Berlaku Shiddiq Kepada Allah

Tulisan ini adalah bahagian dari karya Syaykh Dr Abdullah Azzam dengan judul “Fie At-Tarbiyah Al-Jihadiyah wal Bina’ “

Wahai mereka yang telah ridla Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Diennya, dan Muhammad sebagai  nabi dan Rasulnya.  Ketahuilah, bahwasanya Allah telah menurunkan ayat dalam Surat At Taubah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang shiddiq (benar)”.  (QS At Taubah 9: 119)

Ash Shidqu yang dibicarakan oleh ayat ini ialah persesuaian perkara antara kenyataan dan hakekatnya, atau persamaan antara hal yang tersembunyi dengan segi lahirnya, atau persamaan antara perkara batin yang tersembunyi dengan perkara lahir yang nampak nyata.

Seandainya dada seorang manusia yang shiddiq itu dibuka, lalu Allah memberikan kepadamu kesempatan untuk melihatnya, niscaya engkau tiada dapati pertentangan antara lahir dan batinnya.  Itulah keadaan orang yang benar.  Bahkan sebagian mereka batinnya lebih baik daripada lahirnya.  Dan adalah orang-orang salaf, semoga Allah meridlai mereka, senantiasa berdoa ; “Ya Allah, jadikanlah batin kami lebih baik dari lahir kami, dan jadikanlah lahir kami lebih baik”.

Persesuaian Antara Lahir dan Batin. 

Diantara nikmat Allah ‘Azza wa Jalla ialah bahwa hati itu senantiasa berhubungan dengan Dzat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib.  Suatu rahasia itu tidak dapat disembunyikan dalam waktu yang lama.  Kadang-kadang ia akan berpisah dengan lahirnya, namun ia tak akan mampu terus-menerus berpisah, kelak suatu saat keduanya akan bersesuaian kembali.  Jika batinnya baik, Allah pasti akan menampakkannya, demikian juga jika batinnya jelek, Allah pasti akan menampakkannya pula.

Dan tiada seseorang itu menyembunyikan suatu rahasia, melainkan Allah ‘Azza wa Jalla akan memperlihatkan melalui kesalahan-kesalahan lesannya atau melalui roman mukanya, mustahil seseorang itu dapat lama-lama menipu dirinya sendiri, karena ia adalah fitrah dimana Allah telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah tersebut.  Keadaan lahir manusia akan senantiasa bersesuaian dengan batinnya, itu merupakan fitrah Allah.  Apabila garis lahir itu suatu ketika berpisah dengan garis batin, dengan nifak atau dusta atau riya’ atau perbuatan yang serupa itu, maka hal tersebut tidak akan berlangsung lama sebab fitrah yang telah diciptakan Allah tidak akan menerima kebathilan dan tidak akan kompromi dengan kebathilan dalam waktu yang lama.

Setiap fitrah dan setiap hati ingin kembali kepada fitrahnya dimana Allah telah menciptakan berdasarkan fitrah tersebut.

 صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

 “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah”.  (QS. Al Baqarah  2:  138)

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar Ruum 30: 30)

Dari ayat ini dapatlah diketahui, bahwa fitrah hakiki yang dicelup dan diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya tidak mampu berdusta atau berbohong dalam waktu yang lama.  Dengan peringatan dari seorang da’i atau mendengar ayat-ayat Al Qur’an, fitrah tersebut akan bergetar keras dan berdoa sehingga menggoncangkan tumpukkan kebohongan, kedustaan dan kebathilan dan selanjutnya ia akan mengucapkan kebenaran.

Berapa banyak manusia yang ingin menzhalimimu atau mendustaimu atau merencanakan makar jahat terhadapmu, namun ketika dia menghadapi kebenaran dan kesabaranmu yang panjang maka kamu dapati firthrahnya berguncang, mungkin dengan air matanya yang terus menerus mengalir di hadapanmu atau dengan taubat yang jujur melalui tanganmu.  Hati yang tidak mampu terus-menerus dalam kebathilan dan kedustaan itu telah terbuka untukmu.

