Predecessor State ). Contoh sikap pemerintah Republik Rakyat Cina atas perjanjian-perjanjian yang dibuat pemerintah Kuo Min Tang, dalam Bab II Pasal 55 dari program Umum Konfrensi Konsultatif Politik Rakyat Cina, 20 September 1949 menegaskan bahwa : “Pemerintah Rakyat Pusat dari RRC akan mempelajari traktat-traktat dan persetujuan-persetujuan pemerintah Asing dan akan mengakui, membatalkan, mengubah atau merundingkan kembali semua itu berdasarkan isinya masing-masing8.

Pilihan ini sangat bergantung pada kehendak negara dan akibatnya dalam hubungan dengan negara-negara lain. Pada tahun 1896 ketika prancis mencaplok Madagaskar , ia tidak mengindahkan hak dagang kerajaan Inggris  dan Amerika Serikat. Sekalipun kedua negara itu sudah membuat perjanjian dengan Ratu Madagaskar, Prancis bahkan menetapkan tarif sendiri atas Wilayah itu 9. Sebab pada Umumnya bila suatu negara sudah digantikan oleh negara lain, maka perjanjian-perjanjian itu lenyap bersama lenyapnya negara itu .

Dengan adanya konsekwensi Internasional inilah maka kekuatan international tidak akan membiarkan begitu saja terjadinya Perubahan dalam suatu negara, sebab itu akan  menyebabkan hangusnya piutang yang telah mereka tanam. Dari itu kekuatan International akan berusaha mengembalikan Kedaulatan negara yang akan digantikan tadi.

Kecuali kalau mayoritas rakyat bisa digerakan untuk perubahan ini. Sebab dalam dunia International diakui hak untuk menentukan nasib sendiri (The Right of Self Determination) dan ini harus bercermin dalam kehendak masa. Gerakan Harus  menjadi Revolusi Rakyat, People Power , bukan gerakan yang dipaksakan oleh kekuatan kecil belaka.

Kasus di Haiti sebagai bisa menjadi pelajaran penting bagi kita, dimana Amerika Serikat bisa turut campur mengembalikan pemerintahan terguling ke tampuknya, sebab tindakan yang terjadi merupakan kudeta, bukan Revolusi yang di kehendaki oleh seluruh rakyat untuk merubah total kepribadian kekuasaan negara.

Keberhasilan para pejuang Islam, adalah dalam keberhasilan dalam menarik pertolongan Allah dan meraih pertolongan rakyat. Pengakuan International memang penting untuk mendukung kehadiran negara sebagai pribadi dalam masyarakat International, namun pengakuan rakyat lebih penting lagi, agar kedaulatan negara itu Legitimate, berdaulat kedalam dimana  tak satupun kekuatan International berhak mencampurinya.

Dan kalaupun jika kekuatan luar itu memaksa , maka dengan kesatuan Solidaritas Rakyat tersebut, tekanan diluar tadi hanya akan menambah solidnya kesatuan didalam negara tersebut. Sebagaimana kesatuan Nasional Republik Iran di tempa dan terbukti semakin kokoh, saat konspirasi international berusaha menghancurkan bayi repuiblik itu dengan menggunakan tangan Rezim Sosialis Iraq.

Terlepas dari isyu Sunnah  Syiah yang harus diselesaikan oleh para ulama, dari sudut pandang politik dan ideologis, memang seharusnya seperti itulah arah  perjuangan Muslimin. Bukan sekedar suksesi pemerintahan yang baru saja menduduki posisi kekuasaan, sudah harus memikul beban masa lalu, belum lagi beban hukum non islam yang mencoreng wajah mereka di akhirat (Qs. 5:44,45,57,50).

إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ فِيهَا هُدٗى وَنُورٞۚ يَحۡكُمُ بِهَا ٱلنَّبِيُّونَٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ (44)

Artinya :  Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir  (Qs. Almaidah : 44)

وَكَتَبۡنَا عَلَيۡهِمۡ فِيهَآ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَيۡنَ بِٱلۡعَيۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصٞۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةٞ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ) ٤٥ (

Artinya : Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim  (Qs. Al Maidah : 45)

يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلَّذِينَٱتَّخَذُواْ دِينَكُمۡ هُزُوٗا وَلَعِبٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَٱلۡكُفَّارَ أَوۡلِيَآءَۚ وَٱتَّقُواْٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٥٧

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman (Qs. Al Maidah : 57)

أَفَحُكۡمَٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin(Qs. Al Maidah : 50)

Masalahnya sekarang , sejauh mana para negarawan pejuang itu berhasil lending di tengah-tengah masa, dengan bimbingan Sang Maha Raja Langit dan Bumi. Kebeningan hati, ketulusan Ukhuwah , lisan yang penuh dzikir dan hati yang bersih adalah modal perjuangan yang tidak boleh diabaikan.

Benar yang seperti dikatakan al Qur’an bahwa perubahan tidak akan terjadi kecuali kalau rakyatnya sendiri yang Ingin merubah keadaan mereka (Qs. ArRo’du(13):11)

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ١١

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Qs. ArRo’du(13):11)

Dan perubahan pertama adalah kearah pembersihan diri dan Daulah. Allah memerintahkan hal ini dengan Tegas :Wa rujza Fahjur ! (berhijrahlah dari segala Dosa!)

Sekenario Perubahan Sosial

Banyak orang menuliskan scenario perubahan politik dan social, kaum materialis, mereka percaya bahwa individu tidak punya pengaruh atas nasib masyarakat mereka, dan masyarakat merupakan fenomena alami yang berkembang menurut faktor-faktor hukum alami. Kaum kebanyakan (masyarakat) tidak bersaham dalam perubahan masyarakat. Faktor satu-satunya bagi mereka adalah tokoh-tokoh yang berkuasa (Hitler misalnya). Orang-orang pilihan kata Nietzhe, kaum aristocrat dan para bangsawan kata Plato.

Tetapi Al-quran menegaskan bahwa perubahan itu dilakukan oleh rakyat, oleh massa yang menyadari dan tergerak untuk merubah dirinya. Innallaha la yughayyiru  ma biqoumin hatta yughayyiru maa bianfusihim10 !

Islam merupakan penggagas mazhab pemikiran social yang mengakui masa sebagai basis . Dalam ajaran Islam rakyat merupakan faktor utama dalam perubahan sejarah dan masyarakat, Banyak nabi yang  tidak sampai mampu merubah masyarakatnya, bahkan ada yang di bunuh (Qs. 2:28,91).

كَيۡفَ تَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمۡ أَمۡوَٰتٗا فَأَحۡيَٰكُمۡۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٢٨

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan  (Qs. Albaqarah : 28)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ نُؤۡمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا وَيَكۡفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُۥ وَهُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَهُمۡۗ قُلۡ فَلِمَ تَقۡتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ مِن قَبۡلُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٩١

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman? (Qs. AlBaqarah : 91)

Banyak nabi-nabi yang misinya di aborsi massa para nabi tersebut, tidak gagal dalam menyampaikan apa yang diamanahkan kepadanya, namun taghyir ( perubahan sosial ) tidak terjadi. Tentu saja rakyat yang mengeksekusi utusan Allah adalah menantang azab dan menghentikan peroses perubahan itu sendiri.

Semua itu memberi pelajaran bagi para negarawan pejuang jangan sampai mereka mengabaikan pertolongan Allah dan tidak boleh melalaikan dukungan manusia (lihat QS. 8:62 dan 64).