Buih Itu Akan Hilang Terbuang Dengan Percuma.

Amal seseorang itu tidak akan bermanfaat sedikitpun kecuali kalau ia kerjakan dengan shiddiq (benar), sebab Allah tidak menerima satu perbuatan melainkan jika perbuatan itu shiddiq.

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

 “Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al Mulk 67: 2)

Berkata Fudlail bin ‘Iyadl : ”Ahsanu ‘amalan”, maknanya adalah: “ashwabuhu wa akhlashuhu”. Akhlashuhu  artinya bersih dari riya’ dan ashwabuhu artinya benar, ash shawab maksudnya : sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW yang telah dibawa oleh Jibril dari sisi Rabbul ‘Alamin ( Al Qur’an).

Tanpa ash shidqu, maka urusan kita tidak akan bisa tegak dan kita tidak akan mampu mempertahankan keteguhan tekad yang pada gilirannya akan berakhir dengan kesia-siaan dan kegagalan saja.  Berapa banyak terjadi, manusia yang biasa berkhutbah di mimbar-mimbar,  yang dikaruniai Allah “Jawami’ul kalam”.  Perkataan mereka membuat kamu terkagum-kagum, mereka pandai bersilat lidah terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan hati mereka.  Sementara orang-orang banyak berkumpul di sekelilingnya (karena terpesona).  Namun saya menenangkan hati saya bahwa perkara itu tidak akan bertahan lama, karena buih selamanya tidak akan mapan di muka bumi.

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ

 “Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap (mapan) di bumi”. (QS. Ar Ra’ad 13: 17)

Tidak akan hidup di bumi dan tidak akan bertahan terus-menerus kecuali kebenaran.  Keburukan itu tidak mempunyai akar yang kokoh di bumi dan ia tidak mempunyai kekekalan dalam kehidupan.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

 “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”. (QS. Ibrahim 14: 24-26)

Sesungguhnya keburukan itu tidak akan dapat berjalan beriringan dengan fitrah kemanusiaan, dan ia tidak dapat menancapkan akar-akarnya ke dalam hati mereka.  Ia tidak mengakar ke dalam  relung fitrah seseorang, sesungguhnya ia hanyalah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba dan hanya tinggal sementara serta cepat hilangnya, seperti hilangnya abses (bisul) dari kulit ketika ia pecah.  Sesungguhnya ia ibarat nanah, begitu tubuh dapat mengatasinya maka segera ia hilang dari permukaan bumi.

Adapun al haq (kebenaran), ia akan senantiasa teguh, menancap kuat ke dalam dan terus berlanjut sampai bertemu ‘Azza wa Jalla.  Sebabnya ialah, karena Allah Dialah Yang Maha Haq, Dia tidak akan menolong kecuali al haq dan Dia tidak mengekalkan kecuali al haq. Dan Dien-Nya adalah al haq (kebenaran).

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

 “Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil”. (QS. Al Hajj 22: 62)

Adalah manusia berkumpul mengelilingi sebagian di antara mereka, tapi saya merasa tenang karena buih itu tidak akan bertahan, saya merasa tenang karena keburukan itu tidak akan hidup, dan saya menenangkan orang-orang yang ada di sekitar saya bahwa keburukan itu hanyalah merupakan gelembung dan busa air yang cepat hilang dan lenyap.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ لا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ

 “Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu”. (QS. Al Maidah 5: 100)

Adapun yang buruk itu akan ditumpuk oleh Rabbul ‘Izzati sebagiannya di atas sebagian yang lain semuanya, kemudian dilemparkannya ke Neraka Jahanam dan para pengikut keburukan  akan menjadi orang-orang yang merugi.  (Lihat Surat Al Anfal : 37)

لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al Anfaal  8:37)

Maka hari-haripun  berlalu, dari sela-sela peristiwa kehidupan waktupun berlaku.  Pasti akan terbukti apa yang pernah dibisikkan kata hatiku bahwa buih itu tidak akan hidup, bahwa buih itu tidak akan eksis, bahwa perkara yang buruk pada gilirannya akan lenyap  dengan cepat oleh tiupan angin dari selatan ke utara.