وَإِن يُرِيدُوٓاْ أَن يَخۡدَعُوكَ فَإِنَّ حَسۡبَكَ ٱللَّهُۚ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَيَّدَكَ بِنَصۡرِهِۦ وَبِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٢

Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin (Qs. Al Anfal : 62)

يَٰٓأَيُّهَاٱلنَّبِيُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٤

Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu (Qs. Al Anfal : 64)

Gerakan yang tidak berhasil mengundang tolong Allah akan gagal ( QS. 3:165 )

أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتۡكُم مُّصِيبَةٞ قَدۡ أَصَبۡتُم مِّثۡلَيۡهَا قُلۡتُمۡ أَنَّىٰ هَٰذَاۖ قُلۡ هُوَ مِنۡ عِندِ أَنفُسِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ١٦٥

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. Ali Imran : 165)

Dan gerakan yang tidak didukung massa akan menjadi penderitaan panjang. 950 tahun perjuangan Nabi Nuh merupakan bukti sejarah, betapa kebenaran yang tidak didukung massa, harus berjalan tersendat-sendat menggapai kemenangannya.

Tentu saja penggantian negara ( succession of state ) bukan sekedar hiruk pikuk pertempuran, tetapi juga trik-trik cerdas di dunia  diplomatic dalam menyelesaikan sengketa internasional tersebut, belum lagi dukungan rakyat yang menjadi syarat legistimasi bagi hak untuk menentukan nasib sendiri ( the right  of self determination ).

Dalam atmosfir hari ini, umat mujahidin dituntut untuk mampu mengetengahkan dan mempertahankan konsep perjuangannya  di tengah masyarakat yang beragam ini.  Tindakan kekerasan, gaya ‘militer’ yang tanggung, terasing dari rakyat adalah tindakan konyol, yang akan menghantarkan gerakan itu  ke liang kuburnya sendiri.

Hari ini kita dihadapkan pada keadaan  dimana umat menuntut (QS. 4:75), zaman menantang (QS. 8:73 ) dan Allah mengancam akan menghukum kita,  bila tidak bersungguh-sungguh  menegakan jihad ini (lihat surat AtTaubah (9) : 38,40). Dalam kondisi sedimikian kita akan melihat bagaimana para pejuang itu bersikap. Apakah akan tegar dengan segala kekuatan dalil, keteguhan ideologis, kelembutan akhlaq , kesucian diri dan kepandaian Strategi, atau berubah menjadi petualang-petualang brutal dan Nekad , yang hanya mengundang tertawaan sejarah.

وَمَا لَكُمۡ لَا تُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٰنِٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِٱلظَّالِمِ أَهۡلُهَا وَٱجۡعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا وَٱجۡعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا ٧٥

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (Qs. AnNisa : 75)

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٞ كَبِيرٞ ٧٣

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar (Qs. AlAnfal : 73)

يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ ٣٨

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit (Qs. AtTaubah : 38)

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ إِذۡ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيۡهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٖ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِيَ ٱلۡعُلۡيَاۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ٤٠

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. AtTaubah : 40)

Kita berharap, semoga para pejuang Negara Islam Indonesia di pandaikan Allah, dalam mempertahankan Karunia Allah yang telah dianugrahkan kepada mereka, Aamiin ya Robbal Mustad’afin..

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

..Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali (Qs. Hud : 88)

Walhamdulillahirobbil’alamin

Mardhatilah  5 Jumadi Tsani 1438 H

Ikhawanukum Fillah

(Abu Sholeh Al-Munzir)

 

 

  1. Sumber : Bank Indonesia , Kompas 3 September 2001 “Komitment IGGI harus berkurang”
  2. Dibahas lebih lanjut di akhir tulisan , berkenaan dengan utang-utang yang merupakan alamat yang merupakan keharusan moral untuk membayarnya walaupun bukan merupakan kewajiban yang dibebankan oleh hukum international
  3. Starke, J.G. , An Introduction to international law, 8th Butterworth , Student Reprint , London 1968. Juga C.G Fenwick. International law 3rd edition, Apleton-Century Crofts, New York 1962. Hal. 155
  4. Tasrif , Pengakuan International dalam Teori dan Praktek, Cet pertama, PT.Media Raya, Jakarta 1968 hal.25
  5. H. Hackworth Digest International Law 1, US Goverenment Printing Office , Washington 1940, hal 127
  6. Mengambil alih beban sekaligus dengan keuntunganya
  7. Starke, J.G. , An Introduction to international law, 8th Butterworth , Student Reprint , London 1968 Hal. 169

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s