Karena itu, orang-orang salaf, semoga Allah meridlai mereka semua, sangat ingin/berambisi sekali berpegang kepada al haq meskipun pahit.  Sangat ingin menjunjung kebenaran itu meskipun berat, mereka sangat berambisi menyelaraskan dan menyesuaikan antara lahir dengan batin mereka, meskipun hal tersebut merupakan perkara yang sangat berat dan sangat sulit.  Masing-masing beramal, dan berusaha dengan sangat agar amal-amalnya itu hanyalah antara dirinya dan Allah ‘Azza wa Jalla, tak seorangpun manusia  yang ia biarkan melihat.  Jika orang-orang melihat ibadahnya, maka cepat-cepat ia meninggalkan tempatnya dan bersembunyi di antara orang-orang awam.

Adapun Imam Ahmad rahimahullah, apabila berjalan di jalan raya, maka beliau berjalan diantara dua orang kuli angkut barang sehingga dirinya tidak dapat ditunjuk dengan jari tangan, sehingga orang-orang menyangkanya bahwa ia kuli angkut barang dan mereka tidak menunjukinya dengan jari tangan.  Adalah seseorang diantara mereka jika masuk ke medan pertempuran atau ketika membawa ghanimah yang banyak, mereka menutup mukanya dengan kain cadar dan kemudian meletakkan ghanimah tersebut sehingga orang-orang tidak mengetahui namanya.

Dikisahkan tentang seorang yang berkain cadar pada waktu Panglima Maslamah bin ‘Abdul Malik mengepung sebuah benteng musuh dalam waktu yang cukup lama. Pada suatu malam seorang mujahidin berangkat dengan sembunyi-sembunyi dan kemudian memanjat benteng tersebut.  Lalu ia meloncat turun ke arah penjaga-penjaga benteng dan membunuhnya.  Kemudian dia membuka pintu gerbang tersebut, segera pasukan Islam masuk dan menguasai benteng tersebut.  Maslamah memanggil-manggil lama sekali : “Siapakah diantara kalian yang berkain cadar tadi?”  Tak seorangpun maju menghadapnya.

Di malam yang lain, seorang berkain cadar masuk ke kemah Maslamah dan berkata : “Inginkah kamu mengetahui orang yang berkain cadar itu?”

“Ya benar” jawabnya.

Orang tersebut berkata : “Dengan syaratnya : jangan engkau sebut namanya kepada seorangpun, dan jangan memberi hadiah maupun ganjaran”.

“Ya, saya bersedia”, jawabnya.

Maka orang tersebut berkata : “Sayalah orang yang berkain cadar itu”  Dia tidak menyebutkan namanya dan kemudian lari menghilang.

Lalu sesudah itu, setiap kali Maslamah menghadap ke arah kiblat, maka dia memanjatkan do’a : “Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama orang yang berkain cadar!”

Pilar-Pilar Bangunan Masyarakat Islam.

Jiwa-jiwa  yang shiddiq dan teladan yang tinggi seperti inilah yang dapat menjaga dan melindungi masyarakat Islam dari kehancuran.  Pada hari dimana hawa nafsu dan syahwat telah menguasai pada umara’ dan para penguasa.  Maka merekalah yang melindungi masyarakat dari kehancuran dan menjaga bumi dari kegoncangan serta memelihara manusia dari perpecahan dan kehancuran.  Teladan-teladan yang tinggi inilah yang akan mempertahankan eksistensi masyarakat Islam, yang tersembunyi (tidak dikenal), yang jumlahnya tidak banyak. Teladan-teladan yang merupakan pilar-pilar kesinambungan bagi bangunan masyarakat Islam yang jumlahnya hanya empat, akan tetapi kokoh, dapat menopang bangunan besar yang mencapai seratus tingkat atau lebih.

Manakala masyarakat Islam kosong dari orang-orang yang benar (shiddiqun), manakala teladan-teladan yang tinggi yang disebut oleh Nabi SAW dengan sabdanya : al Akhfiya’ (orang-orang yang tidak menonjolkan diri), al Atqiya’ (orang-orang yang taqwa) dan  al Abriya’ (orang-orang yang baik dan shaleh)[i], itu menghilang secara berangsur-angsur dari masyarakat Islam, maka saat itulah masyarakat Islam akan rapuh, runtuh dan akhirnya porak-poranda.

Maka dari itu problema Islam sekarang tiada lain ialah karena sedikitnya orang-orang yang shiddiq diantara orang-orang yang beramal karena Allah, sedikitnya golongan al Akhfiya’, al Atqiya’ dan al Abriya’, yang sanggup memimpin umat manusia dan  mampu mengemudikan jalannya bahtera. Apabila sebuah kapal dikendalikan oleh tangan orang-orang yang benar, tentu mereka akan menghantarkannya ke pantai keselamatan.

Seorang Mujahid shiddiq yang tak dikenal namanya (yang apabila hadir di tengah-tengah manusia, tidak dikenali, dan  apabila mereka tidak ada, maka tidak ada yang merasa kehilangan). Roman muka mereka hilang di balik debu pertempuran. Pendengaran mereka telah tertutup oleh bunyi benturan senjata atau dentuman meriam atau raungan pesawat tempur.  Mereka tak punya waktu untuk mendengar gunjingan atau fitnahan atau hasutan atau aduan.  Karena perkara yang mereka hadapi lebih besar lebih agung, dan lebih penting untuk diperhatikan daripada menaruh perhatian kepada suara katak atau suara burung gagak.  Sesungguhnya perkara itu lebih besar, dari semua itu.

Dalam hadits hasan yang diriwayatkan dari salah satu dari Ashabus Sunan disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash :   “Rasulullah SAW berjalan melintasi kami ketika kami sedang memperbaiki  gubug kami yang telah reot.  Beliau bersabda : “Aku pikir perkara akhirat itu lebih penting dari memperbaiki gubug itu”[ii]

Kalian sibuk memperbaiki gubug kalian. Ketahuilah bahwa perkara akhirat itu lebih penting dari memperbaiki gubug.  Karena itu, masalah akhirat selalu menyibukkan kehidupan mereka, taqarrub kepada Allah memalingkan mereka dari segala sesuatu.  Mereka melihat dunia dari puncak yang tinggi.  Alangkah kecilnya dunia bagi orang-orang yang terbang tinggi di angkasa! Pernahkan engkau naik pesawat terbang?  Sesungguhnya lapangan terbang itu besar dalam pandanganmu ketika engkau masih berada di bumi.  Jika engkau telah meninggalkan lapangan terbang tersebut, maka gedung-gedung yang menjulang tinggi itu berangsur-angsur hilang dari pandanganmu, kemudian seluruh permukaan bumi itu hilang secara keseluruhan.  Sekarang engkau telah terbang di angkasa dan membelah awan di langit, karena itu, engkau tak punya lagi gantungan dan pertalian di bumi.  Demikian halnya orang-orang salaf, demikian halnya orang-orang shiddiq, demikian halnya orang-orang shaleh.  Mereka telah terbang di awan tinggi di atas permukaan bumi, dan bumi itu sangat kecil sekali dalam pandangan mereka.

Balasan itu Berdasarkan Amal

Diantara hikmah, nikmat serta rahmat Allah ‘Azza wa Jalla, adalah bahwa sesungguhnya Dia memberi pahala kepada manusia berdasarkan apa yang mereka niatkan dalam perasaan mereka yang tersembunyi.  Dan sesungguhnya Allah memberi balasan kepada manusia berdasarkan rahasia yang ada di balik dada mereka serta niat yang mereka hadapkan kepada-Nya.  Maha Suci Rabbku!!!  Sesungguhnya balasan itu berdasarkan jenis perbuatan, demikianlah yang diajarkan sunnah dan Al Qur’an kepada kita sebelumnya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

 “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”. (QS. Al Baqarah 2: 152)

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ

 “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri”. (QS. Al Hasyr 59: 19)

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

 “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (QS. Ali Imran 3: 54)

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 “Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui”. (QS. An Naml 27: 51-52)

Pernah seseorang berkata kepada Ibnu ‘Abbas ra : “Telah kami dapati dalam Taurat, bahwa barangsiapa menggali lobang untuk saudaranya, maka Allah akan menjerumuskan ia ke dalamnya”.

Ibnu ‘Abbas berkata : “Hal itu juga ada dalam Al Qur’an” :

وَلا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلا بِأَهْلِهِ

 “Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri”. (QS. Fathir 35: 43)

Kezhaliman yang diperbuat seseorang itu akan berakibat kepada pelakunya sendiri.

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

 “Dan Kami tiada menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. An Nahl 16: 118)

Rencana jahat yang diperbuat seseorang itu akan berakibat kepada pelakunya sendiri.

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ

“Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya”. (QS. An Naml 27: 51)

Demikian juga dengan tipu daya, Allah akan membuat rencana untuk membalas tipu daya mereka. Janganlah kamu merasa bahwa rahasia hatimu yang tersembunyi dengan rapat (jika engkau menyembunyikan rahasia itu untuk suatu waktu atas manusia) tersembunyi dari Yang Maha Mengatahui segala perkara yang ghaib, Yang menciptakan hati manusia dan ditangan-Nya kunci-kunci hati tersebut berada.

Wahai saudaraku, janganlah kamu menyembunyikan rahasia yang tidak diridhai  ‘Azza wa Jalla, janganlah kamu meniatkan sesuatu yang tidak diterima oleh ‘Azza wa Jalla, berhati-hatilah kamu, waspadalah kamu!.

 “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niat.  Dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh balasan berdasarkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa  berhijrah semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar kepada Allah dan Rasul-Nya.  Dan barangsiapa yang berhijrah untuk mencari keuntungan dunia, atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya hanya bernilai sebatas apa yang ia niatkan”. (HR Bukhari dalam shahihnya)

Saya katakan : “Sungguh hatiku tergetar dengan jawaban salah seorang ikhwan ketika aku berkata kepadanya : “Tidakkah engkau mau menikah dengan wanita negeri ini?”  Jawabnya : “Aku tidak akan menikah sehingga hijrahku tidak bercampur dengan urusan duniawi”.

Motor Penggerak Masyarakat.

Wahai saudaraku!    Sesungguhnya golongan manusia yang memiliki peranan besar dalam merubah kondisi masyarakat ada tiga :

  1. Orang alim (berilmu)
  2. Dermawan
  3. Mujahid

Ketiga golongan itu, merupakan motor penggerak masyarakat.  Mereka adalah pondasinya, sebab mereka memikul seluruh masyarakat dengan bahu-membahu mereka.  Maka dari itu jika ketiga golongan manusia tersebut (‘Ulama, dermawan dan mujahid) bersifat shiddiq, maka masyarakatnya akan menjadi suci, bersih dan kuat.  Akan tetapi apabila ketiga golongan itu buruk niatnya, maka masyarakatnya akan berubah menjadi tumpukan sampah.

Sebab hati itu ibarat buah-buahan atau bunga, bila buah itu bersih dan masak, maka ia akan menyebarkan aroma wangi serta memberi kelezatan dan kemanisan.  Sebaliknya jika buah-buahan itu busuk maka yang keluar dari buah itu hanyalah bau tidak enak yang hanya membikin hidung sakit dan perut mual.

Apabila hati mereka rusak, yakni dengan memfitnah, menggunjing, mencela, berburuk sangka dan lain-lain, maka bau busuk ini akan menyebar sehingga mengakibatkan masyarakat menjadi rusak. Semua perbuatan buruk itu akan merubah masyarakat menjadi masyarakat yang terpecah belah.  Setiap orang menutup hidungnya agar tidak mencium bau busuk dari tetangganya  atau orang di dekatnya.

Ketiga golongan manusia itu sudah diperigatkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya : “Yang pertama kali dibakar api neraka pada hari kiamat adalah tiga golongan”.  Tiga golongan manusia itu adalah : orang alim, dermawan, dan mujahid.

Ya Allah!  Sungguh mengherankan ada mujahid yang menjadi bahan bakar neraka yang pertama kali.  Ada dermawan yang tidak tertinggal sedirhampun dalam kantungnya, seluruh hartanya dia sumbangkan untuk memberikan pertolongan kepada fakir miskin dan melepaskan penderitaan mereka yang mendapat musibah, namun karena itu pula dia dijilat api neraka dan menjadi kayu serta bahan bakarnya!!! Memang benar demikian, menurut apa yang disebutkan dalam hadits Shahih riwayat Muslim:

“Yang pertama kali dijilat (dibakar) api neraka pada hari kiamat adalah tiga golongan, orang alim, mujahid dan dermawan.  Adapun orang alim, maka Allah mendatangkan dan kemudian menanyainya : “Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia?” Dia menjawab : “Menuntut ilmu di jalan-Mu, lalu aku sebarkan ilmu itu karena mencari keridlaan-Mu (atau sebagaimana sabda Rasulullah SAW).  Maka dikatakan kepadanya ; “Engkau dusta.  Sebenarnya engkau mencari ilmu supaya dikatakan sebagai orang alim”.  (Dalam riwayat lain dikatakan “Engkau telah menerima upah di dunia”) kemudian diperintahkan malaikat penjaga Neraka untuk menyeretnya maka dilemparkan dia ke dalam Neraka.  Kemudian didatangkan seorang dermawan, maka dia ditanya : “Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia”?  Dia menjawab : “Aku mencari harta yang halal, kemudian aku infakkan harta itu di jalan-Mu”.  Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta.  Engkau infakkan hartamu supaya manusia menyebutmu dermawan”. (dan dikatakan pula : “Engkau telah menerima upahmu di dunia”).  Kemudian diperintahkan malaikat penjaga Neraka untuk menyeretnya, maka dilemparkanlah dia ke dalam Neraka.  Dan yang ketiga, apa yang dahulu engkau perbuat di dunia?  Dia menjawab : “Aku berperang di jalan Allah, sehingga aku mati terbunuh”.  Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta!  Engkau berperang supaya dikatakan orang sebagai pemberani. (dikatakan pula  : “Engkau telah menerima upahmu di dunia”).  Kemudian diperintahkan malaikat penjaga Neraka untuk menyeretnya, maka dilemparkankanlah ia ke dalam neraka”.

Ketika Mu’awiyah ra mendengar hadits ini dari Abu Hurairah, maka menangislah dia hingga jenggotnya basah bersimbah air mata, lantas dia pingsan.  Sesudah sadar, dia berkata : “Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah SAW ketika beliau membaca firman Allah Ta’ala:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Hud 11: 15-16)

Sebelum saya membaca kisah tentang Mu’awiyah ini, sering hati saya tergoncang manakala membaca ayat tersebut.  Dan mungkin ayat tersebutlah yang paling menakutkan diri saya manakala membaca ayat-ayat Al Qur’an.

Kadang-kadang manusia tidak menyadari “Qudratullah” (kekuasaan Allah).  Kadang mereka tidak memperhitungkan kekuasaan Allah dengan perhitungan yang sebenar-benarnya, atau mereka tidak mengharap keagungan Allah serta tidak mengagungkan-Nya dengan sebenar-benar keagungan-Nya.  Mereka bertindak terhadap manusia secara sewenang-wenang seakan-akan kekuatan akhir dan hasil akhir itu berada di tangan mereka.  Mereka itu tidak mengetahui.  Mereka itu manusia yang tidak menyadari akan kekuatan yang Maha Perkasa lagi Maha Pemaksa.  Mereka menguasai, menzhalimi, bertindak keras dan berusaha menghapuskan jejak yang ditinggalkan orang-orang shiddiq. Akan tetapi Allah yang Maha Benar dan tidak menerima kecuali yang benar, tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir, orang-orang zhalim, orang-orang mujrim tidak menyukainya.

Teladan-Teladan Yang Senantiasa Hidup Dalam Sejarah.

Saya kisahkan dua tauladan bagi kalian dari sejarah Islam di masa dahulu dan masa sekarang:

Yang pertama : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Beliau berfatwa bahwa talaq tiga dalam satu ucapan dianggap sebagai satu talaq saja.  Demikian pula muridnya Ibnul Qayyim, beliau juga berfatwa demikian.  Sedangkan fatwa beliau bertentangan dengan pendapat pata fuqaha madzhab yang empat pada saat itu.  Maka mereka, musuh-musuh beliau, menangkapnya dan menaikannya di atas unta, kemudian beliau diarak berkeliling kota Damaskus.  Sementara itu orang-orang bodoh membangkitkan permusuhan umat kepada beliau. Anak-anak kecil mengikuti di belakangnya seraya mengejek-ejek sambil bertepuk tangan.  Lalu sesudah itu mereka memenjarakan Ibnu Taimiyah, mereka lemparkan beliau ke dalam penjara.  Dalam kitab Majma’ul Fatawa beliau berkisah : “Sebelum aku dimasukkan ke dalam penjara, aku senantiasa mengunjungi beberapa keluarga miskin (untuk disantuni).  Dan ketika aku dimasukkan ke dalam penjara, maka terputuslah bantuan yang dapat aku berikan kepada keluarga-keluarga miskin itu.  Karena itu aku bersedih karenanya.  Suatu ketika, datang berita kepadaku dari keluarga-keluarga miskin tersebut.  Berita itu mengatakan : “Sesungguhnya engkau datang sendiri kepada kami.  Dan kemudian engkau memberi kami bantuan seperti bantuan yang dahulu biasa engkau berikan kepada kami”.  Ibnu Taimiyah berkata : “Ketahuilah bahwa saudara-saudara kami dari gologan jin telah menggantikan kedudukan kami.  Jika seluruh penduduk bumi tidak lagi bersahabat (memusuhi) maka jin yang alim dan malaikat akan senantiasa menyertai orang mu’min”.

Yang kedua : Sayyid Quthb

Seorang lelaki yang pernah hidup diantara kita.  Telah ditawarkan padanya kenikmatan dunia, pernah ditawarkan padanya jabatan menteri ketika beliau berada dibalik terali besi.  Telah ditawarkan kepadanya dunia, sebagai Bendahara Partai Sosialis yang berkuasa, sebagai Direktur Penerbitan Buku, sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran.

Selama beliau dipenjara, maka sebagian besar waktunya dihabiskan di kamar perawatan di dalam penjara tersebut.  Sebab dalam tubuh beliau yang kurus itu bersarang beberapa penyakit.  Apabila kebetulan salah seorang pemimpin yang simpati kepada Islam berkunjung ke dalam penjara dan minta bertatap muka dengan Sayyid Quthb, maka beliau memerlukan bak mandi air panas,  untuk menghangatkan badannya selama dua jam, baru setelah itu beliau dapat menemui seseorang.

Akhirnya Sayyid Quthb dihukum mati. Sebelum eksekusi hukuman tersebut, beliau mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Sesungguhnya jari tangan yang selalu bersaksi akan keesaan Allah dalam shalat, benar-benar menolak menulis satu huruf untuk mengakui hukum thaghut”.

Lalu Sayyid Quthb kembali keharibaan Rabbnya.

Berapa banyak mereka yang tertawa dan yang menangisi kepergiannya.

Berapa banyak orang-orang Mesir yang menertawakan meski keadaan beliau saat itu sangat memilukan.

Untuk menyempurnakan sandiwara tersebut, para penguasa thaghut mendatangkan seorang Syeikh untuk mengiringi  beliau sebelum naik tiang gantungan.  Ulama tersebut berkata kepada Sayyid Quthb : “Di antara ketetapan hukuman mati itu anda diminta mengucapkan : Asyhadu An laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.  Untuk itu bacalah syahadah itu”.  Sayyid Quthb memandang orang tersebut dan berkata : “Engkau juga ikut datang melengkapi sandiwara ini?  Engkau juga datang wahai tuan!.  Engkau sekalian dapat makan roti karena kalimat Laa ilaaha illallah, sedangkan kami dihukum mati dikarenakan laa ilaaha illallah”.

Sayyid Quthb dihukum mati dalam penjara khusus dan sampai sekarang familinya tidak ada yang tahu dimana kuburnya. Pernah suatu ketika salah seorang anggota keluarganya mengadu kepadaku dengan perasaan sedih : “Seandainya kami mengetahui kuburnya, sehingga kami dapat menziarahinya”.  Saya katakan padanya : “Sesungguhnya Allah mengetahui dimana kuburnya, lalu apa perlumu dengan kuburnya?”

Sayyid Quthb telah bertemu Rabbnya.  Buku tafsirnya Fie Zhilalil Qur’an (sepanjang hidupnya) belum pernah cetak kecuali sekali saja.  Namun pada tahun, dimana beliau dihukum mati di tiang gantungan, kitab tersebut dicetak sampai tujuh kali!!!  Tujuh kali cetakan, bahkan percetakan-percetakan Kristen  di Beirut, apabila terancam bangkrut maka yang lain memberi saran agar pemilik percetakan tersebut menyelamatkan percetakannya dari kebangkrutan dengan mencetak Tafsir Fie Dzilalil Qur’an, berkata mereka kepada yang lain : “Cetaklah Azh Zhilal, pasti percetakanmu akan lancar kembali”.

Rahasia Keikhlasan.

Ikhlas dan shiddiq mempunyai rahasia yang sangat mengagumkan di dunia ini dan di akhirat.  Ingatlah! Janganlah kalian berhubungan dengan Allah melainkan dengan cara shiddiq dan ikhlas.  Janganlah kalian membuat tipu muslihat, janganlah ta’jub/bangga dengan diri kalian dan mengucapkan : “Bahwasanya aku diberi harta karena ilmu yang ada padaku”.

Waspadalah kalian, janganlah sampai syetan meniupkan perasaan ujub serta ambisi untuk dikenal ke dalam urat nadi kalian atau dorongan untuk menyakiti kaum muslimin.  Maka engkau akan berhadapan dengan Rabbul ‘alamin, Dialah yang akan melawanmu.  Orang yang lemah dalam pandanganmu itu sesungguhnya mendapat pembelaan Allah:

“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan dengannya”. (Al Hadits Qudsi).

Adakah engkau mampu menandingi Rabbul ‘Alamin di medan terbuka dan di dalam pertempuran yang seru?  Sesungguhnya yang engkau lawan itu tidak akan dapat engkau celakakan.

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

 “Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”. (QS. Ali Imran 3:120)

لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلا أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الأدْبَارَ ثُمَّ لا يُنْصَرُونَ

 “Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan”. (QS. Ali Imran 3:111)

 Wahai saudara-saudaraku!.

Jika kamu sebagai Da’i, maka berlakulah shiddiq terhadap Allah, dan jika kamu seorang penulis maka berlakualah  shiddiq terhadap Allah, dan jika kamu seorang mujahid maka berlakulah shiddiq terhadap Allah, jika kami seorang pegawai maka berlakulah shiddiq kepada Allah.

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

 “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. (QS. An Nisaa’ 4: 40)

 

Referensi  :

[i] HR Abu Hatim, Baihaqi dan Al Hakim, Shahih tidak bercacat. (Lihat At Targhib wat Tarhib 3/44)

[ii] Hadits shahih (lihat Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 2789)

Satu respons untuk “Berlaku Shiddiq Kepada Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s